Disclaimer : Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Fanfiksi ini ditulis untuk kesenangan pribadi semata, bukan untuk mengambil keuntungan secara komersil.

Game inspiration : Running Man © SBS

WARNING! : OOC, typos, charadeath, alter-ego, bloody scene, dan segala keabalan yang lainnya.

.

Dedicated for "Eyeshield 21 Fanfiction Indonesia Awards": Holiday

.

An Eyeshield 21 fanfiction by karin-mikkadhira-,

Someone Behind The Door

['cause we don't know there's another existence behind the door, right?]

.

6th Door : Over Expectation

.

.

.

Suasana di ruang depan area kiri sungguh suram dan tidak mengenakkan. Satu setengah jam berlalu setelah kesembilan penghuni villa yang tersisa menemukan jasad ketiga teman mereka. meskipun begitu, raut kebingungan, kesedihan, dan ketakutan masih terpancar dari wajah mereka masing-masing. Mereka duduk di sofa lingkaran dengan kepala tertunduk, mata yang sembab, dan kepala yang berat. Kehilangan satu orang saja sudah membuat mereka hancur. Penemuan dua jasad teman mereka yang lain membuat hati mereka bagai dibakar sampai menjadi abu, tak bersisa. Saat mereka menemukan jasad pertama, mereka masih bisa berharap bahwa yang mereka lihat hanyalah mimpi buruk. Namun setelah jasad kedua dan ketiga ditemukan, mereka semakin yakin bahwa mereka berdiri di dunia nyata. Bahwa kematian yang berada di dekat mereka adalah nyata. Bahwa mereka terkurung di sebuah pulau dengan pembunuh yang berkeliaran adalah nyata.

Melihat ketiga jasad yang telah ditemukan, seseorang yang membunuh mereka bukanlah seorang profesional, namun cukup terampil—dan tentunya tidak berperasaan. Sang pelaku tidak melakukan aksinya secara bersih—maksudnya ia meninggalkan jasad begitu saja tanpa mengaturnya agar terlihat seperti kecelakaan, atau bunuh diri. Singkatnya, sang pelaku langsung menunjukkan kepada orang-orang yang tersisa bahwa ia ada di sekitar mereka. Dan bisa saja, ia masih mencari mangsa selanjutnya.

Semakin lama suasana di ruangan itu semakin canggung. Sekian menit berlalu, dan tak ada satupun yang mengeluarkan suaranya. Kesembilan orang yang tersisa tenggelam dalam pemikirannya masing-masing, tidak tahu harus berbuat apa. Meskipun mereka berusaha untuk tidak memikirkan tentang pelaku pembunuhan kejam itu, namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka saling mencurigai. Mereka tahu, bahwa kalaupun salah seorang dari mereka adalah pelakunya, motifnya tetap menjadi misteri. Siapa, dan untuk apa sang pelaku melakukan teror ini? Apa yang didapatkannya setelah berhasil membuat kekacauan dengan menghilangkan alat komunikasi yang ada, membunuh beberapa orang, dan membuat yang tersisa saling mencurigai, dan bahkan bisa saja berujung dengan saling serang karena keinginan untuk survive? Tidak ada satupun dari kesembilan orang itu yang bisa mengerti.

"Kita terpaksa menunggu sampai besok pagi." Gadis beriris safir itu angkat bicara, memecahkan keheningan yang ada. Benar, mereka tidak bisa lari kemana-mana, hanya bisa menunggu sampai kapal yang akan membawa mereka pulang datang.

"Tenang saja, tidak lebih dari dua belas jam lagi kita akan pulang," ujar gadis beriris safir itu setelah melirik ja dinding yang menunjukkan pukul sembilan kurang sepuluh menit. Tangan kirinya mengelus punggung Suzuna yang terlihat masih shock. Gadis berambut biru itu tak mampu mengontrol dirinya setelah melihat jasad kakaknya secara langsung. Gadis itu bingung, entah apa yang akan dikatakannya kepada orang tuanya nanti setelah ia berhasil pulang dengan selamat.

