a/n: Maaf update lama! Baru sekarang ini saya mengupdate lagi ya~ Sudah berapa lama ya? Lama sekali mungkin ya? Gomen gomen~ Saya sedang HIATUS, jadi cerita-cerita pun menjadi HIATUS, lalu, maaf sekali bila saya HIATUS TOTAL suatu saat nanti T^T, memang sulit beralih dari dunia fanfic, tapi.. ya begitulah. Semoga chapter ini disukai readers. Maaf sekali lagi~
Balas review:
KK-KazuRin-Chan: sudah di update nihh~ semoga menyukai chapter berikut, dan maaf lama updatenya yaa~ terimakasih sudah review~
3 Honored Gods Girl: sudah dilanjutkan~ 20km kejauhan 1 meter cukup wkwk, terimakasih sudah review ya, maaf update lama
Yiin: terimakasih sudah review! Sudah di update nih tapi maaf lama ya~
Lynsmee: wahh terimakasih sudah review! Maaf membuat menunggu lama, lagi, wkkw semoga menyukai chapter berikut~
Dilla: oke makasih udah review! Maaf updatenya lama yaa, tapi ini sudah di update~ semoga menyukai chap berikut!
Daisy-san: wahh maaf update lama, terimakasih sudah review juga! Semoga menyukai chapter berikut!
Grace: terimakasih sudah review~ maaf update lama dan semoga menyukai chapter berikut!
Amel kujyo: sudah dilanjut nihh~ maaf update lama ya, iya pairingnya Karin dan Kazune, jadi yaa semoga menyukai chapter berikut!
YePeh: sudah dilanjut~ maaf menunggu lama~
Ayu.p: terimakasih sudah review~ semoga chapter berikut juga disukai yaa~ maaf update lama~
Sisanya belum terbalas jadi balas reviewnya dilanjut di akhir ya~ Maaf maaf~
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Ma Dernière volonté*~
.
Foto-foto Karin sudah di simpan dalam map putih dan siap untuk diberikan kepada salah satu perusahaan majalah. Pulang sekolah setelah aku mendapatkan foto itu, aku bergegas menyerahkannya kepada perusaan itu, dan mereka menerima foto-foto Karin dengan senang hati sebagai ganti dari foto-foto yang telah kuambil dan kini HILANG karena kameraku RUSAK oleh KARIN. Meskipun begitu, Karin menggantikan kameraku yang rusak dengan kamera yang lebih bagus, SLR, idamanku sejak dulu. Tetapi sebagai gantinya ia membelikan SLR baru untukku, aku harus menuruti syaratnya. Sungguh syarat yang berat bagiku... Karena aku tidak suka memfoto atau merekam orang-orang.
Lupakan masalah itu sejenak, saat ini aku sudah sampai pada apartemenku yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah, dan apartemenku ini berada di lantai tiga. Aku tinggal sendiri, orangtuaku berada di kota lain, karena pekerjaannya itu, mereka tidak bisa meninggalkan kota, sedangkan aku, harus bersekolah di lain kota, dan akhirnya aku tinggal sendiri di apartemen.
Pertama membuka pintu apartemenku, aku sudah bisa merasakan perasaan nyaman dan damai, ini bagian dari yang kusuka dari apartemenku. Setelah mengunci kembali pintunya, aku segera menuju kamarku dan menghempaskan tubuhku yang lelah ini pada kasur empuk. Mengingat kejadian yang menimpaku hari ini, membuatku teringat kembali pada syarat yang diberikan Karin padaku. Namun aku buang jauh-jauh pikiran itu dan segera beranjak dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi. Mandi tentunya dapat membuatku segar kembali.
Tidak terasa jam dinding kamarku sudah menunjukan pukul tujuh malam, dan sejak pulang sekolah, aku belum makan apapun lagi, alhasil kini perutku meraung meminta asupan makanan. Kebetulan sekali, setelah aku mengecek lemari es, ternyata isinya hanyalah tersedia kue coklat yang kemarin aku beli dan belum sempat dimakan. "Kue coklat?" Tapi aku sedang tidak ingin makan kue, aku hanya ingin makan-makanan yang berbeda. Ide melintas di benakku dan membuatku berniat untuk pergi keluar untuk makan malam. Dengan segera aku mengambil jaket yang sudah tergantung dekat pintu apartemen dan pergi keluar. Tidak lupa aku selalu membawa SLR dan hadnphoneku, karena itu adalah barang yang berharga yang tidak pernah kutinggalkan. Namun bila hanya membawa SLRnya saja terlalu terlihat mencolok, maka aku membawanya dengan tasnya yang tidak terlalu besar juga.
