"Sudah hampir dua tahun sejak kau pergi," gadis itu menggumam dengan wajah sedih. Air matanya mulai mengumpul di ujung iris birunya lalu meluncur turun menuruni pipi mulusnya.
Rambutnya yang berwarna hijau tosca panjang berkibar pelan tertiup angin, namun gadis itu tidak memedulikannya. Terlalu sibuk dengan pikiran dan emosinya yang hampir tak terkontrol. Di genggaman tangannya, terdapat sebuket bunga mawar putih.
"Ini bunga kesukaanmu kan?" tanya gadis itu sambil menghadap kearah nisan di hadapannya dan meletakkan buket bunga tersebut di depan nisan. Walaupun ia tahu ia takkan menerima jawaban apapun, gadis itu tetap bertanya sekali lagi.
"Hei, bagaimana kabarmu disana? Bersama dengan Kaa-san dan Tou-san? Pasti menyenangkan ya... kau kejam, meninggalkanku dan Oliver sendirian disini... hiks... hiks," air mata gadis berambut hijau tosca –Hatsune Miku- mulai mengalir dengan deras, gadis itu pun mulai menangis sambil sesekali menjerit.
Namun percuma... seberapa banyak air mata yang diteteskan, seberapa banyak suara jeritan yang terlontarkan, dan seberapa banyak jeritan hati yang kau ucapkan takkan lagi mampu diraih olehnya.
Hatsune Mikuo
Dirinya telah tiada. Tubuhnya telah mati, terbujur kaku di dalam peti. Nisan di hadapannya lah bukti. Miku pun berusaha menghentikkan tangisannya dan mulai berjalan meninggalkan nisan setelah mengucapkan salam perpisahan yang entah keberapa kalinya.
Hah... andai saja ia tahu bahwa jiwa Mikuo masih di dunia...
-Ghost Crisis!-
*Ch 5*
Story by: Kiriko Alicia
Vocaloid belongs to Crypton Media and Yamaha Corp
Rating: T
Pairing (Main): Kagamine Rin X Kagamine Len
Genre: Romance, Mystery, Supernatural.
Warning: Typo(s), Sequel 'Exotic', pergantian PoV, crack pair
Summary: Dua kubu yang saling bertolak belakang. Para indigo yang disisihkan karena diangap berbahaya. Seorang gadis yang kehilangan eksistensinya di dunia. Akankah ada pencerahan bagi mereka?
Normal PoV
"Ada seorang indigo lain di Vocaloid Academy yang tidak mau terlibat dengan para hantu. Sebegitu tidak inginnya ia terlibat, hingga ia menjadikanku pusat semua masalah yang berkaitan dengan hantu."
Len seakan membeku mendengar penuturan Rin. Rin sendiri hanya terdiam dengan wajah kesal sambil memainkan rambutnya.
"Kau tahu siapa dia?" tanya Len sambil menaikkan sebelah alisnya, ia tidak pernah menduga akan ada seorang indigo yang menginginkan hidup normal padahal ia mempunyai sebuah kelebihan yang jarang dipunyai orang lain.
Selain itu, orang tersebut juga berhasil mendapatkan 'impian'-nya tersebut dengan membuat Rin menyelesaikan semua masalah mengenai para hantu di Vocaloid Academy, yang berakhir lepas kendali dan membuat gadis itu kehilangan eksistensinya sendiri.
"Aku tidak tahu. Tapi yang kutahu, ia menggunakan Rainbow Stone, sehingga efeknya hanya temporer," jawab Rin lagi.
"Kau yakin mengenai Rainbow Stone?"
"Yakin seratus persen. Aku sudah sering berkeliling baik itu di gedung SMP, SD maupun SMA saat semua murid sedang ada. Dan anehnya, tak ada yang menyadari kehadiranku, tentunya kecuali Oliver. Ia sendiri langsung berlari pergi dengan wajah seperti mau menangis saat aku mendekat kearahnya." Rin mengatakannya dengan wajah kesal.
Len terdiam sambil sweatdrop. "Sepertinya ia takut kau akan melakukan sesuatu padanya setelah apa yang ia lakukan padamu..."
"Yah, mungkin juga. Tapi bukankah aku yang seharusnya takut dengannya? Bukannya dia yang malah melihatku seperti melihat monster."
"Entahlah, mungkin karena tubuhmu yang jauh lebih besar daripada dia dalam ukuran. Lagian kau kan bilang dia masih SD," ucap Len. Rin menghela nafasnya.
"Mungkin..."
.
.
.
"Jadi... dimana aku akan tidur?" tanya Rin kebinggungan, "kau kan tidur di kamarku, tidak mungkin aku juga tidur disana. Jadi, sebaiknya aku tidur dimana?"
