This chapter special for Tamersten. the first reviewer of this fic. Thank you so much, my friend from Malaysia ^^ (I remember you've also reviewed my another Magnamon fic). But I do wonder, how is Bahasa Indonesia to you? Is it like British English to American? Anyway, oh thank you so much my friend.
So basically, I'm too lazy to write something as the header for this fic honestly, but there's some mistypo in the two last chapters and I've fixed it just a minute ago. First, it's 'Venusmon' who will have 'something' with Magnamon, not 'Dianamon'. Geez, I tend to get those pretty ladies' name reversed each other. Anyway, you'll get the reason why as we go on with this fic in the future. Till then, enjoy this chapter. Not really; I mean, feel the angst ^^
Ps: I would really really appreciate anyone who would like to spend their time reading 'Radiant Sacrifice' by MechaUltimaZero. If you like angst, the fic is good for you. Please give it a try and tell the author what do you feel. Hope he would like to update it more frequently. Thank you beforehand. -Crow
(Magnamon POV)
Ketika aku melihat sosoknya yang berbalutkan mantel putih—sosok yang tertiup angin dengan raut wajah datar itu . . . aku tidak tahu. Aku belum pernah merasakan amukan sebesar ini sebelumnya di dalam diriku. Terlebih padanya. Dia . . . dia adalah Omnimon yang selalu kukagumi. Digimon yang selalu melaksanakan perintah Yggdrasil dengan sempurna tanpa celah sedikitpun. Bahkan Yggdrasil 'pun lebih mengutamakannya dibanding para ksatria lainnya . . .
Aku tahu itu. Aku tahu dengan baik, makanya aku tidak akan pernah bisa memaafkan penkhianat picik ini. Ah, aku merasakan darahku memuncak ke kepala. Betapa aku ingin menguburnya hidup-hidup karena sudah mengkhianati kepercayaan Yggdrasil dan lolos begitu saja.
Betapa aku membenci makhluk munafik ini!
Aku tidak menyadarinya. Dengan cepat dan begitu saja tubuhku melesat secepat kilat menyambar, melewati WarGreymon—digimon X rendahan itu. Dan juga melewati sosok tinggi Omnimon—Omnimon yang juga telah tertular penyakit 'X'. Dasar makhluk terkutuk.
Krakk. Dari belakang, aku menendang pinggangnya dengan kuat. Omnimon terdorong sejauh tiga meter, walau masih bisa sedikit mempertahankan tubuh tingginya berdiri seperti biasa.
Aku yakin tendanganku itu membuatnya kesakitan, tapi . . . tapi bajingan ini bahkan tidak menunjukkan raut perihnya sedikitpun.
Aku akhirnya berdiri dengan kedua kakiku kembali, tidak memperdulikan keterkejutan WarGreymon X akan kecepatanku.
Perlihatkan padaku . . . "Perlihatkan padaku raut kesakitanmu, pengkhianat!" aku berteriak dengan lantang, meluapkan semua kemarahan dan amukanku. Aku hanya dapat membayangkan helm emasku menunjukkan pecahan demi pecahan yang berguguran terbawa angin akibat teriakan barusan. Tapi itu mustahil, helm ini terbuat dari metal Chrome-Digizoid. Sekuat apapun aku membayangkannya, baju zirahku ini takkan bergeming terhadap serangan seperti apapun.
"Hadapilah kenyataan, Magnamon," ujarnya sambil membalikkan tubuh ke arahku. Aku tidak mengerti apakah hanya aku saja atau apa, tapi napasku terasa begitu sesak. Sesak akan pembalasan dendam. "Dan, terimalah bahwa Yggdrasil telah-"
"Diam! Kau tak pantas bicara!" aku berteriak, memotong ceramahnya. "Kau hanya pengkhianat! Kau menusuk Yggdrasil dari belakang, pengkhianat! Kau . . . kau pantas mati. Kau 'AKAN' mati dengan tanganku!"
Aku kembali maju, berlari secepat yang kubisa. Tapi bajingan ini hanya berdiri. Dia meledekku. Tidak hanya menghina Yggdrasil, tapi dia kini menghinaku! Aku melancarkan tinju berbalut cahaya emas ke wajahnya. Namun 'Magnum Fist' kuat milikku dapat dielakinya dengan mudah. Tapi ini belum apa-apa. Melesat sedikit kebelakangnya, aku merebahkan diriku di atas kedua telapak tangan dan kembali menyerangnya dengan kakiku. 'Magnum Kick'!
