-Ghost Crisis!-
*Ch 3*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Mystery, Supernatural.
Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic', pergantian PoV.
Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?
Len's PoV
"Jadi, namaku Megurine Luka," ucap gadis berambut merah muda sepunggung itu sambil tersenyum sopan. Jadi, kami bertujuh sedang berada di atap sekolah sambil duduk membentuk lingkaran. Aku membalas senyumannya sebagai jawaban.
Lalu Megurine-san menunjuk gadis berambut hijau tosca yang sedang memakan sebuah negi mentah secara utuh. Heck. Apa itu enak?!
"Ah, aku Hatsune Miku!" jeritnya ceria sambil mengambil negi lagi dari kotak makannya, "Kagamine Len kan? Kupanggil Len-chi boleh?" tanyanya harap-harap cemas. E-Eh?
.
.
.
.
.
NANII?!
L-L-Len-chi? I-Itu bahkan lebih mengerikan daripada panggilan 'Lenny-chan' dari Kaa-san!
"Em, sebaiknya jangan," cegahku. Hatsune-san tampak membuat wajah memelas, kemudian Kaito yang berada disebelahnya langsung menjitak kepalanya.
"Itai! Kai-kun! Apa yang kau lakukan?!" jerit Hatsune-san tidak terima dengan wajah kesakitan.
"Miku, dia itu laki-laki! LAKI-LAKI!" jerit Kaito sambil menunjukku.
"Lalu?" tanya Hatsune-san setelah melihat sejenak kearahku.
"Jika kau memanggilnya seperti itu, dia jadi terdengar seperti perempuan," tutur Kaito secara frontal. Empat sudut siku-siku terbentuk di pelipisku, tapi aku tetap berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Sudahlah! Miku, Kaito! Kita lanjutkan perkenalannya! Nanti kelamaan!" jerit seorang gadis berambut hijau yang tadi tertidur di kelas sambil membuka bekal makannya dan mengambil sebuah wortel.
"Ah, Kagamine-san! Kau mau wortel?" tawarnya ramah. Aku menggeleng dengan wajah horror. Aku bukanlah tipe orang yang menyukai sayuran.
"Ah, tokorode, aku Nakajima Gumi," ucapnya seraya mengunyah wortelnya dan menunjuk kearah lelaki berambut hijau yang hanya terdiam tanpa mengucapkan apapun sejak tadi, "Dia Megpoid Gumo."
Anak lelaki bernama Megpoid Gumo itu hanya menanggapi dengan senyuman lalu kembali memakan bekal makannya. Hee… sepertinya tipe anak teladan.
"Aku Kamui Gakupo, yoroshiku," ucap seorang lelaki berambut ungu dengan gaya ponytail sepertiku, namun lebih panjang. Aku hanya mengangguk. Lalu sejenak semuanya terdiam karena sudah memperkenalkan diri sambil memakan bekal kami masing-masing. Aku tadi membeli sebuah roti di kantin, berhubung aku tidak membawa bekal dari rumah.
"Nee, Len-chi-"
"Miku, sudah kubilang jangan panggil dia seperti itu!" tegur Kaito sambil menyikut Hatsune-san. Hatsune-san hanya mengerucutkan bibirnya, tampak tidak suka dengan perlakuan Kaito.
"Ha'i, ha'i… Nee, Len-kun, apa kau tahu tentang rumor di ruang musik?" tanya Hatsune-san, memulai percakapan. Sepertinya hanya aku, Kaito, dan Hatsune-san yang sudah selesai makan. Aku menggelengkan kepalaku dengan tampang binggung.
"Huwaaa! Kalau begitu, biar kuberitahu!" Ia pun memulai ceritanya, "Jadi, rumornya adalah setiap pulang sekolah, selalu terdengar seseorang yang bermain piano ataupun biola di ruang musik! Banyak orang sudah membuktikannya dan hal itu terbukti benar! Tapi ketika kau buka pintunya…"
Hatsune-san bercerita dengan tampang menakutkan, namun ia tampak menikmati setiap detik saat ia bercerita. Bahkan Megurine-san dan Nakajima-san tampak gemetaran karena cerita Hatsune-san.
"… tidak ada orang disana," tuturnya dengan senter yang tiba-tiba menerangi wajahnya, menampakkan wajah Hatsune Miku dengan senyuman mengerikannya.
"Mi-Mi-Miku! Jangan ceritakan hal mengerikan seperti itu lagi!" Jerit Megurine-san panik sambil mengguncang-guncang Hatsune-san. Hatsune-san tampak kebinggungan.
"Hee… mengapa? Kau tahu kan kalau cerita horror itu menyenangkan?" Tanyanya polos.
"…," aku terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Hatsune-san. Waw. Aku tidak pernah menyangka Hatsune-san menyukai cerita horror. Ah, itu menjelaskan mengapa ia terlihat begitu bersemangat memberitahuku rumor horror tersebut.
