Title : Undetermined (Chapter 3)
Author : Damien Cho & MBLAQIM
Genre : Incest
Rated : T
Cast : Oh Sehun & Xi Luhan
Summary : Tumbuh dan berkembang dalam waktu yang hampir bersamaan.
Tinggal dalam satu atap. Tidur dalam satu kamar. Pergi dengan
kendaraan yang sama. Bahkan bersekolah pun di sekolah yang sama.
Terlebih lagi... lahir di rahim yang sama. Pantaskah kau menyimpan
perasaan yang tak wajar untuk saudaramu? Pantaskah kau mencintai orang
yang sepatutnya kau hormati? Tak takutkah kau akan dosa,
Oh Sehun?
*********************
Sehun sedikit berjengit karena tak ada teriakan cempreng dari hyungnya. Ia melihat jam yang ada di samping nakas dengan mata
setengah terbuka.
'Padahal sudah jam 06.15'
Ia melirik tempat tidur di sampingnya. Rapi, bersih,...
'Eh? Dimana tasnya?'
Perasaan khawatir tiba-tiba menghinggapi dirinya. Bergegas ia bangun
dan segera bersiap-siap. Memakai seragamnya asal-asalan tanpa
memperdulikan bagaimana penampilannya.
Drap! Drap! Drap!
"Dimana Luhan-hyung?" tanya Sehun kepada Appa dan Eommanya yang kini
tengah berkumpul di meja makan. Tapi tidak ada Luhan disana.
"Eoh, Sehun? Kau sudah bangun?" tanya eomma balik.
"Eomma. Dimana Luhan-hyung?"
"Ia berangkat duluan. Katanya ingin menjemput seseorang."
UHUKK!
Jawaban dari sang Appa berhasil membuat roti yang dimakannya memaksa
mendesak keluar. Sehun menepuk dadanya kasar dan meneguk susu coklat
yang ada di depannya sekaligus. Tanpa berpamitan, Sehun segera pergi
ke sekolah dengan sepeda kayuhnya.
At School
Sehun sampai di sekolahnya dalam waktu 15 menit. Biasanya. ia dan
Luhan memerlukan setidaknya 30 menit. Ia memarkirkan sepedanya asal
dan langsung berlari ke kelas Luhan.
"Tidak ada. Dimana dia?" Sehun sedikit mengumpat saat tak menemukan
siapapun di kelas Luhan. Ia mengecek kelas satu-persatu. Tapi nihil.
Tak ada siapapun. Perutnya bergemuruh minta diisi terpaksa membuat
Sehun melangkahkan kakinya menuju ke kantin.
Deg!
Sehun menghentikan langkahnya. Ekspresinya datar tapi siapa yang tahu
apa yang ada di pikirannya. Disana... di salah satu meja di sudut
kantin, orang yang dikenal sebagai hyungnya tengah tertawa lepas
dengan seorang gadis yang Sehun yakini gadis itu sama dengan yang
kemarin. Park Minji. Apalagi melihat Luhan yang menghapus sisa makanan
di sudut bibir Minji hingga membuat gadis itu merona membuat sesuatu
di dalam dada kirinya mengkerut sakit. Sehun mengepalkan tangannya
kencang dan berusaha mengatur emosi.
Tanpa menoleh ke belakang, Sehun memutuskan untuk pergi dari area itu.
Terkadang, sesuatu di dalam hatinya memberontak untuk mengatakan semua
yang dia rasakan. Tapi ia juga tidak ingin Luhan membencinya setelah
mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Ia takut Hyungnya akan jijik dan
tak ingin lagi menganggap dirinya.
"ARGHHH...! ANDWEE...!" Sehun memukul keras tembok di depannya.
Bercak darah terlihat melapisi permukaan tangannya. Tapi ia tidak
peduli. Hatinya jauh lebih sakit daripada tangannya.
'Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus melupakannya.'
****************************************************************************************
Luhan POV
Aku bahagia sekali hari ini. Ternyata selama ini ada yang menyukaiku.
Aku pikir, hanya adikku saja yang punya banyak fans, ternyata ada
seorang yeoja yang terang-terangan mengatakan bahwa ia menyukaiku.
Tapi aku belum mengatakan jawabannya karena tidak ada perasaan apa-apa
dalam hatiku. Hehehe... kalau tidak salah, namanya... Min Gi? Nam Ji? Mmmm...
AH! PARK MINJI! Ia sangat cantik. Rambutnya panjang bergelombang dan
ia mempunyai kulit yang sangat bagus dia juga mempunyai dada yang lumayan besar, aishh Luhan hentikan imajinasi mu sekarang juga. Ia juga mengaku bahwa ia sekelas
dengan Sehun. Ah... ngomong-ngomong tentang Sehun, kenapa aku tidak
melihatnya dari tadi ya? Aku merasa bersalah sekali karena langsung
meninggalkannya tadi pagi. Aigooo.. Adik kecil ku, kamu dimana?
