a/n: Chapter baru terliris lagi~ Tumben sekali ya cepat di updatenyaa?^^ Author lagi senang dengan fic ini jadi ingin cepat-cepat update saja hehe. Terimakasih yang sudah mereview! Membaca! Fav dan follownya terimakasih^^. Semoga chapter berikut disukai para readers yaa~ Maaf bila ada misstypo~
Balas review:
Guest: terimakasih sudah review^^ benarkah? Aku terharu T^T semoga chapter ini pun menarik yaa^^ Kalau tiga hari sepertinya tidak bisaa T^T maafkan saya yaa m(_ _)m
Dci: sudah update! terimakasih sudah review^^
Kazuka Kujyo Tsania-Chan: terimakasih sudah review^^ di update sekilat mungkin tapi bukan kilat asli hehe^^ semoga menyukai chapter berikut~
Jamilah: wah terimakasih sudah menuggu fic ini update^^ maaf ya lama, tapi sekarang mungkin agak cepat di updatenya daripada sebelumnyaa^^ jawabannya ada di chapter ini yaa^^ (sebagian tapi :D) terimakasih sudah review!
Guest: hayoo kenapa ya Karinnya? Ditebak boleh tuh^^ hehe, terimakasih sudah review ya~
Yuu: terimakasih sudah review^^ wah benarkah? Baguslah kalau begitu ya jadi mudah ditebak hehe^^
Sekarang tinggal dibaca saja ya~^^~
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Ma Dernière volonté*~
"Kazusa/Kakak?! Sedang apa kau disini?!"
.
.
.
Aku sangat-sangat terkejut pada saat melihatnya. Ia pun sama denganku yang tidak percaya aku akan bertemu dengannya di rumah KARIN. Kenapa bisa ia di rumah ini?! Sejak kapan ia berteman dengan Karin?! Lalu mengapa ia tidak berbicara apa-apa padaku?!
Pertanyaan itu sudah terpampang pada wajahku, karena Kazusa seperti semakin ciut saat kutatap tajam. Ia hanya bisa mengeluarkan huruf vokal seperti "Ah... eh... Itu..." dan lain lain. Lalu mengapa bukan pemilik rumah yang membukakan pintunya? Ini aneh sekali!
"Jadi kau pergi ke rumah temanmu itu maksudnya rumah ini?! Dimana Suzune?! Kenapa kau tidak pernah memberitahuku tentang ini?! Sudah berapa lama kau berteman dengan artis seperti dia?! Bagaimana kau bisa kenal dengannya?! Lalu—!"
"Kyaa!" jeritan seseorang terdengar dari dalam rumah ini dan memutus pertanyaanku yang masih panjang lagi. Aku tahu jeritan itu, karena jeritan itu adalah jeritan yang sama dengan yang membuatku terlambat pagi ini (u_u). Jeritan Karin Hanazono.
Kazusa tiba-tiba saja terhenyak dan segera berlari ke dalam mencari asal suara tersebut. Aku mengikutinya ke dalam rumah dan kami berhenti di depan pintu kamar bertulisan "Karin Hanazono". Kazusa terdiam sejenak saat ia memegang gagang pintu kamar Karin, lalu menatapku seperti ragu.
"E-eh, Kakak tunggu saja disini ya! Ah iya, Suzune sedang tidur siang di kamar tamu!" seru Kazusa sembari masuk dan menutup pintu itu tepat di wajahku dengan keras. Aku hanya diam tidak mengerti apa maksudnya, lantas menuruti perkataannya itu menunggu di depan kamar Karin. Saat ini pikiranku masih penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Kazusa dan Karin.. mengapa mereka bisa berteman?!
BRAK! BLUGH!
Suara bantingan pintu mengejutkanku lagi dan ternyata yang keluar dari kamar itu adalah Karin sendiri. Ia sudah berpakaian untuk pergi dan ia seperti.. tergesa-gesa? Ada apa?
