Aomine Daiki tidak tertarik dengan yang namanya perempuan kecuali Mai-chan, model majalah yang dicintainya. Tidak tertarik dengan teman masa kecilnya, Momoi Satsuki, karena Momoi sudah mencintai orang lain. Loh? Bukankah itu artinya Aomine sakit hati? Tidak juga. Karena Aomine kadang terlalu bodoh untuk mengetahui perasaannya.

Disclaimer : tokoh milik Tadoshi Fujimaki-sensei kecuali OC dan alur cerita milik daku

Warning : OOC, alay, gaje. Jika anda menemukan hal tersebut laporkan kepada pihak yang berwajib dan muntah ditempat yang telah disediakan.

..

Uyeehhh… finally finally! Gimana perasaan para reader? Pesaranan eh penasaran? Syumpeh deh, mentang-mentang daku bikin Akashi, langsung aja cerita Kise di skip. Kesian banget dirimu nak, puk puk. Hahaha… ternyata banyak juga penggemar si rambut merah. Makasih deh masih mau baca, padahal EYD pada ngawur. Wkwk. Langsung baca aja!

Apa yang kau rasakan jika ada 4 makhluk pelangi memandangimu? Makhluk berwarna biru muda memandangmu tanpa ekspresi meski kau tahu ia marah padamu. Makhluk berwarna hijau hanya memperbaiki posisi kacamata yang dikenakannya tanpa mengucapkan kata-kata meski kau tahu ia juga marah padamu. Makhluk berwarna ungu terus saja makan meski sesekali hanya mengatakan 'Minechin' yang berarti ia juga marah padamu. Makhluk kuning yang sedari tadi merengek dan mengatakan kau adalah makhluk biru gelap yang paling kejam dimuka bumi ini, dan sekali lagi, seperti yang lain, ia pun marah padamu. Menyusahkan saja!

"argh! Pergilah dari sini! Kalian membuat perasaanku tidak enak!" akhirnya pria berambut biru gelap itu bangun juga dari tidurnya. Sebenarnya ia tidak tidur, hanya pura-pura saja sambil berharap keempat sahabatnya itu pergi.

"Aomine-kun, aku benar-benar marah!" makhluk berambut biru muda, Kuroko, menampakkan wajah marah yang tak marah. Aura kelam muncul dibelakangnya.

"karena itulah kau bodoh, nanodayo!" makhluk berambut hijau, Midorima, sekali lagi memperbaiki posisi kacamatanya, clek.

"Murochin… kau harus pergi!" makhluk berambut ungu, Murasakibara, terus saja memakan cemilan yang ia dapatkan dari kamar Aomine. Mata ngantuknya tetap menyiratkan kemarahannya.

"Aominechi kejaaammmm…. Ssuuuuuuu…" makhluk berambut kuning, Kise, sukses membuat rumah keluarga Aomine gempar. Teriakkannya memiliki kekuatan 1000 Khz #maklumHabisUjian.

"oiii… Tetsu tidak perlu menatapku begitu! Kise tidak perlu berteriak! Murasakibara berhenti makan! Midorima enyahkan benda aneh itu!" Aomine akhirnya mengeluarkan ultimatumnya. Namun tetap saja 4 orang itu marah padanya. Yah, meskipun Aomine juga memaksa mereka keluar, mereka tetap bersikukuh pada posisi semula dan malah memaksa Aomine yang pergi.

…..

"aku akan selalu mendukungmu, Dai-chan!"

…...

Cih, meski ia benci. Namun harus diakui ia pergi juga dari kamarnya atas saran, ehm ralat, atas paksaan sahabatnya. Yang punya kamar siapa, yang disuruh pergi siapa. Aomine berjalan dengan pelan. Dari rumahnya menuju Bandara Internasional Tokyo. Ah, malas sekali. Masih terbayang apa yang baru saja ia katakan tadi malam pada Momoi.

"…."

"Aomine-kun, besok aku akan pergi ke London dengan Imayoshi-senpai. Apa kau baik-baik saja?" tanya Momoi khawatir. Ia datang kekamar Aomine, sementara Aomine asyik membaca majalah.

