Omegamon X memasuki ruang rapat para Royal Knights, Digital Space. Cahaya dari data dan circuit yang terus bergerak menampakkan beberapa wujud Royal Knights lainnya yang kini tengah berdiri melingkar. Tentu saja di sana ada Dukemon X, sahabat karibnya. Bersamanya, kini sudah hadir sembilan ksatria pelindung dunia digital lainnya. Craniummon, Duftmon, LordKnightmon, Dynasmon, UlforceVeedramon, Rapidmon, Sleipmon, VictoryGreymon, dan Susano-Omon. Dengan tibanya Omnimon X, maka rapat 'pun dimulai.
"Ada apa, Dukemon?" tanya Omnimon X, yang merasakan suasana tegang pada raut wajah rekannya.
Dukemon X menggeleng. Ia memejamkan mata sesaat sebelum kembali memperhatikan layar projection di tengah-tengah para ksatria. "Dukemon ini khawatir dengan perkembangan dunia digital pasca insiden Yggdrasil . . ."
Omnimon terdiam. Dia merasa mengerti dengan kecemasan temannya yang satu ini. "Urd Terminal, Skuld Terminal, Verdani Terminal," mulai LordKnightmon. Ia mengeluarkan hologram yang memuat beberapa data yang Omnimon tahu telah berhasil dirangkum dan dijadikan power point demi rapat ini. "1% adalah angka yang sangat teramat sedikit untuk populasi dunia digital saat ini. Kecemasan tuan Dukemon beralasan kuat. karena, ya, ini mungkin adalah masa-masa krisis yang sebenarnya bagi dunia digital. Terus terang saja, saya pribadi yakin populasi dunia digital saat ini kurang dari 1% . . ."
"Aku mengharapkan paparan luasmu secara lebih terperinci lagi, LordKnightmon." ujar Omnimon, disambut anggukan setuju dari Craniummon.
"Seperti yang para hadirin lihat pada layar hologram ini," LordKnightmon membesarkan proyeksi data tersebut agar terlihat oleh keseluruhan ksatria. "Pada tiga terminal yang menjadi base para digimon yang tersisa di dunia baru ini, timbul dua golongan yang bertolak belakang. Para pemberontak, dan juga digimon-digimon yang masih percaya akan campur tangan Yggdrasil dalam mengatur dunia digital. Dengan kata lain, masih membutuhkan-'nya' dalam mengatur regulasi kehidupan di dunia ini. Namun berbeda dengan para pemberontak yang menginginkan kekuasaan atas dunia digital."
"Kau salah dalam menyimpulkannya, tuan LordKnightmon." potong Dukemon X. "Dukemon ini tahu bahwa apa yang mereka lakukan saat ini adalah konsekuensi dari apa yang telah tuanku, Yggdrasil, lakukan terhadap mereka." ia menyilangkan kedua lengan di dadanya. "Cukup mudah untuk dimengerti, apa yang membuat mereka seperti ini. Mereka telah dikhianati. Mereka telah dikhianati oleh Main Operator dunia mereka sendiri. God System, Yggdrasil, telah merebut terlalu banyak: keluarga, sahabat, rekan. Yang mereka inginkan adalah kepastian akan hidup mereka."
"Dan apa yang membuatmu begitu yakin, tuan Dukemon?" selak Dynasmon. "Kita telah sempat menyimpulkan bahwa Yggdrasil hanya ingin bertahan hidup. Seperti makhluk digimon lainnya. Aku mengerti beliau salah, karena telah mengambil langkah yang begitu radikal. Tapi, tetap saja apa yang para pemberontak ini lakukan adalah membuat kekacauan."
"Aku tidak ingin meragukan pendapat sahabatku Dukemon, namun apa yang dikatakan Dynasmon ada benarnya." unggah Omnimon, berusaha meredakan perdebatan yang tidak diperlukan. Ia menggunakan kepala Greymon-nya untuk menekankan poin perkataan. "Disaat kritis seperti ini, persaudaraan kita sebagai Royal Knights tidak boleh goyah. Walau apapun yang terjadi."
"Aku setuju." Craniummon kembali mengangguk, menghentakan tombak besarnya pada pijakan circuit. "Biar aku yang mendatangi mereka. Akan kucoba membicarakannya."
"Tidak." Omnimon memotongnya. Kurang lebih ia mengerti jika Royal Knight berkepala panas diutus, masalah ini tidak akan ada habisnya nanti. "Serahkan yang ini padaku, Craniummon."
