Darah penguasa sudah mengalir murni pada Akashi Seijuro. Apa yang dia inginkan selalu didapatkan. Apapun itu. Karena ia selalu menang, maka ia selalu benar. Kemenangan bukan hal yang ia cari. Tapi kemenangan itu yang mendatanginya. Tapi benarkah semua yang ia inginkan selalu ada?

Disclaimer : semua tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC milik daku beserta alur cerita.

Warning : OOC, alay, Gaje. Jika anda menemukan hal seperti itu segera melaporkan kepada pihak yang berwajib dan muntah ditempat yang telah disediakan! Author rapopo, huek.

.

Inih! Buat yang pengen banget Akashi muncul! Daku kasih! Bikin susyeh aja, daku jadinya buat 2 cerita. Ah, tapi daku selalu bahagia seperti bang Ruri. Ruri adalah abangkuuu…. #ngamen. Daku cuman heran, kok gak ada yang request si imut (baca: item mutlak) alias Aomine? Huhehehe… kurang tenar ya? Pokoknya sangkyu semua yang udah RnR. Udah ah, baca aja!

"berikan saja padanya"

"tapi, bukankah tuan muda sangat menginginkannya?"

"aku beli yang lebih mahal saja"

Ukh, mimpi itu lagi. Bagaimana mungkin seorang Akashi mimpi hal yang seperti itu. Apakah ini pertanda bahwa ia bakal buka warteg? Gak nyambung ah. Akashi menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin ambil pusing. Hari ini akan dibuka festival sekolah. Festival disekolahnya termasuk yang terbesar di Kyoto, bahkan di Jepang. Rakuzan gitu loh! Sebagai Ketua OSIS dia tidak boleh telat!

….

Suara keributan mengalir masuk ke telinga Akashi, ia bahkan tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Shino, sekretaris OSIS, yang sedang menjelaskan tentang persiapan acara pembukaan. Meskipun tidak diberitahu, sebenarnya ia sudah tahu. Apa sih yang tidak di ketahui oleh Yang Mulia Akashi?

"Akashi-san!" Shino menegur Akashi yang melamun.

"hem?" Akashi menoleh dengan slow motion. Jiaahhh… "apa ada yang salah?"

"ehm, itu…" Shino menunjuk kearah keributan yang ada didepan gerbang sekolah. Akashi menutup matanya pelan. Ia lupa. 1 organisasi yang ia lupa untuk dibubarkan. Organisasi Pertemanan. Organisasi macam apa itu? Akashi berjalan menuju gerombolan itu yang lebih mirip orang mau rusuh. Teriak sana teriak sini!

"apa yang kalian lakukan disini?" tanya Akashi. Seorang perempuan berambut sangat panjang diikat kuda itu segera menghadap Akashi.

"tidak lihat? Kami sedang mengiklankan organisasi kami!" ujar perempuan itu.

"acara belum dimulai. Segera hentikan atau aku cabut ijin stan kalian!" tegas Akashi. Semua member organisasi OP itu merinding. Ih, mendengar kata-kata ketua OSIS itu mengerikan! Apalagi dia adalah Akashi! Kata-katanya absolute!

"tidak mau!" perempuan tadi malah berkacakpinggang menghadapi Akashi. Berani kali dia dengan Akashi!

"aku hitung sampai 3!" ujar Akashi woles.

"coba saja!"

"…"

"…" semua tegang. Sampai-sampai author ikut tegang.

"tiga! Baik, Shino. Cabut ijin stan ini, bereskan mereka dan ambil denda!" Akashi berbalik dan meninggalkan orang-orang dengan penuh keheranan.

"oi! Itu curang! Bagaimana bisa kau…"

"aku bilang sampai tiga, tidak bilang 1 sampai 3!" Akashi terus saja berjalan, perempuan itu mengejarnya dan segera berhenti didepannya.

"oi, ketua! Tidak bisakah sekali saja kau membiarkan kami sehari?" tanyanya.

"tidak!" jawab Akashi tegas "aku sudah cukup berbaikhati tidak menghapus organisasi ini."

"apa? Kau ingin menghapusnya?!" perempuan itu kaget. "ne ne… dendam apa kau dengan organisasi ini? Apa kau ingin masuk?"

"tidak tertarik sama sekali." Akashi lalu member isyarat tangan yang menyuruh perempuan itu pergi "organisasi tidak berguna disekolah harus segera dihapus. Membuang anggaran sekolah dengan percuma."

"eh… apa maksudmu organisasi kami tidak berguna, heh?" meskipun perempuan itu menepi, namun ia tetap mengikuti Akashi.

"tidak memiliki kegiatan berarti, tidak mempunyai satupun prestasi, sering melakukan keributan didalam dan diluar sekolah, menghabiskan anggaran sekolah, dan hanya memiliki 10 orang dalam organisasi. Apa kau ingin aku menyebutkannya lagi?" Akashi menatap tajam perempuan itu. Yang ditatap malah melongo. Bagaimana bisa orang ini mengingat kegiatan organisasinya. Organisasi di Rakuzan kan sekitar 20-an?

"darimana kau bisa menghapal…"

"hem. Carilah klub atau organisasi lain. Seminggu lagi organisasi kalian akan dihapus!"

"HEEHHH APPPAAA?" Perempuan itu segera menarik tangan Akashi. "ne ne ne, ketua! Kenapa kau jahat sekali?"

"selamat bekerja!" Akashi menarik tangannya dan segera pergi dari kerumunan. Perempuan itu menggigit bibirnya dengan kesal. Dasar manusia kejam!