"Lebih baik kita tidak berpencar-pencar selama dua belas jam ini. Lebih baik kita terus berada di sini, dan saat malam tiba jangan kembali ke kamar masing-masing, berkumpul saja di kamar-kamar bawah." Juumonji mengomandoi. Sejak tadi memang hanya Juumonji yang dapat berpikir dengan kepala dingin. Tanpa memedulikan bahwa ia adalah adik kelas, kedelapan rekannya menuruti saja apa yang dikatakannya. Di tengah-tengah pikiran mereka yang sedang irasional, hanya perkataan Juumonji-lah yang terdengar rasional.

"Kalau bisa … ada juga yang berjaga di sini." Eyeshield 21 juga angkat bicara. Pemuda beriris hazel itu bukanlah seorang yang mudah mendendam, namun ia sama sekali tak bisa memaafkan perbuatan siapapun yang telah menghabisi ketiga orang temannya.

Kedelapan penghuni lain yang tersisa hanya diam. Tak banyak yang mengangguk kecil menyetujui apa yang telah rekannya katakan. Tentu saja cara paling aman adalah terus bersama. Karena jika memang salah seorang di antara mereka adalah pelakunya, ia tentu takkan bisa berbuat apa-apa. Meskipun ia pembunuh, namun ia takkan berdaya menghadapi delapan orang. Semua orang yang ada di ruangan itu juga tahu, walaupun sang pelaku bukan orang yang profesional, namun ia tidak bodoh. Terus saling menjaga sampai dua belas jam ke depan adalah cara yang terbaik.

Sementara yang lain tenggelam dalam pikirannya masing-masing, pemuda berambut perak itu mulai berjalan mondar-mandir. Ia tidak bisa berpikir dalam satu posisi yang sama. Meskipun berusaha untuk tidak memikirkannya, namun berbagai spekulasi terus bermunculan di otaknya Beberapa saat yang lalu, ia sempat menanyakan perihal clue yang sudah ditemukan oleh teman-temannya yang lain, lalu ia mencatat dan mengingatnya. Saat ini clue-clue tersebut muncul silih berganti di otaknya seperti slideshow. Bukanlah waktu yang tepat memang untuk memikirkan harta karun di saat ada tiga orang yang terbunuh, namun alam bawah sadarnya yang haus akan teka-teki memaksanya untuk mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Sebenarnya ia juga ingin menanyakan apakah ada orang yang berperilaku aneh di antara mereka yang masih tersisa, naming ia mengurungkan niatnya karea dirasanya waktunya tak tepat. Menanyakan hal seperti itu sama saja dengan membuat orang-orang saling mencurigai.

Morning Glory, angka 12 dalam lingkaran, naga, tanda panah beserta alphabet S dan angka 3, π (phi), serta kunci pintu kamar nomor tujuh. Apa hubungan dari semua petunjuk ini? Juumonji membatin, otaknya sungguh tak bisa lepas dari teka-teki yang belum terselesaikan.

"Aku, minta izin untuk ke atas sebentar," ujar Juumonji seraya meninggalkan kedelapan kawannya yang masih membisu. Sontak semua mata tertuju padanya yang dengan cepat meninggalkan ruang depan area kiri menuju lorong yang menghubungkan ruang depan dengan ruang makan dan dapur dimana tangga menuju lantai atas terletak. Beberapa tatapan dingin mengekor punggung Juumonji.

"Kupikir,"

"Dialah pembunuh itu," ujar dua pemuda tersebut setelah langkah kaki Juumonji tak terdengar lagi, membuat seluruh mata yang tadi masih mengekor Juumonji kini tertuju pada mereka berdua.

