a/n: Akhirnya sampai pada chapter 5 ya?! Sebelumnya maafkan saya karena belum melanjutkan fic saya yang lain m(_ _)m, yang baru bisa update kali hanya fic ini, jadi mohon maaf m(_ _)m. Ah iyaa, terimakasih yang sudah mereview, membaca fic ini, dan lain-lain! Saya senang bila anda membaca fic ini T^T, membaca pun sudah cukup bagi saya, di review semakin senang malah, tetapi tidak memaksa^^ Saya hanya berbagi saja jadi~ yasudah lah. Ah dan satu lagi, di chapter ini banyak skiptimenya^^

Balas review:

Desi: terimakasih sudah review^^ maaf baru update yaa, wahh aku terharu T^T terimakasih^^

Tsubaki C-chan: terimakasih sudah membaca fic ini dan reviewnya^^ wah kalau kesimpulan itu sepertinya masih misteri juga ya?^,^ soal tata bahasa menurut saya masih kurang sebenarnya T^T, masih banyak author-author yang lebih tertata rapi tata bahasanya dibandingkan dengan fic ini hehe. Tapi terimakasih saya senang^^. Pertanyaan itu ditunda dulu sepertinya ya? mari bermain tebak menebak^^

Crystalisys: terimaksih sudah review^^ maaf baru update ya, semoga chapter berikut bisa disukai^^

Rakai MD: wah maaf baru bisa update sekarang ya, semoga chapter berikut bisa membalas senggang waktu menunggu fic ini update^^ terimakasih sudah review^^

Onpu-chan: sudah di update ya^^ tapi tidak bisa seperti kilat sepertinya hehe. Terimakasih sudah review^^

Yui: terimakasih sudah review^^ maaf ya baru update^^ semoga menyukai chapter berikut^^

Ayu. P: terimakasih sudah review^^ pertanyaannya ditunda dulu ya sepertinya? Hehe maaf baru update^^

Riri Itha Ithy: senangnya fic ini dikangenin^^ hhaha,terimakasih sudah review ya^^ semoga chapter berikut disukai!

KK LOVERS: terimakasih sudah review^^ scene basketnya menurut saya juga kurang ngena ya, jadi mohon maaf alurnya jadi lambat T^T. Semoga chapter berikut alurnya lebih jelas^^

Rukmawati-chan: salam kenal juga^^ terimakasih reviewnya ya^^ masih banyak fic fic yang lebih bagus dari fic ini, tapi terimakasih lagi^^

Guest: Hmm Karin kenapa ya? pertanyaan itu adalah misteri^^ mungkin jawabannya akan ada di chapter berikut-berikutnyaa^^ jadi yaa terimakasih sudah mengikuti fic ini^^


Selamat membaca~^^~

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Ma Dernière volonté*~


'Hahh.. karenanya aku jadi kena marah orang,
awas saja nanti saat kubalas pesanmu,'

.

.

.

Kulihat nama pengirim pesan yang sudah menggangguku itu dan kubaca isi pesannya dengan seksama.

To: Nii-san
From: Kazusa

Kakak! Aku punya kabar gembira! Aku akan pulang dengan Suzune-chan malam ini! Tetapi ayah dan ibu masih banyak pekerjaan disini, jadi hanya kami yang bisa pulang^^

Selesai membacanya entah apa yang kurasakan saat ini, senang? Marah gara-gara menggangguku? Atau sedih? ..

Ya lebih baik aku memilih senang, karena aku sangat merindukan mereka berdua. Mereka sudah sangat lama bersama orangtuaku di luar negeri, meski begitu kami sering berkomunikasi lewat telfon maupun pesan. Niatku yang awalnya akan memarahi seseorang tersebut, terhapuskan dengan sekejap.

Setelah membacanya, bibirku tertarik membentuk senyuman. Dengan segera aku membalas pesan itu.

To: Kazusa
From: Kazune

Baguslah, aku ikut senang kau bisa pulang. Tapi mengapa disaat yang tiba-tiba seperti ini? Bagaimana dengan sekolahmu?

Kemudian kutekan tombol hijau pada handphoneku itu dan memasukkannya kembali ke dalam saku. Kupikir aku akan membalasnya lagi setelah sampai di apartement.

(Skiptime)

Sampai di depan apartement, aku membuka pintu di hadapanku itu dengan kunci yang kubawa, tetapi saat kucoba memutar kuncinya, pintu itu sudah tidak terkuci.

