Disclaimer : JK Rowling owns the Harry Potter series.
- The Wildest Things -
Chapter 3
Suara 'POP' yang tiba-tiba terdengar, membuat Hermione membuka matanya untuk bangun. Betapa terkejutnya ia, melihat seorang peri rumah berdiri di samping tempat tidurnya. "Maaf Miss. Mimsy tidak bermaksud membangunkan, Miss." makhluk itu spontan berkata, ketika melihat wajah Hermione yang terkejut.
"Ehm, oke tidak apa-apa. Siapa namamu tadi?" Hermione bertanya dengan ramah.
"Perkenalkan, Miss. Saya Mimsy, Miss. Mimsy ditugaskan oleh Master Draco untuk memenuhi permintaan Miss." Mimsy menundukkan kepalanya.
"Oh, jangan menundukkan kepalamu begitu. Angkat kepalamu, Mimsy." ujar Hermione panik.
Dasar Malfoy, pasti dia yang menyuruh peri rumah ini untuk menghormati tuannya. Huh, tidak berubah.
Mimsy mengangkat kepalanya. "Ada yang bisa Mimsy bantu, miss?"
"Oh ya, katakan Mimsy, jam berapa sekarang? Dimana ini, dan dimanakah Malfoy?"
"Sekarang jam 8 pagi, miss. Maaf, tapi Mimsy tidak bisa memberitahukan kepada Miss dimana ini. Master Draco melarang Mimsy. Dan soal Master Draco, Mimsy tidak tahu kemana Master Draco pergi."
Mimsy terlihat cemas. Hermione menyadarinya.
"Astaga. Malfoy sering menyakitimu? Ia sering menghukummu ya?"
Peri rumah itu terkesiap. "Tidak, sama sekali tidak Miss. Master Draco sangat baik kepada kami para peri rumah. Ia bahkan ingin memerdekakan kami, namun kami peri rumah menolak. Kami senang melayani Master Draco." Matanya menunjukkan kesungguhan.
Hermone seolah tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. "Malfoy? Baik kepada peri rumah? Mencoba memerdekakan?"
Mimsy menganggukkan kepalanya dengan antusias. Tampak bahwa ia sangat senang dengan tuannya.
"Ya Miss. Master Draco memang sangat baik." namun tiba-tiba nada suaranya menjadi sedih dan dengan rendah melanjutkan, "sayang ia harus mengalami semua ini."
Hermione membelalakkan matanya. Mimsy tahu sesuatu! Mungkin ia bisa tahu lebih banyak dari sang peri rumah.
"Mimsy, bisakah kau menceritakan padaku apa yang telah terjadi dengan...er...Draco?" Hermione merasa masih ragu untuk memanggil pria itu dengan nama depannya. Memanggil dengan nama depan terasa sangat...akrab. Memang dulu mereka mempunyai hubungan, namun sekarang, ia tidak yakin.
"Maaf, Miss. Mimsy tidak tahu secara detail. Dan Master Draco juga tidak mengizinkan Mimsy untuk memberitahu Miss."
Hermione merasa dirinya frustrasi. Sial, sial, SIAL!
"Miss, ada yang Miss inginkan? Mungkin sarapan?"
Yang ditanya hanya menghela napas. Ya mungkin sarapan merupakan ide bagus.
"Ya baiklah, Mimsy. Aku minta tolong untuk sediakan sarapan saja, oh, dan satu pertanyaan lagi. Bolehkah aku keluar dari kamar ini?"
"Maaf Miss, tapi Master Draco tidak mengizinkannya. Master Draco sudah memasang segala proteksi di kamar ini agar Miss tidak bisa berkelana keluar."
Sialan kau, Draco Malfoy!
Hermione merasakan bahunya terkulai lemas mendengar jawaban yang mengecawakan itu. Oke, ia menyerah, untuk sekarang.
"Itu saja, Miss?" Mimsy masih menunggunya.
"Ya, itu saja."
Sang peri rumah itu pun menghilang dengan suara 'POP'.
Hermione menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Draco Malfoy sialan! Pergi kemana kau? Kabur begitu saja setelah semalam, dan tidak mengizinkanku untuk setidaknya keluar dari kamar ini? Dasar brengsek!