Klik!
Suara khas mengunci pintu terdengar dan aku melihat Karin mengunci kamarnya yang di dalamnya masih ada Kazusa. Aku semakin bingung apa yang terjadi saat ini. Sebelumnya Kazusa mengapa ada disini, lalu Karin menjerit seperti ada sesuatu, lalu Kazusa dikunci dikamarnya oleh Karin sendiri!
"A-Apa yang kau lakukan?! Kazusa masih ada di dalam!" pekikku memarahi Karin yang kini sibuk mencari sesuatu di dalam tas kecilnya.
"Shhss jangan berteriak di rumah orang! Nanti Suzune-kun terbangun! Ayo! Ikut saja denganku!" seru Karin sembari memperlihatkan dua lembar kertas kecil yang ia ambil dari tasnya. Bila dilihat-lihat, itu seperti tiket masuk.
"Tapi bagaimana dengan Kazusa?! Aku juga belum mendapat jawaban darinya!" bantahku. Namun ia tidak mendengarkanku dan segera menarik tas SLR yang terikat denganku keluar rumah. Sedangkan aku pun mendengar Kazusa yang meneriaki nama Karin dari dalam kamar tadi. Ia menyuruh Karin untuk membukakan pintunya, tetapi Karin sendiri menghiraukannya dan tetap menarikku ke luar rumah.
"Lebih baik sekarang kita pergi dulu, bila sudah sampai aku akan menjelaskan semuanya padamu! Kalau tentang Kazusa-chan tenang saja, paling-paling ia menelfon seseorang untuk membukakan pintu kamar. Lagi pula aku tidak mencabut kuncinya," jelasnya dengan santai dan akhirnya setelah keluar rumah ia melepasku untuk berjalan sendiri.
Aku menatapnya kesal dan diam saja mengikutinya dari belakang, entah akan kemana ia pergi. Tapi karena ia menunjukkan tiket masuk, aku rasa yang harus memakai tiket masuk seperti itu hanyalah... taman bermain?
.
Kulihat gerak-gerik Karin yang sangat bersemangat siang ini, padahal tadi pagi saat di hukum dia terlihat sangat lesu. Sebenarnya ada apa dengannya itu? Aneh..
Perjalanan menuju taman bermain, bila benar tujuannya adalah taman bermain, memang cukup dekat dari rumah Karin, karena jalan kaki pun hanya butuh waktu yang tidak lama. Jalan yang di tempuh pun tidak rumit, hanya tinggal berjalan lurus, setelah itu belok kanan, lalu lurus, belok kiri, dan sampai.
"Hey hey, biarkan aku yang membawa tas SLRnya! Tidak enak melihatmu membawa tas seperti itu pada saat kita di taman bermain!" serunya sembari tebar senyuman. Aku hanya mengangguk malas dan memberikan tas SLR itu pada Karin. Dan benar kan? Ia bilang akan pergi ke taman bermain.
"Jadi benar ke taman bermain? Aku kira kau tidak suka taman bermain, karena seorang artis sepertimu akan mudah dikenal dengan tampilan seperti itu. Apalagi di taman bermain yang penuh dengan orang-orang," ujarku dengan meledek sembari memasukkan tanganku ke saku celanaku. Karin pun berbalik padaku dan menatapku geremat, ia menggembungkan pipinya sampai terlihat semburat rona merah di pipinya itu. Haha luc— Bukan! Maksudku aku senang bila ia marah! Ia tidak lucu! Tidak sama sekali!
Lupakan bagian itu. Sekarang, biar kujelaskan pakaiannya sekarang. Memang pakaiannya biasa saja, santai mengikuti mode jaman sekarang. Ia memakai T-shirt putih ditutup dengan cardigan jins hitam yang pada bagian tangannya hanya menutupi bahu tegak miliknya, berhias kancing silver, memakai rok polkadot putih dan dasar hitam sampai batas melebihi lututnya beberapa cm. Sepatu boots putihnya mencapai mata kaki membuatnya tampak lebih ke pakaian bermain.