'Eh? Kenapa tidak terkunci? Apa aku lupa mengucinya tadi pagi?' pikiranku mulai terusik. Berbagai macam pikiran negatif bermunculan satu persatu. Takut-takut bila ada pencuri yang masuk, dengan was was aku segera membuka pintu itu, dan masuk dengan perlahan ke dalam.

Langkah demi langkah memasuki ruang utama apartement ini dibuat perlahan sekali olehku dan sampai aku menemukan sosok seseorang yang kini berdiri terkejut menatapku.

"O-oh?! Kazune-kun sudah pulang?!"

"E-Eh?...!"

Hah, kupikir yang masuk adalah pencuri, ternyata suara khas sepupuku itu membuatku khawatir.

"Himeka! Bukannya kau ada kerja kelompok di rumah Miyon-san tadi? Kau bilang sampai sore bukan?" tanyaku dengan sedikit kesal karena sudah membuatku takut setengah mati. Himeka yang ditanya pun hanya tertawa geli mendengar pertanyaanku yang menurutku itu tidak lucu.

"Haha, maaf. Tadi Miyon-san lupa bahwa ia ada les hari ini, jadi ya aku pulang lebih cepat, dan maaf ya sudah masuk tanpa izin, hehe," senyum tulus terpampang di wajahnya dan itu tidak bisa kukelak lagi. Aku hanya bisa menghela nafas meredam emosiku dan memaafkannya.

"Hahh, baiklah. Lain kali jangan ulangi lagi, kau membuatku khawatir," ujarku sembari menuju kamarku untuk berganti baju. Terdengar Himeka yang menjawab dengan seruan "Oke!". Dengan segera aku mengganti bajuku dengan pakaian santai dan setelah itu aku teringat bahwa tadi aku sedang menunggu pesan dari Kazusa.

Lantas aku mengambil handphoneku dan melihat apakah ada pesan darinya. Setelah kulihat ternyata ada dua pesan yang baru masuk. Kubaca kedua pesan itu yang ternyata dari Kazusa keduanya.

To: Nii-san
From: Kazusa

Sekolahku disini sedang libur panjang, Suzune-chan juga sama, jadi kami mempunyai waktu cukup lama utuk berlibur denganmu, Kak!^^

Oh iya, kau tahu tidak kalau aku mempunyai teman dekat yang bersekolah di sekolah Kakak? Sepertinya aku belum cerita ya? Kalau begitu saat sampai aku akan menceritakanya ya!^^

Selesai kubaca satu pesan darinya, kemudian aku membaca pesan selanjutnya.

To: Nii-san
From: Kazusa

Sebentar lagi aku akan pergi bersama Suzune^^ Kakak tidak perlu menjemputku di bandara, aku sudah tahu apartement tempatmu tinggal, jadi aku akan naik taksi saja^^ Tunggu kami ya Kak!

Selesai membaca pesan kedua itu, aku kembali tersenyum. Setiap kali aku membaca pesan darinya, entah mengapa hatiku serasa hangat dan tentram. Mungkinkah aku sangat bahagia karena kedatangan mereka? Ya mungkin, karena aku sangat menyayangi mereka, keluargaku.

.

.

Himeka sudah kuberitahu tentang kedatangan Kazusa dan Suzune malam ini, jadi ia akan menunggu disini sampai mereka datang dan menyambut mereka nanti. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, sekitar satu jam lagi Kazusa dan Suzune akan datang. Himeka sudah menyiapkan makanan ringan untuk menyambut mereka, seperti kue kering coklat, buah-buahan, dan minuman yang sudah kubeli tadi sore.

"Hey-hey Kazune-kun, aku sudah tidak sabar melihat Kazusa-chan dan Suzune-chan sekarang! Bagaimana ya penampilannya sekarang? Terakhir kali aku bertemu dengan mereka pada saat mereka pergi saja ke luar negeri, itu pun sudah 5 tahun yang lalu!" seru Himeka dengan bersemangat.

"Ya lihat saja nanti, toh kau akan melihatnya beberapa saat lagi," ujarku sembari memindahkan siaran TV dengan remote yang kupegang saat ini. Kami menunggu mereka di ruang keluarga, dimana TV ditempatkan.

