Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfiksi ini ditulis untuk kesenangan pribadi semata, bukan untuk mengambil keuntungan secara komersil.
Game inspiration : Running Man © SBS
WARNING! : OOC, typos, charadeath, alter-ego, bloody scene, dan segala keabalan yang lainnya.
.
Dedicated for "Eyeshield 21 Fanfiction Indonesia Awards": Holiday
.
An Eyeshield 21 fanfiction by karin-mikkadhira-,
Someone Behind The Door
['cause we don't know there's another existence behind the door, right?]
.
4th Door : Something Bad Happens
.
.
.
Teng … teng … teng … teng … teng … teng … teng … teng …
Jam klasik di ruang makan itu kembali mendentangkan loncengnya. Detik demi detik tanpa terasa berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja mendengar dentang lonceng tujuh kali, dan dentang lonceng delapan kali sudah terdengar lagi. Satu jam terasa seperti satu menit di villa itu, membawa ketegangan tersendiri bagi para penghuninya. Misteri demi misteri yang satu-persatu mulai menunjukkan batang hidungnya, cepat atau lambat akan terungkap oleh putaran waktu yang tak dapat dihentikan.
Dia membuka keran wastafel di kamarnya dengan santai, lalu menaruh kedua tangannya di bawah aliran air dingin yang cukup menyegarkan. Dia mengusap kedua tangannya berkali-kali, lalu menuangkan sabun cuci tangan dalam jumlah yang cukup banyak di atas salah satu telapak tangannya. Dengan sedikit tenaga dia mulai mengusap-usap tangannya lagi, sampai bau lemon pekat tercium karena banyaknya sabun cuci tangan yang dituangkannya. Dia terdiam sejenak, menghirup bau lemon yang mulai menguar. Dia memang sengaja menuangkan sabun cuci tangan dalam jumlah banyak untuk menghilangkan bau lain yang cukup pekat, yang menempel di kedua tangannya.
Ya, bau darah.
Sekitar dua jam lalu tangannya masih merah, diwarnai oleh darah mangsa pertamanya. Dicuci berapa kali pun bau darah masih tercium dari jarak dekat. Oleh karena itu dia menggunakan aroma lemon dari sabun cuci tangan yang ada di kamarnya untuk menghapus bau darah. Karena kalau sampai ada yang menciumnya, habislah sudah. Walaupun sebenarnya identitasnya tidak berpengaruh besar, karena diketahui atau tidak, para mangsanya tetap tidak akan bisa melarikan diri darinya. Sampai dua hari ke depan, pulau itu benar-benar seperti sangkar yang terkunci rapat bagi para mangsanya.
"Lihat," ujarnya, "siapa yang menyangka jika wajah ini akan memburu kalian?"
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Detik demi detik terus berlalu dengan cepat, membuat satu hari dan lima belas jam terasa tidak lama lagi. Sejauh ini baru tiga clue yang ditemukan, yaitu naga, tanda panah beserta alfabet S dan angka tiga, serta bunga Morning Glory. Tak pernah terpikirkan oleh keempat orang anggota Devil Bats itu bahwa clue yang mereka temukan benar-benar se-absurd itu. Mereka berempat memang tidak mengetahui bahwa mereka masing-masing sudah menemukan clue yang berbeda. Namun jika dipikir-pikir, jika mereka berempat bertukar informasi pun, jawabannya tidak akan terlihat. Maksudnya, apa coba hubungan antara ketiga clue itu?
Di kamar nomor enam, seorang gadis berambut biru mencoba menempelkan telinganya ke dinding, berharap bisa mencuri dengar obrolan Sena dan Monta yang berada di kamar sebelah. Namun jerih payahnya sia-sia, karena ia tak dapat mendengar suara apapun. Gadis berambut biru itu tak pernah tahu bahwa dinding yang memisahkan kamarnya dengan kamar Sena dan Monta adalah dinding beton tebal yang juga sudah dilapisi dengan peredam suara. Dengan itu mustahil suara dari dalam kamar terdengar ke luar kamar, maupun sebaliknya.
