a/n: Maaf sebelumnya untuk para readers ya^^ Hiatusnya sangat lama dan masih ada kemugkinan saya akan hiatus total juga suatu saat nanti, jadi mohon maaf sebelumnya^^ Terimakasih yang sudah review, fav, dan follow cerita ini^^ Semoga chapter berikut disukai para readers!

Balas review:

Guest: Terimakasih sudah review! Hehe maaf lama hiatusnya ya. Hmm, untuk tahu jawabannya baca saja kelanjutanya yaa^^

Kirei-chan: Terimakasih sudah review^^

Dci: Sudah di update nih^^ terimakasih sudah review!

KK LOVERS: Hihi maaf yaa, memang ada alasan tertentu untuk hiatus jadi mohon maaf^^ sudah update nih, dan panjang sepertinya^^ terimakasih sudah review!

Grace: maaf updatenya lama ya, baru di update nih^^ terimakasih sudah review^^

Riri Itha Ithy: wah maaf hiatusnya lama ya^^ sudah di update nih, terimakasih sudah review^^

CryssC: Heey Lynsmee^^, terlalu cepat ya? Waah semoga chapter yang ini tidak ya? Maaf mungkin hiatusnya memang lama hihi, terimakasih sudah review!

Ayu.p: ada alasannya ya hiatusnya hehe. Baca kelanjutannya ya^^ Terimakasih sudah review!

Humairah: maaf lama updatenya ya^^, terimakasih sudah review!

Ecie: wah benarkah? Terimakasih banyak^^ Terimakasih juga sudah review^^

Sarybismaniac: baru di update nih^^ terimaksih sudah review^^

Yui: apa ya? baca kelanjutannya ya^^ terimakasih sudah review!

Ao-chan KAZURIN: wahh kalau begitu baca kelanjutannya ya^^ terimakasih sudah review^^

tsania. eluntsa: sudah di update nih^^ ada apa ya? baca kelanjutannya yaa^^ terimakasih sudah review!

Innha kujyo: sudah dilanjut nihh^^ maaf lama ya hehe. Terimakasih sudah review!


Selamat membaca~^^~

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Ma Dernière volonté*~


Hari baru untuk memulai sekolah sudah dimulai, seperti biasa aku membawa kameraku dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah selesai dengan barang-barang yang akan kubawa ke sekolah, aku keluar apartemenku dan menguncinya dahulu, dan saat itulah aku bisa mendengar suara tawa khas dan merdu itu di sampingku.

"Hihi, pagi Kazune-kun! Kemarin kau kemana? Tadinya aku akan mengantarkanmu makan malam, tapi karena kau sedang keluar jadi aku kembali lagi," ujar Himeka yang memang apartemennya berada di samping apartemenku.

"Ah, aku hanya jalan-jalan saja, tidak ada hal penting," jawabku dengan menekankan kata 'penting' dalam nada bicaraku. Himeka sendiri yang mendengarnya hanya bisa kebingungan, namun kami menghiraukan hal itu dan melanjutkan pergi ke sekolah bersama.

Pagi-pagi begini cuaca sudah tidak bersahabat, angin musim dingin menerpa kami di sepanjang jalan menuju sekolah. Gumpalan awan mendung bersarang di atas kami. Orang-orang disekitarku mulai berjalan cepat karena takut bila hujan datang mengguyur. Tentu saja bila itu terjadi akan merepotkan banyak orang.

.

Tidak butuh waktu lama aku dan Himeka sudah sampai di sekolah dan disambut dengan sapaan selamat pagi dari teman-teman yang berpapasan dengan kami.

"Pagi Himeka-chan! Kazune-kun!" dan salah satunya sapaan dari teman dekat Himeka, Miyon. Ia terlihat berlari kecil menuju kami dengan membawa sebuah majalah di tangannya.

"Pagi," jawabku dengan dingin, lalu dilanjutkan oleh Himeka, "Pagi Miyon-chan! Apa ada sesuatu yang menarik? Sepertinya wajahmu mengatakan iya, haha," Himeka tertawa geli menggoda temannya itu. Aku hanya diam menunggu mereka selesai bicara. Lebih tepatnya, mencoba menunggu.

"Benar sekali! Majalah ini baru kubeli kemarin! Kau tahu apa yang istimewa dari majalah ini?!" tanya Miyon dengan mata bebinar-binar. Himeka pun terkena virusnya dan kini matanya bebinar-binar dengan bintang bertebaran.

'Ugh.. Biasakah aku pergi sekarang?' batinku. Sesaat aku akan mengatakan pada Himeka bahwa aku akan pergi duluan, mereka memotongku kembali.

"Ada berita baru tentang Hanazono Karin! Katanya—"

"Ehem, Himeka. Aku pergi ke kelas duluan," dengan segera aku pergi menjauh dari mereka setelah berpamitan, meninggalkan mereka yang menatapku dengan bingung.

Sampai di depan kelas, aku merasakan ada seseorang yang memperhatikanku dengan tajam dari arah kelas, dan itu membuatku diam sementara di depan. Sudah bisa kutebak siapa yang mempunyai tatapan seperti itu, tidak lain lagi..

"Kujyo-kun!" suara itu mendenging ditelingaku. Setelah mendengarnya, dengan segera aku membalikkan tubuhku, tetapi tepat saat itu juga aku tertarik oleh seseorang dari belakangku sampai aku terjatuh.

Brugh!

Aku meringis akibat benturan dengan lantai yang dingin itu, begitu juga dengan seseorang di sampingku yang mengakibatkan ini semua.