.
Berjalan menyusuri jalan kota yang ramai memanglah membuat pikiran sedikit tenang, melupakan kejadian hari ini salah satu bagian dari pikiran yang tenang bagiku. Tidak lama aku berjalan, aku menemukan sebuah restoran yang menarik perhatianku dan aku memutuskan untuk singgah pada restoran itu.
"Selamat datang, Tuan," salah satu pelayan dari restoran tersebut menyambutku dan menunjukkanku meja yang kosong. Setelah memilih menu yang kupesan, pelayan itu pergi dan menyiapkan pesananku, sedangkan aku menunggu sembari diam memperhatikan suasana di luar restoran ini.
Drrrt! Drrrt! Drrrt! Drrrt!
Handphone yang berada di saku jaketku bergetar, saat itu juga aku merasakan perasaan yang tidak enak. Aku segera melihat siapa penelfon itu, dan tertulis.. Hanazono Karin. Nama itu membuatku terkejut, baru saja aku melupakan nama itu dari pikiranku, sudah kembali lagi. Sesaat aku akan mengangkat telfon itu, pesananku datang dan aku berniat mengangkat telfon itu setelah pesananku siap di meja. Namun baru saja pesananku siap di meja, dan aku akan mengangkat telfon itu, tiba-tiba saja ia handphoneku berhenti bergetar.
"Hmm, yasudah, bukan salahku. Dia yang menghentikan panggilan," aku simpan handphoneku kembali ke dalam saku dan siap melahap makanan yang sudah tersedia di hadapanku ini.
Selesai mengisi perutku yang lapar. Aku melihat kembali handphoneku, ternyata ada satu pesan yang belum kubaca. Kupikir itu pasti dari Karin, dan benar saja.
To: Kujyo Kazune
Temui aku di taman dekat rumah sakit YYY, jangan lupa membawa SLRmu! Kutunggu kau sekarang, ada yang ingin bertemu denganmu^^
Cepat datang ya^^
From: Hanazono Karin
Setalah membaca isi SMS darinya, aku berpikir sejenak.
'Siapa yang ingin bertemu denganku? Kenalan Hanazono-san?'
Menyimpan pikiranku itu sejenak, aku segera membayar semua pesananku dan pergi menuju taman yang Karin tunjukkan padaku. Aku berjalan santai membawa SLRku dan mendengar suara petir yang lumayan keras terdengar di selingkup kota ini. Kupikir hujan akan segera datang, maka aku kembali ke apartemenku untuk mengambil payung dan aku berniat untuk pergi menggunakan sepedaku.
.
Untung saja saat aku pergi sampai sekarang aku sudah sampai di taman tersebut, hujan belum turun mengguyur kota, baru gerimis kecil seperti embun pagi hari, namun ini di malam hari. Aku mengayuh sepedaku mengitari taman itu dan mencari sosok Karin, akhirnya kulihat ia sedang bersama dua orang lainnya. Kupikir mereka adalah orang yang akan ia kenalkan padaku. Lantas aku segera menghampirinya.
Karin menyadari kedatanganku dan melambaikan tangannya padaku. Begitu sampai aku menstandarkan sepedaku dahulu barulah aku menghampiri mereka.
"Akhirnya kau datang juga! Tumben sekali kau memakai sepeda, apa rumahmu tidak jauh dari sini?" tanya Karin. Sebelum menjawab pertanyaan Karin, aku menyapa dua orang lain yang berada di samping Karin, dan salah satu dari mereka adalah Jin Kuga.
"Ya bisa dibilang begitu," jawab singkat. Aku mengalihkan pandanganku pada seorang pemuda tinggi berambut karamel dengan warna bola mata yang... unik. Ia memakai pakaian formal dan rapih, berbeda dengan Jin dan Karin yang memakai pakaian santai. Sepertinya ia menyadari bila aku memperhatikannya, lantas Karin segera memperkenalkan pemuda itu padaku.
