-Ghost Crisis!-
*Ch 4*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Mystery, Supernatural.
Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic', pergantian PoV, crack pair
Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?
Normal PoV
Gadis berambut pink pucat itu tampak terus berlari dengan cepat. Ia terlihat tergesa-gesa dan sebuah senyuman manis terlukis di wajahnya. Tak lama kemudian, ia pun sampai di depan sebuah tempat -bandara. Nafasnya terengah-engah, namun wajahnya tampak bahagia.
Ia pun menghapus keringat yang turun dari pelipisnya, lalu segera masuk ke dalam dan berlari kesana-kemari sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Entah apa yang membuat gadis ini tampak begitu ceria hari ini.
Ia terus saja berkeliling tak tentu arah ditengah kerumunan begitu banyak orang, hingga ia menemukan seseorang yang melambaikan tangan kearahnya dengan semangat –seseorang yang sejak tadi dicarinya. Gadis itu pun mempercepat langkahnya ke orang tersebut. Hingga saat ia sudah berada di depannya-
-ia memeluk pemuda itu dengan erat, seakan-akan ia akan menghilang lagi begitu dilepaskan. Pemuda itu balik memeluknya sambil tersenyum kecil.
"Tadaima," ucap pemuda tampan berambut honeyblonde itu dengan suara kecil.
"Okaeri, Rinto," jawab gadis itu -membisikkan kalimat itu di telinga sang pemuda berambut honeyblonde, Rinto.
.
.
.
Rin's PoV
Oke, aku tidak percaya ini.
Pertama, ia datang ke VocLoid City secara tiba-tiba dan lagi disaat keadaanku seperti ini. Hah. Sama seperti kepergiannya dulu. Pergi mendadak, lalu datang tanpa diundang.
Kedua, ia masuk ke sekolah –yang entah kebetulan atau apa- sama denganku. Ah, kurasa Lily ba-san dan Leon ji-san sudah merencanakannya, sih. Jadi aku tidak perlu terlalu mempertanyakannya.
Ketiga, ia kini sedang berada di hadapanku, berusaha mencari KUNCI RUMAHKU di tas sekolahnya. Hell. Jadi ia kini tinggal di rumahku? Ckckck, kuharap kamarku tidak hancur. Aku ingat dulu ketika ia begitu ketakutan dengan mahkluk berkaki delapan bernama laba-laba, hingga ia tega-teganya merusak snow globe kesayanganku.
Normal PoV
Rin tampak melipat kedua tangannya di depan dada dan menghentakkan kakinya dengan tidak sabar. Wajahnya terlihat kesal dan salahkan kelakuan pemuda berambut honeyblonde dihadapannya itu –membuatnya bad mood.
"Sudah kau temukan belum?" Tanya Rin dengan nada gusar. Len mendengus namun tak mengalihkan pandangannya pada Rin dan terus saja mencari kunci menyebalkan yang terselip entah di bagian mana dalam tasnya.
Sudah lima belas menit mereka diam di depan gerbang rumah Rin tanpa alasan yang jelas hanya karena Len tidak dapat menemukan kunci rumah di dalam tasnya.
"Mou! Sudahlah! Lebih baik aku saja yang mencarinya!" Rin pun menjerit frustasi lalu menarik tas Len dan memasukkan tangannya ke dalam tas Len. Ia pun merogoh kesana-kemari namun tetap tidak menemukan apapun.
"Dimana terakhir kali kau menaruh kuncinya?" Tanya Rin dengan kesal. Len menggaruk bagian belakang kepalanya. Entah mengapa ketika berhadapan dengan Rin, ia jadi merasa begitu lemah.
"Aku lupa..."
"ARRGHH! Kau itu tidak bisa diharapkan!" Rin menjerit histeris lalu merogoh kantong yang berada di ujung-ujung tas.
"O-Oi Rin...," Len terlihat panik melihat Rin begitu tampak brutal kali ini. Namun Rin tidak menoleh kearah Len dan terus berusaha mencari kuncinya.