Sudah seminggu sejak Draco 'menculik' Hermione. Sudah seminggu juga, Hermione tidak melihat Draco. Terakhir kali pertemuan mereka, ketika konfrontasi di kamar yang Hermione tempati sekarang ini. Semenjak itu, ia tidak pernah lagi melihat Draco. Setiap hari, ia bertanya kepada Mimsy sang peri rumah tentang keberadaan Draco, makhluk itu hanya menjawab, "Maaf, tapi Mimsy tidak tahu, Miss." atau "Mimsy tidak tahu kemana Master Draco pergi, Miss." Selalu tidak tahu. Setiap mendengar jawaban itu, Hermione hanya bisa menghela napas.
Ketika Hermione sedang merenung karena kebosanan, muncul Mimsy dengan suara 'POP'. Hermione terlonjak dari lamunannya.
"Mimsy bawakan makan malam, Miss."
Hermione tersenyum kepadanya, "Terima kasih, Mimsy. Aku ingin bertanya, apakah Draco sudah kembali?"
Mimsy menggelengkan kepalanya. "Belum, Miss. Namun, tadi burung hantu Master Draco datang mengirimkan surat ini, untuk diberikan kepada anda, Miss."
Surat?
"Silahkan, Miss." Mimsy menjulurkan tangannya yang memegang surat dari Draco, menunggu Hermione untuk mengambil surat itu.
Dengan ragu, Hermione mengambil surat itu.
"Jika ada hal lain yang Miss Hermione inginkan, panggil saja Mimsy."
Kemudian, dengan petikan jari sang peri rumah, ia menghilang dari pandangan.
Dengan segera Hermione membuka surat di tangannya. Ia hanya melihat secarik perkamen kosong.
Lelucon apalagi ini?
Namun tiba-tiba perkamen itu bercahaya sekilas, dan perlahan-lahan terlihat kata-kata muncul di atas perkamen itu.
' Granger,
aku tahu kau pasti mencari tahu kemana aku pergi. Dan pastinya kau sedang tersungut-sungut di kamarmu, dan mengutukku karena kau tidak kuizinkan keluar dari kamar itu. Well, tindakanku itu semuanya beralasan. Tentu aku tidak akan memberitahu seluruh alasanku sekarang. Nanti jika waktunya tiba...'
Hermione hanya memutar bola matanya.
'...Aku tahu kau pasti sedang memutar bola matamu karena kesal.'
Sial, pria itu masih bisa membaca dirinya terlalu baik.
'..Kurasa kau akan senang jika aku memberitahumu bahwa kita akan pergi dari tempat itu. Tidak aman. Kuharap kau siap untuk pergi tengah malam ini. Kemasi semua barangmu. Mintalah pada Mimsy barang yang kau perlukan. Jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan ramuan, atau buku yang mungkin akan diperlukan nanti. Persiapkan dirimu baik-baik, Granger.
-Malfoy.
P.S : Aku memanipulasi perkamen ini agar hanya kau yang bisa melihat isinya. Jenius bukan? '
"Huh, dasar arogan." Hermione mencibir. Memang idenya jenius, tapi tentu saja ia tidak akan mengakui hal itu. Egonya terlalu besar.
Hmmm, ramuan...dan buku? Buku masih masuk akal, tapi ramuan? Untuk apa mereka perlu membawa ramuan?
Sebenarnya apa maksud Malfoy?
Hermione memutar otaknya berusaha mendapatkan jawaban. Merasa tidak akan mendapatkannya, ia memutuskan untuk menanyakan saja secara langsung hal itu kepada Malfoy nanti.
Ia kemudian memanggil Mimsy.
Sang peri rumah segera muncul di hadapannya.
"Ada apa, Miss?" mata bulatnya menatap Hermione.
"Erm, Mimsy. Jam berapakah sekarang?"
"Sekarang jam delapan malam, Miss."
Hem, ada waktu empat jam untuk bersiap-siap.
"Oh oke, terima kasih Mimsy. Kurasa aku akan memanggilmu lagi nanti seusai aku mandi. Maafkan aku jika telah merepotkanmu."
"TIDAK! Tentu tidak, Miss. Mimsy senang membantu Miss Hermione. Sudah tugas Mimsy untuk memberikan semua yang Miss inginkan, dan Mimsy senang untuk membantu." ujar sang peri rumah dengan mata berbinar-binar.
