a/n: update chapter baru! Sudah lama ya tidak update rasanya rindu sekali dengan cerita ini^^ Author pun pen namenya baruu! Haha bangga sekali ya author ini -_-, tapi author masih author yang sama ya^^ Tidak berubaah~ Lalu seperti biasa, maafkan author bila lama mengupdatenya ya T^T kesibukkan semakin menumpuk dan untung saja saat ini ada sedikit waktu luang untuk meneruskan^^ Chapter kali ini agak panjang juga ini ya, jadi semoga para readers menyukainya! Terimakasih yang sudah review juga^^ Balas reviewnya dibawah ya^^!
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Ma Dernière volonté*~
"Maafkan aku.. Kujyo-kun,"
.
.
.
Suasana kamar itu seketika hening. Kazune terdiam masih mencerna maksud dari perkataan Karin, sedangkan Karin sendiri terdiam menatap Kazune dengan tatapan kosong. Dalam pikiran Kazune kini sedang berputar memori-memori yang bersangkutan dengan Karin, ia mencari tahu apa yang membuat Karin meminta maaf padanya, tetapi ia tidak menemukan apa pun sama sekali.
Sampai akhirnya keheningan terpecahkan oleh suara bantingan pintu kamar oleh seseorang yang tidak lain lagi adalah…
"Kakak! Aku sudah kembali~ E-eh? Karin-chan sudah sadar?!" seru Kazusa. Lantas dengan segera Kazusa meninggalkan belanjaannya di lantai sebelum berlari ke arah Karin.
Kazune yang masih terkejut dengan kedatangan Kazusa pun tersadarkan saat Kazusa akan melayangkan pelukannnya pada Karin dan hup!
"Huaa! Aku khawatir Karin-chan! Sudah dua hari kau tidak sadarkan diri!" ujar Kazusa dengan histeris. Karin sendiri hanya tersenyum masam melihat temannya yang begitu peduli dengan keadaannya.
"Aku sudah merasa lebih baik Kazusa-chan, kau tidak usah khawatir, haha," ujar Karin dengan lemas. Sudah pasti karna kondisinya yang masih belum membaik, obatnya saja belum diminum karena ia tidak sadarkan diri sejak dua hari yang lalu.
Kazune yang merasa diacuhkan pun akhirnya angkat bicara dan duduk kembali di tempatnya tadi menunggu.
"Hey Kazusa, kau lihat Hanazono-san sedang sakit bukan? Jangan memeluknya terlalu keras," cibir Kazune sembari memutar bola matanya. Setelah mendengar kata-kata dari kakaknya itu Kazusa melepas pelukannya dari Karin dan menggembungkan pipinya seperti anak kecil. Karin sendiri masih tersenyum masam melihat kakak beradik yang mulai bertengkar itu.
"Ah kakak bilang saja kalau ingin memeluk Karin-chan! Kakak cemburu kan~!" Kazusa memasang wajah jahilnya. Kazune yang dikatakan seperti itu langsung saja menatap Kazusa dengan tatapan tajamnya.
"Aku tidak cemburu! Aku hanya memberitahumu kalau kau itu merepotkan dirinya!" bantah Kazune dengan wajah sedikit memerah. Entahlah karena malu atau marah. Tetapi Karin hanya bisa terdiam melihat mereka bertengkar, ia tidak berdaya untuk memisahkan mereka dengan kondisinya yang masih lemah.
"Huh! Kakak itu tidak bisa jujur ya, padahal adikmu yang satu ini selalu jujur, aneh sekali," cibir Kazusa sekali lagi membuat Kazune marah.
"K-Kau itu ya!—"
Brak!
Pintu kamar Karin dibanting sekali lagi oleh seseorang. Yang berada di ruangan pun seketika menengok ke arah pintu dan tampaklah dua pemuda yang memakai kemeja rapi.
"Um, apa kami mengganggu?" tanya pemuda berambut hitam pekat. Ya benar, Kuga Jin dan sang manajer sudah datang di rumah Karin.
Karin tersenyum simpul melihat kedatangan orang-orang dekatnya sejak lama, sudah lagi kini semuanya berkumpul di satu ruangan itu.
"Hihi, maafkan aku merepotkan kalian," ujar Karin sembari tertawa kecil. Sepertinya ia sudah melupakan hal tadi tentang Kazune dan dirinya. Mungkin lebih baik begitu untuk dirinya yang sedang sakit.
Lantas Jin membalas senyumannya dan ia meletakkan kantung plastik yang berisi obat-obat di meja pinggir ranjang untuk Karin. Lalu diikuti dengan Michi yang masuk dan menghampiri artisnya yang sedang berbaring lemah itu.
"Syukurlah kau sudah sadar Karin-chan, aku dengar kau jatuh sakit sejak dua hari kemarin dari Jin," ujar Michi sembari memampangkan senyum simpatinya. Karin mengangguk kecil memberi jawaban iya padanya.
