To Dean, From Mr. Singer
Castiel melangkahkan kakinya dengan pasti saat memasuki sebuah gedung megah milik perusahaan rekaman "UPPERDREAM" yang kemarin baru ia tau alamatnya dari amplop putih itu. Mata dan hatinya sama-sama mengagumi segala bentul seni arsitektur yang tersirat dari bangunan putih mewah ini.
"ingin bertemu siapa, Tuan?" tanya seorang wanita yang berdiri di belakang maja membuyarkan lamunan Castiel.
"hmm?" Castiel bingung. Sebelumnya ia tidak pernah masuk ke perusahaan rekaman elite seperti ini. Ia hanya pernah satu kali iseng-iseng mengajukan lagunya di perusahaan rekaman kecil-kecilan, meski tidak di terima. Lantas, ia mendekati wanita tadi, "hmm.. saya punya lagu ciptaan sendiri. Jadi, bagaimana ya istilahnya? Hmm.. ya, mengajukan lagu begitulah," bisiknya.
Wanita itu setengah tertawa dengan bahasa Castiel yang polos, "oh.. silahkan langsung saja bertemu dengan produser rekaman disana," sambil menunjukkan sebuah ruangan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Castiel berjalan ke ruangan itu setelah sebelumnya ia berterimakasih pada wanita tadi. Ia mengetuk pintu dan kemudian masuk setelah dipersilahkan oleh seorang laki-laki di dalamnya. Laki-laki sekitar 40-50'an yang duduk di belakang meja besar mewah dengan papan nama diatas mejanya, "Mr. BOBBY SINGER." Dan di bawahnya tertulis, "Recording Producer."
Mr. Singer itu mengerutkan alisnya, "duduklah."
Castiel menurutinya, "hmm.. permisi, Sir.."
"kau pasti mahasiswa Juilliard bernama Castiel itu kan?" tanya Mr. Singer.
Castiel kaget, "bagaimana anda tahu?"
Mr. Singer tertawa, "haha.. aku pernah sekali kesana saat kau sedang berlatih piano. Aku melihatmu dan yah... aku memutuskan untuk menyampaikan surat tawaran rekaman. Meskipun hanya kutitipkan pada temanmu."
Gabriel, bisik Castiel dalam hati. Ya, isi amplop itu merupakan tawaran untuk Castiel. Tapi entah mengapa minatnya berkurang karena yang ia pikirkan saat ini adalah Dean.
"jadi.. kau ingin kerja sama merekam lagu ciptaanmu?"
"oh, bukan Sir," sangkal Castiel sesopan mungkin. Ia berdehem, "jadi, ini lagu milik teman saya," katanya sambil meletakkan kaset yang sudah dibungkus dengan amplop coklat, "ini masih bentuk kasarnya. Jadi dia menyanyikan lagunya sambil memainkan gitar. Di dalamnya juga ada chord gitar coret-coretannya."
Mr. Singer menyerngit, "kenapa kau yang memberikannya kepadaku, bukan dia saja?"
"dia.. pemalu, Sir. Dia sudah lama merekam lagu miliknya ini tapi belum berani mengirimkan rekaman ini. Jadi saya yang mengirimkannya tanpa sepengetahuan teman saya," ujar Castiel jujur.
Diam-diam, Mr. Singer mengagumi sifat Castiel yang satu ini, "oke, nanti akan dipertimbangkan. Tapi sungguh Castiel, perusahaan kami benar-benar tertarik dengan bagaimana jemarimu memainkan piano itu. Kuharap, kau mau bekerja sama dengan kami untuk lagumu itu."
Castiel mengangguk, "tentu, Sir. Sebuah penghormatan atas tawaran itu. Tapi saya masih bimbang untuk hal itu. Suatu saat kalau saya sudah siap, saya akan datang kemari."
"datanglah, nak. Kau diterima disini dengan pintu terbuka lebar. Aku sangat tertarik dengan bakatmu."
"terimakasih, Sir," Castiel benar-benar ingin terbang dipuji seperti ini.
Mr. Singer mengambil amplop coklat yang diserahkan Castiel dan mulai membuakanya. Disana tercantum sebuah nama, "Dean Winchester?"
Castiel mengangguk dengan senyum tersungging di bibirnya.
Dean kelabakan mondar-mandir dari rumah sakit, ke kampusnya, ke rumahnya, dan kemudian ke rumah sakit lagi. Gerak-geriknya terlihat khawatir. Tidak bisa duduk diam seperti biasanya, membuat Sam juga menyerngit keheranan, "Dean, bisakah kau berhenti mondar-mandir seperti itu? Aku pusing melihatnya."
Yang dipanggil menoleh, "ya? Oke." Kemudian dia duduk di sofa. Namun tetap saja, kakinya tetap bergerak-gerak. Posisi duduknya berubah-ubah tiap lima detik.
"Dean, ada apa denganmu?" Sam sudah tidak tahan menanyakan hal ini.
"ya, Sammy? Ada apa denganku? Aku tidak apa-apa," Dean terlihat bodoh dengan kalimatnya.
Sam menggeleng, "ada apa, Dean?"
"sesuatu hilang, Sammy."