"Hei... Tas itu kan masih ada eksistensinya, apa tidak aneh ketika orang-orang melihat tas itu melayang?" Tanya Len sedikit panik. Rin hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Eh? Aku belum bilang ya? Kalau aku memegang sebuah benda mati yang lebih ringan dibandingkan diriku dan benda mati itu tidak disentuh oleh binatang ataupun manusia selain diriku, eksistensinya akan menghilang selama aku memegangnya. Namun akan kembali pada saat aku melepaskannya."
Len menggaruk bagian belakang kepalanya, tampak binggung dengan penjelasan Rin. Rin mendengus kesal.
"Intinya, kalau aku memegang benda mati, benda itu akan tidak tampak di mata orang biasa. Jadi kau tidak perlu terlalu khawatir," ucap Rin tenang sambil tetap mencari kuncinya. Len pun mengangguk-angguk walaupun ia masih kurang mengerti.
"Ah! Ini dia kuncinya!" tutur Rin ceria sambil menyerahkan kembali tas Len dan kunci rumahnya. Len menerimanya –memakainya kembali- lalu beranjak membuka pintu gerbang dan juga pintu rumah.
CKLEK!
Len pun membuka pintu, mempersilahkan Rin masuk sebelum ia sendiri masuk dan kembali menutup –tepatnya mengunci- pintunya.
"Jadi, apa yang mau kau makan?" Tanya Len datar. Rin tampak tidak mendengarkan pertanyaan Len dan sudah terlihat membuka kulkas sambil mengambil bahan-bahan makanan dengan cepat.
"Aku akan membuat nasi omelet, bahannya cukup. Apa kau juga mau?" Tawar Rin. Len mengangguk kecil lalu beranjak masuk ke dalam kamarnya –atau lebih tepatnya kamar Rin.
"Ohya, Len..."
Ucapan Rin sukses membuat Len berbalik menghadap Rin sambil menaikkan sebelah alisnya. Rin hanya terdiam, tampak sukar untuk mengungkapkan apa yang akan ia sendiri tanyakan kepadanya.
"Kau tinggal disini?" Rin tahu itu pertanyaan yang bodoh. Sudah pasti ia tinggal disini. Sudah pasti ibunya dan ayahnya mengijinkannya tinggal disini. Tapi tetap saja ada berbagai hal mengenai itu yang menganggunya. Len mengangguk sebagai jawaban.
"Apa- Ah, tidak. Kenapa kau kembali ke VocLoid City?" Tanya Rin sambil mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas lalu menutup kulkas. Len terdiam, berusaha menyusun kata-kata dalam benaknya.
"Kokone ba-san dan Kiyoteru ji-san sangat khawatir kau menghilang. Mereka meminta bantuan polisi pada awalnya, namun polisi tidak menemukan apapun dan... yah, begitulah. Lalu tak lama ini ba-san dan ji-san meminta bantuan Kaa-san dan Tou-san untuk mencarimu." Rin terdiam mendengarkan penjelasan Len.
"Yah, karena itulah aku 'diseret' ke VocLoid City untuk membantu Kaa-san dan Tou-san mencarimu...," tutur Len. Rin hanya mengangguk-angguk.
"Ohya. Kau tidur dimana?" Tanya Rin dengan nada selidik. Entah mengapa ia dapat merasa bahwa jawabannya ada di tempat itu. Ia hanya berharap Len tidak akan menghancurkannya.
"Err... Itu...," Len terlihat ragu-ragu untuk menjawab. Rin menghela nafas, kelihatannya dugaannya benar.
"Jangan-jangan kau tidur di kamarku ya?" Tanya Rin. Len dapat merasakan tubuhnya menegang. Namun ia tetap saja mengangguk. Rin menghela nafas lalu berdiri setelah membungkuk karena mengambil bahan-bahan membuat nasi omelet.
