a/n: Baiklahh! Author kembali secapt mungkin! Tapi mohon maaf bila ada miistypo karena tidak sempat di cek ulang^^. Yang sudah membaca terima kasih banyak! Yang sedang membaca juga! Yang sudah review! Yang sudah berniat untuk review tapi tidak jadi juga terima kasih banyak sudah berniat! hehe^^ (lupakan yang terkahir). Lalu untuk fic Help me, Prince! Belum sempat di update ya maafkan author T^T, tapi dalam waktu dekat akan di publish chap baru jadi mohon maaf bila lamaaaaa sekaliiiii updatenya T^T. Balas review di bagian bawah(^-^)


Selamat membaca~^^~

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Ma Dernière volonté*~


Drak!

.

.

Hantaman keras baru saja terdengar sesaat Karin menjatuhkan SLR yang ada ditangannya. Tentu saja jatuh dari ketinggian itu bersama gaya gravitasi dan gaya yang Karin beri untuk menjatuhkannya membuat SLR terbagi menjadi dua bagian. Bagian lensa dan tubuh SLR itu terpotong. Kazune pun ternganga dengan apa yang sudah terjadi. SLR yang sudah memakan banyak foto kini kandas sudah di hancurkan oleh seseorang yang memberinya SLR itu.

"Heh, kau lihat apa yang terjadi bukan? Itu salahmu sendiri, aku terpaksa melakukannya karena aku tahu kau tidak akan memberikannya padaku baik-baik, Kujyo-kun." Caranya memanggil nama sang pemuda sangat-sangat membuatnya jengkel, kini ditambah SLR yang ia hancurkan terbagi menjadi dua bagian yang hancur karena sang gadis.

"Kau.. Kau itu tidak tahu diri! Sudah kuduga bahwa semua artis sepertimu mempunyai sifat angkuh dan tidak tahu sopan santun! KAU TAHU APA YANG KAU SUDAH LAKUKAN HAH?!" tanya Kazune dengan amarah yang membara. Karin hanya mendecak dan memutar bola matanya malas lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Aku tidak peduli. Aku hanya ingin menghapusnya dan sekarang tugasku sudah selesai," ujar Karin sembari memalingkan wajahnya. Kazune sudah sangat geremat ingin membalas kekesalannya itu, tetapi ia masih ingat bahwa Karin adalah perempuan. Ia tidak akan membiarkan dirinya memukul seorang perempuan dan memperpanjang urusannya dengan gadis yang sudah membuatnya benci dengan dirinya. Sangat benci. Dan perasaannya itu membuat dirinya mengeluarkan kata-kata yang amat pedas.

"Sebelum aku memukulmu lebih baik kau pergi dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi! SELAMANYA!"

Karin yang mendengarnya pun segera pergi dari kelas tanpa berbicara apapun lagi dan membanting pintu kelas dengan keras. Hening kembali melanda kelas itu dan sesaat Karin pergi, Kazune tak kuasa untuk menahan amarahnya, ia menjatuhkan dirinya dan berlutut di depan SLR yang sudah hancur itu. Pikirannya penuh dengan segala memori-memori dirinya dengan SLR itu, dan.. dengan Karin.

"Sial..!"

Bugh!

Lagi-lagi ia meninju lantai yang tidak bersalah sampai tangannya memerah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia merasa kecewa, kesal, merasa dikhianati oleh pembohong besar. Tapi tidak hanya itu, dalam hatinya ia mempunyai suatu hal yang tidak bisa terungkap oleh dirinya sendiri, yaitu rasa sakit hati yang mendalam seakan ia kehilangan sesuatu.

"Agh! Ini semua karena dia! Tidak seharusnya aku percaya pada artis penjilat seperti dirinya! Sial!" dan suara hantaman pun terus terdengar di kelas itu meskipun tangannya sudah sangat sakit.

Namun sayang sekali.. sang pemuda yang meluapkan amarahnya dengan meninju lantai itu tidak mengetahui bahwa di bagian pintu kelas yang lain, seorang gadis tengah terduduk lesu sembari bersandar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya yang terbelalak dengan semua apa yang sang pemuda ucapkan membuat hatinya serasa teremas sampai pecah, tubuhnya pun sampai gemetaran menahan luapan air mata yang kini terus membanjiri wajahnya, menahan dirinya agar tidak menangis histeris menyesali apa yang telah dirinya perbuat. Dan ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

"Maaf..! M-Maafkan aku.. karena menjadi

s-seseorang yang k-kau benci..!"

.

.

.


