a/n: Wahh Miss16Silent kembali dengan chapter terbaru^^ Mohon maaf bila meng-update chapter ini butuh waktu yang lama m(_ _)m Tapi sudah diusahakan agar cepat update ko^^ Oh ya, terimakasih yang sudah membaca^^ Lalu yang fav. yang foll. Terimakasih semuanyaa^^ Saya senang bila cerita ini disukai readers sekalian, hehe. Semoga chapter berikuti di sukai juga ya~
Balas review:
Dci: terimakasih sudah review^^ iya Karin sakit T^T chapter ini juga Karinnya masih sakit T^T Maaf menunggu lama ya~
Jamilah: terimakasih sudah review^^ sudah dilanjut ya, maaf menunggu lama^^
Guest: seru-serunya kan dilanjut di chapter ini^^ terimakasih sudah review ya^^ maaf lama updatenya T^T
Yume sora: penasaran Karin sakit apa?^^ Tapi dikasih taunya nanti di chapter lainn T^T maaf yaa, terimakasih sudah review~
Sehunnieoppa: terimakasih sudah review^^ maaf baru update ya~ semoga suka dengan chapter berikut^^
KK LOVERS: terimakasih sudah review ya^^ maaf updatenya ga bisa cepat T^T jadi semoga chapter berikut disukai ya^^
karin0kazune: chapter 7 baru update^^ maaf menunggu lama ya, wah terimakasih jempolnya^^
meida. rospitasari. 1: terimakasih sudah review^^ maaf baru update yaa, semoga menyukai chapter berikut^^
enma-chan: terimakasih sudah review^^ maaf ya updatenya lama^^ semoga menyukai chapter 7 ini^^
Hanariko Momoko: Karinnya sakit T^T, terimakasih ya sudah review^^ tapi maaf lama updatenya
Salsabilla14: wah terimakasih ya sudah review^^ benarkah? Kebetulan sekali yaa hehe. Maaf menunggu lama^^ semoga menyukai chapter berikut~
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Ma Dernière volonté*~
[Kazune POV]
Tanpa ada aba-aba apapun, Karin tiba-tiba saja terjatuh berlutut sembari menarik tanganku sebagai penopang yang dekat dengannya.
Dengan reflek aku pun ikut berlutut mensejajarkan tinggiku dengannya yang kini masih menundukkan kepalanya dengan mata tertutup.
"H-hey, ada apa? Kau baik-baik saja?" tanyaku sekali lagi memastikan keadaannya. Setelah mendengar suaraku, membutuhkan waktu untuknya merespon pertanyaanku tadi, barulah beberapa detik setelahnya, ia kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali dan menatapku dengan lemas.
"Ah maaf aku menarikmu. Tadi saat aku berdiri pandanganku sedikit kabur, jadi dengan reflek aku menarik yang dekat denganku, hehe maaf," ujarnya sembari tersenyum merasa bersalah. Aku terdiam sebentar lalu kembali bertanya padanya.
"Hm, kau yakin kau baik-baik saja? Kau sedang sakit?" ujarku penasaran dan tentunya aku khawatir. Karin hanya diam, ia tidak menatapku dan perlahan ia berdiri di tempatnya ia terjatuh tadi. Aku pun segera berdiri dan memberinya tatapan sinisku agar cepat menjawabku.
"Sudahlah. Ini hanya hal sepele, bila tekanan darahku sedang rendah aku biasa seperti ini. Tidak perlu khawatir," ujarnya dengan senyum.. senyum palsu. Baiklah, aku mulai sadar bahwa ada hal yang ia sembuyikan. Aku semakin penasaran dengan seseorang yang bernama Karin Hanazono ini. Sepertinya banyak sekali hal yang tidak kuketahui tentang dirinya.
"Hm, baiklah. Kalau begitu kita cari tempat makan yang dekat saja."
.
.
Pikiranku sedang melayang entah kemana. Sejak datang di cafe yang masih berada dalam taman bermain ini, aku terus saja memikirkan seseorang di hadapanku ini, sang artis yang misterius. Sudah lagi banyak orang yang memperhatikan kami karena Karin tidak memakai penyamaran sama sekali.
"Permisi, pesanan anda?" tanya seorang pelayan dari cafe ini dengan ramah. Aku melihat-lihat pada menu dan tertarik dengan waffle ice cream yang menggoda itu.
"Waffle ice cream coklat sat—"
"Dua. Yang satu ukuran sedang saja," ujar Karin memotongku. Aku membiarkannya, lalu kembali memesan minumannya.
"Minumnya ice lemon tea, minumanmu apa Hanazono-san?" tanyaku pada Karin yang masih sibuk melihat-lihat menu, lalu beberapa lama kemudian, ia menjawabku.