"Yaa, sial," ujar gadis berambut biru itu kesal sambil menempelkan dahinya ke dinding. Ia mulai frustasi karena ia sama sekali tidak mengerti arti dari clue yang ditemukannya. Lalu setelah mencari lagi pun, gadis berambut biru itu tidak dapat menemukan clue lain di kamarnya.
"Yaa, kenapa clue seperti ini sih yang disembunyikan di sini? Aku benar-benar tidak mengerti artinya," ujar gadis itu frustasi. Ia menatap kertas yang telah ditulisi clue yang ia temukan di dalam laci tadi, lalu mulai mengacak-acak rambutnya karena tidak mengerti.
"Masalahnya sama sekali tidak ada petunjuk tentang arah mana yang dimaksud oleh tanda panah ini. Lalu … huruf S dan angka tiga ini? S3? Tipe ponsel android terbarukah? Aduuh pusing," ujar gadis berambut biru itu seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur. Meskipun hari itu intuisinya sedang bagus, namun tetap saja teka-teki sulit clue itu tidak bisa dipecahkannya. Bisa dibilang ketiga puncak Deimon-lah yang membuat clue tersebut—Hiruma, Mamori, dan Yukimitsu. Dan nyatanya mereka bertiga memang sengaja membuat clue yang tidak dapat dipecahkan begitu saja, walaupun sebenarnya tidak harus berpikir yang rumit-rumit untuk memecahkannya.
Di kamar sebelah—kamar nomor delapan—Sena dan Monta masih termenung di atas tempat tidur sambil sesekali menatap lekat-lekat kartu bergambar naga yang mereka temukan. Sebenarnya setelah mereka menemukan kartu naga itu, mereka mencoba mencari clue yang lain di kamar itu. Sayangnya hasilnya nihil, mereka sama sekali tidak melihat stiker Devil Bat dimanapun.
"Aah, aku benar-benar tidak tahu!" rutuk Monta sambil memegang kepalanya kesal. Sejak tadi yang muncul di pikirannya hanya sosok seekor naga animasi yang meliuk-liuk kesana-kemari.
"Aku juga sama sekali tidak bisa memikirkan apa-apa. Naga ini … apa ya? 12 signs of zodiac kan tidak ada naganya, dan sejauh ini aku tidak pernah melihat gambar naga atau apapun yang berbentuk naga di villa ini." Sena mencoba mengingat-ingat setiap sudut villa yang pernah dilewatinya. Namun ia cukup yakin bahwa tidak ada satu nagapun yang pernah dilihatnya.
"Aku sudah mulai ngantuk, mukya. Sepertinya kita harus cepat bergerak dan mencari clue di luar," ujar Monta sambil menguap. Rasa kantuk mulai menghampirinya sebagai imbas dari latihan sparta yang cukup melelahkan.
"Kau benar Monta, siapa tahu yang lain juga sudah mulai bergerak di luar." Eyeshield 21 membenarkan perkataan teman sekamarnya tersebut.
Sementara itu di lantai tiga, tepatnya kamar nomor sebelas, seseorang yang sebelumnya sudah menemukan salah satu clue masih sibuk mencari di kamarnya. Mau dipikirkan selama apapun, Morning Glory belumlah cukup untuk mengungkap tempat persembunyian harta karun misterius itu. Maka pemuda berambut keperakan itu memutuskan untuk terus mencari sampai setidaknya menemukan satu stiker Devil Bat lagi. Saking telitinya mencari, kamar nomor sebelas itu menjadi seperti kapal pecah.