"hem… baguslah kau pergi dengannya, jadi tidak ada yang mengganggumu…" gumamnya. Meskipun tampak asyik tapi dia merasa bimbang. Tapi tidak tahu kenapa. Apa yang dibimbangkan?

"ini pertama kalinya aku tidak 1 sekolah dengan Aomine-kun, apa tidak masalah? Aku khawatir…" tanya Momoi lagi. Aomine langsung menutup majalahnya dan menatap Momoi yang sedang duduk dikursi dihadapannya.

"aku bukan anak kecil! Pergi sana! Malah merepotkan kalau kau selalu denganku!" ujarnya. Ah kenapa dia mengatakan hal itu. Momoi akhirnya tersenyum tenang.

"baguslah."

"…."

"ARGHHH… Apa yang baguslahh…" ia mengacak rambutnya sendiri. Agak frustasi ditengah jalan itu memalukan, tapi kali ini Aomine tidak memperdulikan hal itu. Ia lalu menendang batu didepannya.

"arghhh… bahkan aku tidak bisa menendang batu! Oi batu! Terbanglah!" Aomine berubah jadi pesulap gara-gara batu yang ditendang tidak bisa bergerak. Yaiyalah lha wong itu batu taman! Gimana coba?

Sementara itu, di bandara Internasional Tokyo, Imayoshi sedang duduk sambil minum kopi. Disampingnya ada Momoi yang sedari tadi memegang hapenya dan sesekali menatap kelayarnya.

"kalau khawatir, telpon saja dia!" ujar Imayoshi akhirnya.

"eh siapa? Telpon siapa?" Momoi kaget. Apa yang dipikirkan Imayoshi?

"siapa lagi… Aomine…" jawab Imayoshi. Muka Momoi segera memerah, namun ia berusaha kalem. Kalem aja, lanjut terus! #promosi?

"bukan!" Momoi memainkan hiasan hpnya. Hadiah dari Aomine ketika ia menemaninya membeli sepatu.

"…..."

Pagi itu adalah pagi yang cerah bagi Momoi. Ia begitu senang melihat Aomine semangat memilih sepatu basket di toko. Sudah lama ia menunggu saat-saat seperti ini. Ia sudah menelpon Kuroko tadi malam. Namun seperti biasa, ia hanya dapat berbicara dengan Kuroko selama 7 menit. Selain karena ia pingsan berapa kali setelah mendengar suara Kuroko dan juga karena Kuroko kelelahan setelah bermain melawan Touou. Ya, Touou Academy kalah melawan Seirin di Winter Cup ketika mereka kelas 1 SMA.

"Aomine-kun, sepatumu yang lama ada dimana?" tanya Momoi.

"ehm? Yang lama? Aku kasih sama Taiga" jawab Aomine santai.

"eh?"

"iya, dia punya jiwa mulung yang handal! Begitu ku kasih dia langsung ambil" jawab Aomine sambil memberikan sepatu pilihannya pada kasir.

"oohhh…" Momoi hanya berangguk-angguk sambil berseru trilililili eh malah jadi burung kutilang #plak. "Aomine-kun… kau janji akan mentraktirku kan?"

"iya iya…" Aomine membawa sepatunya barunya keluar. Momoi terus tersenyum sepanjang jalan.

"Oi! Satsuki! Kau menakutkan kalau tersenyum terus seperti itu!" ujar Aomine.

"Mouu… ayo belikan aku… itu itu… aku mau es krim itu!" Momoi menunjuk kedai es krim didepan mereka. Aomine hanya mengerutkan keningnya lalu pergi menuju kedai itu.

"…"

"…"

"nih…" Aomine memberikan es krim pada Momoi yang sedang duduk dibangku pinggir jalan.

"Aomine-kun, apa ini?" tanya Momoi melihat ada hiasan hp yang diberikan Aomine.

"hadiah dari pak le es krim" jawab Aomine ngasal. Momoi tersenyum, ia tahu gak mungkin pak le es krim ngasih bonus hiasan.

