Title: 'Spain Guitar' Girl

By: Thie-yuek강희

Cast:

Do Kyung-Soo (yeo, 17 yo)

Kim Jong-In (nam, 17 yo)

Summary:

Just a story about Jong-Soo life...

Rated T/Chaptered/genderSwitch

Don't like don't read

~~~Happy Reading~~~

Baiklah, sepertinya ini mimpi terburukku. Jongin terpaku, pipinya pun merona. Apa katanya? tunangan?

"Baek, aku ingin pulang. Tiba-tiba aku merasa tak enak badan."

"Kyungie, gwaenchana?" Tao bertanya dengan suara yang keras, mengalihkan perhatian kepadaku.

"Ne, aku hanya ingin pulang, tolong izinkan aku ya." Secepat mungkin kucoba berlari menghidari semua ini. Sakit ketika mengetahui Jongin ternyata mempunyai tunangan.

Brukk!

*#*#*#*#*#*#*#*

#Author POV#

Brukk!

"Ouch, mian." Wonshik yang bertabrakan dengan Kyungsoo pun berdiri, mengulurkan tangannya kepada gadis bermata bulat tersebut.

"Hiks,.." Bahu Kyungsoo bergetar hebat, membuat namja itu kebingungan.

"Yaa, neo waeirae?"

"Hiks,...Hiks,..." Tangis Kyungsoo pun semakin menjadi, membuat kedua insan tersebut menjadi perhatian sebagian siswa.

"Kyungie!"

Wonshik mengalihkan perhatiannya kepada Jongin yang menyusul Kyungsoo, sementara gadis itu masih saja terisak. Akhirnya Wonshik membantu Kyungsoo untuk berdiri dan menuntunnya untuk bersembunyi. Pemuda itu membekap mulut Kyungsoo dan sesekali melihat apakah masih ada Jongin disekitar mereka. Setelah dirasa aman, Wonshik melepaskan bekapannya.

"Hiks,...gomawo." isak gadis itu. Wonshik yang melihatnya menjadi semakin iba.

"Siapa namamu? Bagaimana kalau aku antar pulang, sepertinya keadaanmu sangat buruk." ujar Wonshik. "Kim Wonshik Imnida."

"Gomawo Wonshik-ssi, Do Kyungsoo imnida."

*#*#*#*#*#*#*#*

"Arrggh!"

Jongin menjambak rambutnya frustasi, sedari tadi ia tak bisa menemukan Kyungsoo dimanapun yang ia ketahui. Gadis itu seolah menghilang ditelan bumi.

"Kyungie, kau dimana sih?" gusarnya.

Drrt! Drrt! Drrt!

Pemuda tan tersebut mengalihkan perhatiannya ke smartphonenya. Menyerngit begitu mendapati Joonmyun yang menghubunginya.

"Ada apa?"

"..."

""Jinjja? Gomawo, Joonmyun-ah." Seketika pemuda itu berlari menyusuri jalanan yang bisa dikatakan ramai. Sesekali ia menabrak orang lain, namun ia tetap berlari hingga berakhir di depan sebuah rumah.

Knock! Knock!

Klek!

"Ah, Jongin rupanya. Ada apa?"

Jongin menggaruk tengkuknya. "Eung, aku ingin menemui Kyungsoo. Tadi pagi aku bertengkar dengannya, Ahjjuma." Nyonya Do hanya tersenyum maklum.

"Masuklah, Kyungie sepertinya sedang beristirahat. Kau bisa langsung masuk ke kamarnya."

"Kamsahamnida, Ahjjuma." Jongin menundukkan kepalanya. Pemuda tan tersebut beranjak memasuki rumah mewah tersebut. Berhenti di depan kamar yang berhiaskan boneka–boneka lucu. Mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu begitu mendengar suara aneh dari kamar kekasihnya itu. Pemuda itu memilih mendekatkan telinganya ke pintu. Tertawa kecil mendengar segala jenis kutukan untuk dirinya.

"Jongin Babo! Mati saja kau sana!"

"Jongin? Apa yang kau lakukan?"

Jongin berdiri, mendapati Nyonya Do yang membawa nampan.

"Kenapa tak masuk?"

Jongin menggaruk tengkuknya. "Sepertinya Kyungso benar-benar marah padaku, Ahjjuma."

Nyonya Do hanya tersenyum. "Bukankah biasa jika pasangan kekasih bertengkar?"

"I, iya sih. Tapi, masalahnya memang agak berat. Aku takut Kyungsoo malah semakin marah padaku."

"Tak ada salahnya dicoba kan?" Nyonya Do mengeluarkan kunci dari saku, membuka pintu berwarna soft pink itu. "Kyung, ibu mau bicara." Nyonya Do masuk ke dalam kamar diikuti Jongin. Pemuda itu kaget mendapati kamar sang kekasih yang sangat hancur. Kyungsoo menyadari ada Jongin dibelakang sang Ibu.

"Kenapa kau ada disini?" tanya Kyungsoo sinis.

"Kyung,"

"Ibuuu,.." rengek Kyungsoo.

"Selesaikan masalah kalian berdua." Nyonya Do keluar dari kamar, mengunci pintu itu dari luar.

"Kalian akan kukeluarkan jika sudah berdamai." Kyungsoo terbelalak, gadis itu berlari mencoba membuka pintu. Nihil, sang Ibu telah membawa kedua kunci kamarnya. Kyungsoo hanya menangis.

"Kyung,"

