Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfiksi ini ditulis untuk kesenangan pribadi semata, bukan untuk mengambil keuntungan secara komersil.
Game inspiration : Running Man © SBS
WARNING! : OOC, typos, charadeath, alter-ego, bloody scene, dan segala keabalan yang lainnya.
.
Dedicated for "Eyeshield 21 Fanfiction Indonesia Awards": Holiday
.
An Eyeshield 21 fanfiction by karin-mikkadhira-,
Someone Behind The Door
['cause we don't know there's another existence behind the door, right?]
.
3rd Door : Treasure Hunting
.
.
.
Masih ada waktu satu jam sebelum jam makan siang tiba. Seluruh anggota Deimon Devil Bats berpikir untuk memanfaatkan waktu satu jam itu seefektif mungkin untuk beristirahat dan menikmati suasana yang berbeda. Ini adalah pertama kalinya bagi mereka semua untuk menginap di villa yang berada di sebuah pulau terpencil, tak berpenghuni. Meskipun cuaca sangat cerah, dan kegembiraan musim panas terpancar dari wajah mereka masing-masing, namun ada satu hal yang kiranya tak mereka sadari: mereka bagai tikus yang terkurung bersama seekor macan di sangkar yang kecil, namun tertutup rapat. Villa itu tidak begitu besar, dan tidak banyak tempat untuk bersembunyi di dalamnya, namun sekali tertangkap, mereka tidak akan bisa melarikan diri. Dan sang macan masih menunggu mangsanya dengan tenang di balik pintu.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Nomor kamar sudah ditentukan, dan anggota Devil Bats tanpa membuang waktu langsung menuju kamar masing-masing. Sena dan Monta yang menjadi roommate memilih kamar nomor delapan yang terletak di ujung koridor kanan lantai dua. Di saat yang sama, Haha Brothers langsung tancap gas menuju kamar yang telah dipilih. Kuroki dan Togano yang sekamar memilih kamar nomor sembilan yang terletak di koridor kiri lantai tiga, dan kamar sebelahnya, nomor sebelas, ditempati oleh Juumonji yang menjadi betrayer Haha Bros. Biasanya di saat seperti itu mereka bertiga akan memaksa untuk dijadikan teman sekamar walaupun tempat tidur yang tersedia hanya untuk dua orang. Namun tampaknya Juumonji sedang benar-benar ingin menyendiri saat itu. Sedangkan salah satu kamar di koridor kanan lantai tiga—nomor sepuluh—sudah menjadi hunian sementara yang nyaman bagi Natsuhiko Taki.
Sementara itu kamar-kamar di lantai bawah dihuni oleh para senior Devil Bats. Kurita menghuni nomor dua, Yukimitsu nomor empat, kamar mereka bersebelahan di area sebelah kanan. Sedangkan Ishimaru memilih kamar nomor tiga di area sebelah kiri. Tak ketinggalan Youichi Hiruma, yang pasti menempati kamar the one and only, nomor satu, yang juga di area sebelah kiri. Musashi juga ikut di kamarnya untuk sementara waktu. Mamori dan Suzuna yang merasa tidak begitu nyaman jika masing-masing mengambil kamar sendiri akhirnya diperbolehkan untuk menjadi teman sekamar. Kedua gadis muda itu memilih kamar nomor enam yang terletak di koridor kanan lantai dua, bersebelahan dengan kamar Sena dan Monta.
Jika ditilik-tilik, bukan hanya desain villa itu yang unik, namun segala yang ada di dalamnya juga aneh. Warna yang digunakan untuk mengecat villa itu tergolong pucat, namun kontras. Hampir setiap ruangan dicat dengan warna berbeda. Contohnya warna abu-abu pucat yang digunakan untuk ruang depan sebelah kiri, dan kuning pucat yang digunakan untuk ruang depan sebelah kanan. Sementara dinding lorong yang menuju dapur—dimana kamar nomor satu sampai empat berada—menarik mata dengan warna merah pucat. Pilihan warna yang cukup aneh, bahkan warna setiap kamar pun berbeda! Yukimitsu dan Ishimaru yang kamarnya berhadap-hadapan baru menyadarinya setelah mereka melihat kamar masing-masing. Kamar nomor tiga yang ditempati Ishimaru dindingnya berwarna hijau army, sedangkan dinding kamar Yukimitsu terlihat berwarna cokelat army. Nyatanya seluruh dinding kamar di villa itu dicat dengan warna yang agak gelap, sementara ruangan lain dicat dengan warna pucat.