"Hey hey hey! Selamat pagi Kujyo-kun~! Aku sudah menunggumu sedari tadi! Karena kau sudah ada disini, sekarang waktunya untuk pergi!" seru Karin bersemangat dan kini ia menarik tanganku berdiri. Karena kesal dengan perlakukannya, aku melepas tanganku paksa dari tangannya.

Bets!

"Aku bisa berdiri sendiri."

Dengan nada datar dan tatapan tajam ke arahnya, cukup membuatnya terkejut dan diam. Ia terlihat sedih setelah aku berkata seperti itu. Aku masuk ke dalam kelas lalu menyimpan tasku, tidak lupa aku kembali lagi ke luar kelas menemui Karin yang masih terlihat sedikit bersalah. Ia menatapku berbeda, tetapi ia masih menampakkan senyuman khasnya, seperti mengatakan, maafkan aku. Aku hanya diam menatapnya, ia pun terdiam semakin merasa bersalah karena aku tidak berkata apa-apa. Lama kami hanya saling diam, akhirnya aku menyerah.

"Hah.. yasudah, kau mau kemana?" helaan nafas kembali dihembuskan olehku mengingat bahwa ini adalah syarat aku mendapatkan kamera SLR itu. Setelah mendengar pertanyaanku itu, Karin tersenyum ceria kembali dan mengisyaratkanku untuk mengikutinya, akhirnya aku hanya menuruti yang ia katakan.

.

Aku mengikutinya menuju arah aula sekolah. Pertama aku terheran-heran, mengapa ia membawaku ke aula sekolah? Sudah lagi, di sepanjang jalan menuju aula, aku bisa melihat papan pengumuman bahwa murid dilarang masuk aula untuk sementara ini. Aku berjalan terus mengikutinya sampai kami masuk ke dalam aula.

"W-waa?" celotehku tanpa sengaja seraya memasuki aula.

Di dalam aku bisa melihat dekorasi-dekorasi yang belum selesai, atau lebih tepatnya baru saja dimulai. Kupandang aula ini dari ujung ke ujung, penuh dengan bahan dekorasi untuk dipasangkan, itu pun belum semua, aku masih melihat barang yang berdatangan masuk ke aula ini.

Tetapi, sejak pertama masuk sekolah ini, aku sudah mempuyai pemikiran bahwa aula ini pasti dapat disewakan untuk acara-acara, karena memang aula sekolah ini sangatlah luas, bahkan aula ini pun berbeda gedung dengan bangunan sekolah.

"Hey, sebenarnya kau ingin membawaku kemana?" tanyaku memecah keheningan diantara kami. Karin yang berjalan di depanku melirikku sebentar lalu berhenti menghadapku dengan memampangkan deretan gigi-gigi putihnya.

"Ke hatiku~"

O_o

Dengan geremat aku menatapnya membuatnya bergidik ngeri.

"Kau!" belum aku selesai berbicara ia sudah lari seraya berteriak, "Kyaa! Maafkan aku Kujyo-kun~!"

.

.


Kini aku bertemu kembali dengan manajer Karin yang kuingat namanya adalah Michi Nishikiori. Tidak lupa dengan partner Karin, Jin Kuga berada di sampingnya.

"Ah, kau datang juga. Bagaimana kabarmu Kujyo-kun?" sapa Michi kepadaku. Aku hanya menatapnya biasa dan menjawabnya singkat.

"Baik. Lalu ada perlu apa aku disini?" tanyaku langsung to the point. Begitu aku bertanya, mereka saling memandang, kemudian setelah itu mereka tertawa kecil. Aku disini hanya terheran-heran dengan tingkah mereka. 'Apa ada yang lucu?'

"Begini, kami akan mengadakan acara penting minggu ini di aula. Acara itu hanya dapat dikunjungi oleh orang-orang yang diundang saja. Acara ini juga tidak akan terbuka kepada infotainment. Tetapi kami juga butuh seksi dokumentasi," setelah mendengar penjelasanya, aku sudah mulai bisa mengerti arah pembicaraannya itu. Kemudian ia melanjutkan penjelasannya tadi.

"Karena kupikir yang cocok untuk menjadi seksi dokumentasi itu adalah orang yang dapat dipercaya dan ahli dalam hal seperti itu, maka—"

"Kau mau aku menjadi seksi dokumentasi? Begitu?" aku memotongnya dengan segera. Michi pun tersenyum sumringah, begitu pula dengan Karin yang kini tersenyum lebar.

"Ya benar. Kami meminta bantuanmu demi kesuksesan acara ini, bagaimana? Kau bersedia?" tanya Michi padaku memastikan.

Sejenak aku berpikir. Bila aku bersedia, aku harus meluangkan waktu untuk mengurus hal-hal yang dibutuhkan, sudah lagi aku butuh bantuan orang lain, dan itu sangat merepotkan. Bila tidak, aku bisa bersantai-santai.

"Hmm, aku tidak ikut," jawabku singkat membuat mereka tercengang.

"A-Apa? Yang benar saja?!" pekik Jin yang kini memasang raut kesal padaku. Aku hanya menatapnya balik dengan dingin tanpa mengucapkan sepatah kalimat lagi.

"Yah, Kujyo-kun, benar kau tidak mau ikut?" tanya Karin sedikit memelas. Aku hanya memutar bola mataku malas kemudian mendengarkan Michi berbicara kembali.

"Baiklah bila kau tidak ingin menjadi seksi dokumentasi, tetapi bagaimana bila kau hanya menjadi bagian dari seksi dokumentasi? Kau tidak akan mengatur orang-orang, tetapi kau hanya butuh mendokumentasikan acara itu, itu pun semaumu, apapun yang ada di acara itu yang menurutmu menarik, kau boleh mendokumentasikannya," tawar Michi membuatku berpikir kembali.