[Himeka POV]

Pagi ini aku merasa sangat sepi. Entah mengapa, mungkin karena aku tidak pergi ke sekolah bersama Kazune? Tadi pagi aku mengetuk pintunya beberapa kali tapi ia tidak keluar juga. Kupikir ia sudah pergi duluan ke sekolah. Lalu aku pergi sendiri ke sekolah. Kini jalanan pun terlihat sepi untukku, atau hanya perasaanku saja aku pun tidak tahu.

"Himeka-chan!" seruan namaku terdengar dari samping kananku dan terlihatlah Miyon dan Yuuki yang sedang berlari menuju tempatku berdiri. Aku tersenyum lebar melihat mereka.

"Pagi Miyon-chan! Yuuki-kun!" sapaku pada mereka. Mereka pun membalasku dan akhirnya kami berjalan bersama ke sekolah. Di depan sekolah sudah terlihat ramai seperti biasa. Banyak murid yang berlarian mengejar temannya yang sudah di dalam gedung dan ada juga yang santai-santai saja.

"Himeka-chan! Himeka-chan!" lagi-lagi namaku dipanggil dengan keras sampai beberapa orang disekitarku melihat sang pemanggil dengan heran. Aku pun segera melihat siapa yang memanggilku dan ternyata ia teman kelasku yang duduk di sampingku.

"Ada apa Misa-chan?" tanyaku bingung.

"A-Ano.. K-Kujyo-kun hari ini tidak bersikap seperti biasanya. Ia terlihat sedang murung, sangat tidak mood sepertinya. Apa kau tahu sesuatu?" tanyanya dengan khawatir. Aku kemudian menggelengkan kepalaku beberapa kali karena memang benar aku tidak tahu apa-apa.

"Aku tidak tahu. Mungkin ia lupa membawa kameranya dan menjadi tidak mood? Bisa saja bukan?" tanyaku mencoba menebak. Tapi sepertinya ia tidak bisa berhenti khawatir dan memasang wajahnya itu seperti ketakutan. Hm?

"Ada apa?" tanyaku memastikan. Miyon dan Yuuki pun sama-sama heran dengan apa yang Misa katakan.

"A-Ah, lebih baik kau lihat keadaannya sekarang juga Himeka-chan, kami khawatir! Aku tidak ingin Kujyo-kun seperti itu terus!" pintanya dengan memelas. Aku pun semakin penasaran dengan keadaan Kazune yang dimaksudkan Misa, dan sekarang aku jadi tahu bahwa Misa adalah salah satu fans dari sepupuku itu.. (-_-')

"Baiklah, aku akan segera ke kelas. Terima kasih sudah memberitahuku Misa-chan!" seruku sembari bergegas menuju kelas bersama Miyon dan Yuuki di belakangku. Aku pikir, apa yang telah membuat Kazune murung? Setahuku, sejak masuk tingkat SMP dan SMA ia tidak pernah badmood sampai membuat orang-orang khawatir.

Lantas, sesampainya di kelas aku segera mencari sosok Kazune. Sebelum menemukannya, Miyon menarik tanganku dan membuatku menatapnya. Ternyata ia menunjuk sosok pemuda berambut blonde yang tengah berdiam menundukkan kepalanya. Wow, Misa tidak berbohong. Aku bisa merasakan sesuatu yang janggal, aku bisa merasakan aura yang tidak enak dari arah Kazune.

"Umh, biarkan aku bicara padanya," ujarku pada Miyon dan Yuuki yang memasang wajah khawatir juga. Anggukan pun mereka lakukan karena mengerti dengan situasi saat ini.

Lalu aku berjalan menghampiri Kazune dan berjaga-jaga agar tidak mengejutkannya karena ia akan lebih kesal bila aku kagetkan kali ini. Aku meletakkan tanganku pada mejanya agar mengalihkan perhatiannya dari entah apa yang ia lihat di luar jendela sekolah.

"Kazune? Apa.. kau baik-baik saja?" tanyaku langsung pada pertanyaan inti. Kazune yang mendengar pertanyaan itu langsung mendecak kesal dan menghindari menatapku. Pikirku, sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi.

"Hey, mungkin kau bisa berbagi cerita pada sepupumu ini? Aku tidak ingin melihatmu murung seperti itu, Kazune-kun," ujarku sedikit bercanda. Tapi sepertinya cara itu tidak berhasil. Kazune pun malah menatapku dengan tajam dan saat itulah aku bisa merasakan tubuhku merinding. Jantung berdetak lebih kencang dari biasanya, dan itu dikarenakan raut wajah Kazune yang belum pernah ia perlihatkan kepadaku. Bisa kukatakan, aku takut dengan ekspresi wajahnya yang sedang marah itu.

"Kau bisa tanya pada aktor terkenal di kelas ini."

.

.

.

