Pria cantik Kise Ryota, rasanya mustahil jika ia bakal jadi JomBad a.k.a Jomblo Abadi atau PerTu a.k.a Perjaka Tua! Gak mungkin banget! Mustahil bin mustahal. Tapi benarkah semua perempuan itu mencintainya sepenuh hati? Adakah perempuan yang benar-benar menarik hatinya dan dapat mencintainya sepenuh hati? Hati lembut Kise diungkap dicerita ini… duduk dengan baik sambil mendoakan kelulusan author*?*. Amiinnn… silahkan

Disclaimer : semua tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC milik daku beserta alur ceritanya.

Warning : OOC, alay, cerita gaje. Jika menemukan hal-hal ini segera menghubungi pihak berwajib dan muntah ditempat yang telah disediakan!

GENRE SPECIAL : angst! Siapin tisu toilet, sodara sodara! Kalau gak nyesek, silahkan lempar orang disamping anda! Kalau nyesek, silahkan nyesek sendiri!

Masihhh ada aja gitu yang request Akashi. Hellooo… okeeehh bakalan daku buatin. Tapi Kise dulu ya! Kerja sekalian. Kan author baik! Tepuk tangan dulu! Plak plak #gampar. Ini semua gegara Kise ultah. Muka gantengnya membuatku meleleh. Makasih banget buat semua yang udah RnR! Author termotivasi! Muahh :-*

..

Angin bertiup sepoi-sepoi, surai kuning milik pria cantik itu tertiup pelan. Ia menikmati sore yang indah setelah latihan basket di Gym Kaijou. Kali ini ia memilih untuk pulang sendiri. Entahlah, ia hanya ingin pulang sendiri. Beneran! Gak pake bohong! Tapi kenapa pria yang bernama Kise Ryota itu tak tampak sendiri? Ya, mau bagaimana, bukan salah orang ganteng kalau selalu diikuti cewek-cewek. Ia memegang tengkuknya dan berbalik kearah para perempuan itu dan mengeluarkan senyum maha dahsyatnya.

"anoo… aku saat ini sedang tidak enak badan, jadi… bisakah kalian tidak mengikutiku?" Tanya Kise sopan. Para perempuan itu berteriak sebentar lalu menurut pada perintah sang tampan. Kise mendesah pelan. Syukurlah, pikirnya. Sebenarnya tidak enak juga sih mengusir fans, padahal dia sudah berhenti menjadi model dan mulai serius pada basket.

"RYOOOO-CHAAAANNN…." Teriakan yang dikenal Kise, ia menoleh kekanan. Seseorang pria yang memanggilnya berlari keluar dari mobil hitam. Yang ia kenal dengan mantan mobil artis miliknya.

"manajer! Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya heran.

"Ryo-chan sayang… semenjak tidak ada dirimu, majalah Pika Pika jadi kurang pembeli! Ayo kita bahas kelanjutan misimu di dalam mobil kesayanganmu!" Mantan manajernya menariknya ke mobil hitam itu. Kise terpaksa ikut dengan malas. Tentu saja ia akan menjawab tidak. Tapi kata-kata apa yang akan ia katakan?

BLAM

Pintu mobil tertutup. Mobil itu tampak gelap karena memiliki kaca yang buram dan hanya bisa dilihat dari dalam tanpa orang luar dapat melihat apa yang ada didalam. Kise hanya dapat tersenyum sambil mengatakan tidak pada manajer dengan sopan. Namun, namanya juga manajer, dia pantang mundur, pantang berhenti dan pantang bangkrut! Dia mesti dapetin Kise!

"Manajer, aku benar-benar tidak ada keinginan untuk kembali menjadi model, atau apalah itu namanya. Aku ingin focus pada basket!"

"kau kan bisa jadi artis basket kayak Christiano Ronaldo atau David Beckham!"

"Manajer, itu pemain bola, keles!" Kise sweatdrop. Gak nyambung banget ni manajer. Wawasannya rendah banget. Author aja tau kalau mereka pemain bulu tangkis #lah!

"eh masa? Yah, pokoknya kan atlet artis gitu… ayolah… Ryo-chan!" Manajer terus memaksa, akhirnya Kise menoleh kejendela mobil di sebelah kanannya. Tampak seorang perempuan di bangku pinggir jalan sedang menatap langsung kematanya. Kise terkejut. Bagaimana mungkin perempuan itu bisa melihatnya. Dilihatnya baik-baik perempuan itu. Tatapannya menakutkan!

"Manajer, orang luar tidak dapat melihat kedalam, kan?" tanyanya pada manajernya.

"hem. Kenapa? Ah! Kau ingin mengalihkan pembicaraan ya? Ryo-channn… jadi… blabla…." Kise sudah tidak mendengarkan lagi apa yang dikatakan sang manajer. Ia melihat perempuan itu. Benar, tidak mungkin perempuan itu dapat melihatnya. Raut wajah perempuan itu tampak sedih. Mereka saling menatap entah dalam berapa menit, mungkin hanya Kise. Diakui Kise, perempuan itu cantik.

"eh…" Kise kembali terkejut melihat bulir-bulir air mata perempuan itu jatuh dari kedua matanya. Namun perempuan itu tidak sekalipun bergerak untuk sekedar menghapus air matanya. Kise tidak suka melihat perempuan menangis. Dengan segera ia membuka pintu dan keluar menghadap perempuan itu.

"ada apa denganmu?" tanyanya.

"…"

"apa kau baik-baik saja?" tanyanya lagi sambil segera memberikan sapu tangan miliknya. Namun perempuan itu tidak juga bergerak. Kise menunduk dan mencoba melihat perempuan itu lebih dekat.

"…"

"apa kau ba…."

"pergilah…"

"eh?" Kise terkejut (lagi) dengan bersuaranya perempuan itu. Suaranya serak dan tertahan. Kise hanya bisa terdiam. Dia benar-benar tidak suka melihat perempuan itu menangis. "tidak usah menangis…" ujarnya. Kenapa hatinya menjadi sakit ketika melihat perempuan itu menangis? Tanpa sadar air matanya pun ikut runtuh juga.

