a/n: Akhirnya bisa update story ini ya~ Miss16Silent kembali dengan chapter baruu^^. Pertama-tama terimakasih yang sudah membaca cerita ini dan yang sudah review juga^^, terus terus yang sudah Fav. Follow, dan lain-lain lah ya terimakasih banyakk! Saya sangat terharu melihat respon-respon itu, hiks. Oke tanpa perlu basa-basi lagi, semoga chapter berikut ini pun disukai para readers ya^^
Balas review:
Yiin: Wahh terimakasih-terimakasih sudah review^^. Iya terimakasih juga sarannya ya, maklum sedang malas mengoreksi jadi typo ga di edit (._.)v Kamera Kazune... ada di chapter berikut ini~
Richigo Karin: oke sudah update nih^^ terimakasih sudah revieww
Sweet Crystal: ehehhe oke terimakasihh^^
Chang Mui Lie: Nahh kameranyaa... ada di chapter beirkut inii~ wkwk. Di cerita ini, ulangtahun Kazune-nya lebih cepat dari pada Karin, jadi ya Kazune sudah ulangtahun dan umurnya 16, sedangkan Karin belum ulangtahun, masih 15 tahun^^
Ayu.p: arti dari judulnya bisa dikatakan "My last wish", atau "Keinginan terakhir". Di ambil dari bahasa perancis, dan saya pun tidak tahu penulisannya benar atau tidak =)). Terimakasih sudah review ya^^
Vinavanila: oke sudah di update^^ Terimakasih-terimakasihh^^
Karin-Bunny: oke terimakasih ya sudah review^^
White beauty: sudah updatee^^ terimakasih sudah revieww
Shanti dewi: terimakasih sudah review! Sudah di update nihh^^
Nurfadillah sirama: wahh maaf updatenya lama yaa T^T. Ini sudah update ko^^
Guest: terusannya ada disinii~ Terimakasih sudah revieww
KK LOVERS: UPDATE! ahahha terimakasih sudah review yaa~ Jadi semangat nih saat lihat reviewnya^^, apa capslocknya ga rusak tuh? #eh oke semoga menyukai chapter berikut^^
Oke cukup sekian dan terimakasih deh ya^^
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Ma Dernière volonté*~
"E-eh Kujyo-kun, M-maafkan aku.. K-Kameramu..."
.
.
Kesal. Itulah yang kurasakan saat ini. Aku berjalan menuju sekolah dengan cepat sembari menahan emosi sejak kemarin. Kali ini adalah hari yang berbeda untukku, karena aku tidak membawa kamera kesayanganku bersamaku hari ini. Karena itulah hari ini menjadi hari yang paling sial untukku.
Sudah hampir sampai sekolah, aku merasakan perasaan buruk kembali datang. Terasa aura panas dibelakangku sedang mendekat. Dengan segera aku berlari menuju sekolah, namun aura itu masih saja berada di belakangku.
Dengan sigap aku membalikkan tubuhku.
DUGH! Brugh!
Terjatuh di aspal itu tidak menyenangkan. Sudah lagi, pengacau yang sejak tadi mengikutiku tiba-tiba saja datang dan terjatuh bersamaku.
"Kujyo-kun! Ayolah! Aku mohon maafkan aku!" pekik seseorang yang terjatuh bersamaku itu. Tidak lain lagi adalah Hanazono Karin.
Aku mendecak kesal lalu berdiri dan menghiraukannya. Ia pun masih saja mengejarku dan terus meminta maaf padaku karena kejadian kemarin. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk membujukku agar memaafkannya. Namun aku tidak tersentuh sama sekali, karena ia sudah mengacaukan segalanya.
"Kujyo-kun. Aku merasa bersalah, aku mohon! Maafkan aku!" seru Karin yang berada di sampingku sembari merapatkan kedua telapak tangannya di hadapannya.
Aku kembali mendecak dan menatapnya dingin.
"Bisakah kau tidak ikuti aku lagi? Bila kau ingin aku maafkan lebih baik kau jangan dekati aku lagi dan jangan berbicara denganku lagi," ucapku ketus dan meninggalkannya menuju kelas karena kami sudah sampai di sekolah.
