Murasakibara suka semua yang manis. Jadi syarat buat jadi pacarnya mesti manis dong? Enggak juga, keles, karena Murasakibara bilang suka cewek yang tinggi. Tapi gimana kalau ada cewek yang manis? Murasakibara, ini saatnya kau untuk menentukan pilihanmu!

Disclaimer : semua tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC milik daku.

Warning : OOC, cerita gaje, lebay. Dan jika anda menemukan hal ini, silahkan muntah di tempat yang telah disediakan dan laporkan pada pihak yang berwajib.

….

Sampai sekarang ternyata masih ada juga yang RnR ya, terutama Review. Daku senang sekali. ARIGATOU GOZAIMASU! Hiksu [T.T]. Trus banyak banget lagi yang minta Sei-kun (3 orang itu udah banyak kan? hehehe). Daku tidak tahu kalau Sei-kun orang yang terkenal. Kamu udah dewasa, nak. Hiksu [T.T] tapi daku belum bisa memenuhi permintaan anda, karena Akashi terlalu misterius. Huft. Tapi ditunggu aja ya!

Yesungdah, silahkan RnR ya!

"Murochin!"

"…"

"Murochin!"

"…"

"oi… Murochiiiinnn!"

"ada apa, Atsushi?" Himuro yang merasa terganggu dengan suara malas namun memaksa, milik titan ungu yang ada dibelakangnya, segera menoleh.

"biarkan aku ikut ke rumah sakit!" pinta sang empu suara, Murasakibara Atsushi.

"untuk apa kau ikut? Lagi pula aku hanya menjenguk adikku!" Himuro bertanya heran. Ah, sebenarnya dia mau saja membawa Murasakibara, tapi membawa orang seperti dia akan menimbulkan keributan di rumah sakit. mungkin aja kan, orang bakal teriak 'RAKSASA! RAKSASA! WOI ADA RAKSASA! BUNUH DIA!'. Kan bisa berabe. Hehehe

"aku ingin ikut menjenguk adik Murochin. Lagi pula aku malas latihan. Murochin, aku ikut!" Murasakibara mulai memaksakan kehendak. Himuro hanya tersenyum. Bagaimana bisa aku marah dengannya? Pikir Himuro. *Kyaaa… Himuro kamu baik banget!#plak

"ya sudah. Ikut lah" jawab Himuro akhirnya.

"hore." Murasakibara menjawab girang namun dengan nada malas.

…..

Himuro memberi isyarat pada Murasakibara agar tidak mengeluarkan suara apapun, termasuk suara mengunyah, menelan atau mengemut permen. Ia ingin mengejutkan adiknya. Murasakibara hanya bisa mengangguk dan segera menelan makanan yang terakhir.

"boo!" ujar Himuro, mengejutkan adiknya yang sedang duduk membaca buku di atas ranjang.

"uwah! kakak!" perempuan itu memukul pelan bahu Himuro. Murasakibara hanya terdiam melihat mereka. Dia iri, jadi dipukulnya juga Himuro.

BUKK..

"AW! OI, Atsushi. Apa yang kau lakukan?" tanya Himuro pada Murasakibara.

"aree? Kenapa marah? Murochin tersenyum ketika dipukul adikmu, kenapa aku yang memukul, Murochin marah?" Murasakibara heran. Himuro dan adiknya ikut heran. Ye, gimana enggak, pukulannya dahsyat men, untung tulangku gak patah! Pikir Himuro. Ia dan adiknya sweatdrop.

"heh, kau ini ada-ada saja, Atsushi." Himuro tersenyum "perkenalkan, dia adikku, Himuro Reina. Rei-chan, ini teman sekelasku, namanya Murasakibara Atsushi!" Himuro memulai perkenalan mereka berdua.

"Yoroshiku!" Reina tersenyum pada Murasakibara.

"yoroshiku!" jawab Midorima malas. Dia melihat Reina baik-baik. Rambutnya hitam dan panjang sedada, wajahnya lumayan cantik (bagi Murasakibara, cake lebih cantik), punya tahi lalat seperti Murochin, tapi di pipi. Kulitnya putih bersih mirip Murochin. Tubuhnya kurus seperti Murochin. Murasakibara mulai mendata orang didepannya ini.