"makasih! Dai-chan!" ujar Momoi sambil tersenyum. Wajah Aomine langsung memerah, ia menoleh kekiri.

"kenapa makasih? Lagipula jangan panggil Dai-chan!"

"…"

"tak apa, Momoi-san" ujar Imayoshi. "lagipula aku tidak bisa memaksamu untuk menyukaiku" kali ini Imayoshi tidak bisa mengucapkannya karena itu hanya akan menambah beban Momoi. Ah, dasar pasangan bodoh! Mereka tidak mengerti perasaan mereka sendiri atau bagaimana? Pikirnya lagi.

"ehm… senpai, kenapa kita tidak masuk keruang tunggu saja?" tanya Momoi, dia baru menyadari bahwa mereka sedari tadi ada di warung makan Padang *?* di Bandara. Imayoshi menatap Momoi heran.

"aku kan sudah bilang kalau aku lapar"

"tapi ini sudah 10 menit, senpai! Kita gak telat?"

"gak, masih ada satu jam lagi… tenang saja" jawab Imayoshi. Ayolah Aomine, aku sudah mengulur waktu untukmu bisa bertemu Momoi. Ujar Imayoshi dalam hati.

….

Aomine masih saja berjalan dengan santai, dia sudah menyerah. Yah, yang terjadi, terjadilah. Kalau memang ada waktu, aku pasti bertemu dengan Momoi. Pikirnya. Sekali lagi ia menguap.

"hoamm…"

"…"

"Satsuki, siapa yang menyuruhmu untuk daftar di Touou?" tanya Aomine yang kaget melihat Momoi membawa almamater Touou ke lapangan basket tempat Aomine tidur, emang gak mau latihan dia #songong.

"aku mau sendiri" jawab Momoi sambil berjalan datang menuju Aomine.

"eh?" Aomine mengangkat keningnya sebelah. "kenapa tidak satu sekolah dengan Tetsu?"

"aku mauuuuu…." Momoi malah mewek. "huhuhu… aku sangat ingin 1 sekolah sama Tetsu-kuuunnnn!"

"heh. Terus?" Aomine mulai sweatdrop. Nih cewek gak punya pendirian banget.

"terus, aku gak mau pisah sama Aomine-kun juga!" jawaban Momoi membuat Aomine terlonjak.

"apa maksudmu?"

"aku jadi manajer saja, Aomine masih malas latihan. Apalagi kalau aku tinggal. Lagipula senior kacamata juga bilang begitu padaku!"

"oohh karena aku malas ya.." Aomine agak kecewa. "senior apa?"

"senior kacamata!" Momoi menggunakan matanya membentuk kacamata. Aomine hanya menghela nafas. Orang itu lagi. Kenapa dia jadi kesal ya? lebih kesal dari pada dipaksa masuk Touou. Dia tidak suka orang itu bicara dengan Momoi. Tapi kenapa?

"ohh… yah, terserah kau saja!" Aomine kembali berbaring dan tidur.

"Aomine-kun! Itu kotorrr…" Momoi panik. Bukannya bangkit Aomine malah guling-guling dilapangan.

"AOMINEEEEE….!" Momoi stress. Author stress. Akashi stress #eh?

"…"

Aomine sekali lagi berusaha menendang benda didepannya, kali ini bangku taman. Gak mungkin keles. Karena itu, Aomine mengurungkan niatnya untuk menendang bangku dan malah duduk. Bagai pengangguran dan tunawisma, Aomine menyandarkan tubuhnya dan memandang ke langit.

"ah, sejak kapan aku suka mengenang masa lalu? Kayak pelajaran sejarah aja" ujar Aomine ngasal.

….

Sementara itu, 4 makhluk pelangi masih betah di kamar Aomine. Kise yang menemukan banyak harta karun nista milik Aomine segera membuang benda itu jauh-jauh dari muka bumi. Kuroko hanya diam sambil sesekali minum milkshake yang baru saja diantar dari pegawai Magi Burger. Murasakibara mencari makanan di kamar Aomine yang memang lumayan banyak.

