WARNING : AU, gaje, maybe ooc, rated T. DLDR. Sekali lagi, buat yang nggak suka, sila klik tombol back. karena saya lebih suka kritik dan saran daripada flame.
Funny update lagi. meskipun cerita yang satunya belum sempet update, saya lebih seneng update yang ini. hehehe. udah ya ngga usah banyak omong, langsung aja yaa..
Siap siap berkomentar ya! Yup! Selamat membaca...
Summary : "Aku menyukaimu." Aku mengabaikannya. Aku tidak pernah memperhatikan kehadirannya. Tapi tanpa aku sadari, aku terbiasa dengan leluconnya, aku terbiasa dengan kehadirannya, dan aku terbiasa bersamanya. Kata orang, kebanyakan manusia jatuh cinta tanpa disadari karena terbiasa. Apakah aku juga jatuh cinta karena terbiasa bersamamu? Percayalah, kau tidak akan tau seberharganya sesuatu sampai kau kehilangannya.
Disclaimer : Masashi kishimoto-sensei
NORMAL POV
Hari selanjutnya berjalan seperti biasa ketika pagi. Banyak anak-anak junior yang dihukum dan masuk buku hitam untuk dicatat namanya karena melanggar peraturan. Ada juga murid senior yang mencoba mencoba menakuti adik kelas dengan cara memelototi dan mengancam akan melabraknya sepulang sekolah jika para anggota dewan kedisiplinan memasukan nama mereka kedalam buku hitam. Ada juga siswa seangkatan yang mencoba menyogok satpam gerbang belakang agar membukakan gerbang untuk mereka.
Dan kau tau? Si Pirang naruto absen telat hari ini. What a miracle, right?
Akhirnya sakura hanya menghukum dua orang adik kelas yang telat saja, sisanya-yaitu sekitar sebelas orang-dia serahkan kepada anggota dewan kedisiplinan lainnya.
Dalam perjalanan menuju ke kelas, sakura diam-diam bertanya dalam hati, kenapa si pirang bodoh itu tumben tidak telat.
"Syukurlah kalau dia sudah tidak menggangguku lagi, aku benar-benar muak dengan segala kelakuannya."
Heh! Apa benar kau bersyukur karena dia tidak mengganggumu? Bukankah kau bertanya-tanya kenapa dia tidak terlambat? Bukankah kau merindukannya? Setan di dalam hati sakura mengejek sakura habis-habisan.
Baru saja si pirang itu berada dalam pikiran sakura, sekarang seperti seorang ajaib yang bisa tiba-tiba muncul, Naruto datang dari arah yang berlawanan dengansakura. Karena jika dari gerbang utama, kelas naruto berada lebih dekat daripada kelas sakura, tetapi ini sakura melihat naruto datang dari ujung koridor kelasnya. Yang berarti dapat disimpulkan bahwa naruto habis dari lapangan basket, kantin, ataupun lantai dua dan tiga. Bukan dari gerbang utama.
Melihat tampilan naruto hari ini, sakura sedikit heran, bagaimana bisa si pirang itu memakai atribut lengkap dan tidak terlambat? Tapi baju naruto tidak dimasukkan kedalam celana abu-abunya, blazzernya disampirkan di bahu tegapnya sebelah kiri.
Sakura tidak tahan untuk berbicara kepada naruto, jadi sakura mencoba mencari kesalahan dalam diri naruto untuk dibicarakan ataupun ditegur.
Picik memang kedengarannya, tapi yah memang begitu kenyataannya.
"Hei kau! Na-" Baru saja sakura akan menegurnya, dari arah belakang sakura, sudah ada sasuke yang berbicara memanggil naruto.
"Cepat, Dobe."
Naruto, yang tadinya sempat melihat sakura ketika sakura sedang akan menegurnya, langsung memfokuskan pandangannya pada sasuke yang sedang menunggunya di pintu kelas mereka.
Dan.. Naruto berjalan begitu saja melewati sakura tanpa sempat melirik sakura lagi.
Sakura jangan ditanya, dia kaget, kecewa, menyesal, senang, sedih.
Keh! Bukankah ini yang kau inginkan, sakura? Naruto berhenti mengganggumu? Batin sakura mengejeknya habis-habisan.
