Rin terdiam setelah selesai memainkan piano di dalam ruang musik –tempat tinggalnya kini. Ia merasa bosan. Bagaimanapun juga, ia sudah bermain piano selama dua jam penuh karena tidak ada yang dapat ia lakukan.
Sekarang sudah sore, murid-murid dan para guru sudah pulang ke rumah masing-masing –menyisakan Rin. Karena itulah, Rin bebas melakukan apapun di dalam sekolah berhubung ia tidak dapat berinteraksi dengan manusia.
Jika hantu, ia masih bisa –namun entah mengapa hampir semuda dari mereka takut menemuinya. Mungkin karena Rin masih memiliki tubuh dan itu berarti ia masih memiliki potensi indigo dan dapat menghilangkan jiwa mereka dengan mantra.
Penampilan Rin tidak berubah banyak. Rambut berwarna honeyblonde sebahu, jepit-jepit putih di poni, pita putih bersih diatas kepalanya… semuanya terasa masih sama seperti dulu. Yang berbeda hanyalah, ia tidak mengenakan kacamata.
Bagaimanapun juga, Rin itu bertumbuh. Ia memiliki tubuh dan jiwa, tidak seperti hantu yang tidak memiliki tubuh. Karena itulah ia masih bertumbuh baik secara fisik maupun psikis.
Rin pun menghela nafasnya lalu berjalang mengelilingi ruang musik tersebut dengan tampang kusut. Sudah dua tahun lamanya ia terperangkap sebagai manusia tanpa eksistensi, dan selama dua tahun itulah ia meneliti mengenai hantu-hantu tersebut.
Tidak banyak hasilnya, tapi cukup banyak menambah wawasannya tentang mereka. Rin pun menarik kursi piano hingga berada di sebelah jendela, lalu melihat keluar jendela sejenak sebelum duduk disana.
Namun ia mengurungkan niatnya untuk duduk saat melihat seorang anak laki-laki di gerbang Vocaloid Academy sedang menatapnya dengan pandangan curiga. Rin menatapnya lurus sembari memutar kembali memori masa lalunya.
"Aku pernah melihatnya sebelumnya... Tapi, dimana?"
-Ghost Crisis!-
*Ch 2*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Mystery, Supernatural.
Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic'.
Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?
Len menatap tulisan-tulisan yang tertera di dalam buku tersebut dengan pandangan terkejut. Bagaimanapun juga, jikalau begini kasusnya, semuanya akan jauh berbeda dari kasus hantu yang pernah ia tangani sebelumnya. Len pun membolak-balikkan buku itu dan membacanya.
Para hantu di VocLoid City atau lebih tepatnya Vocaloid Academy dibagi menjadi dua golongan:
-Golongan yang ingin pergi ke alam sana dengan tenang
-Golongan yang percaya bahwa dunia merupakan tempat yang ideal bagi mereka.
Kedua golongan ini sangat bertentangan dan bertolak belakang. Mereka terus saja berdebat untuk menentukan golongan manakah yang paling benar. Bahkan masalah ini belum terselesaikan sampai sekarang.
Manusia memiliki potensi terpendam yang hanya akan muncul jika mereka sudah meninggal, beberapa benda sihir mempercepat datangnya potensi manusia:
-Seaweed Cookies: Memiliki efek permanen
-Rainbow Stone: Memiliki efek selama batu itu dibawa oleh seseorang
Selain itu, bagi golongan yang percaya bahwa dunia merupakan tempat yang ideal bagi mereka, tidak menyetujui adanya indigo. Mereka berpikir bahwa indigo hanyalah makhluk menggangu, berbeda dengan golongan yang ingin pergi ke alam sana dengan tenang.
Mereka berpikir indigo adalah makhluk yang menggangu karena indigo dapat mencabut jiwa mereka yang berada di dunia ini.
Hantu tidak memiliki tubuh, dan mereka melayang di atas tanah (rata-rata tiga centi). Mereka tidak dapat menyentuh apapun (jika menyentuh, pasti akan langsung tembus) dan perempuan mengenakan dress kain putih, sedangkan laki-laki mengenakan setelan t-shirt polos berwarna putih dan celana panjang sesikut berwarna putih.