[Normal POV]

Jam dinding di lab Sakuragaoka Highschool sudah menunjukkan pukul sepuluh. Sudah dua pelajaran terlewati tanpa sosok artis yang sedari pagi ditunggu oleh Himeka. Kazune sendiri sudah mulai bertindak seperti biasa, namun masih terlihat jelas bahwa ia kesal terhadap artis yang tidak masuk sekolah itu.

"Semuanya mohon perhatian sebentar. Setelah pelajaran ini selesai, guru-guru akan mengadakan rapat, karena hal itu kalian diperbolehkan pulang lebih cepat."

"YEEEE!" mendengar berita baik itu seluruh murid bergemuruh membuat lab itu gempar. Guru lab yang baru saja selesai bicara itu langsung tersenyum masam melihat tingkah laku murid-muridnya. Ia bisa ingat masa-masa remajanya dulu, saat ia senang bila sekolah dipulangkan lebih cepat dari biasanya.

"Baiklah baiklah. Aku akan memberi kalian hadiah lagi dengan tidak ada PR untuk dibawa pulang. Jadi sesaat bel berbunyi−"

RIIIING!

"TERIMAKASIH SENSEI!" dengan segera murid-murid berhamburan keluar kelas hingga tersisa dirinya dan beberapa murid teladannya saja.

"…−kalian boleh pulang… Hmm.. Baiklah, sama-sama."

Dengan begitu sang guru pun keluar kelas bersama murid yang tersisa. Diantaranya, Himeka, Kazune, Miyon, dan Yuuki.

"Kya~ Aku tidak menyangka bahwa sekolah ini bisa memulangkan kita setengah hari! Himeka-chan! Kita pergi ke suatu tempat yuk!" seru Miyon sembari melompat-lompat kecil. Himeka mengangguk senang dengan ide yang Miyon katakan. Namun kemudian ia teringatkan bahwa sepupunya itu sedang dalam kondisi.. unmood sekali.

Himeka melirik Kazune yang sedang bersama Yuuki membereskan barang-barangnya untuk di bawa pulang. Lantas Himeka segera menghampiri mereka dan mengajaknya pergi bersama.

"Hey~ Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dahulu sebelum pulang? Kali-kali kita bersenang-senang bisa bukan?!" serunya dengan bersemangat. Yuuki langsung setuju dengan apa yang dikatakan Himeka, tapi pemuda di sampingnya itu sepertinya keberatan untuk pergi-pergi saat ini. Wajahnya saja sudah seakan berbicara 'aku tidak mau'.

"Maaf Himeka, aku harus pulang cepat hari ini, ada yang harus kulakukan," jawab Kazune sembari berjalan pergi meninggalkan ruang lab. Mereka terdiam mendengar jawaban yang.. cukup dingin untuk seorang Kazune. Sampai Kazune tak terlihat di kelas pun mereka masih diam dalam keheningan itu.

"Um, lalu bagaimana?"

.

.


Sementara itu.. Di kediaman Hanazono.

Tok tok tok!

Ketukan pintu kamar yang terbuka terdengar. Seorang gadis yang sedang bermain dengan anak kecil itu pun menoleh pada sumber suara dan didapatkannya sosok gadis berambut blonde panjang sedang membawa nampan dengan gelas berisi air putih dan beberapa bungkus obat.

"Hey hey. Kau sengaja ya menyembunyikan— ah bukan, membuangnya di tong sampah huh?!" tanya Kazusa dengan senyum sinisnya. Karin sedikit tersentak dengan kata-kata yang ditekankan pada kalimatnya itu. Suzune yang berada di sampingnya pun hanya tertawa kecil melihat dua gadis manis itu. Dengan perlahan Karin berdiri dari karpet bercorak pink, biru, dan putih itu.

"Ahh, tidak Kazusa-chan! Kau itu salah sangka! Obat itu sudah expire sejak minggu yang lalu~" ujar Karin sembari melihat-lihat ke lantai yang sebenarnya tidak menarik itu. Tapi alasan itu sepertinya dapat ditangkas oleh Kazusa, bahkan segita siku-siku sudah bermunculan di wajah Kazusa, menandakan bahwa banyak sekali makian yang akan keluar dari mulutnya. Dan benar saja..

"Karin… OBAT INI BARU DIBELI KEMARIN TIDAK MUNGKIN EXPIRE SECEPAT ITU!"

"Iya maaf maaf.." dengan wajah memelasnya seperti anak kucing, Kazusa pun tidak bisa bertindak lebih lanjut. Ia kesal? Iya tentu saja. Tapi wajah yang imut seperti itu tidak akan pernah bisa membuat Kazusa marah-marah. Dan akhirnya hanya helaan napas yang keluar dari mulut sang Kazusa.