"jadi, bagaimana ini, Hanabi?" tanya seorang member dari organisasi padanya.

"sebentar!" perempuan yang ternyata memiliki nama Hanabi itu segera berlari mengejar Akashi. "OOIII! KETUA!"

"…" Akashi menghentikan langkahnya dan berbalik.

"aku akan membuktikan bahwa organisasi kami bukan organisasi sampah!" tekadnya.

"caranya?"

"ehm…" Hanabi lupa memikirkan kata-kata selanjutnya.

"atau begini saja…" Akashi tersenyum "bagaimana jika kau merekrut anggota baru. Minimal 20, ah itu terlalu banyak untukmu, 15 orang? Bagaimana?"

"ehmm…" Hanabi memikirkan tawaran Akashi dengan baik-baik. Ah, merekrut 5 orang tambahan. Tidak masalah. Tapi, tunggu dulu. Apa dia meremehkan kami? "5 orang? Kami bahkan bisa membawa 50 orang!"

"terserah…" jawab Akashi lagi sambil tersenyum.

"baik aku setuju!" Hanabi dan Akashi berjabat tangan.

"aku tunggu minggu depan" Akashi lalu pergi meninggalkan Hanabi. Shino yang kaget pun segera mengejar Akashi.

"Akashi-san! Bagaimana kalau mereka benar-benar…"

"tidak masalah Shino…" Akashi kembali tersenyum "kita perlihatkan kekalahan yang sesungguhnya…"

"maksudnya?"

"sudahlah. Aku minta kau untuk mendata orang-orang yang berada diorganisasi itu. Beserta keluarga mereka, data pekerjaan orang tua mereka."

"kenapa?"

"kerjakan saja!" Shino langsung merinding mendengar kata-kata itu. Ah, malam ini dia harus bergadang! Oi, Akashi kejam! Bergadang jangan bergadang. Kalau tiada artinyyyaaaaa…

….

H-3, Hanabi malah makin tidak tenang. Bukan saja mereka tidak mendapatkan anggota baru. Anggota lama pun sedikit demi sedikit keluar.

"maaf, Hanabi-chan. Ayahku menyuruhku untuk berhenti"

"ehm. Kakakku memarahiku untuk ikut OP lagi, katanya dia nanti akan dipecat"

"maaf. Kalau aku masih ikut OP, Beasiswaku akan dicabut dari perusahaan pamanku"

Dan berbagai alasan lain yang kurang lebih sama. Kini hanya tinggal 3 orang. Hanabi hanya bingung. Bagaimana bisa pekerjaan mempengaruhi organisasi ini?

"Perusahaan Akuza adalah perusahaan terbesar di Jepang dan hampir memenuhi saham di Asia Timur!" sekretaris OP melapor pada Hanabi selaku ketua OP.

"Eh? Lalu apa hubungannya dengan berhentinya mereka?" tanya Hanabi heran.

"Ya amplop! Helloooo… Hana-chan, kamu kurang wawasan banget dehh… Akuza itu perusahaan milik keluarga Akashi!" sekretaris itu mencak-mencak.

"heh? Perusahaannya?"

"hem!"

"jadi?"

"SMA Rakuzan ini bahkan masuk dalam saham keluarga Akuza!"

"hehhhh APAAAA?" Hanabi geger.

"dan sebagian besar perusahaan terkenal di Kyoto juga!"

"tidak mungkin!" Hanabi menggeleng. Dia tidak tahu kalau Akashi sekaya itu. Ya, semua murid di Rakuzan emang pada tajir. Tapi gak setajir itu. Paling banter anak CEO Perusahaan besar, yah, gak sampai anak CEO Perusahan super duper besar kayak Akashi!

"huah… perbedaan itu memang menyakitkan ya!" Sekretaris itu melontarkan komentar.

"jadi, maksudmu, mereka dipaksa keluar atas perintah Akashi?"

"mungkin!"

"dasar licik!" Hanabi segera keluar dari ruang klub.

"oi, mau kemana?"

"aku ingin membunuh anak berambut merah itu!"

…..

Akashi sedang latihan basket ketika Hanabi datang ke gym Rakuzan yang super besar. Hanabi hanya bisa diam menonton Akashi melakukan latihan tanding. Ternyata Akashi hebat juga.

"dunk!" ujar Hanabi kaget. Ya kaget lah! Bagaimana bisa cowok sepen*ek itu bisa dunk? Hehehe. Ah, Akashi lebih tinggi darinya. Apanya yang pen*ek? Hanabi terkekeh kecil. Bodohnya dia.

"apa yang kau lakukan disini?" tanya Akashi yang sedang berada didekat ring basket sambil memegang bola.

"ah! Pas sekali!" Hanabi menghampiri Akashi. "aku ingin komplen!"

"cepat. Kau membuang waktuku!" ujar Akashi tegas.

"kau curang sekali! Bagaimana bisa aku mendapatkan anggota baru kalau kau mengancam mereka? Bahkan hanya tersisa 3 orang di OP!"

"Heh…" Akashi tersenyum "apa kau bodoh?"

"apanya?"

"aku mempunyai kekuasaan untuk melakukan hal itu. Apa itu salah?"

"ehmm…"

"aku selalu menang, karena itu aku selalu benar. Apa kau ingin menyerah?" tanya Akashi. Ah, orang ini mengerikan! Arghh! Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau menyerah! Hanabi panik.

"tidak! Masih ada 3 hari lagi!"

