Midorima hanya cinta pada Lucky Item-nya. Tidak ada yang lain. Nyatain cinta bagi Midorima adalah KETIDAKMUNGKINAN! Tsunderenya terlalu akut. Dan orang yang menyatakan cinta padanya MUNGKIN AJA ADA SIH, tapi Midorima menerima cinta dari orang lain, sekali lagi, KETIDAKMUNGKINAN!

Disclaimer : tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei, kecuali OC milik daku. Ada beberapa adegan awal juga daku ambil dari manga Beauty Pop milik Arai Kiyoko-Sensei, ijin ya. Dikit aja kok mbak. Hehehe.

Warning : OOC, cerita gaje, lebay. Dan jika anda menemukan hal ini, silahkan muntah di tempat yang telah disediakan dan laporkan pada pihak yang berwajib.

Miinaa.. daku tidak menyangka ada yang RnR, sangkyu ya. Daku terharu. Hiksu hiksu T.T. daku mulai dari karakter yang ijo dulu ya.

Pagi hari, pukul 08.30 tepat, Midorima Shintarou memasuki gerbang SMA Shutoku dengan biasa. Biasa aja, beneran. Kali ini dia gak bawa Lucky Item. Benarkah? Eh ternyata ada ding. Dia mengenakan sepatu berwarna hitam dengan corak berwarna merah.

"hacchuu…" seorang perempuan mungil berambut pendek hitam bersin disampingnya. Midorima menoleh dan melihat perempuan itu menggigil. Jiwa kemanusiaannya muncul.

"daijobu?" tanyanya.

"eh? Daijobu. Terima kasih…" jawab perempuan itu sambil tersenyum.

"kau tidak mengenakan jaket?" Midorima heran. Sebenarnya dia gak mau bantu anak ini sih. Kan, mulai tsundere!

"jaketku ditempat laundry." Jawab perempuan itu lagi sambil sekali lagi bersin. Huh, males banget anak ini! Pikir Midorima.

"ya sudah. Pakai ini…" Midorima melepas jaketnya dan memberikannya pada perempuan itu. "sebenarnya aku tidak mau melakukan ini, nanodayo" ujarnya sambil menaikkan kacamatanya (clek).

"kalau begitu tidak usah!"

"oi! Kau ini..." Midorima mulai emosi, tapi "ehem… tak apa, lagi pula aku juga sudah pake baju berlapis, nanodayo" ujarnya lagi sambil menaikkan kacamatanya (clek).

"kau laki-laki tapi takut dingin?" perempuan itu tersenyum meremehkan.

"sudahlah, nanodayo. Kalau tidak mau, kembalikan!"

"eh eh, jadi jadi. Makasih ya. Namaku Toriyama Yukio. Besok aku kembalikan! Jaaaa…" dan tinggallah seorang Midorima yang berdiri sambil tertiup angin sepoi-sepoi musim dingin. Melankolis banget.

"hemm…" Midorima kembali memperbaiki kacamatanya (clek).

….

Esoknya. Di kelas 2A, Midorima duduk dibangkunya, tengah paling depan. Sesuai feng shui yang dia dapat dari Oha Asa. Dia tampak depresi.

"ah, baaka, nanodayo. Aku tidak menemukan anak itu dimana pun. Ternyata jaket itu adalah Lucky Item-ku hari ini. Aku bisa saja apes, nanodayo" muncul aura hitam di atas kepala Midorima. Dia benar-benar sweatdrop. Terlalu banyak berfikir kedepan, membuatnya mengkerut #plak.

"Shin-chan! Ada apa? Lucky Item-mu tidak ada?" Tanya Takao seperti seorang peramal saja. 'Seperti' loh ya, kalau beneran peramal, bisa-bisa Midorima selalu tanya soal keberuntungan sama dia.

"benar. Jaket yang kemaren itu Lucky Item-ku" jawab Midorima. "ah, sebenernya aku gak mau menceritakannya padamu, nanodayo"

"oohh… yang kau pinjamkan sama si kelas 1 itu." Angguk Takao.