Pemuda berambut keperakan itu benar-benar mencari seperti orang kesetanan. Entahlah, ia tidak begitu memikirkan apa isi harta karun yang tersembunyi itu. Ia hanya merasa bahwa permainan mencari dan memecahkan clue itu sangat menarik, sampai-sampai ia ingin bermain sebagai individu. Bukannya ia mengabaikan saudara-saudaranya—Haha Bros, hanya entah kenapa alam bawah sadarnya terus memaksanya untuk bertindak secara individu. Agak aneh memang, namun pemuda berambut keperakan tersebut tetap menikmatinya.
Meskipun tiap sudut kamar telah ditelusurinya, ia belum menyerah. Ia mengulangi penelusurannya sekali lagi, berharap ada celah terlewat yang ditempeli oleh stiker Devil Bat. Kali ini ia memfokuskan pencariannya di celah-celah seperti di bawah TV, di bawah meja, di bawah kursi, di bawah lampu tidur, dan lain-lain. Namun setelah beberapa menit melakukan re-search, hasilnya tetap saja nihil. Bahkan butir-butir keringat mulai turun dari pelipisnya. Saking seriusnya pemuda berambut keperakan itu mencari, sejak tadi ia belum berhenti sampai berkeringat begitu.
Merasa cukup lelah, akhirnya pemuda berambut keperakan itu berhenti sejenak. Kemudian ia mengambil tempat tisu yang ada di samping TV. Ia mengambil beberapa carik tisu sambil menatap tempat tisu yang terbuat dari kayu tersebut, dan—
"Eh?"
—ia melihat sesuatu di dalam tempat tisu tersebut. Sesuatu yang berwarna merah terlihat mencuat di dinding tempat tisu tersebut. Dengan cepat ia membongkar tempat tisu tersebut dan bingo! Stiker Devil Bat tertempel di sana. Awalnya ia pikir tempat tisu itulah yang menjadi clue, namun ia menemukan suatu ukiran yang tertutup oleh stiker itu. Sama seperti yang dilakukan oleh Suzuna sebelumnya, ia juga mencoba melepas stiker tersebut, dan menemukan sesuatu di belakangnya. Sebuah lingkaran dengan angka 12 di dalamnyaterukir rapi di dalam tempat tisu tersebut.
"Lingkaran … dua belas? 12 signs of zodiac?" Pemuda berambut keperakan itu mulai berasumsi. Sayangnya asumsinya belumlah tepat.
"Ah, tidak." Ia menggeleng sekali. "Lagipula apa hubungannya dengan Morning Glory?" tanyanya tidak kepada siapapun. Kini teka-teki baru muncul di hadapannya, dan alam bawah sadarnya kembali memaksanya untuk cepat-cepat memecahkan teka-teki tersebut. Juumonji memang lain daripada yang lain. Tidak hanya di lapangan football saja ia bisa mengeluarkan kekuatan terpendamnya—seperti saat ia mencetak touchdown, ternyata ia juga memiliki bakat terpendam untuk hal seperti ini. Tak muluk lah kalau kita memberikan julukan Ace padanya.
Cklek
Pintu kamar nomor enam tersebut dibuka pelan-pelan. Kemunculan gadis berambut auburn itu mengejutkan juniornya yang masih sibuk mengobrak-abrik kamar untuk mencari clue lain yang kemungkinan ada di kamar itu.
"Yaa! Mamo-nee!" seru gadis berambut biru itu. Seketika bulu kuduknya berdiri karena kemunculan Mamori yang tiba-tiba seperti pencuri yang mengendap-endap masuk ke dalam kamar.
"Ka-kau sedang apa Suzuna?" tanya gadis berambut auburn itu sambil memasang wajah bingung. Bagaimana tidak, Suzuna seperti kucing yang baru saja mengacaukan kamar majikannya.