Dan seketika itu juga Megurine-san sweatdrop dan menunjuk Nakajima-san yang kini sudah pingsan karena ce-
PINGSAN KARENA CERITA HORROR HATSUNE-SAN?!
Entah mengapa kini aku berpikir kalau sekolah ini mempunyai murid-murid yang benar-benar unik.
.
.
.
"Len-kun, mau kuceritakan rumor horror tentang sekolah lagi?" tawar Hatsune-san sambil tersenyum manis. Kini ia sedang berdiri di depan mejaku, sedangkan aku hanya duduk sambil mengemasi barang-barangku. Ah, sekarang sudah merupakan jam pulang sekolah.
Aku pun hanya mengangguk kecil sebagai jawaban tanpa menoleh kearahnya. Dapat kurasakan Kaito menatapku aneh.
Oke, aku menerima tawarannya karena ada kemungkinan ia akan bercerita mengenai gadis yang bernama Hiyama Rin tersebut –ah, aku juga sudah mengingat sedikit tentang Rin. Hatsune-san tampak begitu gembira mendengar jawabanku, lalu ia pun memulai ceritanya.
"Dulu, beberapa tahun yang lalu… katanya ada seorang anak bunuh diri di sekolah ini!" Aku menaikkan sebelah alisku. Hatsune-san tampak bersemangat menceritakannya.
"Tapi, tubuhnya tidak ditemukan sama sekali! Dan kau ingat ceritaku waktu istirahat? Saat ia disadari telah menghilang, tiba-tiba saja di ruang musik terdengar suara seperti itu!" Ia bercerita dengan wajah berbinar-binar dan begitu bahagia.
"Dan siapa orang itu?" tanyaku penasaran sambil menaikkan sebelah alisku. Wajah Hatsune-san tiba-tiba saja tampak sedih.
"Na-Namanya Hiyama Rin."
Aku tercekat mendengarnya. Tubuhku langsung membeku begitu mendengar namanya disebutkan. Bunuh diri? Maksudku- Rin yang itu bunuh diri?
"Em, Len-kun?" Tanya Hatsune-san kebinggungan melihat reaksiku. Aku pun menoleh kearahnya lalu menggelengkan kepalaku.
"Aku tidak apa-apa. Ah! Aku ada urusan, jaa ne, mata ashita," ucapku cepat sambil berlari keluar kelas dan membawa tasku –meninggalkan Kaito, Miku, dan beberapa orang yang menatapku kebinggungan. Tapi aku tidak peduli.
Aku harus pergi kesana sekarang. Ke ruang musik itu! Jika tebakanku benar, Rin pasti berada disana!
Ah, aku jadi teringat gadis berambut honeyblonde itu… Ia mirip sekali dengan Rin! Apa mungkin dia itu Rin? Aku tidak tahu pasti... Karena itu, akan kucari tahu!
.
.
.
"Nee… Rin, apa tempat kesukaanmu?" tanyaku penasaran. Gadis berambut honeyblonde dikepang dua kebawah itu menghentikkan permainan pianonya sejenak dan menatapku dengan tatapan tanda tanya.
"Tempat kesukaanku ya?" ia tampak berpikir sejenak, "Ah! Mungkin ruang musik!"
"Eh? Kenapa?" tanyaku kebinggungan, karena sejujurnya aku kurang suka tempat itu. Rin tersenyum kecil mendengar pertanyaanku lalu menjawab.
"Saat aku bermain piano atau biola, aku merasa segala kekhawatiran dan kesedihanku hilang seketika…"
.
.
.
Langkahku menggema di koridor yang sepi itu. Aku sendiri kurang mengerti mengapa koridor ini begitu sepi. Ah, mungkin karena rumor yang tersebar mengenai ruang musik tersebut. Ruangan itu kan berada di ruangan ini…
BRAK!
Normal PoV
Pintu terbuka, menampakkan Len yang tampak kelelahan dan terengah-engah setelah berlari. Iris biru safirnya dengan cepat menelti segala sesuatu yang berada di dalam ruangan tersebut. Hingga iris biru safirnya menangkap sesuatu- atau lebih tepatnya seseorang dalam ruangan tersebut.
Seorang gadis berambut honeyblonde dengan pita putih diatas kepalanya. Ia sedang melihat keluar jendela dengan kedua tangan berada dibalik punggungnya. Gadis itu tampak membelakangi Len, namun menyadari kehadirannya karena suara pintu yang terbuka.
Len cukup terkejut melihat gadis itu. Namun lebih terkejut lagi saat gadis itu berbalik menghadap dirinya, menampakkan wajahnya.
"Aku sudah menduga kau akan pergi kemari," ucap gadis itu-Rin, dengan suara kecilnya. Len –sekali lagi- terkejut dibuatnya.
"Namaku Rin, Hiyama Rin-" Gadis itu menjeda kalimatnya sambil menghadap Len dengan wajah serius. Len tercekat mendengar nama gadis itu.
"-seorang gadis yang kehilangan eksistensi."