"Hahhh. Karin-chan, aku disini bukan hanya untuk berlibur saja, aku juga sedang mengerjakan tugas sekolahku untuk merawat satu orang pasien saat liburan. Jadi kumohon kau mau membantuku bukan?" pinta Kazusa sembari meletakkan nampan itu di depan Karin yang sudah duduk (saat Karin berpura-pura sedih seperti anak kucing) di karpet itu. Suzune senang-senang saja melihat dua gadis yang sedang berbincang-bincang itu. Setelah meminum obat yang— emm.. cukup banyak, Karin berniat untuk bermain dengan Suzune kembali, tapi saat ia melihat wajah Suzune yang sedang bermain dengan Kazusa, mengingatkan Karin pada seseorang, wajah Suzune bisa dibilang sangat mirip dengan.. Kazune. Secara, Suzune adalah adiknya, mana mungkin tidak mirip?

Dengan seketika pandangannya mendung, sayup-sayup memori kejadian di kelas pagi itu terlintas kembali dalam pikirannya. Ia bisa merasakan kembali betapa sakit hatinya mendengar semua ucapan Kazune. Dan karena itu juga ia tidak masuk sekolah hari ini.

"—rin-chan? Karin-chaaan? Kau mendengarkanku tidak?!" sentak Kazusa membuyarkan pikiran Karin. Karin yang sedikit terkejut pun menatap Kazusa dengan nanar. Ia tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya kali ini, entahlah ia pun tidak tahu mengapa. Ia sangat merasa bersalah, ia sangat sangat menyesali semua yang telah ia lakukan.

"Umm, maaf aku tidak mendengarmu. Eh, Kazusa-chan.. aku ingin mengajak Suzune-kun ke taman, kau ikut tidak?" tanya Karin tiba-tiba penuh harap, namun tersirat air wajah yang sendu darinya, dan Kazusa bisa merasakan hal itu.

Kazusa terdiam memikirkan tawaran Karin, tapi sepertinya jadwalnya hari ini padat karena ada acara dengan Jin. Kazusa menoleh pada Karin dan Suzune yang polos-polos saja senang di ajak ke taman oleh Karin. Akhirnya keputusannya pun sudah bulat.

"Hmm, aku tidak bisa Karin-chan. Suzune saja tidak apa-apa bukan? Lagi pula Suzune belum pernah ke taman dekat sekolah Karin-chan bukaan~?" tanya Kazusa pada Suzune yang matanya semakin berbinar-binar. Lalu anggukan kecil pun dilakukan oleh Suzune dan dengan begitu Karin tersenyum simpul.

"Baiklah. Untuk jaga-jaga kau bawa handphoneku saja ya Suzune-kun? Bila kau terpisah dariku kau bisa telepon Kazusa-chan oke? Seperti biasaa~" ujar Karin memastikan. Suzune mengangguk kembali dan langsung memasukkan handphone Karin ke tas kecil yang ia bawa.

"Ayo!" seru Karin sembari berjalan bersama Suzune keluar rumah. Kazusa mengantar mereka ke depan rumah dan melambaikan tangannya pada mereka.

"Jam 12 kau harus sudah pulang Karin-chan!" seru Kazusa dari pintu rumah Karin. Karin dan Suzune yang dipangku oleh Karin melambaikan tangannya pada Kazusa, sedangkan seruan Kazusa tadi tidak didengar oleh Karin, sengaja. Kazusa hanya menghela napas melihat teman artisnya yang kini sudah tidak terlihat sosoknya.

Lantas Kazusa kembali ke dalam rumah dan mengambil handphonenya yang berada di ruang tamu. Terlihat sinar terang di layar handphone miliknya dan nama Jin menandakan bahwa Jin sedang meneleponnya.

"Ack! Jin-kun!" dengans segera ia angkat telepon itu dan mendekatkannya ke telinganya.

-Kazusa-chan? Kenapa tidak angkat teleponmu sejak tadi?-

-Uhh, maaf tadi aku sedang ke depan rumah, ada apa kau menelepon di jam sekolah?-

-Sekolah dipulangkan setengah hari karena rapat guru, jadi disinilah aku, di depan rumah Karin-chan-

-EH? Kenapa tidak bilang dari tadi?! Tunggu sebentar ya! Aku akan keluar!-

Tuuut tuuut tuuut tuuut…

Mengetahui Jin berada di depan rumah Karin, Kazusa dengan segera pergi ke depan kembali dan mendapatkan sosok Jin disana.

"Hey, dimana Karin-chan?" tanya Jin sembari masuk ke dalam rumah Karin yang sudah serasa rumah milik bersama itu. Kazusa kemudian menutup pintu setelah membukakannya untuk Jin.