"Ya begitulah. Demamku belum kunjung turun sampai saat ini," ujar Karin kembali tersenyum masam. Namun Michi yang sudah seperti keluarganya sendiri pun tidak segan-segan mengelus pucuk kepala Karin seperti seorang kakak. Karin yang merasakan hal itu pun segera tersenyum tulus padanya. Sedangkan Jin hanya tersenyum melihat keadaan Karin saat ini masih baik-baik saja.
.
.
Kembali pada Kazusa dan Kazune yang kini masih saling menatap dengan tajam. Jin yang melihat konflik batin diantara Kazusa dan Kazune itu menghela nafas lalu menghampiri Kazusa dan merangkulnya pelan. Kazune sebagai kakak dari Kazusa pun yang melihat Jin merangkul Kazusa dengan spontan mulutnya ternganga. O_O
'D-Dia merangkul adikku?!'
.
"Hey, bisakah kalian tidak bertengkar di depan orang sakit?" ujar Jin serius. Kazusa yang dirangkul oleh Jin hanya menggembungkan pipinya kesal lalu kembali diam.
Namun Kazune tidak bisa diam saja, amarahnya kini memuncak kembali, tiba-tiba saja ia langsung berjalan ke arah Jin dan tangannya sudah melayang menarik kerah kemeja Jin dengan kasar kemudian mendorongnya ke dinding di belakang Jin.
GREB! DUGH!
"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?! JANGAN SEENAKNYA MERANGKUL ADIKKU!"
Sentakkan Kazune itu membuat seisi ruangan terkejut. Kazusa terdorong oleh Kazune dan jatuh ke lantai tersungkur. Karin merasa sangat terkejut melihat Kazune yang bisa marah seperti itu pada Jin, Karin pun tanpa memikirkan kondisinya sendiri dengan spontan segera bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Kazusa yang terjatuh tadi. Sedangkan Michi diam memperhatikan pertengkaran Jin dan Kazune dengan was-was. Suasana ruangan itu menjadi tegang dan rasa takut menjalar pada gadis-gadis yang menonton pertengkaran antar pemuda itu.
"A-Ada apa denganmu ini Kujyo-kun?! Aku hanya merangkulnya sebag—"
"Jangan samakan adikku dengan fans-fans gilamu itu! KAU PIKIR KAU ITU SIAPA?!" sentak Kazune sembari menarik keras kerah kemeja Jin. Kazune juga mendorong Jin beberapa kali ke dinding membuatnya meringis. Kazusa dan Karin melihat mereka dengan rasa takut, ya benar, mereka sampai gemetar melihat kedua pemuda yang sedang dilanda amarah itu.
"Sudah! Kalian hentikan pertengkaran ini!" sentak Kazusa dengan keras. Namun para pemuda itu tidak mempedulikan Kazusa, mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing. Jin pun terbawa emosi saat mendengar kalimat Kazune dan mulai meninggikan nada bicaranya.
"AKU TIDAK PERNAH MENYAMAKAN KAZUSA DENGAN FANS-FANSKU! INGAT ITU KUJYO-KUN!" Jin menyentak balik Kazune tepat diwajahnya. Michi yang melihat keadaan semakin ruwet mulai berusaha memisahkan mereka dengan menjadi penengah.
"Hey! Kalian hentikan semua ini! Semua ini hanya salah paham!" ujar manajer Karin sembari menarik Kazune menjauh dari Jin. Tetapi hal itu tidak berlangsung mulus, Kazune memberontak dan kembali mendorong Jin ke dinding membuat Jin meringis kembali.
Dugh!
"AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!" Kazune sudah seperti akan memukul Jin dengan kepalan tangannya. Kazusa yang masih menatap mereka dengan horror pun tanpa pikir panjang berlari ke arah Jin dan menarik kakaknya menjauh dari Jin yang sudah hampir memukulnya.
"H-HENTIKAN KAK! Aku mohon! J-Jangan sakiti Jin-kun!" sentak Kazusa dengan bercucur air mata.
Kazune terkejut saat melihat adiknya membela Jin, bukan kakaknya sendiri. Lalu Michi kembali menarik Kazune menjauh dari Jin untuk mengecilkan kemungkinan mereka beradu hantam.
"Lepaskan aku Nishikiori-san! Aku harus memberinya pelajaran!" sentak Kazune. Tentu saja Michi tidak melepaskannya, ia tahu akan bagaimana jadinya bila ia melepaskan Kazune dan membiarkan dirinya memukul Jin. Hasilnya pasti tidak akan baik, sangat tidak baik.
Suasana masih tegang saat Kazune berusaha melepaskan dirinya dari Michi. Namun tiba-tiba saja suara Karin terdengar dan membuat mereka semua mengalihkan pandangan mereka terhadap Karin yang kini bersandar di dinding dekat pintu kamarnya.
"Aku tidak pernah berharap orang-orang
terdekatku bertengkar seperti ini,"
Suaranya memang lemas, tetapi semuanya dapat merasakan sesuatu hal yang menusuk hati mereka. Mereka melihat wajah Karin yang kini menatap mereka dengan wajah sendu, pipinya sedikit memerah karena demamnya, nafasnya tidak terlalu teratur. Ya, gadis yang kondisinya sedang sakit saat ini tidak hanya merasakan tubuhnya yang sedang sakit, namun hatinya pun sakit melihat orang-orang terdekatnya bertengkar seperti itu.