Sejenak, ruangan itu menjadi hening. Len terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Disisi lain, Rin hanya terdiam menunggu jawaban darinya. Namun karena Len tidak kunjung memberi jawaban, Rin pun menghela nafas.
"Hei," Rin kembali memulai percakapan. Len yang masih dalam posisi berdiri pun hanya terdiam walaupun dalam hati ia bertanya-tanya.
"Aku ingat kau. Kagamine Len, kan?" Tanya Rin lagi. Len mengangguk.
"Aku juga ingat, kau gadis yang dulu suka sekali main ayunan di taman itu kan?" Balas Len. Rin mengangguk sambil tersenyum kecil –senyuman yang sangat jarang ia tampakkan.
"Kagamine Len. Indigo yang entah bagaimana bisa takut dengan hantu. Selalu memintaku untuk menjaga di depan toilet saat kau berada di dalam karena kau takut. Masih ingat?" tanya Rin sambil menyeringai. Wajah Len memerah mengingat masa-masa itu.
"I-Itu kan dulu, Rin! S-Sekarang sudah tidak lagi!" Len pun berusaha membela dirinya sendiri. Rin pun terkikik geli dibuatnya.
"Kau masih belum berubah sama sekali ya," tuturnya, "Kalau aku, sudah berubah… banyak."
Len terdiam. Rin juga terdiam. Ruangan itu –sekali lagi- menjadi hening. Rin membalikkan badannya, melihat keluar jendela dengan pandangan sayu.
"Hei, Rin."
"Hm?" Tanggap Rin.
"Bagaimana kau bisa kehilangan eksistensimu?" Tanya Len penasaran. Karena Rin membelakangi Len, Len tak dapat melihat reaksinya, namun ia cukup yakin Rin sedang terkejut karena pertanyaannya.
"Ceritanya panjang," Rin menjeda kalimatnya sejenak sebelum berbalik menghadap Len dengan wajah serius yang entah mengapa membuat Len merasa cukup takut.
"Len," Rin memulai ucapannya dengan nada serius, "Kau harus keluar dari sekolah ini."
"Kenapa?" Tanya Len, berusaha terdengar berani.
"Kau dalam bahaya besar," ucap Rin, "Hantu di sekolah ini takkan membiarkanmu yang seorang indigo bergerak dengan leluasa." Len meneguk ludahnya.
"Tapi kau…?" tanya Len, berusaha mencari alasan untuk tetap tinggal di Vocaloid Academy.
"Aku akan mencari cara untuk mengembalikan eksistensiku sendiri," tutur Rin acuh tak acuh.
"Tapi kau sudah menghilang selama dua tahun lebih! Bukankah itu berarti kau tidak bisa melakukannya sendiri?" tanya Len. Rin tercengang.
"Sejak kapan kau berani seperti ini, Len? Dulu terakhir kali aku datang kau langsung menarikku untuk menemanimu pergi ke toilet," tutur Rin sambil menyipitkan matanya. Len terkejut juga dengan ucapan Rin, namun ia tidak membalas ucapannya dan hanya menundukkan kepalanya.
Ruangan itu sekali lagi menjadi hening. Namun keheningan itu sekali lagi hilang karena sebuah suara yang terdengar jelas di dalam ruangan tersebut.
Kruyuk~
"Rin?" Rin terdiam, tidak menanggapi pertanyaan Len.
"Apa kau lapar?" tanya Len lagi sambil menatap Rin. Wajah Rin yang semula putih langsung bersemu merah dengan pertanyaan tersebut. Ternyata, suara kecil tersebut adalah suara dari perut Rin.
"U-Urusai!"Bentak Rin sambil membalikkan badannya, membelakangi Len. Len yang melihat perilaku tsundere Rin hanya sweatdrop sejenak, sebelum sebuah ide mendarat di pikirannya.
"Nee, Rin. Apa kau mau ikut denganku pulang ke rumah? Dengan begitu, kau bisa makan kan?"
.
Alicia: Hahahahahaahaha! RinLennya mulai kelihatan! HAHAHAHAHA! #disikat … Oke, sekali lagi Alice minta maaf… Lagi mentok ide buat yang request, walaupun sudah dibuat #nak TwT)a
Kyoko: Ini balasan reviewnya~
.
-Kei-T Masoharu
Halo Kei! Dua-duanya… Mungkin? #disikatLen
Tapi muridnya disini sedikit jadi ngak sampai ada kejar-kejaran artis (?) kok X3
Arigatou Kei sudah me-review! X3
-Kagamine 02 Story
Enggak… Cuman lupa karena sudah lama, tuh kalau sudah lihat juga ingat sendiri XD
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! X3
-Kurotori Rei
Oke! Ini sudah lanjut! Arigatou Rei sudah me-review! :3
-martinachristy54
Ini sudah diusahakan updet kilat –w-)7
Arigatou Martina-san sudah me-review! X3
.
Arigatou buat semuanya yang sudah fave, fol, ataupun mengikuti cerita ini sampai sini!
Terakhir… Review please? X3
