WARNING : AU, gaje, maybe ooc, rated T. DLDR. Sekali lagi, buat yang nggak suka, sila klik tombol back. karena saya lebih suka kritik dan saran daripada flame.
Halo reader sekaliaaan, yay akhirnya saya bisa posting chapter terakhir ini. maaf, mungkin endingnya kurang bagus, kurang greget dan lain-lain karena saya juga masih belajar menulis lebih baik lagi.
Siap siap berkomentar ya! Yup! Selamat membaca...
Summary : "Aku menyukaimu." Aku mengabaikannya. Aku tidak pernah memperhatikan kehadirannya. Tapi tanpa aku sadari, aku terbiasa dengan leluconnya, aku terbiasa dengan kehadirannya, dan aku terbiasa bersamanya. Kata orang, kebanyakan manusia jatuh cinta tanpa disadari karena terbiasa. Apakah aku juga jatuh cinta karena terbiasa bersamamu? Percayalah, kau tidak akan tau seberharganya sesuatu sampai kau kehilangannya.
Disclaimer : Masashi kishimoto-sensei
NORMAL POV OKE
"Apa kau tidak lelah seperti itu terus, Dobe?"
"Aku lelah, Teme. Hanya saja, bisa apa aku agar dia menyatakan cintanya hah?" Jawab pemuda pirang itu sambil menghela napas frustasi.
"Aku punya ide. Tapi ini terserah kau mau mengikuti saranku atau tidak. Aku hanya berusaha membantu mu. Aku kasihan melihat mu terus diabaikan olehnya."
"Cepatlah Teme, katakan saja idenya. Aku sedang tidak ingin kau berikan nasehat."
"Pertama. Hapus kebiasaanmu mencari perhatiannya. Buat seolah-ola kau tidak menyadari kalau dia ada."
"Wait, wait. Jadi maksudmu aku harus mengabaikan Sakura jika Sakura bertanya dan menghindari membuat masalah dengannya? Kau gila. Jika seperrti itu caranya, dia akan direbut oleh cowo lain teme. Ganti saran. Ganti ide."
"Jangan. Menyela. Ucapanku." Ucap pria berambut dongker yang menjadi lawan bicara Naruto. Sasuke-nama pria berambut dongker itu seperti sedang menahan amarahnya supaya tidak meledak didepan sahabatnya itu.
"Aahh. Iya maafkan aku, Teme." Ucap Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kau yakin Sakura mencintaimu?"
"Seratus persen aku yakin."
"Lakukan hal pertama selama dua minggu. Sanggup?"
Naruto seperrtinya sudah akan menyela ucapan Sasuke tapi ditahannya lagi karena tidak ingin membuat sahabatnya itu marah.
"What kind of hell are you talking about?" Ucap Naruto sambil melotot.
"One week and a few days. Take it or leave it. Karena jika kau hanya beberapa hari mendiamkannya, dia tidak akan merasa kau berubah."
"Challenge accepted." Jawab Naruto sambil menghela napas untuk yang ke-banyak-kalinya hari ini.
"Kedua, biarkan dia melihat kedekatanmu dengan perempuan lain. Jika kau sudah akan mengakhiri permainan ini, mungkin kau bisa mencium seorang gadis didepannya dan kau akan membuatnya sadar jika selama ini Sakura mencintaimu."
"Pertama, kau pikir aku bisa mencium gadis didepan Sakura? Kedua, kau pikir ini mainan, teme? Kau memang hebat."
"Itu saranku, kau tidak mau, aku tidak rugi, kau tau?"
"Seems crazy. But if it's not crazy, then it's not us, right?"
Lalu Naruto tertawa sambil membenturkan bahunya ke bahu Sasuke yang sedang tersenyum. Karena selain ibunya dan Hinata, Naruto juga termasuk kedalam pengecualian dimana Sasuke bisa memberikan senyumnya.
"Begitulah ceritanya." Jawab Naruto mengakhiri ceritanya kepada Sakura yang masih telungkup diatas tempat tidur Naruto. Naruto sendiri sedang duduk di kursi belajarnya.
"Kenapa kau menyimpan gambar-gambar close up Ino? Kenapa kau mencium Ino? Kenapa harus Ino dari sekian banyak perempuan yang ada? Kenapa harus sahabatku?"
Sakura bertanya sambil cemberut karena kesal memikirkan tingkah Naruto waktu itu.
"Satu-satu, Ketua." Naruto menjawab sambil mendekati Sakura yang terlihat sedang rawan untuk meledak.
"Bukan aku yang memotret Ino menggunakan kameraku. Itu Shikamaru. Percayalah. Kau tau kan, Shikamaru suka sama Ino?"
"Apa? Shika suka sama Ino?"
"Shit. Keceplosan." Jawab Naruto sambil menangkupkan kedua tangannya diwajahnya.
"Ino juga suka Shikamaru, Naruto."
"Terserahlah. Aku tidak mencium Ino, Ketua. Kau bisa tanya Ino. Aku menyelipkan kartu kreditku diantara ehem bibirku dan bibir Ino. Percayalah."
"Serius? Kenapa aku tidak melihat kartu kreditmu?"
"Karena kau melihat dari sudut yang salah."
"Dan terakhir, kenapa Ino? Karena satu-satunya orang terlintas dihadapanku Ino. Bukan karena aku sengaja atau menyimpan perasaan kepada Ino."
"Aaa.. Begitu.."
"Naruto, Aishiteru." Sakura langsung beranjak mendekat kepada Naruto dan memeluk Naruto. Mungkin malu karena baru saja menyatakan cintanya kepada Naruto.
"Aku tau."
