a/n: Author kembali dengan chapter baru setelah sekian lama yang lamaaaa sekali -_-. Maaf bila yang sudah menunggu chapter ini update T^T, terima kasih yang sudah review^^, dan juga author minta maaf karena tidak bisa membalas review satu per satu T^T, tapi reviewnya dibaca ko^^ Pokoknya author berterima kasih kepada yang sudah review, fav, dan follow fic ini^^


Selamat membaca~^^~

Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo

Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll

.

.

.

~*Ma Dernière volonté*~


Suasana tegang terus menyelimuti dua remaja yang sedang menunggu di depan ruang rawat inap bernomor 205. Sudah agak lama mereka menunggu tapi dokter yang sedang menangani Karin belum kunjung menampakkan wajahnya. Memang keadaan Karin sudah tidak terlalu kritis tapi mereka belum di perbolehkan masuk karena dokter masih memeriksa Karin. Kazusa duduk dengan lemas di bangku depan ruangan itu ditemani Jin yang sedari tadi berdiri dengan was-was. Mereka tidak henti-hentinya mengkhawatirkan keadaan Karin. Kazusa apalagi, ia tahu betul bahwa keadaan Karin sebelumnya sudah tidak boleh keluar rumah dan harus istirahat, tapi karena sifat Karin yang tidak suka hanya berdiam diri di kamar membuat keadaan semakin gawat.

"Jin..sebelumnya, apa sampai selama ini dokter menangani Karin bila ia jatuh sakit?" tanya Kazusa dengan lirih. Jin yang merasa ditanya itu terdiam, dirinya yang sudah menemani Karin sejak Karin menjadi partnernya tentu selalu hadir di setiap kali Karin masuk rumah sakit. Tapi tidak sampai selama ini ia menunggu, biasanya paling lama satu jam Karin sudah boleh di jenguk dan dipindahkan ke ruang rawat dari UGD. Sekarang, sudah satu setengah jam ia menunggu dan masih belum ada kabar dari orang-orang di dalam kamar itu.

"Tidak, paling lama aku menunggu satu jam dan Karin sudah boleh di jenguk lagi."Jin menyandarkan punggung bidangnya di samping Kazusa dan menengadah menatap langit-langit rumah sakit itu dengan pikiran kosong.

Setelah mendapat jawabannya, Kazusa kembali terdiam. Pikirannya penuh dengan nama Karin. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan melihat Karin tersiksa seperti itu. Sudah lagi, mengingat beban Karin yang menjadi artis dan para reporter yang mengejarnya. Hanya memikirkannya pun sudah ruwet, apalagi bila dirinya menjadi Karin yang menghadapi beban itu sejak menjadi artis.

Drap drap drap drap drap

Suara langkah kaki di lorong rumah sakit yang sepi itu menggema. Kazusa dan Jin mengalihkan pandangannya pada orang-orang yang tergesa-gesa itu. Ternyata orang yang tergesa-gesa itu teman mereka. Himeka, Suzune, dan Kazune sudah berganti pakaian dengan yang kering. Himeka juga membawa tas berisi baju ganti untuk Kazusa dan Jin yang sudah Kazusa minta untuk diambilkan sebelumnya.

"Kazusa, Jin. Bagaimana keadaan Karin?" tanya Himeka khawatir. Kazusa dan Jin terdiam, mereka tidak tahu secara rinci keadaan Karin, tetapi yang mereka tahu Karin sudah di tangani oleh dokter.

"Belum tahu. Karin belum bisa dijenguk dan dokter pun masih di dalam," jawab Jin. Himeka menghela napas, tadinya ia berharap saat datang sudah bisa menjenguk Karin. Tetapi sepertinya harapannya itu masih tertunda.

.

.

Hari sudah menjelang malam, Karin belum diperbolehkan di jenguk walaupun dokter sudah selesai menangani Karin. Dokter berpesan untuk tidak menjenguknya dahulu, selain karena Karin belum siuman, Karin juga butuh istirahat.

