Len's PoV
"Kapan kita akan berangkat?"
"Besok, dan kau akan langsung pergi ke kediaman Hiyama. Ah, kaa-san sudah mengabari keluarga Hiyama, mereka juga mengijinkanmu untuk tinggal," ucap Kaa-san sambil tersenyum lembut kearahku. Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi lalu beranjak ke kamar untuk membereskan barang-barangku.
"Ah! Jangan lupa-" ucapan Kaa-san pun mencegahku untuk melanjutkan perjalananku ke kamar dan menoleh kearah Kaa-san dengan pandangan binggung.
"-sekolahmu itu, Vocaloid Academy, adalah sekolah yang menyeramkan. Hati-hati saat kau berada disana. Kau benar-benar harus berhati-hati," tutur Kaa-san dengan wajah serius. Aku pun menaikkan sebelah alisku, tampak kebinggungan.
"Kenapa?"
Kaa-san terdiam sebentar, terlihat sukar untuk menjawab. Aku hanya diam menunggu jawaban.
"Nanti kalau kau sudah masuk kesana, kau pasti tahu apa maksud Kaa-san," Kaa-san menjawab pertanyaanku dengan jawaban yang sama sekali tidak membantu. Aku pun menggidikan bahuku, berusaha terlihat seperti seseorang yang tidak peduli lalu melanjutkan perjalananku yang sempat terhenti.
"Vocaloid Academy, ya?" gumamku, "Aku harap sekolah itu tidak begitu merepotkan seperti sekolah lainnya."
-Ghost Crisis!-
*Ch 1*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Mystery, Supernatural.
Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic'.
Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?
"Jadi ini ya, Vocaloid Academy… Apanya yang seram? Tidak semenyeramkan apa yang Kaa-san dan Tou-san bilang padaku, kok," gumamku dengan wajah masam.
Kini di hadapanku terdapat sebuah bangunan besar yang terlihat cukup mewah dengan fasilitas yang sangat tinggi. Seingatku, Vocaloid Academy merupakan sekolah terbaik yang memiliki pendidikan tertinggi di VocLoid City.
Walaupun begitu, mereka tidak mempunyai banyak murid. Kenapa? Karena sekolah tersebut terkenal sebagai sekolah yang angker. Banyak rumor tidak jelas yang belum diketahui apakah hal tersebut benar atau tidak berkeliaran. Contohnya: suara-suara aneh yang misterius di ruang musik.
Karena itulah Tou-san dan Kaa-san menyuruhku untuk bersekolah disana, untuk menyelidikinya hanya karena aku seorang indigo alami –indigo sejak lahir. Hah… benar-benar merepotkan.
Dan lagi, berhubung jalan menuju rumah teman Kaa-san –kediaman Hiyama- melewati Vocaloid Academy, aku pun berhenti untuk melihat sebentar. Aku mengamati tembok sekolah yang berwarna putih itu. Iris biru safirku meneliti kesana kemari hingga ia menangkap sesuatu.
Em… sesuatu itu berdiri di depan jendela -menatapku. Dan kukonklusikan 'sesuatu' itu adalah 'seseorang'. Em… seorang gadis? Sedang berdiri atau melayang di depan jendela. Rambutnya berwarna honeyblonde sama sepertiku. Pendeknya hanya sampai ke bahu, lalu manik mata berwarna biru safirnya menatap lurus kearahku dari kejauhan.
Aku membeku sejenak. Memang aku sudah cukup terbiasa menghadapi para hantu, tapi entah mengapa dia terlihat lebih seperti berdiri daripada melayang… dan itu berarti kakinya menyentuh tanah kan?
Makhluk macam apa dia?
Dan lagi semuanya seharusnya sudah pulang jam segini. Waktu pulang sekolah kan sudah lewat tiga jam… tapi ada kemungkinan itu juga murid yang mengambil suatu benda yang tertinggal. Ya, pasti seperti itu.
Aku pun mengedipkan mataku, namun setelah kulihat lagi, gadis itu sudah menghilang. Aku menautkan kedua alisku, binggung. Namun akhirnya menggidikan bahu –terlihat seakan tidak peduli- lalu melanjutkan perjalanku ke kediaman Hiyama.
.
.
.
