Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata
Fanfiksi ini ditulis untuk kesenangan pribadi semata, bukan untuk mengambil keuntungan secara komersil.
Game inspiration : Running Man © SBS
WARNING! : OOC, typos, charadeath, alter-ego, bloody scene, dan segala keabalan yang lainnya.
.
Dedicated for "Eyeshield 21 Fanfiction Indonesia Awards": Holiday
.
An Eyeshield 21 fanfiction by karin-mikkadhira-,
Someone Behind The Door
['cause we don't know there's another existence behind the door, right?]
.
5th Door : Unstoppable Mystery
.
.
.
Bulu kuduknya berdiri, tubuhnya gemetaran, air mata mulai menggenangi sudut matanya. Gadis bermata safir itu sama sekali tak bisa memercayai apa yang ada di depan matanya. Tangan kirinya membekap mulutnya, dan tangan kanannya menggenggam lengan kirinya erat. Gadis itu berharap semua yang ada di depan matanya hanyalah mimpi buruk yang tak nyata dan akan segera usai. Sungguh, ia membenci perasaan yang menusuk tulangnya saat itu. Rasanya ngilu. Bahkan kalau satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan itu adalah dengan menghilangkan nyawa sendiri, mungkin gadis itu memilih untuk melakukannya, daripada harus menahan rasa ngilu itu untuk waktu yang lama.
"Ada apa?" Ishimaru yang kebetulan saja sedang membuka pintu kamarnya saat Mamori berteriak mulai bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Dengan wajah yang menyiratkan sedikit rasa kantuk, ia menghampiri Mamori yang terduduk di depan pintu belakang villa tersebut.
"A-astaga…." Ekspresi Ishimaru berubah seketika. Pemuda yang jarang sekali menampakkan ekspresinya itu membulatkan matanya, terkejut bukan main. Dirasakan tubuhnya mulai gemetaran, dan bulu kuduknya juga berdiri, sama seperti gadis berambut auburn di depannya yang masih mematung tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Saat itu, Yukimitsu yang terbangun karena teriakan Mamori juga mulai bertanya-tanya. Dalam keadaan masih setengah sadar, ia membuka pintu kamarnya. Awalnya ia berpikir Mamori berteriak karena melihat kecoa, laba-laba, atau jenis hewan lain yang biasanya ditakuti oleh perempuan. Tapi setelah ia melihat Ishimaru yang juga mematung bersama Mamori, pikirannya buyar. Apa gerangan yang membuat kedua temannya tersebut mematung seperti itu?"
"Apa yang kalian laku—" Yukimitsu akhirnya menghampiri kedua temannya yang masih mematung di depan pintu belakang villa tersebut. Tenggorokannya tercekat setelah melihat apa yang kedua temannya lihat sebelumnya. Akhirnya ia mengerti alasan kedua temannya sampai mematung dalam bisu seperti itu, dan sepertinya ia akan menjadi orang ketiga yang melakukan hal serupa.
"Mon … mon … ta?" Sebuah nama meluncur dari bibir Yukimitsu. Nama itu keluar secara refleks dari bibirnya sepersekian detik setelah ia melihat tubuh seorang pemuda yang tergantung membelakanginya dan kedua temannya di balik pintu belakang villa tersebut.
Ya, mayat yang tergantung di sana adalah mayat Raimon Taro, sang ace receiver Deimon Devil Bats.
Bahkan saat nyawanya telah hilang sekalipun, bentuk kakiknya membuat orang-orang tahu bahwa tubuh tak bernyawa itu milik Raimon Taro.