"Em... kurasa kau tidur di kamarmu saja, kan dari awal itu sudah merupakan kamarmu," ucap Len sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, "aku akan tidur di sofa."
"Eh, atau kau bisa tidur di futon kan? Nanti akan kukeluarkan di lemari kamarku. Kurasa tempatnya cukup," usul Rin tiba-tiba.
"E-Eh!? Jadi aku tidur di kamarmu?" tanya Len memastikan. Rin hanya mengangguk dengan pandangan menerawang, entah apa yang berada di pikirannya.
"Tapi sebagai gantinya, besok aku akan ikut bersamamu pada saat di kelas."
"Ha? Jadi kau mau mengintaiku, begitu?!"
"Tidak, tapi kemarin aku melihat ada seorang anak baru, dan sepertinya ia akan masuk kelasmu. Karena aku ingin memastikan, kurasa lebih baik aku ikut denganmu di kelas saja," jawab Rin asal-asalan, karena sejujurnya ia tidak tahu dimana kelas anak baru tersebut.
"O-Oh," jawab Len singkat.
"Sudahlah... sekarang, cepat kau mandi sana! Kalau aku yang masuk ke dalam kamar mandi, kau takkan bisa masuk ke sana selama satu jam lebih!" jerit Rin lalu mendorong Len masuk ke dalam kamar mandi beserta baju yang Len siapkan sendiri.
"Dasar seenaknya sendiri," gumam Len geli sembari melepas pakaiannya.
.
.
.
"Nee, Lennn?" tanya Rin sambil duduk di pinggiran kasurnya dan tanpa menoleh kearah Len. Rin sudah mandi dan kini mengenakan t-shirt berwarna kuning dan celana pendek berwarna kuning dengan kain yang tidak terlalu tipis maupun terlalu tebal.
"Hm?" jawab Len yang sedang membaca novel misteri milik Rin sambil tiduran di futon. Ah, futon Len dan kasur Rin bersebelahan, namun kasur Rin lebih tinggi karena ada kayu sebagai penyangga.
"Coba kau tanyakan teman-teman sekelasmu, siapa tahu ada yang mengenal Oliver," tutur Rin pelan sambil berbaring ke kasurnya yang empuk.
"He? Memangnya kenapa?" tanya Len balik acuh tak acuh, ia tidak begitu berminat melakukannya. Lalu ia pun membalikkan lagi halaman novel yang sedang ia baca.
"Tak apa, aku hanya merasa ada yang janggal," jawab Rin seadanya lalu ia tampak berpikir sebentar, "dan tanyakan kepada teman birumu yang bernama Shion Kaito itu mengenai seorang gadis bernama Kaiko, Shion Kaiko."
"Shion Kaiko? Namanya mirip dengan Kaito," komentar Len. Rin mengangguk, "dia itu seperti Shion Kaito versi cewek."
"Memangnya kau mengenalnya, Rin? Aku baru pertama kali mendengar nama itu," ucap Len lalu menutup novelnya sehingga perhatiannya tidak teralihkan pada saat Rin berbicara.
"Aku pernah membantunya... dulu," jawab Rin lalu menyelimuti dirinya dan berbalik, menengelamkan wajahnya ke dalam bantal.
"Nee... kau masih mau membaca buku?" tanya Rin dengan suara tertimbun dibalik bantal. Len menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu matikan lampunya dan tidur!" ucap Rin cepat lalu membalikkan badannya sedikit untuk mengambil guling dan tidur menghadap ke samping (lantai tempat Len berada, karena sebelah kasur Rin tembok).
"Ohya, dan kalau kau melakukan sesuatu padaku pada saat aku tidur, kau tahu apa akibatnya kan, Len?" peringat Rin dengan senyuman manis namun penuh dengan aura kelam dibelakangnya. Len meneguk ludahnya lalu mengangguk pelan.
"Kalau begitu, oyasumi!" ucap Rin lalu dengan cepat masuk ke alam mimpi. Len melihat kearah Rin sejenak. Melihat Rin yang tampak begitu tenang dalam tidurnya membuatnya secara tidak sadar tersenyum.
"Oyasumi..."
.
.
.
"Nggh..."
Iris biru safir milik Rin tampak membuka perlahan. Rin lalu mengedipkan matanya kedua beberapa kali. Melihat keadaan yang masih gelap, ia pun menoleh kearah jam dinding –dimana jarum jam berada di angka enam.
Ia pun akhirnya memaksa dirinya terbangun melawan rasa kantuk dan mengambil posisi duduk. Lalu mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, hingga pandangannya mendarat kearah manusia lain yang berada di ruangan tersebut.
Rin sekali lagi mengedipkan kedua matanya beberapa kali lalu meneliti gerak gerik Len. Nafasnya teratur dan kedua matanya masih terpenjam –menandakan bahwa ia masih tertidur pulas. Rin yang melihatnya pun tersenyum kecil lalu berjalan keluar ruangan.