"Bukankah aneh,"

"Ia tiba-tiba saja memerintah kita melakukan ini-itu,"

"Bukankah itu untuk menutupi,"

"Perbuatan yang telah dilakukannya?" ujar Togano dan Kuroki bergantian dengan nada dingin. Enam orang lainnya hanya bisa terperangah mendengar dugaan kedua Haha Brothers tersebut. Tak ada satupun yang menyangka bahwa kedua orang itu akan mencurigai saudaranya sendiri, sahabat mereka yang terus bersama mereka selama lebih dari satu tahun. Dibanding dengan kematian tiga orang sebelumnya, keenam orang tersebut lebih tak memercayai apa yang baru saja mereka dengar. Mencurigai Juumonji sebagai pembunuh, agaknya terlalu berlebihan? Apalagi sesama Haha Brothers sendiri yang mencurigainya.

"Yang benar saja?" Menjadi orang pertama yang merespon perkataan Togano dan Kuroki, pemuda beriris hazel itu bangkit dari duduknya dan berbicara dengan nada tinggi. Sesungguhnya ia juga memikirkan ini-itu, tapi ia berusaha sekuat tenaga agar tidak mencurigai seorang pun. betapa tidak percayanya ia saat mendengar Haha Brothers mengatakan hal semacam itu. Entah apa yang telah merasuki pikiran mereka sampai-sampai mereka berpikir seperti itu.

"Kumohon tenanglah," ujar Mamori menenangkan, "di saat seperti ini kita harus tetap tenang dan saling percaya. Jangan menuduh orang lain seperti ini…." Air mata mulai menggenang lagi di sudut matanya.

Pemuda beriris hazel itu menuruti apa yang dikatakan oneesan-nya. Ia menarik napasnya, mencoba menahan hawa nafsunya. Sementara Togano dan Kuroki kembali diam tanpa mau memandang keenam orang lain yang duduk di atas sofa yang sama. Inilah ujian sebenarnya. Andai mereka sedang ada di sebuah variety show, maka inilah ujian yang sebenarnya. Momen terburuk bukanlah saat mereka menemukan jasad temannya, atau kabur dari kejaran sang pelaku, namun saat mereka mulai saling mencurigai dan tak ada seorang pun yang bisa membaca pikiran mereka.

Sementara itu, Juumonji yang meminta izin untuk pergi ke lantai atas sebentar, akhirnya tiba di depan pintu berlukiskan kepiting tersebut. Ia memutar kenop pintu perlahan, lalu masuk ke dalam tanpa suara seperti seorang pencuri. Tempat tidur yang masih penuh dengan noda darah kering itu diabaikannya. Pemuda berambut keperakan tersebut berusaha tidak mengingat apa yang ia lihat di atasnya beberapa jam yang lalu. Tepat setelah ia menemukan jasad Taki, ia pergi ke kamar ini karena sempat mendengar keributan. Dan jasad sang komandan neraka yang terbaring di sana—

—ah, ia tidak mau mengingatnya lagi. Ia punya alasan khusus mengapa ia kembali ke kamar itu. Setelah sel-sel otaknya memproses informasi yang didapatkannya, salah satunya adalah clue berupa kunci kamar tempatnya berada, ia berasumsi bahwa kunci itu bukan menunjukkan tempat yang sebenarnya, karena clue yang lain sama sekali tidak mengacu ke sana. Yang ada di pikirannya adalah, bahwa ada clue penting yang terdapat di kamar tersebut. Dan terlepas dari adanya pembunuh yang berkeliaran, otak Juumonji hanya menginginkan penyelesaian dari setiap teka-teki. Oleh karena itu, walaupun setelah kasus yang terjadi para kakak kelas mungkin akan memberitahu secara Cuma-Cuma tempat persembunyian harta karun beserta isinya, otak pemuda berambut keperakan itu tetap ngotot ingin menyelesaikan teka-teki itu sendiri.