"Kalau begitu. Sehabis ini jangan lupa mandi terlebih dahulu! Ingat, mandi!" Rin menjerit sambil menunjuk Len dengan jari telunjuknya. Len tampak kebinggungan melihat reaksi Rin.
"Supaya kasurku dan sepreiku tidak terkontaminasi oleh keringatmu dan menjadi bau," lanjut Rin datar. Len pun sweatdrop sejenak, namun mengangguk. Rin menghela nafas lega lalu pergi ke dapur untuk membuat makanan.
Rin memang belum pernah membuat nasi omelet sebelumnya (walaupun ia pernah memasak), namun mengingat bahwa ia sering sekali melihat Kokone membuatnya, membuat Rin merasa percaya bahwa ia juga dapat membuat nasi omelet yang sama.
Yah, tapi tetap saja kan?
Mengerjakan sesuatu tidak semudah yang kita lihat.
.
.
.
"Gah, kau tahu? Buku yang kau simpan di bawah kursimu itu tidak memberi informasi banyak," tutur Len sambil memakan nasi omelet buatan Rin. Yah, setidaknya cukup baik untuk pemula, walaupun rasanya masih melenceng dari rasa yang sebenarnya. Mungkin karena terlalu banyak memakai bumbu.
Kini Rin dan Len sedang makan. Len sudah menjelaskan kepada Rin kalau Kokone dan Kiyoteru tidak akan ada bersama mereka malam nanti, sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat makan malam mereka dan melakukannya sekarang –jam empat sore.
Rin tersedak mendengarnya.
"Len... Kau tidak mengobservasi atau lebih tepatnya 'memperbagus' kamarku kan?" Tanya Rin dengan nada manis, tapi banyak aura gelap bertebaran dibelakangnya. Len merinding sejenak, namun kemudian menggeleng pasti.
Rin masih tampak kurang percaya, namun karena ia malas mencari masalah dengan pemuda berambut honeyblonde dihadapannya itu, ia pun memutuskan untuk diam.
"Rin... bagaimana kau bisa kehilangan eksistensimu?" Tanya Len lagi sambil melihat piringnya yang sudah kosong. Rin hanya menggidikan bahu, tampak tidak ingin membahas masalah mengenai dirinya.
"Ayolah Rin, kau tahu kan kau harus mendapatkan eksistensimu kembali cepat atau lambat? Kau kan tidak mungkin hidup tanpa diketahui keberadaannya oleh siapapun," tutur Len sambik memutar bola matanya. Rin mendengus kesal dan menatap piring makannya yang kini sudah bersih.
"Memangnya kau pikir aku melakukan apa saat aku kehilangan eksistensiku, hah? Aku pasti mencari cara untuk mengembalikannya!" Jerit Rin, entah mengapa suaranya terdengar marah dan seperti dibebani pikiran. Len tampak kebinggungan.
"Kalau saja mereka tidak menghalangi, semuanya pasti akan mudah. Tapi bagaimanapun juga, masalah semakin lama semakin gawat dan rumit," tutur Rin yang entah mengapa terdengar panik. Len menautkan kedua alisnya, tampak binggung dan tidak dapat mengikuti arah ucapan Rin.
"Mereka? Maksudmu para hantu yang ingin tetap tinggal di dunia?" Tanya Len. Rin mengangguk, wajahnya panik.
"Tapi bukan hanya mereka, sebenarnya." Len menaikkan sebelah alisnya, ia tampak kurang mengerti. Rin menghela nafasnya.
"Hah... Kurasa kalau begini aku harus menceritakan kejadian itu padamu, ya?" Ucap Rin dengan wajah gusar. Len hanya diam, atau lebih tepatnya binggung untuk berkata-kata. Rin yang merasa Len tidak akan mengatakan apapun memulai segala ceritanya.
"Pada hari itu aku datang ke ruang musik. Ternyata, di dalamnya ada seorang anak kecil... Jika aku tidak salah ingat saat itu Oliver sedang kelas 3? Ah, entahlah."