"tidak usah memperdulikanku!" perempuan itu berteriak dan menutup wajahnya. Ia semakin menangis. Kise tidak dapat menahan dirinya lebih dari ini. Ia lalu memeluk perempuan itu dan berusaha menenangkannya. Namun, tidak berguna. Perempuan itu memberontak dan segera melepaskan diri dari Kise.

PLAK

Tamparan keras didapati Kise dipipi kirinya. Perempuan itu segera berlari meninggalkan Kise yang sedang terdiam. Kise sendiri menutup matanya dengan tangan kanannya. Kenapa dia menangis ya? Huft. Sudahlah.

"Kise… apa dia pacarmu?" Tanya manajernya.

"manajer, kalau kau bertemu dan berbicara lagi kepadaku, kau akan mati…" Kise hari ini benar-benar tidak ingin diganggu. Suara dari Black Kise membuat manajer terdiam dan hanya bisa mengangguk.

"baiklah… kalau kau berubah pikiran. Kau tahu harus kemana!" manajer pun pergi meninggalkannya.

Sore itu, sore yang paling buruk bagi Kise.

…..

Kenapa dia menangis ya? Sampai paginya, Kise tidak habis pikir dengan perempuan itu. Atau jangan-jangan dia gila? Pikirnya. Imajinasinya mulai bermain.

"mungkinkah dia adalah seorang janda yang ditinggal suaminya karena orang ketiga dan keempat? Lalu anak-anaknya yang berjumlah 5 orang seperti tim basket itu meninggal karena dibunuh orang kelima? Karena itu dia stress di tengah jalan, dan tidak punya tempat tinggal karena rumahnya digusur pemerintah? Astagah!" Kise mulai ngaco. Lalu dia terkekeh sendiri. "ahahaha… aku rasa aku yang gila memeluk perempuan sembarangan"

BUAK…

"Siapa suruh kau ketawa di tengah jalan heh? Kau sudah gila?" suara menggelegar sang kapten membuat hari Kise makin buruk. Apalagi tendangannya!

"Kasamatsu-senpai… hidoui-ssuu…" dan keluarlah kalimat andalannya. Dia pura-pura merengek. Yah, jangan sampai kaptennya ini tahu akan masalahnya. Eh, masalah siapa?

"apa kau baik-baik saja?" tanya Kasamatsu tiba-tiba.

"tidak senpai! Tendangan senpai itu sakiiiiittt sekali ssuuuuu…." Rengeknya.

"heh?" Kasamatsu mengangkat kening kanannya. "maksudku bukan itu. Apa kau ada masalah? Tampaknya muka mu makin hari makin jelek!"

"Senpaiiii…. Apa-apaan ituuu… aku baik-baik saja kok, ssu…" Kise meyakinkan senpainya. Baginya Kasamatsu adalah seorang kakak yang bisa diandalkan. Yah, salah sendiri gak punya kakak cowok. 2 kakak ceweknya terlalu cerewet. Karena itu, Kise benar-benar bergantung dan menyayangi orang ini.

"ya sudah. Cepat masuk sebelum orang mengira kau gila…"

"ehehehe… baik!" Kise pun berjalan beriringan dengan Kasamatsu. Baru saja 5 meter mereka berjalan, Kise menangkap sesosok yang ia kenal.

"SENPAI, SSU!" Teriaknya pada Kasamatsu sambil menepuk bahu kirinya.

"hem?" Kasamatsu menoleh pada arah telunjuk Kise. Ia menunjuk seorang perempuan yang sedang berjalan sambil membawa banyak buku.

"siapa dia? Senpai kenal?" tanyanya.

"kenal. Emang kenapa?" tanya Kasamatsu balik. Tumben-tumbennya Kise menanyakan nama seseorang yang tidak berhubungan dengan basket.

"siapa dia? Kelas berapa? Tinggal dimana?" Kise bertanya lengkap seperti petugas sensus penduduk.

"ehm, namanya Miyawaki Yuri. Kelas… kelas berapa yah? Gak tau juga, tapi dia seangkatan gitu sama dirimu ini!" Kasamatsu menjawab sambil menepuk bahu kanan Kise. Kise mengeryitkan keningnya.

"…"

"…" kenapa mereka berdua malah diam gini? Kise lalu tersenyum. Dan…

"sejak kapan Senpai kenal cewek?" Kise bertanya dengan tatapan kagum. Dia pun bertepuk tangan, sambil menggelengkan kepala "unbelievable unbelievable, ssu ssuuuuu sugoi ssuuuu….!"

BUAK

"bukannya terima kasih, malah ngolokin! Emang supaya apa kau mengetahuinya?" tanya Kasamatsu setelah melancarkan tendangan maha dahsyatnya pada Kise. Kise mengaduh pelan.

"hehehe… gak. Cuman menanyakan pengetahuan senpai tentang siswi di Kaijo. Siapa tahu senpai bener-bener gak kenal sama cewek, ssu!" Kise tertawa meskipun Kasamatsu menampakkan wajah ingin membunuh. "tapi, kalau dia satu angkatan denganku, kenapa senpai bisa kenal? Dia terkenal?"

"ehm yah, terkenal. Tapi cara terkenalnya beda!" jawab Kasamatsu sambil kembali berjalan pelan.

"maksudnya?" Kise segera menyusul Kasamatsu. Emang cara terkenal itu ada berapa?

"dia harusnya sudah keluar tahun lalu!"

"heh? Keluar? Kenapa? Apa dia berandalan?"

"bukan…"

"lalu?"

"dia hamil…" Kasamatsu menjawab dengan sedikit membisik. Takut-takut kalau apa yang ia katakan pada Kise membuatnya terseret kasus korupsi oleh KPK *gaknyambung!

"HAMIL?!" Suara Kise yang menggelegar karena kaget itu membuat semua orang menoleh. Kasamatsu memukul bahu kanan Kise dengan jurus Ignite Pass Kai nya Tetsu.

"maaf, maaf. Kise sedang membahas kucing tetangganya yang hamil. Maaf yaaaaa…." Kasamatsu segera minta maaf. Kise hanya senyam senyum.