"oi oi, adikku ini memang manis, tapi jangan dimakan!" Himuro tertawa kecil melihat Murasakibara tak berkedip memandang Reina, yang dipandang malah diam.

"aree? Manis?" Murasakibara mengerutkan kening, lalu menatap Himuro "Murochin yang manis!"

GUBRAK!

Ni anak gak tau perasaan cewek! Reina tampak kesal, Himuro malah tersenyum dalam keadaan terpaksa. Apa coba maksud Murasakibara?

"Atsushi…"

"apa maksudmu?" Reina mulai sewot.

"aku bilang Murochin yang manis. Kau tidak manis" jawab Murasakibara santai. Muncullah perempatan dikepala Reina, Himuro mulai panic.

"ne ne ne… tidak usah membahas itu, kalau aku manis, berarti Reina juga, kan Rei-chan adikku!" hibur Himuro.

"aree? Murochin, Reina tidak manis sama sekali!" ujar Murasakibara.

"nani?" Reina marah. "maksudmu aku beda jauh sama kakakku? Aku jelek gitu?"

"tidak juga. Tapi Reina tidak manis!" jawab Murasakibara lagi.

"nani?"

"ahh… sudah sudah!"

Esoknya, di SMA Yosen, angin pagi berhembus sepoi-sepoi, daun berguguran sesuai musim gugur *?*, burung-burung bernyanyi dan seorang Murasakibara, yang masuk ke gedung sekolah, menikmati hari ini sambil makan lollipop besar yang diterimanya dari senior Yosen. Ohhh…. nikmatnya hidup seorang Murasakibara!

"Murochin!" Murasakibara menyapa Himuro yang baru saja dari kelas 1. Mereka sekarang kelas 2B.

"Eh, Atsushi, ohayou!" sapa Himuro.

"Ohayo. Apa yang kau lakukan disini? Murochin turun kelas?" tanya Murasakibara polos.

"kau mengejek ya? Tentu saja tidak! Aku baru saja mengantar adikku. Dia sudah terdaftar di sekolah ini. tapi Karena sakit selama 3 minggu, dia baru sekolah hari ini." Ujar Himuro sambil menunjuk Reina yang sedang berbincang dengan teman sekelasnya.

"olala… dia sekolah disini?" Murasakibara tampak syok dengan nada suara yang malas. "kalau begitu, Murochin akan pulang bersamanya?"

"eh, tentu saja!" Himuro menjawab sambil keheranan "memangnya kenapa?"

"kalau begitu, aku ikut Murochin pulang!" ujar Murasakibara sambil gigit lollipop, kress.

"ahahaha… memangnya ada apa, Atsushi?"

"tidak ada apa-apa…. Aku kembali ke kelas, nyam nyam…" Murasakibara menuju kelas sambil makan kripik. Dari mana entu kripik? Diduga kripik itu hasil dari ngemis sama junior. Nyam nyam.

Ketika pulang sekolah.

Sesuai dengan permintaan Murasakibara, ia pulang dengan Himuro bersaudara. Posisinya seperti ini :

Tepi jalan – Reina – Murasakibara – Tatsuya – jalan raya.

"kakak, kenapa ada makhluk raksasa ini? Mengganggu saja!" ujar Reina.

"hehehe… dia yang minta untuk ikut." Jawab Tatsuya sambil tersenyum. Mulai sekarang Himuro yang ganteng, kita panggil Tatsuya.

"Nani?"

"aree? Reina-chan, kau tidak perlu berteriak begitu" Murasakibara menoleh pada Reina. Eh ternyata Reina tinggi, loh! Dia hanya lebih pendek 10 cm dengan Tatsuya!

"Aku tidak berteriak!"

"kau berteriak, nyam" Murasakibara menjawab sambil mengunyah makanan yang diduga didapat dari teman sekelas.

"tidak!"

"iya, nyam"

"tidak!"

"iya, nyam"

"tidak"

"aaaaaaaa…. Ayo kita lupakan pertengkaran ini…" Tatsuya mencoba melerai mereka. Tapi apa daya, tangan tak kuasa. Suara Tatsuya bagai angin malam. Murasakibara dan Reina bertengkar dan meninggalkan Tatsuya dibelakang. Tatsuya melihat mereka dari jauh.