Dengan kalimat yang sedikit mengecewakan, Jin, Kazusa, Himeka, Kazune dan Suzune akhirnya hanya bisa menunggu di depan kamar Karin yang dirawat. Kazune yang memasang wajah dinginnya seperti tidak terlihat khawatir sama sekali dengan keadaan Karin. Jin yang melihatnya merasa kesal karena tahu Karin telah berkorban perasaan demi Kazune agar tidak terekspos di media. Untung saja karena mengingat kejadian tadi siang, dirinya tidak ingin membuat keadaan sekarang lebih parah lagi. Jin tidak ingin bila harus menambah masalah baru lagi untuk Karin karena kesal dengan Kazune.

"Sampai kapan kalian akan menunggu disini?" tanya Jin sembari menahan kesal pada Kazune. Mereka pun menatap Jin dengan tatapan bingung, apa maksud dari Jin itu mengusir mereka?

"U-Uh, aku ingin menunggu sampai aku boleh melihatnya." Dengan suara pelan Himeka menjawab. Kazune dan Kazusa pun terdiam karena sependapat dengan Himeka. Tapi Jin menjawabnya kembali dengan helaan napas.

"Lebih baik kalian pulang saja. Aku yang akan menunggui Karin, lagi pula kalian harus sekolah besok." Ujar Jin dengan nada sedikit memerintah. Kazune menyerngitkan dahinya, ia terlihat kesal karena perintah Jin itu. Kazusa pun bingung dengan alasan Jin menyuruhnya pulang. Kazusa tidak ingin pulang dan meninggalkan Karin dengan kondisi seperti itu.

"Tapi Jin—"

"Kazusa-chan. Aku mohon kau pulang saja hari ini. Kau bisa sakit bila harus menunggu di sini lama-lama." ujar Jin sambil memasang ekspresi lembutnya pada Kazusa. Meskipun nada bicaranya tadi yang memerintah, sebenarnya maksud dari Jin adalah ia tidak ingin Kazusa jatuh sakit karena kelelahan. Dengan melihat kedalam iris mata Jin, Kazusa tahu niat baik dari kekasihnya itu, lantas ia pun menganggukkan kepalanya dan menurut.

"Baiklah, Jin-kun. Maaf aku tidak bisa menunggu bersamamu." Ujar Kazusa dengan senyum simpul. Kazusa berdiri dari tempat duduknya dan mengajak Himeka dan Suzune untuk pulang. Sedangkan Kazune diam di tempatnya dengan ekspresi kesal, entah kenapa ia memasang raut wajah seperti itu. Kazusa mengajak Kazune untuk pulang juga, tetapi saat Kazusa mengajaknya, Kazune seperti terpaksa untuk pulang.

Pada akhirnya Kazune dan yang lainnya pulang meninggalkan Jin yang menunggui Karin. Tidak lama setelah mereka pergi, Jin didatangi oleh dokter yang menangani Karin tadi. Dokter itu menyapanya dengan senyum kecil dan memberitahu Jin bahwa ia sudah bisa menjenguk Karin. Jin berterima kasih pada dokter itu dan dengan segera ia masuk ke kamar Karin.

Udara segar dari air conditioner berhembus menyapa kedatangan Jin. Matanya terpaku pada gadis yang tengah tertidur di ranjang serba putih. Selang oksigen, pendeteksi detak jantung, dan berbagai alat lainnya terpasang pada tubuh rapuh dari gadis yang terkulai lemas itu. Jin melihat keadannya secara baik-baik, sudah agak mendingan daripada sebelumnya. Kelegaan akhirnya mengobati rasa khawatir Jin yang sejak tiga jam lalu yang terpendam dalam hatinya. Dirinya mendekat pada ranjang Karin dan mengambil tempat duduk di sampingnya. Ia tatap lekat-lekat wajah pucat dari teman seperjuangannya itu dan tersenyum masam.

.

"Hahh.. Sampai kapan kau akan terus menyiksa dirimu sendiri, Karin-chan?"

.

.

.