"Ah baru saja Karin-chan pergi dengan Suzune ke taman dekat sekolahnya, kenapa aku tidak melihatmu ya di luar tadi? Eh, memang ada apa mencari Karin-chan?" tanya Kazusa sedikit penasaran. Jin yang sudah masuk ke dalam langsung duduk di sofa dan mengambil sebuah jeruk yang tersedia di meja ruang tamu.

"Hmm, aku sedikit khawatir dengannya karena tadi pagi… aktingnya sudah melewati batas kemampuannya," ujar Jin sembari menatap jeruk yang belum selesai ia kupas, ia berhenti karena suatu hal yang mengganggu dalam pikirannya. Kazusa berdiri di dekat sofa itu sembari berpikir, ia tidak terlalu mengerti apa yang Jin bicarakan, tapi yang ia tangkap dari nadanya bicara, itu adalah hal buruk. Kazusa mungkin melihat tingkah Karin sejak tadi pagi tidak terlalu ceria, ia lebih terlihat diam dan melamun. Tapi Kazusa tidak tahu apa yang menyebabkan Karin seperti itu.

Jin yang menyadari hal itu pun segera menjelaskannya pada Kazusa dengan kata-kata yang lebih simpel.

"Kau bisa bayangkan bila kau menjadi aktor, kau mendapat peran yang membenci seseorang di dunia nyata, dan seseorang itu adalah seseorang yang dekat denganmu. Orang itu tidak tahu bahwa kau sedang berakting. Kau mengatakan padanya bahwa kau membenci dirinya, kau hanya memanfaatkan temanmu itu, dan akhirnya temanmu itu memakimu karena kau sudah membuat dirinya benci denganmu. Apa yang akan kau rasakan?"

Pertanyaan yang sangat mendalam. Kazusa sedikit tercengang mendengar runtuyan kejadian itu, namun sepertinya Kazusa masih belum menangkap semua yang dimaksudkan oleh Jin karena ia menjawab kembali dengan santai.

"Hmm, aku akan merasa kasihan pada yang sudah di bohongi itu, kau tahu kan akting sama saja dengan berbohong? Bila aku menjadi temannya itu, aku akan merasa dibohongi penipu ulum, benar?" tanya Kazusa memastikan jawabannya benar atau salah.

Jin termenung mendengar jawaban dari sang gadis. Memang benar, ia pun merasa begitu, tetapi.. ada hal lain yang tidak Kazusa ketahui.

"Tapi apa kau tahu isi hati dari seseorang yang berakting itu?" tanya Jin sembari menundukkan kepalanya dan memijat kepalanya yang sedikit pusing itu. Kazusa yang melihatnya khawatir dan duduk di sofa sampingnya melihat keadaannya. Ia belum pernah melihat Jin seperti itu, tidak pernah sang pemuda di sampingnya itu memperlihatkan ekspresi yang terlihat kacau seperti itu.

"U-Uh, aku tidak tahu," jawab Kazusa masih sedikit khawatir dengan Jin dan penasaran apa yang akan dikatakan selanjutnya. Lantas, penjelasan yang ditunggu pun keluar dari mulut Jin, namun disertai dengan wajah yang sendu, begitu pilu melihatnya, terlihat di sudut mata emasnya itu air bergeleningan dan membuat Kazusa terkejut. Ia menangis karena suatu hal.

"J-Jin-ku—"

"Seseorang yang mendapat peran itu akan lebih menderita dan tersakiti oleh semua ucapan yang tidak ingin ia katakan sebenarnya, ia akan merasa.. bersalah, sangat bersalah telah membohongi teman dekatnya itu. Bahkan rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini, karena waktu tidak akan pernah bisa diputar… dan ia tidak mempunyai pilihan lain selain membawa beban itu dalam hatinya yang sudah rapuh…"

Kazusa yang mendengarnya sampai merinding, ia akhirnya bisa merasakan perasaan sang pemeran yang dijelaskan oleh Jin. Pikirnya, 'Sungguh naas nasib orang itu dan… eh— tunggu?! Bukannya kita sedang berbicara tentang Karin-chan?!'

"E-Eh! Jin-kun, jangan berkata bahwa… orang yang berperan itu… adalah Karin-..chan?" tanya Kazusa dengan tersendat-sendat. Lirikkan mata Jin yang masih bergenang air mata dilanjutkan dengan setetes air mata yang mengalir melewati lekukan pipinya. Saat itu juga Kazusa merasakan debaran yang sangat kencang dari jantungnya. Lidahnya seakan pahit pasi, tenggorokannya kering dan sakit. Perasaannya kini menjadi sedih, hatinya pilu, ia bisa merasakan perasaan Karin saat ini. Mungkin bila ia adalah Karin, ia tidak akan sekuat Karin yang masih bisa mengajak Suzune bermain ke taman. Mungkin, ia tidak akan sanggup untuk menjalankan rutinitas sehari-hari, ia hanya akan termenung di kamar, membaringkan tubuh dan meluapkan semua penyesalannya. Ia akan tidak bisa sesabar Karin, dan ia akan lebih menderita bila memendam semua perasaan itu… sendiri.