Kedua tangannya yang cukup berotot mulai mencari-cari stiker Devil Bat di setiap celah. Pemuda berambut keperakan itu mencari dengan cepat dan teliti. Sampai tak berapa lama, matanya menangkap warna merah dari stiker Devil Bat di dalam tangki kloset duduk di kamar mandi—saking seriusnya mencari, ia sampai mencari di sana. Dan benda yang ditemukannya membuatnya sedikit terkejut. Ia menemukan dua buah kunci dengan struktur yang berbeda. Bukan sebuah titik terang terang baginya, karena ia berharap menemukan clue yang menggambarkan tempat persembunyian hartanya, bukan kunci lain yang memaksanya untuk mencari di ruangan lain. Karena ia yakin, kunci-kunci itu bukanlah kunci ruangan persembunyian harta. Atau kalaupun kunci-kunci itu merupakan kunci ruangan persembunyian harta, maka harta karun itu sendiri takkan mudah ditemukan. Tidak mungkin top three Deimon secara konyol menaruh harta karun tersebut tepat di depan pintu ruangan. Kemudian Juumonji memutuskan untuk menghentikan pencarian sejenak agar tidak terlalu dicurigai teman-temannya karena pergi terlalu lama.

.

—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—

.

Dia meregangkan tangannya. Membiarkan sendi-sendi tulangnya bergemeretak menunjukkan rasa lelah. Namun tentu saja dia tidak benar-benar lelah. Dia justru merasa bahwa istirahatnya sudah cukup. Dia sudah memutuskan untuk bergerak sebelum fajar terbit esok hari. Dia belum puas hanya dengan tiga orang. Dia ingin sesuatu yang lebih. Dia ingin mencuri nyawa lebih banyak lagi. Dia merasa permainan akan semakin menarik dengan orang-orang yang mulai berasumsi ini-itu. Dengan tatapannya yang dingin, dia hanya akan menjadi penonton sebelum waktunya tiba bagi babak akhir untuk naik ke atas panggung.

.

—Someone Behind the Door © karin-mikkadhira—

.

Malam telah tiba, dan siang pun telah berlalu. Suasana berubah seketika saat matahari sudah benar-benar kembali ke peraduannya. Ketegangan mulai memuncak ketika malam datang. Bagaimanapun juga mereka tidak boleh melepaskan pengawasan sampai kapal penjemput benar-benar tiba. Nyawa adalah taruhannya.

Mereka bersembilan masih berkumpul di ruang depan. Rencananya mereka akan mulai masuk ke kamar pukul sembilan malam. Kamar yang digunakan adalah ketiga kamar yang ada di lantai satu. Karena posisi kamar yang saling berhadapan merupakan keuntungan bagi mereka, tidak akan sulit untuk meminta tolong pada kamar di seberang ketika terjadi sesuatu. Setelah dibicarakan siang tadi, mereka memutuskan agar Suzuna dan Mamori menempati kamar nomor empat. Di hadapannya, kamar nomor tiga, akan dihuni oleh Ishimaru dan Haha Brothers, sementara kamar nomor dua yang terletak di samping kamar nomor empat (struktur unik villa itu menempatkan seluruh nomor ganjil di bagian kiri, dan nomor genap di bagian kanan) dihuni oleh Yukimitsu, Kurita, dan Sena. Kamar nomor satu yang pada akhirnya didobrak, digunakan untuk menyimpan ketiga jasad yang ditemukan sebelumnya.

Menit demi menit berlalu, dan suasana semakin suram. Keheningan yang begitu kentara malah membuat suasana semakin menyeramkan. Walaupun tahu begitu, tak ada satupun yang mau membuka mulutnya. Ketegangan telah mengunci semua bibir di ruangan itu.

Sementara itu Juumonji yang mendapat sedikit—bukan, banyak pencerahan, sedang bingung dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya. Ia tidak mau banyak bergerak, karena tadi Sena sempat bilang padanya, bahwa ada beberapa orang yang mencurigai dirinya. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak banyak bicara atau bergerak dulu untuk menghilangkan kecurigaan. Mungkin ia baru akan bergerak setelah fajar tiba. Karena malam hari adalah waktu yang sangat rentan bagi mereka sekarang, jadi ia sebisa mungkin menahan hasrat detektifnya sampai fajar tiba. Sebenarnya ia ingin segera memastikan pemikirinnya yang delapan puluh persen ke atas pasti benar. Ya, karena Juumonji telah memecahkan teka-teki tempat persembunyian harta karun itu.