"Yak, Len-kun! Kau bisa menggunakan kamar ini! Ini kamar anak kami dulu! Ah, dan anggap saja rumah ini seperti rumah sendiri!" ucap Kokone ba-san sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku hanya tersenyum sopan sebagai jawaban.
"Ba-san pergi dulu ya, kalau ada apa-apa bisa menelpon menggunakan telepon disana," ucap Kokone ba-san sambil menunjuk telepon yang berada di sebelah ranjang tidur kamar ini. Lalu ia langsung pergi keluar dan menutup pintu masuk.
Aku pun mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan tersebut. Ruangan itu cukup besar dan memiliki cukup banyak interior di dalamnya. Temboknya dicat dengan motif klasik. Sepertinya seseorang yang dulu tinggal disini suka sekali hal simple yang tidak terlalu norak. Aku pun meletakkan tas backpack berisi segala peralatan yang kuperlukan.
Lalu aku pun segera berjalan masuk ke dalam kamar mandi yang –entah bagaimana- berada di dalam ruangan tersebut. Tidak memerlukan waktu lama untuk mandi. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit.
Normal PoV
Len pun memakai pakaiannya lalu segera menghempaskan diri ke kasur. Mood-nya sedang kacau sekarang. Entah mengapa ia juga merasa lelah. Dirinya merasa direpotkan terhadap suatu kasus yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya.
"Sekarang lebih baik aku periksa ruang ini. Ini ruangan anak yang hilang itu kan? Siapa tahu ada sesuatu yang tersembunyi di dalam ruangan ini," batin Len lalu beranjak ke meja belajar lalu membuka laci-lacinya.
Laci pertama, kosong. Laci kedua, kosong. Laci ketiga, hanya berisi beberapa lembaran kertas yang anehnya –berbau jeruk. Len menggidikan bahunya, kebinggungan, lalu melihat kearah kursi.
Kursi itu berbentuk kubus dimana dapat dimasukkan kebawah meja. Dapat ditarik kesana kemari dengan mudah karena dibawahnya terdapat roda. Len hanya terdiam menatap kursi itu sebelum menyadari sesuatu.
"Kelihatannya sesuatu cukup untuk dimasukkan disitu," batin Len sebelum mendekati kursi tersebut, lalu mengangkat bantal yang menjadi penutup kursi dan iris biru safirnya pun mendelik melihat isi dari kursi tersebut.
Sebuah buku.
Buku kecil berwarna biru tua dengan cover yang tipis. Len terdiam sejenak –tidak dapat berkata-kata- lalu mengambil buku yang berada di dasar kursi tersebut.
Ia pun meneliti buku yang sangat tipis –bahkan kurang dari satu centi- lalu menepuk-nepuk buku tersebut -membersihkan debu- dan membalikkan halamannya, menampakkan halaman pertama dari buku tersebut. Matanya membulat melihat tulisan-tulisan yang tertera dengan rapi di buku tersebut.
"I-Ini kan-"
.
Alicia: Entah mengapa lagi demen sama cerita ini sama GHOST soalnya rada ada supernatural dan mysterynya kerasa… Dari dulu Alice sukanya memang yang begituan :3 Maaf karena chap ini sangat pendek TwT)a … Chap depan akan diusahakan lebih panjang -w-)/
Kyoko: Ini balasan reviewnya~
.
-Kei-T Masoharu
Tenang, Len ga amnesia kok X3
Okee, ini sudah lanjut! Arigatou Kei sudah me-review! X3
-martinachristy54
Iya! Oke… Ini sudah diusahakan cepat, arigatou sudah me-review! XD
-maya. fujiwinara
Arigatou! Ini sudah lanjut! Arigatou Fujiwinara-san sudah me-review! :3
-New
Iya. Rin hilangnya lama ._.
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3
-Yumeiko Rin
Arigatou! Ini sudah lanjut! Airgatou sudah me-review! XD
-RizuStef
Oke! Ini sudah lanjut! Arigatou Stefan sudah me-review! X3
-Kurotori Rei
Teehee, kebiasaan cliffhanger #disepak
Ok, ini sudah lanjut! Arigatou Rei sudah me-review! X3
-Furika Himayuki
E-Eh? Arigatou! O/O
Arigatou Himayuki-san sudah me-review! X3
.
Arigatou buat semuanya yang sudah fave, fol, dan mengikuti cerita sampai disini! X3
Terakhir… Review please? :3
.
Lanjut atau delete?