"bagus…" Akashi lalu berbalik dan mengoper bolanya pada salah satu rekannya. Ia kembali bermain dan meninggalkan Hanabi yang hanya bisa terdiam.

"bagaimana ya? Perusahaan besar?" Hanabi mulai berfikir dan berbalik meninggalkan Gym. "perusahaan…"

"…"

"…"

"PERUSAHAAN!" Hanabi segera berlari kembali menuju gym.

"…"

"OIIII KETUA! AKU AKAN MENGALAHKANMU! TENANG SAJA!" Teriaknya pada Akashi, yang mengakibatkan permainan sekali lagi berhenti. Akashi hanya melihatnya sekilas dan kembali bermain. Terserahlah. Yang Hanabi tahu, dia pasti menang.

Hari yang ditentukan pun tiba, Akashi hanya diam diruang OSIS sendirian sambil bermain shogi seorang diri. Sepi sekali. Tidak satupun orang di Rakuzan yang bisa mengalahkannya. Lebih menyenangkan jika bermain dengan Shintarou, kenapa aku jadi merindukannya ya? Huft, mungkin aku perlu mengadakan reuni. Pikirnya sambil menjalankan pionnya. Ctak!

Tok tok, suara ketukan pintu.

"Ketua…" terdengar suara dari luar.

"masuk" ujar Akashi dan menghentikan permainannya. Ia melihat Hanabi masuk bersama 2 orang temannya. Kasihan sekali mereka bertiga seperti tidak ada niat untuk hidup lagi dan datang untuk minta di eksekusi menggunakan gunting Akashi.

"menyerah?"

"ehm… sebenarnya tidak juga dibilang menyerah…" Hanabi menunduk "tapi…" Hanabi maju kedepan, tepat didepan meja Akashi, ia mengambil salah satu pion Akashi.

"SKAK! KAMI MENANG!" Teriaknya. Lalu masuklah 12 orang kedalam ruangan. Akashi kaget melihatnya. Benar, ada 12 orang ditambah mereka bertiga, ada 15 orang dari OP.

"…" Akashi tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Hanabi. "kau hebat juga"

"tentu saja! Kau pikir dengan cara itu kau bisa menakuti keluarga teman-temanku? Keluargaku, Suzuki, mempunyai perusahaan juga yang bisa menyelamatkan keluarga mereka!" Hanabi menaikkan dagunya. Numpang songong dia.

"…" Akashi berjalan mendekat, Hanabi mulai gugup. Ia melangkah mudur secara perlahan. Akashi mengambil beberapa helai rambut Hanabi dan mengalirkannya ditangannya. Ia berbisik "mungkin kau tidak tahu…"

Ctak! Pion kembali dijalankan oleh Akashi. "kalian belum menang!" ia berbalik dan menyisakan aura ketakutan pada Hanabi dan yang lainnya.

"tunjukkan eksistensi organisasi kalian dalam waktu sebulan" ujarnya.

"sebulan?"

"perintahku mutlak kecuali kalau kau mau OP dihapus!"

"argh! Tentu saja! Kami tidak akan menyerah!" Hanabi memegang jidatnya. Ah, dia bodoh! Akashi adalah Ketua OSIS paling egois yang pernah ia temui!

Beberapa minggu kemudian…

"tumben sekali kau berkunjung, nanodayo…" pria hijau eh berambut hijau itu bergumam melihat ada seorang pangeran berkuda datang kerumahnya. Nih anak alay banget pake kuda. Biasa aja keles. Pikirnya.

"aku hanya merindukan teman lama…" Akashi segera turun dari kudanya. Ia membawa kudanya ke kandang sapi milik Midorima. Kandang sapi? Midorima punya sapi? Tauk ah. Author gak tau, tanya aja sama Midorin.

"bagaimana perjalananmu? Kau tidak gila datang pake kuda, nanodayo?" Midorima mikir, jauh banget dari Kyoto ke rumahnya naik kuda.

"lumayan. Kudaku muntah beberapa kali…" jawab Akashi santai "aku tidak diijinkan masuk?" tanyanya melihat Midorima menggeleng.

"yang muntah itu kudamu atau kau sendiri? Masuklah. Tapi hari ini ada tamu. Teman ayahku dari Rumah Sakit Kyoto juga, jadi kita di kamarku saja, nanodayo" ujar Midorima sambil mempersilahkan Akashi masuk.

"kudaku. Aku tidak mungkin muntah. Yah, terserah saja." Akashi pun masuk. Dia dan Midorima hanya bisa diam tanpa kata menuju kamar Midorima.

"…"

"kak Akashi! Lama tidak bertemu!" adik Midorima datang menuju Akashi, Akashi tersenyum padanya. "lihat, si Mio udah punya anak loh!" adiknya memamerkan kucingnya pada Akashi.

"benarkah? Itu bagus!" Akashi mengelus kepala adik Midorima. Ia memang sudah mengenal baik keluarga Midorima. Bukan karena dia dan Midorima akan dijodohkan. Ya gak mungkin keles! Tapi karena memang urusan bisnis dan urusan basket.

"Shiina, anak kucingmu sudah kutemukan!" terdengar suara yang dikenal Akashi, ia melihat seorang perempuan keluar dari dapur sambil membawa anak kucing.

"eh?" Akashi kaget melihatnya.

"ehm, Akashi, dia ini adalah anak teman ayahku, namanya…" Midorima baru saja ingin memperkenalkannya pada Akashi.

"Ketua! Apa yang kau lakukan disini?" tanya perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah Hanabi.