"hehehe…. Maaf. Kok bisa? Terus anaknya?" tanya Kise.

"dia keguguran…" bisik Kasamatsu lagi.

"HAH? KEGUGURAN?" Kise teriak (lagi), Kasamatsu memukul (lagi) bahu kanan Kise.

"maaf, maaf. Kise sedang membahas pohon tetanggnya yang daunnya berguguran. Maaf yaaa…" Kasamatsu segera minta maaf. Kise hanya senyam senyum. Kayaknya ada déjà vu?

"hehehe… maaf. Kok bisa? Terus yang hamilin dia gimana?" tanya Kise.

"dia kabur dan jadi buronan polisi…" bisik Kasamatsu, again and again.

"HAHH? APPAAA? KABUUR? BURONANN?"

BUAKK JDAR BLAK…

Kise dihabisi Kasamatsu. Salah sendiri heboh bener. Coba tuh ya, kalau denger cerita diem aja. Gak usah pake acara alay! Dipukul deh sama Kasamatsu.

"ittaiii…. Senpai, hidoui ssuu…" ujarnya sambil mengaduh kesakitan.

"makanya, kalau aku cerita, kau tidak usah pake teriak-teriak. Bikin malu!" Kasamatsu memukul lagi kepala Kise, BLETAK! "jangan berbicara padanya, jiwanya masih terganggu. Sekolah membiarkannya tetap disini karena kasihan… jadi begitulah…" Kasamatsu mengakhiri dongengnya.

"ohhh… lalu Senpai, apa dia…"

TETTTTT TETTTT….

"ah nanti saja. Sudah bel masuk! Aku harus pergi…." Kasamatsu kabur. Dan Kise terdiam sambil memegang tengkuknya.

"benarkah? Ah… sudahlah!"

"…"

"Yuri ya?"

Perempuan yang dikenal oleh semua orang di SMA Kaijou, Miyawaki Yuri, sedang terdiam didepan lokernya. Tempat itu terisi penuh oleh surat. Bukan surat cinta tapi surat ancaman.

Keluarlah dari sekolah ini…

Perempuan penuh dosa, pergi sana

Mati!

Dan berbagai tulisan lainnya. Ia mengambil surat-surat yang ada di loker itu dan memungut beberapa yang berjatuhan. Ada 50 surat. Niat banget nih orang-orang yang menuliskan surat untuknya. Ia lalu memasukkan semuanya ke tong sampah yang ada didekatnya. Ia sudah terbiasa dengan hal itu selama 1 tahun ini.

BRAKK

Tong sampah itu jatuh dan isinya berhamburan. Miyawaki melihat orang yang dengan sengaja menabrak tong sampah itu.

"ups, maaf ya… gak sengaja" ujar seorang perempuan yang menendang tong sampah tadi. 2 orang temannya hanya tertawa. Pasti, setiap antagonis itu selalu memiliki personel 3 orang!

"…" Miyawaki hanya terdiam sambil kembali memperbaiki posisi tong sampah dan memasukkan isinya kembali. Sebelum melanjutkan cerita, mari saya perkenalkan 3 perempuan tadi. Yang pertama tadi adalah cewek 1, yang disamping kanannya, cewek 2, dan yang disamping kirinya, cewek 3. Okehhh? Penamaan yang simple bukan? (reader : Bukaaann!)

"kau rajin sekali, heh!" cewek 2 menginjak tangan Miyawaki yang memungut sampah. Miyawaki hanya mengaduh kecil namun segera menarik tangannya dan kembali memungut sampah tadi.

"ya ampun… sudah panjang aja rambutnya!" cewek 3 meraih beberapa helai rambut Miyawaki. "aku rapikan ya… sayang banget kalau kusut gini…"

Kres.. kress..

Rambut Miyawaki dengan sukses terpotong dengan tidak rapinya. Miyawaki hanya diam sambil mengepalkan tangannya.

"pergilah…" ujarnya, suaranya begitu kecil.

"heh? Apa?" cewek satu pura-pura tidak mendengar.

"pergilah…"

"apa? Bicara yang jelas dong!" paksa yang lain. Tanpa disadari, adegan tadi sudah ditonton lebih dari puluhan orang.

"pergi…"

"apa?"

"Pergilah! Dibilang pergi, maka pergilah! Apa kalian tuli?" Suara ini bukan suara Miyawaki. Semua orang menoleh pada seorang laki-laki yang berjalan menuju Miyawaki.

"Kise? Kenapa…" cewek 2 kaget.

"pergilah… jangan ganggu dia!" tihtah Kise "aku mohon, ssu?" Kise melancarkan senyuman dahsyatnya. Sebagian cewek melting dan sebagian cowok ngasah pisau. Sial! Dia ganteng banget! Pikir mereka. Hehehe.

"memangnya, apa hubunganmu dengannya?" tanya cewek 1. Apa-apaan nih, si pangeran sok ganteng ikut campur? Pikirnya. Antis terdeteksi.

"hem… apa ya?" pikir Kise ngasal. "pacar?"

"HEEHHHH APPPAAAA?" semua pemirsa kaget! Termasuk Miyawaki sendiri. Dia melihat Kise dengan tampang terkejut.

"yah, dia pacarku. Mulai sekarang jangan diganggu, oke? Ayo pergi, ssu!" Kise menarik tangan Miyawaki. Dan Miyawaki hanya bisa diam mengikuti langkah Kise melewati kerumunan orang banyak. Ah, terserahlah. Dia sudah terbiasa dengan sensasi. Lagi pula, dia juga muak di tengah keramainan itu. Terserah Kise mau membawanya kemana.

"…"

"…"

"…"

"huahh… capek juga jalan cepat-cepat, ssu!" Kise membawa Miyawaki ke perpustakaan yang sepi pengunjung. Mereka berada di ruangan baca yang tidak seorang pun tahu keberadaan mereka kecuali Tuhan dan author tentu saja. Huahahaha…. #plak

"kenapa kau membawaku?" tanya Miyawaki tanpa menoleh pada Kise, ia hanya menunduk. Kise duduk di kursi dan menatap heran Miyawaki.

"heh? Aku kan baru saja membantumu"

"kau tidak perlu melakukannya!"

