Disclaimer : I don't own Dean, Castiel, and everything about Supernatural.
GIRLFRIEND
Sam menyadari tingkah Dean dan gerutu kakaknya itu yang sejak tiga hari lalu, sudah tidak seperti biasanya. Dean dulu menggerutu hanya sebagai candaan. Namun kali ini, sosok Dean sudah berubah menjadi serius dan tak ada lagi gerutu candaan.
"minum obat itu, Sammy.." Dean menggerutu lemah.
"tidak," elak Sam sambil menatap Dean yang kini dibawah matanya sudah terlihat bayangan hitam menandakan cowok itu kurang tidur.
"Sammy..."
Sam hanya bergeming.
"please, oke. Aku sedang banyak masalah. Aku sedang pusing. Jangan kau buat aku lebih pusing lagi hanya karena tidak mau minum obat itu!" amarah Dean muncul.
"tidak, Dean. Aku benci obat itu."
"SAMMY!" bentak Dean yang kontan membuat Sam terlonjak. Dean hanya memandang rupa adiknya sambil menggeleng kepala tidak percaya dan berdecak. Kemudian ia berjalan keluar dengan tergesa-gesa meninggalkan Sam yang masih tegang.
"Dean..."
Castiel memainkan piano dengan membawa lagu ciptaannya sendiri. Lagu yang beberapa hari lalu sudah di revisi nya sehingga ia sudah memutuskan kata "Final". Sesekali matanya melirik Anna yang duduk dan memandangnya dengan senyum kebanggaan. Tempat itu, sebelumnya, adalah tempat Dean saat menemani Castiel latihan. Tapi semenjak pertemuan Castiel dengan Anna tiga hari lalu, gadis itu mampu merebut tempat duduk Dean begitu saja.
"AMAZINGGG...!" teriak Anna begitu Castiel menyelesaikan permainannya.
Sang pelatih juga ikut senang dengan perkembangan yang di dapat oleh Castiel. Susunan nada yang dimainkan sempurna, dengan suara indah Castiel yang mampu membisu seluruh audience di dalam ruangan. Castiel memasang senyum simpul. Ini artinya dia sudah siap untuk mempersembakan lagu ciptaannya untuk Dean.
Konser kurang sebulan seminggu lagi. Dean keluar dari area Universitas nya. Hari-hari terakhir semenjak dirinya tau Castiel punya seorang gadis bernama Anna dari kabar angin (maklum Castiel termasuk salah satu mahasiswa populer yang banyak jadi incaran para mahasiswi), membuat Dean kemudian menjaga jarak dengan Castiel. Di dalam kelas saat jam kuliah mereka sama, Dean tak sedikitpun menoleh, apalagi menyapa. Ia duduk di bangku depan dan membiarkan Castiel tetap duduk di bangku miliknya. Di belakang.
"Dean!" seseorang memanggil.
Dean tau siapa yang memanggilnya. Ia tanda dengan suara itu. Tapi ia tak memperlambat langkahnya, malah mempercepat dan pura-pura tidak mendengar suara itu. Hingga kemudian ia memasuki sebuah gang kecil sepi mahasiswa dan mahasiswi. Malah tak ada seorangpun disana, selain Dean dan orang yang memanggilnya.
"Dean!"
"Dean..!"
Dean tidak sabar dan segera menoleh. Dilihatnya Castiel sedang tersenyum di tengah napasnya yang tersengal-sengal mengejar Dean. Mata biru indah itu dalam sedetik mampu membuat Dean terpesona.
"hey, Dean.. aku ikut denganmu," kata Castiel.
"kemana?"
Castiel mengerutkan alis, "kau ke rumah sakit kan? Aku ikut."
Dean membulatkan matanya dan berbalik melanjutkan jalannya.
Castiel mengejar dari belakang, "kau marah padaku?"
Dean diam.
"hey, kau marah padaku?" ulang Castiel.
Dean tetap diam.
"Dean!" Castiel mendorong pergelangan tangan Dean hingga cowok itu terlempar dan bersandar di dinding, "kau marah padaku?"
Dean memberanikan diri menatap mata Castiel, "lantas kau peduli?"
"please, Dean. Aku minta maaf apapun salahku," kata Castiel tulus dan lembut.