Kebetulan sekali sesaat aku memindahkan ke siaran TV lain, siaran itu sedang membicarakan tentang artis-artis yang sedang naik daun saat ini. Dengan cepat Himeka menyuruhku untuk tidak memindahkan siaran TV itu.

"Ah! Acara ini yang sedang kutunggu! Jangan dipindahkan dulu ya Kazune-kun! Aku mohon~" pintanya dengan memelas. Aku hanya dapat menghela nafas lalu memberikan remote TV itu pada Himeka, memberikannya kebebasan untuk memindahkan siaran TV. Sebenarnya aku tidak keberatan, karena sedari tadi aku pun tidak menemukan acara TV yang menarik untukku.

Acara itu acara seperti gosip panas yang sedang diberitakan saat ini, dan artis yang kini sedang diperbincangkan adalah..

"Baiklah! Kita beralih pada artis muda Hanazono Karin yang kini entah mengapa tiba-tiba menghilang dari dunia entertainment! Partnernya yang tampan ini terlihat sering bersamanya di sekolah ternama, tetapi ia tidak pernah memberikan penjelasan apapun mengenai sang gadis yang tidak bisa dihubungi oleh infotainment lainnya!"

Terpampang jelas foto Karin dan Jin memakai seragam sekolahku di suatu tempat, mereka terlihat sedang berlari dari kejaran reporter-reporter. Aku teringat kembali dengan berita itu, sejak pertama aku mendengar berita di majalah yang Himeka dan Miyon berikan padaku saat itu, aku menjadi tertarik ingin mengetahui alasannya Karin berhenti.

"Kazune-kun, kau kan dekat dengan Karin-chan, apa ia pernah memberitahumu alasan ia berhenti muncul di TV? Mungkin ia pernah bercerita padamu atau apa gitu?" tanya Himeka dengan nada penasaran. Aku hanya diam mendengar pertanyaan itu. Kupikir selama aku mengenalnya (baru sebentar) aku tidak pernah mendengar pembicaraan itu sama sekali dari Karin.

"Tidak tahu, lagi pula mereka tidak pernah membicarakan soal itu padaku," jawabku tidak peduli. Himeka menanggapi jawabanku dengan mengerucutkan bibirnya sedikit kesal. Mungkin ia kira aku berbohong begitu?

"Jangan ber—"

Baru saja Himeka berbicara kembali, terdengar bel apartemenku berbunyi beberapa kali.

Ting Tong! Ting Tong!

Suara bel tersebut membuatku sedikit terperanjat dan dengan reflek aku menatap Himeka yang kini juga menatapku terkejut. Sepertinya pikiran kami sekarang sama, buktinya kami dengan segera melesat ke arah pintu apartemenku ini.

Tanpa melihat dahulu siapa yang datang, aku membuka pintu dengan cepat.

Brak!

"Kakak~!" seruan itu mendengung di telingaku begitu kencang. Tidak salah lagi, yang biasa membuatku telingaku mekar hanyalah mereka, adik-adik yang tidak tahu diri. Himeka menyapa mereka dan tanpa ragu-ragu ia langsung menggendong Suzune yang menurutnya sangat menggemaskan itu.

"Kyaa! Lucu sekali Suzune-chan!" sembari melompat-lompat kecil dan berputar-putar Himeka memangku Suzune. Aku pun ikut tertawa karena tingkahnya.

"Himeka, kau bisa membuatnya pusing bila kau berputar terus menerus seperti itu," ujarku sedikit prihatin dengan Suzune yang wajahnya sudah pucat karena pusing. Himeka pun segera berhenti dan meminta maaf pada Suzune. Sedangkan Kazusa sibuk sendiri melihat Suzune yang terkapar seperti itu.

Setelah kupikir-pikir, Kazusa bersama Suzune terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya. Kini mereka sudah bertambah tinggi, dan mereka terlihat lebih berwawasan, meskipun Suzune masih kecil. Aku hanya tertawa kecil dan menyapa mereka yang baru saja tiba.

"Baiklah baiklah, ayo masuk. Kami sudah menyiapkan makanan ringan untuk kalian berdua," ujarku sembari membantu Kazusa membawa koper-kopernya, Kazusa tersenyum geli, lantas dengan cepat mereka masuk ke dalam apartementku seperti anak kecil, memutari seluk beluk apartementku, dan terakhir mereka sampai di ruang tengah, dimana makanan ringan sudah menunggu mereka.