Batinku mulai berperang, antara mau dan tidak mau. Tetapi sepertinya kali ini tawarannya membuatku tergerak. Ia berkata bahwa aku hanya mendokumentasikan semauku saja, berarti aku bisa bersantai-santai sembari menyalurkan hobiku di acara itu. Aku pikir itu ide yang bagus.

"Ah baiklah, untuk yang itu aku bersedia," jawabku kembali. Bola mata emerald milik Karin dengan seketika membulat besar.

"Yes! Kujyo-kun yang terbaik!" seru Karin sembari melompat-lompat seperti anak kecil. Jin berusaha menenangkan Karin yang terlalu bersemangat itu, tetapi Karin malah menarik tangan Jin dan mengayun-ayunkannya. Sedangkan Michi tersenyum padaku dan mengisyaratkanku untuk mengikutinya ke tempat agak jauh dari Jin dan Karin.

"Hey, kemari, ada yang perlu aku katakan," ucapnya sembari berjalan menjauh dari mereka. Aku pun mengikutinya dan berhenti menghadap pada sang manajer Karin itu.

Sejenak ia terdiam dahulu, aku menunggu perkataan yang akan keluar dari mulutnya, sampai akhirnya ia menghela nafas dahulu barulah ia mengucapkan kalimatnya yang tertahan.

"Di acara nanti, aku ingin kau memfokuskan terhadap Karin, bagian lain biarkan saja seksi dokumentasi lain yang mengurusnya. Aku menyerahkannya padamu Kujyo-kun," ujarnya dengan berbisik dan menepuk pundakku pelan, lantas ia pergi meninggalkanku yang masih berpikir.

'Kenapa harus fokus terhadap dia saja? Bukannya tadi ia bilang semauku saja?' pikirku sedikit sebal karena aku memang tidak pernah senang memfoto atau video seseorang, apalagi Karin Hanazono.

.

.


Sekolah memulai pelajaran pertama, kelasku berhamburan keluar kelas karena kali ini pelajaran pertama adalah olahraga. Murid putri dan putra menuju ruang ganti yang terpisah, setelah selesai, dengan bersemangat murid-murid berlarian ke lapangan, berbeda dengan kelas lain yang biasanya menghadapi pelajaran olahraga dengan malas-malasan, tetapi kelasku malah sebaliknya.

"Sensei! Olahraga sekarang materinya apa?!" seru teman-teman kelasku pada pemuda tinggi dan bisa dikatakan tampan untuk seorang guru. Sensei ini hanya mengajar di kelasku, maka dari itu kelasku selalu bersemangat bila pelajaran olahraga.

"Baiklah tenang dulu anak-anak. Sekarang kalian bisa melihat bola apa yang sedang aku bawa ini?" tanya Sensei muda itu pada kami. Aku sendiri hanya diam dan memperhatikan bola yang sedang ia pegang erat-erat. Baru saja pertanyaan itu dilontarkan, murid-murid segera menjawabnya dengan lantang.

"Bola basket! Yee!" lantas Sensei mulai menerangkan permainan bola basket tersebut, yang sebenarnya sudah sering diajarkan di SMP bahkan SD pun sudah.

Setelah selesai menerangkan cara bermainnya, Sensei membagi kelompok bermain, karena kelasku jumlah muridnya 20 , pas sekali untuk dibagi menjadi 4 kelompok bermain. Pembagian kelompok pun berdasarkan absen nama, tetapi murid putra dan putri di campur, karena jumlah putri lebih sedikit dari pada putra.

"Baiklah yang menjadi kelompok pertama adalah...—"

Nama demi nama dipanggil oleh Sensei, sampai akhirnya selesai semua. Aku pun termasuk ke dalam kelompok dua yang akan bertanding dengan kelompok pertama. Anggota kelompokku yang lain adalah Sakurai Yuuki, Takaaki Rei, Kujyo Himeka, dan yang terakhir adalah Hanazono Karin.

"Wah~ Berutung sekali aku bisa bersama Karin-chan!" seru Himeka memeluk Karin gemas. Karin sendiri sama senangnya dengan Himeka. Aku hanya bisa mendecak lalu mengalihkan perhatianku pada Yuuki dan Rei. Kelompokku termasuk yang paling beruntung, karena Yuuki dan Rei adalah anggota klub basket, dahulu aku pun menjadi anggota klub basket saat SMP, saat itu aku ditunjuk menjadi ketua klub putra basket, tetapi karena saat ini aku lebih menyukai fotografi, aku pun tidak mengikuti klub basket lagi.

"Yang menjadi ketua di kelompok kita adalah Kujyo-kun!" ujar Yuuki dan mereka pun setuju bahwa aku yang menjadi ketua. Aku sih biasa saja menanggapinya, karena aku tidak ingin ambil pusing lagi bila harus berdebat dengan mereka.

"Ya terserah kalian saja. Daripada kita berdebat disini, lebih baik kita masuk ke lapangan," seraya menaikkan lengan baju aku menggiring kelompokku masuk ke lapangan basket.

Lawan kami sudah mulai menyusun rencana, aku pun dengan segera memposisikan timku di tempatnya masing-masing. Kami mendiskusikan posisi untuk Himeka dan Karin. Setelah itu baru kami menyusun rencana.

.

Priit!

Permainan dimulai dengan jambul. Bola di lempar ke atas oleh Sensei dan..

Pak!

Bola dengan sigap kurebut dari lawan dan mendribblenya memasuki wilayah musuh. Hadangan dari depanku mulai bermunculan. Karena terdesak aku pun mencari teman yang kosong dan akhirnya aku melihat Karin yang bebas dari musuh. Dengan segera aku melempar bolanya terhadap Karin.