"Aku," ujar Suzuna, lalu terdiam sejenak. "Huwaaa Mamo-nee! Beritahu aku satu saja tempat clue itu disembunyikan! Aku tahu di kamar ini pasti masih ada clue yang tersembunyi … huwee … atau beritahu aku arti tanda panah ini." Suzuna tiba-tiba saja menghambur ke pelukan Mamori dan memohon oneesan-nya tersebut untuk memberitahunya sesuatu tentang clue. Mamori yang diserang hanya bisa beraduh-aduh ria karena sudah menyangka hal seperti itu akan terjadi.
"Aduh Suzuna, maaf, aku tidak bisa membantumu. Lagipula yang menyebarkan clue-clue tersebut bukan aku. Musashi-kun, Yukimitsu-kun, dan Ishimaru-kun yang bertugas untuk menyebar clue-nya, jadi aku tidak tahu apa-apa," ujar gadis bermata safir itu innocent. Tapi gadis itu memang tidak tahu menahu soal lokasi clue yang lain, karena tugasnya hanya sebagai mandor, dan Musashi, Yukimitsu, serta Ishimaru-lah yang menyebarkan clue-clue itu secara random.
"Yaaa! Ayolah Mamo-nee, kumo—oh!"
"Eh?" Gadis bermata safir itu menoleh, mengikuti arah pandangan juniornya tersebut. Sepertinya Suzuna menemukan sesuatu di belakangnya.
"Ya ampun ternyata ada di sini!" seru Suzuna seraya menghampiri kumpulan bingkai berukuran 2R yang tergantung di dinding persis di belakang Mamori. Tangannya diulurkan menuju salah satu bingkai yang ditempeli oleh stiker Devil Bat kecil. Memang bukan clue yang mudah terlihat sih, dengan ukuran stiker yang cukup kecil dan kerumunan bingkai di sekelilingnya. Suzuna meraih bingkai tersebut dan mencermati gambar yang ada di dalamnya. Hanya ada satu gambar yang terlihat di sana, simbol π (phi).
"Ya! Apalagi ini?" rutuk Suzuna. Jujur saja, matematika adalah pelajaran yang paling dibenci Suzuna, dan nilai ulangan semua mata pelajaran eksak Suzuna jatuh di bab yang harus menggunakan rumus matematika. Entah harus dibilang beruntung, atau malah tidak beruntung, Suzuna adalah salah seorang yang berhasil menemukan dua clue dalam satu tempat. Namun sayangnya, tak ada satu clue pun yang dapat dimengertinya. Sementara teman sekamarnya, Mamori Anezaki hanya bisa tersenyum melihat kebingungan juniornya tersebut. Tentu saja sebagai panitia, Mamori mengetahui jawabannya. Namun memberikan hint kepada Suzuna saat itu akan membuat seluruh permainan yang telah dirancang panitia menjadi kurang menarik. Oleh karena itu Mamori hanya bisa tersenyum dan memantau dari jauh.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
"Ng?" Raimon Taro terbangun. Ia memandang jam di kamarnya yang menunjukkan pukul sepuluh lebih. Ia tak sadar telah ketiduran selama itu. Ia menoleh, dan mendapati teman sekamarnya yang sudah tertidur lelap sambil menggenggam kartu bergambar naga tersebut. Tak banyak bicara, ia hanya mengucek matanya sebentar lalu bangkit dari tempat tidur. Tenggorokannya terasa kering, dan ia ingin mengambil minum di lantai bawah. Tanpa banyak bersuara dan dengan wajah yang masih blank, pemuda berkaki bengkok itu keluar dari kamarnya, lalu menuruni tangga menuju dapur.
