Title : Undetermined (Chapter 2}
Author : Damien Cho & MBLAQIM
Genre : Incest
Rated : T
Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Summary : Tumbuh dan berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Tinggal dalam satu atap. Tidur dalam satu kamar. Pergi dengan
kendaraan yang sama. Bahkan bersekolah pun di sekolah yang sama.
Terlebih lagi... lahir di rahim yang sama. Pantaskah kau menyimpan
perasaan yang tak wajar untuk saudaramu? Pantaskah kau mencintai orang
yang sepatutnya kau hormati? Tak takutkah kau akan dosa,
Oh Sehun?
*********************
Terdengar teriakan para yeoja tak jauh dari posisi Luhan. Ia sedikit
berdecak kesal saat yang diteriakan oleh para yeoja itu adalah
Sehun,adiknya.
'Kenapa mereka begitu menyukai Sehun? Padahal aku juga tak kalah
tampan. Aku bahkan lebih manly daripada bocah itu. Dasar yeoja.
Seandainya mereka tahu bagaimana manjanya Sehun. Aku yakin mereka
lebih memilih mengidolakan aku.' Batin Luhan percaya diri. Ia membuka
pintu lapangan basket dan melihat Sehun yang sibuk menggiring bola
basket ke arah ring lawan.
Sret!
"Kyaaaa! Sehun Oppaaaa... Kau sangat keren!"
Teriakan para yeoja semakin keras heboh saja saat melihat Sehun
berhasil mencetak point untuk timnya. Kai –sahabat Sehun- segera
menghampiri bocah albino itu dan merangkulnya senang. Sehun hanya
membungkuk hormat dan mengeluarkan tatapan datarnya saat beberapa
Subae memuji kehebatannya dalam bermain basket.
"Sehun... Luhan hyung ada disana." Sehun segera mengalihkan
perhatiannya. Terlihat Luhan yang mengangkat sebuah handuk serta air
putih dengan senyum khasnya. Sehun segera menghampiri Luhan yang
berada di sisi lapangan.
"Hyung, sedang apa kau disini?" tanya Sehun datar. Luhan mengerucutkan
bibirnya imut dan meninju pelan lengan Sehun.
"Dasar dongsaeng ppabo! Tentu saja aku ingin menjenguk adikku yang manis ini."
"Apa? Manis? Kau tidak salah hyung? Yang manis itu kau, bukan aku."
Kekeh Sehun geli. Beberapa yeoja yang tak sengaja melihat senyum Sehun
semakin berteriak histeris. Luhan memutar bola matanya bosan.
"Aku yang disini lebih lama. Kenapa fansmu jadi yang lebih banyak?
Payah." Sehun hanya mengusap rambut hyungnya sayang dan membawa namja
yang lebih tua darinya itu ke tempat favorit mereka. Setelah sampai di
atap, mereka berdua duduk di salah satu bangku dan membuka bekal
masing-masing yang dibawa dari rumah. Tapi sebelum itu, Sehun meminum
air mineral yang dibawakan Luhan tadi dan Luhan mengelap keringat
Sehun. Luhan mengusap pelan keringat di dahi Sehun.
'Kenapa Sehunnie begitu tampan?' Luhan tersentak kaget.
'Aigoo! Apa saja yang baru ku katakan. Ingat Luhan. Sehun itu adikmu.'
Luhan menggelengkan kepalanya cepat saat pikiran aneh terlintas di
kepalanya. Sehun yang berada di samping
menghentikan kegiatan meminumnya dan ganti menatap Luhan.
"Hyung... Kau kenapa? Apa kau pusing?" Luhan sontak semakin
mengelengkan kepalanya.
"T-Tidak kok! Aku hanya-" Sehun menaikkan sebelah alisnya, menunggu
Luhan yang terlihat sedang berpikir keras.
"Merasa kau bau! Ne. Kau bau Sehunnie. Jangan dekat-dekat, Hyung! Nanti
malah hyung ikutan bau karena keringatmu!"
"Tapi bukankah hyung sendiri yang mau mengelap keringatku?" tanya
Sehun heran. Luhan gelagapan dan segera memakan bekalnya cepat.
UHUK!
Sehun hanya menghela nafas maklum. Ia tahu kalau hyung-nya ini sedang
panik. Tapi ia sendiri tidak tahu kenapa dan karena apa. Karena sudah
biasa, ia menarik tubuh Luhan mendekat dan menepuk punggungnya pelan.
Ia melakukannya selama 10 menit, setelah dirasa mendingan, Sehun
memberikan botol minumnya tadi dan langsung diminum Luhan sampai
isinya tandas. Luhan membuka mulutnya lebar dan mengambil nafas
sebanyak-banyaknya.
"Ck! Kebiasaan." Luhan merengut sebal mendengar pernyataan Sehun.
