Rina: Halo minna-san~ kembali lagi dengan Rina disini~ tentunya bersama…
Rui: Ara~ Rui desu! Chapter inipun mohon bantuannya~
Mel: Dan aku meskipun aku protes pada BakAuthor hingga ke ujung dunia, dia pasti masih bakalan nulis aku disini.
Leah: Dan tidak lupa dengan Leah disini!
Rui: Ara~ siapa kau? *melihat ke arah Leah dengan kaget*
Leah: Bukan siapa-siapa. Aku ini hanyalah seorang kesatria pembela kebenaran yang dengan kekuatan bulan akan menghukummu! *wink*
Rina: *facepalm*
Mel: *facefloor*
Rui: A-ahahaha… *sweatdrop* (;´・`)
Leah: Bercanda, aku hanya salah satu OC dari Rina dan merupakan teman dari Mel dalam cerita aslinya. Aku denger karena Mel disini, makanya aku main-main aja kesini~ toh di semua ceritanya Rina yang baru-baru ini, dia jarang pake OC.
Rina: Memang lebih baik tidak terlalu sering pakai OC sih… tapi kalau terpaksa ya sudah. Baiklah, bagaimana kalau kita mulai saja chapter ini? Mel, cepetan baca Disclaimer!
Mel: *ambil kertas Disclaimer* Hmm… apa ini isinya lagi, Disclaimer Rina tidak memiliki Vocaloid sama sekali. Semua Vocaloid adalah milik Developer mereka masing-masing. Yang Rina miliki hanyalah cerita ini dan OC miliknya yang berperan maupun yang tidak berperan dalam cerita ini. Atau kurang lebih begitulah isinya…
Rina: Thanks Mel, baiklah karena Disclaimer sudah dibaca mari kita mulai saja cerita dari the Two Of Us versi Rewrite ini! Rina Aria mempersembahkan The Two Of Us –Rewrite- Chapter 3 "Present Time – Rin side" jika ada kesalahan atau apapun jangan lupa untuk memberitahu Rina. Oleh karena itu untuk minna-sama semua silahkan melakukan ritual…
Rui: Ara~ Read…
Leah: Kemudian ditambah dengan 'And…'
Mel: Dan terakhir adalah 'Review' *sigh* kenapa aku dapet bagian yang ini sih…
Rina: Sudahlah jangan terlalu dipikirkan Mel~ lagipula di cerita ini kau kan bi-
Mel: (ノ°Д°)ノ┸┸)`3゜)・;'. *lempar meja ke Rina*
Rina: (oT-T)尸 *nyerah*
Leah: Go, go Mel!
Rin POV
"Is it true that you are going to transfer to Japan Miss Orange?" seorang wartawan yang menghadiri konferensi pers yang kugelar bertanya.
Aku hanya tersenyum simpul dan dengan berusaha keras menyembunyikan aura gelapku, aku menjawab, "Yes, I'm going to transfer there for exchange student program. It was estimated I would stay there for a year at least."
Semua wartawan segera menulis entah apa di buku tulis mereka masing-masing. Aku tidak terlalu heran karena ini adalah pertama kali aku mengungkapkan rencanaku mengikuti pertukaran pelajar dan secara efektif meninggalkan kegiatanku sebagai penyanyi. Tapi tentunya orang-orang sudah merasa heran karena aku sudah cukup jarang melakukan pekerjaan yang akan memakan waktu lama seperti pembuatan film, iklan, ataupun drama.
Sebelum aku tinggal di Amerika, aku memiliki nama Kagami Rin, tapi setelah pindah aku mengubah namaku menjadi Kagami Mikan. Semenjak aku kelas 2 SMP aku memasuki dunia modelling dan baru tahun lalu aku memulai karir menyanyi solo yang menurutku berjalan dengan cukup baik.
"Then what about your job as an idol? Will you suspend your singing activity for that period?" tanya salah satu wartawan majalah yang nama majalahnya sudah kulupakan.
Aku berpura-pura berpikir tentang pertanyaan itu. Di sinilah manajerku, Sonika angkat bicara menggantikanku karena dia jauh lebih mengerti tentang apa yang direncanakan oleh perusahaan rekamanku. Intinya, aku akan dipindahkan sementara ke cabang perusahaan rekaman yang ada di Jepang. Kalau ingin tahu perusahaan rekaman apa yang kumasuki, namanya adalah D.S. Music.
Tentunya perusahaan tidak mau memberikanku dengan cuma-cuma, tentunya ada orang yang akan dikirim kemari untuk menggantikan posisiku. Mungkin disebut menggantikan posisi tidaklah tepat, karena yang dikirim adalah seorang manajer. Aku sudah mengetahui tentang manajer ini dan kami juga sudah berbincang-bincang melalui video call.
Yang jelas, dia menyadari bahwa aku dulunya adalah seseorang bernama Kagami Rin. Dan dia tampaknya sudah mengetahui bahwa aku dulu memiliki hubungan dengan artis dari D.M. Music cabang Jepang yang bernama Kagamine Len. Ingat kata-kata dulu disana.
Aku tidak begitu paham apa hubungan manajer itu dengan Len tentunya dan aku juga kurang mau tahu karena sepanjang pengetahuanku aku sudah putus hubungan dengan Len. Tidak, mungkin lebih pasnya sekarang aku membencinya. Dan karena itulah aku memutuskan untuk mengikuti pertukaran pelajar ini untuk membuat laki-laki menyebalkan itu untuk merasakan balas dendamku.