"Kujyo-kun!" hap. Bola ditangkap Karin dengan indah. Ia pun segera menggiring bolanya mendekati ring dan siap untuk memasukkan bola itu, lawan pun masih sibuk berlarian ke wilayahnya yang kini sudah dimasuki Karin. Terdengar kelompokku menyeru pada Karin.

"Shoot! Shoot!" seru mereka membuat Karin panik. Aku khawatir bila ia panik, bola tidak akan masuk dengan benar. Maka aku berusaha mendekatinya kalau-kalau terjadi kegagalan, aku bisa langsung menopangnya dengan memasukkan bola itu olehku.

"Ayo masuk!" seru Karin sembari melempar bola menuju ring dan..

Duk!

Benar sekali, bolanya meleset. Keluhan teman-teman di pinggir lapangan terdengar kecewa. Tetapi untung saja aku sudah berada di bawa ring, maka aku langsung melompat dan memasukkan bola itu dengan satu tangan.

Blush!

"Point untuk kelompok Kujyo-kun!"

"Kyaaa~! Kujyo-kun Keren!" "Wuhuu! Kau keren Kujyo-kun!" "Hebat! Dia bisa slamdunk!" "Kujyo-kun~!" "Keren sekali yang tadi itu!"

Seperti itulah jeritan-jeritan murid yang menonton di samping lapangan. Yuuki, Rei, Himeka, dan Karin menghampiriku dan mengucapkan hal yang sama seperti mereka yang berada di pinggir lapangan.

"Untung ada kau Kujyo-kun!" seru Yuuki. Dilanjut oleh Himeka dan Karin, "Kazune-kun memang hebat!" dan Karin sendiri dengan tertawa kecil meminta maaf karena tidak bisa memasukkan bola dengan benar.

"Ya ya, sekarang kita mulai saja lagi permainan ini," ujarku kemudian kami kembali ke posisi masing-masing.

Belum satu menit berlalu, kini lawan memperkuat pertahanan mereka dan kami dibuat agak sibuk dengan permainan mereka, meskipun mereka belum berhasil membobol angka di ring kami.

"Jaga belakang Takaaki-kun!" perintahku padanya dan untung saja Rei berhasil menghadang mereka. Bola dibawa oleh Rei menuju ring lawan, kemudian dioper pada Karin yang bebas dari lawan.

Ia mendribble bolanya sebentar lalu tiba-tiba saja ia mengoper bolanya pada orang yang salah, ia mengoper pada lawan. 'Gawat!' pikirku sembari terus mencari cara untuk merebut bola itu. Lawan pun merasa beruntung karena operan Karin. Kesal mulai muncul pada batinku, namun aku membiarkannya karena mungkin ia keliru dengan pemain kelompok kami.

Permainan masih berlanjut, Karin yang selalu mendapat bola karena jarang dijaga lawan melakukan pelanggaran dan salah mengoper barulang-ulang. Kesabaranku mulai teruji karenanya. Sudah aku peringatkan agar ia tidak melakukannya lagi, tetapi semakin lama semakin banyak kesalahan yang Karin lakukan. Kini, ia dihadang oleh lawan, dan aku melihat Himeka yang sedang kosong di dekatnya.

"Oper pada Himeka!" perintahku pada Karin yang sudah terlihat kelelahan meskipun permainan belum lama dimulai.

"Himeka-chan!" Karin mengoper pada Himeka dan sayang sekali ia mengoper terlalu jauh dari Himeka, akhirnya bola itu jatuh ke tangan lawan.

"Agh sial!" aku berlari berusaha merebut bola itu dari tangan lawan. Namun hasilnya nihil, karena ia sudah sangat dekat dengan ring kami. Dan akhirnya..

Blush!

"Point untuk kelompok Moku-kun!"

Mereka berhasil membobol ring kami dan karena itu kami hanya bisa menghela nafas.

"Hah, tidak apa-apa, kita harus semangat!" ujar Himeka memberi semangat pada Karin yang kini terlihat bersalah karena sejak tadi ia bermain tidak benar. Aku menghampirinya dan memberinya nasihat atau arahan.

"Ingat teman sekelompokmu, jangan mengoper pada lawan," ujarku dingin dan sedikit ketus. Karin terdiam dan menunduk merenungi kesalahannya, sedangkan Himeka ia terlihat kesal saat aku mengatai Karin seperti.

"Kazune-kun! Jangan salahkan Karin-chan! Kasihan kan temanku ini sedari tadi dimarahi olehmu!" seru Himeka sembari merangkul Karin yang kini meminta maaf padaku.

"T-Tidak Himeka-chan, a-aku memang salah. Aku p-pantas dimarahi olehnya, hehe," ujarnya menjelaskan pada Himeka sembari mengatur nafasnya lelah. Aku mendengus kesal lantas kembali ke posisiku semula.

Permainan dimulai dari pihak kami karena lawan sudah membobol ring kami. Aku mendribble bola dan menyuruh kelompokku menyerang ke wilayah musuh. Dengan cepat mereka berlari mencari tempat kosong dan berusaha mengindar dari lawan. Aku melihat Karin yang terdekat denganku, lalu aku mengoper padanya.

"Masukkan!" seruku padanya.

Bola sudah berada di tangannya, tetapi sesaat ia berlari mendekati ring, bola itu digiringnya dengan lemas, pandangannya pun terlihat kemana saja, tentu hal itu membuat lawan dengan mudah mengambil bolanya.

Pak!

Bola direbut kembali oleh lawan dan mereka memasukkan bola ke ring kami. 'Sial,' batinku kesal. Point lawan semakin bertambah, karena itu aku mengganti posisi Karin di belakang agar tidak melakukan banyak kesalahan. Akhirnya kelompokku bisa menyerang kembali dengan perpindahan posisi Karin yang memang begitu banyak hasilnya.