"…"

"…"

"argghhh… Toriyama Yukio. Dimana dia?" Midorima mulai frustasi.

"aku?" tiba-tiba muncul sesosok perempuan berdiri didepan Midorima.

"uwaaahhh…" Midorima kaget pake banget. Ni anak udah kecil, tiba-tiba nongol lagi. Gak tau sopan santun, kayak Kuroko! Midorima ngambek. *Oi, ngambek gak usah sebut-sebut Tetsu, keles.*

"ehehe.. gomen ne…" perempuan, yang dikenal oleh Midorima dengan nama Toriyama Yukio itu, nyengir.

"kau dimana saja? Aku sudah mencarimu diseluruh kelas 1, nanodayo!" Midorima hampir saja meledak kalau saja ia ingat harus jaga imej, clek (mulai sekarang, jika ada kata 'clek' berarti Midorima memperbaiki posisi kacamatanya). "bukan berarti aku mencarimu, aku mencari jaketku!"

"tentu saja kau gak ketemu! Aku kelas 3, keles!" Toriyama menggembungkan pipinya. Midorima dan Takao menatap Toriyama dari atas sampai bawah. Bahkan Toriyama mesti mendongak kalau melihat Takao. Ya pantes aja Midorima kira dia junior, imut gitu kok.

"EEEHHHH NANIIII?" Midorima dan Takao teriak berjamaah. Telat banget.

"oh ya, soal jaketmu itu…" Toriyama lalu menunduk.

"ya ya, aku hampir lupa. Mana?" tanya Midorima sambil melihat Toriyama tidak membawa apa-apa. Clek.

"anoo… aku menaruhnya di laundry. Lupa ku ambil. Hehehe…" jawab Toriyama sambil garuk-garuk perut. Karena garuk kepala udah terlalu mainstream #plak.

"NANIII!" Midorima udah melupakan jaim. Gak ada kata jaim kalau Lucky Itemnya gak ada hari itu. Clek. "kau tampaknya mau mati, nanodayo!"

"eh eh, kok begitu sama senior. Gomen gomen ne. aku lupa. Besok aku bawa deh yakin! Besok besok ya! Besoooookkkk yaaaaaaaaaaaaaaa…. Pliisssss…" Toriyama mohon-mohon sama Midorima yang siap-siap mau ngelempar Toriyama lewat jendela dengan teknik 3 point miliknya.

"ah, kalau saja senior ini tidak malas, dia pasti aku taksir." Ujar Takao dalam hati. Miris.

"ah… ini susah, nanodayo, itu adalah Lucky Item ku hari ini!" ujar Midorima, clek. "satu kesialan sudah muncul pagi ini, nanodayo"

"kau percaya hal begituan, huahahahhahahaha…" ngakak deh tuh Toriyama.

"sudah gak ngembaliin barang orang, ketawa pake ngakak lagi. Kurang ajar betul ni senpai!" ujar Takao sambil melihat Midorima yang mulai menggenggam buku, ancang-ancang melempar, dan…

"cepat keluar sana!"

BRUAK BRUAK PLAK JDAR BUMM…. *reader silahkan bayangkan sendiri.

"sial benar hari ini…"

….

Esoknya…

Midorima pergi ke kelas Toriyama yang ada di lantai 3. Merepotkan, nanodayo. Pikirnya. Aku hanya mau mengambil jaketku, hanya itu, nanodayo. Clek.

"oi, Shin-chan! Kau mau ke tempat Yukio-senpai? Aku ikut dong!" pinta Takao. Tak perlu disetujui, Takao sudah mengikuti Midorima. Mereka pun menuju tangga keatas.

"bahaya sekali!" ujar Takao dalam hati, dia melihat ada kulit pisang di tangga "tapi siapa yang begitu bodoh sampai jatuh oleh…"

"ohayooo!" Toriyama berteriak sambil melambaikan tangan lalu berlari menuruni tangga.

