Disclaimer : Harry Potter series is not mine.
- The Wildest Thing -
Chapter 4
.
Angin berhembus kencang, ditambah dengan fakta bahwa pada saat itu adalah tengah malam, tentu saja udara terasa sangat dingin dan menusuk tubuh.
Hermione merasakan badannya mulai tak kuat dengan suhu udara di luar.
"Dra-Malf-Draco," sang gadis merasa bingung bagaimana sebaiknya ia memanggil pemuda itu, namun memutuskan untuk memanggil dengan nama depannya. Siapa tahu, mungkin dia akan bersikap lebih terbuka kepadanya? "sampai kapan kita mau berdiri disini terus?" ia melanjutkan pertanyaannya.
Hermione menebarkan pandangan ke sekeliling. Manor itu terlihat tidak terawat sama sekali.
"Hey, Draco. Kau yakin ini tempat tujuan kita? Kurasa tidak ada orang di Manor itu. Keadaannya saja terlihat memprihatinkan."
Namun sang Malfoy muda tetap terdiam tidak menjawab. Kemudian dengan perlahan, ia mengambil sebuah pisau dari kantong jubahnya.
Mata coklat Hermione membelalak melihat benda itu.
"Draco, apa yang akan kau lakukan?" ia bertanya terbata-bata.
Jujur, Draco membuatnya takut sekarang.
Lagi-lagi, yang ditanya tidak menjawab, melainkan langung menunjukkan apa yang akan dilakukannya. Ia menyayat telapak tangannya. Kemudian, dengan darah yang mengalir dari tangannya, ia berjalan mendekati gerbang Manor di depan mereka. Dengan tenang, ia meneteskan darahnya ke tanah, di depan gerbang. Hermione menatapnya ngeri.
"Seriously Draco, apa yang kau lakukan?"
Hermione bergerak mendekatinya, namun ia bertemu dengan semacam penahan, yang mencegahnya mendekati Draco.
"Sanguine revelata." Draco berkata dengan pelan, sangat pelan sehingga Hermione nyaris tidak bisa mendengarnya.
Tiba-tiba, darah Draco di tanah, yang telah menetes dari tangannya, seolah terhisap ke dalam Manor itu melalui gerbang.
Gerbang itu pun kemudian terbuka, dan terlihatlah Zabini Manor yang sesungguhnya. Meskipun terasa sedikit aura mencekam, seperti Malfoy Manor, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Manor ini indah dan sangat megah.
Tanpa banyak bicara, Draco mengangkat telapak tangannya yang berdarah, dan mengucapkan mantra penyembuh untuk menyembuhkan lukanya. Dalam sekejap, luka itu hilang tanpa bekas.
"Ayo kita masuk, Granger." ujarnya kepada Hermione.
Hermione yang masih merasa kaget dengan apa yang dilihatnya, hanya menurut mengikuti Draco. Tak kuasa lagi menahan pertanyaan yang membakar di benaknya, ia pun bertanya.
"Draco, apa yang kau lakukan tadi itu? Apa maksudnya?"
"Untuk memasuki rumah ini, diperlukan darah sebagai izin masuk. Namun bukan hanya darah saja, orang yang ingin memasuki rumah ini juga harus tahu apa yang harus diucapkan jika ingin membuka gerbang itu. Yah, semacam kata sandi. Sesungguhnya, hanya aku dan Blaise saja yang tahu soal ini. Dan sekarang kau." ia mengalihkan pandangannya, "yah, kurasa tak apa jika kau tahu."
Mereka berdua berjalan dalam keheningan.
Astaga, mengapa rasanya pintu depan rumah ini jauh sekali? Hermione menggerutu dalam hati.
Hanya dalam waktu tiga menit (meskipun Hermione merasa lebih lama dari itu), mereka berdua sampai di depan pintu rumah Blaise Zabini. Hanya dengan sekali ketukan dari Draco, seorang peri rumah membukakan pintu.