"A-aku ingin ke kamar mandi dulu," ujar Ishimaru tiba-tiba, membuyarkan Juumonji yang sedang memikirkan teka-teki tempat persembunyian harta karun tersebut. Tak lama kemudian pemuda tipis tersebut menghilang di balik dinding lorong. Memang mereka sudah menyepakati peraturan bahwa, mereka boleh meninggalkan ruang depan, tapi sendirian dan kepergiannya disaksikan oleh kedelapan orang yang lain, begitu kira-kira isi perjanjian yang dibuat siang tadi.

Tak lama kemudian Ishimaru kembali. Suasana menjadi lebih tegang setelah itu.

Teng … teng … teng … teng … teng … teng … teng … teng … teng …

Lonceng dari jam klasik di ruang makan telah berdentang sembilan kali. Pertanda mereka harus segera masuk ke kamar. Kali ini dengan komando Yukimitsu yang segera berdiri, yang lain pun mengikutinya yang berjalan menuju lorong. Mereka berjalan dengan perlahan, benar-benar seperti pencuri yang tak ingin membangunkan pemilik rumah. Mereka melangkah, satu, dua, tiga…

Pats!

"Ada apa ini?"

"Semuanya tetap tenang!"

"Kyaaa!"

Kepanikan terjadi segera setelah tiba-tiba aliran listrik mati. Kegelapan total menyelimuti kesembilan orang yang tersisa. Tak pernah terpikirkan di benak mereka bahwa aliran listrik akan mati seperti ini. Benar-benar total chaos. Ke manapun mereka menoleh, yang terlihat di sana hanya kegelapan. Kepanikan total yang melanda membuat mereka berteriak-teriak secara random. Sulit untuk mengetahui posisi satu sama lain hanya dengan mengandalkan suara. Ada yang hanya diam karena tidak berani menggerakkan satu jari pun, dan ada pula yang mulai mereba-raba dalam gelap karena tidak tahu harus berbuat apa. Semua perintah-perintah yang keluar rasanya terabaikan. Seketika sang kegelapan membawa serta ketakutan dan teror bersamanya.

"Jangan ada yang berjalan! tetap diam di tempat!" komando Juumonji dengan suara keras. Namun apa daya, kekacauan tidak segera mereda meski volume suara mereka makin mengecil.

Dan dalam kegelapan itu, dia memanfaatkan segala kesempatan yang ada. Tak lain tak bukan hanya dia yang memanggil sang kegelapan untuk membantunya. Dia juga sama seperti yang lain, tidak bisa melihat dalam gelap. Namun dia tidak peduli, karena dia tidak menentukan targetnya. Siapapun yang tercapai oleh tangannya, maka ialah yang akan segera kehilangan nyawanya. Diselimuti oleh kegelapan yang amat pekat, dia mulai bergerak.

"Argh! Le-lepaskan!" teriak seseorang dalam kegelapan. Menimbulkan kepanikan yang sebelumnya sempat mereda.

"Ada apa?"

"Argh … ngggh!"

Blugh

Dan hanya itu yang terdengar.

"Sial! Tetap tenang semuanya! Kalau bisa merapat—" Tapi tidak mungkin! Bagaimanajika seseorang yang berada di dekat kami adalah sang pembunuh? ujar Juumonji lagi. Ia juga panik saat itu.

"Ergh! A-argh…."

Lagi. Suara kesakitan itu terdengar lagi. Dia membidik korban selanjutnya. Dan tak terdengar apapun lagi sesaat setelah itu. Hanya suara orang jatuh, dan kembali sunyi. Hanya suara tangisan Suzuna, Mamori, dan Kurita yang terdengar.

"Tetap tenang! Sebisa mungkin hindari sentuhan apapun!" Juumonji masih menjadi kepala komando operasi dalam kegelapan tersebut. Beberapa saat suasana menjadi hening, sampai—

"Kyaaa!"