"K-Karin-chan.. Hiks.. Hiks…" Kazusa yang masih berdiri di depan Jin sesenggukkan menahan tangisnya. Amarah Kazune sedikit mereda sesaat mendengar suara Karin dan kalimatnya yang begitu dalam.
"Maaf Jin-kun, Michi-kun, bisakah kalian keluar sebentar? Aku ingin Kazune dan Kazusa tinggal disini," ujar Karin sembari membuka pintu kamarnya dengan sedikit kasar.
Awalnya Kazusa akan protes terhadap Karin, tetapi Jin yang berada di belakangnya menepuk pucuk kepala Kazusa dengan pelan dan memberinya senyuman kecil. Lantas Jin dan Michi pun keluar dari kamar menuruti perkataan Karin, pemilik kamar sekaligus rumah itu.
Sedangkan Kazune, ia terdiam dan menatap lantai kamar itu dengan tajam, ia berusaha meredam emosinya yang sedari tadi terpancing. Lalu setelah Jin dan Michi keluar, Karin menghampiri Kazune dan Kazusa yang kini berhadapan.
"Pertengkaran tidak akan membuahkan hasil untuk memecahkan persoalan. Lebih baik kalian berbicara baik-baik. Bila ada yang perlu kalian jelaskan, jelaskan sekarang juga," dengan nada sedikit lega Karin berbicara pada mereka.
Kazusa sudah berhenti menangis sesaat Karin angkat bicara. Lalu Kazune hanya diam mendengarkan Karin dengan seksama, ia pikir Karin benar juga, ia terlalu terbawa emosi dan melupakan bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.
"K-Kakak, aku…" ucapan Kazusa tersendat-sendat, rasa takutnya menyelimuti, sampai-sampai sepertinya ia tidak bisa mengatakan kata selanjutnya. Lantas ia melirik Karin yang kini menatapnya juga, lalu dengan gemetar Kazusa mengisyaratkan Karin untuk membantunya.
"K-Karin-chaan…" panggilan namanya membuat Karin mengerti apa maksud dari tatapan Kazusa tadi itu. Kazune yang melihat tingkah mereka sedikit terheran. Karin sendiri yang mendapat sinyal itu hanya menghela nafas kemudian segera memikirkan cara untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Hahh.. Baiklah baiklah, sebelumnya aku minta kau jangan marah dahulu setelah mendengar penjelasan ini, Kujyo-kun," ujar Karin menggantung. Karin sejenak menatap Kazusa yang masih ragu-ragu menatap kakaknya itu lalu kembali menatap Kazune.
"Aku hanya aku mengatakan intinya saja, setelah itu bisakah kalian keluar kamarku juga?" tanya Karin sebelum membeberkan penjelasannya itu. Kazune dan Kazusa mengangguk setuju pada Karin lalu mereka kembali mendengarkan Karin.
"Baik. Kalau begitu. Alasan mengapa Jin-kun marah saat kau berkata bahwa Jin-kun menyamakan Himeka-chan dengan fans-fansnya itu adalah karena… Himeka-chan adalah kekasihnya,"
"…"
"—/—"
"APA?!"
.
.
.
{Skip Time}
Panasnya terik matahari menyorot kakak beradik yang sedang berjalan pulang ke apartement mereka. Mereka tidak kembali bersama Suzune karena Kazusa berniat untuk kembali lagi ke rumah Karin hari itu. Sedangkan Kazune tidak berniat apa pun untuk kembali ke rumah Karin. Apalagi pikirannya sedang dilanda berbagai macam masalah.
"Kakak tidak marah lagi?" tanya Kazusa pelan. Kazune yang masih memakai seragam sekolahnya hanya bisa menghela nafas dan mengangguk kecil, walaupun dalam hatinya ia tidak setuju bila adiknya menjadi kekasih sang artis.
"Um, sebenarnya aku sudah lama kenal dengan Jin-kun. Sejak pertama aku bertemu dengan Karin-chan di perpustakaan itu, aku juga bertemu dengan Jin-kun yang sedang mengantarnya," ujar Kazusa menjelaskan awal dari semua kejadian itu.
Kazune mengangguk kembali dan mendengarkan penjelasan Kazusa.
"Kau tahu, Jin-kun itu tidak seperti yang kakak bayangkan. Mungkin image dirinya sebagai artis membuat Jin-kun seperti playboy. Tetapi bila sudah mengenal lama, aku bisa tahu bahwa Jin-kun adalah orang yang peduli. Sangat peduli pada orang-orang terdekatnya," jelas Kazusa sembari menampakkan semburat rona merah di pipinya.
Kazune yang melihat itu pun terkekeh kecil karena merasa terhibur. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan melihat adiknya yang kini sedang berada di masa remaja. Mau tidak mau dirinya harus memaklumi. Toh Kazune sendiri masih remaja, pasti ia lebih tahu karena ia lebih duluan terjun pada masa remaja itu sendiri.