Tapi saat kupikir-pikir... mengapa pakaian kami serasi ya?
"Uhh! Biar saja! Toh, aku kan bersamamu dan bila ada fans-fans yang mengincarku, kau yang akan menolongku! Hehehe! Oh iya, sepertinya kita satu hati deh Kujyo-kun, pakaian kita saja serasi! Ckckck, aku terharuu~" serunya dengan tatapan aku-menang.
"Hey! Aku bukan bodyguardmu! Jadi jangan libatkan aku dengan fans-fansmu itu! Dan aku tidak satu hati denganmu! Ini hanya kebetulan saja!" pekikku membantah. Karin sendiri kembali berjalan di depanku tanpa menjawabku, ia hanya melompat-lompat kecil dengan ceria.
.
.
Tidak lama kami berjalan, akhirnya kami sampai di taman bermain yang dituju. Hari ini taman bermain terlihat lebih ramai dari biasanya, sepertinya ada acara yang akan diadakan hari ini. Aku melirik ke sebelahku dan mendapatkan Karin yang sejak pertama kami melihat taman bermain, matanya langsung berbinar-binar menatap tugu 'selamat datang' itu. Layaknya anak kecil baru melihat taman bermain.
"Uwaah! Meriah sekali! Kujyo-kun ayo! Aku sudah tidak sabar mencoba berbagai permainan!" serunya sembari menarikku ke dalam taman bermain.
Pertama masuk, kami dapat melihat berbagai permainan sebagaimana Karin sebutkan tadi, dan yang paling dekat dengan kami sekarang adalah permainan bianglala. Permainan dimana kursi yang digantungkan ke permainan tersebut di putar-putar, kurang lebih seperti itulah permainannya.
Karin sepertinya langsung tertarik dengan permainan itu dan seperti biasa, ia segera berlari ke arah permainan itu diikuti denganku di belakangnya.
"Ayo! Ayo!" dengan bersemangat ia menarikku sampai duduk di permainan itu bersebelahan dengannya. Lalu sebelum kursi ini dinaikkan, sempat-sempatnya Karin mengambil foto dengan kameraku. Sudah lagi aku terbawa dalam foto itu. -_-
"Hehe, kenang-kenangan~" ujarnya sembari terkekeh. Aku menanggapinya malas dan mengalihkan pandanganku ke arah lain. Saat itu juga permainan dimulai.
Putaran-putaran semakin cepat dan melayang semakin tinggi. Karin berseru bahagia saat angin menerpanya. Saat selesai, kami pun diturunkan dan segera keluar dari permainan ini. Baru saja keluar Karin sudah menunjuk permainan lain, permainan itu tidak jauh juga dari tempat kami sekarang, dan terlihat agak ekstrim sepertinya.
"Kujyo-kun, berani tidak naik itu denganku? Aku ingin mencobanya tetapi tidak ingin sendiri~ Jadi.. temani aku ya~?" pinta Karin dengan memelas, mengepalkan kedua tangannya di depan wajahnya sembari berakting sedih.
Aku pikir-pikir sepertinya seru juga, karena permainan itu adalah rollercoaster yang selalu menantangku sejak kecil. "Baiklah. Jangan sampai kau saja yang berteriak ketakutan, heh," cibirku sembari menuju rollercoaster itu tanpa ragu. Karin terdengar mendengus kesal di belakangku dan segera mendahuluiku ke tempat permainannya.
Ternyata sampai di sana antriannya sangat panjang untuk menaiki rollercoaster, aku tidak suka bila harus menunggu antrian sepanjang itu. Bagaimana tidak? Antrian itu bisa sampai satu kilometer panjangnya. Sudah lagi sejak tadi kerumunan antrian itu saling berebut ingin melihat Karin, meminta tanda tangannya, dan foto bersamanya. Sedangkan aku disini, diam diacuhkan lagi olehnya..
