Disclaimer : The usual.


- The Wildest Thing -


Chapter 5

.

"Jadi begini..."

Draco menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Hermione hanya diam memperhatikan tindakannya, menunggu penjelasan lebih lanjut dari pria itu.

"Kau ingat malam itu? Sebelum aku menghilang?"

Hermione menganggukkan kepalanya, "Mana mungkin aku bisa melupakannya."

"Salah satu malam terbaik dalam hidupku." lanjutnya.

Draco menyunggingkan senyum dan menatap ke tembok di hadapannya. Matanya menerawang jauh seolah terperangkap dalam memori.

"Tentu saja."

Hermione berpura-pura tidak mendengarkan perkataan Draco. "Lalu? Ceritakan padaku, Draco."

"Tentu saja kalian tidak menemukanku di rumahku, karena aku tidak pernah sampai ke rumahku. Seusai pertemuan kita, aku pergi ke Malfoy Manor untuk mengambil...sesuatu. Dengan perasaan bahagia yang kualami saat itu, tidak kusadari akan adanya bahaya yang akan segera datang kepadaku. Aku bahkan tidak menyadari adanya manusia yang mengikutiku sampai ke Manor. Ketika aku sudah menemukan barang yang kucari itu, tiba-tiba terdengar suara Lucius di belakangku, meneriakkan mantra Stupefy. Aku yang terkejut dengan serangan tiba-tiba itu tentu tidak sempat melindungi diri, dan well, tidak sadarkan diri.

"Begitu aku sadar, aku sudah berada di penjara bawah tanah Malfoy Manor. Kakiku dirantai, dan tanganku juga dirantai diatas kepalaku. Kau bisa bayangkan bagaimana tidak berdayanya posisiku saat itu. Untungnya aku masih memiliki tongkatku, kusembunyikan di dalam jubahku dengan Disillusionment charm. Tak lama kemudian, datanglah Rodulphus, sepertinya dikirim oleh Lucius untuk melihat keadaanku. Tanpa pikir panjang, aku langsung berpura-pura belum sadarkan diri. Awalnya kupikir aku aman untuk sementara, namun..."

Tiba-tiba Draco terdiam. "Ada apa?" Hermione bertanya kepadanya.

Pria itu menghela napas. "Ini lebih sulit dari yang kuduga."

"Apa maksudmu?" tanya gadis yang berada di sampingnya.

"Ceritanya akan panjang."

"Tidak apa-apa, kita punya waktu."

"Bagaimana jika...aku menunjukkan memori ku kepadamu? Seingatku Blaise menyimpan Pensieve disini."

Hermione terkejut. "Sungguh tak apa? Kau tak keberatan?"

"Tidak apa, Hermione."

"Kau serius?" Hermione masih merasa tidak yakin.

"Kau ini lucu sekali, mengapa merasa tidak enak begitu? Kan aku yang mengusulkan agar kau melihat memoriku." jawab Draco, tersenyum.

Hermione menatap Draco yang sedang mencari sebuah Pensieve. Ia teringat akan perkataan pemuda itu, bahwa ia mencari sesuatu di Malfoy Manor.

"Draco?"

"Ya?" sahutnya, masih mencari Pensieve.

"Apa yang kau cari di Malfoy Manor?"

Sekilas Hermione dapat melihat bahwa pertanyaan yang dilontarkannya mengejutkan untuk Draco. Ia pasti tidak menyangka Hermione akan menanyakan hal itu.

Mereka terdiam, dengan pertanyaan Hermione yang masih belum terjawab. Namun tiba-tiba Draco mengeluarkan suara, "Aha!"

"Kau menemukan Pensieve-nya?" tanya sang gadis Gryffindor. Oke, ia akan melepaskan Draco dari pertanyaannya tadi, untuk sekarang.

"Ya. Blaise cukup pintar menyembunyikan barang ini."