Masih dalam keadaan berjalan, tak sengaja aku sedikit menoleh ke belakang melihat keadaannya sekarang. Ia hanya diam dan melihatku dengan tatapan sedih. Aku tidak peduli, mungkin saja sebenarnya ia senang? Toh seorang aktor bisa berpura-pura sedih dan bahagia dengan sekejap bukan?
Sampai di kelas aku pun langsung menuju bangkuku dan mengeluarkan buku-buku pelajaran. Tak lama kemudian, terdengar suara lembut nan halus memanggil namaku dari samping. Aku segera meliriknya dan terlihat sepupuku yang manis sedang tersenyum menatapku.
"Ada apa Himeka-chan?" tanyaku padanya. Ia masih saja tersenyum-senyum. Namun aku tahu, dibalik senyum itu pasti ada sesuatu.
Ia mendekatiku dan berbisik pelan, "Tadi aku lihat kau datang ke sekolah bersama Karin-chan!"
Setelah mendengarnya tanpa ragu lagi aku memutar bola mataku malas dan menghela nafas panjang. Himeka yang melihatku langsung berwajah sedih.
"Aku tidak berniat untuk pergi bersamanya, namun ia terus mengikutiku karena ia sudah membuat kameraku rusak, dan aku tidak memaafkannya, maka ia terus mengejarku untuk meminta maaf," ujarku menjelaskan pada Himeka. Ia hanya ber-oh ria dan mengangguk-angguk mengerti.
"Tapi kenapa kau tidak memaafkannya? Kasihan kan Karin-chan, ia sudah berniat baik untuk meminta maaf padamu," ucap Himeka dengan sedih.
Aku terdiam sebentar. Mencerna kata-katanya tadi, aku berpikir kembali. Aku tidak bermaksud untuk tidak memaafkannya, namun di dalam kamera itu ada foto-foto dan rekaman yang aku ambil untuk diserahkan kepada seseorang yang akan membeli fotoku esok hari. Dan itu adalah hal penting untukku!
Aku menarik nafas panjang dan menenangkan diri. Himeka pun yang sudah malas menanggapiku kemudian pergi meninggalkanku. Lantas aku sendiri kembali menjalankan aktifitasku sebagai pelajar, yaitu belajar.
Tak lama setelah aku berbincang-bincang dengan Himeka, terdengar suara kerumunan orang di depan kelas. Seperti biasa, mereka meneriaki nama artis di sekolah kami ini. Mereka adalah Karin Hanazono dan Jin Kuga... eh tunggu? Jin Kuga? Aku tertarik pada nama itu dan segera melihat ke luar kelas. Aku berniat untuk melihat seseorang yang bersama Karin, ia pemuda berambut hitam pekat, dengan bola mata emasnya, dan wajah tampan tentunya.
Aku tertarik padanya karena sebelumnya, aku sudah pernah bertemu, dan berbincang-bincang dengannya, pada saat aku menyerahkan hasil foto dan rekaman pada salah satu perusahaan majalah. Benar sekali, aku pernah menjadi fotografernya pada saat pengambilan foto sampul majalah yyy yang mempromosikan film yyy, dan saat itu dia pun bersama... EH?
.
'Astaga, aku baru ingat bahwa aku pernah menjadi fotografer Jin Kuga dan Hanazono Karin pada saat itu..'
.
Setelah aku mengingat kejadian itu, aku segera mengingat-ingat kembali, dimana aku menyimpan mentahnya foto sampul itu. Tapi tak lama aku berpikir, aku teringat kembali bahwa aku sedang marah pada seorang Hanazono Karin, dan akhirnya aku tidak memikirkannya lagi.
Aku berniat untuk kembali ke dalam kelas, namun aku mengingat lagi suatu hal, aku harus pergi ke ruang guru untuk memanggil guru, karena aku adalah Ketua Kelas.
Aku berjalan menuju ruang guru yang letaknya agak jauh dari kelas dan tepatnya berada di ujung jalan yang sedang aku tempuh ini. Dengan jalan gontai malas, aku menuju ke ruang guru dan mendapatkan sesuatu yang membuatku berhenti berjalan. Aku mendengar suara 2 orang yang sedang berbincang-bincang di arah depanku, tepatnya di depanku adalah ruang guru dan belokan untuk menuju ke lapangan sekolah, dan mereka sedang berada di jalan menuju lapangan itu. Maka aku tidak bisa melihat siapa mereka. Hanya suara mereka yang terdengar.