"Oi oi, jangan melamun saja! Giliran kita naik!" suara Karin menyadarkanku dari lamunanku yang bosan itu. Ia sendiri sudah berdiri di stasiun rollercoasternya dan menempati kursi yang kosong. Dengan segera aku duduk di sampingnya dan memasang pengaman yang sudah tersedia. Namun sebelum rollercoaster ini melaju, Karin beranjak dari sampingku dan memanggil seseorang dari antrian, gadis yang tidak kukenal. Sebelum aku memanggilnya, orang itu pun menggantikan Karin duduk di sampingku.
"Baik baik ya Kujyo-kun dengan temanku yang satu ini~!" seru Karin seraya tersenyum pada gadis itu. Yang kulakukan sekarang hanya... melongo melihat gadis di sampingku. Karin sudah licik dengan mengajakku menaikki rollercoaster ini! Sudah lagi ia tidak naik sama sekali!
"Kau—!"
Grek!
Yap, rollercoasternya mulai melaju.
"Hati-hati~" seruan Karin terdengar seiring rollercoaster ini melaju.
'Awas saja kau nanti saat selesai!'
Semakin lama semakin melaju cepat dan semakin naik. Aku melirik gadis yang tidak kuketahui namanya itu dan ia terlihat sedikit ketakutan. Oh tidak, aku merasakan perasaan buruk. Bukan karena rollercoaster ini, tapi.. gadis di sebelahku ini sedari tadi menatapku dengan penuh harap, seperti mengatakan aku-takut.
"M-Maaf, tapi ini pertama kalinya aku menaiki rollercoaster i-iniiiiiiiiiiiii!"
Gadis itu menjerit seakan tepat di telingaku. Tikungan-tikungan tajam maupun sedang, tanjakkan, putaran, sudah terlewati semua oleh rollercoaster yang kunaiki ini, sampai akhirnya kembali ke stasiun awal rollercoaster ini. Sesaat selesai Karin terkekeh begitu aku turun dan aku membalasnya dengan tatapan kesal.
"Bagaimana? Menakjubkan bukan?!"
"Kau... LICIK," ujarku menekankan kata 'licik' pada kalimatku. Karin hanya senyam-senyum tidak jelas lalu keluar dari permainan ini. Ia menggenggam kameraku dan terdiam di depan permainan ini.
"Hehehe, aku lupa mengambil foto tadi! Kalau begitu di sini sepertinya bagus!" saat aku akan menjawabnya, Karin menarikku dan...
Flash!
Karin mengambil foto kami berdua di depan rollercoaster itu dan yang membuatku malu adalah.. banyak pengunjung yang memperhatikan kami. Bagaimana tidak? Ada seorang artis di sampingku ini!
"Bagus! Sekarang lanjut dengan permainan yang santai-santai saja ya~" ujarnya sembari melihat-lihat foto yang sudah diambil dengan santai, tanpa mempedulikan orang-orang sekitar yang sedari tadi memperhatikan kami.
"Bisakah dia tidak mencuri perhatian orang sekali saja? Hahh.." bisikku pelan. Namun sepertinya Karin menengarku dan segera membalikkan tubuhnya.
"Kau bicara sesuatu?" tanyanya dengan polos. Aku menghela nafas bersyukur dia tidak mendengarku dengan jelas, lalu aku menggelengkan kepala agar ia kembali berjalan ke depan. "Hm, baiklah."
.
Permainan demi permainan hampir dijelajahi semua oleh kami –ralat- Karin. Aku hanya menemaninya saja, tetapi ia yang menaiki permainan itu, dan terkadang ia menyuruhku untuk mengambil foto dirinya yang sedang naik permainan. Serasa menjadi ehembabuehem aku ini.