Meski masih shock, Yukimitsu mencoba bicara, "Ki-kita harus me-menurunkan tubuhnya da-dari sana," ujarnya terbata. Ishimaru yang juga masih sedikit linglung akhirnya mengikuti komando Yukimitsu. Pertama-tama Ishimaru mengambil pisau untuk memotong tambang yang melilit leher Monta, lalu ia dan Yukimitsu menurunkan tubuh Monta perlahan, dan membaringkannya di atas lantai. Sambil menggigit ujung bibirnya, Yukimitsu menutup kedua kelopak mata juniornya yang masih membelalak itu. Sementara Mamori yang tak sanggup melihat junior yang memujanya itu dari dekat, mengambil beberapa langkah ke belakang, masih sambil membekap mulutnya. Air mata mulai membasahi pipinya.
"Ke-kenapa bisa begini… Siapa yang tega melakukan ini?" tanya gadis berambut auburn itu di tengah isaknya. Sulit baginya untuk berpikir jernih saat itu. Ketika pikirannya sedang dipenuhi oleh Hiruma yang tiba-tiba saja menghilang, hal mengerikan malah terjadi di depan matanya.
Tunggu—
—Hiruma yang tiba-tiba saja menghilang?
Mamori kembali membelalakkan mata safirnya. Suatu pemikiran yang baru saja melintasi otaknya secara tak sengaja membuatnya semakin kesulitan untuk melihat realita. "Jangan-jangan … Hiruma juga…" celetuk gadis berambut auburn itu tiba-tiba, mengejutkan kedua teman seangkatannya yang masih merenungi kepergian juniornya.
"Jangan bilang kau mau mengatakan bahwa Hiruma mungkin saja mengalami hal yang sama dengan Monta?" tanya Yukimitsu tegas. Aura serius terbaca dari setiap kata yang diungkapkannya, dan terpancar melalui sorot matanya. Sejujurnya, ia juga memikirkan hal yang sama. Bagaimana jika Hiruma juga … meninggal?
"Ta-tapi hal ini tidak masuk akal," ujar Ishimaru mendinginkan atmosfer di antara Mamori dan Yukimitsu yang pikirannya sudah mulai melayang kemana-mana. "Bu-bukankah tidak ada orang lain di pulau ini selain kita? La-lalu siapa?" tanya Ishimaru kebingungan. Agaknya ia bisa membaca situasi yang mulai kacau saat itu.
Mamori dan Yukimitsu kemudian terdiam, memikirkan apa yang baru saja dikatakan Ishimaru. Memang benar, bukankah tidak ada orang lain di pulau itu selain mereka? Bukankah tempo hari saat mereka datang ke pulau itu untuk mengadakan survei, mereka sudah memastikan bahwa pulau itu benar-benar bersih dari manusia? Kalau begitu, siapa? Siapa yang berani melakukan hal yang sekejam ini pada mereka? Tanpa diteliti oleh para ahli pun mereka sudah bisa menyimpulkan bahwa kasus ini adalah pembunuhan. Kecelakaan? Sangat tidak mungkin sekali banget—versi bahasa tidak efektifnya. Bunuh diri? Tidak mungkin, sama sekali tidak ada motif maupun bukti penting yang menunjukkan bahwa kasus itu adalah bunuh diri—seperti kursi yang dipakai sebagai pijakan untuk gantung diri. Satu-satunya opsi yang tersisa hanya pembunuhan, meskipun mereka hampir seratus persen yakin bahwa tidak ada orang selain anggota Deimon Devil Bats yang saat itu berada di pulau itu.
Ketiga siswa kelas tiga tersebut mulai saling memandang dengan pandangan sedikit curiga. Dalam pikiran mereka masing-masing, kata pembunuhan tengah menjadi center of interest dibanding topik-topik yang lain. Dan saat itu mereka bertiga berpikir: jika di pulau ini benar-benar tidak ada siapapun selain kami, lalu siapa yang menyebabkan seluruh kekacauan ini? Masa … salah seorang di antara anggota Deimon Devil Bats? Rasanya hampir tidak mungkin, karena sama sekali tidak ada motif. Kalau begitu, apa maksud dari semua ini?
"Ti-tidak, tidak, tidak, tidak mungkin," ujar Mamori Anezaki sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa bahwa kedua temannya juga berpikiran sama dengannya: salah satu anggota Deimon Devil Bats adalah pelakunya.