"heh… dasar anak-anak!" dia tersenyum dan mengejar mereka.

…..

Esoknya di kantin SMA Yosen

"Murasakibara-kun! Jangan makan itu terus! Kau bisa sakit! makan sayur!" tihtah Reina. Ia kesal melihat Murasakibara yang sedari kemarin makan snack dan manisan. Bahkan ketika dikantin ia makan nasi dengan lauk tanpa sayur dan sedikit snack.

"aku tidak mau Reina-chan!"

"ayo makan! Sini aku suapkan!"

"tidak mau!" dan muncullah adegan suap-suapan yang berlanjut dengan kejar-kejaran dan teriak-teriakan dan diakhiri dengan mendapat bisik-bisik tetangga.

"oi oi… yamette!" Tatsuya berteriak. Dan sekali lagi, suaranya bagai angin malam. Woosshhh….

…..

Malamnya dirumah keluarga Himuro. Himuro bersaudara sedang belajar bersama di ruang keluarga sementara kedua orang tua mereka sedang berbincang-bincang dikamar. Sst, anak kecil gak boleh tau. Hehehe.

"kakak, sudah berapa lama kau berteman dengan Murasakibara?" tanya Reina.

"hem, kurang lebih satu tahun mungkin. Kenapa?" ujar Tatsuya tanpa menoleh pada Reina karena terlalu serius mengerjakan tugas Fisika.

"dia itu beneran bisa main basket ya?" tanya Reina.

"emangnya kau gak pernah nonton pertandinganku?" tanya Tatsuya heran.

"ehehehe… aku cuman nonton Kaijou" Reina cengengesan sementara Tatsuya sweatdrop. Dasar adek nakal. Kakaknya main malah gak ditonton, sekalinya Kise main ditontonin! Tatsuya sewot.

"huh, lain kali kau harus menonton. Atsushi sangat keren! Dia bahkan pernah merusak tiang ring yang terbuat dari besi!" Himuro bercerita mengingat pertandingan Seirin vs Yosen tahun lalu.

"are? Benarkahhh? Itu namanya mengerikan, kak!" Reina kaget banget "tapi sesuai dengan tubuhnya sih"

"emang kenapa? Naksir?" Tatsuya menggoda adiknya.

"naksir? Ieuw…. Macam gak ada cowok lain, kak!" Reina merinding badai. "aku masih normal ya, cowok yang susah diurus macam dia itu gak normal tau!"

"siapa bilang? Dia mudah nurut kok kalau sama kakak" jawab Tatsuya santai.

"jangan-jangan dia suka sama kakak" Reina mulai curiga.

"iya, dia suka sama kakak. Kakak juga!" jawab Tatsuya.

"kakak hombreng?"

"YA ENGGAKLAH! Kalau kakak gak suka sama dia, ya kakak gak berteman sama dia dung! Kamu ini gimana sih! Kakak juga masih normal, keles!" Tatsuya sewot sambil menjitak adiknya. Yang dijitak malah cengengesan.

"oh ya, tante-tante dari Amerika yang waktu itu kan, taksirannya kakak!"

"maksudmu Alex? Dia cuman guruku" Tatsuya berdalih. Tatsuya gak suka yang tua. Apalagi yang janda. Kamu masih gadis atau sudah jandaaaa~~~~ #dangdut #dibunuhJanda. Emang Alex janda?

"pembohong…" Reina mengejek kakaknya, sedangkan Tatsuya hanya diam sambil tersenyum.

"kalau kau mengejekku dengan Alex lagi, kudoakan kau sama Atsushi, hehehe…" Tatsuya membalas. Reina panic. Dan malam itu, rumah keluarga Himuro kembali ramai.

"Mana Murochin?" tanya Murasakibara heran pada Reina digerbang SMA Yosen, paginya. Ia melihat tidak ada Tatsuya datang bersama Reina.

"kakak sakit" jawab Reina "nih, suratnya. Dia flu" Reina memberikan surat, Murasakibara melihat surat itu dengan tampang bingung.

