Title: 'Spain Guitar' Girl
By: Thie-yuek강희
Cast:
Do Kyung-Soo (yeo, 17 yo)
Kim Jong-In (nam, 17 yo)
Summary:
Just a story about Jong-Soo life...
Rated T/Chaptered/genderSwitch
Don't like don't read
~~~Happy Reading~~~
*#*#*#*#*#*
Nyonya Do terkikik, melihat kamar putrinya yang mengenaskan. Sementara pasangan sejoli itu tidur berpelukan dengan selimut menutup hingga perut Jongin. Jongdae menganga lebar.
"Apa-apaan mereka? Kalau Appa melihat bagaimana?" Jongdae menatap Nyonya Do. "Eommaaa,..." rengek pemuda tampan itu.
"Kau tenang saja." Nyonya Do mendorong Jongdae keluar dari kamar Kyungsoo. "Appa dan Eomma akan ke pesta kantor Appa, jadi tak akan ketahuan." Nyonya Do melayangkan wink kepada putra sulungnya itu.
"Yang benar saja? Eomma, ini anak gadismu."
"Eomma mideoyo, algesseo?"
"Huffthh, ne eommoni." Jongdae tersenyum paksa. Nyonya Do menepuk bahu putranya itu, kemudian beranjak ke kamarnya. Pemuda itu kembali membuka pintu kamar Kyungsoo, mendekati sejoli itu.
"Jongin-ah, bangun." Ujar Jongdae pelan, tapi bukannya Jongin malah Kyungsoo yang bangun. Mata gadis itu membulat.
"Dae Oppa." Gadis itu semakin meringkuk ke pelukan Jongin agar Jongdae tak melihat tubuhnya.
"Kau itu adikku, Do Kyungsoo." Jongdae memutar kedua bolamatanya. "Jadi akan lebih normal kalau aku yang melihatnya daripada namchin-mu. Sudah sejauh mana?"
"Apanya?" O_O
"Kau sok polos atau bagaimana sih?" tanya Jongdae kesal.
"Memang aku tak mengerti, Dae."
"Kalian sex?"
Kyungsoo menggeleng.
"Lalu apa yang kalian lakukan?"
"Bercumbu."
"Eii, kau tak asik. Kenapa tidak sampai sex?"
"Karena itu akan menjadi hadiah spesial-ku, Hyung."
"Jongie?" Kyungsoo terkejut, padahal tadi Jongin masih tidur.
"Aku serius dengan Kyungsoo, jadi aku akan menyimpannya." Jongin menyeringai kecil kepada kakak dari kekasihnya itu.
"Bercumbu setelah bertengkar?" tanya Jongdae heran. "Kalian kira ini film?"
"Kurasa begitu." Kyungsoo mengambil smartphone Jongin, menggoyang-goyangkannya. "Tapi takkan kuperlihatkan."
"Waah, daebak." komentar pemuda itu, mengejek. "Bersihkan semua kekacauan ini, Eomma akan menemani Appa ke pesta kantor, jadi Appa tak akan tahu apapun mengenai ini."
"Eomma areo?"
"Tentu saja, Eomma menguping desahan kalian."
Blam!
Jongin bangkit, menyibak selimutnya. Kyungsoo merona karena mereka berdua hanya menggunakan kemeja seragam mereka yang tak terkancing. Gadis itu menutupi payudaranya dan ikut bangkit, memasang kancing kemeja beserta rok seragamnya. Gadis itu mulai membereskan kekacauan yang mereka -tepatnya ia- sebabkan dibantu Jongin. Terkadang Jongin menggoda gadisnya dengan menyentuh paha, bokong, payudara, bahkan miss-v Kyungsoo yang hanya tertutup seragam.
"Jongie, hentikan. Aku ingin membereskan ini dulu." ujar Kyungsoo kesal. "Jongie, kumohon." ujarnya dengan aegyo. Jongin terkekeh mendengar rengekan kekasihnya itu. Pemuda itu akhirnya mengecup bibir Kyungsoo sekilas dan melanjutkan pekerjaannya.
*#*#*#*#*#*
"Kyung, kau sudah selesai?"
Aku melirik Eomma, beliau terlihat akan pergi. Jongin melepaskan rengkuhannya dan menggaruk kepalanya, sepertinya canggung karena tertangkap akan mencumbuku lagi.
"Eomma hanya ingin bilang kalau Eomma dan Appa mungkin tidak pulang. Lalu ini baju untuk Jongin, sepertinya ia akan menginap disini."
"Eomma!" wajahku memerah, apa maksud Eomma Jongin akan menginap. Mendadak kepala Jongdae Oppa menyembul dari pintu kamar.
"Kyung, aku pergi kerumah Daehyun."
"Bilang saja mau ke tempat Minseok Eonni, dasar pembohong."
"Siapa Minseok?" tanya Eomma, kutatap Dae Oppa. Ia menggelengkan kepalanya, memohon padaku. Mulutnya berkomat kamit mengatakan 'Aku akan mentraktirmu'.
"Pacar Dae Oppa."
"Ya! Do Kyungsoo!"
"Do Jongdae."
"Eomma, Daehyun menungguku. Aku pergi dulu ya, love you all." Jongdae Oppa segera berlari, meninggalkan Eomma yang menggerutu.
"Bukannya Ahjjuma mau pergi?"
Eomma tersadar dan tersenyum. "Benar juga, gomawo Jonginie. Ini baju untukmu, dan Ahjjuma sudah menelepon eommamu kalau kau akan menemani Kyungsoo malam ini."