"oi… apa itu namanya tidak sopan! Hentikan tingkah anarkis kalian, nanodayo!" Midorima mulai stress melihat Kise dan Murasakibara. Dia sendiri hanya diam sambil menonton Oha Asa dari tivi milik Aomine. Ye, sama aja keles. Semua sweatdrop berjamaah.

"tapi, apa kira-kira Aominechi bakal ketemu Momochi ya, ssu?" tanya Kise sambil sekali lagi buang majalah ke tong sampah. "dia kayak gak minat gitu, ssu!"

"dia pasti akan pergi" jawab Kuroko.

"uwahh.. Kurokochi sangat optimis sekali! Yah, emang kau yang paling dekat dengan Aominechi sih!" ujar Kise sambil mengangguk-angguk, Murasakibara ikutan angguk-angguk.

"tapi Kuroko, apa yang waktu itu tidak terlalu kejam, nanodayo?" tanya Midorima sambil mematikan tivi. Udah habis Oha Asa-nya.

"eh? Yang mana, ssu?" Kise kepo.

"waktu Momoi menyatakan perasaan pada Kuroko"

"…"

Sore itu adalah sore yang tenang bagi Kuroko dan Momoi, mereka berdua bertemu di mini market dan akhirnya pulang bersama.

"gak terasa ya, kita udah lulus SMA" ujar Momoi. Kuroko hanya mengangguk.

"ya, nanti Aomine-kun lanjut kuliah atau kerja?" tanya Kuroko. Momoi mengerutkan keningnya.

"kok nanya Aomine-kun sih? Kok gak nanya aku?" ia menggembungkan pipinya. Kuroko hanya tersenyum.

"yah, palingan Momoi-san satu kampus sama Aomine-kun" Kuroko menjawab sambil mengingat bahwa tidak pernah ada 1 kali pun Momoi dan Aomine berbeda sekolah.

"Moouuu… apa-apaan sih Tetsu-kun!" Momoi ngambek. "aku kuliah di London kok!"

"oh berarti Aomine ke London ya? jauh juga" Kuroko mengangguk sok mengerti. Momoi malah tambah kesal.

"…"

"tapi, Tetsu-kun" Momoi menunduk "ehm, Tetsu-kun salah paham. Itu…. Aku menyukai Tetsu-kun!" kata-kata Momoi tidak sedikit pun membuat Kuroko terkejut. Dia sudah tahu sejak Momoi mendapatkan stik es krim darinya. Karena itu Kuroko hanya tersenyum.

"ini benar, Tetsu-kun! Aku tidak mau kau terus mengejekku dengan Aomine-kun" pinta Momoi.

"sepertinya kau yang salah, Momoi-san" jawab Kuroko."lagipula aku juga sudah punya pacar, kan kau yang membantuku waktu itu?"

"salah bagaimana?" Momoi bingung. "aku membantumu karena… ituuu… ehmm…"

"kau bahkan jauh-jauh datang ke gym Seirin hanya karena Aomine marah padamu kan?"

"ituu.. itu karena aku dan dia teman… karena…" Momoi mulai bingung. Ada apa sih dengan pikirannya saat ini.

"kau tidak perlu membohongi perasaanmu, Momoi-san…" ujar Kuroko, ia lalu menatap wajah Momoi. "dan juga, lupakan saja aku. Kurasa kau hanya kagum saja atau apalah itu. Itu bukan cinta. Aku juga sudah punya pacar. Momoi-san mengerti kan?" Kuroko mengelus lembut kepala Momoi. Yang dielus hanya bisa diam.

"ya sudah. Ayo pulang… aku akan mengantarmu…" ujar Kuroko

"…"

3 makhluk pelangi mendengarkan dengan baik.

"eh apa kalian ingat ketika SMP, pas Momochi hilang di hutan ketika camp pelatihan dulu, ssu?" tanya Kise. Jiwa BiGos a.k.a Biang Gosip, terdeteksi.

"siapa yang tidak ingat, waktu itu Aomine seperti orang gila. Pergi sendiri tengah malam mencari Momoi. Gak pake senter, gak bawa hape (meski gak ada gunanya), gak bawa peta, nanodayo" jawab Midorima sambil memperbaiki posisi kacamatanya, clek.