Permainan baru setengah jalan, aku dan yang lain pun masih terlihat semangat tanpa keringat letih sekali pun karena memang permainan ini tidak begitu melelahkan. Namun saat aku melihat Karin, ia terlihat sangat kelelahan, wajahnya sangat mengatakan bahwa ia sudah kehabisan stamina.

"Karin-chan, apa kau masih bisa bermain? Sepertinya kau sudah kelelahan," ujar Himeka khawatir. Sesaat kami terdiam setelah lawan membobol ring kami lagi. Yuuki dan Rei pun ikut mengkhawatirkan Karin.

"Hanazono-san, mugkin kita bisa istirahat sebentar, kau sudah terlihat kelalahan," ujar Yuuki pada Karin. Sedangkan Karin hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali membantah semua perkataan mereka.

"Tidak aku masih bisa main. Ayo! Kujyo-kun! Aku masih bisa main!" serunya sembari mengepalkan tangannya menandakan ia bersemangat. Tetapi karena aku bisa melihat keadaannya yang memang kelelahan dan posisinya di kelompok pun tidak terlalu penting. Tanpa sengaja aku melontarkan kalimat itu.

"Keluar saja dari permainan ini,"

Degh degh...

Tiba-tiba saja kelompokku terperanjat dengan kalimat itu. Aku sendiri pun terkejut karena sebenarnya aku tidak ingin mengatakan itu terus terang. Aku langsung saja melihat ekspresi Karin setelah itu. Ia hanya diam menatapku terkejut juga. Agh, aku merasa bersalah sekali, sudah lagi temanku yang lain pun mendengar kalimat tadi.

"A-Aku masih ingin bermain sampai selesai! Meskipun begitu aku akan tetap berusaha!" seru Karin sedikit kesal karena kalimatku tadi.

"E-emh, baiklah."

Permainan berlanjut. Lawan semakin gesit mempermainkan bola, aku harus mengejar kesana kemari untuk merebutnya. Begitu pula dengan kelompokku yang lain.

Saat ini lawan dihadang oleh Karin, namun Karin dilewati dengan mudah olehnya dan mengakibatkan Karin harus mengejarnya dari belakang. Aku yang berada di belakang Karin dapat menyusulnya mengejar lawan. Entah mengapa aku melihat perbedaan Himeka dan Karin saat mereka lari, memang Karin lebih lama mengejar lawan dari Himeka.

Sesaat aku melewati Karin, aku bisa mendengarnya mengatur nafas yang berat dan wajahnya pun terlihat pucat. Aku jadi mempunyai pikiran khawatir padanya karena keadaannya yang ternyata memang kelelahan.

Duk! Blush!

Priit!

Bunyi peluit melengking ditelinga kami menandakan permainan telah selesai. Aku pun terdiam di samping Karin yang masih mengatur nafasnya berat.

"Yahh, kita kalah," ujar Yuuki, Rei, dan Himeka yang menghampiri kami disini.

"A-Aku minta maaf, pasti gara-gara aku berada di kelompok kalian, k-kelompok ini jadi kalah," bisik Karin sembari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Saat itu tiba-tiba saja pandangan Yuuki, Rei, dan Himeka tertuju padaku dengan tajam. Oh no..

"A-apa?" tanyaku pada mereka, meskipun aku tahu mereka menyalahkanku karena aku membuat Karin merasa bersalah seperti itu.

Himeka merangkul Karin dan menghiburnya. Sedangkan Yuuki dan Rei menghampiriku dengan wajah suramnya.

"Kujyo-kun, apa kau tidak terlalu kasar pada Hanazono-san? Lihat, ia menjadi merasa bersalah seperti itu," ujar Yuuki dilanjutkan dengan tatapan dingin Rei.

"I-Iya, baiklah, aku akan meminta maaf padanya, tenang saja," jawabku sembari menggaruk bagian belakang kepalaku yang tidak gatal.

Setelah itu aku menghampiri Karin dan Himeka. Himeka yang sudah menyadarai kehadiranku menatapku dengan tajam dan mengisyaratkanku untuk meminta maaf pada Karin. Aku hanya menatapnya iba dan sesaat aku akan meminta maaf padanya..


.

"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

.

Tiba-tiba saja Karin batuk-batuk sampai ia berlutut ke bawah. Himeka pun ikut berlutut karena terkejut dengannya. Tetapi batuknya langsung berhenti sesaat ia terdiam di bawah. Himeka mengkhawatirkannya dan bertanya-tanya pada Karin. Aku pun dengan reflek berlutut melihat keadaannya.

"Kau tidak apa-apa Karin-chan? Kau pasti sangat kelelahan ya sampai batuk seperti itu? Hahh, aku juga pernah seperti itu, benar kan Kazune-kun?" tanya Himeka padaku menceritakan pengalamannya itu. Aku hanya mengangguk pertanda iya. Sedangkan Karin hanya tersenyum pasi pada Himeka dan mengangguk setuju pada perkataan Himeka tadi.

'Hah, kupikir dia kenapa, ternyata karena kelalahan,' pikirku sedikit lega karena tidak terjadi apa-apa padanya.

Lantas kami berdiri kembali dan berjalan menuju pinggir lapangan. Saat itu aku mengambil kesempatan untuk meminta maaf padanya, meskipun agak malu karena hal itu.

"A-anu. Itu. A-aku minta maaf tadi dengan perkataanku, aku tidak sengaja mengatakannya," ujarku berbisik pada Karin. Himeka yang berada di sebelah Karin bisa mendengarku meminta maaf pada Karin, dan itu membuatnya tertawa geli. Sedangkan Karin hanya tertawa kecil sembari mengambil handphone miliknya dari sakunya. Sejenak aku berpikir, untuk apa ia mengeluarkan handphone?