BRUAKK…

"EHH ADA? Pfftt…" Takao menahan tawa melihat Toriyama terpeleset dan menimpa tubuh Midorima yang tanpa sadar menangkap Toriyama. Namun karena beban dan posisi jatuh yang luar biasa, mereka berdua terkapar dilantai tepat didepan Takao yang tertawa diatas penderitaan orang lain.

"uhh, ittaii…" Toriyama memegang kepalanya yang beradu dengan lengan Midorima. Midorima dengan muka jaim hanya memperbaiki kacamatanya, clek.

"oi, Takao. Siapa suruh kau tertawa. Buang benda nista itu dari bumi ini. Hanguskan! Benar-benar membuat kesal, nanodayo!" ujarnya kesal pada Takao. Takao segera melaksanakan perintah sang majikan #ups.

"gomen ne, Midorima-kun!" ujar Toriyama sambil segera berdiri, dia lalu memberikan bungkusan yang berisi jaket Midorima padanya. "nih. Arigatou!"

"hem" Midorima menjawab sambil segera berdiri dan membersihkan seragamnya yang terkena debu. Clek. "ayo pergi, Takao!" Midorima pun pergi meninggalkan Toriyama.

"haik! Ja ne, senpai!" ujar Takao SKSD, Sok Kenal Sok Dekat, sama Toriyama.

"nee…"

Esoknya…

Midorima sedang piket kelas bersama 5 orang teman lainnya yang termasuk Takao. Ketika ia sedang membersihkan jendela, tiba-tiba ia melihat ada Toriyama berjalan dilapangan sambil membawa buku.

"Oi! Senpai! Apa yang kau lakukan?" teriak Takao pada Toriyama. Midorima mengangkat keningnya heran. Apa hubungan Takao dengan Toriyama-senpai, nanodayo? Clek. Tapi aku juga tidak begitu peduli. Midorima melihat ke bawah. Karena kelasnya berada di lantai dua.

"kalian rajin sekali! Piket ya…" ujarnya.

"hem… senpai…"

"Midorima, awas!" Toriyama berteriak sambil menunjuk keatas, kearah jendela kelas 3. Takao dan Midorima melilhat keatas.

BUMM…

"Shin-chan!"

"Midorima-kun!"

2 buah penghapus jatuh tepat dikepala Midorima yang sedang melongok ketika membersihkan kaca. Takao panic melihat temannya terkantung-kantung dijendela setelah terkena 'penghapus maut'. Gawat banget kan kalau dia jatuh? Minggu depan ada pertandingan!

"huaaa… Shin-chan. Jangan mati, jangan mati! Oi oi kalian, Shin-chan sekarat nih… bantu bawaain!" Takao panik sambil memanggil-manggil teman sekelasnya. Sementara Toriyama ber-panik-ria dibawah.

"Shin-chan, kau gak bawa Lucky Item atau gimana? Sial banget?"

…..

Dan berhari-hari hidup Midorima sial selalu. Why? Mengapa dia selalu sial? Orang paling beruntung dimuka bumi ini kan adalah Midorima, jika dia saja sial, gimana yang lain? Gimana dengan Takao? #plak. Midorima semakin kesal. Dan kata-kata marah plus nanodayo meluncur dari mulutnya. Padahal ia sudah menonton Oha Asa secara rutin. Ritual panjang sebelum tidur selalu ia laksanakan. Lucky Itemnya dari hari ke hari semakin besar.

"anoo… Shin-chan. Kau tidak makan? Sebentar lagi masuk loh. Ayo cepat!" Takao menegur Midorima yang sedari tadi menusuk-nusuk makanannya. Mereka berada di tongkrongan favorit, di atap SMA Shutoku.

"aku tidak selera. Ayo pergi, Takao!" Shin-chan segera berdiri dan meninggalkan Takao.

"…"

"…"

"Shin-chan akhir-akhir ini ngambek ya?" ujar Takao ketika mereka menuruni tangga.