Sudah cukup lama dan akhirnya Karin turun dari permainan yang kupikir adalah permainan terakhir yang ia naiki. Karena ia sudah terlihat lelah dengan semua permainan itu. Sudah kuperingatkan agar tidak terlalu bersemangat seperti itu, sudah lagi banyak fansnya yang selalu mengikuti Karin dan aku tentunya. Terkadang aku melihat cahaya yang terarahkan pada kami, aku tahu itu adalah cahaya yang berasal dari kamera. Masa saja aku tidak tahu, karena aku seorang fotografer.
"Hahh melelahkan ternyata ya?" ujar Karin dengan lemas. Aku diam dan memberi tatapan kubilang-apa-kau-tidak-menurut. Ia menunduk merasa bersalah karena tidak menurutiku.
"Salahmu sendiri tidak memakai penyamaran. Kalau saja kau menyamar, kau tidak akan terlalu lelah seperti itu di kejar paparazzi dan fans-fansmu itu," cibirku sembari terkekeh. Karin mendengus kesal dan meninju kecil tanganku.
"Diam kau. Apa tidak boleh sekali-kali aku ingin bebas? Aku juga ingin seperti orang biasa..." dari nada bicaranya.. sepertinya ia sedikit terseinggung dengan ucapaku. Ah aku sedikit terkejut mendengar kalimat akhirnya. Ia tak melihatku dan menghindari tatapanku yang penasaran dengan kalimat akhirnya itu. Tapi sepertinya aku mengerti, artis pun terkadang ingin menjadi orang biasa.
"Hm, tidak ada salahnya. Seseorang terkadang harus berakting dalam dunia ini, terkadang juga harus menjadi dirinya sendiri. Kau seorang artis pasti mengerti kata-kataku kan?" tanyaku sembari tersenyum tipis. Karin yang mendengarku berbicara seperti itu langsung terkejut dan kemudian ia membalas senyumanku dengan senyuman yang lebih manis.
"Tidak kusangka kau bisa bersikap seperti itu padaku, aku kira kau hanya bersikap baik pada Himeka-chan. Tapi tidak apa-apa, aku suka dirimu yang seperti itu!" ujarnya sembari tersenyum lebar lalu pergi meninggalkanku yang masih terbengong dengan ucapannya.
'Apa aku tidak salah dengar?! O_O'
.
.
Sekarang kami masih berdiri di depan taman dekat permainan tadi, aku tidak memikirkan ucapan Karin yang membuatku terkejut itu, atau bisa dibilang mencoba melupakan, dan saat itu pun sekilas aku mendapatkan cahaya yang berkedap-kedip di sampingku. Kucari asal cahaya itu dan ternyata cahaya itu berasal dari jam tangan Karin.
"Jam tanganmu berkedap-kedip?" tanyaku. Setelah mendengarku Karin melihat jam tangannya sendiri dan langsung terkejut.
"Wha! Sudah jam segini?!" karena penasaran aku melihat jam tanganku dan ternyata sekarang sudah jam 5 sore. Karin sepertinya sedikit panik mengetahui bahwa ia sudah bermain sangat lama. Ah benar juga, waktu berlalu begitu saja tanpa kusadari.
"Waktu berlalu dengan cepat bila kau menikmatinya. Maka dari itu jangan sia-siakan waktumu," ujarku santai, kalimat itu dengan seketika keluar dari mulutku, aku pun tidak tahu mengapa, hanya senang saja mengatakannya. Tetapi setelah itu aku tidak mendengar apapun lagi.
"..."
"..."
"..."
Krik krik krik.. O_o?!
'Tidak ada jawaban?! Tumben sekali!' batinku berteriak keras.