"Ah iya, Kujyo-kun. Ini Nishikiori Michiru, manajerku yang ingin bertemu denganmu," ujar Karin memulai topik pembicaraan baru. Aku melihat sodoran tangan manajer Karin itu padaku, aku pun menjabat tangannya, dan memperkenalkan diri.
"Namaku Kujyo Kazune, senang berkenalan dengan anda," ujarku sopan dan ia pun sama-sama memperkenalkan dirinya.
"Namaku Nishikiori Michiru, manajer Karin-chan, senang berkenalan dengan anda juga," Setelah kami saling memperkenalkan diri, keheningan tiba-tiba menyambut, dan akhirnya terpecahkan kembali oleh Karin.
"Ah, iya, aku menyuruhmu kemari juga ada alasan lain! Benar kan Jin-kun?" Karin bertanya pada Jin yang berada di sampingnya. Aku pun terheran-heran, apa sebenarnya yang ia rencanakan. Jin yang ditanya pun mengangguk.
"Yap, kalau begitu aku serahkan Karin-chan padamu Kujyo-kun. Aku dan Michi-kun harus pergi karena masih ada acara. Untukmu Karin-chan, jangan pulang larut malam, jangan lupa—"
"Hey! Seharusnya aku yang berkata seperti itu Jin-kun. Sudah ayo pergi, kita bisa terlambat. Kujyo-kun, jaga Karin-chan baik-baik," ujar Michi memotong nasihat Jin pada Karin, lantas mereka berdua pergi secepat mungkin. Meninggalkan kami berdua disini, hanya berdua, aku dan Karin, di taman ini.
Sejenak aku melirik pada Karin yang sedang menebar senyumnya. Ia bertingkah seperti anak kecil, menggerakkan kakinya, lalu sesekali memelintir rambutnya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menghela nafas panjang.
"Hey Kujyo-kun, kau masih ingat syarat itu kan?" tanya Karin padaku dengan senyum licik di wajahnya. Aku menggaruk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal dan menjawabnya bosan.
"Iya iya aku ingat. Lalu sekarang aku harus bagaimana?" tanyaku balik padanya. Ia menatapku dengan mata yang berbinar-binar lalu berlari ke arah sepedaku, tentu saja aku mengikutinya lalu bertanya lagi padanya.
"Lalu?" pertanyaan singkat yang mengandung banyak arti.
"Aku pinjam SLRmu, lalu kau mengantarku ke tempat kesukaanmu mengambil foto, bagaimana?" pintanya padaku. Aku berpikir sejenak, tempat kesukaanku untuk mengambil foto ia bilang? Memang aku mempunyai tempat kesukaan untuk mengambil foto, dan pada saat malam hari tempat itu terlihat sangat indah.
"Hhh baiklah. Kau yang memerintah, Nona," dengan segera aku menaiki sepedaku dan Karin memegang SLRku sembari duduk menyamping di pemboncengan sepeda. Sebelum aku mengayuh sepeda, aku bertanya kembali pada Karin.
"Kau pakai jaket tidak? Bawa payung?" tanyaku membuat Karin terlihat kebingungan dengan pertanyaanku. Aku melirik kebelakang untuk melihat Karin.
"Ya aku pakai jaket dan aku juga bawa payung. Memang ada apa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Karin balik. Aku kembali menghadap ke depan dan mulai mengayuh sepeda, lama aku tidak menjawab, barulah pada saat aku sudah biasa menjalankan sepeda ini, aku menjawab.
"Lihat saja nanti," jawaban singkat kembali keluar dari mulutku. Aku mendengar suara cekikikan Karin di belakangku. Tapi entah mengapa, aku pun merasa bahwa diriku ini sedang tersenyum mendengar Karin tertawa seperti itu.
.
.
Sudah cukup lama aku mengayuh pedal sepeda ini, tapi kami belum kunjung sampai, karena memang tempat itu cukup jauh dan cukup lama untuk ditempuh dengan sepeda. Di perjalanan, kami mendengar beberapa percakapan orang di pinggir jalan yang terlewati oleh kami, dan menurutuku itu menyebalkan.