"aku agak heran. Sebenarnya, apa yang terjadi pada keberuntunganku, nanodayo" clek. Midorima mulai mengomel. "apa penyebab kesialan ini ya? Bahkan Oha Asa tidak mengetahuinya, nanodayo" clek.

"kalau begitu, Shin-chan, tidak kah kau merasakan hal yang aneh. Ehm mungkin fenomena beruntut yang menyebabkan kesialan?" tanya Takao kritis. Tumben pinter. Pikir Midorima. Clek.

"haaiii… apa yang kalian lakukan disini?" Suara cempreng khas perempuan terdengar dibelakang mereka. Midorima langsung merinding badai mendengar suara itu.

"oh, Yukio-senpai! Kami baru saja habis makan. Tapi Shin-chan sedang ngambek hari ini, jadi dia tidak makan! Kami mau kembali kekelas." Jawab Takao sambil menunjuk Midorima yang bahkan tidak menoleh.

"eh, Midorima-kun. Apa kau baik-baik saja? Perempuan dikelasku membicarakan kesialan mu loh. Ada apa ya? Mungkin karena kau terlalu bergantung dengan Oha Asa." Ujar Toriyama asal.

"heh? NANI!" Midorima akhirnya berbalik. Dia tersinggung, Oha Asa tercintanya dijelek-jelekkan. Clek.

"ya iya kan. Begitu aku pertama bertemu denganmu, tidak ada keberuntungan ku lihat padamu. Bahkan setelah aku mengembalikan jaket yang kau bilang 'Lucky Item-mu'." Toriyama menekankan kata Lucky Item. "aku yang gak pake Lucky Item aja, selalu beruntung!"

"tunggu, nanodayo. Sejak kita pertama ketemu?" Midorima mulai berfikir dan… "kalau begitu aku tahu apa yang menyebabkan aku sial, nanodayo!" clek.

"apa? Apa?" Takao menunggu dengan setia teori ngawur Midorima.

"karena Senpai ada didekatku. Jika senpai didekatku, maka senpai adalah penghalang keberuntunganku! Karena itu senpai selalu beruntung dan aku selalu sial, nanodayo" Midorima menjelaskan dengan hikmat sementara Takao mengangguk-angguk setuju. Toriyama sweatdrop. Clek.

"oi oi, maksudmu aku sejenis makhluk pembawa sial, gitu?" tanyanya.

"benar, nanodayo." Jawab Midorima dengan pasti. Clek. "mulai sekarang, senpai tidak perlu dekat-dekat denganku. Tidak! Jarak aman kita adalah 5 meter. Ingat, senpai! 5 meter, nanodayo!" clek. Midorima mengingatkan dengan penuh semangat. Toriyama mulai tersinggung.

"memangnya siapa yang mau dekat-dekat dengan DUKUN TSUNDERE AKUT sepertimu! Huh!" Toriyama memarahi Midorima dan pergi meninggalkannya dengan Takao.

"ah, Shin-chan, apa kau tidak berlebihan?"

"tidak, Takao! Ini benar! Kita lihat saja, aku tidak pernah salah, nanodayo!" ujar Midorima dan mulai kembali berjalan. Clek.

Toriyama berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan keras bagai seorang kapiten. Teman-temannya heran melihatnya.

"ada apa, Yukio-chan?" tanya Shiro, teman dekatnya.

"aku benar-benar kesal sama si kepala lumut itu!" jawabnya kesal. Shiro mencoba mengingat teman-teman mereka yang dipanggil 'Kepala Lumut' oleh Toriyama. Emang ada?

"siapa?"

"MIDORIMA TSUNDEREEEE!" Toriyama berteriak, membuat semua mata tertuju padanya #MissWorld.

"ohh… generasi keajaiban itu? Kenapa?" tanya Shiro sambil mengangguk-angguk.

"dia benar-benar menjengkelkan!"

"kau akrab dengannya?"