"T-Tidak mungkin…" dengan reflek ia menutup mulut yang bergetar itu dengan kedua tangannya. Dengan cepat air matanya bergenang dan mengalir terus menerus membanjiri wajahnya. Tubuhnya bergetar menahan perasaan sedihnya, ia tidak bisa membayangkan sama sekali bila ia menjadi Karin.

"K-Kau tahu tentang ini sebelum Karin-chan bertindak seperti itu bukan? M-mengapa tidak kau larang saja?" tanya Kazusa heran. Jin pun terdiam mendengar pertanyaan yang memang berat didengarnya. Setelah agak lama ia terdiam, ia tersenyum tipis dan menatap Kazusa dengan raut wajahnya yang tidak dapat dijelaskan, seperti mengatakan 'itulah yang terbaik'

"Aku hanya ingin menghargai keputusan yang ia ambil,

karena tak ada seorang pun yang berhak untuk menentukan jalan hidupnya…"

.

.

.


Di lain tempat, seorang gadis tengah berjalan bersama anak kecil di gandengan tangannya. Taman yang menjadi tempat tujuannya kini sudah terlihat dari tempatnya berada membuat anak kecil itu berseru.

"Karin-chan! Itukah taman yang kau maksud?!" dengan semangat Suzune berseru pada gadis yang lebih tua darinya itu. Karin tersenyum lalu menganggukkan kepalanya menandakan bahwa ia benar.

"Ayo! Kau bisa bertemu dengan teman-teman baru di sana!" seru Karin sembari mengajak Suzune berlari ke arah taman. Sesampainya di depan taman, terlihat banyak anak-anak seumuran Suzune yang sedang bermain bersama dan pendamping mereka di tempat yang dekat memperhatikan mereka. Suzune langsung melebarkan senyumannya dan menatap Karin penuh harap.

"Hm? Ayo?! Tunggu apa lagi!" seru Karin lalu menghampiri anak-anak kecil itu bersama Suzune di belakangnya yang masih malu-malu kucing. Namun tidak disangka, saat Karin menampakkan sosoknya pada anak-anak kecil itu, mereka tidak terkejut seperti melihat artis berkeliaran, namun mereka segera menyambut kedatangannya seperti menyambut kakak mereka.

"OOH! ONEE-CHAAAN! Kenapa baru datang sekarang lagi?!" "Onee-chaan! Kami kesepian karena tidak ada dirimu!" "Ayo main one-chaaan!"

Dan teriakan anak kecil itu membuat Karin tertawa kecil. Ya, artis manis itu sering datang ke taman saat ia mempunyai waktu luang, ia mempunyai aktivitas selain dari pekerjaannya, yaitu berbagi. Berbagi hal apapun yang ia mampu. Senyuman adalah salah satu hal yang dapat membuat orang lain merasa nyaman bila melihat dan Karin membagi waktunya dengan anak-anak kecil itu untuk bermain bersama.

Ia lantas menarik Suzune dari belakangnya dan memperkenalkan Suzune pada teman-teman kecil Karin itu.

"Hai kalian! Kakak punya teman baru disini! Kalian mau kan bermain dengan teman baru kakak ini?" tanya Karin sembari membungkukkan badannya untuk menyesuaikan tingginya dengan anak-anak kecil itu. Suzune yang tadi merasa malu-malu kini sudah mulai biasa saja karena melihat teman-temannya tersenyum kepadanya.

"TENTU SAJAAAA ONEE-CHAAAAN!" seru mereka dan dengan berakhirnya kalimat itu Suzune langsung ditarik bermain oleh mereka. Karin pun merasa lega karena mereka mau bermain dengan Suzune. Apa jadinya kalau mereka tidak mau?

Lalu Karin menghampiri para pendamping anak-anak itu yang merupakan kenalan Karin juga. Diantaranya ada yang sebaya dengan Karin, tetapi banyaknya adalah orangtuanya.

"Hey Karin-chan! Lama tidak bertemu ya?" "Karin-chan! Kudengar kau mempunyai gandengan ya~!" "Bagaiman kabarmu?! Sibuk sekali ya sepertinyaa?"

Karin yang mendapat lontar pertanyaan itu hanya tersenyum masam. Ia tidak bermaksud untuk tidak menjawabnya, tapi karena itu bisa menjadi pembicaraan yang panjang maka Karin menangkis semua pertanyaan itu.