Sreeek … sreek …

Suara teriakan seorang gadis—Mamori Anezaki—terdengar bersama suara seperti sesuatu yang diseret. Seketika kepanikan berubah menjadi kekacauan total. Dia tidak tanggung-tanggung memilih korbannya saat itu. Sang malaikat pun menjadi korbannya.

"Anezaki!"

"Kak Mamori!"

Orang-orang yang tersisa berusaha untuk memanggil Mamori, namun suara Mamori semakin menjauh dalam kegelapan yang menyelimuti mereka. Beberapa dari mereka dengan jenius menggunakan layar ponsel yang menyala untuk setidaknya mencari jalan. Dan pemuda berambut perak itu memimpin. Sambil berusaha menjaga layar ponselnya agar tetap menyala, ia juga mencoba mengikuti suara seperti barang yang diseret itu. Ia mengejar suara itu bermodalkan ponselnya yang sebenarnya tidak begitu membantu. Setelah beberapa kali menabrak dinding, akhirnya ia berlari bebas menelusuri lorong yang menuju ruang makan dan dapur. Sesampainya di ruang makan, ia mendengar suara pintu dibuka, dan dalam sekejap angin malam yang menusuk tulang menyeruak masuk dari pintu belakang villa yang terbuka. Dengan mengikuti glowy sticker Devil Bat yang menuju pintu belakang, ia berhasil keluar dari villa dan kini berusaha untuk mengejar jejak sang pelaku. Sampai pada akhirnya ia melihat cahaya dari sebuah lentera kecil yang tergantung di depan pintu dari sebuah bangunan berbentuk lingkaran tak jauh dari pintu belakang villa. Tempat itulah yang seharusnya ia tuju tadi.

Setelah menemukan tubuh Mamori yang tergeletak di depan pintu bangunan itu dengan darah segar yang masih mengalir dari nadi lehernya, pemuda berambut keperakan itu berwaspada. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum tangannya mengulurkan sebuah kunci yang dimasukkan ke lubang kunci pintu tersebut.

Benar. Salah satu kunci yang ditemukannya siang tadi adalah kunci bangunan kuil tua itu.

Sore tadi, Juumonji kembali menjelajahi kamar di lantai atas untuk mencari petunjuk lain, sampai akhirnya salah satu kunci yang dimilikinya dapat membuka pintu kamar bernomor tiga belas. Dan di sana ia menemukan clue yang cukup krusial, yaitu sebuah foto yang menampakkan atap sebuah bangunan yang berbentuk lingkaran, dilukis dengan hewan-hewan yang melambangkan dua belas shio Cina. saat itu sel-sel otaknya kembali menggabungkan informasi-informasi yang didapatkannya. Naga adalah salah satu shio Cina, angka 12 dalam lingkaran melambangkan 12 shio yang digambarkan dalam lingkaran, Morning Glory merupakan bunga yang tumbuh di sekeliling bangunan tua tersebut, sementara π (phi)melambangkan 3,14, atau 22/7 atau 180 derajat yang digunakan untuk menghitung lingkaran, dan lingkaran adalah bentuk dari bangunan tersebut, case closed.

Alam bawah sadar Juumonji yang haus akan misteri belum puas karena ada satu clue yang belum terpecahkan. Oleh karena itu alam bawah sadarnya menuntunnya masuk ke dalam kuil tua itu untuk memecahkan teka-teki yang terakhir. Juumonji malangkah menuju meja persembahan yang ada di tengah bangunan tersebut. Ia duduk di hadapannya, lalu sel-sel otaknya mulai bekerja lagi. Namun anehnya, yang muncul di otaknya saat itu bukanlah teka-teki harta karun, namun misteri tentang pelaku pembunuhan yang masih berkeliaran tersebut. Sel otaknya membuka salah satu file yang ada di otak Juumonji saat itu, dan Juumonji menemukan sesuatu.