Dengan mata sayu, pemuda berkaki bengkok itu menelusuri koridor yang hanya diterangi cahaya remang-remang dari lampu kuncup bunga yang tersebar di dinding. Dengan langkah lunglai ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air dingin. Dibukanya perlahan kulkas yang sudah berada di depan mata, lalu dituangkannya air dingin ke dalam gelasnya. Tanpa buang waktu ia langsung meneguk segelas air putih dingin yang sangat menyegarkan tersebut. Kelopak matanya mulai terangkat, membuat wajahnya tidak se-blank yang sebelumnya. Ia mengedip-kedipkan kelopak matanya beberapa kali sampai—
"Ng?" Ia memandang lurus tempatnya berdiri. Ada benda aneh yang terinjak olehnya—stiker Devil Bat yang glowing in the dark! Terkejut namun tidak mengeluarkan banyak suara, pemuda berkaki bengkok itu menatap lekat-lekat penemuan besarnya itu. Ternyata ada beberapa glowy sticker lain yang seperti menunjukkan jalan menuju suatu tempat. Glowy sticker itu adalah buatan Hiruma, memakai kertas khusus yang akan memantulkan cahaya matahari sehingga di siang hari tidak akan terlihat, namun glowing in the dark saat ruangan menjadi gelap.
Bahagia dengan penemuan besarnya itu, tanpa ragu ia langsung mengikuti jejak glowy sticker tersebut. Sambil mengusap-usap lengannya yang mulai merinding, Monta terus mengikuti jejak itu, yang berakhir di pintu belakang villa. Monta yang nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya, penasaran akan akhir dari clue itu. Ia mencoba memutar kenop pintu belakang villa tersebut dan—
Cklek!
—pintu itu terbuka. Tidak dikunci rupanya. Dengan kesadaran yang belum seratus persen, ace receiver Deimon Devil Bats tersebut melangkahkan kakinya keluar pintu, menginjak rerumputan yang tumbuh subur di belakang villa tersebut. Namun kegelapan pekat langsung menyelimuti Raimon Taro. Yang terlihat di depan matanya hanya hitam—ia tak dapat melihat apapun setelah menginjakkan kakiknya keluar villa tersebut. Monta yang masih linglung terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk kembali ke dalam villa. Ia melangkahkan kakinya—
"A-argh! Ngggh!"
Seseorang muncul dari balik pintu, menerkam leher sang receiver dengan tambang tipis. Dililitkannya kedua ujung tambang yang tersisa di tangannya, lalu ditariknya sekuat tenaga. Sang receiver tak kuasa melawan. Hanya erangan kesakitan yang terdengar seperti tercekat di tenggorokannya. Tangannya berusaha untuk meraih seseorang yang menyerangnya dan berusaha melonggarkan lilitan tambang di lehernya secara bergantian. Namun makin lama kekuatannya makin terkikis, pemuda berkaki bengkok itu tak mampu lagi berbuat banyak. Air liur terus menerus menuruni sudut bibirnya yang sejak tadi terbuka, mencari udara. Kaki bengkok pemuda itu yang mulanya terus bergerak menendang-nendang udara, lama-kelamaan melambat, dan akhirnya berhenti. Bersamaan dengan itu, seluruh bagian tubuh pemuda berkaki bengkok itu terjulur ke bawah dengan lemas. Hanya matanya yang masih terbuka lebar, membelalak, membulat, seperti mau keluar dari kelopaknya. Dan seketika satu hawa kehidupan pun hilang dari ruangan itu.
Bluk
Dia melepaskan tambang tipisnya, membiarkan tubuh sang receiver jatuh ke lantai kayu dengan suara lembut. Tampak jelas bekas tambang yang melilit leher sang receiver mulai membiru. Lalu tanpa menunggu lama, dia menyeret mayat sang receiver tersebut ke suatu tempat. Dia untuk sementara menyembunyikan tubuh korbannya sampai saatnya tiba. Karena saat mayat itu ditemukan, maka teror yang sebenarnya akan menghantui semua orang di villa itu.
"Satu lagi selesai, siapa yang berikutnya?"
Ia menepukkan kedua tangannya seakan membersihkan debu-debu kejahatan yang menempel di kedua telapak tangannya tersebut. Lalu dia melenggang pergi menuju kamarnya, berencana untuk menunggu sampai esok pagi, dan saat itu dia yang lain akan muncul sebagai orang yang tak tahu apa-apa.