"bagian mananya yang akrab! Aku kesal gini kok!"

"ehehehe…" Shiro ketawa gaje. Toriyama bener-bener kesal nih kayaknya. "tapi dia keren yah!"

"heeehhh?" Toriyama kaget banget. "keren kepalamu! Mana ada! Bego gitu!"

"keren kok!" Shiro ber-fangirling-ria. "udah ganteng, pinter, jago main basket, baik lagi. Sayang banget dia itu junior kita. Coba gitu dia seangkatan kan? Kyaaaaaa~~~"

"cukup! Aku tidak mau mendengar kata-katamu tentang anak itu. Yang aku tahu, dia itu tsundere, terlalu percaya tahayul, dan bodoh! Cukup! Kepalaku sakit saat ini!"

Pertandingan basket, Shutoku vs Kirisaki Dai Ichi . jujur, author sendiri gak suka sama tim ini. Curang to the max! Semoga aja Midorima membawa Lucky Item yang besar, karena ini adalah pertandingan yang berbahaya. Toriyama dan Shiro pergi menonton acara itu.

"kyaa~~ kira-kira hari ini Midorima-kun main gak ya?" tanya Shiro pada Toriyama yang tampak malas.

"entah. Jangan tanya padaku!" kekesalan Toriyama masih ada dalam hatinya meski sudah 3 minggu tidak bertemu Midorima. Dendam kesumat. Toriyama dan Shiroi berjalan menuju tempat pertandingan ketika mereka berpapasan dengan Midorima. Shiro tampak gugup, sementara Toriyama cuek.

"Toriyama-senpai?" Midorima kaget melihat Toriyama datang. Clek.

"hem. Wagatteruuu! Tenang saja. Aku kesini bukan untuk menontonmu. Hanya ingin melihat tim basket Shutoku! Aku berada di bangku paling atas. Jadi jaraknya jauh kan? Tenang saja. Keberuntunganmu baik hari ini!" Toriyama, seperti sudah tahu apa yang akan dikatakan Midorima segera memberikan alasan atas keberadaannya di tempat ini.

"hem…" Midorima tersenyum. Clek. "baiklah, kalau begitu, nanodayo…" Midorima pun pergi.

"huft…" Toriyama kembali menunduk. Padahal dalam hatinya, ia sangat senang bertemu Midorima. Tapi kenapa malah kata-kata itu yang keluar. Ah, lagi pula Midorima tidak mau bertemu dengannya. Argh! Kenapa sih dengan dirinya? Kena pelet sama Midorima? Gak mungkin kan? Tunggu, ada apa sih?

"kenapa, Yukio-chan?" tanya Shiro melihat Toriyama mulai menggila.

"eh, ie. Oh ya, Yukio-chan, gimana perasaanmu jika orang yang ingin kau temui itu malah tidak suka padamu? Kesal tidak?" tanya Toriyama tiba-tiba.

"kesal banget lah! Banget banget banget!" jawab Shiro.

"benar! Aku membenci anak itu. Kesaaaalll sekali…. Benar-benar membencinyaaaa!" Toriyama gila, bung.

"jangan begitu, ntar malah suka loh, sama si Kepala Lumut!" ejek Shiro.

"eh, dari mana… tunggu dulu kauuu…"

"hahaha… padahal kau bilang membencinya. Tapi kangen juga. Wkwkwk…" Shiro selalu tau apa yang ada dipikiranku. Ujar Toriyama dalam hati melihat Shiro tertawa.

….

Pertandingan pun berlangsung, dan sudah banyak korban berjatuhan *?*. Untung aja anggota Shutoku banyak, jadi gak habis-habis. Midorima hanya diam dibangku cadangan. Pelatih tidak dapat membiarkan ia untuk bermain dalam keadaan seperti ini. Lagi pula permainan masih dikuasai Shutoku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"apa-apaan itu? Kenapa Midorima-kun tidak main?" tanya Shiro pada Toriyama di bangku penonton. Ia melihat Midorima berada dibangku pemain cadangan sedang mengatakan sesuatu kepada pelatih.