Ia membuka pintu dan melihat rumah masih sangat gelap. Rin menghela nafas lalu menutup pintu kamarnya dan segera pergi ke dapur untuk memasak sarapannya dan Len –bubur.
Setelah memasak, ia masuk ke dalam kamar lagi dan disambut oleh Len yang masih tertidur pulas. Tak memedulikan Len yang masih tertidur, Rin pun mengambil baju yang nyaman untuk dipakai –tidak perlu repot-repot menggunakan seragam berhubung eksistensinya tidak ada.
Ia masuk ke dalam kamar mandi, melepas semua pakaiannya dan meletakannya di sudut ruangan. Mengambil shower cap di dekat westafel lalu memasangnya dan segera melakukan aktifitasnya dalam ruangan tersebut.
Sekitar sepuluh menit Rin berada di kamar mandi (aktifitasnya di dalam kamar mandi: mandi, mengenakan seluruh pakaiannya, dan aktifitas selain mandi yang kalian lakukan di toilet). Setelah itu, ia pun keluar dari kamar mandi.
Dan ia cukup kaget, mendapati Len masih tertidur pulas dalam futonnya padahal sekarang sudah jam tujuh lebih. Rin pun berjalan mendekati Len lalu mengguncang tubuh temannya itu.
"Nggh.. Rin?" tanya Len kebinggungan ketika melihat Rin berada disebelahnya.
"Len! Ini sudah jam tujuh! Cepatlah bersiap-siap!" jerit Rin dengan sedikit kesal. Len mengangguk walaupun iris biru safirnya masih setengah terpenjam, lalu berjalan untuk mengambil pakaian sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
.
.
.
"Rin, apa sarapannya hari ini?" tanya Len setelah keluar dari kamar mandi. Entah mengapa setelah mandi, ia merasa lapar. Rin menunjuk bubur yang dibuatnya di meja makan.
"Aku membuat bubur tadi pagi," jawab Rin, "dan itu kurasa bekal makanmu... roti keju yang berada di kulkas. Kaa-san ceroboh, ia meningalkan rotinya begitu saja, padahal lusa sudah kadaluarsa."
Len mengangguk sebagai jawaban sebelum duduk di salah satu kursi di meja makan. Ia pun melihat bubur buatan Rin yang kini berada di hadapannya dan menyadari sesuatu yang salah.
"Em, Rin?" tanya Len.
"Iya?" tanya Rin balik.
"Apa kau tadi memasak bubur dulu baru mandi?" tanya Len.
"Em, iya?" Rin menjawab pertanyaan Len dengan agak ragu-ragu. Len terdiam dengan wajah datar mendengar jawaban Rin.
"Baka, kalau begitu masakannya sudah dingin dong," sindir Len.
"..."
"..."
"C-Cerewet! Makan saja, sana! Sudah kubuat susah-susah masih protes!"
.
Rin disini tipenya rada himedere, jadi dia cenderung suka semuanya berjalan sesuai kehendaknya X3 dan rada tsundere juga... #slap - Shion Kaiko ada di Exotic kalau kalian menyadarinya...
Ok, ini balasan reviewnya~!
Kagamine Chen
Ya, kata kerja 'di' itu memang salah satu kelemahanku :'3 terima kasih, semoga disini tidak ada salah lagi X3
Ok, terima kasih sudah menunggu dan me-review~!
Kei-T Masoharu
Seharusnya lima kalau begitu, cuman Rinto kan belum masuk XP
Ini sudah lanjut, terima kasih sudah me-review!
Kurotori Rei
Iya, Oliver itu bukan hantu. Terlalu kasihan untuk dibuat jadi hantu #disambet
Jawabannya ada di beberapa chap ke depan, dan memang ada hubungannya dengan Miku, Mikuo, dan Kaiko. Ini sudah lanjut, terima kasih Rei sudah me-review! XD
Furika Himayuki
Miku muncul lagi di chap depan kok, ini juga muncul tapi cuman dikit X3
Terima kasih :') #terharu – Terima kasih, GBU!
Terima kasih sudah me-review! XD
LittleMermaid23
Itu kertasnya berbau jeruk karena ada sesuatu... ehehe, pernah dengar kan tentang surat rahasia yang ditulis pakai air jeruk? #kokjadispoiler
Adaaa! Kalau ada selai mangga, pasti sudah Alice beli sekarang! XD
Ini sudah lanjut, terima kasih banyak sudah me-review!
Terima kasih semuanya yang sudah fave, follow, dan membaca sampai disini! Maaf karena banyak kekurangannya, sekali lagi Alice minta maaf!
Sekian, jaa ne!
~Kiriko Alicia