"Baiklah, Mimsy. Aku ingin mandi dulu. Nanti akan kupanggil ketika aku memerlukan bantuan." Hermione tersenyum kepadanya. Mimsy menganggukkan kepalanya, dan menghilang dari ruangan.
Seusai mandi, Hermione segera memakai pakaiannya yang telah disiapkan oleh Mimsy, sang peri rumah.
Seriously, kenapa pakaian yang dipilihkan oleh oleh Mimsy selalu dress yang feminin, dan berenda?
Sesungguhnya, Hermione merasa lebih nyaman hanya dengan t-shirt dan jeans, tetapi apa boleh buat. Lagipula Mimsy sudah menyiapkan segalanya untuknya.
Merasa lebih segar, dan well...wangi, Hermione bergegas mengemasi barang-barangnya dalam waktu singkat. Tentu saja singkat, barang miliknya yang ia bawa, hanya baju dan pakaian dalam yang dipakainya pertama kali ke rumah ini. Baju-baju yang ia pakai selama ini merupakan pinjaman dari Draco.
' ...Mintalah pada Mimsy barang yang kau perlukan.. '
Oke, mungkin tak ada salahnya ku coba.
"Mimsy."
'POP'
"Ya miss?" Mimsy menjawab panggilan sang gadis.
"Bisakah kau memberiku... beberapa baju, celana dan erm...pakaian dalam?" pipinya memerah karena malu.
Demi Merlin! Kenapa aku mesti malu? Meskipun peri rumah, Mimsy kan juga perempuan!
Ketika Mimsy bersiap pergi untuk mengambil barang yang diinginkan oleh Hermione, ia dicegah oleh gadis itu.
"Oh! Dan juga, bisakah kau memberiku essence Dittany, dan obat-obatan lainnya?"
Mimsy meresponnya dengan mengangguk.
"Excellent! Satu hal lagi, bisakah kau memasukkannya ke dalam tas kecil yang sudah diberi mantra Peluas Tidak Terdeteksi?"
"Tentu, Miss. Mimsy bisa melakukannya."
"Terima kasih banyak, Mimsy."
Kemudian peri rumah itu pun langsung menghilang untuk melaksanakan tugasnya. Merasa tidak memiliki hal untuk dikerjakan, Hermione merenung.
Draco, dimana dia? Sudah seminggu lebih aku tak melihatnya. Sebenarnya apa saja yang dilakukannya? Mengapa aku tiba-tiba diculik olehnya?
Hermione tak habis pikir, untuk apa Draco Malfoy secara misterius tiba-tiba menghilang dari kehidupannya, kemudian ia kembali secara tiba-tiba di hadapannya dan menculik dirinya.
"Miss?"
Kehadiran Mimsy sontak membuat renungan Hermione buyar.
"Miss, ini barang-barang yang Miss inginkan. Semuanya sudah Mimsy masukkan kedalam tas kecil ini. Master Draco sudah menyiapkannya. Master Draco berkata pada Mimsy bahwa ia sudah merasa Miss akan membutuhkan tas yang diberi mantra itu." jelas Mimsy secara panjang lebar, tanpa henti, membuatnya kehabisan napas pada saat ia mencapai akhir dari kalimatnya.
Great, lagi-lagi Draco bisa menebakku. Hermione menggerutu dalam hati.
Tiba-tiba, pintu kamar Hermione terbuka, dan tepat di ambang pintu, berdirilah Draco Malfoy. Postur tubuhnya tegap, dengan tangan terlipat di dadanya, serta ekspresi yang terkesan arogan terpampang jelas di wajahnya.
Tatapan matanya tertuju pada Hermione, yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi yang...sulit ditebak. Tidak tahan dengan intensitas mata coklat itu, ia mengalihkan perhatiannya kepada sang peri rumah.
"Mimsy, kau boleh pergi." ujarnya.
Mimsy sang peri rumah menundukkan kepalanya tanda hormat, dan segera menghilang.
"Siap untuk pergi dari sini?" Draco kembali mengalihkan perhatiannya kepada Hermione.
Hermione mendengus, "Memangnya aku punya pilihan?"
Namun Draco mengabaikannya. "Kau sudah membawa barang yang kau butuhkan?"