"Air mineral saja," jawabnya. Lalu pelayan itu segera menuliskan pesanan kami di notenya yang ia bawa.
"Dua waffle ice cream coklat, ice lemon tea, dan air mineral, benar? Baiklah, mohon ditunggu sebentar~" seru pelayan itu dan segera kembali untuk menyiapkan pesanan kami. Kemudian keheningan melanda.
Kalau dipikir-pikir, cafe ini sangat strategis, tempatnya bagus, dan nyaman. Tidak heran sekarang banyak pengunjungnya. Sudah lagi, kami mendapat meja yang strategis, itu pun pasti karena pelayan disini melihat Karin. Meja kami agak berjarak dengan meja yang lainnya dan itu bagus untuk Karin yang tidak akan terlalu di kejar oleh fans-fansnya.
Benar juga, sekarang saatnya yang tepat untukku menanyakan janjinya tadi.
"Hey," saat aku akan bertanya, aku melihat Karin yang sedang memandangi telapak tangannya yang menurutku agak terlihat pucat itu. 'Sedang melamun?' Aku memanggil nama Karin agar membuatnya mengalihkan perhatiannya padaku.
"Hanazono-san," panggilku padanya. Tapi ia tidak meresponku sama sekali. Ia masih saja menatap kedua tangannya tanpa mengedip sedetik pun, maka aku panggil ia agak keras.
"Hey Hanazono-san!" panggilku kedua kalinya. Tetap saja ia tidak bergeming! Aku mulai kesal karena diabaikan olehnya. Maka aku mengambil selembar brosur yang tersedia di meja dan meremasnya menjadi kecil, kemudian melemparkannya pada Karin pelan.
Tuk!
Tepat jatuh di atas kepalanya dan jatuh kembali ke meja di hadapannya. Aku terkekeh melihat ekspresi wajah Karin yang terkejut dan bingung saat kulempar. Sadar dari lamunannya, ia menatapku kesal.
"Apa maumu?!" tanyanya dengan mata disipitkan. Aku masih menahan tawa melihatnya.
"Kau itu kalau dipanggil orang jangan dihiraukan begitu saja, jadinya ya seperti itu, haha," jelasku padanya. Ia hanya cemberut mendengar penjelasanku. Lalu ia mengambil brosur yang kulempar tadi dan membaca isinya untuk mengalihkan pandangannya dariku.
"Yasudah. Sekarang ada apa kau memanggilku?" tanyanya masih dengan sedikit kesal, ia pun tidak menatapku, malah ia fokus dengan brosur yang berada di tangannya.
"Aku hanya ingin kau menepati janjimu tadi, itu saja," jawabku santai. Lalu Karin sepertinya teringatkan olehku dan segera melihatku dengan serius.
"Oh benar juga ya. Begini, sekarang kau tanyakan saja semuanya padaku, setelah selesai semua, aku baru menjawabnya, bagaimana?" tawarnya padaku. Aku langsung mengangguk setuju dengannya lalu mulai bertanya padanya.
"Baiklah kalau itu maumu. Pertama, sejak kapan kau bertemu dengan Kazusa? Mengapa kalian bisa saling mengenal? Bagaimana ceritanya kau bisa bertemu dengan Kazusa? Apa yang Kazusa lakukan di rumahmu? Mengapa kau mengunci Kazusa di kamarmu? Dan mengapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah berteman dengan Kazusa sejak awal kita bertemu?" tanyaku sedikit memberi penekanan pada pertanyaan terakhir.
Selesai semua pertanyaan dilontarkan olehku. Karin menghela nafas panjang dan ia pun terlihat malas menjawab pertanyaanku.
"Haahh, kau itu perhatian sekali ya pada Kazusa-chan. Baiklah, sekarang mulai kujawab. Aku bertemu dengan Kazusa-chan sejak sekolah menengah pertama kelas 2, saat itu karirku belum memuncak, aku masih bebas berkeliaran di kota ini, dan aku pergi ke sebuah toko buku dekat sekolahku. Saat itu Kazusa-chan sedang berusaha menggapai buku yang berada di rak paling atas, karena kasihan dengannya aku mengambilkan buku itu untuk Kazusa-chan. Ia berterimakasih padaku karena sangat senang, lalu ia meminta nomor handphoneku untuk kenang-kenangan, katanya ia akan pergi ke luar negeri, jadi kuberi nomor handphoneku,"
"Hanya dengan alasan itu kau memberikan nomor handphonemu pada Kazusa?! Kau belum tahu kan kalau Kazusa orang baik atau bukan saat itu, seharusnya kau itu berhati-hati—"
"Memotong pembicaraan orang itu tidak baik Kujyo-kun. Lagi pula aku ini yang memberinya nomor handphone, bukan urusanmu bukan? Sudah sudah, aku teruskan lagi. Jadi, sejak bertukar nomor handphone kami sering berkomunikasi. Menurutku ia gadis yang menarik, lalu kami sering bercerita tentang kehidupan kami, seperti curhat begitulah. Hari ini, pertama kalinya Kazusa-chan datang ke rumahku dan kedua kalinya aku bertemu langsung dengan Kazusa-chan," jelasnya berhenti dahulu. Aku mencerna ceritanya itu dan mengangguk mengerti. Tapi ia belum menjawab pertanyaanku yang lain! Sebelum aku menanyakannya lagi, Karin sudah menjawabku kembali.