~Pagi~

[Kazune POV]

Pagi ini sangat terasa perbedaannya karena biasanya aku terbangun dengan jam alarm, tapi sekarang aku terbangun dengan suara bising yang ditimbulkan dari ketukan— ah bukan, bantingan pintu kamarku oleh Kazusa. Untung saja aku sudah siap untuk menutup telingaku dengan bantal. Karena …

"KAKAK! Ayo cepat pergi ke sekolah! Himeka-chan sudah menunggumu sedari tadi!" Seru Kazusa dengan kesal. Dengan gontai aku meninggalkan kasurku dan mendorong Kazusa keluar dari kamarku.

"Iya, aku sudah tahu Kazusa. Lebih baik kau keluar dan kerjakan hal lain selain menggangguku." Ups, bagian terakhir sepertinya keluar dari mulutku begitu saja.

"Huh?! Apa maksudmu mengganggumu?! Ka—"

Brak!

Oke, aku menutup pintu kamarku rapat-rapat dari adikku yang begitu bersemangat pagi ini. Lantas dengan segera aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah dan tidak lupa untuk mengambil SLR … ah iya, aku lupa bila SLRku sudah tidak ada.

Setelah bersiap-siap tanpa SLR di tanganku, aku keluar kamar dan mendapatkan Himeka, Kazusa dan Suzune di meja makan. Kazusa memasang wajah cemberutnya dan menghindari tatapannya dariku saat aku menyapa mereka.

"Pagi," sapaku pada mereka. Himeka menjawabku dengan Suzune sedangkan Kazusa sepertinya masih kesal karena aku tutup pintu kamarku di depan mukanya.

"Kazusa—"

Ding dong!

Nyaring bel membuat semua aktivitas di dapur sekaligus ruang makan ini terhenti. Pagi-pagi begini siapa yang bertamu? Dalam diam kami saling menatap satu sama lain, terheran-heran dengan orang yang menekan bel itu.

"Aku akan melihatnya," kataku sembari beranjak dari kursi dan menuju pintu keluar. Sampai di depan pintu, aku membukakan pintu itu dan mendapatkan Jin yang sudah memakai pakaian rapi dan wangi semerbak parfum tercium begitu saja. Aku sedikit terkejut karena kedatangannya, dari mana dia tahu alamat ini? Lalu untuk apa dia kesini? Apa terjadi sesuatu dengan Karin?

"Um, ada apa—"

"Maaf aku hanya punya waktu sedikit, jadi aku akan langsung saja pada intinya. Kujyo-kun, apa belakangan ini kau bertemu dengan seseorang yang mencurigakan? Atau seseorang dari stasiun TV?" tanya Jin dengan serius. Aku kira ada kabar tentang Karin. Tapi saat mendengar pertanyaannya, aku teringatkan dengan dua orang yang berpakaian aneh yang memanggilku di jalan xx dekat sekolah. Apa yang Jin maksud adalah mereka?

"Aku rasa iya. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan dua orang yang aneh, kalau tidak salah mereka dari ArtTV,"

"J-Jadi kau benar-benar bertemu dengan mereka?! Lalu apa mereka bertanya sesuatu padamu? Katakan semuanya padaku!" seru Jin panik saat mendengar jawabanku. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Jin bisa mengetahui bila aku bertemu dengan dua orang itu?

"Tunggu, sebenarnya apa yang kau ingin tahu? Apa kau mengenal mereka?" tanyaku sedikit heran. Lalu Jin kembali bertingkah tidak jelas, ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia terlihat bingung dan juga panik.

"Agh! Sudahlah aku tidak punya banyak waktu lagi! Lebih baik kau pergi menemui Karin di rumah sakit setelah pulang sekolah dan tolong jangan membuat Karin kelelahan." Ujar Jin dengan tergesa-gesa lalu ia mengeluarkan kotak kecil yang terbungkus rapi dengan kertas kado dan pita.