"aree? Murochin, sakit? tumben" Murasakibara heran sambil makan snack, kres.

"kakak kan juga manusia, gak kayak kamu. Gak pernah sakit. Tapi oi! Jangan makan snack terus nanti malah kau yang sakit!" Reina tidak suka melihat Murasakibara makan dimana-mana.

"aku tidak akan sakit. kau ini cerewet sekali, Reina!" Murasakibara menjawab malas lalu berbalik sambil makan, kres.

"aku tidak cerewet! Tapi bener loh! Kalau kau terlalu sering makan yang manis, nanti kena diabetes!" kata-kata Reina membuat Murasakibara berhenti makan. "nanti kau tidak bisa main basket lagi!"

"…" Murasakibara berbalik menghadap Reina sambil menunjukkan wajah serius. Reina kaget melihat wajah Murasakibara yang tiba-tiba serius. Aduh, gimana ini? Apa dia marah padaku? Matilah! Mati! Mampus! Siapa suruh aku banyak omong! Kakak! Dimana kakak ketika ia dibutuhkan? Pikir Reina.

"…"

"…" dan mereka masih tatap-tatapan selama 10 detik. Murasakibara menyentuh bahu Reina.

"olala… benarkah?" Murasakibara bertanya heran.

"eh?"

"benarkah, Reina-chan? Lalu apa yang harus kulakukan?" Murasakibara panik. Reina ikutan panik.

"ehm ehm… anoo…" Reina mulai berfikir. Apa yah?

"apa Reina-chan! Cepat beritahu aku!" Murasakibara maksa sambil menggoyang-goyang tubuh Reina. Tarik mang! #plak.

"kau harus makan makanan sehat!" jawab Reina asal. Siapa tahan digoyang kayak gitu? Mabuk darat dia.

"contohnya!"

"ehm, contohnya… ehm, contohnya ya!" Reina berfikir lalu mulai menjelaskan berbagai macam sayuran dan buahan.

"Reina-chan bisa membuatnya?"

"eh? Bisa"

"buatkan aku!" Murasakibara menurunkan perintah langsung kepada Reina.

"nani?"

….

Dan begitulah berhari-hari selama berminggu-minggu, Reina selalu membuatkan bento dan cemilan sehat untuk Murasakibara. Dan akhirnya, tubuh Murasakibara pun semakin elastis dan bagus. Mirip Ade Ray. uooohhh… enggak dong itu mah alay banget. Tatsuya bahkan heran dengan Murasakibara yang menurut pada Reina. Tumben-tumbennya dia mau nurut soal makanan. Bahkan akhir-akhir ini dia lebih akrab dengan Reina dari pada dengan Tatsuya. Kemana-mana berdua kayak anak kembar. Kan Tatsuya iri. Gak kok, Tatsuya senyum-senyum aja liatnya. Siapa tau dia dapat adek ipar pintar main basket. Kan lumayan. Cieee… #kokcie?

Didapur rumah Himuro.

"hem hem hem…" Reina bersenandung sambil memotong-motong lauk untuk obento besok. Tatsuya menghampirinya.

"ciee… yang buat obento untuk pacarnya. Buat kakak enggak ya?" Tatsuya pura-pura ngambek. Reina kaget.

"Kakak! Dia bukan pacarku! Lagipula kakak tidak pernah minta dibuatkan obento!" jawab Reina.

"benarkah? Kalau gitu, buatkan aku!" pinta Tatsuya mendadak.

"eh, kakak! Aku udah buatin untuk Murasakibara-kun saja!" Reina panik, wajahnya mulai memerah begitu melihat Tatsuya tersenyum.

"okelah. Kalau begitu aku bilangin ibu kalau kau punya pacar! Ibuuu…" Tatsuya pura-pura memanggil ibunya sementara Reina panik.

"kakak!"

"oh ya! Jangan lupa! Minggu depan valentine loh!" Tatsuya kembali menggoda adiknya.

…..