"Eh lihat, pasangan itu romantis ya!" , "Ahh! Aku ingin dibonceng seperti itu~" , "Mama! Lihat! Mereka serasi ya!" , "Hey hey, pemuda itu tampan loh!" , "Gadis itu manis ya! Aku iri dengannya!"
Seperti itulah desas-desus yang aku dengar, mungkin Karin tidak mendengarnya, karena Karin yang berada di belakangku terus saja berfoto ria dan mengomel, membuatku tidak konsentrasi pada jalan.
"Hey hey Kujyo-kun, kau sudah memfoto apa saja sejak aku berikan SLR ini padamu?" tanya Karin mengajakku berbicara.
"Kau bisa lihat sendiri kan disana," jawabku dingin seperti biasa. Ia kembali diam setelah kujawab dingin seperti itu, tapi ia tetap foto-foto. Lama kami tidak berbicara satu sama lain, aku mendengar Karin memulai pembicaraan baru, dan saat itu juga selintas aku melihat cahaya di belakangku.
"Hihihi, aku belum pernah merekam sembari bersepeda, dan ini pasti menjadi kenangan yang tak terlupakan, benar tidak Kujyo-kun?" tanya Karin dengan santainya. Aku sedikit melirik ke belakangku dan ternyata ia sedang merekam dirinya.
"Bodoh, merekam saat bersepeda hasilnya tidak akan bagus, sudah lagi ini malam-malam," ujarku menceramahi Karin yang berada di belakangku. Namun sepertinya Karin tidak mendengarkan ceramahku itu, malah ia tiba-tiba menarik jaketku pelan.
"Kujyo-kun, bisa berhenti sebentar tidak? Aku rasa tadi ada barang yang terjatuh," pinta Karin sedikit memelas, dan akhirnya aku menuruti permintaannya, aku berhenti dan mengesampingkan sepeda.
"Cepat ambil barangmu itu, kita harus sampai sebelum malam sangat larut," ujarku dengan malas. Ia turun dari pemboncengan lalu berlari ke belakang tidak terlalu jauh, kemudian kembali dengan suatu benda seperti bungkusan plastik berisi permen. Aku penasaran dengan benda yang ia jatuhkan, baru saja aku akan bertanya, ia sudah memotongnya duluan.
"Kujyo-kun lihat kemari!" ia menarik tanganku dan membuat kepala kami berbenturan sampai terdengar Dugh!
Flash!
Terdengar juga suara khas kamera yang sedang memfoto bersamaan dengan cahaya tadi. Karena terkejutkan dengan cahaya itu, aku hanya bisa mengucek mataku beberapa kali, memperjelas pandanganku kembali, tidak lama aku mendengar Karin terkekeh.
"Hehehe, kau lucu di foto ini Kujyo-kun!" aku menatap Karin jengkel karena tiba-tiba foto bersamaku. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah syarat yang ia berikan agar aku mendapatkan SLR itu.
"Ayolah, hapus foto itu! Sudah sudah, kita pergi sekarang!" ayo sedikit meninggikan nada bicaraku agar Karin menurutiku, dan ternyata berhasil, ia menurutiku kemudian kembali duduk di pemboncengan lagi. Sesaat kami mulai meneruskan perjalanan, aku lihat ia tidak memainkan SLRku lagi, ia hanya diam menikmati dinginnya angin malam, sudah lagi kurasa rintik-rintik air hujan sudah mulai turun, dan semakin lama aku mengayuh sepeda, semakin berat saja bebanku, karena jalan yang sedang kami tempuh mulai menanjak.
"Ah! Hujan?!" seru Karin terkejut saat merasakan rintik air hujan mulai turun. Karena takut basah kuyup diguyur hujan, aku mempercepat mengayuh sepedaku agar cepat sampai tujuan, meskipun harus bersusah payah karena jalannya yang menanjak. Kurasa Karin saat ini hanya berpegangan pada pemboncengan dan mulai sedikit goyah karena tidak berpegangan dengan kuat.
"Hey, kalau kau tidak berpegangan yang kuat, kau akan jatuh!" perintahku pada Karin yang berada di belakangku. Aku meliriknya ke belakang dan dengan sigap ia berpegangan pada jaketku lebih kencang.
.