"Dan satu lagi, bisakah kau berikan ini pada Kazusa?" tanyanya dengan sedikit ragu. Sebelum aku mengambilnya, aku menatap pada kotak itu, lalu pada Jin, lalu pada kotak itu, dan saat aku melihat Jin sekali lagi, sekilas rona merah terlihat di wajahnya. Dalam hati aku tertawa terbahak-bahak, tapi karena aku masih mempunyai rasa kasihan maka dengan sekuat mungkin aku tahan tawa itu dalam hatiku saja.

"Hm, baiklah." Ujarku sembari mengambil kotak itu dari tangannya. Setelah itu akhirnya ia pamit pergi karena ia masih ada kerjaan yang menunggu. Lantas aku menutup pintu dan kembali ke ruang makan untuk mendapat pertanyaan dari mereka yang sudah menunggu kabar dariku tentang tamu yang datang pagi-pagi ini.

"Siapa?" tanya Himeka penasaran.

Aku meletakkan kotak kecil itu di depan Kazusa dan kembali duduk di kursiku. Ia terlihat bingung dengan kotak kecil yang tiba-tiba aku berikan padanya dan aku dengan santai mengambil gelas yang sudah penuh dengan teh hangat di depanku.

"Dari Jin, dia ingin memberikannya padamu tapi ia harus pergi karena kerjaannya," ujarku sembari merasakan hangatnya uap teh yang baru dituang. Tapi baru saja keheningan terjadi… jeritan kegirangan dari adik perempuanku itu pun memenuhi ruang makan ini.

"Kyaaa~!"

.

.

.


[Normal POV]

Sekolah hari ini sudah kembali seperti biasa. Tidak ada lagi yang namanya pulang cepat. Jam pelajaran pun tinggal hitungan menit lagi sampai bel pulang sekolah berbunyi. Himeka dan Kazune sangat menantikan hal itu karena mereka— ralat, Himeka ingin segera pergi menjenguk Karin yang kabarnya sudah siuman.

Tok tok!

"Permisi," suara seorang guru dari pintu kelas membuat perhatian murid teralihkan dari papan tulis, termasuk Kazune dan Himeka yang sedang memperhatikan baik-baik pelajaran matematika itu. Lalu guru yang baru mengetuk pintu itu meminta izin untuk berbicara di depan kelas pada guru yang sedang mengajar. Bila dilihat baik-baik sepertinya guru itu akan menyampaikan hal yang penting karena di tangannya sudah ada beberapa lembar kertas yang sepertinya adalah bukti dari sesuatu yang akan ia sampaikan.

"Maaf saya mengganggu jam pelajaran kalian. Saya akan menyampaikan tentang acara yang akan diadakan di aula sekolah dan sekarang saya perlu bantuan dari beberapa orang di kelas ini. Kepada murid yang saya sebutkan, harap mengangkat tangan kalian. Dimulai dari Miyon Yii, Yuuki Sakurai, Himeka Kujyo, dan Kazune Kujyo."

Mereka yang disebutkan namanya terkejut. Jarang sekali anak-anak seperti mereka di panggil oleh guru. Sudah lagi ini menyangkut tentang acara yang akan dilaksanakan di aula sekolah. Apa yang diinginkan dari mereka?

Setelah mengangkat tangan sesuai yang diperintahkan, guru itu mengangguk dan tersenyum simpul penuh arti.

"Baiklah, kalian ikut denganku sekarang ke ruang guru."

.

.

"Ahh! Kenapa harus aku yang menjadi mc?! Bukannya masih banyak murid lain yang lebih berbakat daripada aku? Bukan begitu Yuuki-kun?" tanya Miyon sembari menggembungkan pipinya. Yuuki yang ditanya hanya santai berjalan di samping kawan-kawannya setelah dari ruang guru. Mereka dipanggil ke ruang guru karena mereka adalah murid terpilih untuk menjadi perwakilan yang dipercaya di acara nanti.

"Tapi bila kau ditunjuk berarti kau itu terbaik di antara murid-murid lain Miyon," jawab Yuuki membuat Miyon semakin geremat. Selain itu, Kazune dan Himeka tidak kalah murungnya dengan Miyon. Mereka juga ditunjuk sebagai perwakilan oleh guru.