Yukimitsu menatap Mamori desperate. "Tapi kita tidak memiliki kemungkinan lain yang bisa menjawab kasus ini—"
"Kasus apa?" Suara seorang gadis mengejutkan ketiga siswa kelas tiga yang masih ber-brainstorming ria di tempat kejadian perkara. Perhatian gadis berambut biru itu tertuju pada ketiga seniornya, belum menyadari akan keberadaan raga tak bernyawa yang terbaring di antara para seniornya. Langkah kaki mungilnya mulai menuruni tangga, sampai pada akhirnya ia jatuh terduduk di anak tangga keempat yang baru saja dipijaknya.
"E-eh? Mo-Monta?" Bibirnya gemetaran, suaranya gemetar. Gadis berambut biru itu sama sekali blank dengan apa yang ada di hadapannya. Kepalanya mendadak berat karena seluruh sel-sel otaknya bertanya: "Ada apa dengan Monta? Kenapa dia terbaring di situ dengan tubuh yang membiru?"
Dengan cepat Mamori menghampiri Suzuna yang mematung seketika. gadis berambut auburn itu mendekap Suzuna erat, lalu memutar badannya sedikit agar mata Suzuna tidak tertuju kepada Monta. Bisa dirasakannya tubuh Suzuna sangat gemetar. Gadis berambut auburn itu hanya bisa memeluk Suzuna dalam bisu, sampai akhirnya tangis mereka pecah, mengungkapkan kesedihan dari lubuk hati mereka masing-masing.
Sementara kedua pemuda yang berada di sana hanya bisa membisu, tidak tahu harus berbuat apa. Ishimaru hanya berdiri mematung, sementara Yukimitsu duduk dengan kepala yang tertunduk dalam. Apa yang terjadi pagi itu benar-benar mengacaukan otak mereka semua. Bahkan saat keenam siswa kelas tiga merapatkan rencana liburan itu, dan memikirkan skenario terburuk dimana ada yang hampir tenggelam di laut, atau pingsan karena sesuatu, mereka tidak berpikir itu akan terjadi. Mereka memang berjaga-jaga, namun sebenarnya mereka sembilan puluh persen yakin bahwa perkiraan terburuk mereka tidak akan terjadi. Ya, setidaknya begitu—sampai pagi itu tiba. Kejadian yang benar-benar di luar perkiraan terjadi. Bahkan saat mereka melihat dengan mata kepala sendiri, mereka masih berharap bahwa semuanya hanyalah mimpi buruk. Kata 'meninggal', 'terbunuh', 'mati', dan sebagainya tidak ada dalam kamus Yukimitsu dan Ishimaru sebelumnya.
"Ke-kenapa kalian menangis?" Tiba-tiba saja Kurita muncul dari balik pintu kamarnya yang berlukiskan Aquarius. Ia menghampiri teman-temannya yang kelihatannya sedang mengelilingi seseorang yang berbaring di lantai dapur. Kemudian ia tertegun saat melihat pemuda yang sangat dikenalnya terbujur kaku di sana.
"Mo-Monta? Ke-kenapa dia tidur di sini?" tanya Kurita tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia meraih lengan Monta dan menggoyang-goyangkannya, mencoba membangunkan Monta dari tidur lelapnya tanpa mengetahui fakta bahwa Monta tak mungkin bangun.
"Hentikan," ujar Yukimitsu seraya menahan tangan Kurita untuk menggoyang-goyangkan lengan Monta. Kurita hanya menatap Yukimitsu bingung, benar-benar no idea terhadap hal yang sudah terjadi. Tak mampu mengatakan hal yang sebenarnya begitu saja, Yukimitsu hanya menggeleng, lalu menoleh ke arah Monta. Kurita diam, mencoba mencerna bahasa isyarat yang diberikan oleh Yukimitsu. Perlu beberapa detik sampai sel-sel otaknya dapat menerjemahkan bahasa isyarat itu sebagai kalimat: ia sudah tidak ada.