Aku memutuskan untuk pergi kekelasnya, aku tidak menemukan Sehun di dalam kelas. Kuperhatikan semua teman Sehun yang mungkin aku kenal. Ahh namja yang mempunyai kulit yang berbeda dengan yang lainnya itu, bukankah pernah kerumah dulu? Tapi.. arghh, berapa umurku sekarang? Kenapa aku mendadak pikun seperti ini? Astaga, bahkan umurku saja aku lupa.
"Ya.. kalian" semuanya menoleh kepadaku "apa kalian melihat Oh Sehun?"
"Sehun? Bukankah dia tidak masuk aku tidak melihatnya sejam Bel jam pertama dimulai? Oh.. bukankah kamu Hyung-nya?" Laki laki dengan kulit gelap itu menjawab, aku masih mencari namanya di dalam otakku "Eum.. Jongin benar.. Sehun tidak masuk kelas sama sekali, apa kamu tahu alasan dia tidak masuk?" Ahh.. jadi namanya Kai, terima kasih namja bermata bulat, kau menyelamatkan otakku yang kelimpungan mencari nama manusia dengan kulit tan itu.
"Eeee.." siapa namanya? Kali ini aku benar benar tidak tahu. "Kyungsoo" ucapnya sambil tersenyum manis.
"ahh, Kyungsoo-ssi, aku tidak tahu Sehun pergi kemana, aku tidak akan mencarinya jika aku tahu jika dia tidak masuk"
"Kau benar"
"Kalau begitu aku pergi dulu, dan terima kasih Jongin-ssi, Kyungsoo-ssi"
Aku langsung meninggalkan Kelas Sehun. Jongin bilang Sehun tidak ada di tempat sejak jam pertama. Apa
ia membolos? Ah tidak mungkin! Sehunnie-ku bukan anak nakal. Aku
mendatangi tempat-tempat yang biasanya sering ia kunjungi. Lapangan
basket, atap sekolah, tapi aku tidak menemukannya. Saat aku melewati
UKS, tak sengaja aku mendengar suara yang cukup familiar di telingaku.
Karena aku adalah seseorang dengan perasaan ingin tahu yang tinggi,
aku sedikit berjinjit dan mendorong pelan pintu UKS.
SEHUN!? Itu Sehunnie kan? Tapi sedang bersama siapa?
Tidak jelas. Yang kutahu Sehun bersama seorang yeoja. Tapi kenapa
mereka berdua saja di UKS? Hei! Kemana guru penjaganya? Dan apa-apaan
itu! Seenaknya saja dia menyentuh tangan Sehun, padahal kan hanya aku
saja yang boleh menyentuhnya! Aku merasa panas menjalari dada dan
wajahku. Apalagi yeoja itu kini mulai memeluk Sehunnieku! MWO!
BRAKK!
Dengan kasar kudobrak pintu UKS hingga membuat yeoja itu segera
melepaskan pelukannya. Cih! BITCH!
"Sedang apa kalian disini?" tanyaku marah. Terlihat yeoja itu
menggigit bibirnya gugup. Sehun? Ada apa dengan wajahnya itu!?
Bukankah biasanya ia akan marah jika seorang yeoja menyentuhnya
kecuali Ibu.
" OH SEHUN! JADI INI YANG MEMBUATMU MEMBOLOS, EOH?" Sehun hanya diam
dengan wajah datarnya itu. Ugh! Ingin sekali aku menarik rambut dan
menyeretnya paksa pulang ke rumah. Sehun mengalihkan pandangannya
dariku dan ganti menatap wanita yang kini meringkuk ketakutan karena
teriakkanku.
"Kau baik-baik saja, Hyera?" tanya Sehun khawatir. Ia menyentuh
pundak gadis yang kuketahui namanya Hyera dan memeluk gadis itu.
Seketika mataku melebar melihat pemandangan yang ada di depanku ini.
Argh! Segera kutarik paksa lengan Sehun dan membawanya ke atap.
Bruk!
Aku mendorong Sehun hingga punggungnya menabrak tembok yang ada di depan.
BUGH! BUGH!
Dengan emosi yang memuncak, aku meninju pipi kiri dan kanannya hingga
tersungkur. Aku menarik kerah seragamnya kasar dan menatapnyan sendu.
Mianhe Sehunnie... Maafkan hyung. Hyung terpaksa melakukan semua itu
karena kelakuanmu. Sehun balas menatapku dengan mata elangnya.
"Wae Hyung? Bukankah kau ingin memukulku lagi?" tanyanya datar. Aku
segera mengalihkan pandanganku dan melepaskan kerah kemeja miliknya.