"ne, ternyata suaramu memang kecil, ssu! Kau harus memberikan sedikit volume!" Kise tersenyum mendengar suara Miyawaki.

"apa urusanmu?"

"tidak ada. Aku hanya tidak suka kalau ada perempuan yang diganggu seperti itu…" jawab Kise sambil menopang dagu dengan tangannya. "kenal aku?"

"tidak"

"hidoi ssuuu…." Kise merengek. "masa' tidak kenal? Aku Kise Ryota, Ace di tim basket Kaijou! Terbaik di Jepang! Hehehehe alay emang. Tapi masa kau tidak pernah melihat wajahku setidaknya di tivi dan majalah?"

"aku tidak tertarik" jawaban Miyawaki yang langsung menembus jantung Kise yang paling dalam. Jleb banget gitu.

"hehehe… kau jujur juga." Kise terkekeh lagi. Dia lalu terdiam dan wajahnya mulai serius. "mulai sekarang kau adalah pacarku. Mengerti?"

"eh?" Miyawaki kaget "kau akan menjadi korban selanjutnya Kise-kun"

"ah, terserahlah. Aku punya senpai yang bisa diandalkan! Tenang saja!" Kise bicara tanpa beban. Wajah senpai di Kaijo muncul di benaknya. Ah… enaknya menjadi Ace di Kaijou!

"tapi…"

"tidak usah pake tapi! Yuri-chan! Senang bertemu denganmu!" Kise tersenyum dengan sangaaaatttt manissss. Miyawaki menoleh kearah kanan. Bisa-bisa ia menyukai orang ini.

"jangan harap aku akan menyukaimu. Aku sudah berjanji untuk tidak menyukai siapapun lagi" ujarnya. Kise terdiam sejenak.

"hem… tidak usah dipikirkan! Ayo pergi…" Kise segera berdiri. Kesepakatan telah diputuskan.

"…" Miyawaki masih terdiam.

"ayo! Hanii…" Kise merangkul bahu Miyawaki yang terkejut.

"lepaskan!" Miyawaki melepas rangkulan Kise. Kise hanya tersenyum. Ah, Miyawaki, jangan begitu pada Kise.

"hehehe… oke!" Kise menyentuh pelan kepala Miyawaki dan berjalan keluar. "Ayo! Ntar pelajaran dimulai, ssu!"

Dan sekali lagi Miyawaki menurut pada Kise.

"Ohayouuu… haniiii…" Kise berteriak kepada Miyawaki disuatu pagi. Padahal jarak antara dia dan Miyawaki adalah 100 meter. Semua orang yang berada disekitar tempat itu menoleh pada Kise lalu menoleh pada Miyawaki.

"…" Miyawaki terus saja berjalan tanpa menoleh ataupun berhenti. Kise tersenyum dan segera berlari menyusulnya.

"Mou… Hanii-san hidoui ssu!" rengeknya. Miyawaki tetap tidak memperdulikannya. "Yuri-cwannn..!" Kise bertransformasi menjadi Sanji.

BUAKK…

"Kesini kau!" setelah mendapat tendangan dari Kasamatsu, Kise ditarik olehnya menuju tempat yang lebih aman untuk melakukan bisik-bisik tetangga. "apa yang kau lakukan heh?" bisiknya.

"Senpai! Kebiasaan buruk senpai dipagi hari itu harus dibuang, ssu!" Kise mengaduh kecil. "aku sedang menyapa pacarku dong, senpai!"

"HAH? PACAR?"

"sst… Kok senpai teriak sih, ssu? Maaf, semua maaf…. Senpaiku saat ini mencari pacar. Maaf ya!" Kise malu dan segera minta maaf. Kayaknya lagi balas dendam nih.

"oi, siapa yang cari pacar?" Kasamatsu sewot. "kok bisa? Terpaksa?"

"aku minta bantuan senpai!" ujar Kise.

"hem, bantuan apa? Supaya putus dengannya?" tanya Kasamatsu. Kise pun tersenyum.

"bukan! Aku mau senpai, dan semua senpai di team basket Kaijou mau melindungi Miyawaki!"

"HAH? MELINDUNGINYA?"

"sst… kok senpai teriak sih, ssu? Maaf, semua maaf… senpaiku saat ini sedang melindungi team Basket Kaijou! Hehe" Kise minta maaf lagi. Kayak déjà vu jilid 2.

"apa maksudmu heh?" Kasamatsu kembali berbisik.

"apa senpai tidak kasihan padanya? Dia seorang diri di sekolah ini. Tidak ada yang mau berteman dengannya dan tidak ada yang memperdulikannya. Dia berbeda dengan Kurokochi!" terang Kise.

"Kurokochi? Maksudmu si Kuroko dari Seirin?" tanya Kasamatsu heran.

"YUP! Kurokochi! Kurokochi tidak dirasakan keberadaannya karena memang gak terasa. Kalau Yuri itu karena tidak ada yang mau dia ada. Kasihan kan, ssuuu…" Kise menerangkan dengan khidmat. Sementara Tetsu ditempat lain sedang bersin 'hachu! Ada yang membicarakanku' mungkin itu pikir Tetsu-ku sayang.

"hem… kau benar…" Kali ini bukan Kasamatsu yang menjawab tapi Moriyama. "hatimu itu memang lembut, Kise. Aku sebagai senpaimu merasa terharu!"

"eh! Senpai!" Kise sumringah. "yang kukatakan benar kan, senpai?"

"hem! Itu benar. Oi, Kasamatsu! Terima sajalah. Apa susahnya sih? Kau tidak kasihan pada ladies itu?" Moriyama mulai merayu Kasamatsu.

"yah… baiklah!" akhirnya Kasamatsu setuju. Kise dan Moriyama bersorak 'BANZAI!'.

"tapi, Kise!" Moriyama menegur Kise "awas kalau kau menyakiti hatinya!"

"eh?" Kise terdiam. Dia tidak pernah berfikir seperti itu sebelumnya. Tidak sama sekali. Ah… sudah lah. Dia akan menjalani saja kehidupannya yang baru ini.

…..

