NOOO!
Castiel berdiri di belakang panggung. Waktunya tampil masih tiga jam lagi, tapi para perias sudah mengubek-ubek muka dan penampilannya sedari tadi. Mulai dari baju, sepatu, bunga, piano, dan segala make-up yang diriaskan di mukanya. Membuat mukanya itu sekarang tampak aneh. Dengan menatap kaca, ia berbisik dalam hati, Dean.. akankah kau datang melihatku nanti?
Dean yang lengkap dengan baju sehari-harinya, berjalan yakin ke gedung milik "UPPERDREAM". Ia langsung melangkah masuk ke ruangan Mr. Singer setelah diarahkan oleh wanita di belakang meja itu. Matanya kemudian menemukan sosok Mr. Singer sedang duduk mengerjakan sesuatu di mejanya, "permisi.."
Mr. Singer menyerngit, "siapa?"
"saya.. Dean Winchester," Dean kemudian duduk saat Mr. Singer mempersilahkan.
"jadi.. kau mau bekerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Mr. Singer.
Dean mengangguk, "tapi sebelumnya, boleh saya bertanya mengapa anda tertarik dengan lagu saya?"
"lagumu itu enak di dengar, Dean. Lagipula suaramu juga lumayan bagus. Aku yakin kalau dilatih, suaramu akan lebih bagus dan merdu dari sekarang. Aku melihat potensi dari dalam dirimu saat mendengar kaset itu," jelas Mr. Singer.
Dean tersenyum sekedarnya.
"jadi, kau mau?" tanya Mr. Singer.
Dean mengangguk, "terimakasih, Mr. Singer."
Mr. Singer lantas tertawa kecil, "berterima kasihlah pada temanmu, Dean."
Alis Dean mengangkat heran, "te..man?"
"ya, Castiel tentu saja. Dia yang membawa kasetmu kesini."
Dean merasakan rasa yang benar-benar campur aduk dalam hatinya saat mendengar nama Castiel disebut. Rasa bersalah, heran, kagum, berterimakasih, dan entahlah. Berapa minggu sudah Dean tidak mendengar ataupun menanyakan kabar Castiel? Berapa minggu Dean tidak melihat rupa laki-laki dengan mata biru terang itu? Berapa minggu hingga akhirnya...
Dean terpaku. Hari ini, tanggal 21 Desember. Bukankah hari ini konser di taman kota itu? Konser yang membuat Castiel kelabakan mempersiapkan penampilannya? Konser dimana Castiel tidak akan mungkin ikut jika Dean tidak menyuruhnya? Dan sekarang, kenapa Dean ada disini? Harusnya ia ada disana bersama Castiel. Bersama sahabatnya yang mungkin membutuhkannya. Castiel pasti butuh Dean untuk melihat penampilannya...
"Dean? Kamu tidak apa-apa?" tanya Mr. Singer membuyarkan lamunan Dean.
"oh, maaf, tuan."
"ada apa denganmu?"
"tidak," Dean mengelak, "hanya saja... ini tentang Castiel."
"Castiel? Ada apa dengan anak itu?"
Dean menahan air yang kini membuat matanya berkaca-kaca, "saya dan Castiel sudah lama tidak saling bicara lagi. Sudah lama sekali sekitar berminggu-minggu. Saya... saya hanya merasa bersalah padanya. Bagaimanapun, yang membuat persahabatan kami kacau itu adalah saya."
Mr. Singer mengangguk seakan mengerti, "anak muda, aku dulu juga pernah muda sepertimu. Aku tau apa yang kau rasakan sekarang. Renungkanlah nak, Castiel benar-benar baik karena telah membuatmu mencapai mimpimu. Ia cerita bahwa kau ingin sekali jadi musisi sehingga dia mencuri kasetmu itu dan membawanya kemari."
Dean masih terdiam menunduk menahan sakit di hatinya.
"dan sekarang, saatnya kau yang membantu Castiel mewujudkan mimpinya. Kudengar hari ini nanti malam, dia akan tampil dengan pianonya. Kau harus disana, Dean. Castiel pasti ingin melihatmu disana. Ia ingin sahabatnya. Itu kau, Dean," Mr. Singer memberikan Dean nasihat.
Hati Dean kemudian tergugah, "baiklah, tuan. Kalau begitu saya pamit pergi ke taman kota. Permisi," kemudian ia berdiri dan hampir berlari.
Dean terhenti saat Mr. Singer memanggil, "Dean! Sampaikan salamku untuk Castiel! Katakan bahwa..." kata-katanya terhenti saat ternyata Dean tidak menggubrisnya dan lari keluar dari gedung mewah itu, "...dasar anak muda!" geramnya sambil menyungging tawa kecil.
Castiel membenarkan mawar merah yang di letakkan di saku jas putihnya. Tangannya gemetar dan sesekali melihat bangku penonton yang di barisan depannya sudah duduk banyak para musisi hebat dan alumni-alumni Juilliard yang sukses meniti karier di dunia musik. Matanya menelusuri satu-persatu bangku yang ada di belakang. Berusaha menemukan sosok yang dicarinya. Kemudian bahunya menurun tanda ia kecewa.
"mari kita sambut penampilan selanjutnya yang dibawakan oleh mahasiswa Juilliard yang sudah terpilih! Castiel..!"
Castiel menunduk dan tersenyum lemah. Matanya terpejam menahan sakit di dadanya. Dean mungkin memang tidak mau datang...