Menggertakkan gigi, sang gadis menjawab, "Ya, sudah semuanya. Bisakah kau memberitahuku kemana kita akan pergi, Yang Mulia?"
"Tidak perlu sarkastis." Draco menjawabnya dengan tenang.
Sikap tenangnya membuat kesabaran Hermione makin menipis. Bagaimana mungkin ia masih bisa tenang seperti itu?
"Katakan kepadaku, Malfoy. Aku perlu tahu."
"Yah, kau memang selalu perlu tahu segalanya kan?" ia mencemooh.
Hermione bisa merasakan kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun kepalanya.
"Namun untuk memuaskan rasa keingintahuan-mu yang tidak ada habisnya itu, kita akan pergi ke Zabini Manor."
Blaise Zabini?
"Untuk apa?" Hermione tidak bisa menghentikan pertanyaan yang meluncur dari mulutnya itu.
"Kau tidak perlu tahu banyak, Granger." jawabnya dingin.
"Kau masih berhutang penjelasan padaku, Malfoy."
"Tenang saja, aku masih ingat itu, Putri." Draco menyeringai.
"Kau siap untuk pergi?" Draco bertanya.
"Terserah." jawab sang gadis singkat.
Mata abu-abu sang pria menyipit, menunjukkan bahwa ia marah. Namun dalam sekejap, ia kembali memasang tampang indifference-nya kembali. Menyembunyikan segala perasaan yang berkecamuk di dadanya.
"Pegang tanganku, kita akan Apparate berdampingan."
Mata coklat sang gadis bertemu dengan mata abu-abu sang pria, menyiratkan tanda tak percaya.
"Kukira kau memasang banyak mantra proteksi disini, termasuk anti Apparition?"
Draco memutar bola matanya, "Tentu saja aku sudah menurunkan proteksinya, Granger."
Pipi Hermione bersemu merah, merasa malu karena telah melontarkan pertanyaan yang bodoh.
Tentu saja ia bisa menurunkan proteksi dan Apparate, karena dialah tuan rumah ini. Bodohnya aku!
"Come on, Granger! Waktu kita tidak banyak." ujar Draco dengan nada tajam. Hermione dapat merasakan bahwa pria itu sedkit tergesa-gesa untuk pergi dari rumah ini. Ia masih mengulurkan tangan kanannya, menunggu Hermione untuk menggenggamnya. Tangan kirinya memegang tas kecil milik Hermione.
Namun, Hermione ragu-ragu untuk menyentuh tangannya. Apakah bisa aku mempercayainya?
Draco mulai merasa tidak sabar. Demi Merlin, waktu mereka tidak banyak! Mengapa Granger tidak langsung saja menyambut uluran tangannya?
"Hermione, jangan banyak berpikir! Pegang tanganku!" Draco melepaskan topeng dinginnya. Wajahnya terlihat sangat panik sekarang.
Secara tergesa-gesa, Hermione menggenggam tangan Draco. Dan dengan sekejap, mereka menghilang disertai suara yang keras seperti petir menggelegar.
Hermione merasa bahwa kakinya telah menginjakkan tanah dengan selamat.
Ia mulai memperhatikan lingkungan sekelilingnya. Di depannya, berdiri sebuah rumah, atau mungkin lebih tepat disebut istana.
"Draco, apakah ini..."
Namun, Hermione tidak sempat menyelesaikan pertanyaannya, karena Draco memotong pertanyaannya, dan kemudian ia balik bertanya.
"Aku tadi sudah bilang kan tujuan kita?"
Hermione mengangguk.
"Berarti kau sudah bisa tahu pasti dimana kita sekarang ini."
"Zabini Manor." Hermione menjawab pelan.
"Yeah, Zabini Manor."
A/N : Maaf ya kalo kependekan. Dan maaf kalo chapter ini kurang memuaskan karena mungkin terlalu bertele-tele, dsb. :( (Excuse for any typos, 'kay?)
Anyway guys, please lend me your thought about this chapter via review. Kalo pada review, kan jadi termotivasi buat ngelanjutin cerita ini, dan chapternya bisa lebih panjang lagi... :D
Okeoke? hehehe..
Oya readers check out my profile. Disitu ada poll tentang gimana nih enaknya, aku update cerita ini. Jangan lupa ikut vote yaa... Karena nasib cerita ini bergantung pada kalian semua. ;)