"Oliver?" Tanya Len. Rin mengangguk.
"Iya, itu nama anak itu. Dia sekarang masih SD di Vocaloid Academy –sepertinya," tutur Rin lagi setelah menimbang-nimbang sejenak. Len pun hanya ber-oh ria sebagai jawaban.
"Entah mengapa ia berkata aku tidak boleh melihatnya atau mengetahui keberadaannya -kurasa. Lalu ia mencabut eksistensiku begitu saja," tutur Rin lalu menghela nafasnya kesal. Len terdiam, berusaha mencerna semua penjelasan Rin.
"Tunggu, anak itu juga manusia? Bukan hantu?" Tanya Len. Rin mengangguk dengan wajah masam.
"Kurasa begitu. Ia tidak melayang tiga centi diatas tanah, namun ia sempat kumata-matai sejenak dan ia dikenali banyak orang," ucap Rin. Len terdiam. Jadi anak indigo itu... memihak kepada para hantu? Hanya saja- mengapa?
"Kau tahu mengapa ia memihak kepada golongan hantu itu?" Tanya Len. Rin menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mencari sejauh itu, karena ada masalah lain lagi," ujar Rin lalu mendesah. Len menaikkan sebelah alisnya. Masalah lain? Berapa banyak masalah gadis dihadapannya ini?
"Dan itu?" Len pun berusaha mengorek informasi dari Rin. Rin sendiri hanya bisa menjawab semua pertanyaan dari Len, toh ia dapat mempercayainya dan Len juga akan membantunya mendapatkan eksistensinya kembali. Itu akan meringankan bebannya.
"Ada seorang indigo lain di Vocaloid Academy yang tidak mau terlibat dengan para hantu. Sebegitu tidak inginnya ia terlibat, hingga ia menjadikanku pusat semua masalah yang berkaitan dengan hantu."
.
Alicia: Ehehe, jika kalian baca yang Exotic, kurasa kalian tahu apa yang janggal... seperti 'Lenka kan hantu, bagaimana ia bisa menaruh kotak berisi biskuit itu di atas kursi piano?'
Yuki: Ini balasan reviewnya...
.
-Kei-T Masoharu
Iya, temannya pada unik semua –w-)a
Ini sudah lanjut, arigatou Kei sudah me-review! X3
-martinachristy54
Christy-chii, ok! Tapi jadi serasa manggil nama sendiri #jduag
Oke, ini sudah updet, maaf lama... arigatou dukungannya X3
-Furika Himayuki
Arigatou dukungannya, maaf jika banyak kekurangannya! *mbungkuk* Ok, ganbarimasu! OwO)9
Ini sudah lanjut, arigatou Himayuki-san sudah me-review! XD
-Kurotori Rei
Iya... RinLen-nya sudah keliatan #ketawa2gaje
Ini sudah lanjut, arigatou sudah me-review! *bows*
-Kagamine Chen
Ehhh? Oke, akan dicari typo-nya *nelusuri* Arigatou sudah mengingatkan!
Ok~ Ini sudah coba diubah mulai chap ini... semoga terasa :3
Arigatou sudah me-review! X3
-Angee
Waw. Baca jam 2 pagi ._.a Padahal kukira ga ada unsur horrornya #disambet
Hueee...! Maaf Angee-san jadi ga bisa tidurrrrr! w)/
Banyak yang takut sama Len kali #digamparsamapisang
Tapi bukan itu kok alasannya, nanti juga keliatan sendiri kenapa... X3
Arigatou sudah me-review... sekali lagi, maaaffff! w)o
-Yamashii Raura
Wajah Miku memang kayak monster -3-)b #disikathabissamaMiku
Arigatou! Arigatou sudah ditunggu! Arigatou sudah me-review! X3
.
Arigatou buat semua yang sudah fave, follow, dan membaca cerita sampai sini *bows*
Semoga chapter kali ini memuaskan, maaf jika banyak kekurangannya... Sekian, jaa ne!
