UPPERDREAM
Tidak boleh, tidak boleh. Dean tidak boleh berhenti kuliah. Castiel mempercepat langkahnya menuju rumah sakit tempat Sam dirawat, dan salah satu tempat dimana ia bisa menemukan Dean. Sahabatnya itu berhenti kuliah? Lantas bagaimana dengan mimpi-mimpi Dean? Dean yang dulu pernah berkata pada Castiel bahwa dirinya ingin menjadi musisi terkenal, gitaris yang hebat, dan seorang penulis lagu. Lantas, kenapa Dean berhenti saat dia sudah separuh jalan? Tidak, Castiel tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Castiel ingin Dean menjadi apa yang diinginkan.
"Dean," panggil Castiel pelan setelah membuka pintu kamar rawat Sam dan ketika ia menemukan sosok Dean duduk di salah satu sofa dengan mata terpejam.
Yang dipanggil maupun Sam, tampak kaget. Dean berdiri dari sofa dan kemudian tegang menatap Castiel, "Cass."
"aku tidak mau kau melakukan ini, Dean," tegur Castiel to the point.
"aku... aku tidak mengerti, apa maksudmu?" Dean terpatah-patah menjawabnya sambil sesekali melirik Sam yang kebingungan.
Castiel tau bahwa Dean tidak memberitau Sam, "kau akan berhenti kuliah, iya kan?"
"hah! Tidak!" Dean menolak.
Castiel melempar pandangan memaksa ke arah Dean. Sedangkan Sam pun kaget setengah mati dan ikut menimbrung, "jawab, Dean, kau akan berhenti kuliah?"
Dean gelagapan.
"Dean!" sentak Sam.
"oke oke!" Dean hilang kesabaran, "masih rencana, oke?"
Sam ternganga tidak percaya, "kenapa, Dean?"
"aku capek, Sammy. Aku lelah dengan semuanya. Aku hanya ingin disini bersamamu dan menjagamu..."
"hingga akhirnya aku mati?" Sam melanjutkan dengan perasaan sakit.
Dean terdiam. Castiel pun diam karena ia tak mau dianggap mengganggu urusan kakak-beradik ini. Biarkan Sam yang menasehati Dean.
"tidak begini caranya, Dean," Sam memelas, "satu-satunya hal yang kuinginkan sebelum aku mati adalah melihatmu bahagia. Melihat mu sukses dengan segala mimpi itu!"
"tapi.."
"Dean," Sam mulai melembut, "anggap ini pesan kematianku, oke. Aku ingin kau melanjutkan kuliah dan jangan pernah putus asa lagi seperti ini."
Dean menunduk dan meremas rambutnya dengan kedua tangan.
"Dean..."
"oke, Sammy, oke."
"berjanjilah padaku, Dean.." Sam benar-benar ingin memeluk kakaknya. Namun dalam keadaan berbaring seperti ini, ia tau ia tak sanggup.
"ya Sammy, aku janji," Dean merasakan matanya berkaca-kaca. Dan sekilas menoleh ke arah Castiel yang menatap ke arahnya dengan senyuman "Thanks, Dean..."
Castiel tersenyum saat Sam menceritakan masa kecilnya bersama Dean. Setelah tadi Dean berjanji, cowok itu pergi beralasan untuk membeli minuman. Jadilan Castiel yang menunggu Sam disini sambil bercerita satu sama lain.
Sam masih dengan sisa tawanya berkata, "Castiel, aku ke kamar mandi sebentar."
Castiel mengangguk, "perlu kuantar?"
Sam tertawa, "tidak, tidak usah. Aku takut kau mengintip."
Castiel tertawa kecil memaki pertanyaan bodohnya tadi.
"tapi, sungguh, aku bisa melakukannya sendiri kok." Kemudian Sam berjalan menuju ke kamar mandi meninggalkan Castiel duduk sendirian di sofa.
Castiel baru menyadari bahwa di sebelahnya, di sofa itu, ada tas Dean yang terletak disana begitu saja. Iseng. Castiel mengambil tas itu dan membukanya. Tangan kanannya mengubek-ubek isi tas itu. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kaset dan ada selembar kertas tersolasi di atas kaset itu. Castiel bertanya-tanya kaset apa itu. Namun keburu ada tanda-tanda Sam akan keluar dari kamar, Castiel cepat-cepat memasukkan kaset itu ke jas hujan coklatnya.
Dean kembali setelah Castiel memutuskan untuk pulang. Ia kemudian duduk di sofa kamar rawat Sam dan menyobek selembar kertas dari bukunya. Mengambil gitarnya. Dan mulai mengarang sebuah lagu. Dengan inspirasi dari seorang sahabatnya.
Castiel cepat-cepat masuk ke rumah dan memasukkan kaset itu di pemutar kaset miliknya. Ceklik! Satu detik kemudian mulai terdengar sayup-sayup suara seorang laki-laki sedang bernyanyi sambil diiringi bunyi gitar. Meskipun tidak ada gambarnya, Castiel tau suara itu. Itu suara Dean! Sedang menyanyikan sebuah lagu yang bisa jadi adalah karangannya sendiri. Castiel kemudian cepat-cepat membuka kertas yang tersolasi diatasnya. Ya, benar. Kertas itu berisi lirik lagu yang dinyanyikan oleh Dean lengkap dengan coratan kunci-kunci gitarnya. Castiel membaca reff lirik lagu itu..
Just don't go, don't go...
I'm begging you please don't go...
You know I'm waiting you here,
As long as I can breathe..
Now, I can't...
I can't do anymore...
Then just please don't go.. Oh, baby...
Oh, baby...
Baby...
You know, How much I love you..
Castiel tertegun. Lagu ini bagus... Sangat bagus jika dibandingkan lagu buatannya... Tiba-tiba ia teringat amplop yang kemarin diberikan oleh Gabriel. Ia cepat-cepat mengambil amplop yang belum di bukanya sama sekali itu dari tas nya. Kemudian merobek lem nya.
OH MY GOD!
Ie kemudian tersenyum. Amplop ini menyelamatkan dirinya, lebih tepatnya menyelamatkan Dean. Castiel jadi tau apa yang harus dilakukannya terhadap kaset dan lirik lagu milik Dean itu. Ia meletakkan amplop itu diatas pemutar kaset di samping kaset Dean. Kemudian ia tidur di sofa dengan senyum mengembang di bibirnya. Meski dalam posisi senang seperti ini pun, ia masih bisa meraskan sesak di dadanya yang tak pernah kenal waktu membuatnya gerah.
Kop surat di lembar kertas putih dalam amplop itu bertuliskan, "UPPERDREAM". Sebuah perusahaan rekaman terkenal.
TBC...
Gimanaaa? Bagus ndak sih? *sigh*
Oh ya, semua yang ada di cerita ini cuma fiksi yah.. Termasuk lagu dan "UPPERDREAM".. Hehe..
So, feel free to review ya... I'm waiting... u,u thanks^^