"hanii…"

"…"

"oiii.. haniii…"

"…"

"Yurichiii…"

"pergilah, Kise-kun!" Miyawaki benar-benar merasa terganggu dengan teriakan manja milik Kise. Apa lagi dosanya sampai harus berurusan dengan sang pangeran? Miyawaki masih saja berjalan menuju atap sekolah sambil membawa bentonya.

"aku kan mau bersama paccarku, ssu!" ujar Kise.

"huft. Kalau kau mau bersamaku. Jangan ribut!" Miyawaki berbalik.

"roger!" jawab Kise sambil tersenyum.

"…" mereka pun naik keatap sekolah. Miyawaki segera menuju ketempat favoritnya, didekat pagar pembatas. Kise pun ikut kesana.

"…"

"Miyawaki-san…" Kise menegur Miyawaki yang sedang makan.

"hem…"

"apakah benar soal gossip itu?" tanya Kise hati-hati.

"hem" angguk Miyawaki.

"kau tidak bohong?"

"tidak"

"oh…" Kise kembali diam. "kau tidak bohong, kan?"

"bohong"

"eh? Sebenarnya yang mana sih, ssu! Kau membuatku bingung, ssu!" Kise merengek.

"…" Miyawaki tersenyum kecil. Kise terkejut dan segera menutup mulutnya dengan tangan kanan. Baru pertama ini ia melihat Miyawaki tersenyum. Ya tentu saja. Tapi, dia benar-benar senang. Mulutnya, yang tertutup oleh tangannya, mengembangkan senyum.

"kau cantik"

"apa?!" Miyawaki terkejut.

"bukan, bukan apa-apa. Jadi bagaimana sih, ssu?" tanya Kise. Dia tidak mau Miyawaki tahu kalau dia senang melihat senyuman Miyawaki.

"yah, begitulah…" Miyawaki kembali makan.

"benarkah?" tanya Kise curiga. Ah, Miyawaki tidak menjawab lagi. Dan Kise pun hanya diam. Dia yakin, Miyawaki sedang menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu tapi Kise benar-benar yakin. Ia akan selalu melindungi Miyawaki.

"Yurichi…"

"dari tadi kau memanggilku dengan nama yang aneh-aneh…" ujar Miyawaki.

"hehehe…" Kise menggaruk tengkuknya. "kalau kau ada masalah, cerita saja padaku"

"…" Miyawaki berhenti makan dan menoleh pada Kise yang ada disamping kanannya.

"eh, itu… kalau tidak mau sih tidak usah! Hanya saja…" Kise mulai panik. Dan kembali mengelus tengkuknya pelan "aku tidak mau kau menanggung kesakitan seorang diri…"

…..

Sorenya,

"aku heran, kenapa bisa Kise pacaran sama perempuan aneh itu!" 3 orang perempuan sedang menggosip didepan gerbang sekolah Kaijo ketika mereka pulang. Mereka adalah yang dulu pernah mengganggu Miyawaki. Silahkan dibaca ulang kalau lupa!

"gak tau ah! Mungkin Kise di guna-guna kali!" jawab salah satu dari mereka.

"iya iya! Mungkin!"

"eh itu Kise… ukh, sama cewek itu lagi!" perempuan itu kehilangan senyum bahagianya ketika melihat Kise datang bersama Miyawaki. Lebih tepatnya Kise memaksa Miyawaki untuk pulang bersama.

"eh… ayo kita ajak Kise main!" ujar salah satu dari mereka. Kembali dari konsep yang pertama. Mari kita panggil mereka cewek 1, cewek 2, dan cewek 3. Huu… author gak kereatip.

"…"

"Kise-kun!" cewek 1 datang menghampiri Kise. "jalan-jalan yuk! Udah lama loh kamu gak jalan-jalan bareng kami!"

"eh? Emang pernah, ssu?" Kise mengeryitkan keningnya. Dia gak ingat pernah jalan sama cewek selain Momoi. Iya kan? Eh sama Miyawaki juga. Trus sama kakak-kakaknya dan ibunya. Eh tantenya juga truss…. Stop! Kok malah absen keluarganya sih. Hehehe….

"iya lahhh… ya ya! Miyawaki juga boleh ikut kok!" ujar cewek 2 sambil menarik tangan Miyawaki. "ehm, kami minta maaf ya yang waktu itu. Kami gak tau kalau kamu itu pacar Kise-kun!" ia menjabat tangan Miyawaki, namun Miyawaki hanya diam saja.

"iya, pacar Kise-kun kan pacar kami juga eh, maksudnya teman kami juga! Hehehe…" cewek 3 yang diduga memiliki penyakit gak-nyambung ini tersenyum. Kise menoleh pada Miyawaki, tatapannya mengandung pertanyaan 'gimana?'

"pergilah. Aku tidak mau ikut…" ujar Miyawaki pelan.

"ahh… Miyawaki-san jahat nihhh… ikut yuk! Kita bisa mengenal lebih dekat loh!" cewek 1 mulai memaksa.

"hem, kurasa itu benar. Yurichi ikut saja!" Kise terpengaruh. "lumayan kalau kau bisa punya teman, ssu…" bisik Kise.

"aku tidak mau punya teman!" ujar Miyawaki lagi.

"udah, udah… ikut aja. Kau pasti senang sama kami. Iya kan, Kise?" cewek 3 menarik tangan Miyawaki dan mereka pun mulai pergi bersama.

"huft…" Miyawaki hanya diam saja mengikuti 4 orang sok akrab itu. Tangannya meraih lengan baju Kise. Ia tidak mau ditinggal Kise. Ia takut. Sementara Kise hanya tersenyum padanya.

….

Ruang Karoke nomor 108 itu terdengar rusuh. Padahal baru 15 menit terisi oleh 4 orang labil dan 1 orang tanpa suara. Kali ini giliran Kise yang menyanyi. Ia memilih lagu Bang Toyib yang di remake ke bahasa Jepang oleh Tomohisa Sako. Huaahhh kebayang gak sih. Author gak mau bayangin! Muka imut nyanyi dangdut! Tarik mang! #abaikan.