Bukan hanya itu, hampir seluruh perabotan yang ada di villa tersebut desainnya unik. Misalnya sofa yang berbentuk lingkaran, lampu yang tiangnya seperti dua batang pohon yang saling melilit, lalu celah-celah berbentuk abstrak di dinding yang digunakan untuk menyimpan hiasan, dan lain-lain. Walaupun dari luar villa itu terlihat biasa saja—seperti villa pada umumnya, namun sepertinya arsitek villa itu adalah seorang seniman yang cukup hebat. Hal itu juga dapat terlihat dari lukisan yang terpampang di masing-masing pintu kamar yang diberi nomor satu sampai tiga belas tersebut. Di depan masing-masing pintu terpajang lukisan minyak salah satu 12 signs of zodiac ditambah satu, Ophiuchus. Lukisan-lukisan itu terlihat seperti masih baru, karena masih sempurna, tanpa cacat atau goresan sedikitpun.
Saat para anggota Deimon Devil Bats masuk ke kamar masing-masing, raut kekaguman tak dapat terhindarkan dari wajah mereka. Semua kamar di villa itu sama besar, dengan 'isi' yang juga sama persis, dan hanya warna dinding dari masing-masing kamar yang berbeda. Terutama untuk kamar-kamar di lantai dua dan tiga, posisi dari setiap barang di kamar itu sama persis. Perabotan yang ada di kamar-kamar lantai satu posisinya berbeda karena letak kamar yang saling berhadapan, sementara kamar-kamar di lantai dua dan tiga seluruhnya menghadap arah yang sama, menghadap arah timur, menghadap laut.
Juumonji memasuki kamarnya, kamar nomor sebelas, yang terletak di lantai tiga. Saat ia masuk ke kamar dengan pintu berlukiskan seekor kalajengking tersebut, ia dapat melihat sebuah double size-bed yang menghadap ke selatan di tengah ruangan. Tepat di hadapan tempat tidur berwarna emas tersebut, sebuah meja TV terlihat menopang flat TV 21 inch yang modelnya terlihat sudah agak kuno. Sementara di samping kanan dan kiri tempat tidur terdapat lemari kecil dengan lampu tidur unik di atasnya. Lampu tidur yang didesain seperti kuncup bunga yang baru akan mekar itu menarik perhatian Juumonji. Sebuah meja persegi yang terlihat seperti kubus rubik besar beserta dua kursi yang berbentuk seperti limas segitiga melengkapi keunikan kamar tersebut. Tepat di belakangnya, sebuah jendela yang tidak terlalu besar menjadi satu-satunya ventilasi udara di kamar itu.
Sreeek
Penasaran, pemuda berambut keperakan itu membuka gorden abu-abu tua yang menutupi jendela tersebut. Ia membuka jendela, membiarkan angin sepoi-sepoi menyingkirkan kepengapan yang ada di kamar tersebut. Dari jendela itu Juumonji dapat melihat pemandangan yang begitu menyegarkan. Padang rumput yang terhampar luas di belakang villa, serta hutan dengan pohon-pohon hijau rindang benar-benar membawa kesegaran tersendiri pada semua mata yang melihatnya di musim panas.
"Oh!" Juumonji berseru. Nampaknya matanya menangkap sesuatu yang lain selain hamparan padang rumput luas dan hutan yang rindang.