"Tapi aku juga ada keperluan pada hari itu, jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya Yuuki tidak karuan. Yuuki ditunjuk sebagai fotografer bersama Kazune, sedangkan Himeka dipilih khusus untuk menemani Karin, artis Karin Hanazono. Tapi yang ada di pikiran Kazune kali ini bukan masalah dirinya menjadi fotografer, tetapi mengapa acara itu tidak ditunda sedangkan Karin baru masuk rumah sakit kemarin malam?

"Hey Kazune! Kau mendengarku tidak?!" tanya Yuuki sedikit kesal karena ia dihiraukan oleh Kazune. Himeka yang berada di tengah dua pemuda itu hanya bingung melihat Kazune yang sedang memandang lurus ke depan tanpa mengedipkan matanya. Ia pun tidak bergeming setelah Yuuki sedikit menyentaknya. Ada apa dengan sepupuku ini? Pikir Himeka. Bila dilihat-lihat, mungkin…

"Kazune? Kau sedang memikirkan … Karin?" tanya Himeka tanpa ragu.

Semua orang yang sedang berjalan bersama itu pun seketika berhenti, termasuk Kazune. Matanya terbelalak hebat saat Himeka menebaknya dengan benar. Yang lainnya pun terkejut saat melihat reaksi Kazune yang memalingkan wajahnya dan menutupnya dengan satu tangan.

O_o

"…"

"…"

"Oh my…"

Seorang Kazune … wajahnya sangat merah!

"Kyaa~!Aku tidak menyangka kau bisa membuat wajah seperti itu!" seru Miyon dan Himeka bersamaan. Sedangkan Yuuki tertawa puas melihat Kazune yang biasanya cool itu memasang wajah tersipu.

"Ahaha! Sudah aku kira, lambat laun kau menaruh rasa padanya huh?!" tanya Yuuki sembari cekikikan. Miyon mengangguk setuju dengan Yuuki dan menepuk pundak Kazune bercanda.

"Begini saja, kau ingin aku bantu mendapatkannya? Aku akan sangat senang sekali bila kau meminta bantuanku,"

Bets!

"Grrr! Kalian itu salah sangka, bukan maksudku memikirkan dirinya seperti itu!" seru Kazune menepis tangan Miyon dari pundaknya dan sedikit berjalan menjauh dari mereka sebelum ia meneruskan kata-katanya.

"Aku hanya berpikir kenapa acara itu tidak ditunda sedangkan Hanazono masih di rumah sakit…"

.

.

[Kazune POV]

Orang berlalu lalang di sekitarku dengan tatapan aneh. Dari mulai orang dewasa sampai anak kecil memerhatikan kami yang sedang berjalan di lorong rumah sakit. Lebih tepatnya, memerhatikan aku yang sedang membawa bunga. Apa? Kalian tidak pernah melihat seseorang membawa bunga juga? Ck... aku merasa kasihan dan aku juga KESAL pada kalian. Semua ini bukan kemauanku, tapi karena aku kalah taruhan dengan MEREKA (Yuuki, Himeka, dan Miyon), akhirnya akulah yang membawa bunga untuk Karin.

"Hihi..!" terdengar jelas tawa geli dari sampingku, dua gadis yang memberi ide membuat taruhan itu. Aku melirik sekilas kepada mereka dan sepertinya mereka menyadari lirikan penuh artiku itu, lantas tanpa menghiraukan tatapanku mereka segera berjalan lebih cepat di depanku dan memimpin jalan.

'Grr! Sial sekali hari ini! Mereka pikir aku tidak malu harus membawa seikat bunga mawar ini?!' pikirku membatin. Sedangkan Yuuki yang tidak jatuh dalam perangkap Himeka dan Miyon hanya bisa tersenyum jahil kepadaku, dan itu membuatku sangat geram.

"Sudahlah, toh, mereka juga tidak tahu bila kau sedang tidak beruntung hari ini? Hahahaha," ujar Yuuki mulai dengan candaannya yang membuatku semakin kesal.