Keparat yang beruntung. Heh, dia bisa membaca gerakanku dan mengelak ke pinggiran. "Aku tak memiliki minat bertarung denganmu, Magnamon." membelakanginya, kini aku mencoba mengatur napas dengan membara. Dada dan kedua bahuku naik turun seirama dengan setiap hembusan dan tarikan napas. "Aku tak punya masalah apapun denganmu hingga harus membuatku terpaksa bertempur. Meskipun kau memiliki dendam sekalipun kepadaku. Ketahuilah, Magnamon. Tidak semuanya dapat diselesaikan dengan pertempuran."
Aku berani bertaruh, melihat wajahku yang kalut seperti ini—dengan kedua mata yang membara semerah darah, membuat Omnimon semakin ingin melanjutkan ceramahnya. Dengan ini aku yakin dia tahu jawabanku. "Kau dendam padaku. Lalu apa? Kau ingin membunuhku?" aku melirikkan kepalaku ke arahnya. Namun dia terkekeh. Apanya yang lucu! "Kau tidak akan mendapatkan apa-apa dengan membunuhku. Kita semua, aku, Dukemon, dan bahkan kau. Kita hanyalah bidak bagi Yggdrasil. Kita tidak mendapat apa-apa dengan saling membunuh sekalipun. Kita tidak lebih melainkan 'korban' Yggdrasil seperti digimon lainnya."
"Jaga mulutmu, keparat!" aku berlari kearahnya dan melancarkan rangkaian serangan kombo-ku. Dengan seluruh kebencian yang terakumulasikan di dalam dada, kepala, dan ingatanku tentangnya, aku meninjunya, menendangnya, menghempaskannya. Omnimon yang sedari dulu selalu kukagumi, kuhormati, dan kupandang. Aku mengeluarkan semua hal yang memacuku untuk menghancurkan para Royal Knights. Dendam, dendam, dan lebih banyak lagi dendam. Beraninya dia bilang kalau Yggdrasil memanfaatkan mereka semua. Beraninya! "Yggdrasil adalah peraturan! Yggdrasil adalah 'Ayah'! Yggdrasil adalah 'DEWA'! Beraninya kau berkata seperti itu, pengkhianat rendah!"
Omnimon menangkap kepalanku tanpa kesulitan yang berarti. Bahkan dengan semua seranganku, ia nampak tak terluka sedikitpun. Terlebih lagi, ia memberikanku tatapan 'itu' . . . Tatapan ketika kau tidak bisa berhenti menyesal akan masa lalu. Sesuatu yang terus menghantuimu hingga hari ini. Ia mengasihaniku, ia memberikan tatapan prihatinnya padaku. Ia mengasihaniku! "Singkirkan itu!" setelah terus-terusan menghajar badannya, kepalanku yang satu lagi akhirnya menempel dengan helm putih X-nya. BAM. Kepalanya sedikit terdorong karena efek dari ledakan kilat yang terjadi. Perlahan aku melihat wujudnya yang tak bergeming sedikitpun.
BAM! BAM! BAM! Lagi, lagi! Aku mengeluarkan semua tenaga yang kumiliki. Lebih banyak lagi serangan! Lebih banyak lagi dendam! Terus. Terus. Berkali-kali. Berkali-kali.
Kepala tertutup helm-nya kini dibawah belas kasihan serangan bertubi-tubiku. Tapi takkan kubiarkan kau bernapas sekalipun.
Mati! Mati, kau pengkhianat!
KRAKK!
Memang tidak terlihat karena tertutup topeng. Tapi aku seperti merasakan air yang muncrat keluar dari dalam mulutku kini sudah memenuhi bagian dalam helmku. Tanpa kusadari sedikitpun, Omnimon meraih kedua bahuku dan satu dengkulnya mendarat dengan tepat ke bagian perut yang tak tertutup armor emas. Dengan luar biasa kuat.
S-sakit . . .
Sial . . . Aku menyumpah dari balik napasku yang terputus. Dia bahkan tidak melihat kedua bola mataku yang kini hanya nampak putih. Aku berada pada ambang dimana kesadaran dan alam bawah sadar secara egois mempermainkanku dengan cara menarik-narik tubuhku kearah mereka masing-masing. Semuanya berubah putih, seterang cahaya armor-ku.