Draco menatap makhluk itu, "Bawa kami ke tempat Tuanmu."
Peri rumah itu mengangguk dan membimbing Draco serta Hermione ke tempat Tuan-nya.
"Master Blaise ada di ruangan ini, Tuan Draco." peri rumah itu berkata ketika mereka sampai di depan sebuah ruangan.
Makhluk itu kemudian mengetuk pintu dengan jari-jarinya yang kurus.
"Siapa itu?" terdengar suara dari dalam.
"Master Blaise, Tuan Draco datang mengunjungi Master." sahut sang peri rumah.
Tak lama kemudian, terdengar suara kunci yang dibuka, dan terlihat kenop pintu diputar. Ketika pintu telah terbuka, terlihat Blaise Zabini berdiri di ambang pintu.
"Well well," ia memulai, "Draco, rupanya kau membawa seseorang." ia menyeringai.
"Tidak usah pura-pura bodoh, Blaise. Tutup mulutmu atau kubunuh kau." Draco menjawab dengan marah.
Blaise terlihat terkejut. "Whoa tenang, mate. Santai saja."
Kemudian ia menatap Hermione yang meskipun berada di samping Draco, terlihat sekali ia menjaga jarak dari pemuda itu.
"Syukurlah ia bisa sampai ke tanganmu dengan selamat." katanya setelah selesai menginspeksi sang gadis.
"Yeah well, kurasa aku berhutang padamu tentang itu, Blaise."
Hermione hanya memerhatikan dua lelaki itu berbicara. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka berdua.
"Hey, apakah dia sudah tahu soal 'itu' Draco?" Blaise bertanya kepada temannya. Dagunya menunjukkan ke arah Hermione.
"Belum saatnya." lelaki berambut pirang itu menjawab dengan singkat.
Hermione tersentak dengan pernyataan itu. "Hei! Apa maksud kalian berdua? Draco, beritahu aku semuanya sekarang!" ia menuntut.
Badan Draco seketika terlihat kaku. Sorotan matanya yang tajam tertuju pada mata coklat Hermione. Mau tidak mau, Hermione merasa gugup dipandang seperti itu. Sungguh, Draco selalu bisa membuatnya tak berkutik hanya dengan tatapan mata abu-abunya itu.
Draco hanya diam tidak menjawab.
"Blaise, bisakah kau tunjukkan kamar agar Putri ku ini bisa beristirahat?" Draco mengalihkan pandangannya dari Hermione dan melontarkan pertanyaan pada Blaise.
Blaise terlihat bingung dengan perubahan arah pembicaraan. "Erm, tentu. Cress akan menunjukkan kamar untuk Granger."
Hermione menatapnya tak percaya. "Draco Malfoy, jelaskan padaku sekarang juga ap-"
Omongan Hermione terhenti, karena tiba-tiba ia merasa mengantuk. Sangat mengantuk, dan tak sanggup untuk membuka matanya agar tetap terjaga.
Draco berada di belakang sang gadis, dan dalam hitungan detik, Hermione pun tanpa sengaja menjatuhkan dirinya kepada Draco yang berada di belakangnya. Draco menangkap tubuh Hermione dengan mudah, dan mengangkatnya.
"Kau beri dia mantra tidur?" Blaise bertanya kepada sahabatnya.
"Ya. Sekarang bisakah kau beri tahu aku dimana kamar yang bisa kami pakai?"
Blaise memanggil salah satu peri rumahnya, Cress, dan menyuruh peri rumah itu membimbing Draco ke kamar yang kosong untuk beristirahat. Ketika Draco, dengan Hermione yang tertidur di pelukannya, bersiap untuk pergi dari ruang kerja Blaise langkahnya terhenti karena pernyataan yang diungkapkan sang pemilik rumah.
"Draco, kurasa dia berhak untuk tahu. Apalagi kau akan membutuhkan pertolongannya."
Tanpa membalikkan badan, Draco menjawab sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri. "Belum saatnya, Blaise. Belum."