.

.

.


{Skip Time}

[Kazune POV]

Sorot matahari pagi membangunkanku dan samar-samar kuperjelas pandanganku melihat sekitar. Pandanganku terpaku pada sosok seorang gadis dengan mata biru safir yang mulai jelas di hadapanku.

"..."

"Astaga, kakakku yang malasss, harus berapa kali aku membangunkanmu?! Kau sudah telat untuk pergi ke SEKOLAH!"

Ugh, suaranya menggema di kamarku. Aku terdiam sejenak mencerna kata-katanya yang masih belum jelas. Barulah setelah beberapa detik aku dapat mencernanya dengan baik.

"...? Gah! Jam berapa sekarang?! Kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?!" aku terperanjat sesaat melihat dan mengetahui bahwa beberapa menit lagi jam masuk sekolah.

Dengan panik aku segera bersiap-siap untuk pergi sembari menghiraukan Kazusa yang mengomel padaku dengan kesal. Lantas setelah berpakaian dan mengemasi buku-buku, aku segera memburu menuju pintu keluar dengan pakaian yang masih belum rapi. Kazusa dan Suzune yang melihatku seperti hanya hanya bisa sweatdropp, dan satu hal lagi...

"KAKAK! Kau mau pergi ke sekolah atau mabal sih?! Pakaianmu seperti anak berandal begitu! Oh god, ditinggal beberapa tahun membuatmu seperti ini?!" dengan nada yang sedikit mendramatisir Kazusa mengomel kembali. Kazusa yang kukenal memang sangat disiplin segera menghampiriku dan merapikan pakaianku dengan cepat dan hasilnya.. wow rapi sekali.

"A-aku tidak biasa seperti ini, aku tidak pernah terlambat! Dan aku bukan anak berandal!" tegasku membela diri. Tetapi Kazusa malah menatapku dengan sinis dan itu membuatku bergidik ngeri.

Sementara itu, tarikan kecil terasa pada tas yang kupegang. Saat kulirik ke kiri bawah, aku mendapatkan Suzune yang menatapku dengan wajah polosnya. Ia memberiku sebungkus roti isi coklat yang paling ia sukai.

"Kakak belum sarapan, bukan? Ambil saja punyaku," senyuman manis terpampang di wajahnya. Aku sedikit terkejut melihatnya begitu perhatian padaku, sudah lagi roti itu roti kesukaanya yang kemarin kubelikan utuknya.

Aku berniat untuk menolaknya, tetapi Suzune memotong kata-kataku kembali.

"Ambil saja, aku masih punya banyak, hehe," ujarnya tertawa kecil dan aku pun hanya bisa tersenyum merespon kata-katanya itu.

"Kalau begitu aku pergi!" seruku sembari berlari keluar dan melambaikan tanganku pada mereka. Mereka membalasnya dengan senyuman pada wajah mereka, dan aku pun menjadi semangat untuk pergi sekolah hari ini.

.

.

[Normal POV]

Gerbang sekolah sudah hampir tertutup karena bel sekolah pun sudah hampir berbunyi. Tertinggal seorang gadis dan seorang pemuda yang tengah berlari menuju gerbang dengan tergesa-gesa. Tidak lain lagi, pemuda itu adalah Kujyo Kazune yang terlambat bangun, dan kebetulan sekali gadis yang berada tidak jauh di belakangnya itu adalah Karin Hanazono.

Sebenarnya Kazune sudah mengetahui yang di dibelakangnya adalah Karin, tetapi karena yang ia pikirkan sekarang hanyalah menuju gerbang sekolah, dia menghiraukan Karin yang berusaha menggapainya.

"Kujyo-kun!" panggilannya namanya terdengar sedikit menjauh. Sejenak Kazune melirik ke belakangnya dan melihat Karin yang bersusah payah berlari mengejarnya. Namun Kazune malah mempercepat larinya karena sebenarnya ia ingin menghindar dari gadis tersebut dan segera masuk kelas tanpa harus berbicara dahulu dengannya.

Tetapi.. nyatanya takdir berkata lain.

Sesaat Kazune tinggal sedikit lagi mencapai gerbang sekolah, ia mendengar jeritan Karin disusul suara benturan yang cukup keras.

"Kya!" Brugh!