"…" hanya 4 orang saja yang berpartisipasi aktif. Miyawaki hanya diam sambil melihat layar televisi. Ah, dia benar-benar tidak suka dalam keadaan ribut begini. Lebih enak kalau dirumah dan menonton tv sendiri. Tiba-tiba datang cewek 3.

"Miyawaki-san tidak mau bernyanyi?"

"aku tidak bisa bernyanyi"

"tapi kau bisa bicara kan? Ayolah nyanyi!"

"aku bisa bicara tapi tidak bisa bernyanyi" Miyawaki mulai kesal. Nih anak gak nyambung banget. Terus kenapa kalau gue gak bisa nyanyi? Masalah buat adek lo? Gak kan?

"heh. Kau ini sombong sekali. Aku penasaran apa yang membuat Kise mau menjadi pacarmu." Cewek 3 mulai bosan dengan acara paksa-memaksa. Dia duduk bersender dan tangan kirinya merangkul Miyawaki.

"aku sendiri tidak tahu" Miyawaki hanya bisa mengatakan hal itu dalam hati. Ah, dia lupa, Kise hanya mau melindunginya dari perempuan-perempuan ini.

"tidak ada suara ya" cewek 3 itu meraih rambutnya. "sudah kau perbaiki… lumayan…" ujarnya. "yah, kau memang cantik sih, cuman sayang saja, tidak pe… ra… wan…" bisiknya. Miyawaki mulai menegang. Cukup sudah candaan orang ini.

"memberikan semuanya pada cowok yang brengsek, lalu membunuh anak sendiri… Miyawaki-san, bahkan anjing tidak begitu!" ujarnya sambil memandang kasihan pada Miyawaki. Miyawaki telah salah menilai orang ini. Dia lebih licik dari 2 perempuan tadi.

"kurasa kau membohongi Kise dan mengatakan itu hanya gossip. Ah, Kise yang malang!" dengan reflex Miyawaki menoleh pada Kise. Yang ditoleh hanya tersenyum tanpa dosa. Miyawaki pun berdiri.

"loh, Miyawaki-san. Kau mau kemana? Giliranmu belum loh!" ujar cewek 2 sambil memberikan mic padanya.

"aku tidak enak badan… aku mau istirahat dirumah" ujarnya segera berdiri dan membuka pintu.

"biar ku antar, ssu!" Ujar Kise menghentikan nyanyiannya.

"tidak…" dan Miyawaki pun keluar. Kise mengelus tengkuknya lalu menoleh kepada 3 perempuan itu.

"ehm… maaf ya, aku akan mengantar pacarku dulu, ssu…" ujarnya sambil tersenyum.

"Kise-kun, apa kau tidak salah memilihnya untuk menjadi pacarmu?" tanya cewek 1. "dia itu…"

"dia itu pacarku. Aku pergi. Lain kali kita main lagi, ssu!" Kise segera pergi "aku akan membayar setengah, ssu!"

Begitu ia membayar ke kasir, ia lalu mengejar Miyawaki. Miyawaki tidak sedikit pun menoleh pada Kise. Pikirannya mulai memutar cerita masa lalu. Pengkhianatan itu memang menyakitkan dari yang dapat dibayangkan. Bagaimana bisa anak seperti dia menghadapi hal sesulit itu. Dia sudah bertekad untuk tidak memiliki hubungan dengan siapapun.

"Yurichi. Apa kau baik-baik saja?" Kise menarik tangan kanan Miyawaki.

"kembalilah… kau tidak perlu mengantarku" Miyawaki mencoba melepaskan tangan Kise dari tangannya. Tapi Kise lebih kuat mencengkram tangannya.

"apa yang mereka lakukan padamu?"

"bukan apa-apa"

"apa yang mereka lakukan padamu, ssu?" tanya Kise lagi. Wajahnya benar-benar khawatir.

"kau tidak perlu melindungiku lagi." Ujar Miyawaki. Ia menoleh kekanan, tak mampu memandang wajah Kise.

"kau tidak perlu memerintahkanku, ssu. Aku melakukan apa yang ingin kulakukan." Ujar Kise. Lagipula tidak satu pun orang yang memaksanya. Dia hanya ingin melindungi Miyawaki tidak ada yang lain.

"tidak perlu mengasihaniku…" ujar Miyawaki lagi.

"ada apa denganmu?" Kise berusaha menatap wajah Miyawaki, tapi ia selalu menghindar.

"bukan apa-apa. Pergilah. Aku tidak suka orang sepertimu." Miyawaki menghempaskan tangannya. Kali ini berhasil, ia lepas dari Kise. "tidak usah perdulikan aku"

"bagaimana bisa aku tidak perduli?!" tanya Kise dengan nada yang agak tinggi.

"…" Miyawaki tidak mendengar apa yang dikatakan Kise. Lebih tepatnya dia tidak mau mendengarnya.

"Yurichi!" teriak Kise. Namun hanya suara angin yang ia dapatkan.

"…" tidak ada satu orang pun diantara Kise dan Miyawaki yang tahu penyebab jatuhnya air mata malam itu.

….

Seminggu…

2 minggu…

3 minggu…

4 minggu…

"huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa….." Kise berteriak di tengah gym Kaijou sambil menghempaskan bola basket. Ia lalu jongkok dan memegang kepalanya. Argghh… dia kangennnn… kangen setengah mati dengan Miyawaki! Sudah 4 minggu, dia tidak bertemu dengan Miyawaki. Ralat. Bukan tidak bertemu, tapi dicuekin. Emang enak dicuekin?

BUAKK

"ada apa denganmu, hah!" Kasamatsu melakukan lagi tendangan maha dahsyatnya. Sekali lagi dia menendang Kise, bisa-bisa jadi pemain bola di piala dunia timnas Jepang #cie, jadi gelandangan eh gelandang!

"Senpaii!" kali ini Kise tidak merengek seperti biasa, dia malah berteriak pada Kasamatsu. Kasamatsu dan pemain lainnya kaget pake banget.

"ada apa?" tanya Kasamatsu heran.

"Yukio-san, masa' kau tidak paham!" Moriyama merangkul Kise "kasihan junior kita ini. Dia sedang sakit!" Moriyama menggelengkan kepala prihatin.

