Sick
Castiel terpilih. Pelatih yang kemarin menguji Castiel, ternyata suka dengan permainan sahabat Dean itu bahkan tergila-gila. Dua hal itu adalah kabar paling menggembirakan yang diterima Dean hari ini. Membuatnya terus tersenyum karena bangga sepanjang jalan menuju aula. Setelah ini, sepulang kuliah, ia akan mampir dulu ke aula tempat Castiel berlatih. Memberi semangat untuk sahabatnya yang sejak pagi tadi sudah absen dari kuliah. Pasalnya konser itu kurang dua bulan lagi.
"Cass!" bisik Dean dari kejauhan dengan melambaikan tangan pada Castiel yang kini sedang memainkan piano.
Piano itu berhenti, Castiel melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Dean. Karena tau Castiel kelelahan, si pelatih mengizinkan muridnya itu untuk istirahat sebentar. Dean duduk di salah satu kursi disana dan kemudian tertawa saat Castiel menghampirinya, "bagaimana?"
"ya, susah-susah gampang," sahut Castiel dan duduk di samping Dean, "bagaimana denganmu?"
"bagaimana denganku?" Dean malah bertanya balik, pasalnya dia bingung.
"ya, bagaimana denganmu?"
"aku... tidak.. maksudnya?"
"apakah kau berhasil melewati jam kuliah sendiri tanpa ada aku?" Castiel menoleh dan tersenyum nakal ke arah Dean.
Dean tertawa dan mengangkat bahu. Ia tidak menjawab karena menurutnya pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Karena Castiel pasti sudah tau jawabannya. Jika salah satu dari mereka melewati jam kuliah tanpa satu yang lain, pasti akan terasa berat melakukannya. Rasanya itu sudah seperti hukum alam untuk Castiel dan Dean.
Di tempat berbeda...
Sam membuka pintu rumah setelah pulang dari kampus. Ia membawa sebungkus makanan untuk nanti malam dimakannya bersama Dean. Ia meletakkan makanan itu diatas meja, dan kemudian merebahkan diri di kasur kesayangannya. Masih bisa merasakan aroma tubuh Dean yang semalam tidur disini. Ia perlahan merasakan kehangatan tubuh Dean yang selama ini selalu melindunginya.
Sedetik kemudian, ia merasa bersalah karena sampai saat ini, masih menyimpan sebuah rahasia yang tidak akan diberitahukannya pada Dean. Karena jika kakaknya itu tau, Dean sudah pasti akan kelabakan dan tidak fokus pada kuliahnya lagi. Jadi daripada seperti itu, lebih baik Dean tidak tau, dan membiarkan semua mengalir dengan sendirinya. Dan...
"AAAHHHH...!" Sam menjerit sejadi-jadinya.
Meski telah berkali-kali melihat Castiel memainkan piano, Dean masih tetap saja kagum. Ia membuang napas lega karena Castiel tidak gugup lagi. Ponselnya berbunyi, "halo?" jawab Dean.
"halo, apa ini benar Tuan Dean Winschester?" suara seorang wanit di seberang.
"ya, kanapa?" Dean heran.
"kami sedang merawat pasien bernama Sam Winchester, dan..." belum sempat wanita itu melanjutkan, Dean memotong.
"ada apa dengan Sammy? Di rumah sakit mana?"
Sam Winchester yang kini terkulai lemah di atas tempat tidur milik rumah sakit, masih memaki tetangga mereka yang membawanya kesini. Sam berteriak karena perutnya yang melilit, itu sudah biasa. Tapi memang entah kenapa, yang kali ini lebih sakit daripada biasanya. Lantas tetangga yang mendengar langsung membawa Sam kesini. Sam sudah menolak, tapi orang itu sangat memaksa. Apalagi dia menyuruh pihak rumah sakit untuk menelpon Dean...
Sam sungguh tidak tau harus bilang apa dengan Dean. Dia tidak sanggup melihat kakaknya kelabakan.
Castiel duduk di kursi penumpang depan di samping Dean, dan sesekali melihat bagaimana sahabatnya itu sangat khawatir dengan keadaan adiknya. Tadi setelah Dean menerima telpon itu, Castiel memutuskan untuk ikut dengan Dean ke rumah sakit. Kini matanya tak lepas dari sosok jakung di sebelahnya. Mengambil alih kemudi dengan hati dilingkupi kegelisahan, tidak enak dipandang. Castiel menundukkan kepalanya perlahan...
Dean, jika saat ini aku lah yang berada di posisi Sam, akankah kau sekhawatir ini?
Tak lama kemudian, mereka sudah memasuki rumah sakit dengan langkah kaki tergesa-gesa. Tangan Dean mengepal kuat. Mungkin karena laki-laki itu teramat-sangat khawatir saat ini. Castiel juga berjalan di belakang Dean dengan jas hujan coklatnya yang sedikit banyak terbang karena hembusan angin.
"Sammy," panggil Dean bersamaan dengan tangannya membuka pintu kamar tempat Sam dirawat.
Castiel melihat sosok jakung yang lebih tinggi dari dirinya dan Dean sedang tiduran dan kaget saat melihat Dean masuk. Inikah adikmu? Sam? Castiel hanya tersenyum saat Sam melihat ke arahnya dengan tatapan heran, "aku Castiel, teman Dean." Sahutnya saat mengerti arti yang tersirat dari tatapan Sam.
"ada apa denganmu?" tanya Dean langsung menyembur ke samping Sam. Castiel menutup pintu dan berdiri di samping Dean.
Namun tak lama kemudian, seorang suster masuk. Kaget sebentar saat melihat Castiel dan Dean sudah berdiri disana, "Tuan Dean Winchester?"
"ya?" sahut Dean.
"bisa ikut saya? Dokter ingin bicara dengan anda."
Dean lantas pergi dari ruangan itu meninggalkan Castiel dan Sam berduaan. Castiel tidak tau harus bicara apa, lantas dia hanya berkata, "kau Sam? Dean sering membicarakan tentangmu."
Dean duduk di sebuah ruangan dengan meja lumayan besar di tengahnya. Dan di belakang meja itu, duduk seorang dokter wanita dengan menyungging senyum ketika Dean masuk, "selama sore, Tuan Dean Winchester."
"Dean," ralat Dean yang lebih nyaman dipanggil tanpa 'Tuan'.
"Dean," sahut dokter, "tentang Samuel."
"ada apa dengan adik saya?"
Dokter itu membuang napas kecewa dan diam dalam beberapa saat, "maaf sebelumnya, kami mendeteksi bahwa Samuel mengalami gagal ginjal kronik..."
Dean merasakan jantungnya berhenti seketika.
"stadium tiga."
TBC..
Maaf buat penggemarnya Sammy.. *peace* Review nya dong, biar saya bisa mengoreksi cerita saya yang gaya menulisnya rada aneh ini... Wkwkwk... Review ya, review ya, makasih :)