"huft, kebetulan macam apa ini? Shintarou adalah teman baikku" jawab Akashi sambil menunjukkan muka kesal. Dia benar-benar kesal bertemu Hanabi.

"kau punya teman? Hebat sekali!" Hanabi takjub. Akashi membuang muka.

"Shintarou, mungkin lebih baik kita pergi ketempat Testuya." Ujarnya. Midorima yang heran hanya bisa memperbaiki posisi kacamatanya. Clek.

"heh? Kuroko, nanodayo? Kau tahu kan kalau aku kurang cocok dengannya?" tanya Midorima.

"ayo pergi!" tanpa memikirkan hati nurani Midorima, Akashi pun berbalik keluar. Midorima hanya bisa menggeleng dan clek. Kebiasaan buruk Akashi. Mudah merajuk.

"Shiina, aku pergi, jangan nakal, nanodayo!" Midorima menyusul Akashi.

…..

"apa yang membuat kalian datang?" tanya Kuroko dengan tampang datarnya. Ia kaget melihat ada dua pangeran bergoncengan menggunakan kuda. Pagi yang konyol, pikirnya. Alay banget mantan ketua dan mantan wakil ketuanya itu. Malu rasanya mengakui mereka, pikirnya lagi.

"aku hanya merindukan teman lama!" Akashi segera turun setelah Midorima turun lebih dulu. Ia membawa kudanya menuju kandang kambing milik Kuroko. Yee, Kuroko punya kambing! #plak

"hanya Akashi yang merindukanmu, aku tidak, nanodayo!" ujar Midorima dengan tsundere seperti biasa. Kuroko hanya tersenyum. Ia lalu mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.

"…"

"…"

"kamarmu masih kecil seperti biasanya, Tetsuya" ujar Akashi sambil mengobservasi kamar Kuroko. Kuroko hanya tersenyum sambil menuangkan minuman.

"kalau besar, itu bukan kamarku, itu namanya ruang tamu, Akashi-kun!"

"jadi, sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, Akashi?" tanya Midorima heran.

"aku juga bingung!" jawab Akashi. Midorima dan Kuroko kaget. Ada bencana apa di Kyoto sampai-sampai Akashi bingung? Kejadian langka!

"bingung, nanodayo?" tanya Midorima.

"aku mau kerumahmu untuk bermain shogi sampai datang perempuan menyebalkan itu yang menyebabkan aku kehilangan mood untuk bermain!" ujar Akashi dengan kesal. Midorima mengerutkan keningnya sementara Kuroko hanya diam.

"memangnya kau hanya main shogi denganku saja, nanodayo?" tanya Midorima "kau kenal Suzuki?"

"siapa yang kalian bicarakan?" Kuroko heran dengan tampang tidak heran *?*, tampang woles.

"tidak ada yang bisa menyamaiku dalam bermain shogi kecuali kau, Shintarou!" Akashi memegang jidatnya, kayaknya dia capek banget "tentu saja aku kenal anak itu. Anak paling susah diurus. Persis Daiki!" ujarnya sambil mengingat teman lamanya si imut Aomine. Yang diingat sedang bersin entah dimana.

"dia siapa?" tanya Kuroko pada Midorima. Dicuekin bikin kesal juga.

"dia anak teman ayahku dari Kyoto. Mungkin teman satu sekolah Akashi, nanodayo!" jawab Midorima yang membuat Kuroko membentuk huruf O dimulutnya.

"tidak mematuhi peraturan, seenaknya sendiri! Setidaknya Daiki mampu memberikan hasil terbaik kepadaku! Tapi dia tidak!" Akashi mengambil air yang diberikan Kuroko. Kuroko takut Akashi meledak dan melemparkan gunting kemana-mana.

"kalian akrab ya, nanodayo?"

"akrab dari segi mana? Sudah ku bilang aku benar-benar membencinya!" Akashi mencak-mencak. Baru kali ini Kuroko dan Midorima melihat Akashi mencak-mencak kayak gitu. Biasanya kalau marah dia tetap kalem sambil ngasah gunting.

"jangan begitu, Akashi-kun. Bisa-bisa kau menyukainya!" Kuroko kembali memberikan air pada Akashi.

"apa maksudmu, Tetsuya?" Akashi heran namun tetap meminum air yang diberikan Tetsuya.

"yah, itu benar, nanodayo!" jawab Midorima, ia juga menerima air dari Kuroko.

"heh, mentang-mentang sudah punya pacar!" pikir Akashi "dasar anak buah tidak tahu diri!"

"Akashi-kun, apa masalahnya begitu besar, sampai-sampai kau membencinya?" tanya Kuroko.

"begini…" dan akhirnya Akashi pun mulai bercerita.

…..

Esoknya, Akashi berada diruang OSIS. Ia baru saja melangsungkan rapat.

"sudahlah Akashi-kun, mungkin ada alasan sampai dia mati-matian mempertahankan OP! sama seperti kita yang menyukai basket"

Tetsuya bijak seperti biasanya. Pikir Akashi. Sebenarnya dia tidak suka konsultasi dengan Kuroko. Kuroko cepat memahami permasalahan yang ada dan perasaan Akashi. Kuroko memang calon suami yang cocok bagi Author #plak.

"Shino…" panggilnya.

"ada apa, Akashi-san?" tanya Shino sambil membawa banyak kertas.

"apa tujuan dari didirikannya OP?" tanya Akashi. Shino mulai khawatir, jangan-jangan nanti dia disuruh menyelidiki OP lagi.