"sakit?" Kise dan Kasamatsu bertanya heran.

"hem! Sakit!" Moriyama menunjuk dada Kise "dia sakit MALARINDU!"

"MALARINDU?" kali ini semua pemain tim basket Kaijou heran.

"yup! Malarindu!" angguk Moriyama bersiap mengeluarkan kultum. Kuliah tujuh minggu, hehehe. "Malarindu itu adalah penyakit rindu yang akuuuttt banget. Ketika kamu sangat ingin bertemu seseorang namun tidak bisa dan atau dia tidak mau bertemu denganmu, kamu sampai-sampai selalu memikirkannya. Ketika kau menutup matamu, ia muncul. Ketika kau membuka matamu, ia menghilang. Ukh. Sakit sekali!" jelas Moriyama menghayati. Semua member ber-oooooo-ria. Sementara Kasamatsu sweatdrop dan Kise melepaskan rangkulan Moriyama.

"senpai, ssu! Kau tahu itu dari mana?" tanyanya.

"aku kan pakar cinta!" jawab Moriyama.

"tapi jomblo!" celetuk salah satu member. Bener juga!

"trus masalah buat Kise? Enggak kan? Yang penting aku pakar cinta! Percaya lah!" Moriyama menepuk bahu Kise. Kise menatap takjub senpainya ini. Mimpi apa dia sampai punya senpai yang jenius. Heh, jenius? Kise mudah dibohongi nih!

"jadi, benarkah kau sakit Malarindu?" tanya Kasamatsu. Ah, sebenarnya dia tidak mau membahas hal bodoh yang menyita waktu latihan mereka.

"hem…" angguk Kise malu-malu.

"sama cewekmu?" tanya salah satu member.

"hem…" angguk Kise lagi.

"si Miyawaki itu?" tanya Kasamatsu.

"hem…"

"NANIIII?" Semua member kaget. "ahh… Kise, kau merindukan orang yang salah! Huh. Membuang waktu latihan saja!" semua member kembali latihan. Hanya tinggal Moriyama, Kasamatsu dan Kise yang terdiam.

"huft… kalian semua kejam, ssuuuu…!" Kise merengek. Kasamatsu memegang jidatnya, Moriyama hanya menggelengkan kepala.

"Kise, kau pacarrran dengan Miyawaki!?" Hayakawa menghampiri Kise.

"senpai!" Kise tersenyum melihat ada 1 orang bertambah ke pihaknya. "iya, senpai. Kenapa, ssu?"

"apa kau tahu tentang gosipnya!?" tanya Hayakawa.

"tau…" Kise kembali sedih "tapi aku tidak percaya, ssu"

"benarrrkah itu Kise-kun!? Benarrrkah!?" tanya Hayakawa heboh.

"eh, emang kenapa, senpai?" tanya Kise heran.

"ah… gossip itu salah!" ujar Hayakawa. Dengan reflex, Moriyama, Kasamatsu, Kise dan Hayakawa membentuk lingkaran kecil untuk bergosip.

"heh… apa maksudmu, Hayakawa?" Kasamatsu mulai tertarik dengan dunia pergosipan. Jadi pengen masuk dunia inpotemen.

"begini, semua gossip itu bohong!" Hayakawa memberi tekanan lebih dalam bicaranya yang emang gak bisa woles.

"benarkah, ssu?" tanya Kise.

"iya! Itu benarrr!" Hayakawa menjawab dengan semangat.

"jadi gimana?" tanya Moriyama.

FLASHBACK ON

"Aku mohon bantu aku Yuri-chan! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi! Dia memaksaku! Aku mohon!"

"…" suara pilu milik perempuan yang ada dihadapan Miyawaki sangat menyayat hati. Ia berlutut dihadapannya sambil terus menunduk dan menangis. Miyawaki hanya bisa berdiri terdiam. Ia tidak dapat menangis meski hatinya benar-benar sakit.

"apa… apa yang terjadi?" Tanya Miyawaki dengan terbata-bata.

"dia mengancamku, Yuri! Aku mohon maafkan aku… kali ini saja aku butuh bantuanmu! Tolong Yuri! Bagaimana pun caranya, hilangkan janin yang ada diperutku ini… ku mohonnn…" perempuan itu memegang kaki Miyawaki. Miyawaki menarik kakinya.

"tidak… kau pasti bohong. Bukan dia orangnya!" ujar Miyawaki menggeleng. Tidak mungkin! Ini pasti bohong! Ini pasti mimpi buruk! Tidak mungkin kekasihnya menghamili sahabat terbaiknya. Apa yang sebenarnya terjadi?

"itu benar, Yuri! Aku mohon bantu aku!"

"tidak… kau bohong! Itu tidak benar!" Miyawaki pergi melarikan diri dari sahabatnya itu yang terus menangis dan memanggilnya. Miyawaki hanya merasa perlu untuk menemui kekasihnya itu. Tapi, benarkah itu adalah kekasihnya?

"…"

"maaf… bibi sudah tidak bertemu dengannya 3 hari ini. Maaf… tapi ada apa?" ibu kekasihnya itu bingung melihat Miyawaki yang dengan kalap bertanya. Miyawaki tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Semua ini pasti bohong.

"…"

"Lisa meninggal!"

"kenapa?"

"entahlah. Dia jatuh dari balkon kamarnya di lantai 3. Mungkin bunuh diri. Tapi mungkin aja dibunuh, kan?"

Semua orang membicarakan kematian Lisa. Benar. Tidak ada seorang pun yang tahu penyebab kematian sahabat Miyawaki itu. Kecuali Miyawaki. Lisa, dibunuh oleh Chris, pacarnya yang sudah menghamili Lisa. Ia melihat sendiri Chris mendorong Lisa dari balkon dan ia kabur. Miyawaki sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.

"…"

"Yuri-chan! Kau harus membantuku! Jangan beritahukan polisi dimana aku berada!"

"tidak! Kau adalah pembunuh temanku! Aku tidak akan menyembu…"

"kau juga pembunuh Yuri! Kau tidak melakukan apapun ketika aku mendorongnya! Kau juga membunuhnya! Kau tidak membantunya membunuh anak yang ada diperutnya! Kalau kau tadi membunuh anaknya! Dia tidak akan mati, Yuri! Kau juga pembunuh!"