"olala… yang waktu itu. Kasian Sacchin" ujar Murasakibara. 3 makhluk pelangi lain kaget. Ternyata si titan bisa mengingat juga! #plak

"…"

Malam itu begitu mencekam. Gelap, bulan tidak mau muncul. Suara angin, serigala, anjing, jangkrik, burung hantu dan kodok bersahutan, menimbulkan harmoni di tengah malam. Gelar konser! Sementara itu, tampak 2 mata berkeliaran ditengah hutan. Hanya 2 mata yang terlihat karena kulitnya juga gelap. Ia tampak panik.

"OIII… SATSUKIIII!" Teriaknya, menambah harmoni. "SATSUKIIII… KAU DIMANAAAA?"

"…"

"ah, dasar anak bodoh, dimana…" baru saja ia mau mengomel sampai terdengar sayup-sayup suara perempuan.

"Aomine-kun~~~" ia mendengarkan dengan baik. Jangan-jangan ia malah mendengar suara kuntilanak. Tunggu, sepertinya ia kenal!

"SATSUKI!" ia segera berlari mencari sumber suara.

"Satsuki?" Aomine menemukan Satsuki duduk sambil menangis dibawah pohon beringin. Ngeri to the max. Ia segera berlari menghampirinya. Ia menyentuh tubuh Momoi, dingin.

"Aomine-kun~~~" Momoi langsung memeluk Aomine sambil menangis. Aomine terkejut namun tidak bisa melepaskan pelukan Momoi.

"Satsuki, apa ada yang luka?" tanya Aomine.

"kakiku tersangkut…" ujar Momoi masih menangis, Aomine melihat kaki Satsuki berdarah karena tersangkut akar pohon. Ngeri juga.

"aaaa… tunggu tunggu ya. tunggu disini! Aku akan panggil yang lain!" Aomine segera berdiri. Namun terhenti karena Momoi segera menariknya.

"tidak mau… aku takut… pokoknya lepaskan aku dulu!" rengeknya. Aomine mulai bingung.

"ah… kalau begitu, aku akan menarik kakimu. Tahan ya!"

"..."

"dan akhirnya Aomine datang ke camp sambil menggendong Momoi yang berdarah-darah. Mengerikan sekali, ssu!" Kise mengakhiri ceritanya sambil melolong, persis serigala, auuuu…

"oi… apa Minechin sudah sampai ya?" tanya Murasakibara.

"entahlah… sudah 15 menit dan belum ada kabar!" ujar Kuroko sambil melihat hpnya.

"kita butuh bantuan, nanodayo!" ujar Midorima, ia segera mengambil hapenya.

"bantuan?" tanya 3 yang lain.

"hem… bantuan Akashi!" Midorima tersenyum licik.

….

Aomine masih saja santai dalam perjalanannya menuju bandara. Padahal dia kan tidak tsundere, kenapa dia malas pergi ya?

Tik tuk tik tuk

Telinga Aomine mendeteksi suara asing mendekat? Apa-apaan ini? Dengan perlahan ia berbalik. Tenang saja, hantu tidak datang siang-siang. Pikirnya. Dan…

"HUAA! AKASHI! APA YANG KAU LAKUKAN?" Aomine kaget to the max begitu melihat mantan kaptennya datang dengan kuda. Alay banget!

"Shintarou bilang kau malas-malasan untuk pergi. Aku rasa itu karena sudah lama kau tidak bertemu guntingku…" ujar Akashi sambil ngasah gunting. Aomine menelan ludah. Ngeri to the max!

"aaa… Akashi… berapa lama dari Kyoto..? ah sudahlah… tidak perlu, lagipula kurasa Satsuki sudah pergi…" ujar Aomine. Akashi melempar gunting pada Aomine, untung saja reflex Aomine dahsyat, jadi dia tidak mati.

"kau ini dari dulu memang bodoh! Cepat naik! Sebelum ku lempar lagi!" Akashi yang biasanya woles sekarang mencak-mencak.

"berapa banyak gunting yang kau bawa?" Aomine mengelus dadanya, hampir mati! "iya iya aku naik…" akhirnya Aomine naik juga.