Hari yang dikatakan Tatsuya akhirnya sampai juga. Reina tidak sadar kalau ternyata dia membuat coklat untuk kakaknya dan Murasakibara! Aduh, mimpi apa dia semalam sampai membuat coklat untuk si titan? Harusnya dia membuat yang lebih besar! Sekarang Reina berada samping sekolah. Dia ingin memberikan coklat itu pada kakaknya dan Murasakibara. Dia malu tau kalau kasih dikelas. Kalau sama kakaknya ya mungkin aja. Kalau sama Murasakibara? Ntar muncul gossip yang tidak-tidak lagi. Padahal kan dia sama Murasakibara itu iya-iya. Eh?

"ada apa Reina?" tanya Tatsuya menghampiri Reina yang dibelakangnya muncul seorang titan makan apel. Sekarang dia makan apel sesuai anjuran Reina. Persis dewa kematian Death Note.

"ehm… ini! Buat kakak, dan Murasakibara-kun!" Reina memberikan 2 coklat yang sama persis. Tatsuya segera mengambil coklat itu, begitu juga dengan Murasakibara.

"wih! Arigatou na!" Tatsuya tersenyum sambil mengusap kepala Reina pelan. Reina terkekeh kecil. Murasakibara terdiam melihat adegan itu, dan tangan besarnya menangkap kepala Reina! Ingat! Ditangkap! Seperti apa yang ia lakukan dengan Kuroko di pertandingan street ball tahun lalu.

"aaa… Murasakibara-kun. Apa yang kau lakukan?" Reina merasa kepalanya tiba-tiba berat. Murasakibara mengacak rambut Reina. "Mouu iii…. Yamette!"

"aree? Kenapa kau tidak suka? Murochin melakukan ini padamu, kau tidak marah!" Murasakibara keheranan, namun terus mengacak rambut Reina. Yee, siapa coba yang gak tahan digituin? Kepala adek gue udah mau lepas itu! Pikir Himuro.

"bukannya marah… tapi… Murasakibara-kun!" Reina tidak dapat melakukan apa-apa selain hanya memberontak, Murasakibara tampaknya kesenangan melakukan hal ini. Dia tersenyum. Tersenyum, pemirsah!

"…" Tatsuya dan Reina terdiam melihat Murasakibara tersenyum.

"anoo… ayo kembali Murasakibara-kun, sebentar lagi sudah masuk!" kata-kata Tatsuya sukses membuat Murasakibara berhenti dan segera membuka bungkus coklat itu, dan hap! Memakannya!

"hem. Arigatou ne, Reina-chan! Manis!" ujar Murasakibara sambil berbalik. Tatsuya melambai pada adiknya lalu berlari mengejar Murasakibara.

"…" Reina terdiam di tempat. Mukanya terasa panas. Kenapa ya? Sekilas ia melihat Murasakibara tersenyum lagi. Aduh. Kenapa ya? Murasakibara tersenyum sekali sehari saja sudah aneh. Apalagi 2 kali?

"MOOUUU! ADA APA DENGANKU!" Reina mengacak-acak rambutnya, lalu terhenti ketika ia mengingat tragedy 'Acak-mengacak Rambut' yang dilakukan Murasakibara. Wajahnya memerah.

"ie ie ie!" Reina menggeleng-gelengkan kepalanya. Hari ini dia merasa aneh.

….

Sejak saat itu, Reina mulai malu menatap wajah Murasakibara. Hal itu membuat ia rajin dibully oleh sang kakak. Namun, Reina tidak pernah lupa membuatkan obento untuk Murasakibara.

"Reina-chan…" Murasakibara memanggil Reina ketika ia bertemu diperpustakaan.

"hem?" Reina berusaha menatap wajah Murasakibara, tapi ia tak bisa. Silau men!

"mulai besok, tidak usah membuatkanku obento." Tihtah Murasakibara.

"eh? Kenapa?"

"aku mau buat sendiri, krauk" Murasakibara menjawab sambil makan wortel. Emangnya kelinci?

"tapi gak papa kok. Aku saja yang buatkan!" entah kenapa Reina tidak mau berhenti membuatkan obento untuk Murasakibara.