"Yaaa. Kenapa kau hanya menjawab seperti itu, bukannya membalas pernyataan c-"
Sakura yang sedang marah langsung dicium oleh Naruto agar tidak terlalu lama berisik. Setelah melepaskan diri masing-masing, Sakura hanya bisa merona.
"Aku tau. Hari ini lipglossmu rasa jeruk. Tapi waktu itu rasa strawberry bukan?" Tanya Naruto sambil menjilat bibirnya sendiri yang masih ada bekas bibir Sakura.
"Emm ya."
"Ooh ayolah ketua, kau tidak boleh malu-malu. Keluarkan monster yang selalu ingin menciumku itu. Aku jadi penasaran, rasa apa saja yang kau punya untuk lipglossmu."
Pria berambut kuning itu berusaha meraih tas Sakura yang ada dimeja belakang Sakura.
"Apa-apaab kau Naruto? Tas perempuan tidak boleh asal kau buka. Bahkan isinya bisa lebih mengejutkan daripada paket bom. Dan, kau hanya ingin modus berdekatan denganku bukan?" Sakura berusaha melempar tasnya sejauh-jauhnya dari jangkauan Naruto.
"Aku tadinya tidak berpikir seperti itu, tapi kau mengingatkanku. So, here it is."
Naruto menindih Sakura yang berbaring telentang dengan mata memandang Naruto seolah menantang apa yang bisa Naruto lakukan kepada Sakura. Jarak antara badan mereka tidak ada. Hanya wajah mereka yang terpaut beberapa senti. Itupun langsung dihapus oleh Naruto dengan menciumnya.
Sakura menautkan kedua tangannya dipunggung Naruto. Dan kedua tangan Naruto berada di kedua sisi kepala Sakura. Sakurq hanya mengimbangi pagutan Naruto. tidak membalas lebih brutal.
Sakura sediikit mendorong dada Naruto karena kebutuhan oksigen untuk bernapas.
"Naruto, aku minta tolong."
"Apa saja untukmu ketua."
"Cat kuku-ku. Oke?"
"Apa?"
"Aku minta tolong kau supaya ngecat kuku-ku. Kau tidak mau?"
"Hiya, baiklah.."
Jadi disinilah mereka. Sakura yang tidur menyamping menghadap Naruto. Dan Naruto yang duduk bersandar dikepala ranjang sedang mengolesi kuku Sakura dengan cat kuku.
Sakura tidak menginggalkan senyum diwajahnya sama sekali. Dia bahkan sangat menyayangi Naruto. Dia lebih menyayangi ketika Naruto sedang meniup masing-masing tangan Sakura ketika sudah selesai mengolesi kuku Sakura supaya kering. Lihat saja wajah Naruto yang sangat serius.
Setelah meniup beberapa menit, Naruto mencoba memegang hasil kuteknya.
"Sudah kering, Hime."
"Aku suka. Suka hasil kutekmu, suka caramu memanggilku. Jadi aku akan memberimu penghargaan."
Sakura langsung mendorong badan Naruto telentang diatas kasur dan Sakura duduk mengangkangi diatasnya.
"You want a monster, then this is the monster."
Sakura menempelkan dada mereka hingga saling menekan satu sama lain. Naruto pun mengunci kedua kaki Sakura dibawah kakinya. Sakura meremas rambut pirangnya, Naruto mengelus pinggang dan punggung Sakura.
Sakura menciumnya dengan brutal. Tidak memperdulikan napas mereka yang mulai memburu. Sakura terus saja menggigit bibir bawah Naruto. Terkadang melepas gigitannya hanya untuk bersilat lidah dengan Naruto. Naruto pun senang saja Sakura menciumnya seperti itu.
Dan mereka berciuman yang entah berapa lama mengabaikan cat kuku Sakura yang tumpah diatas sprei Naruto karena belum ditutup. Mungkin cat biru tosqa itu sebagao tanda mereka pernah berciuman panas disini.
"Kau memang hebat, Naruto!" Sakura memberi acungan dua jempol kepada Naruto karena sudah selesai menampilkan persembahan dari band mereka di acara pensi kali ini.
"Yaa, aku berlatih, kau tau? Kalau aku tidak berlatih, bagaimana aku bisa se-lancar itu, eh?"
Sakura sedang berada didepan panggung duduk manis ditempat yang sudah disediakan oleh panitia. Setelah Naruto turun dari panggung, Naruto langsung menghampiri Sakura di tempat duduknya. Mereka memang tidak bisa berlama-lama berjauhan.
Naruto menyandarkan satu lengannya di kursi milik Sakura. Sakura pun menyandarkan punggungnya di tangan Naruto. ketika Sakura sedang menonton drama yang disiapkan oleh panitia, Naruto menyelipkan jepitan rambut diatas telinga Sakura. Sakura yang kaget, langsung menengok ke arah Naruto.
"Untukmu. aku membelinya setelah aku berlatih kemarin." Naruto menjawab sambil menampilkan senyuman lima jarinya.
Sakura langsung memeluk Naruto. Speechless atas segala kebaikan Naruto.
"Kau pikir hanya kau, hah? aku juga mempunyai sesuatu untukmu." Sakura menyerahkan lensa yang lebih fokus untuk kamera Naruto.
Mereka pun tertawa bersama karena selalu memiliki pemikiran yang sama.
Fin..
Terimakasih buat yang kalian yang sudah membaca. saya butuh kritik dan saran kalian biar fic saya lainnya lebih bagus hehe.
kalo yang mau request fic bisa pm saya aja hehe. Oke goodbyee~ sampai jumpa di fic saya lainnyaaa...
Selamat Review..