Dengan reflek ia berhenti begitu mendengar benturan di belakangnya. Ia pikir Karin terjatuh di belakangnya dan ia pun segera membalikkan tubuhya melihat apa yang terjadi. Awalnya ia berniat akan menghampiri Karin yang terjatuh itu, namu setelah melihat kejadian aslinya...

"Hehehe, Kujyo-kun ternyata perhatian sekali ya pada perempuan? Beruntung sekali aku~"

Kazune melihat Karin yang dengan santainya berdiri sembari mengetuk-ngetukan ujung kakinya ke jalanan seperti anak kecil dan ia TIDAK terjatuh sama sekali. Kazune kemudian melihat pada tas Karin yang berada di jalan tidak jauh dari tempat Kazune berada, yang ternyata tas itulah yang menghasilkan suara benturan tadi.

Tatapannya sudah sangat-sangat tajam bagai silet dan kini terarahkan pada Karin yang meresponnya hanya dengan senyum jahil.

"Kau... Hanazono... KARIN! Agh! Kau memang—!"

.

Teng Tong! Teng Tong! Teng Tong!

.

Kata-katanya terputus oleh nyaring bel sekolah yang menandakan sekolah sudah dimulai. Mereka berdua terperanjat dan segera melihat ke arah gerbang sekolah yang sedari tadi diidam-idamkan oleh mereka.

"G-gerbangnya..." ucap mereka berdua bersamaan.

Seorang penjaga sekolah kini sudah berdiri di depan gerbang yang tertutup rapat serapat-rapatnya. Ia menggelengkan kepalana beberapa kali dan sepertinya yang ia pikirkan sekarang, 'Kapan sekolah ini tidak ada murid yang terlambat masuk sekolah?'

Kembali pada Kazune dan Karin yang masih terdiam, Kazune berbalik kembali menatap Karin dengan tatapan semakin sinis. Sedangkan Karin Sedikit terkejut saat Kazune tiba-tiba saja membalikkan tubuhnya.

"Gara-gara kau aku jadi terlambat kan!" pekiknya sembari mengacak-ngacak rambut blondenya itu. Karin hanya dapat menertawakan tingkah laku Kazune yang ternyata dapat seperti anak kecil juga, kemudian ia mengambil tasnya yang tadi sengaja ia jatuhkan.

"Aku tidak bermaksud membuatmu terlambat loh, aku hanya ingin mengetesmu saja~" jelasnya dengan alasan yang tidak logis. Mendengar penjelasannya itu, Kazune hanya dapat mendengus kesal dan pergi meninggalkan Karin di belakangnya.

"Hey tunggu aku!" seruan Karin memanggilnya pun ia hiraukan dan terus berjalan ke arah gerbang.

.

.

Untung saja mereka diperbolehkan masuk, itu pun karena pertolongan Karin membujuk penjaga sekolah yang tidak memperbolehkan mereka masuk. Sekarang Kazune dan Karin sudah berada di depan kelasnya. Dengan ragu Kazune mengetuk pelan pintu kelasnya, lantas tidak lama mereka menunggu akhirnya keluarlah seorang guru bahasa yang sedang menghampiri mereka.

"Kujyo-kun? Hanazono-san? Tidak biasanya kalian terlambat?" tanya guru bahasa itu pada mereka.

"Maafkan kami," hanya jawaban itulah yang dapat Kazune ucapkan, karena bila menjelaskan pun percuma, ia tidak akan didengarkan.

"Maafkan kami, guru," disusul Karin yang meminta maaf dari samping Kazune. Tetapi guru itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berwajah kecewa.

"Meskipun ini pertama kali untuk kalian terlambat, tetapi kalian harus menuruti aturan di sekolah ini. Sudah lagi kalian terlambat setengah pelajaran. Kalian harus berdiri di koridor selama satu pelajaran, barulah pada pelajaran selanjutnya kalian boleh masuk kelas, mengerti?" tanya guru muda itu memastikan. Kazune dan Karin semakin menunduk menyesal kemudian mengangguk tanda mengerti.

"Baiklah kalau begitu," ia kembali ke dalam kelas dan meninggal mereka di koridor.

Akhirnya dengan perjuangan berlari sekuat mereka tidak mendapat kesempatan. Alhasil, mereka harus berdiri di koridor dengan waktu yang cukup lama.