Saat ia sadar akan apa yang terjadi, pemuda tambun itu juga hanya bisa mematung seperti yang lainnya. Air mata menggenang di sudut matanya, namun tidak jatuh, ia tidak bisa mengeluarkan tangisannya seperti Mamori dan Suzuna. Justru rasa sakit di dadanya yang menahan semua itu.
"Apa yang terjadi?" Suara seorang pemuda terdengar dari arah tangga. Seorang pemuda berambut keperakan dan pemuda bermata hazel menuruni tangga bersama. Kebetulan mereka bangun pada saat yang bersamaan dan bertemu di tangga saat mereka memutuskan untuk turun karena mendengar keributan kecil. Mereka hanya menatap bingung Mamori dan Suzuna yang masih saling merangkul dan terduduk di anak tangga keempat, belum ngeh dengan adanya tubuh yang terbujur kaku di lantai. Tubuh itu terhalang oleh Kurita sehingga tidak begitu terlihat dari sudut pandang pemuda berambut keperakan dan pemuda bermata hazel tersebut.
"Ada apa ini?" Pemuda berambut keperakan tersebut bertanya lagi seraya mendekati ketiga pemuda yang mengelilingi tubuh kaku tersebut. "Astaga," ujarnya tepat saat melihat wajah pemilik tubuh yang terbujur kaku tersebut. Sementara pemuda bermata hazel yang mengekor di belakangnya juga langsung mematung. Kedua kaki kecilnya gemetaran seakan tak mampu menyangga berat tubuhnya lagi. Seluruh otot tubuhnya terasa mengejang dan sulit digerakkan. Wajar saja ia bereaksi seperti itu, yang ada di depan matanya adalah jasad sahabat baiknya sendiri, tentu ia akan lebih shock daripada yang lainnya.
Juumonji yang masih menahan ekspresinya—tidak seterkejut yang lain—meletakkan lengannya di bahu Eyeshield 21. Ia menjaga agar pemuda bermata hazel itu tidak jatuh, karena ia dapat merasakan tubuh pemuda bermata hazel itu semakin berat. Pemuda berambut keperakan itu juga merasakan bahwa kepalanya semakin berat. Apa yang ada di depan matanya terlalu sulit untuk dicerna gyrus-gyrus otaknya. Sebelumnya yang ada di kepalanya hanya teka-teki tempat persembunyian harta karun, namun sekarang hal lain lagi masuk ke otaknya. Bukan, bukan perasaan sedih atau kaget yang teramat sangat yang dirasakannya. rasanya lebih seperti—sebuah misteri lain yang menunggu untuk dipecahkan.
"Kita harus menelepon polisi," ujar pemuda berambut keperakan itu tenang. Benar, yang dipikirkannya adalah bahwa kasus kejahatan telah terjadi di hadapan matanya, dan tentu saja langkah pertama yang harus dilakukan adalah melaporkannya kepada pihak yang berwajib.
"Tidak bisa. Tidak ada sinyal di villa ini. Telepon juga tidak ada. Kita hanya bisa menggunakan telepon satelit yang dibawa Hiruma," balas Yukimitsu. Benar, sejak awal memang tidak ada sinyal yang tertangkap di pulau itu.
Juumonji terdiam sejenak. "Benar, di mana dia?"
Seketika jantung seluruh siswa kelas tiga yang ada di ruangan itu berdetak semakin cepat. Kemarin mereka sudah sepakat untuk menutupi hilangnya Hiruma dari para junior. Namun apa daya, bagaimanapun bangkai disembunyikan, pasti baunya akan tercium juga. Lagipula ini benar-benar masalah yang urgent. Ada seseorang yang terbunuh, dan para senior tidak mungkin lagi menutup-nutupi hilangnya Hiruma.