Dean tersenyum masam dan terkesan mengejek Castiel. Sedetik kemudian... BUG! Castiel jatuh di tanah karena pukulan mendadak dari Dean tadi yang tepat kena rahangnya. Dean berjalan menghampiri Castiel dan menarik kerah bajunya, BUG! BUG! BUG! BUG! Castiel merasakan dirinya tak bisa bergerak lagi. Empat pukulan dari Dean mampu membuatnya bungkam.
"kau tau apa salahmu!" geram Dean masih dengan mencengkeram erat kerah baju Castiel. Yang ditanya hanya menggeleng kepala, "selamat karena kau punya pacar baru."
Castiel ternganga sesaat, "siapa? Anna?"
Dean benci mendengar nama itu.
"dia bukan pacarku, Dean. Dia bukan siapa-siapa, aku baru mengenalnya," lanjut Castiel.
Dean menggeram, "BULLSHIT!" sambil melayangkan pukulannya.. BUG!
Castiel merasakan tubuhnya terlempar dan terhempas jatuh. Bibirnya berdarah-darah hingga membekas di jas coklatnya. Kepalanya pusing dan tak sanggup bergerak barang sedikit lagi. Yang ia lakukan hanya pasrah dan membiarkan matanya terpejam.
Dean hanya melihat dengan mata berkaca-kaca.
"Castiel..." bisik gadis itu tepat saat Castiel membuka matanya. Yang pertama kali oleh Castiel adalah seorang gadis cantik dengan rambut merah dan tersenyum kepadanya, "syukurlah kau sudah sadar.."
Dirinya baru menyadari bahwa ini bukan rumahnya, "aku ada dimana?"
Anna dengan sedikit rasa bersalah, "maaf. Tadi kubawa kau ke rumahku dulu yang dekat dengan kampus. Aku takut kau kenapa-kenapa."
Castiel mengangguk,
"boleh kutanya, kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Anna.
Castiel menggigit bibirnya, "aku lupa." Disahuti dengan anggukan Anna. Dirinya kemudian memutuskan untuk istirahat dan berusaha melupakan semuanya. Rasa sakit di tubuhnya sudah tidak separah tadi saat Dean melakukannya, tapi rasa sakit di hatinya lah yang makin parah seiring dengan jarum jam berdetik. Mengapa Dean sebenci ini padanya? Ia kemudian memegang dadanya. Sesak menyerang paru-parunya! Arrggghh!
Keesokan harinya...
"hey Castiel!"
Castiel menoleh ke belakang dan menemukan sosok Gabriel, teman sekelasnya, yang berlari menghampirinya.
"kemarin kau kenapa?"
"kenapa?" Castiel bertanya balik keheranan.
Gabriel berdecak, "kenapa kau kemarin babak belur dan berdarah-darah seperti itu?"
"kau tau?"
"yaiyalah!" Gabriel memabanggakan diri.
"siapa saja yang tau?"
Gabriel mengetukkan jemarinya di bibir, "hanya aku, Anna, kau, dan... Dean."
"Dean?" Castiel sedikit heran, "ngomong-ngomong darimana kau tau aku babak belur?"
"hei, berterima kasihlah padaku! Yang membawamu pada Anna itu aku! Ya meskipun aku disuruh oleh Dean."
Castiel menoleh cepat, "Dean?"
"ya. Dean yang pertama menemukanmu dan kemudian menyuruhku untuk membawa ke Anna. Dan kemudian Anna membawamu ke rumahnya," terang Gabriel, "oh ya, ambil ini," lanjutnya seraya memberikan sebuah amplop putih ke tangan Castiel.
Castiel kaget, "apa ini?"
"sudah, kau akan tau sendiri nanti." Gabriel terdiam sebentar, "hey, kau tau kabar terbaru tentang Dean?" tanya Gabriel membuyarkan lamunan Castiel. Yang ditanya hanya menggeleng, "Dean berencana untuk berhenti kuliah."
TBC...
Maaf ya buat penggemarnya Gabriel.. Disini Gabriel kesannya kayak tukang ngerumpi gitu yaa.. Huhuhu... Review ya... Please.. Thanks^^~