Blaise hanya menggelengkan kepalanya. "Lebih cepat akan lebih baik, Drake."
"Kita akan membicarakannya besok pagi. Aku terlalu lelah sekarang."
Lagi-lagi, Blaise hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Draco berjalan keluar, menjauhi ruangannya.
..
..
Sinar matahari menembus ruangan melalui jendela. Hermione membuka matanya, dan kemudian menyipitkan matanya, tak kuat melihat sinar matahari yang amat terang.
Tiba-tiba, Blaise Zabini membuka pintu kamarnya tanpa aba-aba. Penghuni kamar itu terkejut, dan secara refleks menarik selimut untuk menyembunyikan dirinya.
Blaise hanya memutar bola matanya melihat reaksi gadis mantan Gryffindor itu.
"Oh please, Granger. Jangan bertingkah kekanakan seperti itu."
Hermione menatapnya dengan ekspresi masam. "Apa maumu, Zabini? Tidak sopan sekali kau, langsung masuk kesini tanpa mengetuk pintu dulu. Dimana tata krama mu?" Hermione mencibir.
"Ini rumahku, Granger. Aku berhak melakukan apa saja."
Hermione hanya mendengus. Namun Blaise tidak menghiraukannya.
"Kau…ikut denganku sekarang juga." Blaise melipat tangannya di dada.
"APA? Kemana?"
"Untuk memenuhi rasa penasaranmu, sebaiknya kau ikut saja."
Dengan enggan dan sambil mengutuk pria berkulit gelap itu, Hermione bangkit dari tempat tidurnya.
Blaise melihatnya dengan pandangan jijik. "Merlin, Granger. Benahi dulu dirimu! Menjijikan sekali, ada bekas air liur di pinggir bibirmu." ia bergidik.
Sontak Hermione menutupi mulutnya dengan punggung tangannya. Mengutuk sang pemilik rumah sekali lagi, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membenahi dirinya.
"Aku menunggumu diluar, Granger. Dan kuharap kau lakukan urusanmu dengan cepat." Blaise berteriak sambil berjalan meninggalkan ruangan.
Di dalam kamar mandi, Hermione mencuci mukanya di wastafel. Kemudian, ia melihat bayangan dirinya di cermin yang ada di depannya. Mengapa aku menjadi seperti boneka mereka? pikirnya dalam hati.
"Granger, cepatlah sedikit!" terdengar suara teriakan Blaise dari luar ruangan.
Secepat mungkin Hermione membersihkan dirinya agar terlihat lebih rapi. Tak berapa lama kemudian, ia keluar dari kamarnya dan mendapati Blaise sedang menyandarkan dirinya di tembok. Melihat Hermione keluar dari kamarnya, lelaki itu hanya melihatnya sekilas dan menyuruh gadis itu untuk berjalan mengikutinya. Sebenarnya, ia tak mau mengikuti apa kata pria itu, namun karena rasa penasarannya yang amat besar, mau tak mau ia berjalan di belakang Blaise, mengikuti pria itu.
..
..
"Blaise?" sahut Draco yang berdiri di depan ruang kerja Blaise, memanggil temannya itu.
Tidak terdengar jawaban. Draco menaikkan alisnya, merasa bingung. Ketika ia akan memasuki ruangan kerja Blaise, tiba-tiba pintu tersebut terbuka. Terlihat bahwa sang pemilik rumah lah yang telah membuka pintu.
"Oh, Draco!" Blaise menyapa pria berambut pirang di depannya itu.
Draco memasuki ruangan Blaise, dan Blaise pun mengikutinya.
"Draco, kita butuh bicara serius." Blaise memulai pembicaraan.
Tidak mendapat respon dari sahabatnya, ia kembali melanjutkan.
"Seriously Draco, kapan kau akan memberitahu Granger soal keadaanmu ini?"
"Entahlah, Blaise. Aku masih belum yakin."