Dengan segera, pemimpin Royal Knight tersebut melanjutkan. "Masalah pemberontakan kurasa cukup sampai disitu. Sekarang, Duftmon,"
"Baik, tuan Omnimon." kali ini giliran Digimon ksatria berjubah hitam tersebut yang mengeluarkan proyeksi data hasil pencariannya. "Saya sudah melintasi ke-tiga Terminal untuk menyelesaikan survey kali ini: 'Jumlah konkrit digimon yang tersisa dari Project Ark Yggdrasil.' Silahkan lihat layar dihadapan anda sekalian."
Duftmon melanjutkan. "Terminal Urd memiliki jumlah populasi sebanyak 241, dengan level Fresh, In-Training, dan Rookie yang berjumlah 229 ekor. Level Champion berjumlah 6 ekor, dan Ultimate sejumlah 3 ekor. Terakhir, level Mega yang tersisa juga adalah 3, yang tidak lain dan tidak bukan adalah para Celestials. Di Skuld Terminal mungkin 'sedikit' lebih parah daripada terminal lainnya dengan populasi digimon mesin level bawah yang mendominasi keseluruhan datarannya: sejumlah 689 ekor. Skuld Terminal memiliki tiga Champion, satu Ultimate, dan lima digimon kelas Mega, yaitu HiAndromon dan Murmuxmon. Dan juga Gaiomon, ZeedGarurumon, dan Mugendramon X yang merupakan pemberontak dari Skuld Terminal. Dan terakhir, Verdani Terminal,"
Omnimon menahan napasnya. Ia bertanggung jawab penuh akan Terminal yang satu ini. "Saya tidak tahu," ujar Duftmon pertamanya. Namun kemudian dia menggeleng. "Maaf, maksud saya, terminal ini aneh. Walau dipimpin 'langsung' oleh para pemberontak, namun saya tidak bisa berdusta bahwa seluruh Digimon di terminal ini saling mendukung satu sama lainnya. Jumlah yang berhasil saya rekap adalah 56 digimon level bawah—termasuk Dorumon, dua Champion, dua Ultimate dan lima Mega, dua dari pemberontak: WarGreymon X dan MetalGarurumon X. Dan para Olympian. Pasca X-Program Yggdrasil diluncurkan, hanya tiga dari 12 Olympians yang masih tersisa: Apollomon, Dianamon, dan Venusmon. Itu menyelesaikan laporan saya."
"Itu . . . jumlah yang sangat sedikit. Omnimon?" Sleipmon melirik ke arah temannya, yang dibalas hal serupa. Omnimon hanya menghela napas, dan merasa menyerah. Diantara semuanya hanya kepada Sleipmon saja Omnimon merasa begitu segan. Pengalamannya sedikit di atas Omnimon.
"Aku bertanggung jawab atas pemusnahan 30% sisanya . . . X-Virus Yggdrasil hanya menghabisi 59% pada serangan pertamanya, dan memusnahkan hampir keseluruhannya pada konfrontasi terakhir dengan Death-X-Dorugreymon di tempat persembunyian para pemberontak." Omnimon mengerti konsekuensi semua yang telah dilakukannya. Saat itu dia mungkin memang menjalankan perintah Yggdrasil dengan sempurna, tapi dia tidak pernah berpikir sejauh ini hingga mengancam keberadaan dunia digital 'tanpa' Main-Operator yang berfungsi sebagai pencipta digimon.
Sleipmon ikut menghela napas. Tidak ada yang dapat disalahkan. Yang lalu biarlah berlalu; siapapun dapat khilaf. Sleipmon berpikir, jika dia berada pada posisi yang sama dengan Omnimon, mungkin dia juga akan merasa bersalah.
Melihat Omnimon dan Sleipmon yang terdiam, Susano-Omon melanjutkan. "Tapi ini baru dimulai. Tanpa Yggdrasil, kita tidak bisa mengharapkan penambahan populasi kelahiran Digitama melalui 'Taman Gantung' Lady Ophanimon. Berdasarkan data barusan, digimon wanita yang tersisa hanyalah tiga orang; dan mereka semua berada pada 'puncak posisi' di dunia digital."
"Dan lagi . . . Lady Ophanimon 'bersama' Lord Seraphimon," VictoryGreymon menerima perhatian yang lainnya. "Tersisa Lady Dianamon dan Lady Venusmon—yang pastinya dalam perlindungan Lord Apollomon sang Matahari."
Semuanya terdiam. Menyadari krisis yang begitu menyudutkan mereka seperti ini, membuat semuanya bekerja keras untuk memikirkan solusi. Dari keseluruhannya Dukemon nampak paling kecewa. Jika ada satu hal yang dicintainya itu hanyalah dunia digital itu sendiri. Apa yang dapat dilakukannya, ia tidak tahu. Apa dunia digital akan berakhir disini?