Benar benar menakjubkan! Biasanya ia selalu mengomentari setiap kalimat yang kuucapkan, tapi sekarang ia malah diam. Maka dari itu kulirik dirinya yang kini sedang diam. Ia terdiam menatapku dengan tatapan yang.. aneh. Mungkinkah ia sedang melamun? Tapi bila sedang melamun ia tidak akan mengedipkan matanya! Dan kenyataannya ia hanya DIAM, entahlah apa yang ia lakukan sekarang, dan itu membuatku sedikit takut!
"Hey, kau membuatku takut bila melihatku seperti itu terus," setelah mendengar diriku berkata seperti itu akhirnya ia terkekeh lalu memalingkan wajahnya. Sekilas aku melihat raut wajah yang tidak pernah kulihat selama bertemu dengannya. Ia terlihat.. kesepian? Mana mungkin?! Ia tersenyum begitu mana mungkin kesepian!
Tapi benar, aku tidak meragukan penglihatanku yang masih bagus ini. Ia terlihat sedikit kesepian. Lantas ia menjawabku dengan ceria, walaupun aku masih melihat ada sedikit senyum paksa yang ia pasang pada wajahnya.
"Haha. Kau itu sangat mempesona, Kujyo-kun. Aku benar-benar suka orang sepertimu~" ujarnya sembari tersenyum tipis dan meninggalkanku di tempat ini... masih mencerna kata-katanya tadi.
'Apa aku tidak salah dengar LAGI?!'
.
.
Aku berjalan mengikutinya entah kemana ia pergi, berusaha melupakan kata-katanya tadi. Tapi aku tidak bisa! Seakan kata-kata itu menempel pada otakku!
"Sial.." ucapku tak sengaja lalu aku pun segera menutup mulutku. Takut-takut Karin mendengarnya dan salah paham. Tapi sepertinya ia tidak mendengarku, karena ia masih sibuk dengan kameraku.
Karin melihat-lihat foto hasilnya bermain tadi pada kameraku. Namun ia tiba-tiba saja berhenti dan berbalik padaku.
"Kujyo-kun, handphonemu bergetar," aku pun terhenti dan menatapnya bingung. Lantas ia melanjutkan kalimatnya sembari menyodorkan handphoneku. "Ini, apa kau tidak ingin melihat siapa yang menghubungimu?" tanyanya. Oh aku baru mengerti, ternyata handphoneku ada dalam tas SLR yang di pegang oleh Karin. Aku mengangguk dan mengambil handphone milikku dari tangannya.
Ternyata setelah kulihat Kazusa menghubungiku beberapa kali.. eh bukan, bukan hanya beberapa kali, tapi banyak sekali! Kupikirkan apa yang membuatnya menelfonku sampai berpuluh-puluh kali itu, dan aku teringat akan kejadian di rumah Karin.
"Oh mungkin ia mencoba menghubungiku karena ia tidak bisa keluar dari kamarmu ya sepertinya?" ujarku sembari menutup handphoneku dan mengembalikannya ke dalam tas SLRku yang di pegang oleh Karin.
"Kau tidak menjawabnya? Atau menelfonnya kembali?" tanyanya dengan nada sedikit aneh bagiku, karena ia bertanya dengan nada senang. Seakan ia merasa senang bila aku tidak menjawab telfon dari Kazusa.
"Ah tidak. Memang kenapa? Itu urusanku bukan?" ujarku dengan santai. Kulihat Karin yang bersemangat dan ia melompat tinggi dengan riang.
"Bagus!" eh? Sebentar, kenapa ia senang bila aku tidak menelfon Kazusa kembalI?
"Apa maksudmu kau berbicara seperti itu?" tanyaku seperti mengintrogasi Karin yang kini terkejut. Sepertinya ia sadar bahwa ia sudah keceplosan akan sesuatu. Saat itu juga ia kembali cemas dan mulai menghindari tatapanku.