Blaise menghela nafas. "Lebih cepat, akan lebih baik. Kau membutuhkan bantuannya untuk melepaskan kutukan itu darimu secepatnya."
"Damn it, Blaise! Aku tahu itu dengan sangat jelas. Namun, coba beritahu aku. Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya semua hal gila ini? Hem, mari kita coba. 'Hermione, maafkan aku, tapi sesungguhnya selama aku menghilang aku sedang dikejar-kejar oleh ayahku yang gila dan pamanku yang psikopat. Dan tahukah kau? Aku diberi semacam kutukan oleh Lucius, yang selain bisa membahayakan diriku, tetapi juga bisa membahayakan dirimu jika aku terus berada di dekatmu. Meskipun menemuimu sangat beresiko, bisakah kau membantuku menghilangkan kutukan ini?' Hahaha, entah menurutmu, tapi kurasa itu terdengar aneh." Draco tertawa hambar.
"Lagipula," lanjutnya, "aku sudah mengurungkan niatku untuk meminta bantuan. Biar saja diriku ini mati. Aku tak peduli. Besok, aku akan kembalikan Granger ke rumahnya, dan menghapus memorinya tentang kejadian ini."
"Apa kau bercanda, Draco Malfoy?" tiba-tiba terdengar suara Hermione.
Sontak Draco langsung menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari sumber suara itu.
"Apa maksud semua ini, Blaise?" Draco menggeram marah.
Blaise hanya mengangkat bahunya. Kemudian, keluarlah Hermione dari bawah kolong meja kerja Blaise. Dengan cekatan, Draco mengeluarkan tongkat sihirnya dan mendekatkannya pada leher Blaise.
"Kau! Berani-beraninya kau…"
Namun Blaise tidak melakukan perlawanan. Ia menghadapi kemarahan Draco dengan tenang.
"Kupikir itu adalah jalan termudah untuk memberitahu Granger. Seperti yang kubilang, dia berhak untuk tahu."
"Draco, turunkan tongkatmu." ujar Hermione, menghampiri Draco.
Ketika Draco masih mengarahkan tongkatnya kepada Blaise, Hermione berkata dengan tegas.
"Turunkan dan simpan tongkatmu sekarang, Draco."
Perlahan-lahan, ia menurunkan tongkatnya. Pandangan matanya kebawah, menatap lantai.
"Apa saja yang kau dengar, Granger?" tanyanya pelan.
"Semuanya."
Draco terdiam, begitu juga Hermione. Blaise, anehnya hanya memperhatikan percakapan yang sedang terjadi, tidak mau ikut campur. Merasa bahwa dirinya mengganggu, ia memutuskan untuk pergi.
"Erm, baiklah. Kurasa aku…akan keluar dulu. Yeah. Kalian, um, selesaikan masalah kalian." Blaise berkata dengan kikuk, menjadi orang pertama yang memecah keheningan.
Lelaki itu bergegas keluar ruangan, meninggalkan Draco dan Hermione di dalamnya.
"Draco.."
"Apa?" jawabnya ketus.
"Ceritakan padaku dengan detail apa yang sebenarnya terjadi."
"Untuk apa, Granger?" ia mendengus.
"A-aku ingin mem-"
"Membantuku?" pria itu memotongnya. "Huh, untuk apa, Granger? Biar saja aku mati. Aku sudah muak dengan kehidupan ini. Lagipula, aku juga ingin mati."
"Cih, omong kosong! Buktinya, mengapa kau menculikku? Pasti seperti yang kau bilang tadi, kau menginginkan bantuanku!"
"Lupakan itu, oke? Kalau kau mendengar semua yang kubicarakan tadi, tentu kau akan mendengar bahwa aku telah mengurungkan niatku untuk meminta bantuanmu melepaskanku dari kutukan ini. Aku lebih memilih mati, daripada hidup diburu terus seperti ini. Toh tidak ada yang akan sedih dengan kematianku."
PLAK!