"Kenapa ada yang seperti itu di sana?" ujarnya bertanya-tanya. Kedua bola mata pemuda berambut keperakan tersebut menangkap sebuah bangunan kecil di tengah padang rumput, tak jauh dari pintu belakang villa. Bangunan itu terlihat seperti kuil kecil dari Zaman Edo di mata Juumonji, namun yang satu itu berbentuk lingkaran seperti sumur. Aneh sekali, pikir Juumonji. Namun kemudian pemuda berambut keperakan itu mengabaikannya. Ia lalu beranjak menuju kamar mandi yang memang tersedia di setiap kamar untuk menyegarkan diri.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Jam klasik yang ada di ruang makan, dekat tangga, baru saja mendentangkan belnya sebanyak dua belas kali, menandakan jam makan siang telah tiba. Satu-persatu anggota Deimon Devil Bats menampakkan batang hidungnya, menunjukkan ketertarikannya terhadap makanan yang telah disiapkan sang mantan manajer, Mamori Anezaki, dengan sedikit bantuan Suzuna. Berbagai hidangan telah tersedia di atas meja makan yang bentuknya seperti meja poker itu—semua berpendapat bahwa Hiruma-lah yang menggantinya. Namun yang membuat mereka menelan ludah adalah potongan semangka yang tersusun di sebuah piring. Di musim panas, semangka memang yang terbaik.
"Kami bisa makan sekarang,"
"Atau kami harus,"
"Menunggu yang lain?" Haha Brothers menjadi tiga orang pertama yang datang, dan ekspresi mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bisa menunggu untuk semua hidangan itu—terutama semangkanya. Suara ludah yang ditelan menjadi backsound saat itu.
"Silakan, namun alangkah baiknya jika kita bisa makan bersama-sama," ujar gadis berambut auburn itu lengkap dengan senyuman malaikat. Haha Brothers saling berpandangan, namun ketiga berandal itu tak mampu melawan senyum malaikat gadis berambut auburn itu. Sama saja seperti mereka tidak bisa melawan sang komandan neraka, namun mereka tentunya lebih memilih berhadapan dengan malaikat berambut auburn yang penuh kedamaian itu.
"Oho~ Nampaknya Mademoiselle Mamori telah mempersiapkan lunch yang nikmat untuk kita semua!" Natsuhiko Taki tiba-tiba saja muncul secepat kilat entah dari mana, dan langsung menggenggam tangan Mamori sambil memberikan kedipan gentle-nya. Untung saja saat itu Monta datang dan langsung berupaya melindungi dewinya tersebut. Monta yang mencapai boiling point-nya akhirnya bisa tenang saat melihat sebuncah oasis di atas meja. Ya, apa lagi kalau bukan semangka yang berair (?) itu.
Tak butuh waktu lama, seluruh anggota Deimon Devil Bats sudah berkumpul di ruang makan untuk segera menikmati makan siang mereka dan melaksanakan agenda selanjutnya. Dalam sekejap ruang makan yang berdinding ungu pucat tersebut dipenuhi gelak tawa dan suara-suara lain yang menunjukkan kegembiraan. Bahkan Ishimaru yang merupakan pemain pinjaman dari klub atletik pun menyatu dengan yang lain, tertawa menikmati kebersamaan Devil Bats di musim panas yang cukup menguras keringat itu. Sampai siang itu mereka masih bisa tertawa, lepas, tanpa mengetahui bahwa itu bisa jadi adalah tawa lepas mereka yang terakhir. Tak sedikit dari mereka yang lupa untuk berdoa, semoga kebersamaan itu masih bisa mereka nikmati untuk dua hari ke depan.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Dalam hitungan menit seluruh anggota Devil Bats telah menyelesaikan santap siang mereka. Meskipun ruang makan berdinding ungu pucat tersebut jadi agak kacau, namun seluruh senyum dan tawa mereka bagai membersihkan semua.
Menurut jadwal, kegiatan mereka selanjutnya adalah exploring beach. Entah apa maksudnya, karena tidak ada satupun anggota Devil Bats kelas dua yang mengerti artinya. Satu yang mereka ketahui, yang membuat jadwal itu bukan Mamori Anezaki, melainkan Youichi Hiruma. Tidak ingin dikenai hukuman yang aneh-aneh, mereka menurut saja dengan semua hal yang kakak kelas mereka katakan. Lebih baik daripada harus lari keliling pulau dengan Cerberus di belakang.