"gak perlu!" Murasakibara berbalik dan terus memakan wortel. Reina hanya bisa terdiam mendengar kata-kata Murasakibara. Entah kenapa dia tidak mau mendengarnya. Bukankah dengan begitu dia akan bebas dari urusan dapur lebih lama? Tapi, kenapa ia tidak menyukainya.

"Murasakibara, baaka!" tanpa terasa air mata Reina berjatuhan.

Dan tinggallah Reina sendiri di perpustakaan yang sepi. Sementara Murasakibara keluar dari pintu perpustakaan, ia sendiri tidak mengerti mengapa perasaanya tidak enak. Bukan karena dia ingin ke WC. Tapi sesuatu di dekat dadanya terasa sakit. Murasakibara segera pergi mencari Tatsuya. Satu-satunya manusia di muka bumi ini yang mengerti dirinya.

….

Setelah mencari selama 20 menit, akhirnya Murasakibara menemukan Tatsuya nyangkut di Gym sekolah. Terdengar suara pantulan bola basket berkali-kali. Murasakibara lalu masuk.

"Murochin…." Murasakibara menegur Tatsuya yang sedang bermain.

"hem? Ada apa Murasakibara?" Tatsuya segera menghentikan permainannya dan menoleh pada Murasakibara. Gym sangat sepi hari ini. Yah, tentu saja. Hari ini libur. Pelatih Yosen tercinta sedang mengurus hal-hal untuk menikah lusa nanti. Eh? Mbak pelatih mau nikah? Hehehe.

"aku ingin bertanya pada Murochin" ujar Murasakibara, kali ini dia tidak sambil makan, karena itu Tatsuya mengambil keputusan bahwa apa yang akan ditanyakan Murasakibara kali ini sangat penting. Apakah ada hubungannya dengan basket?

"silahkan… disini saja kan?" tanya Tatsuya sambil segera duduk dan mengambil air untuk diminum. "apa soal basket?"

"ehm. Bukan" jawab Murasakibara yang segera duduk dihadapan Tatsuya.

"lalu? Pelajaran?"

"bukan"

"ehm… makanan?"

"bukan"

"lalu?"

"karena itu aku mau tanya sama Murochin, kira-kira pertanyaanku ini tentang apa?" tanya Murasakibara heran. Mana dia tahu Murasakibara bakal nanya apa kalau dia sendiri gak tau nanya apa. Ah, udahlah. Author bingung #plak.

"maksudnya? Jelaskan saja apa yang membuatmu bingung"

"ehm. Itu, sepertinya aku sakit karena banyak makan-makanan manis… rasanya ehm… dadaku sakit" Murasakibara menjelaskan apa yang dirasakannya pada Tatsuya. Bagai dokter, Tatsuya mengangguk-anggukkan kepala sambil mengelus jenggot *?*.

"aku tidak tahu soal itu. Sejak kapan kau merasakannya?" tanya Tatsuya lagi.

"baru saja" Murasakibara mencoba untuk mengingat-ingat. "sejak aku keluar dari perpustakaan"

"kau ke perpus?" Tatsuya kaget. Ingin saja ia bertepuk tangan. Ini adalah salah satu keajaiban dunia. Tapi tidak mungkin ia lakukan, mengingat situasi dan kondisi tidak mendukung.

"hem. Aku baru saja berbicara dengan Reina"

"apa yang kau bicarakan dengannya?"

"aku bilang padanya untuk tidak membuatkan obento lagi padaku. Aku mau buat sendiri."

"eh?" Tatsuya mulai mengerti kearah mana Murasakibara berbicara. Ia membicarakan soal cinta. Eh?

"jadi bagaimana ini, Murochin? Apa aku harus ke dokter? Apakah aku tidak bisa main basket lagi?" Murasakibara bertanya dengan serius. Dia benar-benar takut kalau tidak bisa bermain basket. Dia menyukai basket meski ia malas memainkannya.

"ehm… kalau begitu. Jawab pertanyaanku! Aku sudah mulai mengerti!" ujar Tatsuya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"oke"

"apakah kau merasa senang ketika Reina memberikanmu obento? Bukan senang karena diberi makanan seperti yang dilakukan oleh senpai kita, tapi lebih ke ehm… senang yang berlebihan?" Tatsuya mencari kata-kata yang mudah dimengerti Murasakibara. Maklum, agak lelet. #plak

"ya… rasanya aku benar-benar senang sampai-sampai selalu menunggu waktu istirahat. Tapi aku tidak mau dia membuatkanku obento lagi" ucap Murasakibara sembari menelusuri perasaannya.