Draco memegang pipinya yang terasa sakit karena tamparan Hermione.
Sang lelaki menatap tajam sang gadis. Namun sang gadis tidak merasa takut dengan pandangan bengis lelaki itu.
"Bodoh! Kau bodoh Draco!"
Sebelum Draco bisa memprotes, Hermione menghempaskan tubuhnya, memeluk tubuh Draco.
Terkejut karena tindakan Hermione, Draco kehilangan keseimbangan dan dalam sekejap, mereka terjatuh ke lantai, dengan posisi Draco berada di bawah Hermione. Meski jatuh, Hermione tidak melepaskan pelukannya dari Draco. Malah, ia semakin mempererat pelukannya.
"Lepaskan aku, Granger."
Draco melihat bahu gadis itu sedikit bergetar. Oh shit, apakah dia menangis? tanyanya dalam hati.
Terdengar suara tangis yang terisak-isak. Draco mengerang dalam hati. Oh Merlin, mengapa dia bisa di posisi seperti ini? Sungguh ia tak bisa menghadapi perempuan yang menangis seperti ini.
"Kau egois, Draco." terdengar suara Hermione yang sedikit teredam, karena posisi wajahnya yang menempel di dada Draco.
Secara diam-diam, Draco merasa senang dengan posisi ini. Membuatnya rindu akan masa lalu. Saat dimana ia dan Hermione sering berpelukan, kepalanya yang menyandar di dadanya, sedangkan Draco akan menaruh dagunya di atas kepala Hermione. Tanpa ia sadari, Hermione juga merasakan hal yang sama.
"Kau bodoh." lanjutnya lagi. "Tentu saja ada yang akan sedih jika kau tiada, merasa kehilangan dirimu. Pasti Zabini akan merasakan hal itu. Kalian kan sudah seperti saudara. Dan…dan…aku…"
Draco merasa jantungnya berdebar semakin cepat. Ia menunggu Hermione menyelesaikan kata-katanya. Ia tak ingin banyak berharap, namun sulit. Ia menunggu, jantungnya berdebar semakin cepat lagi.
Hermione menarik nafas dalam-dalam. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan menatap mata kelabu Draco. Ia ingin Draco mengerti kalau apa yang akan ia ucapkan ini tidak main-main.
Hermione menelan ludah. "Aku tentu akan merasa sangat kehilangan dirimu, Draco. Aku masih sayang padamu, aku masih peduli denganmu. Meskipun waktu itu mereka bilang kau sudah tiada, namun hati kecilku terus berharap bahwa kau masih hidup, kau akan kembali. Tetapi kau tidak kunjung kembali, membuatku putus harapan."
"Apa maksudmu?"
Hermione kembali melanjutkan ceritanya. "Setelah itu, aku mulai menerima kenyataan bahwa kau telah tiada. Juga mulai mencoba untuk melangkah ke depan melanjutkan hidupku. Tapi tiba-tiba saja kau menculikku, dan menampakkan dirimu di hadapanku, setelah satu setengah tahun lamanya. Di satu sisi, aku merasa sangat senang mengetahui kau masih hidup, tetapi di sisi lain, aku juga meragukanmu. Maksudku, come on! Pasti ada suatu tujuan yang ingin kau capai, sehingga akhirnya kau kembali dan menculikku seperti ini, namun tidak membiarkanku untuk mengetahui apapun. Dan sekarang kau tiba-tiba bilang kalau kau telah dikutuk? Sebenarnya apa tujuanmu, Draco? Kau kembali ke hadapanku untuk menyakitiku lagi? Karena kuakui, kehilanganmu sudah sangat menyiksaku, dan sekarang melihatmu kemudian kehilanganmu lagi, kupikir aku takkan sanggup.
"Aku masih mencintaimu, Draco. Masih sangat mencintaimu. Waktu tidak bisa menghapus perasaanku itu. Jadi jangan berani-beraninya kau berkata bahwa tidak ada yang akan merasa kehilanganmu jika kau mati. Aku masih peduli padamu."