"Ehem." Gadis beriris safir itu berdehem, meminta atensi dari seluruh adik kelasnya. "Sebelum kita memulai jadwal yang berikutnya, aku akan menjelaskan tata cara game utama kita pada kalian," ujarnya lancar, walaupun nyatanya gadis beriris safir itu agak nervous. Sementara adik-adik kelasnya sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Game utama kita adalah Treasure Hunting." Mamori mulai menjelaskan. "Di suatu tempat di sekitar villa ini, ada sebuah harta karun tersembunyi. Inti dari game ini adalah, kalian akan mencari harta karun yang tersembunyi ini dengan bantuan clue yang tersebar di sekitar villa ini. Clue-clue tersebut mengacu ke tempat di mana harta karun tersebut disembunyikan. Siapapun yang menemukan harta karun itu, akan menjadi pemiliknya, serta akan mendapat hadiah spesial dari kami, anak-anak kelas tiga." Gadis beriris safir itu mengakhiri penjelasannya.
"Apakah harta karun itu, Mademoiselle?" Taki bertanya dengan ekspresi agak serius.
"Kalau kalian tahu nanti tidak jadi harta karun lagi," ujar Mamori sambil menggaruk-garuk pelipisnya. "Yang pasti sesuatu yang kalian inginkan," ujarnya lagi. Sontak para anggota kelas dua yang berkumpul di ruangan itu menjadi lebih penasaran.
"Clue-clue,"
"Yang tersebar itu,"
"Bentuknya seperti apa?" Haha Brothers rupanya sudah mulai tertarik dengan permainan mencari harta karun itu.
"Ah iya, aku lupa bilang, semua benda yang ditempeli oleh stiker Devil Bats seperti ini—" Gadis berambut auburn itu mengambil stiker Devil Bats dari sakunya dan memperlihatkannya kepada semua juniornya. "—baik besar maupun kecil, merupakan clue. Dan puluhan clue akan kami sebarkan di sekitar villa ini," jelasnya.
"A-apakah ini permainan individu?" tanya Sena. Pertanyaan itu membuat semua orang terperangah. Mungkin jiwa kompetitif dalam diri Sena sudah bangkit.
"Itu terserah kalian. Jika kalian menemukan harta karun itu sendiri, maka harta karun itu sepenuhnya akan menjadi milik kalian. Namun jika kalian menemukan harta karun itu bersama, harta karun dan hadiah spesial dari kami akan menjadi milik bersama. Artinya, kalian harus membaginya." Kini Yukimitsu yang membantu menjelaskan.
"Kekeke, rupanya Cebol Sialan ini ingin menang ya?" Kikihan Hiruma terdengar dari belakang, membuat para juniornya merinding seketika. Entah kenapa Hiruma tidak banyak bicara hari itu, dan mendengar kikihannya yang tiba-tiba itu membuat mereka seperti mendengar kikihan setan.
"Yaa! Tapi bagaimana jika kami sedang mencari secara random, lalu tiba-tiba menemukan harta karun itu?" tanya Suzuna. Pertanyaan yang satu ini juga membuat yang lain terperangah.
"Kekeke," kikih Hiruma, "Cheer Sialan ini tajam juga rupanya." Sang komandan neraka menatap lurus pada gadis berambut biru itu, agaknya senang karena salah satu anak didiknya—meski Suzuna tidak pernah dilatihnya secara langsung—kadang-kadang memiliki intuisi yang cukup tajam.
"Tenang saja," ujar Mamori, "karena kami sudah merancang sedemikian rupa agar tidak terjadi hal seperti itu, seperti 'kebetulan ketemu' begitu," ujar Mamori dengan senyum yah-karena-Hiruma-kalian-tidak-akan-bisa-menemukannya-semudah-itu.
Ruang makan berdinding ungu pucat tersebut seketika hening. Sepertinya semuanya sangat berkonsentrasi pada permainan mencari harta karun itu—kecuali Taki yang berakting seolah-olah berpikir serius, karena sebenarnya dia tidak bisa memikirkan apa-apa.
"Satu lagi," ujar Mamori memecah keheningan, "game ini akan resmi dimulai tepat pukul tujuh malam, setelah jam makan malam usai. Nah, mulai dari pukul tujuh malam nanti sampai pukul sepuluh pagi dua hari yang akan datang adalah waktu hunting kalian. Jika sampai jam sepuluh pagi dua hari yang akan datang harta karunnya belum juga ditemukan, maka seluruh hadiah akan hangus. Bagaimana cara kalian mencarinya itu terserah kalian, namun di luar itu kalian tetap harus mematuhi jadwal yang sudah diberikan." Mamori mencoba menjelaskan dengan baik agar para juniornya langsung mengerti.