Namun hantu juga berbahaya. Beberapa dari mereka memiliki potensi untuk membaca mantra. Dan jikalau mereka membaca mantra, itu berarti indigo dalam bahaya. Mantra yang dibacakan oleh hantu tidak dapat menghilangkan jiwa –seperti yang indigo bisa.
Namun dapat menghilangkan eksistensi, mengutuk hingga seseorang itu terlelap selama beribu-ribu tahun, koma, dan berbagai hal mengerikan lainnya. Kehilangan eksistensi bukan berarti seseorang itu menjadi hantu.
Jika eksistensi seseorang dilenyapkan, maka seseorang itu tidak dapat dilihat ataupun didengar suaranya oleh manusia biasa –hanya indigo yang dapat. Tapi, kehilangan eksistensi berarti seseorang itu masih memiliki tubuh dan jiwa.
Itu berarti ia masih memerlukan makan, minum, dan tempat tinggal. Ia masih dapat sakit dan parahnya –jika seseorang tidak menyadari kehadirannya- ia dapat meninggal. Ia juga dapat menyentuh makhluk hidup lainnya dan juga benda mati tanpa tembus. Dan lagi, makhluk hidup yang disentuhnya dapat merasakan bahwa ia sedang disentuh.
[Hiyama Rin]
"Hiyama Rin…?" batin Len, "Entah mengapa aku merasa familiar dengan nama itu… Eh, tunggu… jadi anak Kokone ba-san yang hilang itu bernama Hiyama Rin?" batin Len lalu mengangguk-angguk, seakan-akan menjawab pertanyaannya sendiri.
Len pun membalikkan halaman selanjutnya. Namun kosong. Begitu juga dengan halaman-halaman berikutnya. Ia pun meletakkan kembali buku tersebut di dalam kursi dan menutupnya kembali, sebelum merebahkan diri di kasur.
"Kehilangan eksistensi? Memangnya ada seseorang yang kehilangan eksistensi?" Batin Len kebinggungan sebelum –secara tidak sadar- masuk ke alam mimpi.
.
.
.
Len's PoV
Aku pun keluar dari kamarku setelah bersiap-siap. Mulai hari ini aku akan menjadi salah satu murid-murid di Vocaloid Academy –sekolah yang dikatakan Kaa-san mengerikan.
Aku pun berjalan pergi ke ruang tamu, lalu mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Aneh. Tidak ada seorang pun disini. Aku pun dengan ragu-ragu mengadahkan kepalaku untuk melihat jam.
07:30
Aku pun menautkan kedua alisku, kebinggungan, lalu duduk di kursi depan meja makan untuk mencari sarapan. Oya, masih ada tiga puluh menit lagi sebelum sekolah dimulai. Vocaloid Academy memang dimulai jam delapan pagi hingga jam dua siang. Entahlah, jika kalian bertanya mengapa sekolah itu dimulai begitu siang.
Iris biru safir milikku mengamati apapun yang ada di meja makan tersebut. Ada beberapa roti selai dengan catatan di sebelahnya. Didorong rasa penasaran, aku pun mengambil catatan tersebut dan membacanya.
Untuk Len,
Ba-san minta maaf karena pergi tanpa memberitahu! Ba-san dan Ji-san akan pergi keluar kota selama beberapa minggu. Kami sendiri baru mengetahuinya pagi ini dan langsung pergi berangkat jam tujuh D:
Stok makanan ada di dalam kulkas. Sarapan ada di meja makan. Ba-san dengar kau suka roti dengan selai pisang ya? Hari ini rotinya dengan selai pisang lho~ :3
Selamat menikmati hari pertamamu di sekolah! Ah, kunci rumah ada di meja.
P.S: Jika ada apa-apa, telpon saja! Kau sudah tahu nomor Ba-san kan?
Aku hanya mengangguk-angguk dengan wajah datar lalu mulai mengambil sebuah roti berselai pisang dan memakannya. Ternyata roti itu sangat enak! Teksturnya lembut, selainya juga tidak terlalu kental ataupun terlalu cair!