"pegangan dengan kuat ya!" Akashi mewanti-wanti.

"pegangan dimanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…" Aomine berteriak sepanjang jalan, dibawa ngebut naik kuda sama Akashi.

"ta ta ta pi… aka aka… Akashi… kenapa kau mau… mau membantuku?" Aomine berusaha untuk bertanya.

"aku hanya tidak mau kau juga kehilangan…" jawab Akashi serius.

"kehilangan? Kau pernah?" dan pertanyaan Aomine tidak terjawab oleh Akashi. Akashi memang misterius, pikirnya. Tapi kalau dilihat-lihat Akashi memang dari dulu selalu memikirkan hubungannya dengan Momoi. Apalagi ketika festival ketika SMP dulu. Festival yang membuat Aomine malas pergi, namun karena dipaksa Momoi akhirnya ia pergi juga. Yah, meskipun setelah itu ia ditinggal pergi karena Momoi pergi dengan Kuroko.

"…"

Sudah larut malam, namun Aomine, Momoi, Akashi, Kuroko, Midorima, Kise dan Murasakibara belum juga pulang dari stand festival musim panas.

"ehm, sepertinya aku harus pulang…" ujar Momoi dengan raut wajah yang cemas.

"kenapa?" tanya Kuroko.

"ibuku bilang aku tidak boleh larut malam…" jawabnya. "jadi, Akashi-kun.. aku ijin pulang ya"

"Satsuki, berikan hapemu pada Daiki" ujar Akashi, yang lain heran, namun Momoi tetap mengikuti kata-kata Akashi. "Daiki, hubungi ibunya. Katakan kalau Satsuki ada bersamamu…" ujar Akashi lagi.

"kok aku?" Aomine heran. Ah, sudahlah. Laksanakan saja. Aomine segera menghubungi ibu Momoi.

"ehm.. Moshi-moshi… aku Daiki, Satsuki ada bersamaku…" Aomine berbicara dengan pelan. Harus sopan sama calon mertua #plak.

"…"

"ehm… iya… kami mungkin akan pulang 1 jam lagi. Bisa tidak?"

"…"

"ah… bukan hanya kami berdua, bibi. Tapi ada teman-teman dari Teikou juga!"

"…"

"ya! aku akan menjaganya, bibi. Terima kasih…" setelah itu Aomine segera memberikan hape Momoi kembali. Semua lega. Kise langsung mengeluarkan kembang api.

"kalau gitu ayo kita main, ssu! Kurokochi, Momochi! Ayo sini!" Kise memanggil Kuroko dan Momoi.

"aku juga mau, Kisechin!" Murasakibara berlari menuju Kise. Midorima dengan tsunderenya juga ikut dengan diam-diam. Ketika suasana begitu ramai diantara mereka, Aomine menuju Akashi.

"Akashi, kenapa kau menyuruhku untuk menelpon ibu Momoi?" tanya Aomine.

"karena ibu Satsuki sudah percaya padamu kan?" tanya Akashi balik.

"heh?" Aomine heran. Masa sih? "bagaimana bisa?"

"kebodohanmu ini sudah terlalu akut, Daiki. Kusarankan untuk terapi menjedukkan kepala ketembok setiap pagi dan malam!" ujar Akashi sambil asah gunting. Punya anak buah bego itu bikin esmosi.

"eh eh… hehehe… aku hanya tidak berfikir sampai situ…" Aomine menggaruk kepalanya.

"sudah dari kecil kalian bersahabat, tentu saja ibunya mempercayaimu. Lagi pula, semua siswa di Teiko juga mengira kalian berdua pacaran"

"NANI?"

"…"

Aomine tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Akashi memang hebat. Ia mengetahui banyak hal. Ingin rasanya Aomine tepuk-tangan, namun karena situasi dan kondisi tidak memungkinkan, akhirnya ia hanya bisa berteriak.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….AKASHIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII…. JANGAN MENEROBOS LAMPU MERAAAHHH… AKU MASIH MAU HIDUUUUUPPPPP….OOIIII AKASHIII ADA YANG MAU NYEBRANG TUUUHHH… HUAAAAAAA…. BELOKK KIRIIII…."