"Jadi kami belum boleh mencari clue sekarang, mukya?" tanya Monta.
"Betul sekali, Monta-kun," jawab Yukimitsu.
"Kalau semuanya sudah jelas, kita akan segera melakukan jadwal berikutnya," ujar Mamori seraya membimbing para juniornya untuk melakukan kegiatan berikutnya di pantai.
"Kuperingatkan saja," ujar sang komandan neraka tiba-tiba, "jangan percaya siapapun. Kekeke." Dan sang komandan neraka pun menghilang di balik pintu kamarnya yang dihiasi lukisan Capricorn tersebut. Meninggalkan pertanyaan di benak para juniornya saat itu.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
"Nah, Yukimitsu-kun, Ishimaru-kun, dan Musashi-kun, kalian sudah paham betul kan mengenai tugas ini?" tanya Mamori kepada tiga pemuda di depannya yang sedang dalam tugas untuk menyebarkan clue di sekitar villa. Ketiga pemuda itu mengangguk, lalu segera beranjak dengan komando Musashi.
Tidak mau membuang banyak waktu, Musashi segera menunaikan tugasnya. Setelah tugsanya usai, ia segera kembali ke kota dengan menggunakan kapal pribadi Hiruma. Setelah kapal itu pergi dengan membawa Musashi, kapal itu tidak akan kembali lagi ke pulau sampai waktu pulang tiba. Dalam sekejap pulau itu pun menjadi pulau yang benar-benar tertutup, seperti sangkar.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Setelah melewati siang yang terasa panjang, seluruh anggota Devil Bats kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sejenak sebelum waktu makan malam tiba. Tanda-tanda kelelahan mulai muncul sebagai rasa berkedut-kedut di otot-otot mereka. Mengisi jadwal exploring beach dengan latihan sparta sambil bertelanjang kaki bukanlah hal yang begitu baik. Pasir pantai pulau itu bagai terbakar oleh matahari musim panas, dan siang tadi seluruh anggota Devil Bats kelas satu kecuali Suzuna, menapakkan kaki telanjang mereka di atas pasir yang bagai sedang dipanggang untuk membuat kaca. Mereka bahkan berpikir bahwa mereka tidak akan punya cukup kekuatan untuk mencari clue setelah makan malam nanti.
Selang beberapa menit setelah seluruh anggota Devil Bats kelas satu membersihkan diri, bel dari jam klasik di ruang makan berdentang enam kali, menandakan waktu makan malam telah tiba. Inginnya sih langsung mengisi perut dengan masakan sang mantan manajer, namun untuk melangkah saja rasanya berat sekali. Alhasil tak seperti makan siang sebelumnya, anggota Devil Bats tidak begitu terburu-buru untuk turun ke bawah dan merasakan menu makan malam sang mantan manajer. Sepertinya walaupun segala jenis buah-buahan disajikan di atas meja makan, mereka tidak akan turun secepat kilat seperti saat makan siang sebelumnya.
Ketika jarum jam hampir menunjukkan pukul setengah tujuh malam, para junior baru berdatangan menuju ruang makan. Dengan wajah kelelahan dan mata yang sayu, mereka mulai menyantap hidangan makan malam. Sayangnya hidangan makan malam andalan sang mantan manajer tersebut tak dapat membangunkan mereka. Bagaimana jadinya perburuan harta malam ini jika mereka sudah kehabisan nyawa begitu, batin mantan manajer yang berambut auburn tersebut.
"Aha~ Sepertinya aku terlalu banyak berputar hari ini, sampai-sampai ujung kakiku terasa terbakar," ujar Taki sambil mengusapkan sapu tangan pribadinya ke sudut matanya yang tidak benar-benar basah.
"Telapak kakiku seperti mati rasa, mukya!" seru Monta sambil menampakkan ekspresi wajah kesakitan, meskipun nyatanya tidak sesakit yang diekspresikan.
Teng ... teng ... teng ... teng ... teng ... teng ... teng...