"entah, mungkin dia tidak mau sial. Aku kan 'pembawa sial'-nya" jawab Toriyama asal. Mungkin saja kan? Pikirnya. Shiro hanya diam saja.

"…"

"lihat-lihat! Midorima masuk!" Shiro berteriak.

"eh? Benarkah?" Toriyama tidak percaya ini. Midorima masuk kelapangan dan tidak tampak seperti orang yang biasa ia temui. Midorima yang cerewet dan tsundere itu telah berubah!

"masuk! Sugoooiii! Sejauh itu bisa masukk!" Shiro kegirangan setelah melihat lemparan Midorima. 3 point dari jarak setengah lapangan.

"…"

"huahhh… lagi?! Sugoi neee!" Shiro berteriak lagi. Toriyama hanya dapat tercengang. Tidak pernah ia bayangkan Midorima bisa sehebat itu. Ia memegang jidatnya. Kenyataan memang hebat, pikirnya.

BRUAKK…

"Arghh!"

"Midorima-kun!" Shiro berteriak. Ada apa ini? Ada apa dengan Midorima? Bagaimana bisa? Toriyama mulai panic melihat Midorima mengalami tabrakan dengan Hanamiya. Hanamiya menindih tubuhnya, dan terlihat tangan kiri Midorima terluka parah.

"karena aku…"

"eh bukan, Yukio-chan. Ini bukan salahmu!" ujar Shiro.

"tapi karena aku menonton, makanya jadi sial begini!" jawab Toriyama yakin.

"ih, masa' sih kamu percaya hal kayak gitu! Ini bukan salahmu kok!" jawab Shiro. Tapi meski Shiro mengatakan berbagai teori bahwa Toriyama salah, namun telinga Toriyama telah tuli mendadak. Ia tidak mendengar apa-apa kecuali perkataan Midorima dulu.

"karena Senpai ada didekatku. Jika senpai didekatku, maka senpai adalah penghalang keberuntunganku! Karena itu senpai selalu beruntung dan aku selalu sial, nanodayo"

"mulai sekarang, senpai tidak perlu dekat-dekat denganku. Tidak! Jarak aman kita adalah 5 meter. Ingat, senpai! 5 meter, nanodayo!"

"ugh" Midorima terbangun disebuah ruangan yang serba putih. Kepalanya agak pusing. Ia melihat dengan samar, karena gak pake kacamata, tangan kirinya yang terbalut gips. Ukh, sial banget hari ini!

"sudah bangun, Shin-chan?" tanya Takao yang berada didekat jendela. Supaya melankolis gitu, hehehe.

"hem" jawab Midorima sambil mencari kacamatanya. Ia mengambil kacamatanya yang ada dimeja disampingnya. Clek.

"kita menang. Syukurlah! 6 point darimu itu sudah cukup, arigatou na!" ujar Takao sambil tersenyum. Midorima juga ikut tersenyum kecil.

"neeeee… apa yang kau rasakan ketika ditunggui cewek cantik?" goda Takao.

"cewek? Kau sekarang jadi bences? Aku masih normal. Gak minat jadi hombreng, nanodayo!" clek. Midorima prihatin pada Takao, ckckck.

"WOI! SIAPA BILANG GUE JADI BENCES, GAK LAH YAUUWWW.." Takao ngambek. "ehm. Bukan, maksudku itu, lihat yang tidur disampingmu!"

"samping?" Midorima melihat sisi kanannya. Loh, sejak kapan ada orang disini? Karena baru pake kacamata, ia baru lihat. Yeee, lagian dia kan gak buta-buta amat! Emangnya ni orang Tetsu versi cewek? Midorima segera duduk.

"dia panic banget dan ngotot buat nungguin. Hahaha… kau tidak memberitahukannya tentang kejadian itu ya?" tanya Takao.

"eh? Belum."