"Eh kau sadar tidak, senyuman Karin Hanazono itu manis sekali! Meskipun di sekolah ia pun tersenyum layaknya sedang berakting! Aku iri dengannya~" ucap seorang gadis pada temannya yang lain. Aku sendiri tertarik pada perbincangan mereka karena mendengar nama Karin.
"Iya benar juga ya? Ia selalu tersenyum dengan senyuman yang sama dengan saat ia berakting! Hebat sekali ya!" seru temannya yang lain.
Aku yang sudah hampir sampai pada ruang guru, terhenti sejenak. Kata-kata mereka membuatku penasaran. Karena mereka berkata,
'Ia selalu tersenyum dengan senyuman yang sama dengan saat ia berakting,'
Itu adalah kata-kata yang terus terngiang di kepalaku. Sampai aku kembali ke kelas pun kata-kata itu masih berputar di pikiranku.
.
.
Kembali ke dalam kelas, aku merasakan suasana ribut kembali, karena mereka terus saja mengerumuni Karin dengan berbagai pertanyaan mereka lontarkan padanya. Aku yang baru saja kembali hanya bisa menggelengkan kepalaku beberapa kali dan menuju bangkuku. Pas sekali pada saatku duduk, bel pelajaran berbunyi dan guru yang tadi kupanggil pun masuk ke dalam kelas.
Pelajaran , itu adalah pelajaran yang sangat kusukai, karena pelajaran itu butuh pengertian dan pembendaharaan kata. Di sela pelajaran berlangsung, aku mendengar suara desisan di sampingku, dan itu membuat perhatianku pada seseorang yang berada di sampingku itu. Aku meliriknya dan melihat siapa yang sejak tadi seperti memanggilku.
"Wha—"
Tuk!
Belum selesai aku akan berkomentar dengan keberadaannya di sampingku, ia sudah melempar kertas yang ia remas padaku.
Dengan segera aku membuka kertas itu dan membaca kata demi kata yang tertulis tangan dalam kertas itu.
From: Hanazono Karin
Kujyo-kun! Ayolah maafkan aku ya? Akan aku lakukan apapun yang kau mau agar kau memaafkanku, apa kau mau kameramu digantikan? Aku akan membelinya pulang sekolah juga!
Aku sedikit mengerutkan dahiku dan melirik Karin yang kini ia juga sedang menatapku, ia terlihat memelas seperti biasa. Dengan segera aku mengambil pensil mekanikku dan menuliskan jawabannya di keras itu juga.
From: Kujyo Kazune
Bukan masalah bila kau ingin menggantikan kameraku yang RUSAK itu, yang aku butuhkan hanya hasil foto dan rekamanku yang akan kukirimkan hari ini pada orang lain yang akan membelinya, karena itu kau tidak bisa menggantikkannya dengan hanya kamera yang baru saja.
Setelah menjelaskan panjang dan lebar alasanku tidak memaafkannya, aku melirik Sensei yang sedang menerangkan pelajaran, dan pada saat Sensei berbalik dan menulis di papan tulis, aku melempar kertas itu kembali pada Karin.
Dengan sigap ia menangkapnya dan bergegas membuka kertas itu dengan wajah bersinar-sinar. Awalnya setelah ia membaca isi suratku itu, ia terlihat khawatir dan menatapku sedih. Tapi setelah beberapa lama ia tak menjawab balasanku itu, akhirnya ia terlihat menuliskan sesuatu kembali pada kertas itu dan melemparnya padaku.
Aku kembali membuka kertas itu dan melihat jawaban apa yang akan ia berikan kali ini.
From: Hanazono Karin
Hmm, maafkan aku T^T Aku semakin merasa bersalah telah merusakkan kameramu. Tapi bisakah aku menggantikan foto-foto ataupun rekamanmu yang sudah hilang dengan yang baru? Aku mempunyai ide yang bagus!^^
Melihat ia memiliki ide yang bagus, aku sedikit penasaran dengan ide yang ia maksudkan dalam surat itu. Lantas aku kembali menuliskan jawaban dan melemparnya pada Karin, tentunya tanpa sepengetahuan Sensei.