Tidak terasa menit berlalu, dan jam klasik itu sudah mendentangkan belnya sebanyak tujuh kali. Pertanda bahwa jam makan malam telah usai, dan Treasure Hunting pun resmi dimulai. Namun rasa lelah yang hinggap di tubuh para anggota Devil Bats mengalahkan ambisi mereka untuk memenangkan harta karun yang tersembunyi itu. Bahasa lainnya sih, malam pertama tidak akan seru.
"Eh ... emm..." Mamori bingung. Harusnya yang meresmikan mulainya Treasure Hunting itu Hiruma, namun Hiruma tak kunjung tiba. Bukannya ingin berbuat seenaknya, namun jika tidak segera dimulai, harta karunnya tidak akan ketemu-ketemu kan? Akhirnya setelah lima menit menunggu Hiruma dalam bisu, Mamori dengan persetujuan panitia yang lainnya akhirnya meresmikan game mencari harta karun itu.
"E-eh, dengan berakhirnya jam makan malam hari ini, aku menyatakan Treasure Hunting resmi dimulai! Jika kalian sudah menemukan harta karun yang dimaksud, bisa langsung diperlihatkan pada kami. Time limit satu hari dan lima belas jam dari sekarang," ujar Mamori, berusaha untuk nyaman. Sekilas mata para juniornya berubah menjadi mata yang penuh jiwa kompetitif, namun dalam hitungan detik mata itu kembali berubah menjadi mata sayu yang menginginkan istirahat.
Tanpa dikomando lagi, semua anggota Devil Bats kelas dua kembali ke kamar masing-masing dalam diam. Tak banyak perbincangan yang keluar dari mulut mereka. Sementara para panitia hanya menarik dan membuang napas berulang-ulang, memikirkan cara para juniornya menemukan harta karun tersebut. Sesungguhnya mereka tidak terlalu peduli jika para junior tidak memulai perburuan mereka malam itu juga, namun mereka berpikir bahwa perburuan malam akan lebih mengasyikkan, karena mereka tidak memiliki banyak waktu bebas di siang hari. Yang jadi masalah sekarang, di mana sang komandan neraka yang seharusnya menjadi ketua pengamat perburuan ini?
"Kalian sama sekali tidak melihat Hiruma-kun?" tanya Mamori, nada kecemasan sedikit terdengar dari suaranya yang lembut bak malaikat. Semua yang ditanya hanya menggeleng.
"Terakhir kali aku melihat Hiruma adalah saat kita kembali ke sini tadi sore." Kurita memberikan kesaksian. Pemuda tambun itu yakin tidak melihat sahabat baiknya itu lagi setelah mereka kembali ke villa usai exploring beach.
"Sedang apa dia, menghilang seperti ini? Aku yakin kamarnya pasti terkunci, dan yang jadi masalah kunci cadangan seluruh ruangan dipegangnya," ujar gadis auburn itu lagi. Kali ini nada kesal terselip dalam nada kecemasan yang keluar dari bibirnya.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Mata Monta menelusuri tiap sudut dinding dengan cermat. Meskipun rasa kantuk sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, namun ternyata salah satu sudut di otaknya masih memikirkan tentang harta karun. Bersama dengan roommate-nya, Eyeshield 21, ia menelusuri tiap inci jalan yang mereka lewati saat mereka menuju kamar mereka di lantai dua.
"Haruskah kita mencari clue itu sekarang, Sena?" tanya Monta cukup serius.
"Jangan, jangan berkeliaran sekarang." Sena menjawab dengan nada yang juga serius. Jarang sekali kedua sahabat ini dapat berbicara serius ketika mereka sedang bersama. Biasanya hanya candaan basi saja yang keluar dari mulut mereka. Namun hari itu, hanya dengan iming-iming harta karun, mereka bisa berubah.
"Oh, Sena dan Monta. Selamat berjuang untuk menemukannya," ujar seorang pemuda yang berpapasan dengan mereka di tangga. Pemuda itu hanya mengatakan hal tersebut, lalu berlalu karena otak Sena dan Monta masih loading untuk menyadari bahwa pemuda yang berpapasan dengan mereka adalah Ishimaru.