Sekitar lima menit kemudian, aku selesai makan dan kini sudah berada di luar rumah. Tanpa berlama-lama, aku pun segera berlari pergi sekolah. Aku bukan tipe anak teladan, tapi juga bukan tipe anak yang suka datang terlambat.
Entah mengapa jalan yang kulewati saat ini cukup sepi. Hanya ada sekitar tiga sampai lima orang yang berlalu-lalang. Atau memang aku yang terlalu pagi datang ke sekolah? Ah, sudahlah.
.
.
.
Normal PoV
"Ini kelasku ya…," batin Len sambil berdiri di depan sebuah kelas yang bertulisan X-B. Di Vocaloid Academy, hanya terdapat tiga kelas sepuluh. X-A, X-B, dan X-C. Len pun berdiri di depan pintu sambil melihat nama anak-anak yang tertera di depan pintu.
1. Furukawa Miki
2. Hatsune Miku
3. Kagamine Len
4. Kamui Gakupo
5. Kasane Ted
6. Kasane Teto
7. Megpoid Gumo
8. Megurine IA
9. Megurine Luka
10. Nakajima Gumi
11. Shion Kaito
12. Sukone Teiru
13. Utatane Piko
"Hanya tiga belas anak ya…," batin Len, "Tapi jika tiga belas anak rata-rata per kelas, berarti ada sekitar empat puluh anak untuk kelas sepuluh."
Sebelum mengunjungi kelas, Len sudah mengunjungi sang kepala sekolah –dan sang kepala sekolah sudah memberitahukannya mana kelasnya dan juga siapa wali kelasnya. Dan sekarang Len hanya bisa menunggu hingga wali kelasnya memanggil namanya.
.
.
.
Len's PoV
"Kagamine Len, yoroshiku," ucapku dengan nada datar tanpa ekspresi sama sekali. Entahlah tapi semenjak kecil aku sudah terbiasa seperti itu. Aku pun mengedarkan pandanganku, memerhatikan reaksi anak-anak di kelas.
Ada seorang gadis yang menatapku dengan tatapan… err… antusias? Lalu gadis berambut hijau tosca itu menarik syal seorang anak lelaki yang duduk di sebelahnya sambil membisikkan beberapa kata. Err… setidaknya aku punya firasat ia bukanlah seorang fangirl.
Anak lelaki berambut biru laut disebelah gadis itu hanya menggeleng-geleng dengan wajah pasrah. Namun menyadari kalau aku memperhatikannya, ia melambaikan tangannya padaku dengan ramah.
Aku hanya membalas lambaiannya dengan wajah datarku. Lalu aku pun mengedarkan pandanganku sekali lagi. Ada seorang gadis berambut hijau sedang tertidur, namun Luna-sensei –wali kelas kami- tidak menyadarinya karena ia memiliki buku sebagai 'pelindung'.
Namun pandanganku segera teralihkan ketika aku melihat seseorang berambut honeyblonde sedang menatap dari jendela. Tunggu… Bukankah sekarang jam pelajaran sudah dimulai? Apa dia murid baru juga? Atau murid yang terlambat? Tapi… ia tidak terlihat membawa apapun bersamanya…
Gadis itu terus saja menatap ke dalam kelasku dengan pandangan datar… Mungkin sepertiku, tidak berekspresi. Rambutnya terlihat halus dan matanya berwarna biru safir sama sepertiku. Tubuhnya mungil, matanya besar dan berwarna biru safir indah, seperti boneka.
"Kagamine-san? Apa yang sedang kau lihat?" tanya Luna-sensei sambil menatapku dan pintu bergantian dengan wajah binggung. Seakan-akan ia tidak melihat gadis itu. Aku pun menoleh kearahnya.
"Ada seseorang… disana," ucapanku semakin mengecil menyadari gadis itu sudah tidak ada lagi disana. Bagaimana ia bisa menghilang secepat itu? Luna-sensei yang tidak mendengar ucapanku dengan jelas pun mengulangi pertanyaannya.