Miyawaki benar-benar tidak dapat menggunakan akal sehatnya. Dia benar-benar ketakutan. Dia tidak tahu harus apa lagi. Kenapa hal ini terjadi padanya?

"…"

"jadi Chris diincar polisi? Kenapa?"

"karena dia sudah memperkosa dan membunuh!"

"hah? Siapa?"

"ya, Miyawaki lah! Makanya coba kamu liat Miyawaki jadi kayak gitu nasibnya. Dia sudah kayak orang gila!"

"terus siapa yang dibunuhnya?"

"ehm. Katanya sih dia dan Miyawaki bunuh anak didalam perut Miyawaki, gitu!"

"ihhh… ngeri banget ya!"

FLASHBACK OFF

…..

Kise segera meninggalkan pembicaraan bapak-bapak penggosip. Ia meninggalkan latihan meski pelatih meneriakinya. Ia tidak perduli. Ia harus pergi mencari Miyawaki. Tidak tahu dimana, aduh! Dia mesti nyari kemana?

"mana Yurichi?" tanya Kise kepada beberapa orang yang tersisa di kelas Miyawaki. Mereka menggelengkan kepala. Nama Yurichi aja baru pertama kali ini dengar. Apa lagi keberadaannya. Gak kenal! Kise kesal dan berlari lagi. Argh! Kemana dia harus pergi? Ke atap? Oh ya! Ke atap!

BRAKK…

"Yurichi!" Kise segera membuka pintu atap dan terkejut melihat Miyawaki mulai memanjat pagar pembatas. Kise dengan sigap menarik kerah belakang Miyawaki dan menangkapnya. Tentu saja mereka berdua jatuh terduduk. Dalam keadaan terduduk, Kise tetap memeluk Miyawaki dari belakang. Miyawaki yang kaget hanya bisa terdiam sambil memegang tangan Kise yang memeluk tubuhnya.

"apa yang kau lakukan, Kise-kun?" tanya Miyawaki. "lepaskan aku!"

"…"

"Kise-kun!"

"baaka! Apa yang ingin kau lakukan?" Kise menjawab tanpa sedikit pun melepaskan Miyawaki.

"memangnya apa urusanmu?"

"urusanku!" ujar Kise tegas. Tumben sekali dia tidak pake 'ssu!'.

"…"

"aku sudah mendengar semuanya dari Hayakawa-senpai" ujar Kise air matanya jatuh perlahan. "aku sudah tahu yang sebenarnya. Kau tidak bersalah sama sekali Miyawaki. Kau tidak bersalah"

"…"

"…"

"aku tau, Kise-kun. Hanya saja, aku… aku takut…" ujar Miyawaki, ia menggenggam kuat tangannya.

"aku ada bersamamu, kau tidak perlu ketakutan lagi…" ujar Kise yang juga menguatkan pelukannya.

"aku sudah tidak mempercayai siapapun, Kise-kun!"

"terserah. Tapi aku tidak pernah berbohong, Yurichi" jawab Kise "terserah kau mempercayaiku atau tidak. Aku akan melindungimu"

"kau akan dimusuhi orang-orang, Kise"

"aku tidak peduli!"

"baaka! Apa yang membuatmu mau untuk…"

"aku menyukaimu… karena itu, jangan bertanya lagi. Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya tahu kalau aku menyukaimu…" air mata Miyawaki pun akhirnya runtuh juga. Kenapa kali ini dia merasa Kise tidak bercanda seperti biasanya? Dia, mungkin, akan mulai belajar mempercayai Kise.

"…" mereka berdua mulai menangis. Kejadian ini benar-benar tidak dapat dipercaya. Miyawaki menangis dengan keras, sementara Kise tidak bersuara, ia hanya terus memeluk Miyawaki.

"…"

"…"

"…" mereka masih terdiam diposisi yang sama, namun sudah tidak menangis lagi. Miyawaki melihat kelangit. Kenapa langit tampak indah sore ini?

"Kise-kun…"

"hem?"

"aku iri padamu. Aku juga ingin bisa ceria sepertimu…" ujar Miyawaki sambil melepas pelukan Kise dan sekarang duduk dihadapan Kise. Kise terkejut mendengarnya dan mulai tersenyum. Kedua tangannya memegang pipi Miyawaki, dengan pelan ia menghapus air mata Miyawaki.

"kau hanya mulai, tersenyum, ssu!" ujar Kise sambil menarik pipi Miyawaki. Kise tersenyum. Namun Miyawaki malah menangis.

"eh… kenapa menangis,ssu! Aku kan bilang tersenyum, ssu!"

Miyawaki sudah yakin. Dia bisa mempercayai Kise. Mulai hari ini, dan sampai nanti. Entah sampai kapan. Tapi dia akan terus mempercayai Kise.

…..

Kasamatsu : Kise itu…

Moriyama : hatinya itu memang lembut. Dia memang Ace Kaijou!

Hayakawa : benarrr! #gakbisawoles

Tobari : ehm, aku terharu mendengar cerita kalian!

Kasamatsu : tapi, Hayakawa, darimana kau tahu tentang kebenaran gossip itu?

Hayakawa : aku kan tetangganya! Ya tau lah! Tante-tante suka ngumpul dan menggosip dirrrumahku! #gakbisawolesbeneran!

…..

Whatttt? Author kena troll diri sendiri! Mananya yang Angst, heh? Happy ending gitu! #lemparinMbakDisebelah. Ah, Kise lembut banget yah, hatinya. Author juga pengen di peyuuuukkk #digerekTetsu. Nah, yang pengen cepet-cepet baca Akashi, silahkan lanjut!

Oh ya, jangan lupa Reviewnya ya… ^^ thanks for reading!

n.b : sebelumnya Moriyama diberi nama Miyuzumi, Mayuzumi, Mayuzama, de el el. Author salah orang! Hehehe… gomen buat reader yang sempat membaca yang lama. Maafkan kebodohan Author dan Kagami #eh?