Tanpa dirasa, satu tetes air mata jatuh di pipi sakura tanpa ada yang sempat melihatnya.
SAKURA POV
"Hai ketua, kau ingin makan apa? Biar aku yang mengantri, kau tunggu disini saja." Suara si pirang bodoh itu selalu saja mengganggu kehidupan damaiku.
"Kau tidak beda dengan pembantuku, bodoh." Jawabku.
"Terserah kau, ketua. Yang penting aku ingin bersamamu. Jadi, kau ingin dibelikan apa?"
"Baiklah, aku ingin satu es jeruk, roti krim moka, dan apel merah."
"Yo, Naruto. Ayo ikut main, kita ditantang kelas XI IPS 2. Semua anaknya sudah kumpul dilapangan." Suara suigetsu menyambung suaraku setelah aku selesai berbicara.
Naruto terlihat bingung, ingin memilih ikut bertanding basket atau menemani sakura dikantin, jadi sakura lebih suka naruto bermain dengan teman-temannya daripada selalu membuntuti sakura.
"Pergilah, aku baik-baik saja tanpamu, Pirang."
"Sasuke sudah ada kan, Sui?"
"Sudah."
"Baiklah, aku tidak ikut karena sasuke saja sudah cukup. Dan kau, ketua, tunggu sini aku akan membelikan pesananmu. Jaa!"
"Orang sedang jatuh cinta benar-benar seperti banci." Rutuk Suigetsu.
"Ra.."
"Sakura.."
"Haruno Sakura!" Sial aku terpaksa menarik diriku bangun dari alam kenanganku. Juga sedikit bergeser menjauh dari suara melengking yang mengembalikanku ke alam sadar.
"Ah ya, ada apa, Pig?"
"Ada apa kau bilang? Aku sudah bertanya berkali-kali kepadamu, kau mau ikut membeli atau menunggu saja disini, bodoh?"
"Aaa, aku tunggu sini saja, aku pesan sama sepertimu oke?"
"Bodoh. Dikantin pun kau bisa melamun." Ino sedikit menggerutu tetapi setelah itu dia langsung pergi membeli daftar jajannya.
Sejujurnya, aku sedang mengenang memandang naruto yang sedang bermain basket, karena biasanya naruto lebih memilih bersamaku dibanding bermain basket bersama teman kelasnya. Tapi, sekarang, sepertinya naruto sudah benar-benar tidak ingin berdekatan denganku lagi.
Percayalah, itu rasanya seperti hatimu sedang ada yang meremasnya, tenggorokanmu seperti ada yang mengganjalnya, dan matamu serasa panas seperti ada yang akan meleleh.
"Shit! Apa yang sedang terjadi dengan sahabatmu ini, Ino?" Suara kiba terdengar seperti sedang menahan umpatan, marah dan lain sebagainya ketika sedang menaiki tangga menuju kelasnya yang dilantai dua.
"Aku pun tak tahu, jangan kan kalian, aku sendiri saja tadi sempat kena damprat moodnya yang labil itu. Memangnya kau kenapa, Kiba?"
Ino yang juga kelasnya berada dilantai dua, menanggapi pertanyaan kiba sekenanya, karena memang dia turun ke lantai satu bukan untuk mengobrol dengan kiba, tetapi mencari sahabat pinknya yang sedang mencari mangsa untuk melampiaskan moodnya yang buruk.
"Dia memotong gelang kesayanganku yang sepasang dengan anjingku. She's kinda bitch, today."
"Yes, she is." Ino menjawab dengan sedikit berusaha menahan tawanya yang ternyata gagal.
"Brengsek, ternyata kau juga ikut mentertawaiku. Minggirlah, aku ingin cepat ke kelas agar aku bisa membenarkan gelangku yang dipotong oleh ketua kedisiplinan yang katanya ada aturan dilarang memakai gelang untuk siswa."
"Hahaha. Bodoh. Itu memang ada aturannya, kau saja yang tidak membaca."
"Aku tidak peduli, minggir Yamanaka."
Dengan senang hati, Ino memberi jalan kepada kiba agar dapat lewat karena ia juga takut terkena semprot kiba lagi.
Dalam perjalanannya menuju gerbang, dia bertemu dengan naruto yang sedang menuju kelas.