"Aku mengunci Kazusa-chan di kamarku karena bila aku tidak menguncinya, ia akan melarangku untuk keluar saat ini. Dan untuk pertanyaan terakhirmu itu, aku belum saja memberitahunya padamu. Kau sendiri berkata bahwa kau harus berhati-hati dengan orang yang baru kau kenal bukan? Saat pertama aku mengetahui namamu, aku masih berhati-hati, jadi aku berniat untuk mengatakannya setelah sudah lama aku mengenalmu, tapi ternyata aku lupa, jadi ya begini akhirnya."
Penjelasan yang terakhir itu sedikit membalikkan kata-kataku tadi. Aku kembali mengangguk dan memalingkan wajahku sedikit kesal. Yang membuatku lebih kesal, Karin terlihat tersenyum kemenangan saat ini.
.
[Normal POV]
Pesanan sudah datang di meja mereka dan dengan cepat Kazune melahap habis makanan itu. Untung saja piring-piringnya masih tersisa, karena ia melahap habis makanan di piring itu sampai bersih sebersih-bersihnya. Lantas selesai mengisi perut, akhirnya pikiran Kazune cerah kembali, tidak seperti saat kelaparan, yang ada hanya makan, makan, dan makan di otaknya.
Namun sepertinya seseorang di hadapan Kazune sedang tidak bersemangat, ya benar, Karin tampak sangat tidak bersemangat kali ini, padahal dirinya sendiri yang mengajak makan. Lihat saja, di piringnya masih tersisa tiga perempat lagi waffle coklat yang belum disentuhnya sama sekali. Kazune yang menganggap ini janggal, kembali khawatir dengan keadaan Karin. Setelah melihat kejadian tadi, kecurigaannya akan suatu hal yang Karin sembunyikan semakin kuat dalam dirinya.
"Hey, bukannya tadi kau bilang tekanan darahmu sedang rendah? Seharusnya kau makan yang banyak supaya tidak seperti tadi lagi," ucapnya dengan serius. Karin menatap Kazune dengan senyum masam, ia seperti merasa bersalah telah membuat Kazune khawatir. Tapi kebiasaan Kazune yang terkadang 'khawatir pada seseorang' seperti pada saudaranya sendiri', tidak bisa membiarkan Karin seperti itu terus.
"Kau itu jangan berlebihan deh, haha. Aku hanya sedang tidak mood untuk makan, nanti saja saat pulang aku makan lagi," senyuman seperti biasa terpampang di wajahnya, senyuman yang Kazune pikir adalah senyuman palsu. Lantas Karin meletakkan pisau dan garpunya menandakan ia selesai makan.
"Tunggu sebentar ya, aku akan mengambil billnya," ujar Karin dan ia segera beranjak dari kursi tempatnya duduk. Namun sebelum itu terjadi Kazune mencegahnya.
"Biar aku saja yang membayarnya, kau tunggu saja di depan cafe ini, nanti aku menyusul," perintah Kazune membuat Karin berhenti dan menatapnya.
"Tapi—"
"Tidak ada 'tapi' lagi, Hanazono-san," ujar Kazune sembari memberi tatapan serius. Karin terdiam lalu mengangguk kalah dengan Kazune. Lalu Kazune segera pergi ke kasir di cafe tersebut, sedangkan Karin sebelum keluar dari cafe itu, ia mengambil selembar brosur yang seperti Kazune lemparkan tadi padanya dirinya dan memasukkan brosur itu dalam tas kecilnya. Entah apa yang ia rencanakan selanjutnya..
.
.
Diluar cafe Karin menunggu sendiri. Matahari sudah terbenam di ufuk barat dan langit pun berganti warna menjadi gelap. Banyak orang yang mulai berpergian dari taman bermain dan yang paling tepatnya mereka melewati Karin dengan tatapan... ya sebagaimana mereka melihat artis berkeliaran. Ada rasa cemas karena takut-takut ia terlihat oleh salah satu fansnya. Tapi rasa cemas itu tidak berlangsung lama, malah tergantikan dengan rasa dingin yang menjulur pada tubuhnya. Padahal angin pun tidak bergeming sama sekali.