"Kau-! Agh! Kalian itu terkadang menjengkelkan!" pekikku mengeluarkan kekesalanku. Tapi mereka malah tertawa karena mendengarku berbicara seperti itu. Hah, aku benar-benar tidak mengerti dengan mereka.

"OH! Nii-san! Akhirnya kau datang!" seruan itu membuat perhatian kami beralih kepada sumber suara, dari arah depan kami sosok gadis berambut blonde panjang datang dengan wajah cerianya.

"Kazusa-chan! Bagaimana keadaan Karin-chan?!" tanya Himeka dengan penasaran. Himeka pun tidak perlu menunggu lama dan ukiran senyum di wajah Kazusa membuat Himeka mengetahui jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.

"Karin-chan sudah bisa dijenguk. Ah, lalu... Ini teman-teman Nii-chan?" tanya Kazusa balik. Tapi baru saja aku akan menjawabnya, Miyon langsung berseru dan menarik Yuuki ke hadapan Kazusa.

"Benar sekali! Kami adalah temannya Kujyo-kun! Senang bertemu denganmu Kazusa-chan~" mendengar begitu semangatnya Miyon, Kazusa pun tertawa kecil dibuatnya. Sedangkan aku hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalaku dan berpikir, kenapa aku bisa berteman dengan mereka? -_-

.

.

Kazusa memimpin jalan kami menuju kamar Karin dirawat. Kamar yang sama saat kami menunggu tadi malam. Sesampainya di depan kamar bernomor 205, kami bertemu dengan Suzune yang baru saja keluar dari kamar itu. Wajahnya langsung terkejut saat melihat kedatangan kami. Sepertinya ia pun menunggu-nunggu kedatangan kami untuk menjenguk.

"Nii-chan!" seru Suzune sembari melayangkan pelukannya padaku. Aku menyambutnya dengan ramah, tentu saja tidak akan ada yang bisa mengelak dari pelukan sang malaikat kecil seperti Suzune.

"Hey, Suzune. Kau ceria sekali," ujarku sembari melihat matanya yang berbinar-binar itu. Suzune pun mengangguk dan menunjuk ke pintu kamar 205 itu.

"Yap! Karin-nee tadi menceritakan aku dongeng! Dan dongeng itu seru sekali!"

"Baiklah Suzunee~, kau tidak akan membiarkan kami berdiam di sini untuk mendengar dongeng itu bukan? Lebih baik kita masuk!" seru Kazusa sembari menggendong Suzune dan membukakan pintu kamar 205 itu.

"Ayo ayo!" Kazusa mempersilakan kami untuk masuk duluan. Mereka pun menuruti perkataan Kazusa dan masuk saja dengan santai, tapi di suatu tempat jauh di lubuk hatiku, aku merasa... bingung. Ekspresi apa yang harus aku pasang di dalam sana?

"—Nii-chan?"

Aku tersentak dengan panggilan Kazusa. Pikiranku berputar dengan nama Karin, Karin, dan Karin. Memoriku tentang kemarin sore terus terlihat, memori saat Karin terlihat begitu lemah.

"U-Uh, kalian duluan saja. Aku di luar sebentar." Ujarku sembari membalikkan tubuhku dari Kazusa dan berjalan meninggalkan kamar itu.

'A-apa yang aku lakukan? Bukannya aku sudah berniat untuk menemuinya?' pikirku sembari duduk di kursi tunggu di depan kamar Karin. Suasana hatiku semakin tidak jelas sejak memasuki bangunan rumah sakit ini. Sebenarnya aku bingung harus berhadapan Karin bagaimana.

Terlalu banyak hal yang ingin aku tanyakan dan aku yakin bila aku sudah menanyakannya, aku akan seperti menginterogasinya. Karena aku... aku sangat ingin tahu apa yang ia sembunyikan.

"Haaaah.. kenapa susah sekali untuk bertemu dengannya?"

Drrrt drrrt! Drrrrt drrrt!

Handphoneku bergetar mengejutkanku dari lamunan. Dengan segera aku mengambilnya dan melihat ada telepon masuk dari Jin.