Aku terduduk lemas dan memperhatikan wajahnya yang dipenuhi lebam dan
darah yang mengalir di sudut bibir. Astaga! Apa yang telah kulakukan
terhadapnya? Bagaimana bisa aku memukul adikku sampai seperti ini?
"Kenapa kau melakukan ini padaku, hyung?"
Aku terdiam. Aku sungguh tak mengerti apa maksudnya.
"Apa kau menyukaiku?"
"Tentu saja,Sehunnie. Aku kan-"
"CUKUP, LUHAN...!"
Aku terdiam. Ia membentakku? Ada apa dengan tatapannya? Dimana tatapan
kasih sayang yang selalu ia tunjukkan untukku? Dimana?!
"Aku mencintaimu, Oh Luhan. Mencintaimu sebagai Oh Sehun. Bukan adikmu."
"A-Apa!?" Dengan tangan bergetar, aku mencoba menyentuh wajahnya. Tapi-
Plak!
"Jangan sentuh aku. Hyung boleh membenciku setelah ini."
DEG!
Tubuhku menegang. Sehun... menolakku? Ia bahkan tak sudi aku
menyentuhnya. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri
di atap. Aku masih berusaha mencerna semua ucapannya.
"Sehun... menyukaiku?"
Luhan POV End
Kini Sehun kembali mendatangi di Atap sekolah saat mengetahui kalau Luhan sudah pulang, tempat favorit Hyung-nya dan juga tempat favorit dirinya sendiri. Dia menghela nafas panjang. Apa ini salah? Pertanyaan itu selalu muncul saat pemuda yang memiliki kuliat nyaris pucat itu memikirkan Luhan yang merupakan Hyung-nya itu.
"Hyung, apa aku terlihat menjijikkan dimatamu sekarang?" Monolognya "Hyung.. apakah salah jika aku berharap Hyung juga empunyai perasaan yang sama denganku? Gay? Hubungan sedarah? Aku tau Hyung, ini salah. Hyung, apa Hyung juga menyukaiku? Eoh? Tapi Hyung malu?" Hiburnya yang diperuntuk-kan kepada dirinya sendiri "Aku cukup tahu Ini masih hal yang tabu, tapi.. Belanda yang merupakan tempat dimana Gay di perbolehkan bukanlah ide yang buruk untuk kita kunjungi, Kita, kita bisa tinggal disana Hyung" Sehun menangis, perasaan cinta untuk Luhan tumbuh begitu saja tanpa bisa dicegah.
"ARRRRGGGHHH" Sehun mengacak rambutnya frustasi. Sehun tersenyum miris, dia tahu Luhan tidak akan membalas perasaannya, dia berfikir orang gila mana yang akan menjadi Gay ditambah mencintai saudara kandungnya sendiri, Oh.. kau Lupa Oh Sehun? Kau lah orag gila itu. Yang mencintai saudara laki laki mu sendiri.
Sehun bangkit dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat Favorit dirinya dan Luhan, atap sekolah. Melihat penampilannya sekarang, sangat terlihat kalau dia tidak sedang dalam keadaan yang baik baik saja. Entah apa yang diperbuat pria pucat itu pada kehidupan sebelumnya sehingga dia mempunyai takdir yang menyedihkan seperti ini.
********************************************************
Skip Time
Luhan berjalan gontai menuju halte bus. Sepedanya ia titipkan pada
penjaga sekolah. Ia tidak yakin akan sanggup pulang ke rumah dengan
keadaan seperti ini. Sehun pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa setelah kejadian di UKS siang tadi. Ia
masih setengah tak percaya. Sisi lain di dalam dirinya merasa senang
mengetahui Adiknya mempunyai perasaan itu. Tapi di sisi lain ia juga
merasa bahwa ini salah.
"I'M NORMAL...!" teriak Luhan di dalam bus. Tak mau memperdulikan apa
tanggapan orang-orang, ia berkali-kali mengatakan pada dirinya sendiri
bahwa ia normal, ia masih menyukai yeoja, ia ingin mempunyai anak,
dll. Tapi sepertinya tak semua ucapan itu sesuai dengan hatinya. Hari
itu, ia mulai ragu.
"Ini buruk."
TBC
A/N : Thanks readers buat semangatnya. Tidak peduli yang review sedikit atau banyak, aku akan tetap melanjutkannya, kalian membacanya sudah cukup untukku ^^ Tenang, Chapter depan ini akan END ^^ aku tahu FF ini tidak menarik dan membosankan, tapi aku cukup senang ada yang bersedia membacanya, dan ketahuilah ini FF pertamaku(MBLAQIM) untuk Damien Cho mungkin dia sudah banyak membuat FF. Aku akan berusaha kedepannya. Terima kasih, sampai jumpa di Chapter 4. :D