Mereka berdiri dalam diam, tidak ada yang berbicara sama sekali, dan keheningan pun menyapa mereka. Baru beberapa menit berlalu, sepertinya Karin sudah teruji dengan keheningan tersebut, ia mulai memainkannya kakinya, dan menghentakkan ke lantai, membuat perhatian Kazune yang berada di sampingnya.

'Ini semua karena dia! Kalau saja tadi aku tidak berhenti, mungkin aku tidak akan berdiri di koridor sekarang,' batin Kazune berbicara sembali melirik Karin dari ujung matanya.

Sesaat ia membatin, Karin tiba-tiba saja memecah keheningan dengan batuk-batuk pelan mencuri perhatian Kazune kembali.

"uhuk uhuk, ehm. Kujyo-kun," panggil Karin pelan. Kazune yang masih kesal dengan Karin terpaksa menatapnya dengan tatapan apa-maumu?. Tetapi dengan sedikit sinis. Karin terkekeh melihat ekspresi wajah Kazune sekarang, mungkin karena ia tidak biasa melihatnya seperti itu.

"Hihi. Aku hanya ingin bertanya, tenang saja. Kenapa hari ini kau terlambat, Kujyo-kun? Tidak biasanya untuk orang sepertimu," tanya Karin memulai pembicaraan. Sebelum Kazune menjawab, ia terdiam, lantas melirik Karin yang juga menatapnya dengan penasaran.

"Aku punya alasan. Kau sendiri terlambat, kau pasti punya alasan juga, bukan?" jawabnya dingin, lalu memalingkan wajahnya ke depan agar tidak melihat wajah Karin yang menurutnya selalu membuat ia kesal.

Tidak lama setelah Kazune menjawab, Karin pun menjawabnya balik. "Yap, aku punya alasan. Baaaaaanyak alasan, hehe," jawabnya dengan bersemangat. Kazune yang mendengar jawabannya itu pun terheran-heran, dalam pikir ia berbicara,

'Kenapa ia begitu senang dengan alasan ia terlambat? Aneh..'

Lantas pembicaraan pun ditutup oleh jawaban Karin tadi.

.

.


[Kazune POV]

Ini akan menjadi hari yang panjang, kata-kata itu terus mengiang di kepalaku seraya berdiri di koridor. Detik demi detik terasa lama sekali bagiku. Sudah lagi seseorang di sampingku ini sedari tadi tidak mau diam, maksudku ia selalu bergerak setiap menitnya, tetapi ia tidak bersuara. Contohnya seperti yang sekarang ia lakukan itu, ia sedang bersandar pada dinding dan melihat-lihat ke arah kelas sebelah, seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.

Lantas tidak lama dari itu, ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari memainkan tangan dan jarinya. Kurasakan ia menatapku dalam diam, aku yang diperhatikannya pun tidak bisa mengelak dari pandangan itu, dan membalas tatapannya dengan sedikit sinis. Sesaat melihat raut wajahnya, aku mengurungkan niatku untuk mencibirnya, karena ia terlihat gelisah tentang sesuatu. Ia pun terdengar ragu-ragu saat akan berbicara padaku.

"K-Kujyo-kun, boleh tidak kalau aku.. duduk?" tanya Karin dengan polosnya.

Mendengar pertanyaan yang kupikir sedikit bodoh, aku menatapnya aneh.

"Kau tahu kan arti dari hukuman 'berdiri di koridor'? Berarti kau tidak boleh duduk," jawabku menegaskan pada kata 'tidak boleh'.

Setelah kujawab ia terlihat kecewa dan semakin menundukkan kepalanya. Sekilas aku melihat sorot mata kosong pada dirinya. Tapi kubiarkan dia sendiri dengan pikirannya, karena sejak aku menjawab, ia langsung termenung. Aku pun yang tak tahu mengapa menjadi merasa bersalah padanya.

Beberapa menit sudah berlalu dengan tenang, namun baru saja kukira Karin akan diam, nyatanya ia malah menjadi-jadi. Ia berjalan bolak-balik seperti orang kebingungan dan itu sangat mengusikku. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, tak tahu untuk apa. Sampai akhirnya ia kembali pada sampingku bersandar dan akhirnya ia diam.