"Haha, baiklah. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan artis itu bertindak macam-macam denganmu! Aku tidak akan tinggal diam!" ujar Kazune dengan sedikit sinis. Kazusa tertawa kecil merespon kakaknya. Pikirnya, Kazune itu adalah kakak yang ia kagumi dan menjadi pemotivasi dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Dan akhirnya satu masalah terpecahkan pada hari itu juga. Namun.. bagaimana dengan masalah yang satu lagi? Masalah yang timbul sebelum mereka semua datang ke kamar Karin? Sepertinya, masalah satu itu belum dapat terpecahkan oleh Kazune.
.
.
Di kediaman Hanazono, tepatnya di ruang tengah kini penghuni rumah tersebut sedang bersantai menikmati coklat hangat andalan yang Karin buat. Sebenarnya Jin dan Michi sudah melarang Karin untuk beranjak dari tempat tidur setelah minum obat, tetapi Karin memaksa karena ia bilang bahwa dirinya baik-baik saja. Kini mereka malah duduk-duduk di sofa ruang tengah sembari menonton TV. Mungkin karena tema pembicaraan sudah basi semua, maka mereka memilih untuk diam dan bersantai.
Sesaat Jin memindahkan stasiun TV dengan remotenya, sekilas wajah seseorang yang sangat familiar untuk mereka terpampang dan membuat semuanya berhenti berkedip.
"T-Tunggu. Pindahkan lagi pada acara yang sebelumnya!" seru Karin sedikit panik. Lantas Jin segera memindahkan stasiun TV itu lagi pada acara yang sebelumnya dan ternyata acara itu sedang membicarakan tentang gossip terbaru. Ya, infotainment bergerak begitu cepat setiap harinya. Salah satunya adalah gossip terbaru yang sangat membuat Karin ternganga dengan foto dirinya bersama pemuda 'berambut blonde'.
"-di berberapa tempat bersama Karin Hanazono! Pemuda yang belum diketahui identitasnya itu terlihat bersama dengan artis yang kini menghilang dari dunia infotainment! Apa mungkin alasannya ia berhenti dari dunia infotainment bersangkutan dengan sang pemuda? Siapakah pemuda i—"
Syut!
Tanpa berkata apa-apa lagi Jin segera mematikan TV itu. Hening, semuanya sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Karena acara TV itu akhirnya mood mereka hancur drastis. Wajah panik sudah tidak dapat disembunyikan lagi dan mereka saling bertatapan dengan penuh arti.
"S-Sejak kapan gosip ini menyebar, Jin-kun? Michi-kun?" tanya Karin masih dengan mata terbelalak. Sepertinya Jin dan Michi sudah mengetahui bahwa beredar gosip tentang Kazune bersama Karin. Namun mereka menutupinya dari Karin dan itu membuat Karin sangat sangat kesal.
"Karin-chan, kami tidak memberitahumu tentang gosip ini karena—"
"T-Tapi aku harus mengetahuinya! Aku tidak bisa membiarkan Kujyo-kun terlibat dalam infotainment karena kesalahanku! Apa kalian bisa duduk tenang menonton gosip itu?!" sentak Karin keluar kontrol. Karin beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan kesana kemari. Michi dan Jin terkejut melihat Karin yang biasanya duduk anggun dan santai itu kini panik dan kacau.
"Kenapa Kujyo-kun tidak mengatakan apa-apa tentang gosip itu?! Apa mungkin dia sudah didatangi oleh pihak infotainment dan diancam?! Apa mungkin—"
"Karin-chan! Tenanglah dahulu! Kau tahu kondisimu belum stabil kan?! Lebih baik kita pikirkan dengan otak dingin daripada panik tidak jelas," ujar Michi berusaha membuat Karin tenang.
"I-Ini semua salahku. Seharusnya aku lebih berhati-hati bila keluar rumah," ujar Karin menundukkan kepalanya merasa bersalah.
"Jangan salahkan dirimu terus-menerus Karin-chan. Lebih baik kita cari cara agar gosip itu tidak menyebar lebih luas lagi!" seru Jin sedikit terbawa emosi. Michi pun sebagai manager mereka angkat bicara.
"Tapi tidak semudah itu kita menghentikan gosip panas yang menyangkut tentang Karin-chan. Kau tahu sendiri bila Karin-chan adalah orang yang sedang dikejar-kejar oleh infotainment mana pun," ujar Michi sembari memijat dahinya yang mulai nyeri.
Semua pun terdiam. Karin kembali duduk di sofa dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa pusing. Pusing dengan apa yang harus ia perbuat. Masalah demi masalah datang tanpa henti. Sekarang yang menyangkut Kazune masalahnya semakin parah. Karin sangat bingung bagaimana mengatasi masalah ini.
"Jin-kun," bisik Karin memanggil Jin. Jin yang merasa terpanggil pun menilik kepada Karin. Wajah sendunya kini semakin terlihat jelas. Air mata bergenangan pada mata emerald Karin sudah siap untuk jatuh kapan saja.
"Bila aku beritahu Kujyo-kun untuk menjauh dariku.. a-apa ia akan menurutiku?" tanya Karin diikuti rintikkan air mata yang mulai berjatuhan.