Untung saja sampai tujuan kami tidak terlalu basah, hanya rambut dan jaket saja yang basah terkena rintik hujan. Selagi aku menstandarkan sepedah, Karin yang sudah turun dari pemboncengan hanya bisa terdiam terkesima dengan tempat favoritku ini. Mungkin tempat ini tidak begitu indah, tetapi ini adalah tempat yang paling kusukai untuk memfoto. Tempat ini terkadang sepi dan terkadang ramai, ramai bila festival berlangsung, dan sepi ketika hari biasa. Tidak lain lagi, tempat ini adalah tempat paling tinggi di kota, dan lebih detilnya, kami sedang berada di halte bus. Ya, mungkin tempat ini memang tidak ada indahnya sama sekali, tapi yang kulihat dari tempat ini adalah pemandangannya.
"Biasanya pemandangan disini indah sekali. Tapi sayang sekali, bulan ini sedang musim hujan, kita tidak bisa melihat bintang-bintang di langit," ujarku membuat Karin menatap ke langit-langit. Ia pun mengangguk kecil kemudian menghela nafas.
Mungkin ia kecewa setelah jauh-jauh dan berdingin-dingin ria menikmati perjalan kemari, tetapi ia tidak mendapatkan pemandangan yang diinginkannya. Kami hanya diam melihat kota yang jauh berada di depan sana, tidak ada lagi pemandangan yang bisa kami nikmati. Keheningan datang, diiringi dengan gemercik air hujan gerimis, dan angin berhembus menyelimuti kami. Setelah lama, Karin memecahkan keheningan di antara kami dengan sebuah kalimat.
"Indah, aku tidak menyangka kau bisa mempunyai tempat yang se-ROMANTIS ini," ujar Karin menebar senyum padaku. Aku terdiam, aku terkejut, dan aku sangat tersontak saat ia menekankan kata romantis itu dengan menyunggingkan senyumannya.
"A-apa aku tidak salah dengar? " tanyaku memastikan apakah yang ia ucapkan itu benar atau tidak. Ia hanya mengangguk ceria dan menunjuk ke arah kota di depan kami. Aku pikir, apa dia tidak bisa lihat? Di depan kami ini hanyalah kota kecil yang kami tempati, tidak lebih dari itu, tidak ada menara eiffel seperti di Paris yang menghiasi kota, tidak ada kembang api yang dinyalakan atau hal lain yang indah.
"Yahh, bila kau lihat baik-baik dengan mata hatimu, mungkin kita tidak bisa melihat bintang di atas, tapi kita masih bisa melihat bintang di bawah, kau bisa melihat betapa indahnya bintang yang terpancarkan dari cahaya lampu di kota itu, kau bisa melihat bintang yang berjalan dari kendaraan yang sedang melaju. Di atas langit, kita tidak tahu bintang apa yang sedang kita lihat, tapi di kota itu, kita bisa melihat bintang apa itu, karena kita mengetahuinya. Pemandangan seperti itulah yang tidak akan kau temui di atas," mendengar penjelasan Karin yang cukup panjang dan lebar itu, aku kemudian melihat ke arah kota secara seksama, dan benar saja.
Aku bisa merasakan keindahan itu sampai hatiku. Terbawa perasaan aku pun merasakan bibirku yang tertarik tersenyum. Aku tidak bisa mengelaknya lagi, karena aku pun menyukai pemandangan seperti ini, sangat menyukainya.
"Aww! Bila kau tersenyum seperti itu lama-lama aku bisa menyukaimu Kujyo-kun! Pantas saja banyak fans klub yang mengejarmu! Kyaa! Kyaa!" Karin berteriak histeris dan itu membuatku malu (aku juga bisa tersipu malu ya, karena aku juga manusia:p).
"Kau itu ya, sebentar saja tidak menggodaku bisa tidak?! Sudah hentikan! Jangan berteriak seperti itu!" aku memarahinya dan membuatnya berlari kabur dariku. Tentu saja aku mengejarnya. Tanpa ia sadar, hujan semakin deras membuat tempat ini berkabut, dengan segera ia berhenti, dan membuka payung kecil dari tasnya. Seraya mengambil payung dari tasnya, terlihat sesuatu yang ikut terbawa oleh payung itu, dan jatuh.