"Maaf, menunggu lama?" tanya seseorang membuat Karin sedikit terkejut. Lantas ia membalikan tubuhnya dan melihat Kazune yang sedang berjalan menuju dirinya.
"Tidak tidak. Ayo, sepertinya taman bermain ini sudah mau tutup," ajak Karin. Kazune mengangguk dan mulai berjalan berdampingan dengan Karin menuju pintu keluar taman bermain itu.
Selama berjalan di sampingnya, keheningan menyapa mereka kembali, mereka sudah lelah karena aktivitas mereka hari ini. Sampai akhirnya Karin memecah keheningan dengan bertanya pada partnernya hari ini, "Kujyo-kun, kau tidak bertanya tentang Jin-kun padaku?" tanyanya tiba-tiba dengan polos.
Tentu saja Kazune yang ditanya seperti itu terkejut setengah mati. Ia sama sekali belum pernah mendengar orang berbicara seperti itu. Tidak sama sekali dengan wajah sepolos itu.
"K-Kuga-san? Ahh itu, kupikir kau tidak mau membicarakan tentangnya, jadi ya aku tidak menanyakannya," jawabnya sedikit berbohong, mengapa? Karena sebenarnya Kazune sangat lupa dengan kejadian di rumah Karin waktu itu.
"Hahh. Kau tahu, sepertinya ia sudah tidak peduli lagi denganku," diikuti dengan helaan nafas Karin menunduk sedih. Ia tidak bisa berkata apa-apa, Kazune tidak tahu masalah mereka.
"Begitukah? Tapi dia partnermu bukan? Ia tidak mungkin pergi begitu saja kan," ujar Kazune mencoba mencari alasan yang tepat pada sesi curhatnya kali ini. Tapi Karin menolak perkataannya itu dengan menggelengkan kepalanya.
"Kau salah. Ia bisa saja pergi dan memilih karirnya sendiri, toh sekarang aku sudah jarang muncul di media lagi," nada bicaranya mulai berubah. Seorang perempuan, bagaimana pun ia kuat, tetap saja bila mempunyai kesedihan akan rapuh juga. Aku tak menjawabnya, takut takut ia akan salah paham bila aku membela salah satu dari mereka. Tidak lama setelah itu, aku mendengar Karin terkekeh.
"Wah aku tidak sadar sudah curhat denganmu~ Maaf ya, habis kau mirip dengan Kazusa-chan sih, aku jadi terbawa suasana! Hehe," ujarnya sembari tebar senyuman. Aku menaikkan satu alisku bingung namun kemudian mengangguk saja mengiyakan apa katanya. Pelajaran yang kudapat hari ini.. Karin berbeda dengan gadis lain, ia bisa menutupi kesedihannya di balik keceriaannya.. Aku tahu itu dari sorot matanya...
.
.
Sampai di luar taman bermain, akhirnya aku bisa menghirup udara segar dengan bebas. Jalan di depan taman bermain sudah agak sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang di jalan yang kami lewati ini. Lampu jalan pun menerangi kami di bawah sinar rembulan.
"Uhk.. uhuk.." aku mulai mendengar Karin menahan batuknya di belakangku. Lalu aku teringat kalau Karin tidak memakai jaket. Kupikir suhu disini tidak terlalu dingin, tapi mungkin untuknya ini cukup dingin.
Aku membalikkan tubuhku dan mendapatkan Karin yang melipat kedua tangannya di depan dada seperti mencoba menghangatkan diri. Karena tidak tega melihatnya seperti itu aku pun melepas kemejaku dan menaruhnya di pundak Karin. Ia terperanjat saat ia merasakan kemejaku berada di pundaknya.
"EH? O-ohh terimakasih Kujyo-kun," senyuman manis itu kembali terpasang pada wajahnya. Aku merespon dengan mengangguk dan kembali berjalan menuju rumah Karin. Ya benar, kami sedang menuju rumahnya. Sekalian aku menjemput Kazusa dan Suzune.
"Kau tidak keberatan bila aku memakainya? Udara sekarang dingin sekali," ujar Karin merasa tidak enak dengan kemeja yang kupinjamkan untuknya. Tapi aku tidak merasa dingin sama sekali, bahkan orang yang berlalu lalang di sekitar kami pun tidak banyak yang memakai jaket di saat suhu udara tidak dingin seperti ini.