Jin dan Michi pun terkejut melihat sang artis yang begitu sedih. Mereka tidak pernah melihat Karin begitu pernah meskipun ada masalah yang lebih besar yang sedang dihadapi Karin. Dan itu membuat mereka terdiam. Mereka tidak bisa menjawab apa-apa karena mereka pun tidak tahu jawaban itu, tidak tahu apa yang akan terjadi setelah Karin memberitahu Kazune untuk menjauhinya.
.
"Sekali lagi, aku membebanimu.. Kujyo-kun.."
.
.
{Skip time}
[Kazune POV]
Jam dinding kamarku sudah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Setelah mandi dan memakai seragam, aku langsung menuju dapur dan mengambil beberapa helai roti tawar, kemudian aku oles dengan selai coklat.
Drrrt drrrt drttt!
Handphoneku bergetar di meja makan. Aku segera melihatnya dan ternyata sms pagi hari dari seorang artis. Ya, Hanazono Karin. Sedikit ragu sebenarnyamembuka isi sms itu, karena aku tahu biasanya ia akan menghubungiku bila ada sesuatu yang ia rencanakan.
Lantas aku membuka sms itu dan muncul pesan yang tidak biasa dari Karin.
To : Kujyo Kazune
Bila ada waktu bisakah kau bertemu denganku di belakang sekolah sepulang sekolah?
From: Hanazono Karin
Aku pikir, tidak biasanya ia tidak menggunakan kata-kata yang ceria. Atau hanya perasaanku saja? Ah peduli sekali. Tapi sepulang sekolah? Mengapa tidak saat istrahat saja? Toh kelas kita kan sama.
To: Hanazono Karin
Baiklah. Tepat pulang sekolah aku tunggu kau di belakang sekolah.
From : Kujyo Kazune
Baru saja kulayangkan sms itu. Karin sudah mengirim pesan kembali. Namun isinya malah membatalkan janjinya.
To: Kujyo Kazune
Ah sepertinya aku harus membatalkan janji yang tadi Kujyo-kun! Maaf maaf! Kau tidak perlu datang ke belakang sekolah.
From: Hanazono Karin
Dengan begitu Karin tidak membalasku lagi. Aneh sekali, biasanya ia akan mengatakan hal yang tidak penting seperti "Maaf sekali lagi!^^" atau "Terimakasih Kujyo-kun!" atau… Eh, bukan, bukan maksudku aku mengetahui kebiasaannya! Aku tidak peduli! Aku hanya terbiasa dengannya yang mengsmsku! Atau sama saja?
Ah biarlah.
Selesai sarapan aku langsung pergi ke sekolah. Tanpa lupa membawa SLRku dengan menggantungkannya di leherku.
.
Sekolah masih terlihat sepi karena aku datang kepagian. Ah iya. Sebenarnya aku pergi pukul 5 pagi ini bukan karena aku menginginkannya. Tapi beberapa hari ini surat kaleng selalu memenuhi lokerku. Bukan ancaman, melainkan hanya permintaan bertemu saja. Tapi aku tidak mengetahui siapa pengirim surat itu. Pertama melihat surat itu, aku abaikan saja. Namun tiap hari, surat itu datang terus-menerus dan isinya pun sama.
−Kujyo Kazune. Ada yang ingin berbicara denganmu. Pagi-pagi sekali datanglah ke jalan xx dekat sekolahmu.—
NN.
Seperti itulah isi suratnya. NN singkatan dari No Name yang mengartikan pengirim tidak ingin memberitahu siapa namanya. Kupikir mungkin ini ulah murid sekolah, tapi mengapa tidak di dalam sekolah saja? Mengapa harus di jalan xx?
Karena rasa penasaran mulai muncul, akhirnya aku berniat untuk memenuhi keinginan pengirim surat itu. Aku datang ke jalan xx pagi-pagi sekali. Sesampainya di jalan xx, aku hanya bisa melihat dua orang berpakaian aneh dan mencurigakan. Satu orang memakai mantel tebal, topi dan syal. Satu orang lagi memakai mantel, topi, dan kacamata. Aku terdiam sembari menyimpan kedua tanganku di saku celanaku dan berpikir, apa mungkin mereka yang mengirim surat itu?
Tanpa butuh waktu lama, pertanyaanku pun terjawab sesaat dua orang itu melihatku dan langsung menghampiriku.
Dengan sedikit was-was kutatap mereka yang berpakaian aneh tadi.
"Anda yang bernama Kujyo Kazune benar?" tanya pria yg memakai kacamata. Aku mengangguk mengiyakan dengan pertanyaannya. Lantas ia pun segera menyodorkan tangannya padaku untuk berjabat tangan.
"Perkenalkan, nama saya Kirio dan ini Kirika dari ArtTV media. Maafkan kami memanggilmu kesini hanya dengan surat tanpa nama," ujar seseorang bernama Kirio itu.