"Dia menghilang sejak kemarin. Kami juga tidak tahu di mana dia. Semua alat komunikasi yang bisa digunakan, juga kunci cadangan semua ruangan di villa ini dipegangnya," ujar Mamori. Gadis auburn itu menundukkan kepalanya dalam, menyesali segala yang telah terjadi.
"Dia hilang?" ujar Juumonji agak terkejut. Segera area kelabu di otaknya nekerja memproses seluruh informasi yang bagus. Spekulasi-spekulasi mulai bermunculan di pikiran Juumonji. "Kalau begitu bisa jadi dia—"
"Yang melakukan semua ini." Yukimitsu melanjutkan kalimat Juumonji. Meskipun ia tidak begitu yakin, namun yang paling patut dicurigai adalah sang komandan neraka yang menghilang tiba-tiba. Rasanya hampir mustahil jika orang lain melakukannya.
"Bagaimana bisa kau bilang begitu di saat seperti ini?" bentak Mamori. Pikiran gadis auburn itu juga kacau, tapi ia tidak suka jika orang-orang sudah mulai mencurigai orang lain. Salah satu teman mereka terbunuh, dan saling mencurigai hanya membuat perasaan semakin tidak nyaman.
"Menurutku walaupun kita tidak punya motif, kita juga sama-sama tidak punya alibi yang kuat. Semua orang bisa membunuh Monta," ujar Juumonji tenang. Sampai saat itu ia yang paling berkepala dingin, memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi.
"Aku bersumpah aku tidak tahu kapan Monta keluar kamar. Saat aku terbangun tadi pagi, Monta sudah tidak ada, dan pintu kamar tidak terkunci." Pemuda bermata hazel teman sekamar Monta tersebut mengungkapkan kesaksiannya. Ia bahkan menggunakan kata sumpah yang jarang sekali digunakannya. Meskipun pemuda hazel itu terlihat jujur, tetap saja ia tidak memiliki alibi yang kuat.
"Kita tidak bisa diam saja kalau benar ada seseorang di sini yang telah menghilangkan nyawa teman kita," ujar Yukimitsu berusaha bijak.
"Kalau begitu sebaiknya kita segera beritahukan hal ini kepada yang lain," ujar Juumonji.
"Siapa yang belum ada di sini?" Mamori celingukan, mencari siapa yang belum ada di ruangan itu. Ia pikir semuanya telah berkumpul sejak tadi, ternyata ada tiga orang yang belum ada di ruangan tersebut.
"Kuroki, Togano, dan Taki," jawab Ishimaru.
"Biar aku saja yang membangunkan mereka." Pemuda berambut keperakan itu menawarkan diri. Sebenarnya ia berharap akan menemukan petunjuk lain di balik misteri-misteri yang terus berlanjut itu. Somehow, ia juga masih memikirkan teka-teki tempat persembunyian harta karun yang belum terpecahkan.
Di saat yang sama, Kuroki dan Togano yang bersama-sama menghuni kamar nomor sembilan di lantai tiga, bersiap-siap untuk meninggalkan kamar mereka. Sebenarnya mereka sudah bangun sejak tadi, namun mereka tidak mendengar ribut-ribut di bawah, sehingga mereka belum keluar kamar. Tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mereka yang sama sekali belum menemukan clue menuju tempat persembunyian harta karun itu membangunkan jiwa berburu mereka. Mereka mencari-cari clue di dalam kamar mereka sendiri. Hebatnya, secara tidak sengaja Togano menemukan sebuah kunci yang ditempel di dalam mahkota lampu tidur yang berebntuk bunga, ditutupi dengan stiker Devil Bat. Mereka berspekulasi bahwa kunci tersebut adalah kunci salah satu kamar yang tidak digunakan. Akhirnya mereka mencoba kunci itu ke setiap kamar kosong di lantai tiga, namun hasilnya nihil. Lalu mereka pun mencoba di lantai dua. Mereka menuju kamar nomor tujuh di lantai dua, dan ternyata berhasil membuka pintu kamar tersebut. Tepat saat Kuroki dan Togano masuk ke kamar nomor tujuh, Juumonji naik ke lantai tiga.