"Upss, terjatuh lagi!" ujar Karin sembari membungkuk mengambil sesuatu yang terjatuh dari tasnya, aku hanya menghela nafas panjang, dan menghampirinya Karin untuk memberinya pelajaran. Sesaat aku akan menceramahinya, kilauan cahaya yang datang dari arah kanan kami tiba-tiba saja membuatku terhenti, terdengar suara gemuruh mesin dari arah cahaya itu, dan saat itu pun aku baru sadar bahwa kami sedang berjalan di tengah jalan.
DINNN! DINN!
Tepat sekali, sebuah bus sedang berjalan mengarah pada posisi kami, tepat di depan kami. Dengan panik aku menarik Karin dari tengah jalan sampai kami terjatuh ke bahu jalan. "Gya!" Karin berteriak karena aku tarik tiba-tiba dan sesaat kami terjatuh bus besar itu berjalan melewati kami dengan kecepatan tinggi.
"..." kami terdiam. Sepertinya pikiran kami saat ini sama. Bila aku tidak menarik Karin segera, mungkin kami berdua sudah...
.
"Yahh.. sayang sekali aku tertarik,"
"..."
"..."
.
"Huh? Apa? APA KAU BILANG?!" spontan aku bertanya dengan nada tinggi. Aku mendengar keluhan di sampingku, tapi keluhan itu SANGAT membuatku terkejut. Mengapa? Karena Karin tidak bersyukur saat aku selamatakan dari kejadian tadi itu! Aku menatapnya jengkel dan ia pun menatapku terkejut.
"Kau itu tidak bersyukur atau kau tidak ingin diselamatkan sebenarnya sih?!" aku membentaknya dan membuatnya menciut mengahadapiku. Karin hanya tersenyum paksa karena takut diamarahi olehku lagi.
"E-eh, i-itu maksudnya aku menjatuhkan permenku tadi dan tidak sempat aku ambil, jadi permen itu sudah terlindas, hehehe begitu maksudku~" aku mendengus kesal mendengar jawaban yang sudah pasti hanya alasannya saja. Tidak mempedulikan Karin yang masih terduduk di bawah, aku pergi mengambil sepeda yang tadi aku standarkan dekat halte bus, dan kembali pada Karin dengan sepeda di tanganku, aku menyuruhnya naik karena kupikir hari sudah sangat larut malam.
"Karena kejadian tadi pakaian kita basah semua, dan ini salahmu karena tidak lihat-lihat jalan yang kau lalui!" aku mengomel kepada Karin yang kini sudah siap di pemboncengan sepedaku.
"Ya tapi karena kau menarikk, permenku jadi terlindas, berarti kita impas bukan?! Hehe," ujar Karin sembari menahan tawanya, mempererat pegangannya pada sepeda karena ia duduk menyamping.
Aku hanya menatapnya aneh. Aku pikir, ia tidak seperti gadis lain, mungkin bila mendapat kejadian seperti tadi, gadis lain sudah berteriak histeris karena terkejut, tapi ini malah sebaliknya.
"Kau itu aneh, aku kira reaksimu akan seperti gadis lain yang akan berteriak histeris karena kejadian itu, tapi kau malah tidak bersyukur telah kutarik," lantas aku mulai mengayuh sepedaku agar berjalan ke arah tadi kami pergi. Setelah beberapa lama jalan memudun, aku memperlambat laju sepedaku agar tidak terlalu susah bagiku menyeimbangkan sepeda. Masih bisa terasa rintik hujan, namun tidak banyak, hanya gerimis kecil yang menyentuh kami. Agin malam mulai menemani kami dan membuat tubuhku menggigil diterpa angin itu. Sejak tadi pun aku tidak mendengar Kairn mengomel, aku sedikit khawatir, dan berniat untuk memulai pembicaraan.
"Kau sudah melihat tempat favoritku, jadi tugasku sudah selesai bukan?" tanyaku pada Karin yang berada di belakangku. Tidak ada jawaban. Karin hanya diam seakan ia tidak mendengar pertanyaanku. Sampai beberapa lama aku menunggu jawaban yang tidak kunjung datang, aku menoleh ke belakang karena semakin khawatir, dan mendapatkan Karin yang bersandar padaku.
"Y-Ya lebih baik kita pulang saja. Lagi pula permenku sudah tidak berguna," ujarnya dengan suara kecil sampai-sampai aku kesulitan untuk mendengarnya. Aku hanya mengangguk dengan jawaban itu dan berkonsentrasi pada jalan yang kutempuh.