"Tidak sama sekali, kau boleh memakainya, aku tidak masalah. Mungkin itu gejala kau akan sakit, jadi sebaiknya kita pulang cepat," ujarku menjawabnya. Karin mengangguk mengiyakan di sampingku. Lalu aku aku melirik jam tanganku dan ternyata waktu berjalan cepat, karena sekarang sudah pukul 7 lagi.
Kami mempercepat langkah kaki kami agar cepat sampai tujuan. Namun aku tidak meninggalkan Karin yang berjalan agak pelan dari biasanya. Ia pun mulai terlihat tidak sehat. Bukan 'mulai' sih, sebenarnya aku sudah tahu dirinya sedang sakit saat pagi hari di koridor.
"Uhk, uhk uhk!" Aku melirik Karin dari sudut mataku, sejak tadi ia menahan batuknya beberapa kali dan sekarang wajahnya mulai bersemu merah, matanya yang indah itu terlihat genangan air mata di dalamnya.
Perasaanku khawatir padanya muncul lagi, aku khawatir bila ia jatuh sakit parah karena hari ini. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya harus membawa Karin pulang secepat mungkin.
"...!"
Ide cemerlang pun melintas di benakku!
Aku menghadap pada Karin dan meminta tas SLRku yang di dalamnya ada handphoneku. Ia memberikan tasku itu dan aku mengambil handphoneku keluar.
"Ada apa? Sepertinya kau mendapat pencerahan tentang sesuatu," bisik Karin penasaran. Aku tak meresponnya dan langsung menghubungi kontak Kazusa yang ada di handphoneku, setelah itu mengangkatnya pada telingaku. Sembari menunggu, Karin memperhatikanku dengan seksama, ia terlihat bingung dengan yang kulakukan sekarang. Tapi ia tidak memaksa untuk mengetahuinya.
Tuuut~ Tuut~ Tuuut~ Tuu—
-H-Halo! Kakak?! Kenapa baru menghubungi sekarang!- suara Kazusa itu melengking dan membuatku menjauhkan handphoneku itu sementara.
'A-ah, maaf maaf, aku kira kau tidak ingin dihubungi kembali. Oh iya, sekarang bisakah kau menjemputku dan Hanazono-san di jalan xxx dekat toko xxx? Kupikir—'
-Eh? Karin-chan! Dimana dia?! Apa terjadi sesuatu dengan Karin-chan?! Apa dia sakit?!-
'Kazusa, tenanglah. Dia bersamaku sekarang sedang menuju arah pulang, tapi karena kulihat kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berjalan lebih lama lagi, jadi jem—!'
.
"TIDAK!"
GREB!
Tuut! Tuut! Tuut!
.
Tiba-tiba saja ponselku direbut oleh Karin dengan kasar dan memutus panggilan itu. Aku terkejut dengan sikap Karin yang seperti itu dan kini ia menggenggam ponselku dengan erat. Bingung dan terkejut menjadi satu raut wajah yang kini kupasang di wajahku pada Karin. Ia sendiri terlihat ketakutan, bingung, dan cemas.
"Apa yang kau lakukan?! Aku sedang meminta Kazusa untuk menjemput—"
"Jangan!"
Karin menyentakku balik. Ia menatapku dengan horror. Aku berhenti berbicara dan hanya menatapnya dengan bingung. Ada apa dengan dirinya?
"Hanazono-san?" aku memanggil namanya agar ia menyadari bahwa ia sedang tidak bersikap seperti biasanya, dan sepertinya itu berhasil. Ia terhenyak. Ia menatap ponselku yang berada di tangannya lalu beralih padaku dengan merasa bersalah.
"A-Ah, t-tadi, aku hanya... u-uhk!" sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Karin batuk-batuk keras sampai ia berlutut di jalan. Aku panik dan ikut berlutut di hadapannya.
"H-hey, kau tidak apa-apa? Sudah kubilang lebih baik Kazusa menjemput kita," ujarku pada Karin yang masih menahan batuknya.
"J-jangan, dia.. K-Kazusa-chan.. akan panik.. uhuk uhuk!"
Aku kembali terdiam mendengar ucapannya tadi, namun di tengah aku akan bertanya, Karin beranjak dari tempatnya dan segera berjalan cepat ke arah lain tanpa mempedulikan diriku. Bingung dengan yang ia lakukan, aku mengikuti dirinya, namun Karin mulai berlari meninggalkanku sembari menutup mulutnya.
"Hanazono-san!" aku berlari mengejarnya. Pikiranku penuh dengan tanda tanya besar. Kenapa Karin berlari? Mau kemana dia? Lalu kenapa aku tidak tahu apa-apa?!