"Ada yang tahu kabar Magnamon?" kali ini Rapidmon 'lah yang memecahkan cangkang keheningan. Sejak kejadian tiga bulan yang lalu, tak satupun dari Royal Knight yang pernah bertemu dengan ksatria emas yang dimaksud. Magnamon seperti lenyap bersamaan dengan Yggdrasil.
Para ksatria sekali lagi tidak tahu harus mengatakan apa. Beberapa dari mereka ada yang kontra dengan sikap yang ditunjukkan Magnamon. Hanya walau tuan mereka sudah tiada, bukan berarti Magnamon, yang merupakan salah seorang dari Royal Knight—'Satu' yang memiliki kewajiban melindungi dunia digital, dapat pergi begitu saja dan lari dari tanggung jawab.
"Aku tidak tahu dimana dirinya sekarang berada. Tapi," UlforceVeedramon berhenti di tengah kata-katanya. Ia seperti berusaha menahan sesuatu, namun memaksakan diri untuk memuntahkannya keluar. "Jika dia masih hidup, aku yakin, dia sedang merencanakan sesuatu . . ."
"Mustahil . . ." Rapidmon berkata dibalik napasnya.
UlforceVeedramon mendecakkan lidahnya. "Anak itu. Aku tidak pernah mengerti." hubungan UlforceVeedramon dengan Magnamon sudah seperti kakak beradik. Biasanya Magnamon begitu menghormati apa yang disarankan oleh sosok abangnya tersebut, namun kali ini—hanya kali ini, sepertinya sang kakak merasa semakin jauh dengan adiknya. Begitu pula dengan Rapidmon yang merupakan sahabat terbaiknya.
"Kita bisa percaya pada Magnamon," Dukemon menenangkan yang lainnya. Satu masalah demi masalah lainnya terus menerus mendatangi mereka. "Kehilangan Yggdrasil kupikir berpengaruh berat pada dirinya. Sebagaimana kita sadari, hanya Magnamon yang tahu cara menemui Yggdrasil. Dan kupikir kita dapat melihat bahwa bahkan diantara kita semua sesama ksatria, hanya Magnamon yang sangat dekat dengan Yggdrasil. Dukemon ini hanya dapat berharap ia akan baik-baik saja."
Craniummon sekali lagi menghentakkan tombak raksasa bermata duanya. "Tetap saja! Hanya karena ia merupakan anggota ketiga yang bergabung dengan Royal Knights, kita tidak bisa memanjakannya seperti ini. Pengorbanan itu perlu. Kita telah mengambilkan tindakan drastis dengan mengorbankan Yggdrasil. Jika di saat kritis seperti ini kita tidak menggabungkan kekuatan, sama seperti Project Ark Yggdrasil, seluruh digimon akan berakhir cepat ataupun lambat."
UlforceVeedramon menganggukkan kepalanya. Diantara semuanya, ia satu-satunya orang yang merasa paling bertanggung jawab atas Magnamon. Tumguh sebagai sesama Veemon, mereka besar bersama sebelum akhirnya Magnamon mengundangnya bergabung dengan Royal Knight. Tapi ia tahu, digimon seperti apakah Magnamon dulu. Dia adalah Veemon yang gemar bergurau dan berteman. Selalu ceria tanpa ada sedikitpun tanda-tanda bahwa ia akan menjadi seperti ini. Tapi, mengapa? " . . . Aku setuju. Ini harus ditindak secara tegas. Tuan Omnimon?"
"Rekan-rekan semuanya," Sleipmon menghimbau perhatian para ksatria lainnya. "Saya pikir kita terlalu letih mengurus semua masalah ini. Alangkah baiknya jika kita bertenang diri untuk sejenak, dan biarkan ini semua mengalir. Saya tidak bisa menjaminnya, tapi pasti akan ada solusi untuk semua ini."
"Kalau begitu rapat kali ini kita selesaikan sampai disini. Terima kasih atas partisipasi semuanya."
Omnimon berbalik, mantel putihnya berayun dengan gagah. Ia melangkah menjauh meninggalkan semua rekan ksatrianya di belakang. Belasan pasang mata memperhatikannya melangkah semakin menjauh. Dukemon dengan segera mengikutinya dari belakang.
"Jangan terlalu memikirkan semuanya. Dukemon ini tahu bahwa tidak hanya satu masalah saja yang kita usahakan untuk selesai. Tapi apa yang dikatakan tuan Sleipmon tadi ada benarnya. Kita terlalu tertekan karena tanggung jawab yang kita pikul dengan tiba-tiba berubah jauh semakin berat."
