A Song for Dean

Bahunya merinding mendengar permainan Castiel. Laki-laki dengan jas dan celana putih bersih itu memainkan piano dengan indah dan alunan yang pas di telinga seluruh audience di ruangan ini. Diam-diam, Dean mengagumi bagaimana jemari Castiel menekan tuts piano. Mimik wajah dengan mata biru terang itu menatap serius kertas putih di atas piano hitam mengkilap. Kemudian Dean menyungging senyum. Bangga, kagum, dan... senang.

"mengagumkan," puji Dean sambil menepuk bahu Castiel saat laki-laki itu menuruni panggung. Jauh sebelumnya, Castiel diminta untuk tampil di konser taman kota yang diselenggarakan oleh Universitas Juilliard. Dan hari ini, laki-laki dengan mata biru terang itu diuji oleh salah satu pelatih profesional dari luar. Dipertimbangkan apakah permainannya cukup bagus untuk ditampilkan, atau tidak.

"aku...tidak merasa seperti itu," kata Castiel menunduk, dan menyesal.

"kenapa?"

"tadi ada beberapa nada yang salah, dan aku... entahlah," kata Castiel bingung menjelaskannya.

Dean berusaha menenangkan Castiel, "aku yakin kau bisa tampil di konser itu, Cass."

"tapi.. aku gugup, Dean. Ada banyak orang penting yang akan menghadiri konser itu. Produser rekaman, para musisi, dan banyak alumnni Juilliard yang akan hadir."

"santai, Cass. Kalau kau gugup, semuanya malah akan tambah rusak. Ingatlah Cass, selama ini kau belajar di Juilliard karena ingin menggapai cita-citamu sebagai pianis terkenal, iya kan? Inilah kesempatanmu. Ini peluangmu," jelas Dean.

Dalam hati, Castiel membenarkan ucapan Dean. Meski dilain sisi, dia juga bimbang akan hal itu. Namun untuk saat ini, biarlah semua mengalir dengan sendirinya. Kepalanya menunduk dan melihat langkah kakinya yang kini berada di samping kaki Dean. Tidak terasa, dua minggu setelah pertemuannya dengan Dean, kini mereka berdua bagai sahabat tak terpisahkan. Bagai tumbuhan tanpa batang. Jika mereka tidak bersama, seperti ada yang kurang. Setidaknya itulah perasaan Castiel tentang Dean Winchester.


Castiel melemparkan ranselnya begitu saja di atas sofa. Duduk diam di sebuah rumah dimana hanya ia yang ada dalam rumah itu. Memejamkan mata dan mengingat-ingat lagi betapa gugupnya dia saat di panggung tadi. Kemudian memori itu terus beputar hingga muncullah adegan saat Dean menatap Castiel dengan sorot mata kagum. Seketika jantungnya berdegup lebih cepat.

Ia membuka matanya, tidak.. tidak.. kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?


"Dean, kau pulang?" tanya Sam ketika telinganya mendengar pintu rumah terbuka.

"ya. Ini aku, Sammy," sahut Dean lemah dan kemudian merebahkan diri di tempat tidur Sam dekat dengan adiknya yang kini berkutat dengan laptop.

"kenapa kau?" tanya Sam tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan.

"aku tidak apa-apa."

"tidak mungkin."

"kenapa?" kini malah Dean yang heran dengan tingkah Sam yang sok tau itu.

"terakhir kau tiduran di tempat tidurku, kau sedang bertengkar dengan pacarmu yang entah siapa namanya dan dimana rumahnya. Jadi sekarang, kau bertengkar dengan cewek yang mana lagi?" tanya Sam santai dan sudah terbiasa dengan kelakuan Dean yang sering gonta-ganti cewek.

"bukan, bukan cewek."

"lalu? Cowok?"

Pertanyaan Sam itu membuat jantung Dean seakan berhenti berdegup. Ya, cowok. Castiel. Dia sedang memikirkan Castiel saat ini. Tapi entah kenapa, semenjak ia bertemu dengan Castiel pada hari pertama hingga saat ini, cowok itu mampu mengalihkan Dean yang awalnya selalu mempunyai cewek, kini tidak sedikitpun melirik cewek. Perkembangan yang... bagus. Atau bahkan mungkin... aneh?

"jadi kau sekarang gay?" tanya Sam cuek.

Dean kontan kaget. Saraf Sam sepertinya sudah terkena virus gila dari laptop baru itu hingga seenak jidatnya menuduh Dean seorang gay, "entahlah."

Sam menoleh ke arah kakaknya itu dengan tatapan kaget, heran, ragu, dan campur aduk. Apakah Dean benar-benar gay? Ia menelan ludah. Berharap semoga Dean jangan sampai naksir dia.


Castiel masih memegang bulpoin dan berkutat dengan kertas yang kini penuh coretan itu meski jam dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Matanya tak sedikitpun berpaling. Bibirnya sedikit banyak melafalkan kalimat-kalimat yang tertera di kertas itu. Mengalunkan nada-nada nya dengan menekan tuts piano. Bahkan terkadang tanpa sengaja ia melamun hanya karena terlalu mendalami makna yang tersirat.

"selesai!" seru Castiel dengan semburat senyum bangga saat yang dianggapnya sebagai pekerjaan penting itu sudah selesai. Kemudian ia mulai menggeser tempat duduknya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memainkan piano. Ya, dia membuat sebuah lagu. Lagu yang ditulis oleh dirinya sendiri, dan dipersembahkan untuk seseorang.

When I first saw you...

I just knew that you'd different...

The most shining...

With couple of hazzle eyes...

Smile on your lips...

Laugh and caring...

Just made me aware...

You're the one and only...

Liriknya begitu menyentuh hati Castiel. Begitu nyata dirasakannya, "aku akan menyanyikannya saat konser di taman kota nanti, Dean. Kuharap kau tau lagu ini untukmu."

TO BE CONTINUED...


Jadi, apakah Dean seorang gay beneran? Atau mungkin bahkan Castiel? Lihat di chapter berikutnya ya... Hehehe.. Untuk chapter ini, review dulu please.. Thanks^^