From: Kujyo Kazune
Tumben sekali kau mempunyai ide bagus? ._. Apa ide cemerlangmu itu? Kupikir tidak akan ada yang bisa mengembalikan hasil foto itu bila kameraku sudah RUSAK. Sekarang bila idemu itu tidak masuk akal, aku tidak akan memaafkanmu.
Karin yang membacanya terlihat sedikit bergidik ngeri, tapi ia dengan cepat membalas surat itu dan melemparnya padaku. Aku melihat kertas itu tidak di remas-remas kembali, tapi ia lipat dengan rapihnya. Aku tidak peduli dengan bentuk lipatan itu dan segera membaca balasannya.
From: Hanazono Karin
Aku akan memberikan foto-fotoku yang belum pernah di publish di media apapun, lalu kau berikan foto-foto itu pada orang yang akan membeli fotomu itu. Aku yakin ia tidak akan menolak, karena fotoku sangat jarang di dapatkan, apalagi pada saat ini^^!
Bagus bukan ideku? Kalau begitu aku tunggu kau di halaman sekolah setelah pulang sekolah! Jangan lupa^^ (titik)
Setelah aku membacanya, tentu saja aku terkejut. Karena ia berkata bahwa ia akan menggantikan foto-fotoku itu dengan foto-fotonya. Aku berpikir ia adalah orang terkonyol yang pernah aku temui, sudah tahu aku tidak suka memfoto orang-orang, ia malah memberikan ide seperti itu.
Lantas pada saat aku akan membalas dan menolak ide miliknya, aku melihat kertas itu, kertas itu sudah penuh dengan balasan-balasan yang sebelumnya, dan ia sengaja menghabiskan bagian kosong kertas itu dengan memperbesar tulisannya. Aku sedikit kesal dan melirik Karin yang kini menahan tawanya.
'Ia sengaja menghabiskan ruang kosong di kertas itu agar aku tidak bisa membalasnya! Awas saja kau nanti!'
Tanpa sadar aku meremas kertas itu kesal, dan setelah kupikir, kesal hanya karena perbuatannya itu bukanlah hal yang perlu di ambil hati, aku meredam emosiku dan kembali memperhatikan Sensei yang sedang menerangkan sejak tadi, dan sejak tadi aku tidak memperhatikannya sama sekali...
.
.
Sekolah berlalu dengan banyak kejadian terjadi. Kini kelas sudah kosong dan hanya tersisa aku, Himeka, dan Miyon. Karin sudah pergi keluar duluan karena ia takut dikerumuni oleh banyak orang lagi, aku tidak peduli dengannya tapi aku hanya peduli dengan foto-fotoku itu. Mengingat aku akan menemui Karin di halaman sekolah, aku bergegas pergi ke tempat itu.
Saat sampai di halaman sekolah, aku tidak melihat seorang pun disana, hanya hembusan angin dingin yang kupikir akan membawa hujan nanti. Aku mulai terheran-heran, bukannya ia sendiri yang berkata kita bertemu di halaman sekolah? Yang bisa kulakukan sekarang hanya positive thinking saja, mungkin saja ia terlambat karena ada sesuatu hal. Kemudian aku berniat untuk menunggunya disini.
Cukup lama aku menunggu, akhirnya seseorang yang kutunggu pun datang, bersama seseorang di sampingnya, Jin Kuga. Mereka berlari ke arahku seperti telah kabur dari kejaran fans-fansnya. Terlihat mereka mengatur nafasnya dengan cepat, apalagi Karin, ia terlihat sangat kelelahan, sampai wajahnya sedikit pucat.
"Hosh.. Hosh.. M-Maafkan aku Kujyo-kun, a-apa kau sudah menunggu lama?" tanya Karin yang masih mengatur nafasnya. Sedangkan Jin hanya memperhatikan keadaan sekitar, seperti sedang mengawasi.
"Kau itu kemana saja?! Aku sudah menunggumu cukup lama disini, kau kira ini musim apa? Lihatlah angin berhembus begitu kencang membawa angin dingin, apa kau ingin aku masuk ke rumah sakit?" tanyaku dengan sinis padanya, dan itu membuat Karin sedikit terkejut, dan merasa bersalah, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam dan meminta maaf padaku sekali lagi. Namun Jin Kuga yang berada di sampingnya melihat Karin dengan khawatir, dan akhirnya ia pun angkat bicara.
