JUST WAITING
Semua yang dianggap Castiel penting, sudah diselesaikannya. Membantu Dean mencapai mimpinya, membantu Anna agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya, dan berlatih semaksimal mungkin untuk konser nanti (meskipun ia tau, Dean tidak akan melihatnya). Yang tertinggal hanyalah... menyelamatkan Sam, untuk Dean. Konser itu kurang dua hari lagi. Dan Castiel, makin gugup menghadapinya.
Dean mondar-mandir di rumah sakit, "Dean, bisakah kau duduk? Sejak seminggu lebih yang lalu, kau sudah seperti orang gila, kau tau! Ada apa sebenarnya?" Sam kesal.
"tidak ada apa-apa, Sammy.." sahut Dean santai.
"DEAN! Aku bukan anak kecil lagi, oke!" bentak Sam.
Bahu Dean melemas, ia sudah biasa dibentak oleh Sam, tapi sepertinya kali ini memang Sam harus diberitau, "jadi.. aku pernah merekam lagu ciptaanku sendiri, Sam."
"lalu?"
"seseorang mencuri kaset perekam lagu itu dan mengirimkannya ke perusahaan rekaman," Sam masih tidak begitu mengerti inti sebenarnya, "dan sekarang, perusahaan itu minta kapanpun aku bisa, aku datang ke sana untuk membicarakan lagu itu.." lanjut Dean.
Sam ternganga, "itu artinya kau dikontrak, Dean!" teriaknya senang.
Dean menutupi mukanya dengan kedua tangan.
"kenapa? Kau tidak suka?" Sam heran.
"aku.. aku hanya belum siap, Sammy. Aku bahkan tidak tau siapa yang mengirim kaset itu. Aku tidak... sungguh aku tidak percaya hal ini," Dean menggeleng kepala.
Sam melengos, "Dean.. siap atau tidak, kau harus datang kesana. Ini peluangmu. Untuk mengetahui siapa yang mengirim lagu itu, kau bisa tanya ke orang yang menerima lagu itu. Beres kan?"
Dean merenung, "kau membuat semuanya terlihat gampang, Sammy. Padahal tidak seperti itu."
Disaat yang sama, Castiel duduk di meja belajarnya. Menulis sebuah surat dengan kertas putih dan tinta hitam. Digoreskannya perlahan tiap huruf yang terukir disana. Pelan.. Pelan.. Penuh dengan ketulusann. Ia membuat ini seakan-akan ia membutuhkannya besok, padahal ia sendiri pun tidak tau. Tapi, entah firasat ini benar atau tidak, Castiel hanya tau bahwa ia akan segera membutuhkan surat ini beberapa hari ke depan.
Castiel berhenti sejenak saat membuat penutupan dari surat itu. Kedua tangannya menutupi muka. Agar tak ada seorang pun yang tau, bahwa di balik tangannya, ada butiran air mata yang mulai menetes tanpa henti.
TBC...
Jeng jeng jeng... Sebentar lagi buyar...
Terimakasih sudah dibaca dan dihargai ^^