"Kurasa di dalam sini ada petunjuk yang lain," ujar Kuroki sambil berbisik-bisik begitu masuk ke kamar nomor tujuh tersebut.
"Ng? Bau apa ini? Kau menciumnya tidak?" tanya Togano setelah hidungnya mencium aroma yang asing, seperti aroma citrus. Kuroki mencoba mengendusnya juga, lalu ia melihat sesuatu di atas tempat tidur.
Seseorang berbaring di atas tempat tidur itu, ditutupi oleh bed cover sampai ke lehernya. Sementara kepalanya ditutupi oleh kain putih. Kuroki dan Togano sama-sama mengenali orang itu dari telinga dan rambutnya yang masih terlihat. Bingung, mereka mencoba menyingkap kain putih dan bed cover yang menutupi tubuhnya. Sampai akhirnya mereka menyadari, orang itu sudah tidak bernyawa. Pakaiannya diwarnai oleh darah yang sudah mengering. Sontak Kuroki dan Togano gemetar hebat.
"Ha…"
"Haaaa?"
Saat itu, Juumonji yang menawarkan diri untuk membangunkan Kuroki, Togano, serta Taki memutuskan untuk berbelok ke kanan ketika ia sampai di ujung tangga. Kakinya membawanya ke depan pintu kamar nomor sepuluh, dengan lukisan timbangan yang mewakili Libra di sana. Ia mengetuk pintu itu sekali, tak ada jawaban. Dua kali, masih hening. Tiga kali, pintu itu bergeming. Perlahan pemuda berambut keperakan itu meraih kenop pintu bernomor sepuluh, dan dalam sekejap langsung menyadari bahwa pintu itu tidak terkunci setelah memutar kenopnya sedikit. Mengangkat sebelah alisnya, ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja ke kamar kakak dari Suzuna Taki tersebut.
"Hei Taki, aku masuk—"
Brugh
Pemuda berambut keperakan itu jatuh terjengkang tepat setelah ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu sebanyak dua langkah. Matanya menangkap bercak darah. Dan hanya dengan melihat kaki yang tergolek di lantai, ia bisa memastikan bahwa hal buruk lain telah terjadi.
Benar.
Malam itu, malam dimana Monta kehilangan nyawanya, dia tidak berhenti. Dia belum puas hanya dengan satu mangsa. Malam itu, awalnya dia mengincar nyawa Eyeshield 21. Namun kemudian dia berpikir, bukankah tidak menarik jika kedua orang itu terbunuh bersamaan? Maka dia mengubah targetnya. Di antara kamar lain, hanya kamar Sena dan Taki yang tidak terkunci. Menghindari Eyeshield 21, dia mengincar nyawa Taki. Taki yang benar-benar defenseless bahkan tidak sempat terbangun saat dia menyerangnya. Ketika Taki membuka mata, mungkin ia telah berada di dunia yang lain.
"B-brengsek," ujar Juumonji terbata.
Dan dia bersiap-siap untuk menutup tirai dari opera yang dia sutradarai….
.
The mystery is getting ready to bring down its curtains...
.
| TSUZUKU, |
.
A/N : mohon maaf atas keterlambatan update, karena saya ketiduran kemarin T.T ini chapter lima, dan chapter final akan segera saya publish. membalas sedikit review dari chapter tiga, yang pertama, fic ini tidak akan naik rate, karena saya tidak akan menampilkan adegan gore. yang kedua, memang benar, Cancer adalah zodiak keempat, namun saya tidak mengurutkan kamar 1-13 dengan Aries sebagai zodiak pertama :)) saya mengikuto urutan bulan mulai dari Januari-Desember, jadi kamar 1-13 dimulai dari Capricorn-Sagitarius, ditambah Ophiucus :)) untuk yg penasaran siapa pelakunya, tunggu sebentar lagi ya ^ ^/ terima kasih atas segala apresiasi!
.
| Review? |