"Hihi, k-kau itu lucu s-sekali Kujyo-kun~," ujar Karin dengan tersendat-sendat saat ia berbicara. Aku hanya bisa diam dan menundukkan kepalaku dalam-dalam menyembunyikan wajahku yang kini merah padam.

.

Tetapi setelah Karin mengatakan hal itu, aku kembali melihat ekspresi Karin yang berubah drastis.

Tak!

Handphone di tangannya begitu saja terjatuh. Aku dan Himeka yang berada di sampingnya langsung mengalihkan perhatian kami pada Karin.

'Eh? Ada apa dengannya?' pikirku terkejutkan juga olehnya. Ia tiba-tiba saja terkejutkan oleh sesuatu, sampai-sampai aku bisa mendengarnya menahan nafas. Mata emaraldnya membulat besar menatap tangannya yang kini bergetar hebat. Himeka bertanya-tanya pada Karin, tetapi ia tidak menjawabnya sama sekali.

"Karin-chan? Kau kenapa tiba-tiba menjatuhkan handphonemu?" tanya Himeka seraya mengambilkan handphone milik Karin yang terjatuh itu. Aku hanya diam memperhatikan wajahnya. Ia terlihat sangat pucat, air peluh mengucur dari pelipisnya bergantian.

Baru saja aku akan bertanya ia, sudah berjalan cepat menuju Sensei dan mengatakan sesuatu padanya, sepertinya ia pamit pada Sensei karena ia membungkuk dahulu sebelum ia pergi menuju gedung sekolah.

"Karin-chan?!" Himeka memanggilnya berkali-kali tetapi Karin tidak sedikit pun meliriknya. Sejenak aku memperhatikan Karin yang kini semakin jauh dari tempatku berada, lalu beralih pada Himeka yang kini juga menatapku dengan heran.

"..."

"Ayo."

Tidak lama kami berdiam tidak jelas, Himeka menarikku menuju arah Karin tadi pergi.

.

.

Kami mengejarnya dan akhirnya mendapatkan Karin bersama seseorang di depan kelas kami. Lantas, karena takut ketahuan, aku dan Himeka mengendap-endap dan mencuri-curi pandang. Setelah kulihat baik-baik, ternyata aku mengenal orang yang bersama Karin, ya benar, dia adalah Michi, manajernya.

"— Kalau begitu cepat ganti bajumu, aku akan meminta ijin pada sekolah untukmu dan Jin-kun."

Karin hanya mengangguk lalu bergegas masuk ke kelas dan mengambil barang-barangnya. Michi yang sudah selesai berbicara dengan Karin segera pergi menuju kelas Jin yang berada tidak jauh dari kelasku.

"Hmm, bila kutebak, sepertinya Karin-chan melupakan janjinya dengan manajernya itu, mungkin ia baru ingat pada saat ia membuka handphonenya tadi. Betul tidak?" tanyanya meminta pendapatku juga. Aku hanya diam lalu mengangguk setuju.

"Ayo Himeka-chan, kita kembali ke lapangan," ujarku sembari berjalan kembali menuju lapangan. Tetapi Himeka menarikku lagi.

"Tunggu! Aku belum mengembalikkan handphone Karin-chan!" pekiknya membuatku terkejut. Aku kira ada apa ia menarikku lagi, ternyata hanya karena itu.

"Yasudah, aku kembali duluan, kau saja yang mengembalikannya."

Tanpa meliriknya lagi aku segera pergi menuju lapangan. Sebelumnya terdengar Himeka yang mendengus kesal padaku, tetapi akhirnya ia pergi ke tempat Karin dan mengembalikan handphonenya.

.

Pelajaran olahraga selesai dan sesaat aku kembali ke kelas, aku bisa melihat murid putri kelasku yang berkurang. Ya benar, Karin tidak ada di kelas. Tetapi yang membuatku heran, tasnya dan barang-barangnya masih ada di bangkunya yang tepat bersebelahan dengan bangkuku.

"Tidak biasanya bangku Hanazono-san berantakan seperti itu. Sudah lagi dimana orangnya? Bukannya tadi ada?" tanya Yuuki sembari menghampiriku. Sejenak aku memperhatikan bangkunya dan ternyata memang benar, bangkunya berantakan. Buku-buku berserakkan, isi tempat pensilnya berhamburan di mejanya.

"Mana kutahu. Tanyakan saja pada orangnya langsung," jawabku singkat. Kemudian Himeka tiba-tiba saja bersama temannya Miyon di belakangnya.

"Kazune-kun! Tadi aku tidak sempat bertemu dengan Karin-chan, jadi bagaimana kalau kau saja yang mengembalikkannya? Aku mohon~" pinta Himeka dengan memelas, wajahnya yang manis itu pun bersemu merah. Dan itu membuatku tidak berdaya!

"Agh, baiklah, terserah kau saja Himeka-chan," ujarku sembari memalingkan wajahku yang sedikit terpengaruh olehnya.

"Baiklah! Terimakasih Kazune-kun! Ini handphone milik Karin-chan," ujarnya sembari meletakkan handphone Karin di atas mejaku.

Meresponnya aku hanya mengangguk dan akhirnya Himeka kembali ke bangkunya bersama Miyon yang mengikutinya kemana pun ia pergi.

.

.

.


Suara nyaring membuyarkan lamunanku. Ternyata sekolah sudah selesai dan murid-murid pun berhamburan keluar kelas. Aku segera membereskan barang-barangku di meja, tetapi sejenak aku melihat pada bangku sebelahku. Bangku Karin begitu berantakan, lalu bagaimana dengan tasnya itu?