"Tunanganmu cantik" ujar Kyungsoo. "Sejak kapan kalian bertunangan? Ah, tentu saja sebelum aku masuk ke dalam kehidupanmu. Bagaimana mungkin aku sebodoh ini." Kyungsoo memukul-mukul kepalanya. Jongin menahan tangan gadis itu.

"Jangan Kyung." Jongin memeluk kekasihnya itu. "Aku hanya pernah bertemu dengannya saat kecil. Itupun hanya sekali."

"Tapi kalian tunangan, Jong."

"Itu hanya cerita masa kecil." Jongin menatap Kyungsoo. "Aku memang pernah menaruh hati padanya, kuakui itu. Tapi itu dulu, saat aku tak mengerti cinta sesungguhnya. Yang kucintai saat ini hanya dirimu, cuma kau, Do Kyungsoo."

Kyungsoo tetap menangis, tak menggubris Jongin yang memeluknya.

"Kyung, uljima." Jongin mengecup pipi kekasihnya tersebut.

"Jangan cium-cium," ujar Kyungsoo sebal. "Aku nggak mau dicium2 tunangan orang. Lepaskan aku!"

Jongin gemas dengan kelakuan Kyungsoo. Pemuda itu menghempaskan Kyungsoo ke ranjang.

"Kyaaa!" Kyungsoo terdiam mendapati Jongin sudah berada di atasnya. "Mau apa kau?"

Jongin menyeringai, mengelus wajah sang kekasih. "Aku lapar"

"Minta sama Eomma sana." Kyungsoo mengalihkan pandangannya. Jongin meraih wajah kekasihnya tersebut.

"Aku lapar Kyung."

"Ya sudah, makan sana. Aku tak mau masak untuk tunangan orang lain."

"Itadakimasu."

Kyungsoo merasa jarak diantara mereka semakin menipis. Sementara Jongin semakin menyeringai. Kyungsoo menahan Jongin.

"Bukannya kau lapar?" tanya Kyungsoo heran.

"Iya, dan aku berniat akan memakan hidanganku." bisik Jongin lirih.

"Mana?" Kyungsoo merasa sedaritadi tak ada makanan dikamarnya. "Akh!" Matanya melotot parah, mendapati tangan Jongin masuk kedalam seragamnya. "Jangan macam-macam Kim-ssi!" ujarnya kesal.

Tapi Jongin semakin berani menyentuh tubuh gadisnya, merasakan keindahan yang dipahat Tuhan pada tubuh Kyungsoo, walaupun ia tak melihatnya langsung. Sementara Kyungsoo menggigit bibirnya, mencoba melepaskan dirinya dari kungkungan Jongin.

"Jongie, ireojima." Ujar Kyungsoo takut, gadis itu nyaris menangis. Jongin yang niat awalnya ingin mengerjai Kyungsoo ikut trenyuh. Pemuda itu memeluk Kyungsoo, menyamankan gadis itu dalam dekapannya.

"Maafkan aku Kyung, aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tak ingin kita terpisah." bisik Jongin lirih. "Hanya kau yang kuinginkan untuk menyandang gelar nyonya Kim suatu saat nanti, yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."

"Lalu bagaimana dengan tunanganmu itu?" bisik Kyungsoo lemah. "Tentu orangtuamu lebih menginginkannya daripada aku."

"Apa maksudmu," ujar Jongin. "Ibuku bahkan sangat menginginkanmu, Kyung." Jongin mengecup bibir Kyungsoo. "Soal Xiumin, aku akan mengatakannya secepat mungkin."

Kyungsoo hanya menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Jongin, membuat pemuda itu tercekat menahan napasnya. Mengingat tubuh mereka yang menempel erat dibatasi seragam musim panas mereka yang tipis.

"Kyung, hentikan ini." ujar Jongin lirih. Kyungsoo mendongak, bingung akan ucapan kekasihnya.

"Apa maksudmu hentikan?"

"Aku juga namja normal, Kyung. Apalagi tadi aku telah menyentuh tubuhmu." bisik pemuda itu.

Mata Kyungsoo melebar, menyadari perubahan pada diri Jongin. Gadis itu menggigit bibirnya. Sementara Jongin menggeram karena kepanasan.

Gadis itu kasihan melihat Jongin yang kesusahan menahan dirinya, ia pun merasa panas karena merasakan bagian privat Jongin yang berubah.

Brukk!

Jongin menatap Kyungsoo yang menduduki perutnya. Gadis itu perlahan melepas kancing seragamnya sambil menggigit bibir merahnya.

"Kyung?"

Kyungsoo memperpendek jarak antara mereka.

"Itadakimasu."

Dan ciuman pun tak terelakkan di kamar yang berantakan itu.

T.b.C


Annyeonghaseyo, yeorobeun...

Setelah sekian lama tak publish cerita, I'M BACK!

saya kehilangan mood menulis, dan itu baru kembali tadi. Astaga, saya geregetan pengen publish secepetnya, tapi baru sekarang kesampaian niat tak terlalu mulia tersebut.

Ukay, terlalu banyak ngemeng. Neomu gomawo buat reader-deul yang mau review cerita tak bermutu ini. Saya beneran excited saat liat ada yang mau review cerita ini. Rasanya pengen nangis saat liat reader-deul memberi saran yang baik untuk saya.

Last, REVIEW PLEASE?

Jja, sampai jumpa di cerita mendatang

tao_ghel