Omnimon kini melepaskan pukulan kedua kepalan WarGrey dan MetalGaruru ke arah belakang kepalaku yang masih melayang di tengah udara. Dengan kekuatan kuat, aku menghantam tanah, menciptakan bekas ledakan yang mencukam ke dalam. Kali ini bukan air lagi yang keluar. Sedikit hangat. Darah, ya, darah. Hangat dan sedikit lengket. Aku memuntahkan darah akibat benturan kuat pada kepala dan dadaku di atas tanah.
Hngh . . . Aku bahkan belum memberikan satupun serangan yang dapat melukainya. Sial. Bajingan ini . . . Kuat.
Selagi tertelungkup seolah menempel dengan tanah, aku meliriknya sekali lagi. Dia kembali menatapku. Sorot mata itu lagi. Hentikan! Aku membenci itu. Beraninya kau berkali-kali melihatku seperti itu! Aku menggerakkan kakiku, berniat menyapu kakinya. Dengan kuat! Sekuat tenaga hingga ia terjungkang ke atas tanah dan aku bisa menertawakannya. Hah! Uh! Terjatuh kau! Huh! Uh!
. . . Ironis.
Aku ingin tertawa.
Aku ingin menertawakan diriku sendiri. Sakitpun tidak—terasapun tidak, berbunyipun tidak. Tak bergeming sedikitpun, Omnimon dengan kuat masih berdiri seperti ia pertama sampai disini tadi. Tenagaku sudah menghilang. "Aku mengerti kau selalu bertarung dengan cerdik, Magnamon. Tapi tidak seperti ini. Kau kehilangan terlalu banyak. Tidakkah kau ingin 'menutupnya', sahabatku?"
"Jangan panggil aku itu! Kau . . . tidak tahu diuntung. K-kau melenyapkan Yggdrasil . . ." aku tidak bisa berteriak terlalu banyak. Walau hanya dua kali terkena serangannya, tapi terasa ditabrak ribuan Monochromon dan Triceramon secara serentak. Begitu sakit, napasku sesak—oleh amarah, dendam, rasa sakit dan perih. "Kau tahu, kau difavoritkan'nya' . . . Tapi kenapa, kenapa kau membantu para pemberontak saat itu!"
" . . . Ada beberapa hal yang harus dikorbankan demi masa depan 'yang lebih baik', Magnamon."
"Dan KAU mengorbankan Yggdrasil! Hebat sekali kau dan teman-teman pemberontakmu itu, hah!" aku ingin membalikkan tubuh, berdiri dan menatapnya dengan lurus. Tapi untuk membuat diriku telentang saja, susahnya bukan main. Jubah zirahku pecah berguguran. Chrome-Digizoid terkuat ini bahkan bukan apa-apa dihadapannya. Sialan . . . "Dewa tidak patut dikorbankan! Kalianlah yang 'seharusnya' menjadi tumbal demi dunia digital yang baru!"
" . . . Jangan biarkan dirimu 'kehilangan' lebih banyak lagi, Magnamon."
"Tahu apa kau!" m-mata itu lagi. Aku begitu benci mendapat tatapan mata itu. "Dan . . . BERHENTI menatapku seperti itu!" aku memutar tubuhku dan memukulkan sisi pelindung lenganku pada kakinya. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku!"
Aku lemah. Aku sangat lemah. Aku memang lemah, tapi tetap harus membunuhnya. Aku akan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Lalu akan kukubur sisa-sisa tubuhnya . . .
Akhirnya aku bisa membalikkan tubuh menghadap ke langit. Omnimon tepat di atasku. Pelindung bahuku terbuka dan sekumpulan cahaya menampakkan terangnya di sana. Menyedot energy yang dapat diambilnya dari udara, Plasma Cannon-ku siap menembak. "Mati kau, pengkhianat! Plasma Blas-"
GRARRK. Mudah sekali—aku kembali menyumpah. Semudah itu dia menghancurkan kedua meriam plasma pada jubah Digizoid-ku dengan kakinya. Cahayanya menghilang—meriam dan tubuhku. Disinilah aku terbaring, lemah dan tak berdaya. "Kau sudah kalah, Magnamon. Oleh dirimu sendiri—kau telah membiarkan hatimu kalah."
Tidak . . . aku kuat. Aku Magnamon the Golden Knight of Miracle. Aku . . . kuat . . .