"Kazune-kun, sepertinya aku harus kerja kelompok dengan Miyon sampai sore, mungkin aku hanya bisa mengantarmu makan malam, tidak apa-apa?" Himeka memandangku iba. Aku mengangguk mengiyakan dan segera menjawabnya.

"Baiklah, hati-hati pulangnya," ujarku sedikit khawatir karena aku sudah merasa seperti kakaknya.

Himeka tertawa kecil lalu pergi bersama Miyon. Akhirnya aku tertinggal sendiri di kelas, bersama barang-barang Karin yang masih berdiam di bangku sebelahku. Kupikir, tidak ada salahnya bila aku membereskan dan membawa tasnya sembari mengembalikkan handphonenya itu bukan?

"..."

Beberapa lama aku berpikir, akhirnya aku membereskan barang-barangnya dengan asal masuk, kemudian meninggalkan kelas.

Di depan sekolah aku masih bisa melihat Himeka bersama Miyon menuju arah kiri dan kini kakiku melangkah menuju arah yang berlawanandengan mereka, karena tujuanku adalah rumah Hanazono Karin.

Batinku terus terusik dengan suara-suara aneh, suara itu menyuruhku untuk tidak pergi ke rumah Karin, tetapi suara yang satu lagi menyuruhku untuk cepat pergi ke rumah Karin. Aku mendengus kesal dengan pikiranku yang sedang bingung memilih yang mana.

"Agh! Kenapa harus aku yang mengembalikan sih?!" keluhku sembari menghentakkan kakiku agak keras. Tetapi tetap saja kaki ini bergerak menuju rumah Karin meskipun sebenarnya aku tidak ingin. Atau tidak?

Sudah cukup lama aku berjalan, kini jalan yang kutempuh sudah mendekati rumah Karin, bahkan atap rumahnya pun sudah terlihat dari tempatku berada sekarang, karena itu aku melangkahkan kakiku lebih cepat, agar cepat sampai, dan juga cepat pulang.

Akhirnya kakiku berhenti di depan rumah berpagar coklat. Kubuka pagar itu kemudian masuk ke halamannya menuju pintu bercat putih bersih. Kutekan bel di samping pintu itu beberapa kali.

Ting Tong! Ting Tong!

Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, seseorang membukakan pintu untukku, tetapi yang membukakan pintu bukanlah sang pemilik rumah, namun ternyata sang manajer, Michi.

"Oh Kujyo-kun! Ada perlu apa sampai kau datang kemari?" tanya Michi sembari membenarkan kacamatanya yang mulai turun.

"Aku hanya ingin mengembalikkan tas dan handphone milik Hanazono-san, bisakah kau memberikannya pada Hanazono-san?" ujarku sembari menyodorkan barang-barang yang ada di tanganku ini. Namun ia menatapku seakan ia segan mengambil barang milik Karin ini, ia pu sejenak melihat ke dalam rumah lalu kembali padaku dengan senyum yang kurang ikhlas.

"Uh, lebih baik kau saja yang langsung mengembalikannya pada Karin-chan, ayo masuk," Michi mempersilahkanku masuk dan aku pun menurutinya saja. Aku kembali ke ruang tamu yang sama pada saat aku ke rumah ini waktu itu. Michi menyuruhku untu menunggu sementara ia memanggil Karin yang ternyata berada di dapur, dapurnya itu masih bisa terlihat olehku dari ruang tamu, jadi aku bisa melihat mereka berbicara sebentar lalu Karin segera berlari menuju ruangan ini.

"Wah Kujyo-kun tumben sekali datang ke rumahku tanpa aku yang meminta! Hehe," serunya sembari menahan tawa. Aku hanya menatapnya malas dan mengalihkan pandanganku langsung pada barangnya yang kini kusodorkan padanya.

"Jangan kau kira aku senang datang ke rumahmu, aku diminta oleh Himeka untuk mengembalikan handphone dan barang-barangmu ini yang tertinggal,"ujarku menjelaskan. Lantas Karin pun hanya ber-oh ria lalu mengambil barang-barangnya dari tanganku.

"Hmm, terimakasih kalau begitu Kujyo-kun! Bagaimana kalau kau masuk sebentar? Sebagai balasan mengembalikan barang-barangku ini, segelas coklat hangat bisa?" tawarnya sembari tersenyum simpul.

Tidak ada salahnya aku meluangkan waktu di rumahnya, sudah lagi segelas coklat hangat lumayan juga bisa dinikmati saat ini. "Baiklah, kalau tidak merepotkan."

.

.

Karin kembali ke dapur untuk membuat coklat hangat sedangkan aku dan Michi kini berbincang-bincang di ruang tamu. Ternyata, Michi mengetahui banyak hal seputar fotografi, ya aku tidak terkejut karena pasti sebagai manajer artis harus mengetahui banyak hal tentang dunia yang mereka terjuni.

Dugh!

"..—care about you! Just—.. to me! What—.."

Percakapan bahasa inggris samar-samar terdengar dari arah dapur dan kuyakin itu adalah suara Jin dengan nada kesal. Michi dan aku yang mendengarnya pun segera mengalihkan pandangan kami pada mereka di dapur yang masih bisa terlihat.

"Don't you— is here?! Let me tell—.. Please, I just want—"

Kali ini suara lembut dari Karin yang membalasnya, ia terlihat khawatir dan mencoba membuat Jin tenang. Aku disini hanya terdiam bersama Michi memperhatikan mereka, tidak lama suasana memanas, Michi segera menghampiri mereka dan berbicara sesuatu pada mereka.

Was wes wos was wes wos. Apalah itu aku pun tidak tau karena mereka berbisik-bisik. Aku menunggu Karin kembali dan beberapa saat kemudian ia kembali dengan secangkir coklat panas di tanganya.