Omnimon X berhenti dari langkahnya, merundukkan kepalanya menatap tiap jaringan sirkuit yang bergerak cepat. "Dukemon, saat itu kau pernah bilang bahwa sesungguhnya Yggdrasil hanya ingin hidup. Apakah kau pikir kita bisa menyimpulkan bahwa Yggdrasil, yang bertugas sebagai 'Main-Control' memang ingin menyelamatkan kita semua?"
Dukemon, sahabat yang selalu menjadi tempat curhat ketua ksatria tersebut menggelengkan kepala dan memejamkan kedua matanya. "Dukemon ini yakin bahwa orang tua akan selalu ada untuk melindungi anak-anaknya. Yggdrasil sebagai pencipta kita pasti juga menginkan hal itu. Tapi tuanku, Yggdrasil, beliau salah. Orang tua tidak boleh meninggalkan anak-anak lainnya begitu saja, dan hanya mengambil yang ia favoritkan."
"Kau melihat Project Ark seperti itu selama ini?"
"Kurang lebihnya persis seperti itu."
Omnimon berjalan semakin jauh, meninggalkan Dukemon. "Kau mau kemana, Omnimon?"
" . . . Hanya urusan kecil."
-o0o-
Verdani Terminal, Edgrungddr Wasteland
WarGreymon X menyentuhkan tangannya pada tombak pilar milik sahabatnya yang wafat tiga bulan yang lalu. Garudamon adalah satu dari banyaknya korban genosida Yggdrasil. WarGreymon mencoba mengerti. Walaupun pembunuh Garudamon X dan Kokuwamon X, dua dari sedikit sahabatnya, adalah Omnimon, tapi semuanya direncanakan oleh Yggdrasil. Jika ada yang patut disalahkan, dia adalah Yggdrasil.
WarGreymon juga sedikit demi sedikti memahami kalau para Royal Knights juga hanyalah bidak bagi pembumi hangusan semua digimon saat itu. WarGreymon hanya belum mengerti, bagaimana tega Yggdrasil melakukan itu semua. Alhasil, lihatlah ini, tanah tandus sejauh mata memandang.
WarGreymon memejamkan matanya dan memanjatkan doa terhadap dua sahabatnya yang telah gugur.
Tepat ketika WarGreymon membuka kedua matanya, jauh di sana, di seberang tebing batu yang lain—ia melihat ke arah tempat dimana Omnimon pernah berdiri dan menatap mereka semua dengan dingin. Magnamon. Magnamon?
"Kuburan digimon mati. Hmph."
"Jaga kata-katamu. Aku tidak akan segan-segan menghabisimu jika menghina teman-temanku." WarGreymon, penuh racun dan emosi membalas balik. Garudamon adalah sahabatnya sedari kecil. Dengan nada bicara yang meremehkan seperti itu, tidak hanya menghina Garudamon tapi juga WarGreymon sendiri.
"Bisa apa kau, makhluk X terlarang? Seharusnya kalian semua mati! Dan Yggdrasil dapat membersihkan dunia ini! Rencana Yggdrasil tidak seharusnya gagal!"
WarGreymon menyadari sikap Magnamon yang tiba-tiba meledak. Sejauh yang ia ketahui, Magnamon adalah Royal Knight dingin yang sama seperti Omnimon dulu: melaksanakan tugas dengan tangan dingin tanpa emosi. Ia memutuskan untuk 'sedikit' memeriksa lagi. "Tapi, ternyata gagal, 'kan?"
Tubuh Magnamon bergetar. "Berani-beraninya kau berkata seperti itu! Yggdrasil adalah dewa. Ia yang mengatur kalian semua. Tidak seharusnya seperti ini!"
WarGreymon menyiapkan cakar-cakar tajam pada kedua lengannya. Ia memasuki kuda-kuda bertarungnya, siap dengan semua serangan Magnamon sekalipun. "Merengek ini, merengek itu. Kau kemari untuk menghabisi kami semua, 'kan? Kalau begitu maju, dan lihat apa kau mampu menandingiku."
Tepat sesaat sebelum Magnamon melompat dan melampiaskan segala amarah dan emosinya terhadap digimon X-Antibody tersebut, portal ruang dan dimensi menampakkan pusaran misteriusnya di belakang WarGreymon. Omnimon, melangkahkan kakinya di tanah tandus dan usang ini. Debu-debu merah terbang menjauh terbawa angin dari kakinya yang menapak.
"Magnamon?" kedua mata Omnimon terbelakak, melihat sosok rekan sesama ksatrianya yang berdiri dari seberangnya.
Memang tidak nampak, tapi dari balik topengnya Magnamon tersenyum sinis dan lebar. "Tepat sekali: pengkhianat yang paling ingin kubunuh." bisiknya ditengah-tengah deburan kering dataran tandus, disela-sela tebing berbatu merah yang curam.