"hem… untuk mempererat pertemanan. Kalau tidak salah begitu. Orang-orang yang ingin mempunyai teman bisa masuk kesana. Biasanya sih yang bergabung itu orang-orang yang tidak diinginkan di organisasi atau klub mana pun…" jawab Shino.

"oh… yasudah…" Akashi membebaskan Shino. Shino mengelus dada. Syukur.

Akashi berjalan pelan dengan handuk kecil dikepala dan tangan kanan memegang botol air mineral. Bukan, bukan karena ia adalah seorang tukang parkir, tapi ia baru saja latihan basket. Ia pergi menuju taman. Entah kenapa dia ingin kesana. Ia menemui Hanabi yang sedang menyiram bunga.

"huft…" Akashi baru saja mau berbalik, suasana hatinya tidak bagus begitu melihat Hanabi.

"oiii! Ketua!" Hanabi berteriak sambil melambaikan slang air. Walhasil air dari slang itu tersebar kemana-mana termasuk rambut harum mewangi milik sang Akashi. Perempatan segera muncul di kepala Akashi. Cukup sudah kekacauan ini!

"Ada apa!" Akashi berbalik sambil membentak Hanabi. Hanabi kaget dan segera menutup kran.

"ehhh… maaf maaf Ketua! Rambutmu jadi basah." Hanabi yang kurang peka pada perasaan Akashi segera mengambil handuk yang ada ditasnya dan memberikannya kepada Akashi. Akashi segera mengambilnya.

"apa yang kau inginkan?" tanya Akashi sambil mengelap rambutnya. Handuknya yang sudah basah langsung dihempaskan ketanah. Orang kaya!

"aku kan hanya menegur…"

"menegur?"

"ya ya maaf…" Hanabi mengatupkan kedua tangannya meminta maaf. Akashi hanya diam saja melihatnya. Ah, marah padanya tidak ada gunanya. Bisa-bisa ia tambah tua. Akashi menghela nafas.

"ada yang ingin kutanyakan…" ujar Akashi.

"apa?"

"kenapa kau mendirikan organisasi tidak jelas itu?"

"apanya yang tidak jelas?"

"jawab saja!"

"eh? Ehmmm…" Hanabi mulai berfikir. Gawat! Dia mesti jawab sebelum ada gunting melayang entah darimana menuju dirinya. "karena… kau tahu… ehm… banyak siswa di Rakuzan yang susah berteman. Jadii aku membuat organisasi ini supaya kami bisa berteman. Lagipula banyak dari mereka yang tidak diterima di klub atau organisasi lain.. jadi karena itu…" Hanabi menjawab dengan hati-hati. Begitulah jika berbicara dengan seorang Akashi. Akashi hanya diam.

"…"

"kau mau ikut?"

"heh!" Akashi kaget. "kau pikir aku apa, sampai mau masuk kedalam organisasi itu?" Akashi meremehkan.

"ya tidak apa-apa sih…" Hanabi tersenyum kecil. "hanya saja, aku harap kau mau masuk kedalam organisasiku disaat-saat terakhirku…" Hanabi menunduk sedih. Akashi mengerutkan keningnya. Entah kenapa dia ikut merasa sedih.

"…"

"…"

"eh? Kau serius menanggapinya?" pertanyaan Hanabi membuat mata Akashi membesar. Sebenarnya apa maksud Hanabi. "aku hanya bercanda! Hehehe" Hanabi tertawa garing sambil menggaruk rambutnya pake cangkul *?*.

"…" Akashi hanya diam saja. Tidak berteriak, tidak marah, dan tidak melempar gunting. Entah kenapa dia merasa bahwa Hanabi berbohong jika dia berbohong. Ah, author bingung.

"aku bohong! Hahaha dasar Ketua bodoh! Aku kan hanya bercanda! Ditanggapi serius gitu aku jadi malu!" Hanabi jadi malu-malu kucing. Alis Akashi terangkat sebelah. Dia tertipu!

PLAK

"Tidak ada gunanya aku mengkhawatirkanmu!" Akashi melemparkan handuk tadi tepat kewajah Hanabi. Akashi berbalik dan segera kembali ke Gym Rakuzan. Keputusan untuk berbicara dengan Hanabi adalah sebuah kesalahan besarrrr!

"…" Hanabi hanya dia sambil memegangi handuk yang ada diwajahnya. Wajahnya terasa panas. Padahal kan handuk itu basah. Harusnya dingin. Bukan panas! Ada apa dengannya? Akashi mengkhawatirkannya? Benarkah?

…..

Beberapa hari kemudian…

Akashi sedang berada di kumpulan orang kaya. Entah apa yang orang-orang kaya itu bicarakan, maklum author bukan orang kaya. Akashi hanya diam setelah Ayahnya memperkenalkan dirinya kehampir seluruh tamu yang hadir dihalaman rumahnya. Ia duduk dibangku dibawah sinar bulan. Seorang diri sambil menikmati angin malam.

"Ketua!" Akashi mengurungkan niat untuk mengatakan bahwa malam ini adalah malam yang menyenangkan. Tidak setelah ia mendengar suara Hanabi memanggil. "Ketua ada disini? Kenapa?"

"ini rumahku! Kau yang kenapa disini? Datang tak diundang, pulang tak mau. Mirip jelangkung!" ujar Akashi dengan wajah sinis.

"hehehe iya ya. Dan ada yang salah. Harusnya, datang tak dijemput, pulang tak diantar!" koreksi Hanabi. Akashi hanya menampakkan wajah 'terserahlah, aku tidak perduli, pergilah dari sini. Aku tidak ingin bertemu denganmu'. Panjang juga.