Kenapa Eomma seenaknya begini?
"Eommaaa."
"Eomma takkan pulang, dan mungkin saja Jongdae berakhir dirumah yeochin-nya. Jadi kalian harus baik-baik dirumah, arasseo?"
"Ne." Eomma melenggang pergi dari kamarku, tapi Eomma masuk lagi.
"Jangan membuat kekacauan seperti tadi. Atau Appamu akan membunuh kita semua. Algesseo?"
"Ne."
"Good child." Barulah Eomma pergi. Jongin mengunci pintu kamar, dan menanggalkan pakaiannya, tinggal boxer. Dia begitu, DAEBAK! Maksudku, kulitnya tan, tubuhnya tinggi dan terhitung atletis, tatapan matanya tajam, bibirnya merah merekah dan sexy. Suaranya pun husky sexy dan manis, membuatku benar-benar ingin mengawetkannya.
"Kenapa kau melihatku begitu?"
'Memangnya kenapa?" tanyaku. Ia mendekatiku.
"Kau mau, KYAAA!" mendadak ia mengangkat tubuhku. Kurengkuh lehernya agar aku tak jatuh. Ia mengecup bibirku lalu mengecup leherku, menghisapnya meninggalkan jejak di leherku. Lalu ia mengecup puncak kepalaku dengan lembut.
"How about take a bath together?" bisiknya, rasanya aku meleleh mendengar suaranya. Oh my, i'm going crazy.
"Just bath?"
"Wae, kau mau kita bercinta?"
"Kau tak dengar kata Eomma tadi?" tanyaku. Dan ia tersenyum maniiiss sekali. Membawaku ke kamar mandi.
"Just bath." ujarnya, menjawab lirikanku. Setelah mandi, kami makan malam dan menonton. Sesekali ia akan menyentuhku, tapi setelah itu ia akan menciumku lembut lalu kembali menonton. Rasanya letih sekali setelah melewati seharian ini. Pelukan Jongin yang hangat membuatku benar-benar mengantuk.
*#*#*#*#*#*
"Morning, princess." entah kenapa sepagi ini Jongin sudah duduk di meja makan bersama Appa. Aku mengecup pipi Appa dan Eomma, duduk di sampingnya.
"Mana Oppamu?"
"Masih tidur, katanya hari ini tidak ada jadwal." Kenapa Eomma meletakkan daging asap di sarapanku?
"Eomma, aku nggak mau daging."
"Kau harus memakannya Kyung, kau kurus sekali." ujar Appa.
"Tapi aku benci daging." gumamku lemah.
"Jangan protes, Do Kyungsoo. Mana mungkin kita selalu makan ikan dan kimchi."
"Tapi kan kita juga makan ayam."
"Oppamu mengeluh, dan kau harus belajar menghargai makanan." ujar Eomma final, aku merengut.
"Mau kuhabiskan?" bisik Jongin, kutolehkan kepalaku. Tersenyum lebar.
"Ne." bisikku pelan. Jongin mengambil dagingku.
"Jangan coba membantunya Jongin." Eomma melirik kami berdua. Jongin meletakkan dagingku kembali. "Tubuhmu kurus sekali Kyung, sesekali kau harus makan daging." ujar Eomma kembali mengurus Appa.
"Shireo." aku meminum susu habis dan menarik Jongin yang sedang meminum susunya. Kucomot sepotong roti dan mengolesnya dengan selai.
"Aku pergi dulu."
"Kami pergi dulu Eomma, Aboji." sejak kapan dia memanggil bumonim-ku seperti itu?
"Wae?"
Aku menggeleng, menariknya menaiki mobilnya. Oke, ini keren. Karena ini pertama kalinya aku naik mobil Jongin.
"Kau suka?"
"Ne," ujarku. "Ini mobilmu?"
"Aniya, ini mobil Appa. Mobilku kalah jauh dari mobil ini."
Aku mengangguk pelan. Jongin memandangku intens.
"Wae?" tanyaku.
Jongin memutuskan jarak diantara kami, mencium bibirku dengan lembut, melumatnya dengan bergairah, rasanya memabukkan. Ia mengecup leherku, lalu kembali menciumku dengan intens.
Knock! Knock!
Kulepaskan pelukanku, ada Jongdae Oppa tersenyum aneh dari jendela mobil.
"Jauhkan tanganmu dari payudara adikku, Kim. Appa melihat kalian."
"YEE?"
"Tapi bercanda." Jongdae Oppa tersenyum jahil. "Sana sekolah, jangan ke motel."
"OPPAAAA!"
*#*#*#*#*#*
ToBeCon
Anyyeong,
Tiuek back sama lanjutan ff ini. Akhirnya saya agak terlepas dari tuntutan sebagai anak dan murid yang berbakti. SBMPTN saudara-saudara, SBMTPN. Dan setelah ini bakal menyusul ujian-ujian mandiri masuk univ. hadeuuh, pusing bin pening. #Eeh, malah curhat gua
Oke, tengkyu tengkyu tengkyu buat chingudeul yang mau review cerita abal-abal binti gagal saya ini. Mian buat ga ngebales review secara pribadi, soalnya saya tipe orang canggung dan sulit buat nemuin kata-kata yang tepat untuk diungkapkan. Daripada ntar salah ngomong, trus jadinya salah paham dan berantem, mendingan saya ngebales review chingudeul kayak gini.
Oke, habis sudah cuap-cuap. Jinjja gomawoyo buat chingudeul yang mau review ff ini.
REVIEW PLEASE? ^_^?