Karena penasaran dengan tingkah lakunya, aku mencuri-curi pandang pada Karin yang berada di sebelahku itu. Dan yang membuatku terkejut lagi aku mendapatkan wajahnya yang pucat pasi. Keringat bercucuran dari pelipisnya mengalir pada lekukan wajahnya lainnya. Tidak hanya itu, aku mendengar Karin terkadang menahan batuknya beberapa kali. Terdengar jelas bila nafasnya berat di sampingku.

Saat itu juga tiba-tiba ia terduduk di lantai seperti menjatuhkan dirinya.

Blugh!

"H-Hey sudah kubilang kau tidak—"

"Hanya sebentar saja, aku mohon..." pintanya sembari menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya.

Aku hanya bisa diam setelah melihat keadaannya. Seakan bagian diriku lainnya merasa khawatir pada Karin. Atau memang aku khawatir? Ah peduli..

Tidak mencapai satu menit, Karin kembali berdiri sembari mendongakkan kepalanya menyentuh dinding, perlahan ia menutup matanya. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi ia terlihat lebih baik setelah duduk di bawah tadi. Lantas ia kembali bertanya padaku.

"Kujyo-kun, mengapa kau menjadi fotografer?" tanyanya tiba-tiba. Sebelum menjawab aku berpikir dahulu, selama ini aku menjadi fotografer karena memang kemauanku.

"Alasannya? Hm, itu karena aku menyukai fotografi," jawabku singkat, karena memang tidak ada alasan lain yang muncul di otakku saat ini. Bila kujawab mengarang pun pasti ia akan mengetahuinya, karena Karin adalah artis dan ia pun masuk dalam satu kesatuan dengan dunia fotografi.

"Hanya itu? Haha, kau itu unik ya," ujarnya masih sembari menutup matanya.

"Hey hey, itu pujian atau ejekan?" tanyaku sedikit kesal.

Namun ia malah terkekeh meresponku. Aku kembali mendengus kesal dan memalingkan wajahku ke arah lain. Setelah itu pun keheningan melanda kembali. Orang-orang terkadang melewati kami sembari menatap kami dengan tatapan yang aneh. Aku baru tahu beginilah rasanya menjadi orang yang dihukum. Karena baru sekali ini aku dihukum sampai harus berdiri di koridor.

Sudah cukup lama kami berdiam diri seperti ini, ada juga saat-saat Karin kembali duduk di lantai, tapi kubiarkan saja dia. Bila di hitung-hitung, hampir setengah jam kami tidak bicara kembali, dan kurasa sebentar lagi jam pelajaran akan selesai.

"Ah!" tiba-tiba saja suara melengking itu membuatku terkejut. Asal suaranya tentu saja dari sampingku ini.

Khawatir ada sesuatu yang terjadi, aku segera melihat pada Karin dan mendapatkan wajahnya yang kini.. berseri-seri? Seakan aku bisa melihat lampu yang menyala di atas kepalanya. Kupikir ia kenapa, membuatku khawatir saja -_-

"Kau itu jangan mengagetkanku terus!" pekikku sedikit keras padanya. Hari ini sudah berapa kali aku dibuat kesal olehnya? Lebih dari dua kali?

"Ohohoho, Kujyo-kun, kau boleh memanggilku Karin loh, jangan sungkan-sungkan~!"

"Apa?! TIDAK terimakasih. Simpan saja panggilanmu itu untuk yang lain," balasku dingin.

Karin pun mengerucutukan bibirnya sebal dengan jawabanku. Tetapi wajahnya itu kembali ceria ketika ia berbicara kembali.

"Yasudahlah, aku hanya menawarkan. Ah iya, apa kau ada acara pulang sekolah nanti?" tanyanya sembari menatapku tepat di mataku dan itu membuatku sedikit risih, karena ia mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan wajahku.

"T-Tidak ada. Ada apa memang?" tanyaku kembali sembari mendorongnya menjauh dari hadapanku.

Ia langsung meloncat gembira sembari mengatakan Yes!

"Kalau begitu jam 1 temui aku di rumahku! Pulang sekolah ganti pakaianmu dengan pakaian santai, kita akan pergi ke suatu tempat! Ah dan satu lagi! Jangan lupa bawa kameramu~" serunya sembari mulai berjalan ke arah pintu kelas. Aku kembali memikirkan dua hal yang aneh sekarang. Pertama, 'Kenapa aku harus ikut dengannya?' Dan yang kedua, 'Kenapa ia berjalan ke arah kelas sedangkan ia sedang di hukum?!'