"Yamanaka, aku butuh bantuanmu, istirahat kedua, koridor kelasku dan sakura. Itu pun jika kau ingin tau apa yang sedang terjadi sebenarnya."
Setelah berkata seperti itu, naruto langsung saja pergi meninggalkan ino yang belum sempat menjawab sepatah kata pun. Akhirnya ino hanya mengiyakan dalam hati dan berencana menunggu naruto di bangku koridor antara kelas sakura dan naruto. Karena memang, dia penasaran apa yang akan dibicarakan oleh naruto.
"Jidat!"
Sakura, yang merasa namanya dipanggil oleh seseorang berusaha mencari sumber suaranya.
"Hn?"
"Ada apa dengan otakmu? Apa kau tertular penyakit sasuke?"
"Cepatlah, apa yang ingin kau bicarakan? Aku tidak punya waktu pig."
"God, what the hell is going up?"
"Nothing. But it's already 13."
"What kind of 13 are you talking about right now?"
13 hari naruto mengabaikanku, Pig. Jawab sakura dalam hati.
"Nothing. Cepat kau ke kelas, sebentar lagi guru masuk kelas, pig."
"Aku tidak mau tau nanti istirahat kedua kau harus cerita apa yang terjadi denganmu." Jawab ino sambil kembali ke kelasnya.
"Haruno-san, adakan razia flash disk, kamera, laptop milik para siswa. Aku mendapat laporan dari seseorang jika ada yang menyimpan gambar dan video 17+"
Suara kepala sekolah, Jiraiya-sensei, terdengar sedikit memerintah kepada si ketua dewan kedisiplinan itu.
"Apa? Kenapa mendadak sensei? Kenapa juga SO tidak memberitahu?"
"Karena kabarnya hari ini akan ada yang menjual video-video itu. Dan razia ini juga diadakan mendadak atas rapat para guru tadi."
SO. School Organization adalah semacam Organisasi khusus untuk siswa sekolah naruto dan sakura. Karena OSIS sudah termasuk mainstream untuk kalangan Senior high school.
"Baik sensei, akan saya adakan razia sebelum istirahat kedua ketika jam pelajaran ke-6."
"Saya percayakan semuanya kepadamu Haruno-san."
"Iya, sensei."
NARUTO POV
Terdengar pintu diketuk dari luar, dan masuklah tujuh anggota Dewan Kedisiplinan, termasuk sang ketua, Haruno sakura.
Mau apa mereka masuk ke tiap kelas?
Sakura masuk dengan wajah yang sedikit berseri, entah itu karena akan masuk ke kelasku atau pun karena sudah ada rencana aneh diotaknya. Aku sudah hafal itu. Aku sudah tau persis sakura. Jadi aku diam saja ketika sakura masuk.
"Permisi sensei, kami dari Dewan Kedisiplinan ditugaskan oleh Kepala Sekolah agar memeriksa alat elektronik setiap murid." Haruno sakura mulai angkat bicara.
"Silahkan, Haruno-san."
Razia rupanya, tidak apalah. Lagian aku hanya membawa kamera DSLR-ku dan smartphone. Aku tidak membawa atau menyimpan sesuatu yang aneh-aneh. Kalau pun aku menyimpan yang aneh-aneh, tidak akan aku bawa ke sekolah karena bisa berabe."
"Terima kasih sensei. Baiklah, untuk siswa kelas XI Ipa 2 diharap meletakkan barang elektronik yang kalian bawa ke dalam kotak yang sudah kami bawa. Kami hanya memeriksa. Jika milik kalian bersih, maka akan langsung dikembalikan, dan jika sebaliknya, maka orang tua akan dipanggil untuk mengambil barang yang disita."
Terdengar suara gaduh dari arah belakang. Mungkin karena ada yang takut kepergok. Aku tersenyum dalam hati. Bodoh! Barang seperti itu kenapa harus dibawa ke sekolah?
"Baiklah, beri kami waktu lima belas menit untuk memeriksa semuanya diluar dan setelah itu kami kembalikan kepada kalian. Terima kasih."
Oh Shit!
NORMAL POV
Setelah semua barang elektronik di kumpulkan untuk di cek diluar, sekarang anggota dewan mulai merazia barang milik XI IPA 2.
"Damn. Ternyata dia suka kepada Ayame."
"Lagu apa ini? Kenapa lagu dangdut banyak sekali di hape kabuto?"