Setelah Sonika menjelaskan apa yang akan kulakukan selama tinggal di Jepang akhirnya konferensi pers ini selesai juga. Aku menghela nafas lega ketika akhirnya aku diizinkan untuk kembali ke apartemen milikku sendiri. Semenjak aku menjadi seorang idola, aku tinggal sendirian di asrama perusahaan untuk melindungi orang tuaku dari berbagai macam jenis gosip. Terkadang aku merasa kesepian tapi aku memiliki teman tentunya jadi tidak terlalu terasa.
"Good job Orange!" sapa suara manis yang menyapaku ketika aku kembali ke kamarku.
"Thanks Ring. But seriously, we are in the wall of my place so just call me my name," aku menjawab dengan meletakkan tas yang berisi dokumen pindahan sementara yang baru saja diurus oleh Sonika.
Ring, Ring Suzune, adalah temanku sesama idola. Dia merupakan penyanyi solo yang terkadang juga berkolaborasi denganku. Dia adalah idola yang tidak pernah absen menduduki peringkat 1 tangga lagu setiap minggu dan prestasinya sudah sangat banyak hingga dia sendiri sudah tidak bisa menghitungnya. Tentunya sudah jelas bahwa Ring lebih senior dibandingkan denganku meski umur kami hanya terpaut 1 tahun.
Ring memiliki rambut berwarna biru langit yang cantik dan menurutku membuatnya tampak sangat manis. Matanya yang berwarna senada juga sangat indah dan tubuhnya juga mudah membuat setiap gadis merasa iri meski volume dadanya tidak terlalu besar.
"Okay, sorry about that slip-up Rin. Anyway, you will go to Japan next week right? It's going to be quiet around here without you around," Ring menjawab dengan menyebutkan namaku yang sebenarnya. Ring merupakan beberapa orang yang tahu dan memanggilku dengan nama itu semenjak aku pindah ke Amerika dan aku tidak terlalu bermasalah dengan hal itu. Toh, menurutku nama Rin itu sebenarnya cukup bagus.
"Apology accepted. Don't worry I'm just going to leave for a year or so. Talking about that, isn't the manager who was transferred here would become your new manager for awhile Ring? Did you think she could handle you?" aku menjawab dengan balik bertanya pada Ring yang hanya melihat ke samping dengan tatapan kurang meyakinkan. Tentunya kami sudah mendengar bahwa manajer yang menjadi pertukaranku adalah seorang manajer yang handal. Tapi, kami tidak tahu apakah dia cukup handal untuk menangani Ring yang merupakan idola besar karena itulah aku lebih khawatir tentangnya.
"It wouldn't be that bad… If she couldn't do it, I could just do it myself," Ring menjawab dengan tatapan yang tampak kelelahan.
Aku yang sudah berada di dapur segera mengambil susu untuk kami berdua dan mengambil sekotak kue kering sebagai teman kami untuk berbincang-bincang. Aku tahu Ring masih ada pekerjaan besok pagi, tapi aku tidak tega mengusirnya untuk istirahat ketika dia terang-terangan berada di kamarku dengan niat berbicara.
Setelah berbicara banyak hal tentang apa yang ada di Jepang berhubung Ring masih belum ada kesempatan untuk melakukan tur kesana, Ring tiba-tiba berkata, "Say Rin, what would you do when you meet Kagamine Len there?"
Aku menghentikan apapun yang sedang kulakukan dan menerawang ke atas. Memang kami akan berada di label yang sama, jadi kemungkinan bertemu sangat tinggi. Hal pertama yang kupikirkan memang bertemu dengannya dan memastikan dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia masih hidup. Tapi setelah itu aku masih belum sempat memikirkannya. Toh, bukan berarti dengan berada di tempat yang sama kami akan jadi teman.
"I'll think about it when the time come. Anyway Ring don't forget to mail me whenever you have chance okay? I'll mail you as well about a lot of stuff in Japan. I'm sure they would do something to make sure I live on my reputation," aku menjawab dengan nada santai karena memang aku belum memikirkan apapun ketika berada di sana.
Ring mengeluarkan suara yang terdengar seperti 'Hmm~' dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ring memang cukup protektif soal diriku karena ini pertama kalinya dia memiliki teman idola yang tidak akan berusaha menusuknya dari belakang. Aku tidak ada niat untuk melakukan hal itu karena aku juga mengidolakan Ring bahkan hingga sampai sekarang dan aku menyukainya sebagai seorang teman juga. Mungkin alasan kami bisa berteman baik adalah karena kami sama-sama merasa kesepian.
Setelah lewat tengah malam, Ring kembali ke kamarnya sendiri. Setelah aku memastikan bahwa dia sudah pergi aku menghela nafas lega dan segera menuju ke kamarku sendiri.
Aku melihat interior kamar yang banyak memiliki warna oranye dan memberikan kesan semangat itu dengan sedikit merasa kesepian. Aku tak tahu bagaimana kamarku nanti ketika di Jepang sehingga aku merasa sayang untuk meninggalkan kamar yang sudah kuanggap bagus ini.
Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur dan melihat ke arah langit-langit. Akhir minggu ini aku akan berangkat menuju ke Jepang dan minggu depan aku akan memulai hidupku disana lagi.
Sebentar lagi… aku akan bertemu Len lagi.
Pertanyaan Ring menggema lagi di kepalaku. Apa yang akan kulakukan ketika bertemu dengannya lagi? Aku sendiri juga tidak tahu. Semenjak aku memutuskan untuk kembali, aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan ketika bertemu dengannya.
Aku membencinya… aku tahu itu, tapi apa yang akan kulakukan kepadanya? Aku ingin membuatnya tahu bahwa tidak semua akan berjalan sesuai keinginannya. Tapi, bagaimana caranya? Kenapa aku ingin membuatnya tahu tentang itu juga bukan sesuatu yang kupahami.
Semua ini benar-benar menyebalkan… Len benar-benar… menyebalkan…