"Ada apa?"
"I-Iie, nandemonai…," jawabku akhirnya. Luna-sensei tampak kurang percaya, tapi ia hanya mengangguk.
"Kalau begitu, silahkan duduk di kursi kosong disebelah Shion-san," ucap Luna-sensei sambil menunjuk kursi kosong disebelah anak berambut biru laut dengan syal itu. Aku mengangguk dan berjalan menuju tempat duduk tersebut.
Tak ada jeritan fangirls ataupun bisik-bisik tidak jelas di kelas ini. Baguslah. Rupanya kelas ini masih waras. Eh, tidak. Kutarik kembali kata-kataku! Mereka semua menatapku dengan tatapan mengerikan!
Err… tidak semua, tentunya kecuali Luna-sensei dan beberapa murid lainnya. Setelah sampai, aku pun langsung meletakkan seluruh barangku lalu duduk sembari menghela nafas.
"Hoi!" Seseorang tiba-tiba menepuk pundakku. Aku pun menoleh kesamping, mendapati pemuda berambut biru laut itu sedang tersenyum ramah kearahku.
"Em… Shion-san, bukan?" Tanyaku ragu-ragu. Pemuda itu mengangguk lalu memperkenalkan dirinya sendiri.
"Shion Kaito. Panggil saja aku, Kaito!" Ucapnya dengan nada riang. Aku mengangguk.
"Kagamine Len, panggil saja Len."
.
.
.
KRIIINGG!
Istirahat. Bagus. Aku harap pada saat istirahat mereka tidak merepot-
"Hei! Kau Kagamine Len kan? Kupanggil Len-chi boleh?" Tanya seorang gadis berambut hijau tosca dengan wajah memohon.
-kan.
Hah. Aku mengadahkan kepalaku, melihat sekitar sembilan orang mengerumuniku sedangkan sisanya langsung pergi keluar tanpa mengucapkan apapun.
"Kagamine-san! Ayo kuantar keliling sekolah!" Jerit seorang lelaki berambut merah dengan nada ceria.
"Hei! Apa kau sudah dengar misteri sekolah ini?" Tanya seorang gadis lainnya berambut merah dikuncir dua dalam bentuk bor.
"Minna-san! Bagaimana kalau kita makan sambil melakukan introduksinya? Nanti waktunya tidak mencukupi," ucap seorang gadis berambut pink panjang sepunggung. Semua orang yang mengerumuniku langsung bubar dan mengangguk kompak.
.
Alicia: Waii! Chap dua jadi akhirnya TwT)/ Bagi yang membaca Exotic pasti menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Kaito~! #nak
Yuki: Ini balasan reviewnya…
.
-Kei-T Masoharu
Itu bukunya sudah dijelaskan disini… Cuman buku catetan doing XD
Ok! Ini sudah lanjut! Arigatou Kei sudah me-review! X3
Bukan diary ataupun album foto… Ya semacam buku yang Rin pakai untuk tulis informasi yang dia dapat XD
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! XD
-aliwasawaz657
Arigatou! Semoga ini juga masih sama… Iya, salam kenal! Ini sudah update!
Arigatou sudah me-review! :3
-Kurotori Rei
Ehehe… Iya, maaf ._.a … Iya, Len ngeliat Rin dan bukunya juga punya Rin!
Ini sudah lanjut, arigatou Rei sudah me-review! X3
-martinachristy54
Ok! Mulai chap ini Alice usahakan panjangin semuanya X3
Terima kasih sudah numpang review! X3
-New
Gomen kalau Alice rada begitu. Lagian Alice cuman bisa buka kompi dua jam per hari, dan itu termasuk nonton anime… TwTa
Arigatou sudah me-review! X3
-RizuStef
Ok ini sudah lanjut! Semoga Stefan sudah ngak penasaran lagi! Ha'i…!
Arigatou sudah me-review!
.
Terima kasih semuanya yang sudah fave, fol, ataupun membaca cerita sampai disini :3
Terakhir… Review please?