"Hehe, maafkan aku jarang datang lagi. Umh, bisakah aku menitipkan teman kecilku sebentar? Aku harus pergi ke sekolah di sana, bolehkah?" tanya Karin pada mereka. Tentu saja permintaan artis tidak mungkin ditolak oleh mereka. Lantas Karin segera pergi setelah mendapat jawaban dari mereka. Ia berlari ke sekolah dengan tergesa-gesa, menyusuri lorong sekolah yang sepi, sampai akhirnya ia sampai di depan kelasnya. Ia tidak heran bila sekolahnya sepi karena ia tahu bahwa hari ini sekolah akan dipulangkan setengah hari.

Setelah berdiam di depan kelas cukup lama untuk memulihkan napasnya setelah berlari, ia masuk ke dalam dan melihat isi kelas tersebut. Tidak ada seorang pun disana kecuali… SLR yang berada di meja paling ujung di depan kelas. Meja Kazune.

"..." melihat SLR itu mengingatkan kembali pada Kazune. Ia berpikir, mengapa dirinya begitu merasa sakit? Ia sudah professional dalam hal akting, tetapi kenapa kali ini ia sangat-sangat menyesal?

Kakinya berjalan membawa dirinya kepada SLR yang terbagi dua itu. Ia berdiri di samping meja itu dan mengambil SLR yang berada di depannya. 'Ia meninggalkannya di kelas.. dan ia pasti sudah tidak membutuhkan SLR ini lagi..'

Tanpa terasa, tetesan air mata mengalir dan membasahi meja itu. Ia tidak menyangka bahwa keputusan yang ia ambil akan menjadi suatu hal yang sangat membebani Karin. Tetapi bila ia tidak lakukan itu, Kazune pasti akan terus dikejar oleh wartawan-wartawan. Karin terus berpikir, apa yang akan terjadi bila ia tidak mengatakan semua itu padanya? Apakah hubungannya dengan Kazune akan berjalan seperti sebelumnya? Apakah ia tidak akan merasakan hal semacam ini?

Lemas menjulur pada tubuhnya dan akhirnya ia jatuh terduduk memegangi SLR yang penuh dengan kenangan dirinya bersama Kazune.

"Tidak. Kau harus kuat Karin.. bila kau tidak merasakan hal ini sekarang, dialah yang akan merasakan ini.. pada saatnya." Kalimat itu keluar dari mulutnya namun wajahnya tetap bersimbah air mata. Sejak dahulu ia menjadi artis, ia akan selalu menyemangati dirinya sendiri dengan ucapannya, karena cobaan yang datang selalu membuat dirinya lebih tegar lagi. Sama halnya dengan cobaan yang kini ia hadapi.

Tok tok! Ketukan pintu kelas membuat Karin sedikit terkejut. Namun ia lebih terkejut lagi saat ia melihat siapa yang datang ke kelasnya itu.

"Ahh akhirnya aku temukan dirimu Hanazono Karin. Apakah mungkin saat ini adalah hal yang tepat untuk

kita membicarakan suatu hal tentang dirimu, hm?"

.

.

[Kazune POV]

Sejak kembali ke apartement aku tidak ada nafsu makan, kini sudah jam dua siang dan aku masih belum lapar. Sudah lagi gadis yang sedang berada di apartementku saat ini menyuruh-nyuruhku untuk beraktivitas, contohnya ia menyuruhku untuk membeli makan siang di luar. Aku tahu gadis yang merupakan sepupuku itu khawatir karena aku belum makan siang dan tidak ingin makan siang sejak tadi. Tapi aku sedang tidak ingin pergi keluar juga.

"Kazune-kun. Kalau tidak mau makan, bagaimana kalau kita ke rumah Karin-chan? Hari ini Karin-chan tidak masuk sekolah jadi aku khawatir dengannya, sekalian melihat keadaan Kazusa dan Suzune bukan?" tawar Himeka. Saat kudengar nama Karin, emosiku selalu melonjak dan membuatku tidak bisa berpikir tenang.

"Bisakah kita memanggil Kazusa dan Suzune saja untuk datang ke sini daripada harus pergi ke rumahnya?" tanyaku sembari meredam emosi. Himeka yang mendengar respon dariku hanya terdiam, ia menatapku dalam diam tanpa berbicara apa-apa dan membuatku salah tingkah juga. Ia tidak berbicara apa-apa tapi tatapan matanya tersorot padaku dengan jelas.

"H-Himeka?"

"Kazune-kun, bila kau ada masalah dengan Karin-chan, bisakah kau menyelesaikannya segera? Akhir-akhir ini aku selalu merasakan firasat buruk, terutama tentang Karin-chan," ujar Himeka dengan nada khawatir. Aku terdiam memikirkan kata-katanya. Satu hal yang aku ketahui tentang Himeka adalah sejak kecil terkadang ia bisa merasakan suatu hal yang akan terjadi. Baru kali ini lagi aku mendengar Himeka yang berterus terang dengan firasatnya selain saat ia kehilangan sahabatnya di umur 12 tahun.