Aku menggigit bibirku. Sial. Sial . . . mengapa aku selemah ini? Aku bahkan tak bisa menahan air mataku lagi.
"Itu adalah langkah awalnya. Kau harus mengakui dirimu sendiri, sahabatku. Kau pasti bisa-"
"Diam! DIAM!" aku berteriak kuat, menghirup ingusku. Aku perlahan berdiri dengan sisa-sisa kekuatanku, dan langsung mencengkram pelindung kerahnya. Sedikit demi sedikit aku mendorong tubuhnya dengan tumpuan tubuh tak bertenagaku. "Berhenti berkata seperti kau tahu diriku, pengkhianat . . . Kau tidak tahu—kau tidak tahu betapa pentingnya Yggdrasil untukku! Hanya Yggdrasil . . . Hanya dia . . . *pant pant*"
Tubuhku melemas setelah semua hardikan dan teriakan itu. Aku melangkah mundur (sambil mendorongnya sedikit menjauh), dan merasa dapat pingsan, kehilangan kesadaran kapanpun juga jika kuinginkan. Hanya dengan tekad, aku berdiri. Tekad untuk menghabisi para pengkhianat. Pelanggar sumpah ksatria untuk selalu setia kepada atasannya! "Aku akan menghabisimu! Walau kutukar dengan NYAWAKU!"
Kini mata Omnimon terbelakak besar. Ia menyadari kilau-kemilau tak biasa yang dipancarkan sisa-sisa armor Magnamon. "I-ini! WarGreymon, segera menjauh dari sini!" tidak ingin mengecewakan kepanikan tiba-tiba yang ditunjukkan Omnimon sedikitpun, WarGreymon segera mengikuti ketua Royal Knight tersebut membelah langit dataran tandus bertebing batu ini. Mereka berdua terbang dengan cepat, menjauh dari tubuh Magnamon yang bersinar keemasan dengan begitu terang. Seperti ada matahari yang hendak menghisap mereka, Omnimon semakin mempercepat terbangnya. "Percepat! Percepat lag!"
Semuanya berubah putih . . . Aku tidak bisa melihat apa-apa lagi dari sini. Asal dia mati, aku sudah puas . . .
Ksatria Emas, berakhir di sini.
"Extreme Jihad!" ledakan besar yang berbentuk seperti cangkang telur melebar secara horizontal. VHROOAAARRR! Semakin lebar dan lebar dengan cepat, Magnamon dan WarGreymon X terpaksa mau tak mau menggunakan kecepatan maksimal mereka untuk melesat semakin jauh dari jangkauan ledakan. Itu semua mereka lakukan sebelum akhirnya mendarat di atas tanah dengan bahu mereka masing-masing, kehilangan kendali akan kecepatan yang dipaksakan dan melampaui batas. Pendaratan mereka terjadi dengan begitu kasar, mengakibatkan mereka berdua kesusahan untuk mengerem hantaman dan tubrukan pada tanah.
Lambat laun kilau-kemilau itu menghilang, menarik garis lurus ke langit. Tak ada respon apa-apa. Dataran tandus ini kembali membisu, kecuali suara angin yang bertiup. Bunyi sepatu besi Omnimon menyelinap ke balik suara angin, ia kini berdiri tegak menatap bekas area ledakan Magnamon. " . . . Itu adalah kekuatan 'Miracle' Magnamon." ujar Omnimon X, terengah-engah sembari membersihkan sisa-sisa debu di tubuh berzirahnya. "Kekuatan keajaiban yang dapat dimilikinya ketika ia berniat kuat akan apa yang dilakukannya."
" . . . Tidak menghancurkan apapun?" koreksi dari WarGreymon X.
Berusaha menyelaraskan napasnya, Omnimon berdiri. Dia menggeleng kecil, dan kembali memperhatikan lokasi ledakan tadi. "Tenaga destruktifnya hanya akan dirasakan pada mereka yang dianggap Magnamon sebagai 'musuh'. Singkat kata, kita akan berubah menjadi debu jika terus berada di sana . . ."
WarGreymon berusaha mencerna serangan terakhir yang diberikan Magnamon ini. Tidak bisa dibayangkan jika dia menjadi partikel atom tanpa sisa di sana. "Maafkan kelancanganku, Omnimon . . . Tapi, apakah 'dia' bunuh diri?"
"Aku tidak tahu . . . Aku tidak tahu."