Tidak lama aku mengejarnya, akhirnya aku dapat menyusulnya dan menarik tangannya agar ia tidak berlari lagi.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan tiba-tiba lari seperti tadi?!" bentakkanku berhasil membuatnya terdiam. Bisa kurasakan tangannya bergetar dan suhu tubuhnya panas. Matanya menatapku dengan tatapan tajam, lantas ia melepaskan genggamanku dengan kasar.
"L-Lepaskan aku. Kau t-tidak tahu apa-apa.. uhk, uhuk uhuk!" begitu ia selesai, batuk menyerang dirinya. Kulihat pada saat ia batuk ia seperti menahan sakit. Setiap kali ia batuk lebih tepatnya.
"Sial.." masih sembari menutup mulutnya ia meringis kesakitan, saat itu juga kilauan cahaya menerangi kami semakin dekat, dan gemuruh mesin terdengar olehku.
Ya mobil, yang aku bisa lihat hanyalah mobil sedan yang berhenti tepat di depan kami, tapi aku tidak bisa melihat siapa yang keluar dari mobil itu karena cahaya itu terlalu terang untuk membuka mataku.
"K-Karin-chan! Karin-chan!" suara itu, aku mengenalnya. Tidak salah lagi, hanya Kazusa yang memiliki suara seperti itu.
Aku melihat Kazusa mendekati kami dan akhirnya lampu mobil itu padam. Aku bisa melihat seorang pemuda yang keluar dari mobil itu dan berlari menuju kami.
"Karin-san!" satu suara lagi yang kukenal, kali ini aku tahu juga, karena ia adalah Jin Kuga, yang tadi kami bicarakan.
.
[Normal POV]
Mereka mengerumuni Karin yang kini masih terduduk di bawah. Mereka semakin khawatir saat Karin mengangkat kepalanya dan terlihatlah wajah pucatnya. Yang paling khawatir di saat itu adalah Kazusa, ia sudah hampir menangis karena khawatir pada gadis bersurai coklat blonde di depannya itu.
"Karin-chan! Sudah kubilang kan kau tidak boleh pergi dari rumah! K-Kau kan.. Kau kan... hiks.. Hiks.. Kau kan sedang sakit! Hiks hiks.." pecahlah genangan air pada mata Kazusa. Tetesan air tersebut mengalir terus menerus meskipun ia hapus sekali pun. Karin yang merasa bersalah pada mereka semua hanya bisa tersenyum masam.
"K-Kazusa-chan.. uhk, maaf.. maafkan aku..." ujar Karin sembari menahan batuknya. Kazusa menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia tidak marah padanya, hanya saja ia sangat khawatir. Kazusa sudah menganggap Karin sebagai kakaknya seperti Kazune, meskipun ia baru bertemu kembali dengan Karin.
Lantas Karin mengalihkan pandangannya pada Jin yang sama-sama terlihat khawatir pada Karin. Ekspresi khawatirnya terlihat jelas pada wajah tampan sang artis. Karin pun menyunggingkan senyuman khasny lalu angkat bicara.
"Haha, aku kira.. kau tidak peduli lagi denganku.. uhuk.. uhk.. Jin-kun," Jin yang mendengar ucapannya tadi pun terkejut dan menudukkan kepalanya dalam-dalam, ia mengepalkan tangannya keras. Pikirannya kini bergelut dengan keegoisannya sendiri. Merasa bersalah dengan apa yang ia ucapkan pada Karin saat itu. Sedangkan Kazune yang hanya terdiam menyaksikan pun tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia lakukan hanyalah berusaha membuat Kazusa berhenti menangis.
Kembali kepada Jin dan Karin, mereka saling bertatapan dengan dua tatapan yang berbeda, dari satu arah terlihat penyesalan, dan dari arah yang lain hanyalah tatapan kesedihan dan pilu. Namun karena Karin mengerti keadaannya yang tidak memungkinkan untuk berbicara lebih banyak, ia kembali tersenyum, tetapi tersirat banyak arti pada senyuman itu.
"M-meskipun kau tidak peduli padaku lagi.. t-tapi Jin-kun... aku tetap menganggapmu sebagai.. s-sahabat. Benar, kau selalu.. menjadi sahabat bagiku.. Maafkan aku bila kau marah padaku, Jin-kun. Maaf.." bisik Karin sembari tersenyum simpul, namun raut wajahnya tidak berkata seperti itu, ia sangat terlihat sedih, seperti tenggelam dalam kesedihan. Melihatnya seperti itu seakan hati mereka tersayat, tatapannya sangat menyakitkan.
"Maaf.."
Tes tes..
Lantas kristal bening pada mata emerald itu pun mulai berjatuhan melewati lekukan pipinya. Bagaimana pun mereka menahan hati mereka agar tidak tersentuh, ucapan Karin itu benar-benar berhasil membuat Jin, Kazusa, dan Kazune tercengang. Hati mereka pun remuk mendengar ungkapan Karin yang begitu dalam.