"Akashi-kun…"

"hem…"

"kalau aku pindah, apa kau senang?"

"asal kau bubarkan organisasi itu, aku akan segera buat pesta" jawab Akashi asal. Hanabi hanya tertawa kecil.

"ehm, baguslah… oh ya, aku mau cerita" ujar Hanabi. Akashi menoleh pada Hanabi yang sekarang duduk disebelah kanannya.

"kau pikir aku mau dengar?"

"hehe… kau jujur sekali. Tapi kau harus dengar. Mau tidak mau!" paksa Hanabi. Akashi hanya diam. Dia juga penasaran.

"dulu, ketika SMP, aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan memberikan hadiah pada seseorang yang sudah memberikan hadiah padaku dulu…"

"lalu?"

"ehm… menurutmu, apa yang disukai anak laki-laki sepertimu untuk hadiah?"

"kemenangan"

"ahh… itu susah sekali! Yang lebih spesifik!" pinta Hanabi.

"spesifik ya?" Akashi malah terbawa suasana untuk berfikir "entahlah. Aku tidak tahu… berikan saja hadiah yang pernah dia berikan padamu. Aku juga tidak tahu…" jawab Akashi.

"begitu ya?" Hanabi memejamkan matanya. "ya sudah! Terima kasih ya!" Hanabi segera meninggalkan Akashi yang terheran-heran.

"persis jelangkung!" pikir Akashi yang segera diikuti merinding masal bulu kuduknya. Malam yang menyeramkan.

"tapi, kira-kira siapa yang dia maksud?" Akashi penasaran "ah, terserah. Bukan urusanku!"

"…"

"apa dia beneran pindah?"

"…"

"ah! Terserah! Baguslah ia pergi!"

"…"

"arghhh terserah! Aku tidak mau tahu!"

…..

Semenjak saat itu, Akashi tidak pernah bertemu dengan Hanabi lagi. Bahkan ketika upacara seperti biasa. Memang, siswa Rakuzan itu banyak, tapi setidaknya mereka bisa bertemu secara tidak sengaja kan? Entah sejak kapan kebiasaan baru Akashi itu muncul. Mencari sosok Hanabi. Dia tidak bisa menolak kalau dia memang mencari Hanabi, dia kan bukan tsundere kayak Midorin. Tapi tetap saja dia bingung mengapa mencari Hanabi. Apa Hanabi punya hutang dengannya?

Diruang OSIS, sekali lagi, Akashi bermain shogi seorang diri. Membosankan. Hari ini lebih membosankan dari hari biasanya. Kenapa ya? Begitu pion terakhir melangkah, ia langsung berhenti dan memutar kursinya kebelakang menghadap jendela besar. Kenapa hatinya tidak tenang hari ini?

Tok tok tok…

"masuk…" ujar Akashi tanpa berbalik.

"Akashi-san!" Shino masuk sambil membawa surat. "ini ada surat dari OP. Mereka sudah menutup organisasi itu…"

"heh, benarkah?" Akashi berbalik dan segera mengambil surat yang diberikan Shino. sesuai dengan apa yang ia baca, OP sudah mengundurkan diri. "apa Suzuki pindah?"

"pindah?" Shino heran "dia kan di Rumah Sakit Midorima beberapa hari ini…"

"eh?" kenapa Akashi tidak tahu hal ini? "ada apa dengannya?"

"ehm… tidak tahu juga. Sepertinya dia juga sudah berhenti sekolah" jawab Shino.

"berhenti?" Akashi mulai tidak bisa mencerna perkataan Shino. Mengapa rasanya aneh sekali.

"ya. temannya yang memberitahukanku. Katanya udah lama gak sembuh-sembuh, akhirnya malah berhenti sekolah. Temannya juga tidak tahu dia sakit apa, karena Suzuki tidak mau memberitahukan penyakitnya pada mereka…" jawab Shino sambil mengingat kejadian beberapa jam yang lalu ketika ia bertemu teman Hanabi. Pantas saja keluarga Suzuki datang kerumah Midorima, ternyata karena hal ini. Separah apa penyakit Hanabi sampai harus dibawa kerumah sakit elit Midorima?

"ya sudah. Terima kasih. Kau boleh pergi" ujar Akashi. Shino segera menunduk hormat dan berbalik. Baru saja ia ingin melangkahkan kakinya menuju pintu, Shino memukul jidatnya pelan. Dia melupakan sesuatu.

"eh, anoo… maaf Akashi-san. Aku baru ingat. Ada titipan dari Suzuki-san untukmu. Ini…" Shino mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Ia meletakkannya dimeja. "baiklah… saya pergi. Permisi" dan Shino pun menghilang.

"apa ini?" Akashi melihat dengan seksama kotak itu. Tidak ada hiasan apapun. Hanya kertas berwarna merah dan pola bintang menghiasi kotak itu. Ia lalu membuka kotak dengan hati-hati. Takut-takut jika didalamnya ada bom.

"eh?" didalam kotak itu terdapat hiasan kuda berwarna merah yang sudah usang. Akashi mengambilnya, dan menatapnya dengan penuh curiga. Kenapa Hanabi memberikan benda ini padanya? Memangnya dia pemulung? Tapi, tampaknya ia mengenal benda itu. Ditilik dari segi mana pun ia merasa kenal. Ah, mungkin hanya perasaannya saja. Otaknya tidak menemukan sedikit pun informasi tentang 'kenalnya' ia pada benda itu. Akashi melihat lagi isi kotak. Mungkin saja ada petunjuk pemakaian atau garansinya.