.
.
Sudah cukup lama aku mengayuh sepeda dan ternyata perjalanan itu membuat staminaku terkuras. Kurasa kami sudah dekat dengan rumah Karin, karena Karin mulai menuyuruhku untuk lebih cepat mengayuh sepedanya.
"B-Bisakah kau lebih cepat, Kujyo-kun? Disini aku mulai kedinginan!" ujarnya sedikit meninggikan nada bicaranya. Aku pun yang sudah lelah mengayuh sepeda sedari tadi sudah kedinginan, maka aku menuruti kata-katanya, dan mengayuh sepedaku lebih cepat.
Tidak perlu waktu lama, kami sampai di depan rumah bercat putih yang merupakan rumah Karin, ukuran rumahnya pun tidak terlalu besar, sama dengan rumahku yang memang agak sedikit besar dari rumah lainnya. Aku menstandarkan sepedaku menunggu Karin yang berjalan menuju pintu rumahnya dengan gontai. Aku bisa melihat tangannya bergetar, kupikir karena kedinginan, karena aku pun begitu. Kudengar suara pintu terbuka dan menampakkan seorang pemuda yang kukenal, Jin.
"Astaga, kemana saja kalian?! Kalian terlihat sangat kacau! Kenapa kalian bisa basah kuyup seperti itu?! Sudah lagi kau Karin-chan! Agh!" Jin menceramahi kami seperti orangtua menceramahi anaknya. Aku hanya bisa menatapnya jengkel, sedangkan Karin masih tersenyum tipis meminta maaf pada Jin.
"H-hihi, ma-af Jin-kun! Sebaik-nya kami masuk dahulu daripada kami seperti ini di luar," ujar Karin tertawa kecil lalu Jin menarikku masuk ke dalam juga.
.
Setelah mengeringkan badan, aku berdiam di ruang TV dan menunggu Karin yang berada di dapur bersama Jin menyiapkan coklat panas. Saat itu pun aku berpikir, 'Dimana orangtuanya? Kenapa hanya ada Jin dan pelayan yang ada di rumah ini?'
"Ma-af menunggu la-ma~" ujar Karin tersendat-sendat dan menebar senyum sembari menyimpan segelas cangkir coklat panas di depanku, saat itu pun aku bisa melihat tangannya yang bergetar membuat air dalam cangkir tersebut pun bergetar. Sebelum aku mengambil coklat panas itu, aku berniat untuk menanyakan suatu hal pada Karin.
"Umh, terimakasih, tapi sebelumnya, apa kau baik-baik saja? Kulihat sedari tadi kau tidak berbicara seperti biasanya, lalu tanganmu bergetar hebat, ap—"
"Aw~! Kau perhatian denganku Kujyo-kun?! Jadi kau mulai menyukaiku ya~?" ujarnya spontan membuatku tersedak.
"Ukh! Siapa yang bilang aku mulai menyukaimu! Kau itu ya pandai mengalihkan pembicaraan, perempuan memang aneh," ujarku kesal lalu mengambil seteguk coklat panas itu.
Karin masih saja tertawa dengan kejahilannya tadi, sampai Jin datang,kami pun mengalihkan pandangan pada Jin yang kini sudah siap pergi entah kemana. Ia menghampiri kami dengan tergesa-gesa, lantas ia menatapku bosan, dan menatap Karin dengan mata yang berbinar-binar.
"Karin-chan, bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanya Jin dengan senyum jahilnya, tapi senyumannya itu tidak diberikan pada Karin, melainkan padaku. Aku hanya memutar bola mataku bosan lalu meneguk coklat panas itu kembali.
"Tapi Jin-kun, aku tidak bisa membiarkan tamu kita sendiri di rumah," ucap Karin memelas pada Jin dengan puppy eyes miliknya.
"Tapi Karin-chan, kau sudah menghilangkan.. umm.. permen itu, dan bukannya kau sangat menyukainya?" tanya Jin sembari membujuk Karin untuk ikut pergi dengannya. Tapi Karin menatap Jin dengan tatapan tajam, evil-mode-on milik Karin ternyata lumayan menyeramkan -_-.