Sebelumnya, aku sedikit terkejut mendengar mereka berasal dari ArtTV media. ArtTV media adalah salah satu acara TV yang digemari orang-orang tahun ini. Media itu selalu mengekspos informasi-informasi terkini tentang apapun. Hal seperti berita domestic, dunia, sampai gosip pun selalu ada dalam acara TV itu.
Aku menjabat tanganya dan memperkenalkan diriku juga pada mereka.
"Kujyo Kazune. Lalu ada perlu apa denganku?" tanyaku langsung pada inti masalah. Sesaat pertanyaanku terlontarkan, Kirio pun segera memampangkan senyumnya. Matanya memperlihatkan ketertarikan dengan pertanyaanku tadi dan sekarang aku bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
"Kami sudah melihat kedekatanmu dengan artis muda Hanazono Karin. Kau itu Kujyo Kazune sang fotografer muda terkenal dikalangan artis besar dan media. Pasti kau tahu sesuatu tentang Hanazono Karin bukan? Sudah lagi, kau terlihat selalu bersamanya akhir-akhir ini? Bukan begitu, Kujyo-san?" tanyanya dengan senyum yang sedikit menjengkelkan bagiku.
Begitu mendengar nama Karin disebutkan oleh dirinya, aku langsung teringatkan tentang gosip Karin berhenti bermain film. Apa mungkin mereka ingin menanyakan hal itu?
"Aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Sebaiknya kau tanya pada orang lain saja. Permisi." Sembari membalikkan tubuh aku berjalan pergi ke arah lain. Sejak dulu aku tidak menyukai orang-orang yang mengumbar aib seseorang, seperti mereka contohnya. Sebelum aku pergi jauh, cekikikan kecil terdengar dari belakangku dan satu pertanyaan dari orang tadi membuatku berhenti.
.
"Setidaknya bisakah kau memberitahu kami
alasannya mengapa Hanazono Karin sering_"
.
.
"Huh?"
.
.
{Skip time}
Aku berjalan di koridor sekolah dengan gontai. Masih saja sepi pagi ini. Seharusnya aku kembali ke rumah saja dahulu daripada sendiri begini di sekolah. Tapi, mengingat pertanyaan dari dua orang tadi yang tidak terdengar olehku itu membuatku penasaran, di ujung kalimatnya ia berbisik dan membuatku tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Lalu saat kutanya kembali, ia tidak menjawab malah segera pergi bersama temannya itu. Huh, aneh sekali.
Sudah beberapa langkah lagi menuju kelas, aku melihat seseorang berambut hitam pekat yang berlari menuju kelas dan segera menutup kembali pintuya dengan rapat. Aku sedikit bingung dengan apa yang ia lakukan, tetapi aku tahu bahwa orang itu adalah Jin Kuga. Mungkin ia sedang mencari sesuatu di kelasku? Lantas karena penasaran aku pun mengikutinya masuk ke dalam kelas.
"Pagi.."
.
.
[Jin POV]
−K-Kau tunggu saja di kelas! Jangan pergi kemana-mana! Aku akan segera kesana—
Tuut tuut tuut tuut…
Dengan cepat aku memasukkan handphoneku ke saku dan berlari keluar rumah dengan segera. Panggilan namaku terdengar dari arah rumah berkali-kali tapi aku menghiraukannya. Kazusa mungkin akan marah-marah padaku setelah ini karena aku menghiraukannya. Ya, benar. Aku sedang berada di rumah Karin untuk menjenguknya sebelum pergi sekolah, namun aku tidak mendapatkannya dan malah menerima telepon darinya.
Riing! Riiing! Riiing!Handphoneku berdering. Sudah pasti itu Kazusa. Namun hanya sekali ini saja maafkan aku karena tidak mengangkat telfonmu Kazusa. Aku harus segera ke sekolah sebelum keadaan semakin gawat.
"Aku beruntung sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah Karin-chan," ujarku sembari mengatur nafasku yang tidak beraturan setelah berlari sampai di depan gerbang sekolah. Kemudian aku segera masuk ke gedung sekolah dan menyusuri kelas demi kelas sampai akhirnya aku sampai di kelas Karin.
Brak! Blugh!
Aku masuk dan segera menutup pintu dengan rapat untuk berjaga-jaga bila ada orang yang melihat. Kau tahu mengapa? … Hmm itu rahasiaku.
"Hosh.. hosh.. hosh.. Karin-chan, sudah berapa kali aku katakan agar kau tidak pergi dari rumah?!" sentakku agak keras pada Karin yang kini hanya terduduk di bangkunya sembari menundukkan kepalanya. Wajahnya tidak terlihat olehku karena poninya yang menutupi sebagian wajahnya. Aku berjalan menghampiri Karin dan duduk di bangku yang berhadapan dengannya.
"Tidak ada waktu lagi Jin-kun. Aku harus mengatakannya sekarang juga." Karin memalingkan wajahnya. Tangannya dengan lemah menopang dagu sembari melihat ke arah luar sekolah. Kini raut wajahnya terlihat jelas.
Putih pucat, mata sendu, dan senyum.. palsu, terpampang pada wajah manisnya. Mengingat semua beban yang sedang dihadapi Karin membuatku terbawa suasana. Aku tidak bisa menahan rasa pilu hati yang selalu muncul ketika aku melihat wajah Karin yang seperti itu.