"Seperti yang sudah kuduga, dasar tsundere!" ujar Takao sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sok pinter banget dia.

"eum.." Toriyama menggeliat bangun *?*. Midorima mulai tegang. Gue mesti ngapain coba? Ni anak udah bangun! Plis deh, demi Lucky Item gue, gue mesti ngapain, nanodayo? Midorima panic to the max sementara Takao menahan tawa.

"aku kayaknya mesti pergi ya… jaaaa…" Takao ngeloyor pergi sebelum tawanya lepasss… "HUAAHAHAHAHA…" ngakak dia diluar! Muka Midorima berubah merah. Untung gak hijau, kan bisa saingan, mentimun sama dia. Hehehe.

"ano, senpai, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya heran.

"huaaaa… Midorima-kun, gomenasai! [T.T]" perempuan yang sudah diketahui identitasnya adalah Toriyama segera menangis. Midorima tambah panik.

"eh, nande, nanodayo?" Midorima panik to the max. clek.

"karena aku menonton pertandinganmu, akhirnya kau malah begini!" ujar Toriyama sambil mengusap air matanya.

"cih, dasar bodoh. Bukan karena itu, nanodayo" Midorima tersenyum kecil, clek. Toriyama heran. "tapi sudahlah, lupakan saja, aku tidak mau memberitahukan alasannya, nanodayo" tsundere akut terdeteksi.

"mouuu apaan sih Midorima-kun?" Toriyama bingung. Midorima hanya diam saja sambil menutup matanya.

"bukan apa-apa, dan juga, pintu ada disebelah sana. Silahkan, nanodayo…" Midorima mempersilahkan Toriyama keluar, clek. Toriyama mulai kesal dengan kata-kata Midorima itu, dia melihat tangan kiri Midorima yang digips.

"oi, kalau kau tidak bercerita, akan kupukul tanganmu!" ancamnya.

"eh?" Midorima kaget, tapi segera memperbaiki keadaan. "hem. Coba saja!"

PLAKK

"Arghhh!" Midorima mengerang.

"sekarang, ceritakan padaku!"

"ah, aku kalah. Baiklah. Tapi senpai jangan tertawa, nanodayo!" clek. Midorima menoleh kearah jendela. Ia malu menceritakan kebodohannya. Ye, bodoh aja pake malu. Coba kayak Takao noh kagak ada malunya dia! #plak #dibunuhFansTakao.

"roger!"

"NANIIII? JADI DARI KEMAREN OHA ASA YANG AKU NONTON ITU DI CHANNEL YANG SALAH?" Midorima mencak-mencak dirumah.

"ehehe… onee-chan, gomen. Chanelnya baru aja diubah si Miau, aku lupa kasih tau onee-chan." Ujar adik perempuannya sambil sujud-sujud minta maaf.

"huh, karena itu aku benci kucing, nanodayo. Pantas saja beberapa hari ini aku sial terus. Lucky item-ku salah" Midorima merenung. Cukuplah ketika kelas 1 dia mengalami hari buruk sedunia dan jadi bahan eksperimen Takao gara-gara gak tau Lucky Item-nya.

….

Toriyama mulai mengerti dengan sikap aneh Midorima. Ternyata memang bukan salahnya sampai Midorima sial sepanjang hari. Ya bukan kan?

"lagi pula, hari ini aku terkena masalah karena memang sudah diramalkan oleh Oha Asa. Sebenarnya aku tidak mau main. Tapi melihat keadaan mendesak, aku terpaksa harus bermain sebelum semua temanku terbantai, nanodayo!" Midorima mulai bercerita panjang lebar. Clek.

"ohhh… begitu ya…" Toriyama hanya bisa mengangguk.

"…"

"…"

Mereka berdua terdiam di ruangan itu dalam waktu yang cukup lama. Ruang VIP gitu loh. Sepi banget. Mereka berdua bahkan bisa mendengar suara detak jam. Untung saja detak jantung Toriyama tidak terdengar. Cepet banget soalnya. Bisa malu dia. Midorima hanya menoleh ke jendela.