"Maaf ya lama menunggu, tadi ada sedikit masalah hehe," dengan santainya ia tertawa meskipun aku tahu ia sudah diceramahi oleh dua partnernya itu.

Aku hanya mengangguk meresponya lalu mengambil cangkir itu untuk mencobanya. Satu tegukan coklat hangat langsung membuatku merasa hangat juga. Rasa manis dan coklatnya sangatlah pas. Mungkin ia sudah biasa kali ya membuatnya?

Sesaat aku menikmati coklat hangat itu, Jin dan Michi masuk ke ruangan ini dan keheningan pun terjadi. Lumayan lama, mereka— Jin dan Karin bertatap-tatapan dalam diam, suasana semakin memanas sampai Jin mengucapkan kalimat yang kupikir itu sangat berpengaruh pada Karin dan Michi.

"Heh, do what you want, I don't care anymore."

O_o

'Huh?'

Ia berjalan keluar dari rumah ini dan membanting keras pintu rumah ini. Aku yang tidak tahu masalahnya pun terkejut dengan kalimatnya yang seakan ia tidak mau berurusan dengan Karin dan Michi kembali. Tentu saja yang lebih terkejut daripada aku adalah gadis yang kini bola matanya terbelalak menatap kosong lantai di depannya, dan juga Michi yang kini ia terlihat sangat marah kepada artisnya itu.

"Agh! Jin! Kau keras kepala!" Michi berlari keluar dan mengejar Jin yang mungkin masih tidak jauh dari sini. Tetapi suara Karin yang terbata-bata menghentikannya.

"T-Tidak. Jangan Michi-kun. B-Biarkan ia pergi.. biarkan ia pergi.." Michi dengan tatapan penuh kekhawatiran menghampiri Karin yang kini masih berdiam dengan tatapan kosongnya. Aku disini semakin tidak enak karena sudah melihat kejadian yang mungkin tidak mereka inginkan aku ada pada saat ini. Lantas aku meniatkan diriku untuk segera pergi.

"Ah maaf, sepertinya aku datang pada waktu yang tidak tepat. Lebih baik aku pergi sekarang. Terimakasih untuk coklat hangatnya," ujarku sembari beranjak dari tempatku duduk. Karin dan Michi mengalihkan perhatiannya padaku, Karin hanya tersenyum simpul meskipun aku tahu untuk tersenyum pun pasti susah di saat seperti ini. Akhirnya Michi yang mengantarkanku ke depan rumah.

"Sekali lagi maafkan aku," ujarku sekali lagi. Tetapi Michi berkata bahwa ia tidak masalah dengan kedatanganku, malah ia bersyukur aku ada di sana saat itu, karena mungkin keadaan akan semakin menjadi-jadi bila aku tidak ada di sana.

.

.

.

Begitu melangkahkan kakiku tidak jauh dari Karin, aku melihat sosok Jin yang sedang bersandar pada dinding sembari menatap jalanan yang ia injak. Dengan biasa aku menghampirinya, atau lebih tepatnya berjalan pulang ke arah yang sama. Tepat di depannya aku berhenti dan menatap wajah sang artis yang terlihat sagat kebingungan, itu membuatku ingin tertawa terbahak-bahak.

"Pfft, kalau kau berubah pikiran kau masih bisa kembali sekarang, apalagi partnermu itu terlihat sangat shock," sedikit menyindirnya tentu tidak akan apa-apa betul? Haha.

"Kau tidak perlu ikut campur Kujyo-kun. Kau tidak mengerti," timpalnya padaku dengan nada dingin dan tatapan tajam. Tetapi itulah yang membuatku terkejut, sorot matanya terlihat kesedihan yang mendalam, sampai aku bisa merasakanya hanya dengan menatapnya sekali.

Kami terdiam, aku tidak menjawabnya dan ia pun tidak berbicara kembali. Akhirnya keheningan tersebut dipecahkan oleh suara dering handphone dari arah Jin. Dengan segera ia melihat handphone miliknya itu lalu menekan tombol hijau pada handphone tersebut. Sebuah senyuman ikhlas ia pasang di wajahnya.

"Hey. Ah benarkah? Kau tidak bercanda kan?—" dengan santainya ia pergi dan meninggalkanku disini terdiam, menatap puggungnya yang mulai hilang ditelan oleh keramaian di jalan.

Aku menggelengkan kepalaku beberapa kali untuk menyadarkan diriku. Dengan segera aku kembali berjalan pulang menuju apartementku. Tidak lama berjalan dari tempatku tadi, perjalanan pulangku terheni kembali dengan bergetarnya handphoneku yang berada di saku celanaku. Sedikit terkejut, tetapi aku langsung melihat siapa yang menghubungiku. Kutatap layar handphoneku dan terpampang gambar surat yang belum terbuka. Aku baca surat itu dan ternyata pengirimnya adalah..

From: Ka—

Dugh!

"Hey perhatikan jalan!" tanpa sadar aku telah menabrak seseorang di depanku. Aku segera meminta maaf karena memang salahku tidak melihat jalan di depanku.

"Maaf, maafkan aku," orang itu mendengus kesal lalu pergi. Aku hanya menghela nafas meratapi nasib yang kujalani hari ini, melelahkan. Aku kembali menatap layar handphoneku tetapi kali ini aku berhenti dahulu. Lalu kembali menghela nafas yang lebih panjang.

'Hahh.. karenanya aku jadi kena marah orang,
awas saja nanti saat kubalas pesanmu,'

.

.

.

~To be continue~

~Review?~


a/n: terimakasih yang sudah membaca^^! bila ada kesalahan mohon maaf, saran saran akan diterima seperti biasa^^ Terimakasih^^