Sekilas ide bagus pun muncul pada otakku dan dengan sigap aku menekan tombol hijau di handphoneku itu.

Kujyo-kun. Kau sudah bertemu dengan Karin-chan?—

—Aaah, s-sebenarnya sebelum bertemu dengan Hanazono-san, ada yang aku ingin bicarakan dahulu denganmu Kuga-kun. Bisakah kita bertemu?—

Oh? Baiklah. Aku akan ke rumah sakit sekarang, kita bicara di sana saja—

—Eh! J-Jangan! Ahh maksudku, ada hal penting yang harus kutanyakan padamu, jadi aku kira di tempat lain lebih baik—

Ada yang harus kau tanyakan? ... Hmm, iya aku bisa. Di cafe Little Green dekat taman bermain pukul 3 sore?—

—Baiklah, terima kasih Kuga-kun—

Ah satu hal yang perlu kau ingat, maafkan aku bila aku datang terlambat karena pekerjaanku oke?—

—Iya, maaf aku juga mengganggumu—

Haha, aku kira kau orang yang jarang berterima kasih—

—H-hey! Apa maksud...—

Piii piii pii pii pii...

Dia memutus sambungannya begitu saja?! Gahh! Dia memang menjengkelkan sejak pertama aku bertemu dengannya. Kenapa Kazusa mau dengan orang seperti dia? Tidak adakah orang lain selain Jin di muka bumi ini untuk menjadi kekasihnya? -_-

Tapi.. itu bukan urusanku.

Sekarang, apa yang akan aku lakukan? Pergi begitu saja? Lalu bunga yang aku bawa ini bagaimana?

"Eh.. iya, bunga ini masih bersamaku. Apa aku buang saja?" haha pikirku lucu. Tidak mungkin aku membuang bunga yang sudah menghabiskan banyak uangku. Iya, uangku. Mereka (Yuuki, Himeka, dan Miyon) tidak ingin mengeluarkan uang mereka karena aku yang kalah taruhan.

Kemudian, sebelum aku berbuat hal aneh dengan bunga yang sedang aku pegang ini, akhirnya aku memutuskan untuk memberikannya lewat suster yang baru saja akan masuk ke kamar Karin. Aku berkata padanya bahwa bunga ini untuk Karin dan aku tidak menyebutkan dari siapa karena mereka pasti tahu dengan bunga mawar merah yang tadi aku beli bersama mereka.

Setelah itu suster yang aku minta tolong itu tersenyum dan ia memasuki kamar Karin dengan senyum masih terpampang di wajahnya. Sepertinya ada 'sesuatu' yang membuat dirinya senang. Entahlah, aku bukanlah detektif yang dengan mudah menebak 'sesuatu itu', dan aku tidak terlalu peduli.

Selesai satu masalah, sekarang aku hanya harus pulang untuk mengganti pakaianku dan bersiap pergi ke cafe Little Green yang Jin maksud tadi. Cafe itu cafe yang aku dan Karin datangi saat kami pergi ke taman bermain. Jadi aku tidak perlu mencari alamat lagi.

Dan saat ini, aku sudah menyiapkan sebagian pertanyaan yang tadinya akan aku tanyakan pada Karin untuk ditanyakan kepada Jin saja. Sebagai partner artis dan teman dekatnya, aku yakin, Jin tahu rahasia-rahasia di balik senyum palsu Karin Hanazono itu..

.

.

.

"Pembongkaran rahasiamu akan segera dimulai,

Hanazono Karin.."

.

.

.

.

.

.

~To be Continue~

~Review?~

.


a/n: Um! Author tidak bisa berkata panjang lebar untuk saat ini T^T, maafkan yaa T^T. Sedikit curhat, akhir-akhir ini author sedang sangat sangaaaat tidak mood dengan apapun, tapi saat itulah ide bagus muncul, -_-. Jadi, saran? Kritik? Pertanyaan? Seperti biasaa, di review atau PM bisa. Terima kasih^^