.
—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—
.
Keesokan paginya gadis bermata safir itu bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan menu sarapan. Saat itu sekitar pukul enam, ia sudah bersiap-siap dengan segala bahan makanan dan alat-alat masak di dapur. Tak banyak membuang waktu, gadis bermata safir itu langsung menari dengan alat-alat masak yang tersedia. Ia berusaha memasak sehening mungkin, agar yang lainnya tidak terbangun. Gadis itu tahu benar bahwa teman-temannya, terutama para juniornya tengah mengalami kelelahan akut yang disebabkan oleh latihan sparta dadakan tempo hari. Oleh karena itu, ia berusaha agar alat-alat masak yang digunakannya tidak berdentingan.
Meskipun terlihat berkonsentrasi, raut kecemasan tak dapat luput dari wajah gadis bermata safir tersebut. Pagi itu ia mengetuk pintu kamar Hiruma, namun sama sekali tak ada jawaban. Pintu kamar nomor satu itu terkunci rapat, tidak membiarkan seekor lalat pun masuk ke sana. Mamori pikir itu adalah hal yang aneh. Untuk apa Hiruma mengunci diri di kamar semalaman? Dan lagi pemuda bermata emerald tersebut tak memiliki alasan untuk pura-pura menjadi orang hilang—hal itu tidak ada di konsep game yang telah dibuat. Oleh karena itu Mamori agak cemas. Memang ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada komandan neraka tersebut, namun tetap saja keanehan itu membawa firasat yang tidak enak.
Gadis bermata safir itu merenung. Semalam Suzuna sempat menanyakan keberadaan Hiruma padanya, dan ia mulai berpikir bahwa juniornya yang lain cepat atau lambat akan bertanya juga. Tidak mau membuat para juniornya ikut khawatir, gadis bermata safir itu memutuskan untuk tidak mengatakan apapun pada para juniornya, dan bersikap seolah-olah Hiruma bersembunyi di tempat yang tak terlihat dan mengawasi gerak-gerik mereka semua. Ya, untuk saat itu hanya itu yang bisa ia lakukan.
Tak lama berkutat dengan bahan-bahan masakannya, tempat itu telah penuh dengan sampah-sampah dapur. Sebagai orang yang cinta kebersihan, Mamori memungutinya, memasukkannya ke dalam kantung plastik, dan berniat untuk membuangnya ke tempat sampah di belakang villa, tepat di samping kanan pintu belakang villa. Mamori pun memutar kenop pintu itu, lalu menarik pintu itu ke arah dalam.
Bluk
Kantung plastik berisi sampah dapur itu jatuh mengikuti gravitasi bumi. Seketika tubuh gadis bermata safir itu gemetar, lalu ia membekap mulutnya dengan kedua tangannya yang halus.
Tepat di hadapannya, tubuh seorang pemuda tergantung di tiang besi usang seperti bekas ring basket yang berada tepat di atas kusen pintu belakang villa itu. Gadis itu tidak dapat melihat wajah pemuda itu karena tubuh pemuda itu membelakanginya. Namun hanya dengan sekali lihat, gadis bermata safir itu dapat mengetahui siapa pemilik tubuh yang tergantung di balik pintu tersebut. Gadis bermata safir itu jatuh terduduk sebelum akhirnya berteriak—
"Kyaaaa!"
.
The mystery just asking, "Who's next?"
.
| TSUZUKU, |
.
A/N : terima kasih untuk semua yg sudah review chapter tiga, dan maaf saya belum bisa balas satu-satu karena keterbatasan waktu, tapi saya sungguh senang sekali! maafkan keterlambatan saya dalam update, karena banyak faktor teknis maupun non-teknis yang menghambat. dan sang macan baru saja bergerak untuk memburu mangsa-mangsa selanjutnya...
.
| Review? |