Kemudian ia menundukkan kepalanya, memutus kontak mata dengan Draco. Pria itu terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Tenggorokannya terasa tercekat. Hermione, masih peduli padaku? Masih mencintaiku? Memang, menurutnya hal itu sangat gila, absurd, karena ia sudah melakukan kesalahan sangat besar satu setengah tahun yang lalu, yaitu meninggalkan gadis itu karena takut akan membahayakannya. Pada saat itu, terpikir olehnya bahwa tindakannya merupakan keputusan yang tepat. Namun ia tidak menyadari bahwa kepergiannya itu juga menimbulkan rasa sakit dan kepedihan yang mendalam karena ditinggalkan oleh orang yang dicintai. Jadi setelah semua itu, bagaimana mungkin Hermione masih bisa mencintai dirinya yang menyedihkan ini?
"Kau serius, Putri?" Mata abu-abu Draco menatap gadis di depannya, yang menghindari tatapan matanya.
Draco mulai bangkit dari posisi terbaringnya di lantai. Ia mengangkat tubuhnya dari lantai, dan menopang badan dengan sikunya, sehingga ia terlihat seperti setengah terduduk.
Hermione mengangkat kepalanya, sorot mata coklatnya yang membara menatap Draco lekat-lekat. "Kau kira aku bercanda? Untuk apa? Konyol seka-"
Namun sebelum ia dapat meneruskan kalimatnya, Draco memotongnya dengan menutup mulut sang gadis dengan miliknya sendiri. Draco mencium mulut Hermione dengan penuh gairah, seolah-olah Hermione merupakan santapan terakhirnya. Semua perasaan yang dipendam, ia curahkan semua dalam ciuman itu. Hermione membelalakkan matanya, terkejut. Namun perasaan terkejut itu segera hilang. Secara inisiatif, Hermione melingkarkan lengannya di leher Draco. Dan secara otomatis, Draco melingkarkan lengannya di pinggang Hermione. Sang gadis pun merespon kecupan Draco dengan gairah yang sama. Seperti sang lelaki, gadis itu juga menuangkan semua perasaannya dalam satu ciuman itu. Draco menggigit bibir bawah Hermione, membuatnya membuka mulutnya. Mengambil kesempatan, dengan segera Draco meyelipkan lidahnya ke dalam mulut Hermione. Ia menelusuri mulut sang gadis. Dengan malu-malu, Hermione mengikuti tindakan Draco. Lidahnya menelusuri mulut lelaki itu, dengan perlahan, tidak seperti Draco yang agresif. Mereka terus berciuman, namun ketika suplai udara masing-masing terasa akan habis, secara tiba-tiba mereka melepaskan diri. Keduanya terengah-engah karena kehabisan nafas.
Hermione melepaskan tangannya dari leher Draco, begitu juga dengan Draco yang melepaskan pegangannya pada pinggang Hermione.
Draco menyandarkan keningnya di bahu Hermione. "Maafkan aku." ia berkata pelan.
Setelah mengatur nafasnya, Hermione merespon dengan suara yang sedikit bergetar. "Bi-bisakah kau…menceritakan padaku apa saja yang telah terjadi? Mengapa…kau menghilang begitu saja?"
Pria itu mengangkat kepalanya, kemudian menatap wajah wanita di hadapannya. Wajahnya yang cantik, dengan semburat merah menghiasi pipinya, dan bibir yang sedikit bengkak karena ciumannya yang agresif. Lalu, ia menatap matanya. Mata coklatnya yang indah.
Gadis itu menatapnya dengan pandangan bingung. Draco memejamkan matanya dan menghembuskan nafas panjang.
"Baiklah Granger, aku akan menceritakan hal ini padamu."
"Tapi?"
"Tetapi tolong, kau harus mendengarkannya dulu sampai selesai baru kau bisa mengajukan pertanyaan padaku. Kau mengerti?"