"Jadi bagaimana Kazune-kun?" tanyanya dengan penuh harap. Akhirnya setelah melihat wajah yang memelas itu aku kalah dan aku harus menuruti perkataannya itu.

"Baiklah.."

.

Awan mendung sudah terlihat dan beberapa tetes air hujan sudah mulai turun. Jalanan kota kini tampak ramai seperti biasa, aku bersama Himeka sedang menuju rumah Karin karena Himeka yang memaksa. Kupikir, seharusnya aku menolak saja untuk pergi dengannya. Aku sudah terlanjur kesal denganya, bukan hanya itu, benci pun sudah mulai merasuk pada hatiku. Sudah lagi sejak aku bertemu dengannya kehidupanku berubah drastis, sampai-sampai karena dirinya aku dikejar-kejar wartawan karena terlihat dekat dengannya. Cih, sayang sekali tapi mereka mendapat hasil yang nihil bila mewawancaraiku tentang hal itu.

"Kazune-kun, handphonemu berdering sedari tadi, apa kau tidak akan mengangkatnya?" tanya Himeka membuyarkan pikiranku. Aku tersadar bahwa handphoneku berdering sangat nyaring membuat orang-orang sekitar memperhatikan kami, Himeka pun terlihat sedikit malu karena dering handphoneku itu.

"A-Ah maaf. Iya aku akan mengangkatnya." Lantas tanpa melihat siapa yang menelepon itu aku langsung menjawab.

-Halo?-

-H-hiks.. Nii-chaaan? Nii-chaaan huaaa!-

-Suzune?!-

.

.

.

~To be Continue~

~Review?~


a/n: terima kasih sudah membaca! Kazune mulai panas lagi tuh! Kenapa Suzune menelepon Kazune ya?^^ yang pasti jawabannya ada di chapter selanjutnya hehe. Untuk saran, kesan, pertanyaan, tanggapan, dan lain-lain tolong di review saja atau PM bisa juga^^

Balas review:

andien hanazono: terima kasih sudah review yaa^^ sudah di update sesegera mungkiin hehe, semoga tidak terlalu lama seperti biasanya XD

Kujyo angelita: iya maafkan hiatusnya lamaaa sekali, tapi sudah di update lagi ya^^ terima kasih sudah review^^

Guest: Hehe iyaa, sudah di update yaa^^ maaf lama nunggunyaa XD terima kasih sudah review lagi^^

Kazufika: huaa maafkan lama updatenyaa yaaT^T iya kan supaya bertanya-tanya apa yang akan terjadi _ terima kasih sudah review ya^^

Yu: okee sudah di lanjut ya^^ semoga chapter ini juga seru XD terima kasih sudah review~

Hana 'Meida' Namikaze: sudah di update nihh^^ sekilat mungkin di updatenya hehe meskipun tetap saja lama T^T tapi tidak selama sebelumnya ya? T^T terima kasih sudah review^^

Mey-Mey Hinamori: waa terima kasih sudah review^^ Sudah di update nih kelanjutannyaaa! Iyaa sama-sama^^ tapi.. masih belum bisa di update maaf yaa, mungkin dalam jangka waktu yang dekat bisa update fic Help me, Prince! yang sudah ditunggu-tunggu^^!

Viona: nah lohhh Karinnya salahin yaa jangan salahin author^^ #dilemparbatu haha semua itu karena suatu alasan dan alasan itu tersirat dalam cerita hahaha #grinevil. Terima kasih sudah review ya^^ sudah dilanjut sekilat mungkiin hehe

Aputriabsari: waah terima kasih reviewnya^^ sekarang sudah update nih, lama tidaak? Atau kurang lama? XD kebalik lah yaaa, maafkan agak lama updatenyaa hehe

Riri Itha Ithy: terima kasih sudah review^^ haha serem ya? XD Karinnya sakit… hati T^T. Bukan sih, tapi benar juga sih.. ya dua-duanya ada lah yaa -_-. Emhh, ditampung dulu requestnya ya! Haha, ada kemungkinan Karin mati dan tidak.. tapi kasian Karinnya ya? T^T yasudahlah mungkin di akhir cerita bisa ketahuan mati atau tidaknya XD

Kazufika: wahh author tega sekali menelantarkan yaa T^T, tapi sudah di update ko^^ secepat kilaaat, meskipun tidak. Tapi athor berusaha secepat mungkin di updatenya ya^^ terima kasih sudah review^^