"Aku harap ini adalah hal terakhir yang membuatmu sedih. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini terus Karin-chan." Aku pun mengikutinya memperhatikan pemandangan luar sekolah yang sama sekali tidak menarik menurutku.
Sesaat sebelum aku berbicara kembali, aku mendengar seseorang yang membuka pintu kelas. Dan tidak kusangka bahwa saat itu akan datang dengan cepat sekali..
.
.
[Normal POV]
"Pagi.." sapaan terdengar dari arah pintu kelas mengejutkan dua orang artis yang tengah dalam perbincangan secara diam tadi. Wajah terkejut terpasang pada masing-masing artis tersebut. Ya, mereka baru saja membicarakan hal itu, dan orang yang menjadi objek pembicaraan pun datang tepat saat itu juga.
"Kujyo-kun.." namanya terucapkan begitu saja dari mulut Jin dengan ragu. Pikirannya kini penuh dengan hal-hal buruk. Ya, karena dirinya masih ragu akan keputusan Karin.
"Ternyata kau datang menemui Hanazono-san, hm?" tanya Kazune pada Jin yang masih sama-sama ragu untuk melihat tepat pada matanya.
"…"
"…"
"Jin-kun, bisakah kau keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Kujyo-kun hanya berdua," ujar Karin dengan serius. Raut wajahnya berubah sangat cepat dari awalnya ragu. Kini wajahnya sama sekali tidak menampakkan kesedihan, keraguan, atau pun marah. Hanya ekspresi datar dan serius yang kini terpampang pada wajahnya. Kazune yang sedang menuju bangkunya pun ikut terhenti mendengar Karin yang ingin berbicara dengannya hanya berdua.
"Baiklah." Lantas Jin menuruti perkataan Karin dengan keluar kelas meskipun dirinya tetap khawatir dengan Karin. Ia tahu saat ini adalah kesempatan yang pas untuk menyelesaikan salah satu masalah Karin. Akhirnya, dalam keheningan dua orang kembali berada di kelas namun dengan satu orang yang berbeda. Kazune pun dibuat bingung oleh tingkah dua artis yang mencurigakan itu.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Kazune sembari meletakkan SLRnya di meja. Awalnya Karin hanya diam, lalu ia berjalan mendekati Kazune dengan satu tangan seperti meminta sesuatu, telapak tangannya yang putih pucat itu menengadah menunggu sesuatu disimpan di atasnya.
"Aku ingin semua file foto yang sudah kau ambil selama ini." Dengan nada tanpa ragu Karin meminta suatu hal yang sangat aneh. Kazune semakin kebingungan dengan apa yang dikatakan Karin.
"A-Apa maksudmu?" tanyanya mulai terheran-heran. Ia merasakan suasana berubah menjadi dingin sesaat Jin keluar dari kelas. Lantas Karin mengambil SLRnya dari meja itu dan melihat-lihat foto yang sudah Kazune ambil selama ini.
Sejenak keheningan menyapa kembali karena Karin belum menjawabnya, namun keheningan itu terbuyarkan oleh helaan nafas dari arah Karin. Ia pun memejamkan matanya seolah ia tertidur. Kemudian ia membukanya kembali dengan aura diri yang berbeda, sangat berbeda seperti siang dan malam. Sorot mata yang dingin. Tidak ada sedikit pun perasaan yang tergambarkan pada bola mata emeraldnya. Kazune yang seketika melihat sirat matanya itu pun terkejut. Entah karena kemampuannya berkating sudahlah tinggi atau apa, tapi untuk merubah ekspresi wajah secepat itu bukanlah hal mudah, kecuali ekspresi itu adalah ekspresi dirinya yang asli.
"Belum jelaskah aku mengatakan bahwa aku menginginkan semua file foto yang ada pada SLR itu?" tanya Karin dengan diberi penekanan pada pertanyaannya sebelumnya.
"Tapi untuk apa kau menginginkannya?" tanya Kazune sedikit kesal. Karin pun mendecak dan memutar bola matanya malas. Saat itu juga Kazune terkejut dengan sikap Karin yang berubah.
"Hhh.. Kau tahu Kujyo-kun. Aku sudah lelah berakting di sekolah ini. Semua orang sangat mudah dibohongi dengan aktingku sejak pertama aku masuk sekolah ini. Dan alasanku meminta file foto itu karena aku ingin menghapus semua foto yang berhubungan dengan sekolah ini.."
"A-APA?! Kau tidak bisa—"
"Aku bisa karena aku yang memberimu SLR ini, bukan begitu Kujyo-kun? Lagi pula kau tidak pernah tertarik denganku, kau juga tidak pernah peduli denganku. Jadi kau tidak akan menyesal bila aku menghapusnya." Karin tertawa kecil membuat amarah Kazune melonjak. Bukan karena ia akan menghapus fotonya, tetapi karena nada Karin berbicara seolah-olah meremehkan dirinya.