Hermione menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Ehm, Granger?"
"Ya, ada apa?"
"Mungkin akan lebih baik jika kau turun dari pangkuanku."
Hermione terdiam, kemudian merasa pipinya memerah. Ia baru menyadari kalau ia masih duduk di pangkauan Draco daritadi.
"Oh oke, bodohnya aku." Dengan wajah merah padam, Hermione bergegas mejauhkan dirinya dari Draco. Namun tiba-tiba Draco memegang pergelangan tangannya.
Wajahnya menunjukkan senyuman yang menawan. Senyum yang sudah lama tak dilihat oleh Hermione. Dan matanya menyiratkan pandangan jenaka. Pertanda bahwa lelaki itu akan meledeknya, membuatnya malu.
Kemudian terdengar suara tawa Draco. "Merlin, Granger. Pipimu merah sekali, seperti kepiting rebus."
Ia kembali tergelak melihat Hermione yang cemberut dengan pipinya yang semakin memerah karena malu dan juga marah. Hermione berusaha berontak dari genggaman Draco. Namun apa daya, lelaki itu jauh lebih kuat dari dirinya. Menyadari bahwa Hermione mulai marah, Draco dengan segera mengentikan tawanya, dan memasang wajah yang serius.
"Aku hanya memintamu turun dari pangkuanku, Granger. Bukan berarti kau harus menjauhiku." sahutnya dengan tenang. Tangannya masih menggenggam pergelangan tangan Hermione.
Dengan suara yang sangat pelan, ia memohon padanya. "Duduklah disampingku, Granger."
Hermione terkesiap. "O-kay."
Draco menyandarkan punggungnya di tembok, Hermione melakukan hal yang sama. Kemudian ia memposisikan dirinya untuk duduk disamping Draco. Meskipun ia berusaha untuk rileks, namun tidak bisa. Postur tubuhnya kaku, dan ia berusaha agar bahunya tidak menyentuh bahu Draco. Ia masih waspada dengan pria itu. Selama ia belum mengetahui tujuannya, tidak akan pernah Hermione membiarkan dirinya lengah. Menyadari bahwa Hermione masih belum percaya dengannya, ia menggeram.
"Bisakah kau tidak seperti itu?"
"Maksudmu apa? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
"Bisakah kau mempercayaiku? Aku tidak akan menyakitimu, Granger. Lagipula semua tindakanku beralasan."
"Tidak sebelum kau menceritakan padaku semuanya SEKARANG."
"Oke oke, baiklah. Omong-omong, peraturanku tadi masih berlaku. Dengarkan dulu, baru bertanya."
Hermione menganggukkan kepalanya.
"Jadi…"
Namun pada saat itu juga, datanglah Blaise.
"Hey! Bagaimana, sudah menyelesaikan masalah kalian?" tanyanya, bibirnya membentuk seringai khas yang dimiliki para murid (atau mantan) Slytherin.
"Blaise…" Draco menggeram pelan, sorot matanya menunjukkan sorot mata orang yang siap untuk membunuh.
Blaise menatap mata Draco, dan segera mengerti kalau ia sudah mengganggu.
"Whoa, okay, tenang saja. Aku segera keluar." Dengan secepat kilat, Blaise langsung keluar dari ruangan kerjanya itu meninggalkan Draco dan Hermione sendiri, lagi.
"Oke, sekarang pengganggu sudah pergi. Kau bisa mulai, Draco." gadis itu tersenyum kepada Draco.
"Oke." Draco mempersiapkan dirinya untuk kembali mengingat segala kejadian buruk yang telah dialaminya.
"Jadi begini…"
..
.
Sanguine revelata (latin) : revealed by blood (kata google translate sih gitu ;P)
.
Sorry for the cliffhanger, but it has to be done! Hehehe.. So whatcha' all think, readers? Lend me your thoughts, REVIEW please! :)
PS: Check out my other stories as well! :)
.
.