"Maaf, akulah yang harus meminta maaf, Karin-san. Seharusnya aku tidak berkata seperti itu padamu," ujar Jin sembari menundukkan kepalanya. Sedangkan Karin hanya menatap pemuda itu dalam-dalam. Mendengarnya meminta maaf seperti itu sudah sangat cukup baginya untuk memaafkan sang pemuda. Tetesan air mata kembali terukir pada wajah Karin, air mata kebahagian.
"Jin-kun, terimakasih.. terimakasih untuk semuanya," senyumannya terpampang pada wajahnya, namun lambat laun senyuman itu memudar seiring wajahnya memucat.
Bola mata emeraldnya membulat seketika saat merasakan sesuatu terjadi.
.
[Karin POV]
Deg degh!
Kepalaku pusing, sangat pusing dan sakit. Ini pasti karena suhu tubuhku sekarang yang panas. Ya aku bisa merasakan sekujur tubuhku dingin, tetapi sebenarnya panas. Pandanganku pun semakin tidak jelas.
"Karin-chan?! Kakak, Jin-kun, sebaiknya kita bawa Karin-chan ke rumah sakit! Kondisinya akan parah bila kita biarkan ia di rumah saja!" suara Kazusa terdengar olehku, tetapi aku tidak bisa melihat jelas wajah mereka yang berada di sampingku.
Semua pandanganku berkunang-kunang. Batinku berteriak keras agar Kazusa tidak menghubungi rumah sakit! Tapi apa daya, tubuhku ini sudah terasa ringan, entah mengapa. Aku mencoba berbicara, tetapi tertahan dengan rasa pusing yang menjelajahi kepalaku ini. Lalu pandanganku menjadi sedikit gelap, lebih gelap lagi, sampai akhirnya semua gelap dan tubuhku terhempas entah kemana. Suara terakhir saat itu, suara seseorang paling dekat denganku, suara baritone yang memanggil namaku...
"Hanazono-san.."
.
.
.
Clak.. clak.. clak.. clak.. clak..
Suara tetesan air terdengar menggema di telingaku. Kini aku berada di ruangan putih, putih bersih tanpa noda. Aku berdiri di tengah ruangan ini sendiri, masih ditemani dengan suara tetesan air tadi.
"Dimana ini?" tanyaku sendiri. Melihat sekeliling tidak ada yang berbeda. Aku berjalan mengitari ruangan yang cukup luas ini. Tidak lama aku melangkahkan kakiku, tiba-tiba saja aku mendapatkan kilasan seperti hologram muncul di hadapanku. Kilasan memori dalam hidupku. Dan bagian yang sedang tampil sekarang hanyalah bagian saat aku bertemu Kazune.
Ya, bagian dari awal kami bertemu sampai saat terakhir aku melihatnya.
"K-Kenapa hanya bagian ini?" tanyaku heran. Tidak ada jawaban yang terdengar. Tetapi saat aku akan menyentuh hologram itu, tiba-tiba saja hologram yang seperti tv itu pecah dan tergantikan dengan hologram lain. Hologram memori saat aku berdebat dengan Jin di rumahku. Yang membuat Jin marah padaku, yang membuatku merasa bersalah pada semuanya.
'Jadi kau berteman dengannya hanya karena ia seorang fotografer?!' Jin membentakku di hologram itu dengan raut wajah marahnya mengingatkanku kembali dengan kejadian saat itu.
'Setelah kau mendapat yang kau inginkan kau akan melupakannya?! Begitu maksudmu?!' aku tersentak kembali dengan kata-katanya. Aku mengingat semua ucapannya saat itu, dan itu membuatku sangat-sangat bersalah.
"B-Bukan begitu maksudku! A-Aku berteman dengan Kujyo-kun karena kupikir ia orang yang menarik! Bukan maksudku untuk mempermainkannya, Jin-kun!" ujarku pada hologram yang tidak mungkin mendengarku itu. Tetapi jawaban yang kuterima dari memori itu adalah jawaban yang sama, sama-sama membuat hati ini bersalah.
'Aku peduli denganmu, Karin-chan! Apa yang akan terjadi bila Kujyo-kun mengetahui rencanamu itu? Rencana mempergunakannya saja? Bagaimana dengan perasaannya nanti?! Aku tahu bagaimana perasaannya nanti karena aku mengetahui semua rencanamu Karin-chan!'
Degh degh degh degh degh degh!
Detak jantungku begitu cepat mengingat semua yang ia katakan. Aku ingin membantah semua perkataan itu, tetapi..