"Sudahlah. Kau menyebalkan." Balas Luhan marah. Sehun tergelak dan
langsung merangkul Hyung-nya yang tengah mengambek itu. Seperti biasa
pula, Sehun akan melakukan aegyo agar sang kakak tak marah lagi. Dan
berhasil! Luhan segera mengalihkan rasa marahnya dan ganti mencubiti
pipi Sehun hingga membuat pemiliknya kesakitan. Akhirnya, istirahat
itu diakhiri dengan acara saling suap-menyuap antara dua kakak-adik
itu.
Sehun kini tengah menunggu hyungnya di depan sekolah. Ia pulang 2 jam
lebih awal dari Luhan. Tapi berhubung Luhan tak membawa sepedanya,
maka ia harus sabar menunggu hyungnya itu. Sehun memasukkan
smartphonenya saat mendengar suara Luhan di koridor. Dengan hati
gembira, ia siap menghampiri hyungnya sebelum-
'Park Minji? Mau apa dia?' entah kenapa tiba-tiba kepala Sehun terasa
mendidih saat melihat Luhan yang mengusap rambut Minji. Bukankah Minji
itu teman sekelasnya. Kenapa ia masih di sekolah? Oh ayolah! Biasanya
hanya ia yang diperlakukan seperti itu. Tapi kenapa sekarang Luhan
juga melakukan hal itu pada Minji? Sehun berbalik arah dan langsung
menuju parkiran tanpa mau menunggu Luhan yang sibuk bercanda dengan
teman sekelasnya itu.
"Yak, Oh Sehun! Kau bilang ingin menungguku di depan, tapi kenapa
malah berada disini?" Sehun tak menjawab pertanyaan Luhan dan membawa
sepedanya keluar dari parkiran. Luhan yang merasa tak dihiraukan
segera menyusul Sehun dan menarik lengannya kasar.
"Hei. Aku berbicara padamu, Sehun-ah." titah Luhan datar. Sehun
menatap balik Luhan dan kemudian tersenyum mengejek.
"Aku? Oh, aku kira hyung berbicara dengan Minji tadi" balas Sehun tak
kalah datar. Luhan sedikit tersentak saat Sehun menyingkirkan
tangannya dari lengan. Mengetahui adiknya tengah kesal, Luhan segera
memeluk erat tubuh Sehun dari belakang. Demi apapun yang ada di dunia
ini, Luhan sangat benci jika Sehun marah padanya. Karena saat Sehun
marah, pria itu akan berubah menjadi sangat,sangat, dan
sangat...menyebalkan. Tak meladeni ucapannya, melakukan semua hal
seolah-olah tak ada Luhan disitu, tak mau menatapnya dan melakukan hal
yang biasanya mereka lakukan bersama. Luhan tidak suka itu. Luhan
tidak suka Sehun mengacuhkannya. Bahkan lebih baik membuat orangtuanya
marah daripada Sehun yang marah.
"Sehunnie... Mianheee" Sehun hanya diam mendengar lirihan Luhan. Ia
merasakan pelukan Luhan semakin erat dan tak lama kemudian, suara
isakan terdengar di balik punggungnya. Sehun tetap tak bergeming dari
posisinya. Luhan menangis semakin keras dan Sehun merasakan seragam di
punggungnya basah. Tak tahan mendengar orang yang dicintainya
menangis. Sehun melepaskan pelukan Luhan dan berbalik menatap wajah
hyungnya yang dipenuhi air mata itu.
"Sudahlah hyung. Aku memaafkanmu. Jangan menangis lagi... Hyung
terlihat jelek kalau menangis." hibur Sehun aneh.
"Kau itu menghiburku atau mau mengejekku...?" balas Luhan kesal. Tapi
kemudian ia lansung menubruk tubuh dongsaeng-nya dan memeluknya
erat-erat. Sehun tersenyum geli dan membelai surai Luhan lembut. Dalam
hati sebenarnya Sehun masih kesal. Tiba-tiba, sebuah ide jahil
terlintas di otaknya.
Luhan mengomeli Sehun sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Bukan
karena hal tadi. Tapi karena posisi mereka sekarang. Luhan duduk di
salah satu besi yang menghubungkannya dengan stang sepeda Sehun. Ia
terus mengeluh tentang pantatnya yang sakit dan kakinya yang tidak
nyaman karena harus diangkat. Belum lagi rambut indahnya yang harus
berantakan karena terpaan angin, atau karena Sehun yang terlalu laju
hingga hampir menabrak Ayam yang melintas.
"Tapi diawal aku sudah menderita, hyung... Kau memeluk leherku terlalu
erat." Balas Sehun seadanya.