Teng Tong Teng Tong!

Bel berbunyi dua kali berarti tanda pelajaran berganti dan saat itulah aku termenung. Aku termenung karena pada saat yang pas Karin berjalan menuju pintu kelas, pada saat itu juga bel berbunyi.. seakan ia tahu sesuatu?! O_o Tidak mungkin...

.

.

.


{Skip Time}

Sepulang sekolah, tepat sebelum aku keluar pintu gerbang sekolah, Karin mengingatkanku kembali tentang janjinya pergi ke suatu tempat. Sebenarnya aku menanggapinya dengan malas, tetapi kalau aku tidak pergi... kameraku bagaimana? Aku tidak ingin kameraku diambil lagi T^T. Agh! Aku merasa dibodohi olehnya waktu itu! Coba saja kalau aku menolak, mungkin aku tidak akan mengikuti perintahnya dan semaunya.

Aku pun segera berjalan pulang tanpa Himeka lagi kali ini, ia bilang ada janji dengan teman-temannya akan pergi ke taman bermain. Sebenarnya tidak masalah bagiku, asalkan ia tidak sendiri saja. Ah ternyata lamunanku sudah cukup lama membawaku menuju apartemenku, karena sekarang aku sudah berada di depan pintu apartemenku sendiri

Dengan segera aku masuk dan menyapa orang-orang di dalam, tetapi yang kudapatkan hanya secarik kertas dan tulisan tangan yang kukenal. Aku mengambilnya dan membaca isi surat itu.

Maaf aku tidak bilang kalau aku dan Suzune pergi ke rumah temanku, Kak! Mungkin kami akan pulang agak sore^^ Dan aku juga belum menyiapkan makan siang untukmu, maafkan aku ya Kak, mungkin kau bisa makan di luar?^^

Salam Kazusa~

Selesai membacanya aku pun menghela nafas panjang. Aku baru tahu kalau adikku itu senang pergi-pergi -_- Berbeda sekali denganku sepertinya...

Lantas aku menghiraukan surat tadi dan meletakkannya di meja dekat TV. Dengan begitu barulah aku mengganti pakaianku dan bersiap untuk pergi ke rumah Karin, menepati janjiku tadi. Bila kupikir, karena ia bilang akan pergi ke suatu tempat, berarti aku pakaian santai saja.

Aku mengambil pakaian santaiku yang biasa kupakai untuk pergi bersama teman. Setelan yang kuambil itu adalah T-shirt putih, dengan kemeja lengan panjang, bercorak kotak-kotak, berwarna hitam dominan bergaris putih, dan tidak kukancingkan. Di padukan dengan celana jins hitam panjang, sabuk hitam dengan garis silver. Tidak lupa aku menggulung kemejaku sampai batas sikutku dan memakai jam tanganku.

Selesai berpakaian, kemudian aku melihat jam dan ternyata sebentar lagi aku harus berangkat menuju rumah Karin.

"Ah iya, kameraku hampir tidak terbawa.. Baiklah, saatnya memulai siang yang lelah.."

.

.

Aku berdiri di depan pintu rumahnya dan seperti biasa kutekan bel yang berada di dekat pintunya beberapa kali.

Ting tong! Ting tong!

Setelah itu aku menunggu seseorang membukakan pintu untukku, tetapi.. seseorang itu tak kunjung datang. Kucoba menekannya sekali lagi dan masih juga aku harus menunggu lama. Sampai akhirnya untuk yang ketiga kalinya, barulah gagang pintu itu bergerak dan pintu terbuka dengan cepat.

"Maaf menunggu lama!" ujar seorang gadis sembari membungkukkan badannya.

Bukan, gadis itu bukanlah Karin. Ia mempunyai rambut blonde panjang dan... kenapa sepertinya aku mengenalnya ya?

Lantas ia kembali tegak dan melemparkan senyumannya padaku. Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, dan sekali lagi aku merasa terkejut. O_O

.

"Maafkan sekali lagi! Tadi ada sedikit masalah

dan...— eh?!.. EH?! EHH?!

K-KAU!.. Ni ..

NII-SAN?!"

.

.

.

.

.

~To be continue~

~Review?~


a/n: Terimakasih yang sudah selesai membaca^^ mungkin ada saran? Misstypo? Pertanyaankah? Yaa semua diterimaa^^