"I-itu salah! T-Tapi.. rencana itu.. Ahh! Aku memang salah! Tidak seharusnya aku berniat seperti itu pada Kujyo-kun!" dengan histeris aku menjerit. Aku sangat-sangat bersalah. Kenapa?
Karena aku mempunyai rencana bodoh yang melibatkan Kazune dari awal kami bertemu. Aku tidak memikirkan apa pun saat itu, hanya rencana bodoh itulah yang terpikir olehku, hanya demi kepentingan sendiri, aku melupakan perasaan orang lain, melupakan semuanya.
"Hanya karena alasanku yang sama-sama bodoh, aku membuat rencana yang juga bodoh.. maafkan aku, tidak seharusnya aku memulai rencana itu.. maaf! Hiks.. hiks.."
Aku menangis, terus menangis mengeluarkan segala penyesalanku. Aku takut, takut terlambat untuk memperbaiki semuanya. Berbagai pertanyaan kini muncul, bagaimana bila ia membenciku saat aku ungkapkan kebenarannya tentang rencanaku? Bagaimana bila ia tidak hanya membenciku, tapi ia juga marah denganku? Bagaimana bila ia menyebarkan rencana bodoh ini pada media untuk balas dendam?!
"T-Tidak! Maaf, aku benar-benar minta maaf.. Aku sudah sangat salah, aku sangat sangat bersalah padamu, Kujyo-kun.. maafkan aku!"
Seiring kalimatku berakhir, lubang hitam tiba-tiba saja muncul di bawahku dan dengan sekejap aku terjatuh ke dalam lubang itu.
"Kyaa!"
Jeritan terakhir itu membuatku terjatuh pada lubang hitam yang tidak tahu dimana dasarnya. Aku pun memejamkan mataku masih dengan rasa takut, penyesalan, dan kecewa yang menyelimutiku. Dan saat terakhir yang kuingat. Aku mengucapkan permintaan maafku itu sekali lagi, dan berharap agar ia mendengarnya..
"Maafkan aku.. Kujyo-kun.."
.
.
.
[Kazune POV]
Sudah dua hari Karin tidak sadarkan diri. Kazusa menginap di rumahnya karena ia bilang akan merawatnya selagi ia tidak sadarkan diri. Aku sendiri tidak tahu penyebab dirinya tidak sadarkan diri selama dua hari itu, padahal hanya karena demam.
Diriku ini sekarang sedang menunggui Karin karena Kazusa harus pergi membeli sesuatu, sedangkan di rumah ini tidak ada orang lain selain aku, Kazusa, dan Suzune. Maka dari itulah..
"Agh.. Kenapa harus aku yang menungguinya?" gerutuku kesal. Aku duduk menduduki kursi di samping tempat Karin tertidur. Baru saja pulang sekolah aku sudah dikerjai seperti ini, padahal niatku hanya ingin menjenguk saja. Eh, kebetulan sekali timingnya pas..
Karin terbaring lemah di sampingku. Kain kompresan masih melekat pada dahinya. Kazusa berkata bahwa demamnya belum kunjung turun. Dan aku harus mengkompresnya lagi setelah agak lama ia pergi -_-. Sunggu merepotkan..
"S-Salah..." suara pelan itu berasal dari Karin.
"EH?!"
Aku terperanjat di kursiku karena mendengar Karin berkata sesuatu. Kini keringat bercucuran dari pelipisnya. Ia mengigau kata-kata lain, tetapi aku tidak bisa mendengarnya jelas.
Aku beranjak dari kursi dan mengecek keadaannya. Raut wajahnya terlihat sangat ketakutan. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tertahan oleh sesuatu juga.
"Mimpi buruk?" ujarku berbicara sendiri. Lantas aku duduk di samping ranjangnya dan berniat untuk menyelimutinya kembali. Mungkin yang kulakukan sekarang bisa membuatnya sedikit tenang.
Namun baru saja kutarik selimutnya, tiba-tiba saja tubuhnya terperanjat diikuti dengan nafas yang terpengkal-pengkal. Aku sendiri ikut terperanjat.
Tetapi yang paling membuatku terkejut, ia mengatakan sesuatu sembari menatapku tepat dimataku. Matanya terlihat shock, dan air mata kini mengalir satu demi satu pada wajahnya...
"Maafkan aku.. Kujyo-kun,"
.
.
.
.
.
.
~To be continue~
~Review?^^~
a/n: Akhirnya chapter ini selesai^^ Mohon maaf bila ada misstypo ya, lalu bagaimana chapter ini kesannya? Penasarankah dengan rencana Karin yang melibatkan Kazune? Semoga para readers menyukai chapter ini ya^^ Saran-saran?