"M-Maksudku bukan begitu~, a-aku hanya ingin berkata bahwa aku bisa meminjam telfonmu bila kau tidak akan menelfon Kazusa-chan bukan? Hehe, tapi tidak jadi, tidak jadi meminjam hehe," ujarnya menjelaskan dengan alasan yang.. cukup logis, tapi tidak logis untuk orang sepertiku yang mengerti tingkah laku seseorang yang sedang cemas. Aku sebenarnya ingin terus mendesaknya agar memberitahuku apa alasan sebenarnya, tetapi.. sudahlah, aku lelah menghadapi orang seperti dia.
"Baiklah, terserah padamu."
.
.
Lantas kami mencari tempat duduk di sekitar kami dan mendapatkan bangku taman yang kosong di alun-alun taman bermain ini, tidak terlalu jauh dari tempat kami berada sekarang. Kami duduk dan meluruskan kaki kami yang sedari tadi dipakai berjalan terus-menerus. Aku pun sudah merasakan perutku yang keroncongan karena tidak makan siang. Itu menjadikan tubuhku semakin lemas untuk melakukan kegiatan. Lalu kulirik Karin yang kini mengatur nafasnya seperti sehabis berlari, padahal kami hanya berjalan tidak lebih dari 100 meter. Wajahnya pun terlihat pucat. Apa karena ia juga belum makan siang?! O_o
"Hey, kau tidak apa-apa? Sepertinya kau kelelahan menaikki permainan-permainan tadi," ujarku sedikit khawatir. Memang pada awalnya aku tidak terlalu memperhatikan gerak-gerik Karin saat ia seperti sekarang ini, tapi aku merasakan sesuatu yang janggal. Hari ini aku sudah melihatnya seperti ini beberapa kali, pertama pada saat kami di hukum, ia tidak kuat berdiri lama, lalu di rumahnya, aku melihatnya seperti memakai bedak terlalu tebal dan bila kupikir-pikir, wajahnya sedikit pucat sama dengan saat ini. Aku jadi sedikit memperhatikannya. Ingat! Hanya sedikit!
"H-Huh? T-Tidak, aku baik-baik saja. Eh, bagaimana kalau kita makan? Aku melewatkan jam makan siangku tadi dan sampai sekarang aku belum makan," ujarnya sembari menghela nafas, dan ia mengalihkan pembicaraanku. Aku sih tidak mempedulikannya dan mengangguk setuju karena aku pun sudah lapar sejak tadi. Lalu sebelum kami beranjak dari bangku ini, aku mencegah Karin.
"Tunggu, tadi kau berjanji akan menjelaskan kejadian di rumahmu itu, kapan kau akan menjelaskannya padaku? Jangan lupa kau harus menjelaskannya pada saat kita makan, mengerti?" perintahku sedikit memojokkan. Karin sepertinya teringatkan oleh pertanyaanku, lalu dengan serentak ia tersenyum lebar meperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih, lagi.
"Siap komandan! Tapi setelah kita sampai di tempat makan~!" seru Karin dengan bersemangat. Aku rasa dirinya yang biasa sudah kembali, tidak seperti tadi, lemas dan tidak bersemangat. Aku pun tersenyum simpul dan beranjak dari bangku lebih dahulu dari Karin, karena ia masih mengemasi tasnya dan tas SLRku.
Lantas aku mengisyaratkan Karin untuk segera beranjak dari bangku dengan isyarat tanganku agar cepat berdiri. Ia kemudian terkekeh dan dengan sigap ia bangkit dari bangku itu.
.
Tapi kau tahu apa yang terjadi?
"U-Ukh!"
Bets!
Tanganku tertarik oleh Karin yang tiba-tiba saja jatuh berlutut!
Dan sekarang aku panik!
.
.
.
.
~To be continue~
~Review?~
a/n: Terimakasih sudah membaca~ Maaf chapter ini agak pendek dari biasanya ya? Tapi semoga di chapter berikutnya diperpanjang lagi~^^~ Jadi bagaimana? Saran-saran? Misstypo? Review saja~