Tak mau berlama-lama, kedua pemuda itu langsung menuju kamar mereka—kamar nomor delapan—dan memulai inspeksi mereka—terhadap kamar mereka sendiri. Ketimbang harus berkeliaran saat itu juga, saat malam belum terlalu larut, mereka memilih untuk mencari clue di dalam kamar mereka sendiri. Otak brilian mereka menyimpulkan bahwa: clue yang disebar bisa saja ada di masing-masing kamar. Dan segera setelah mereka masuk ke kamar mereka, dengan menahan kantuk mereka pun mulai mencari. Mulai dari kolong tempat tidur, lemari, sampai setiap celah mereka telusuri. Mereka yakin akan menemukan satu atau dua clue di kamar mereka sendiri. Dan mereka berjanji akan langsung tidur jika sudah menemukan clue tersebut—mereka sudah benar-benar mengantuk.
"Oh!" Pemuda bermata hazel itu berseru, mengejutkan roommate-nya yang sibuk mencari di kamar mandi. Merasakan firasat baik, Monta pun langsung menghampiri teman sekamarnya.
"Apa yang kautemukan, mukya?" tanya Monta penasaran.
"I-ini kutemukan terselip di celah tempat tidur," ujar pemuda bermata hazel itu sambil mencermati kartu berstiker Devil Bat yang ditemukannya. "Ini ... gambar naga?"
Sementara itu Suzuna yang imtuisinya sedang kuat juga mulai mencari di sekitar kamarnya, memanfaatkan waktu sebelum Mamori datang. Karena rasanya pasti aneh jika mengobrak-abrik kamar setelah teman sekamarnya itu datang. Indeed, kadang intuisi Suzuna tidak bisa diremehkan. Dengan cepat ia menemukan stiker Devil Bat di dalam laci. Suzuna melepas stiker itu, dan menemukan sesuatu terukir di sana.
"Ya! Apa ini? Bukankah ini tanda panah? Lalu alfabet S dan angka tiga ini ... apa maksudnya?" Suzuna bertanya-tanya.
Taki, Kuroki, dan Togano yang sudah tepar benar-benar melupakan perburuan harta dan fokus untuk mengistirahatkan diri mereka masing-masing. Mereka langsung menerjunkan diri ke tempat tidur begitu sampai di kamar mereka masing-masing. Sementara itu Juumonji yang sedang ingin menyendiri juga melakukan hal yang sama dengan Sena, Monta, dan Suzuna. Dalam hitungan detik ia berhasil menemukan stiker Devil Bat yang tertempel pada pot bunga yang terletak di atas meja kubus rubik di samping tempat tidur.
"Ini ... Morning Glory? Memangnya Morning Glory hanya ada di kamar ini saja?" Pemuda berambut keperakan itu bertanya-tanya. Juumonji memang tergolong sedikit lebih pintar dari teman-teman seangkatannya. Mungkin jika teman-temannya berada dalam posisinya saat itu, mereka tidak akan mengetahui nama bunga yang ada dalam pot tersebut.
"Pasti tidak cukup hanya satu clue," ujarnya tenang. Indeed, Juumonji memang satu step lebih pintar dari teman-temannya, mungkin pengaruh gen ayahnya yang juga sangat pintar.
"Aku harus mencari clue sebanyak-banyaknya sebelum yang lain menemukannya," ujarnya lantang. Rasanya seperti, jiwa kompetitif pemuda berambut keperakan itu sudah bangun sepenuhnya.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Satu jam sebelum jam makan malam,
Hiruma melangkah santai menuju kamarnya yang bernomor satu, terletak di sebelah kiri lorong menuju ruang makan. Exploring beach baru saja usai, dan sang komandan neraka itu cukup bahagia setelah melihat penderitaan para juniornya yang bertekad untuk menjadi lebih kuat. Seringai setan terkembang di wajahnya, perasaan bahagia sungguh membuncah dari dalam hati kecilnya—jika ia punya. Dan saat itu ia berniat untuk memindahkan seluruh foto-foto menarik yang didapatkannya ke laptop kesayangannya. Masih dengan santai, ia membuka pintu kamarnya yang berlukiskan seekor kambing yang cukup elegan. Ia lalu menutup pintu kamar tersebut, lalu tertegun.
Brengsek, batinnya.
Sang komandan neraka memicingkan matanya, lalu mulai mengedarkan matanya ke sudut-sudut tertentu. Tangan kurusnya dengan cekatan membuka semua pintu lemari yang ada di kamar itu.