"surat…" Akshi benar! Ada surat didalamnya. Ia lalu membuka lipatan kertas, kertas itu berisi tulisan yang lumayan panjang. "seperti surat tantangan saja" ujarnya. Ia lalu membaca.

"…"

"…"

"…" 7 menit telah berlalu. Akashi tidak tahu mengapa ketika ia membaca surat itu, pikirannya melayang ke 10 tahun yang lalu, ketika ia berumur 6 tahun.

"…" Akashi segera pergi sambil membawa hiasan kuda ditangannya. Dia harus menemui Hanabi. Dia harus tahu mengapa dadanya terasa sesak saat ini. Hanabi harus menjelaskannya!

FLASHBACK ON

Akashi kecil pergi menuju toko yang menjual hiasan untuk hewan peliharaan. Toko ini adalah toko hiasan untuk hewan peliharaan terlengkap di seluruh China. China? Ya, Akashi sedang berlibur dengan orangtuanya. Tepat 1 tahun sebelum ibunya meninggal. Di toko ini menjual banyak sekali hiasan. Dari hiasan untuk kucing sampai harimau. Akashi pergi bersama salah satu pelayan setianya.

"Bibi, kira-kira ada yang bagus tidak, ya?" tanya Akashi sambil mengayunkan tangannya pada genggaman pelayannya. Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum sambil mengatakan 'tentu saja.'

"aku ingin membelikan satu untukku dan satu untuk ibu. Ibu pasti senang dan cepat sembuh. Iya kan?" tanyanya lagi. Ah, Akashi kecil sangat cerewet. Akashi bertanya terus kepada pelayannya. Yang ditanya hanya menjawab 'iya, tuan muda.' Akashi baru berhenti bertanya ketika ia melihat hiasan kuda berwarna merah yang cantik sekali. Ia segera berlari dan berusaha menggapainya.

"eehh…" Akashi ternyata sedang memperebutkan hiasan itu dengan seorang anak kecil yang juga mengambil hiasan itu secara bersamaan.

"hehe… berhubung rambutmu sudah merah, bisa tidak berikan itu padaku?" tanya gadis kecil itu. Akashi mulai cemberut. Apa hubungannya, coba? Pikirnya. Ia tetap mempertahankan benda itu. Gadis itu juga tidak mau kalah.

"Bibi! Anak ini merebut hiasan itu! Aku mau itu! Aku mau itu!" rengeknya keras kepada sang pelayan. Bibi itu segera mengambil hiasan itu sambil berbicara kecil kepada perempuan itu bahwa Akashi sangat menginginkan benda itu.

"tidak! Aku mau itu juga! Benda itu satu-satunya yang tersisa. Aku sudah menabung 5 bulan untuk membelinya!" gadis itu bersikeras. Bibi tetap memaksa. Akashi hanya melihat.

"adikku ada di rumah sakit! dia sangat menginginkannya! Aku mohon…" gadis itu mulai menangis. Akashi terkejut dan langsung mengingat ibunya. Huft, sudahlah. Dia bisa beli yang lain.

"berikan saja padanya" ujar Akashi kemudian. Bibi dan gadis kecil itu kaget. Bibi itu bertanya heran, 'tapi, bukankah tuan muda sangat menginginkannya?'

"aku beli yang lebih mahal saja" Akashi segera berbalik dan mencari hiasan lain. Lagipula dia punya banyak uang. Memperebutkan hal begitu pada anak miskin hanya menyusahkan saja. Bibi itu hanya tersenyum dan segera memberikan hiasan pada si gadis kecil yang tertunduk mengucapkan terima kasih sambil menangis.

…..

"aku ingin masuk!"

"tidak bisa!"

"kenapa?"

"Hana-chan, tidak boleh diganggu saat ini!"

Akashi membuat rusuh didepan kamar Hanabi di rumah sakit Midorima. Ia bersikeras untuk masuk meskipun kakak perempuan Hanabi melarang. Sudah sekitar 10 menit Akashi memaksa, namun ia tidak juga mendapatkan izin.

"aku ingin bertemu dengannya!"

"tidak boleh!"

"…" tidak seperti biasanya, Akashi tidak melemparkan gunting. Ia hanya mengepalkan tangan dengan kuat. Dia sangat ingin bertemu Hanabi. Dia harus bertemu Hanabi!

"aku harus bertemu dengannya!" suara Akashi tercekat. Kakak Hanabi terkejut mendengarnya. Terlebih lagi ketika ia melihat setetes air keluar dari mata Akashi. Kakak Hanabi segera masuk dan berkata 'aku akan bertanya pada Hanabi.'

"…" Akashi hanya diam. Dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

"maaf, ayahku tidak bisa menghubungi keluarga Suzuki. Dia sedang sibuk hari ini…" Midorima datang dengan terburu-buru. Nafasnya tersengal-sengal. Perjalanan yang cukup jauh. "Akashi?" Midorima menoleh pada Akashi yang sedang berdiri didepan pintu. Apa yang terjadi pada sahabatnya ini.

"…"

"maaf, Hanabi tidak mau bertemu denganmu" ujar kakak Hanabi. Kata-kata itu kontras membuat hati Akashi hancur.

"katakan saja, Akashi Seijuro ingin bertemu" ujar Akashi.