Jika yang terbunuh pertama adalah Monta, lalu Hiruma, dan Taki, sedangkan Juumonji sangat yakin bahwa dua orang yang diserang saat mati listrik di ruang depan adalah Kuroki dan Togano—ia hapal suara kedua sudaranya tersebut, dan Mamori ditemukannya terkapar di depan pintu tadi, maka yang tersisa adalah dirinya, Yukimitsu, Ishimaru, Kurita, Sena, dan Suzuna. Suzuna dan Kurita terlalu lemah untuk menjadi pelakunya, mereka berdua sama-sama memiliki hati yang rapuh. Lalu Sena yang sumpahnya sangat meyakinkan, Juumonji melihat bahwa Sena bukanlah pelakunya. Karena dirinya sendiri bukanlah pelakunya, berarti kandidat yang tersisa adalah Yukimitsu dan Ishimaru.

Dan Juumonji mengingat sesuatu.

Saat itu, dimana pengumuman game dimulai baru saja dikumandangkan. Ia berpapasan dengan Ishimaru yang akan turun ke lantai bawah, lalu ia mendengar Ishimaru menyapa Sena dan Monta.

Tunggu.

Sepanjang waktu makan malam ia tidak pernah melihat Ishimaru di ruang makan.

Lalu mengapa saat itu ia turun dari lantai atas? Bukankah kamarnya sendiri berada di bawah, dan semua orang yang menghuni kamar lantai atas semuanya berada di bawah?

Lalu jasad Hiruma yang ditemukan di lantai atas.

Lalu aliran listrik yang tiba-tiba saja mati sesaat setelah Ishimaru meminta izin untuk ke kamar mandi.

Masuk … akal?

Saat itu juga Juumonji terbelalak. Walaupun bukti yang ada belum cukup, namun Yukimitsu sendiri tidak memiliki keanehan yang membuatnya mencurigakan. Jadi, satu-satunya pelaku adalah…

Jlebb

Pisau itu menusuk pinggang Juumonji dengan keras, membuat darah yang sangat banyak keluar dari sana. Juumonji yang membisu menoleh, melihat wajah dia yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Wajah itu adalah wajah kenalannya, namun berbeda denganyang biasanya. Sorot matanya berbeda, seringai di bibirnya berbeda. Tidak, Juumonji belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Ia menatap lekat-lekat wajah itu, dan melihat wajah itu mengatakan selamat tinggal padanya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

Dia menepuk-nepukkan tangannya, tanda pekerjaannya telah usai. Dia puas. Sudah ada satu orang yang megetahui identitasnya dan dia puas. Kini saatnya ia menutup tirai opera yang disutradarainya dan menghilag untuk sementara, mengembalikan tubuh itu kepada pemiliknya, kepada dia yang lain. Dia tidak pernah merasakan liburan seperti ini sebelumnya. Dan baginya, itu adalah liburan pertamanya yang paling memuaskan. Dia melempar jauh-jauh sarung tangannya ke tengah padang rumput yang tak terlihat karena gelapnya malam—menghilangkan bukti. Dan dia berusaha sebisa mungkin agar tidak menginjak darah milik para korbannya. Lalu dia melenggang santai menuju villa, menyalakan aliran listrik di villa itu kembali, lalu berlari dalam hening dan memasuki ruangan tempat seharusnya dia berada.

Semua misteri telah terbuka, namun tirai telah diturunkan untuk menutupnya kembali.

.

Mystery solved?

.

| OWARI. |

.

A/N : terima kasih untuk semua yang sudah membaca, mereview juga :)) ini adalah multichapter saya yg terakhir sebelum hiatus panjang, dan saya benar" mohon maaf bila mengecewakan :") kritik dan saran akan selalu saya tunggu, dan ... saya mau memberi tahu sesuatu ;) sebenernya jika kalian cermati judul dari masing" chapter, huruf pertama dari judul chapter pasti saya bold kan? ;) dan jika disusun dari chapter 1-6, maka akan membentuk nama TETSUO, dari Tetsuo Ishimaru :) CASE CLOSED!

.

| Review? |