…..

Sementara itu, di bandara, Momoi dan Imayoshi belum juga masuk ke ruang tunggu. Momoi sudah getar-getir dari tadi. Dia terus bertanya, 'gimana kalau telat? Kalau pesawatnya udah jalan?' dll. Imayoshi hanya diam sambil makan nasi padang. Kalau Aomine belum datang juga dalam waktu 2 x 24 menit, maka Imayoshi akan langsung mengajak Momoi masuk. Kalau alasannya karena Imayoshi mau makan, bisa-bisa ia kegemukkan!

"Senpai… ayo cepatt…" Momoi mulai stress. Apalagi melihat Imayoshi makan nasi padang yang sudah kesepuluhkalinya! Senpai bisa sebesar Mukkun! Pikirnya.

"tenang saja, Momoi-san. Uhuk" Imayoshi tersedak cabe.

"Senpaiii!" Momoi segera mengambil air dan memberikannya kepada Imayoshi. Imayoshi segera meminumnya. Dasar Aomine bodoh. Umpatnya sambil minum. hati-hati tersedak, mas!

"Aomine memang bodoh, bisa-bisanya dia tidak datang untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal padamu…" ujar Imayoshi. Momoi terkejut.

"eh, maksudnya senpai?" Imayoshi keburu makan dengan cepat. Jangan sampai Momoi banyak tanya lagi.

"sudah, sudah… aku habiskan dulu makanan ini, setelah itu kita langsung ke ruang tunggu!"

"…"

Imayoshi baru saja habis menonton pertandingan adik kelasnya. Ia sendiri pulang ke Jepang untuk menghabiskan liburan kuliahnya. Ia kuliah di London sambil mengikuti club basket disana. Mana bisa permainan basket itu ia lupakan. Setelah selesai menyapa beberapa adik kelasnya, ia mendatangi Aomine yang sedang istirahat.

"kemampuanmu tidak berkurang sedikit pun…" ujarnya.

"heh, apa yang kau lakukan disini?" tanya Aomine heran.

"kau tidak pernah sopan pada senpai ya?" tanya Imayoshi lagi sambil duduk disamping Aomine. Ia melihat kearah Momoi yang sedang sibuk mengurusi anggota tim yang lain. "bagaimana hubunganmu dengan Momoi-san?"

"baik…" Aomine hanya menjawab sekenanya.

"apa aku boleh bertanya padamu?"

"hem…"

"apa kau menyukai Momoi-san?" pertanyaan Imayoshi membuat Aomine terkejut. Entahlah, dia tidak tahu harus menjawab apa.

"tidak. Kenapa?" akhirnya Aomine memilih untuk menjawab itu. Imayoshi hanya tersenyum sambil memperbaiki posisi kacamatanya.

"baguslah. aku menyukainya…" ujar Imayoshi. "kenapa kau tidak menyukainya? Bukankah dia baik kepadamu? Kalian sudah bersama sejak kecil kan?"

"aku tidak suka perempuan yang cerewet seperti dia…" jawab Aomine. Ah, tapi kenapa ia merasa tidak tenang setelah menjawab seperti itu?

"oh, begitu. Aku mengajaknya kuliah bersamaku. Katanya ia akan bertanya dulu padamu, kuharap kau memperbolehkannya ya? bagus baginya untuk kuliah disana. Dia juga pintar…" ujar Imayoshi lagi. Aomine hanya bisa terdiam. Meski begitu, Imayoshi tahu seperti apa perasaan mantan anggota 1 timnya itu, tapi ia hanya bisa tersenyum.

"…"

Imayoshi dan Momoi segera masuk ke ruang tunggu sampai terdengar suara asing.

KIIIITTTT… buak!

"Hosh hosh… Akashi… arigatou!" Aomine mendarat sempurna dengan punggung terlebih dahulu. Salahkan Akashi, sodara-sodara!