"dia sudah tahu begitu aku bilang anak laki-laki berambut merah. Dia tidak mau bertemu denganmu!" ujar kakaknya. Ia mengingat dengan jelas betapa Hanabi menahan perasaannya. Ia tahu Hanabi juga sangat ingin bertemu Akashi. Ia sedari tadi mendengar suara Akashi berteriak. Tapi ia tidak mau Akashi melihat keadaannya. Kakak Hanabi hanya menghela nafas.

"…" Akashi tidak perduli dengan kata-kata kakak Hanabi. Ia maju dan ingin membuka pintu. Namun tangan Midorima menghalanginya.

"Akashi, ada apa denganmu? Suzuki tidak mau bertemu. Lebih baik kau pulang." ujar Midorima.

"…" Akashi hanya menepis tangan Midorima dan tetap bersikeras. Midorima masih mampu menahannya. 197cm melawan 174cm itu mustahil. Midorima sendiri tidak mengerti kenapa Akashi seperti ini.

"Midorima, pergi!" Tihtah Akashi. Biasanya Midorima akan langsung pergi. Tapi kali ini dia tidak bisa.

"aku tidak akan pergi selama kau masih disini, Akashi"

"jangan menghalangiku. Aku ingin bertemu dengannya!"

"dia butuh istirahat."

"aku tidak perduli. Aku ingin bertemu dengannya"

"Akashi!"

"PERGILAH!" Akashi berteriak, tangan kanannya memegang kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Hanabi tidak mau bertemu dengannya, lagipula dia tidak akan lama.

"HANABI! KELUAR! AKU INGIN BICARA DENGANMU!" Teriaknya. Membuat semua orang disana terkejut. Terlebih Midorima, ia masih tetap menahan Akashi.

"HANABIIIIIIIIIIIIIIIIIIII…." Kali ini teriakannya membuat air matanya jatuh. Ia berteriak sekuat tenaga. Ia harus bertemu Hanabi. Harus! Apapun yang terjadi!

"Akashi!" Midorima menegur Akashi, kakak Hanabi hanya bisa terdiam sambil menutup mulutnya. Dia juga tidak tega. Dia yakin saat ini Hanabi juga merasa sakit ingin bertemu Akashi.

"apa yang kau lakukan? Cepat keluar!" ujar Akashi tanpa memperdulikan siapapun yang melihatnya seperti orang gila. "aku memintamu keluar! Kau harus keluar! Apa kau tidak mendengarku?!"

"…"

"HANABIIIII….!"

"BIARKAN KAU MASUK KALAU KAU TIDAK MAU KELUAR!"

"ARGHHH…." Akashi mulai tidak karuan.

"Akashi, semua orang melihatmu…" ujar Midorima. Dia tidak sanggup melihat sahabatnya seperti ini.

"Shintarou…" ujar Akashi pelan. "aku ingin bertemu dengannya…aku ingin bertemu dengannya…"

"tapi dia tidak ingin kau melihatnya, Akashi…" Midorima menasehati Akashi. Meskipun Midorima sendiri tidak ingin mengatakan hal itu.

"Shintarou… aku merindukannya…"

….

Kepada : Ketua OSIS SMA Rakuzan

Ohayou! Eh, apa kau menerima suratku dipagi hari? Aku menulisnya di pagi hari, jadi aku bilang saja Ohayou. Hehehe…

Ketika kau menerima ini mungkin aku sudah tidak lagi bisa bertemu denganmu. Kau senang kan? Tentu saja. Aku sudah memenuhi permintaanmu. Tanpa kau katakan pun aku tahu kalau kau tidak suka melihatku. Maaf ya.

Oh ya, apa kau ingat dengan hiasan itu? Sudah usang memang. Tapi kau sendiri yang bilang bahwa hadiah terbaik adalah hadiah yang sudah diberikan seseorang kepadamu. Aku pergi ke toko tempat kita bertemu waktu itu, tapi aku tidak melihat stoknya lagi. Sepertinya yang waktu itu adalah yang terakhir.

Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih kau sudah membiarkanku membelinya. Kau kasihan padaku kan? Aku tahu. Bukan sekedar karena kau bisa membeli yang lebih mahal. Hiasan itu adalah yang sangat aku inginkan ketika kecil. Aku berbohong bahwa adikku yang menginginkannya. Aku tidak punya adik. Maaf, sekali lagi.

Tapi, aku memang sangat sangat sangat menginginkannya. Aku kabur dari rumah sakit hanya untuk membelinya. Kupikir itu adalah saat terakhir dalam hidupku, karena itu aku membelinya. Ternyata aku masih punya waktu 10 tahun untuk bernafas.

Dulu, aku sangat ingin bertemu denganmu mengucapkan terima kasih, ternyata tidak juga bertemu. Aku senang sekali bisa bertemu dengan mu di SMA Rakuzan. aku tidak tahu bagaimana cara bicara denganmu sampai kau menegurku di festival. Memang kesan yang buruk. Tapi aku senang! Aku bisa dengan jelas mengenali rambut merah dan kulit putih susu milikmu.

Pokoknya, aku kembalikan benda ini padamu. Jaga dengan baik. Jadi kau bisa mengingat wajahku yang menjengkelkan. Hahaha…

Sekali lagi maaf dan terima kasih sudah mengkhawatirkan aku waktu itu…

1-4-3

Huaaaa… author kena troll lagi. Ternyata malah bagian Akashi yang nyesek. Reader nyesek gak? Gak ya? hahaha… author senang bagian teriak-teriaknya. Author sampe ikutan teriak. Pokoknya thanks for reading and please leave a review!

n.b : bagian teriak-teriak itu ada juga di FF jadul Author

*1-4-3 : I Love You