"sesuatu apa?" tanya Sam.
"ya...sesuatu, pokoknya," Dean tidak akan memberitahukan barang rahasia itu, "kau tau dimana?"
"bagaimana aku bisa tau dimana letaknya kalau aku saja tidak tau bentuk barangnya," elak Sam.
Dean memaki dirinya sendiri, "benar juga." Sam membulatkan matanya. Bosan mengahadapi tingkah Dean yang bodoh seperti ini.
Tiga hari kemudian...
Latihan piano. Konser itu sudah di depan mata. Tinggal dua minggu lagi. Dan Castiel sendiri, merasa gugup menghadapinya. Di ruangan ini, hanya ada dia dan pianonya. Sepi. Anna belum datang, pelatih tidak datang karena sakit, Dean juga tidak mungkin datang. Kemudian ia menggerutu saat merasakan sesak di paru-parunya, "sial. Kenapa harus di waktu yang tidak tepat seperti ini..!"
"Castiel...!" panggil suara nyaring.
Castiel menoleh dan melihat Anna sudah berlari mengahampirinya dengan senyuman manis. Gadis itu langsung duduk di sampingnya, "hai," sapa Castiel berusaha menutupi rasa sakit di dadanya dari Anna.
Tapi Anna tahu, "ada apa denganmu?"
Castiel tersenyum, "tidak ada apa-apa."
Alis Anna terangkat, "tidak seperti biasanya. Kau terlihat... sakit."
"tidak, hehe.. Mungkin kecapekan," kata Castiel ringan.
"oh.. makanya banyak istirahat.. Aku berani bertaruh, kau pasti belum makan?"
Castiel menyeringai, "hehe.."
"ayo kita cari makan," ajak Anna sambil menarik tangan Castiel.
Castiel hanya ikut saja berdiri sambil menahan sakitnya. Dan... braakkk! Castiel jatuh terduruk dengan tangannya memegang dada.
"Castiel!" jerit Anna kaget.
Di tengah-tengah sakitnya Castiel masih sempat berkata, "jangan cerita pada siapapun, Anna."
Anna hanya tegang memegang tubuh Castiel.
"berjanjilah, Anna!"
"aku janji, Castiel," Anna kalangkabut, "ada apa denganmu sebenarnya?"
Castiel menahan sakitnya, "AARRGHH!" dan...
Ia pingsan.
Castiel terbangun di sebuah tempat yang tidak asing. Ya, rumah Anna. Tapi sayang yang dilihatnya pertama kali bukanlah Anna tapi seseorang dengan baju putih yang kemudian langsung pergi saat Castiel membuka matanya. Yang baru ia tau kalau itu dokter saat Anna mengantar orang itu keluar dan berkata, "terimakasih, dokter."
Anna mendekat pada Castiel, "ceritakan padaku yang sebenarnya, Castiel," dengan nada serius dan mata berkaca-kaca.
Castiel bangun dari berbaringnya dan duduk bersampingan dengan Anna. Kepalanya pusing, "kau sudah tau, Anna."
"kenapa kau tidak menceritakan padaku dari awal?" tetesan air mata mulai membasahi pipi Anna.
Castiel berdiri dan meneguk segelas air. Kemudian ia menyandarkan tubuhnya di tembok, "apakah perlu?"
Anna menunduk. Rasa kecewa, sedih, kehilangan, mulai menyelimuti hatinya. Tetesan air mata itu mulai tidak bisa berhenti membasahi pipinya. Untuk Castiel. Ia menangis karena Castiel. Kemudian ia berdiri dan berlari memeluk Castiel. Menangis di bahu cowok itu.
Castiel kaget dan tidak tau harus bagaimana. Lantas ia hanya membalas pelukan itu dan menenangkan, "kau tidak perlu menangis seperti ini, Anna."
Dalam isakannya, Anna berbisik, "aku menyayangimu, Castiel.."
Malam hari, Dean kembali ke rumahnya mengambil baju untuk menginap di rumah sakit. Namun langkahnya terhenti ketika ia sadar sudah beberapa hari ini belum memeriksa kotak pos di depan halaman rumahnya. Lantas ia membuka dan menemukan satu surat disana. Ia mengambil dan membukanya. Isinya...
Dimanapun anda berada, saya ucapkan SELAMAT!
Perushaan kami menerima dan mau berkerja sama dengan anda untuk lagu yang anda masukkan ke recording producer kami. Datanglah dan mengkonfirmasi surat ini ke perusahaan kami. Mari kita bicarakan bagaimana selanjutnya...
Terimakasih. Dan satu kali lagi, SELAMAT!
Dean tidak mengerti apa arti dari surat itu. Kemudian ia membaca bagian atasnya..
To : Mr. Dean Winchester
From : Mr. Bobby Singer (as recording producer of "UPPERDREAM")
Dean merasakan jantungnya berhenti berdetak
TBC...
Aaaa... Castiel... Huhuhu... Ada yang udah menduga belum sih Castiel itu kenapa? Hehehe.. Mau tau jelasnya? Lihat chapter berikutnya ya... Tapi review dulu chapter ini... Thanks yah^^