"kalau begitu, aku pergi. Awas kalau aku dengar berita buruk darimu!" Akashi minggat. Aomine sudah berjanji tidak akan naik kuda sepanjang hidupnya lagi!

"duh, ini bukan saatnya untuk berfikir…" Aomine segera bangkit dan berlari masuk ke bandara. "Satsuki!"

"Aomine-kun!" Momoi kaget melihat penampakan Aomine yang datang padanya. "ada apa?" pertanyaan Momoi membuat situasi diantara mereka menjadi canggung.

"ehm… itu…" Aomine mulai bingung harus mengatakan apa. "ehm, tapi, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih dan semangat untuk belajar ke sana. Aku kan tidak bisa menahanmu pergi…"

"eh?"

"aku hanya minta maaf sudah merepotkanmu selama ini. Teruss…"

"terus?"

"…"

"…" mereka berdua terdiam. Semakin lama waktu Aomine untuk berfikir, semakin cepat jantung Momoi berdetak. Apa sih sebenarnya yang ingin dikatakan Aomine?

"itu…"

"…"

"…"

"…"

"ARGGHH! Mentang-mentang mau ke London kau sudah tidak bisa berfikir, heh? Bagaimana kau tidak tahu?!" Aomine meledak. Momoi dan Imayoshi kaget. Momoi menggembungkan pipinya.

"Mouuu… kau itu yang bodoh! Mana aku tahu kalau kau tidak bilang!" Momoi balik marah.

"tapi, masa' kau tidak mengerti? Bahkan si kacamata itu juga tahu!" Aomine menunjuk Imayoshi.

"kenapa aku? Aku tidak ikut campur!" Imayoshi angkat tangan. Tidak baik jadi orang ketiga.

"Aomine-kun gak nyambung! Sebenarnya kau mau bilang apa?"

"pokoknya… arghh… kau ini bodoh sekali!" Aomine tidak sanggup mengatakan kata-kata bahwa ia menyukai Momoi. Itu terlalu memalukan. Bukan karena dia tsundere seperti Midorima.

"kau yang bodoh! Huh. Percuma aku mendengarmu! Ayo kita masuk, senpai!" Momoi berbalik badan.

"…"

"…" Aomine langsung menarik tangan Momoi dan membawanya ke dalam pelukannya.

"kebodohanmu ini membuatku jengkel!" ujar Aomine. "aku akan katakan sesuatu, dengar dengan baik karena aku hanya bilang sekali"

"…" Momoi yang kaget hanya terdiam menunggu kata-kata Aomine. Begitu Aomine berbisik padanya, Momoi mengembangkan senyum.

"Dai-chan! Kau ini memang bodoh ya!" Momoi melepaskan pelukan Aomine.

"oi, tidak perlu memanggilku dengan nama itu!" Aomine kesal. Meskipun didalam hatinya ia sangat senang.

"Momoi-san, ayo…" ujar Imayoshi pada Momoi. Dia hampir menangis melihat pasangan 'bodoh' sedang main drama.

"hem…" Momoi segera berbalik. Namun dia berhenti dan berbalik, sambil tersenyum ia berkata.

"DAI-CHAN! TUNGGU AKU YA! NANTI AKU KEMBALI! BELAJAR YANG BAIK!" Momoi melambaikan tangan. Imayoshi segera menariknya sebelum nama baiknya hancur. Aomine menepuk jidatnya pelan.

"anak bodoh…"

…..

Aku menyayangimu, karena itu jangan lupa untuk menghubungiku…

...

- THE END -

Jiahh… tamat sodara sodara! Yeay! Apa pendapat kalian tentang Aomine dan Momoi? Author senang banget sama kopel ini. Asli bikin gemes! Author paling suka bagian mereka kelahi di bandara. Hahaha

n.b : Kali ini author akan mengucapkan sepatah 2 patah kata. Author senang banget atas partisipasi para reader semua! Kya! Author juga akan selalu berusaha untuk membalas review, kecuali yang review tapi gak pake akun. Maaf ya, bukannya gak mau. Tapi author gak bisa… sumimasen… pokoknya arigatou. Ketemu lagi di cerita selanjutnya! Kalau ada. Hehehe…