"Jin-kun~ bisakah kau pergi SENDIRI saja? Lagi pula, permen itu tidak berguna untuk kesehatanku, BUKAN?" tanya Karin dengan menekankan beberapa kata dalam kalimatnya. Aku pun masih bingung dengan percakapan mereka. Sejenak aku berpikir, 'Mengapa hanya karena permen, mereka bisa bertengkar seperti itu? Dasar aneh..'
Setelah Jin pergi sendiri. Aku pun bersiap untuk pulang, karena aku tidak bisa menginap di rumah seorang gadis, sudah lagi ia seorang artis terkenal, bisa terjadi gosip bila aku menginap di rumahnya. Karin mengantarku ke depan rumahnya dan aku masih bisa melihat gerakkannya yang melambat setiap ia berjalan. Sampai di depan rumah, aku mengambil sepedaku dan bersiap pergi. Sesaat aku akan memajukan sepeda, aku mendengar Karin berbisik.
"Umh, Kujyo-kun. Terimakasih untuk hari ini ya. Aku menikmati hari ini dengan senang!" uajr Karin dengan tersenyum manis kepadaku. Senyuman itu pun berhasil membuat wjahaku merona, bisa kurasakan pipiku yang menghangat, dan aku pun tidak memungkirinya lagi bahwa senyumannya memang manis.
"B-Baiklah, aku pergi. Sampai besok, Hanazono-san!" ujarku seraya mengayuh sepedaku menuju apartemenku. Sekilas aku mendengar Karin yang tertawa kecil, lalu semakin lama aku pun semakin menjauh dari rumah Karin. Sejak dari rumahnya, pikiranku tidak bisa teralihkan dari wajahnya, entah mengapa tapi wajahnya yang sedang tersenyum itu selalu melintas di benakku, tapi tidak hanya itu, aku juga masih memikirkan mengapa ia selalu tersenyum dengan senyuman yang sama, lalu tingkahnya sepulang dari bukit pun aku rasa ada yang aneh.
'Penggemar permen aneh,'
.
.
Belum terlalu jauh aku pergi dari rumahnya. Jalan yang sedang kutempuh ini yang asalnya suara bising dari mobil klaskson biasa-biasa saja, kini ditambah ramai oleh sirine ambulans yang melaju pada arah yang berlawanan denganku.
"Huh, ambulans ya? Hmm, mungkin ada kecelakaan," ujarku sembari terus mengayuh sepedaku in menuju apartemen yang sekarang sudah tidak terlalu jauh lagi.
.
.
.
.
.
.
~To be continue~
~Please, need review~
a/n: chapter ini selesai dengan panjang~ sekali lagi maaf karena update sangat lama ya, saya juga tidak janji akan update cepat-cepat, karena saya sedang HIATUS jadi ya, cerita ini pun sama sedang HIATUS. Maaf sekali lagi untuk para reader! Mulai sekarang saya kembali HIATUS
Lanjutan balas review:
Riri Itha Ithy: iya maaf updatenya lama yaa, sekarang juga sudah lama updatenyaa maaf maaf, semoga menyukai chapter berikut~
Reruya: wah terimakasih sudah review~ mudah tertebak ya? Hihi, sebenarnya ada unsur kesengajaan juga agar tidak terlalu ambigu nantinya, maaf update lama ya~
Karin pholefel: terimakasih sudah reviewww~ hihi jangan senyam-senyum sendiri nanti dilihat orang lain,hehe. Maaf updatenya lama yaa~ semoga menyukai chapter berikut~
Chang Mui Lie: terimakasih sudah review~ maaf updatenya lama yaa~ sudah dilanjut nih!
Fathia Aulia: Sudah udpate nih~ terimaksih sudah review~
RevmeMaki: maaf updatenya lama ya~, terimakasih sudah review, sudah dilanjut juga nih~
Dci: Maaf updatenya lama yaa, tapi sudah dilanjut chapter berikut~ semoga menyukai chap berikut~
Penasaran: maaf lama menunggu, maaf lama update~ sudah dilanjut nih~ semoga menyukai chap berikut~
Karinokazune: wahh Kazunenya kasihan kalau dibuat menderitaa T^T, diusahakan yaa~ semoga dichapter berikut disukai jugaa~ terimakasih sudah review!