"Apa? Upin-Ipin? Dia pikir kelas berapa dia sehingga masih mengoleksi film Upin-Ipin?"
Terdengar suara protes dan tawa dari anggota dewan ketika sedang merazia barang mereka.
Sakura tertarik dengan kamera dan ponsel naruto, jadi dia memutuskan untuk mengecek ponselnya terlebih dahulu. Tidak ada yang aneh, mencurigakan atau apapun itu dihape naruto kecuali foto-foto kecuali foto dirinya yang dijadikan wallpaper dan screen saver oleh naruto. Belum lagi folder di galeri yang isinya hanya foto-foto sakura.
Mau tidak mau, hal ini membuat sakura tersenyum.
Sekarang, lanjut ke kamera milik naruto. Naruto memang senang memotret, tapi ini hanya untuk hobi, bukan untuk dijadikan pekerjaan seperti para fotografer.
Disitu, isinya hanya foto orang-orang hanya sekilas diamati dan tidak sengaja tertangkap layar ketika naruto memotretnya. Banyak juga foto-foto sakura yang sedang tersenyum, cemberut, dan bahkan.. menangis. Dapat disimpulkan bahwa hampir tiga perempat kartu memori kamera naruto hanya terisi foto sakura baik candid maupun tidak.
Perlahan, sebuah senyum tersungging dibibir sakura.
Tapi tunggu, sepertinya sakura memencet terlalu cepat sehingga hampir ada yang terselip. Itu adalah foto.. Yamanaka Ino sedang tertawa lepas!
DEG!
Perasaan apa ini? Batin sakura. Apa maksud naruto dengan memotret ino yang sedang tertawa lepas? Berbagai macam pertannyaan berkecamuk dalam benak sakura. Yang mana, tidak ada satu pun jawaban dia dapatkan.
Semakin sakura memencet tombol selanjutnya, semakin turun lengkungan yang ada dibibir sakura karena bersamaan dengan itu, banyak foto ino yang sedang tersenyum dan melamun. Sakura tidak bisa berbohong, ino memang cantik, putih dan tinggi. Benar-benar kriteria semua cowo. Tapi, yang sedang kita bicarakan adalah naruto. Naruto yang notabene selalu mengejar sakura karena naruto menyayanginya, kenapa sekarang malah menyimpan banyak gambar ino? Apa mungkin..
"Kenapa kau menangis sakura-senpai?"
"TEEEET TEEET" Suara bel istirahat kedua sudah berbunyi, sebentar lagi pasti koridor ramai oleh siswa yang akan ke kantin. Jadi dia langsung saja berlari menuju kamar mandi pojok koridor dekat kelasnya dan kelas naruto dengan kamera masih digenggam olehnya
Ucap seseorang dan suara bel menarik sakura kembali ke dunia nyata. Tanpa dia sadari, dia sudah banyak meneteskan air mata diatas kamera milik naruto. Dia langsung saja berlari ke kamar mand
Banyak hal yang dia tidak sadari selama ini. Dia ternyata merindukan lelucon naruto. Dia ternyata merindukan naruto. Dia ternyata nyaman berada disamping naruto. Dia ternyata.. jatuh cinta kepada naruto.
Pernyataan ini membuat tangis sakura semakin deras, dia sudah terlalu lama bodoh untuk menyadari jika dia sudah terbiasa oleh kehadiran naruto. Dia terlalu lama mengabaikan perasaan naruto. Dia takut, bagaimana seandainya sekarang naruto sudah tidak mencintainya? Apakah sekarang giliran sakura yang mengejar-ngejar naruto? Ya Tuhan.. Tangisan sakura semakin deras. Sehingga sakura merasa pusing dan ingin duduk di UKS.
"Ouch! Apa-apaan kau Na—"
Perjalanan menuju UKS, dia mendengar suara ino yang sedang mengaduh kesakitan dan dia mencarinya. Tanpa dia tahu, itu membuat hatinya hancur benar-benar hancur.
Mari kita jelaskan, ino sedang berada di tembok dengan naruto dihadapannya, jaraknya yang sudah benar-benar tertutup membuat siapa pun tahu bahwa mereka sedang berciuman didepan siswa-siswi lainnya.