Kini pikiran Kazune melayang dan bercampur aduk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Karin sangatlah berbeda dengan biasanya. Di matanya sekarang, gadis itu terlihat sangat dingin, tidak berekspresi, dan.. dirinya bukanlah Karin yang ia kenal. Bukan gadis yang selalu menebar senyum, bukan gadis yang senang menjahili dirinya, dan ia bukan gadis yang selalu menatapnya dengan mata penuh kehidupan.
"Jangan bercanda di saat seperti ini Hanazono-san. Aku tidak ingin dibodohi olehmu," dengan menahan amarahnya dan berusaha menghilangkan pikiran negatif tentang Karin, Kazune meraih SLR yang berada di tangan Karin untuk mengamankan file foto yang berada pada SLR itu. Namun Karin menariknya ke arah yang berlawanan dan Kazune terkejut dengan aksinya itu.
"Maaf mengecewakanmu, Kujyo-kun. Tapi aku ingin mengambil seluruh file foto yang ada di SLRmu ini. Olehku sendiri," ujarnya dengan menambahkan penjelasan. Ia tidak bercanda, pikir Kazune. Ia tidak akan berani mengambil SLRnya bila Karin adalah Karin yang sebelumnya ia kenal. Dan Karin yang saat ini berada di hadapannya sudah membuat emosinya meningkat.
Sudah terlihat wajah runyam Kazune yang kembali terpancing kesal karena Karin tiba-tiba merebut SLR miliknya itu. Akhirnya amarahnya pun membludak.
Brak!
"Bukannya aku tidak mau, tapi aku juga mempunyai file foto berharga disana! Jangan mengambil barang orang seenaknya!" sentak Kazune dengan meninggikan nada bicaranya. Gebrakannya pun terdengar mendengung di kelas itu. Pikirannya kini mulai terserang emosi. Ia mulai menganggap Karin adalah seseorang yang tidak tahu diri. Ya, dirinya sangat tidak mengenal sosok Karin saat ini.
Ia tatap Karin yang sama sekali tidak bergeming dengan sentakannya tadi. Ia hanya melihat gadis yang terpaku menatapnya dengan tatapan kosong. Seperti tidak ada kehidupan dalam bola matanya itu.
Namun tidak lama dari keheningan itu terjadi.. sebuah senyuman tipis terpampang pada wajah Karin.
.
"Oh, benarkah? Kalau begitu..
aku hanya tinggal menghancurkan SLR ini saja kan?"
"Huh?—"
Drak!
.
.
.
.
.
~To be continue~
~Review!~
a/n: Akhirnya selesai! Bukan selesai ceritanya ya, maksud author selesai chapter ini!^^ Bagaimana? Setelah sekian lama cerita ini baru di update lagi rasanya author sendiri rindu ya T^T Mungkin ada misstypo? Saran-saran? Kesan-kesan chapter ini? Apakah alurnya terlalu cepat? Pertanyaankah? Silahkan review~^^~
Balas review:
Kazuka Luna Dragneel : menyedihkan tidak ya? Mungkin akhirnya bisa dilihat di chapter terakhir jugaa~^^ terimakasih sudah review^^
Vii Violetta Anais : wahh terimakasih! Uwaa author berusaha supaya pairingnya Kazune sama Karin ya?^^ Maaf update lamaT^T
Jamilah : terimakasih sudah review^^
Andien Hanazono : benarkah? Chapter delapan sudah update yaa^^ penyakitnya? Hmm, jawabannya ada di chapter berikut-berikutnya yaa^^ terimakasih sudah review^^
Kujyo Angelita : Salam kenal juga^^ terimakasih sudah review yaa! Wah wah tebakannya bisa juga tuh^^ mungkin benar mungkin tidak sih, jawabannya ada di chapter berikut-berikutnya^^
fanTAOstics : wah terimakasih sudah review^^ mengharukan? Benarkah?!^^ kalau begitu author senang^^ hehe
karin0kazune : iyaaa betull, penyakitnya belum diketahui! Rencana Karin? Hmm, sudah dibuka sedikit sih rencananya di chapter ini^^ tapi masih ada rencana lain yang menunggu di chapter berikutnya!^^ terimakasih sudah review^^
guest : terimakasih sudah review^^ sudah dilanjut ya?
Mey-Mey Hinamori : uwaa terimakasih reviewnyaaa^^ untuk permintaan fic "Help me, Prince!" sudah ditampung ya^^ terimakasih sudah menyampaikann^^, fic itu akan di update ko, tenang saja^^ Auhtor terharuu T^T
KK LOVERS : terimakasih sudah review^^ banyak yang penasaran dengan penyakit Karin ya? Hehe author jahat sekali ya membuat yang lain menunggu jawaban XD Maaf updatenya lama ya^^
Hana Meida Namikaze : terimakasih sudah review^^ sudah di update ya?
Hina : umm terimakasih sudah review?^^"
Niza : uwaa maaf ya baru update T^T iya bisaa bisaa, harapannya ditampung yaa^^ sekarang sudah di update kan ya? Terimakasih sudah review^^
Suzune Kujyo : terimakasih sudah review^^ sudah di update ya^^