"kenapa? Apa kau tidak mau bertemu dengannya?"

"bukan juga tidak mau bertemu. Eeeehhhh… bagaimana ya? Hanya saja aku tidak mau melihatnya, tapi aku juga ingin bertemu dengannya. Tapi… ehmmm… aku tidak tahu, Murochin!" Murasakibara menyerah untuk menjelaskan perasaan yang ia sendiri tidak mengerti. Tatsuya hanya dapat tersenyum. Okeh, ia yakin apa yang dialami oleh sahabatnya ini.

"kalau begitu, aku tahu apa yang terjadi, Atsushi!"

"apa?"

"kau sedang jatuh cinta!"

"olala… apakah itu parah?" Murasakibara panik.

"heh…" Tatsuya hanya bisa mendesah pelan dan tersenyum. Atsushi masih perlu belajar memahami dirinya sendiri.

"apa obatnya Murochin? Aku tidak mau sakit seperti itu!" Dia belum pernah mendengar penyakit itu sebelumnya dari berbagai macam dokter yang pernah ia temui. Ia sering melihat teman-temannya membahas hal itu, namun mereka semua berakhir dengan gejala yang aneh. Dia tidak mau sakit seperti itu.

"sekarang, aku akan memberitahukanmu obatnya" sekali lagi Tatsuya tersenyum, namun berbeda dengan senyuman sebelumnya. Sekarang ia tersenyum jahil. Ide-ide jahil tiba-tiba melintas dikepalanya. Jika bisa, mungkin terlihat awan hitam dibelakang Tatsuya. Huahahaha #laughevil

…..

Reina berjalan di koridor sekolah, sudah jam pulang, ia akan pergi ke gym sekolah untuk menjemput kakaknya. Setidaknya, kalau kakaknya hari ini latihan, ia akan pamitan dulu dengan kakaknya.

"huft…" Reina menghela napas untuk kesekian kalinya, mungkin 40 kali sejak pelajaran usai. Ia masih memikirkan kata-kata Murasakibara tadi siang untuk tidak membuatkannya obento lagi. Reina tidak suka ini.

"REICHINNNN"

Reina segera menoleh begitu namanya dipanggil. Sejak kapan namanya jadi Reichin?

"Murasakibara-kun!" Reina kaget melihat Murasakibara yang berlari dengan panik. Tanpa babibubebo lagi, Murasakibara segera menarik tangannya dan membawanya berlari menuju tempat yang Reina tidak ketahui.

"ehh… Murasakibara-kun, apa yang… huaaaaa… tunggu… tungguuuuuuuu…." Reina pun berteriak sepanjang jalan kenangannn…. #lagujadul #lho?

"…"

"aa aaaa… aaaa…. Murasakibara-kunnnnn…. Kakiku… kakikuuuu…" Reina berteriak mengaduh. Kakinya benar-benar sakit. daritadi pagi ia sudah berlari di pelajaran olahraga. Sekarang pun berlari lagi. Melelahkan. Murasakibara pun berhenti. Dan sekali lagi, tanpa mengeluarkan kata-kata, ia segera menggendong Reina. Benar-benar menggendong! Seperti menggendong bayi!

"huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…." Reina stress. Author stress.

BRAAKK…

Murasakibara mendobrak pintu yang menuju atap sekolah dengan tangan kirinya yang tidak menggendong Reina, lalu dengan segera ia mendudukkan Reina di meja yang ada diatap itu. Reina ngos-ngosan. Uji adrenalin bung! Dibawa kabur sama titan!

"hosh hosh… ada apa… hosh… sebenarnya… Murasakibara-kun?" tanya Reina.

"Reichin, kau harus tanggungjawab padaku!" ujar Murasakibara dengan tegas. Reina kaget, apa salahnya, apa salah ibunya? Kenapa dia harus tanggung jawab?

"apa maksudmu?"