Mengabaikan air mata yang masih mengalir deras, sakura langsung berlari menuju lantai paling atas gedung ini. Dia belum siap. Kenapa, dari sekian banyak perempuan disekolah ini, harus ino jika memang naruto menyukai perempuan lain selain sakura?
Sesampainya di atap sekolah, ternyata sudah ada yang menempati. Uchiha sasuke.
"Bagaimana rasanya, Haruno? Tidak enak bukan, ketika kita menyukai seseorang dan malah diabaikan?"
Bukannya membuat tangisan sakura semakin mereda, setelah sasuke berkata seperti itu, sakura malah semakin menangis dan menjerit. Karena memang tidak ada yang bisa mendengar dan melihat selain sasuke. Sasuke, bukannya bertanggung jawab malah keluar dan turun ke lantai bawah meninggalkan sakura yang masih menangis tersedu.
NARUTO POV
"Aw! Apa yang kau lakukan bodoh?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu, Naruto!" Ino balas berteriak setelah menginjak sepatuku. Benar-benar bukan perempuan.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, aku benar-benar menyukai sakura."
Tanpa berkata sepatah kata pun lagi, aku langsung beranjak pergi menyusul sakura.
NORMAL POV
Naruto sudah berada diatap hanya berdua dengan sakura. Tapi sakura masih belum menyadari keberadaan naruto. Mungkin karena sakura sedang memikirkan sesuatu.
Naruto sakit melihat air mata sakura yang masih menetes. Lebih sakit lagi jika semua itu disebabkan oleh dirinya. Dia ingin menghapus semua itu.
"Sakura.." Panggil naruto pelan. Sakura yang merasa baru pernah dipanggil nama lengkap oleh orang yang ternyata ia suka langsung berbalk.
Tanpa diduga, sakura langsung berlari memeluk naruto erat. Menangis dipelukannya. Naruto yang kaget hanya membalas pelukannya.
"Aku mencintaimu, naruto. Sungguh, aku mencintaimu.."
"I love you more, Haruno sakura."
Setelah beberapa menit berlalu, tangis sakura sudah mulai berkurang. Sakura memberanikan diri melepas pelukan dan menatap naruto.
Naruto hanya mencondongkan badannya untuk mencium sakura. Tetapi ketika kurang beberapa sentimeter lagi, sakura mendorong tubuh naruto.
"Aku tidak ingin berciuman denganmu ketika masih ada bekas bibir perempuan lain dibibirmu."
"Come on, aku sudah menyukaimu sejak lama. Aku tidak akan mau mencium orang lain hanya karena aku ingin pengakuan darimu."
"Terus apa yang kau lakukan tadi dengan ino?"
"Diam dan percayalah jika aku tidak menciumnya, ketua." Setelahnya, naruto langsung mencium bibir sakura sambil satu tangannya memeluk pinggang sakura yang terasa pas dilekukan lengannya. Sakura yang juga benar-benar rindu dengan naruto hanya membalas apa yang naruto sedang lakukan kepada dirinya.
"Naruto.. Aku masih bingung banyak hal. Kenapa kau sempat menjauh dariku? Kenapa kau tidak pernah menggangguku lagi waktu itu? Kenapa kau.. mencium ino? Kenapa harus ino dari sekian banyak siswi di sekolah ini?"
"Kau merindukan gangguanku?"
Bukannya menjawab, naruto malah semakin meledek sakura dengan senyuman jahil terpasang diwajah tampannya.
"Aku penasaran, Naruto.. jawab lah.."
"Aku akan menjawabnya jika kau kerumahku sore ini. Bagaimana?"
"Usul diterima." Jawab sakura semangat karena rasa penasarannya akan terjawab.
Tanpa sepasang kekasih itu sadari, ada seseorang dibalik pagar pembatas memandang mereka dengan tersenyum.
'Akhirnya, kau mendapatkannya juga, Dobe. Selamat.' Dan dia berlalu begitu saja dengan senyum terukir diwajahnya.
Ini menurut saya sih udah selesai ceritanya. tapi kalo ada yang mau nunggu kelanjutannya, ada kemungkinan dipublisih. udah setengah jalan juga sih. paling cuma njelasin cerita yang belum jelas di chapter sebelumnya. oke segitu ajaa.. kalo masih mau nanya juga, bisa pm saya.
Selamat Review..