Ada yang hilang.
Bukan hanya satu, tapi banyak.
Laptopnya, telepon satelitnya, dan satu tas yang berisi ratusan ponselnya raib. Padahal ia yakin ia tak pernah memindahkan barang-barang krusialnya itu ke tempat lain. Ia yakin, terakhir kali ia meninggalkan barang-barang itu di atas tempat tidur, dan tentu saja pintu selalu ia kunci.
Apa-apaan ... siapa? Sang komandan neraka terus merutuk dalam hati. Kemudian ia menyibakkan selimut di atas kasurnya dan—oh! Secarik kertas tertangkap oleh kedua mata emerald-nya. Ia menatap gambar di secarik kertas itu lekat-lekat.
Oh, ada yang menantangku rupanya.
Pemuda bermata emerald itu menyiapkan AK-47 kesayangannya, dan dengan cepat ia berlalu menuju lantai dua. Cepat namun tenang, tanpa suara, seperti karnivora sedang memburu mangsanya. Suasana juga sedang sangat tenang karena panitia dan para junior sibuk membersihkan dan mengistirahatkan sejenak tubuh mereka di kamar maisng-masing. Tidak ada seorang pun saksi mata saat Hiruma melangkah menuju kamar nomor tujuh yang terletak di lantai dua. Hiruma yang mempunyai kunci cadangan seluruh ruangan, tanpa basa-basi langsung membuka pintu tersebut. Ia yakin kamar itu adalah tempat yang benar, karena gambar di secarik kertas yang ditemukannya tadi adalah gambar seekor kepiting—Cancer. Ia membuka pintu itu perlahan meski tahu setiap kamar di villa itu memiliki peredam suara.
Dengan langkah hati-hati, pemuda bermata emerald itu mendekati tempat tidur dengan barang-barang yang dicarinya di atasnya. Ia mengedarkan pandangannya seperti seorang tentara, namun ia tidak merasakan hawa kehidupan lain di kamar itu. Kemudian ia mulai mencoba menyentuh laptop kesayangannya yang tergeletak di atas tempat tidur itu.
Jlebb
Pemuda bermata emerald itu mematung. Pupilnya melirik ke bawah, ke bercak darah yang mengotori laptop kesayangannya. Ia melepaskan tangannya yang juga terkena bercak darah dari laptop putih kesayangannya itu. Memutar kepalanya pun sang komandan neraka itu tak mampu. Cairan crimson terus mengalir dari perut sang komandan, dan hanya masalah waktu sebelum sang komandan kehilangan kesadarannya.
Dia membiarkan pedang pendeknya menancap di perut sang komandan neraka, lalu dia menyingkirkan seluruh barang-barang milik sang komandan yang memang sengaja digeletakkannya di atas tempat tidur. Melihat sang komandan neraka yang terus mengeluarkan keringat dingin tanpa bisa bergerak sedikit pun, dia hanya bisa tersenyum.
"Memang paling enak jika kita menyingkirkan orang yang terkuat dahulu, kan?"
Teng … teng … teng … teng … teng … teng….
Lonceng dari jam klasik di ruang makan berdentang enam kali, menandakan waktu makan malam tiba. Dan tepat saat lonceng berdentang untuk yang keenam kalinya, sang komandan neraka menghembuskan napas terakhirnya. Di saat terakhirnya pun, sang komandan neraka masih sempat menunjukkan seringai setannya kepada dia sambil menunjuk dia dengan sombongnya.
"Selanjutnya … siapa?"
.
Now the mystery is telling you the preface...
.
| TSUZUKU, |
.
A/N : terima kasih untuk semua yg sudah review chapter dua, dan maaf saya belum bisa balas satu-satu karena keterbatasan waktu, tapi saya sungguh senang sekali! maafkan keterlambatan saya dalam update, karena banyak faktor teknis maupun non-teknis yang menghambat. dan mohon maaf sekali, chapter ini banyak mengandung bahasa yang kurang pantas, karena mungkin agak mengganggu yang sedang berpuasa. saya sungguh" minta maaf! T.T dan chapter ini baru pembukaan...
.
| Review? |