"Reichin tau? Karena makanan yang dibuat oleh Reichin, perasaanku tidak tenang. Aku jadi tidak bisa melakukan segala sesuatunya dengan benar" Murasakibara mulai komplen dengan Reina. Kayak pelanggan aja.

"apa maksudmu?"

"apa kau menaruh racun dimakananmu?"

"enak saja…" Reina mulai sewot.

"kalau begitu kenapa aku sakit?"

"mana aku tahu!" Reina menggembungkan pipnya. Bisa-bisanya ia disalahkan atas sesuatu yang dia tidak melakukan kesalahan.

"tapi Murochin yang bilang!" Murasakibara terdiam. "lalu aku sakit apa?"

"memangnya seperti apa sakitnya?"

"kata Murochin, aku sakit 'jatuh cinta'" jawab Murasakibara polos. Reina yang mendengar hal itu langsung kaget.

"ja ja ja jatuh bangun? (dangdut kali, jatuh bangun) Eh jatuh cinta? Apa maksudmu dengan itu?" tanya Reina kaget. Jantungnya mulai berdetak tak karuan karena hal itu. Apa yang sebenarnya dibahas oleh titan ungu ini? Dia mulai tidak mengerti.

"Murochin yang bilang kalau aku jatuh cinta pada Reina!" Murasakibara mengatakan hal itu tanpa berdosa. Wajah Reina dengan segera memerah dan dia pun terdiam.

"kenapa kakak bisa mengatakan begitu?"

"entahlah. Aku juga tidak tahu…"

"…"

"…"

"hahahahha…" Reina tertawa nyaring. Bodohnya dia bisa lupa kalau Murasakibara ini hanya tahu soal basket dan makanan, tidak ada yang ia ketahui selain kedua hal itu. Reina mengelus kepala Murasakibara pelan. "Murasakibara-kun memang polos ya!" dia tersenyum.

"Reichin!" Murasakibara memegang tangan Reina yang masih ada dikepalanya. " Reichin sekarang manis ya"

"eh?"

"…" Reina hanya dapat terdiam melihat senyuman Murasakibara yang menyilaukan. Jarang-jarang kan? Angin perlahan berhenmbus meniup rambut Reina dan Murasakibara. Mereka terdiam cukup lama sampai Reina angkat bicara.

"Murasakibara-kun…"

"…"

"Sepertinya aku juga sakit jatuh cinta" ujar Reina. Kali ini dia yakin atas apa yang akan dia katakan. Tidak ada waktu untuk berfikir lagi.

"benarkah? Apa Reichin pernah mengalaminya juga sebelumnya?" tanya Murasakibara dengan sumringah. Mungkinkah dia akan menemukan obat dari penyakitnya?

"hem… mungkin…"

"kalau begitu, apakah Reichin tahu obatnya?" tanyanya lagi.

"tidak. Aku tidak tahu obatnya, tapi… mungkin… aku bisa… memjelaskan kepadamu tentang hal itu…"

"baguslah!"

"…."

"tapi, ngomong-ngomong… Reichin benar-benar manis sekarang!"

"Murasakibara-kun! Jangan mengatakan hal itu!" Reina malu mendengarnya sekaligus senang dengan alasan yang tidak ia ketahui.

Dan sore itu adalah sore yang tidak pernah akan dilupakan oleh seorang Murasakibara. Dia akan belajar sesuatu yang baru pada Reichin, hal baru yang mungkin lebih menarik dari basket dan cemilan. Nyam.

"Reichin, apa Reichin boleh kumakan? Reichin manis sekali!"

"Murasakibara-kun!"

Huaaa… gaje ya? Daku bingung sih mau kayak mana lagi. Berfikir untuk Murasakibara jatuh cinta adalah hal yang mustahil bin mustahal. Sori dori to the mori untuk reader yang kecoa eh kecewa. Mohon review-nya!

Nb : author ijin untuk keterlambatan posting FF untuk beberapa hari kedepan. Karena author mau ujian dulu. Hehehe. Doain author supaya dimudahkan dan lulus ya! Jadi bisa posting FF cepet-cepet. Trus sekaligus banyak gitu… yaudah …. Ja neeeee…. .