"Kujyo-kun, maaf atas kelancanganku sebelumnya, tapi bisakah kau bersikap lebih baik pada seorang wanita? Kau belum mendengar penjelasan kami, dan kami terlambat bukan karena itulah yang kami inginkan, tapi keadaan—"
Dugh!
"GAH! Apa yang kau lakukan KARIN!" jerit Jin yang kakinya Karin injak dengan keras. Jin sendiri kini berguling-guling di lantai sembari memegangi kakinya kesakitan.
Sedangkan Karin hanya tersenyum kesal sembari meremas kedua tangannya kesal.
"Bisakah kau diam sebentar Jin-kun?" tanya Karin sembari tersenyum evil terpampang di wajahnya. Aku yang melihat saja bergidik ngeri. Apalagi Jin yang menjadi sasarannya.
Kemudian Karin kembali pada pembicaraan kami sebelumnya. Ia seperti mencari-cari sesuatu dalam tasnya, setelah beberapa lama, ia mengeluarkan kertas foto dari dalam tasnya. Dengan wajahnya yang ceria, ia memberikan foto-foto itu padaku.
"Ini! Semuanya belum ada yang pernah di publish. Apa sekarang kau bisa memaafkanku? Aku mohon~" tanyanya sembari memelas dengan wajah memelas juga.
Aku sedikit ragu dan melihat foto-foto itu. Aku melihat diantara foto-foto itu semuanya hanyalah foto Karin sedang tersenyum, meskipun berbeda pakaian, berbeda tempat, dan kuyakin berbeda waktu pengambilan, ia tersenyum dengan senyuman yang sama dengan foto lainnya. Tanpa pikir panjang, pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"Mengapa kau selalu tersenyum dengan senyuman yang sama?"
Tampaknya pertanyaanku itu membuat Karin dan Jin terkejut, matanya membulat besar seakan ia telah tertuduh. Mereka saling bertatap-tatapan, lalu kembali padaku dengan tersenyum, lebih tepatnya senyuman yang sama.
"Hm? Maksudmu seperti ini? Itu adalah keahlianku, bukankah seorang aktor harus pandai tersenyum?" tanya Karin balik kepadaku.
Aku masih diam, mencerna kata-katanya, yang kupikir sekarang, aku rasa ia tidak berbohong, karena memang seorang aktor harus pandai tersenyum untuk diambil fotonya. Aku hanya terdiam mendapat pertanyan itu, tidak bisa menjawab apapun, dan akhirnya ada ide lain melintas di benakku, aku berpikir untuk mengalihkan pembicaraan ini.
"Ah baiklah, aku butuh rekaman video, apa kau mempunyainya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dengan sekejap wajah Karin bersinar dan menjadi lebih ceria daripada biasanya. Ia mengambil sesuatu lagi dari tasnya dan mengeluarkan benda itu.
"Tara! Ini SLR untukmu Kujyo-kun!" serunya dan itu membuatku tercengang, benar sekali, yang berada di tangannya sekarang adalah kamera slr yang kuidam-idamkan. Tubuku pun bergerak dengan sendirinya, tanganku sudah bergerak untuk menggapai slr itu dari tangannya, namun dengan sekejap..
"Eits. Tunggu, karena ini kamera yang kau idam-idamkan, aku mempunyai satu syarat untukmu mendapatkan slr ini," ujar Karin sembari menyembunyikan slr itu di belakangnya. Aku sedikit kecewa pada saat mendengar bahwa aku harus memenuhi persyaratan itu bila ingin mendapatkan slr itu.
Tanpa pikir panjang lagi, aku menjawabnya, "Baiklah, apapun itu akan kulakukan."
Setelah aku menjawab seperti itu, aku bisa melihat Karin tersenyum evil -ralat- SANGAT evil, dan perasaanku menjadi tidak karuan, merasakan sesuatu yang tidak benar akan terjadi...
.
"Kau HARUS menuruti SEMUA perkataanku, dimana pun, sedang apapun, dan ka-pan-pun~,
Mulai dari SEKARANG!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"APA?!"
.
.
~To be continue~
~Review? Need review T^T, Pleaseee~
a/n: saran saran saran? Iya terimakasih sudah membaca cerita sayaa^^, semoga chapter ini disukai dan di review ya^^