"Tapi kan Cuma leher, Sehunnie...! Coba lihat posisiku. Badanku sakit
semua,ppabo." Balas Luhan tak terima. Sehun hanya bisa mengatakan
'iya' dan berharap agar hyungnya yang kelewat cerewet itu berhenti
mengoceh barang sejenak. Namun nampaknya, harapan Sehun tak terkabul.
"Hunnie..."
"Hmm?"
"Oh Sehun..." panggil Luhan lagi. Bahkan kini tangan Luhan mulai
memeluk tubuh Sehun dari depan. Sehun sedikit goyah.
'Semoga Luhan-hyung tak mendengar detak jantungku. Sial!'
Luhan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun. Dari jarak
sedekat itu, Sehun dapat mencium aroma bayi dari rambut Luhan.
"Sehunnie..." kali ini Luhan memanggil diiringi rengekan manjanya.
Sehun sontak melambatkan laju sepedanya dan menghirup sedikit aroma
rambut Luhan.
"Waeyo hyung? Katakan saja... Aku sedang fokus ke depan." Luhan
mendongakkan kepalanya. Menatap wajah serius Sehun yang entah kenapa
berlipat-lipat lebih tampan. Luhan merasa wajahnya memanas. Segera ia
menggelengkan kepalanya lagi dan kembali menenggelamkan wajahnya di
dada bidang Sehun.
"Saranghae nae Dongsaeng..." bisik Luhan. Tapi Sehun masih dapat
mendengar bisikan Luhan dari jarak sedekat ini. Ia tersenyum kecut
seraya melirik sedikit hyungnya.
'Hanya adik ya?'
Sehun tidak bisa tidur malam itu. Ia hanya berbaring sambil menatap
langit-langit kamar. Beberapa kali mencoba untuk memejamkan mata, tapi
malah sekelebat kejadian siang tadi yang tiba-tiba muncul. Sehun
memiringkan badannya ke kanan dan menatap sang hyung yang tengah
tertidur di kasur seberang. Manis. Pikir Sehun. Semakin ia menatap
wajah itu, semakin besar pula rasa cintanya untuk Luhan. Tapi bukan
cinta dalam artian saudara yang ia maksud. Bagi Sehun, ia mencintai
Luhan dengan artian... sebenarnya. Seperti cinta Ayah kepada Ibu
mereka. Sehun tahu perasaan seperti itu tidak sepantasnya hadir dalam
hubungan mereka. Begitu banyak pula kesalahan dalam cinta yang ia
miliki. Tak seharusnya ia mencintai kakak kandungnya sendiri, terlebih
lagi mereka berdua memiliki gender yang sama. Akan lebih mudah jika
saja Luhan itu seorang yeoja sekaligus kakak tirinya. Tapi...
Bukankah cinta tak memandang gender? Bukankah cinta jatuh kepada siapa
saja dan dimana saja? Apa kata kerabat mereka nantinya jika mengetahui
perasaan Sehun? Ayah dan ibunya pasti sangat kecewa jika mereka tahu.
Sehun sudah berusaha menghilangkan perasaan itu dari hatinya. Tapi
kenapa semakin ia berusaha melupakan Luhan semakin besar juga
perasaannya?
'Ya Tuhan... Aku bisa gila jika seperti ini terus.' Sehun
menghembuskan nafasnya kasar dan mengacak rambutnya frustasi. Ia
memutuskan bangun dan berjalan mendekati Luhan yang sibuk mengarungi
lautan mimpi. Ia berjongkok. Menatap wajah di depannya dengan perasaan
kagum. Perlahan... tangannya terulur dan menyingkirkan poni yang
menutupi sebagian wajah cantik hyungnya. Menyentuh pelan kedua mata
Luhan, sedikit menusuk pipi chubbynya hingga membuat sang empu
bergerak tak nyaman.
"Sehunnn... itu rotiku..." Sehun terkikik geli mendengar igauan Luhan.
"Bahkan dalam mimpimu pun masih ada aku hyung." Lirih Sehun. Luhan
tetap tertidur. Jari Sehun kini telah sampai di bibir tipis Luhan.
Bibir yang setiap pagi menyentuh bibir dan seketika membuat detak
jantungnya menjadi tak beraturan. Pada akhirnya, ia hanya bisa
membiarkan Luhan mencium bibirnya tanpa balasan karena ia tak ingin
perasaan tak wajarnya semakin membesar.
"Saranghae, Oh Luhan..."
TBC
(A/N : Terima kasih untuk respon di chapter kemarin ^^ itu membuat ku senang ^^ Dan, untuk chapter sekarang, apakah ini sudah panjang? Atau masih kurang? Aku akan banyak berusaha,berikan komentar yang membangun ^^ aku tdak mempermasalahkan siders, hanya saja ff ini akan terus seperti ini, Terima kasih ^^)