"ano, Midorima-kun, ada yang ingin kukatakan padamu…" ujar Toriyama.

"ya?" Midorima menoleh pada Toriyama. Duh, muncul lagi. Jantung Midorima kembali berdetak cepat.

"ehm… aku pikir, entah kenapa… itu… aku…" Toriyama mulai gugup. Midorima apalagi. Dia mulai menebak kearah mana kira-kira Toriyama akan berbicara.

"…"

"aku… aku… ehm…"

"…"

"aku… menyukaimu"

"eh?" Midorima kaget. Cluk. Kan, suaranya salah. "apa yang…"

"ano ano… ini hanya pernyataanku saja. Tidak usah dipikirkan… kau tidak perlu menjawab apa-apa…" Toriyama menunduk. Malu. Malu-maluin aja! Dia merutuki diri sendiri.

"…" Midorima hanya diam sambil terus melihat Toriyama yang menunduk.

Ah, lagi pula perasaan apa ini? Midorima memegang dadanya. Kenapa dia merasa lega? Tapi senpai bukan tipe idealnya. Dia memang suka yang lebih tua, tapi harapannya supaya perempuan itu dewasa. Tapi malah… tapi dia juga… ah… gak tau. Midorima terlalu tsundere untuk mengakui perasaannya.

"kita masih bisa mengulang semuanya dari awal, senpai. Nanodayo" hanya itu yang bisa dikatakan Midorima, dan itu cukup membuat wajahnya merah. Asli! Toriyama mendongak dan tersenyum senang. Ia lalu berdiri dan…

Chu~~

Midorima mendapat ciuman dikening oleh seorang senpai. Midorima kaget namun segera bisa mengendalikan diri. Clek.

"ehm" Midorima terdiam begitu Toriyama selesai menciumnya. Ia lalu menatap Toriyama. Yang ditatap hanya bisa terdiam. Midorima tersenyum.

"itu tidak sopan, senpai. Kacamataku tersenggol dagumu. Itu sakit, nanodayo!" Midorima melepas kacamatanya, dan dengan tangan kanan yang memegang kacamatanya, ia meraih tubuh mungil Toriyama.

"kurasa, satu pelukan sudah cukup…"

"ooohhh… karena itu kau sial" ujar Takao selesai mendengar cerita Midorima.

"hem, nanodayo!" Midorima mengangguk. Clek.

"kau sudah kasih tau Yukio-senpai?" tanya Takao lagi.

"belum. Aku rasa tidak perlu, nanodayo" jawab Midorima lagi. Dasar tsundere, pikir Takao.

"tapi kau kangen kan sama senpai?" godanya.

"si si siapa bilang, nanodayo?" Midorima gelagapan. Cluk. Nah, bahkan suara ia memperbaiki posisi kacamatanya aja udah ganti. Entu kacamata nyungsup ke mata kale.

"huh, dasar tsundere. Akui sajalaaahhh!" Takao pake acara maksa. "gak papa kok Shin-chan! Kamu itu udah tenar tauk! Jadi harus menggunakan kesempitan dalam kesempatan!"

"kesempatan dalam kesempitan, nanodayo!" ralat Midorima. Kenapa dia tertarik dengan pembahasan ini? Clek.

"nah, itu tau! Kalau kau ada masalah tentang percintaan, konsultasi saja padaku! Meski jomblo begini, aku tau soal cinta? Okeh?" tawar Takao dengan muka meyakinkan.

"terserah" dan Midorima, sekali lagi, hanya tersenyum. Clek.

Jyeaahh… begitulah. Daku sendiri geregetan dengan sikap Midorima. Ukkhh… tapi kalau ingat senyumannya, itu yang emang pantes dibilang keren, membuat hati luluh. Susah tau bikin cerita tsundere! Udah ah, Review aja! Panjang banget ya? Gomen ne… T.T