Dean berlari-larian di jalan raya. Ia memaki-makin karena macetnya lalu lintas dan membuat taxi yang tadi di tumpanginya berjalan lambat. Dean mengeluarkan semua jurus kenakalannya saat di SMA dulu. Dalam keadaan macet seperti sekarang, segala cara dihalalkan. Termasuk melompati mobil orang yang sudah dilakukan Dean berkali-keli hingga detik ini.
Sial! Taman kota masih jauh! Dean melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 8 malam. Sial! Dean tidak mau terlambat melihat penampilan Castiel!
Castiel menarik napas dalam-dalam dan mulai meraba tuts (belum menekannya). Namun sesaat kemudian, dadanya mulai sesak. Kontan membuat tangan Castiel langsung meremas jas yang melapisi dadanya. Ia tidak bisa bernapas. Kepalanya pusing. Keringatnya semakin bercucuran. Tapi kewajiban, tetaplah kewajiban. Ia sudah dipilih untuk mempersembahkan lagunya, maka itu adalah hutang.
Tangannya kemudian kembali meraba tuts piano dan menghiraukan sesak di dadanya yang sepertinya semakin parah di tiap menitnya. Suasana hening. Seluruh pasang mata penonton terdiam melihat Castiel. Sedangkan yang dilihat itu hanya mendesah karena tetap tidak menemukan sepasang mata hazzel yang dulu telah terbiasa dilihatnya...
Dean sudah ada di air mancur tengah kota. Ia kemudian berlari sekencang-kencangnya. Tidak peduli lagi surat-suratnya dari "UPPERDREAM" yang satu-persatu terbang berserakan di jalan. Yang ia pentingkan saat ini hanyalah Castiel. Yang tadinya ia membawa selembar map dengan beberapa lembar kertas, kini tangannya malah kosong tak ada apa-apa.
Saat mulai dekat, ia mengencangkan larinya. Dan.. sampai. Ia berdiri di barisan paling belakang diantara jutaan penonton. Kemudian ia berjalan menyorobot ke depan. Sepasang matanya mulai bisa menemukan sosok laki-laki dengan jas putih dan mawar merah di sakunya sedang serius memainkan tuts piano.
Castiel tiba-tiba merasakan paru-parunya sudah tidak kuat lagi digunakan untuk bernapas, padahal sebentar lagi lagu ini tuntas. Ya, ia harus menuntaskannya. Ia tidak boleh menyerah. Tapi kenapa di hari kecilnya, Castiel merasakan ada seseorang disana... di tengah kerumunan penonton yang terpana melihatnya... Apakah, disana ada... Dean? Castiel memejamkan matanya dan membiarkan setitik air mata membasahi pipinya.
Dean bingung karena Castiel tidak melihatnya, padahal sudah ada tanda-tanda sahabatnya itu menyanyikan bait terakhir.
I just want you to know...
You're the one and only... Oh yeah..
The one and only...
Castiel berhenti bernyanyi. Dean kemudian berteriak, "Cas..." suaranya terhenti saat kaget melihat Castiel terjatuh dari tempat duduknya. Dean merasakan jantungnya berhenti berdegup.
Castiel tidak kuat lagi, dan membiarkan tubuhnya terjatuh begitu saja tepat menyelesaikan baris terakhir. Tapi ia mendengar seseorang meneriakkan namanya. Apakah itu Dean? Castiel berharap seperti itu. Sedetik kemudian yang ia tau, para panitia dengan baju seragam menghampirinya. Berusaha menolongnya. Tapi kemudian satu orang tidak memakai seragam menyerobot kacaukan panitia. Castiel sedikit mewek melihat orang itu adalah Dean.
"Cass.. Cass.. kau tidak apa-apa?" Dean kemduian memeluk bahu Castiel dan memangku kepala laki-laki itu di lengannya.
Castiel menangis. Ya, sudah banyak tetesan air mata yang ia biarkan keluar karena terharu melihat Dean ada di sampingnya sekarang, "Dean, kau datang..."
"hey, hey. It's okay.. It's okay... Ada apa denganmu, hah?" Dean meremas rambut Castiel dan membiarkan matanya berkaca-kaca.
Castiel tersenyum di tengah tengisnya, "it's not gonna be okay, Dean. I'm sorry."
Dean menggeleng keras tidak percaya. Bibirnya tak sanggup bicara lebih banyak lagi, "tidak, tidak, Castiel. Apa yang kau sembunyikan dariku, you bastard!"
Castiel seperti tidak menghiraukan kata-kata Dean dan kemudian mengeluarkan sebuah surat dengan amplop putih dari sakunya dan meletakkan di dada Dean, "take this."
"tidak, apa ini?"
Yang sekarang sudah sekarat itu hanya mengangguk dengan tangis dicampur kesakitan, "goodbye, Dean."
"tidak, tidak! Cass! Tidak! Please!"
Castiel meremas jaket Dean dan kemudian.. ia menghembuskan napas terakhirnya. Ia meninggalkan dunia ini tepat di pelukan Dean dan dengan disaksikan jutaan orang yang hingga kini masih bisu campur haru melihat adegan Castiel dan Dean. Dimana jutaan orang itu tau, betapa kuat ikatan persahabatan diantara mereka.
Dean masih meremas rambut dan bahu Castiel. Mendekatkan bibirnya di telinga Castiel. Dengan isakan yang belum berhenti ia berbisik, "aku bahkan belum pernah jujur padamu bahwa aku menyayangimu. Castiel, dengarkan aku... Aku menyayangimu.."
TBC...
*mata sembap* tolong di review ya... Terima kasih :')