Draco mengeluarkan tongkatnya, kemudian menempelkannya di pelipisnya. Hermione menyaksikan Draco mengeluarkan memorinya, dalam bentuk seperti benang perak yang tipis dan memasukkannya ke dalam Pensieve.

Sang Slytherin merenung sebentar, nampak memikirkan sesuatu. Namun terlihat bahwa ia memutuskan untuk melupakan hal yang ia pikirkan itu untuk sekarang. 'Ada hal yang lebih penting.'batinnya.

Tanpa banyak bicara, ia menyingkir dari hadapan Pensieve itu dan mempersilakan sang gadis untuk menyaksikan memori yang terdapat didalamnya.

Hermione menarik napas panjang, dan kemudian membenamkan kepalanya ke dalam Pensieve. Dan ia pun merasakan adanya tarikan dari benda itu, membawanya hanyut ke dalam memori.

Rodulphus sedang berada di dalam sel Draco, memperhatikan dengan seksama wajah dan gerak-gerik lelaki itu, yang sedang berpura-pura tak sadarkan diri. Kemudian ia menyeringai, lalu keluar meninggalkan sel Draco. Lelaki berambut pirang itu membuka matanya, merasa telah ditinggalkan oleh pamannya. Namun tak berapa lama kemudian, tampaklah Rodulphus di depan pintu sel Draco, mengunjunginya lagi.

"Ah, kulihat kau memang sudah sadar, keponakanku." ujar Rodulphus, dengan seringai menyebalkan terukir di bibirnya.

Draco diam tak menjawab. Rodulphus hanya mencibir, dan mengeluarkan sesuatu, lalu menunjukkannya kepada keponakannya.

"Kau tahu ini apa, nak?" tanyanya, dengan seringai yang tak pernah lepas dari bibirnya.

Lelaki yang ditanya tidak menjawab, dan memasang ekspresi datar, tanpa perasaan.

"Ini cambuk, nak. Tapi bukan cambuk biasa. Luka yang dihasilkannya tidak akan pernah hilang, akan selalu terlihat di kulitmu." lanjut Rodulphus, "Ya. Aku diizinkan oleh ayahmu mencambukmu sesuka hatiku. Meski kami rasa hukuman itu belum sebanding dengan pengkhianatanmu. Namun tidak apa, masih ada siksaan lain yang menunggumu." Rodulphus tertawa keras seperti orang gila.

Hermione menyaksikan Rodulphus menyiksa memori Draco. Ia mencambuk punggung memori Draco sangat keras. Hermione dapat mendengar betapa kerasnya suara cambuk itu ketika bertemu dengan punggung Draco. Dan ia dapat melihat ekspresi memori Draco mencoba menahan sakit yang luar biasa. Namun Hermione dapat melihat, bahwa tak lama lagi Draco akan kehilangan kendali. Gadis itu tak kuat, tak tahan menyaksikan adegan ini, namun ia harus bisa. Karena meski sangat memilukan melihatnya, ia perlu mengetahui hal yang sesungguhnya. Apa yang telah terjadi dengan Draco, kutukan yang mengenainya, serta motif Draco untuk meculiknya. Maka dengan menguatkan diri, Hermione kembali menyaksikan memori yang sedang berlangsung.

"Rodulphus!" terdengar suara teriakan Lucius yang menggelegar.

Seketika Rodulphus berhenti mencambuk Draco."Bawa Draco kesini!" raung Lucius.

Dengan berat hati, Rodulphus menyimpan cambuknya, dan menarik rantai Draco.

"Ayo jalan, nak. Tidak ingin membuat ayahmu menunggu kan?" ujar sang paman, sambil menarik dengan kasar rantai yang mengikat tangan Draco.

Mereka berdua menaiki tangga menuju ruangan tempat Lucius berada.

"Ah, Draco anakku." sapa Lucius ketika melihat anak lelaki satu-satunya itu.

"Halo, Lucius." jawab Draco, dengan nada mencemooh.

Mata Lucius menyipit. "Tinggalkan kami berdua, Rodulphus." perintah Lucius.

"Apa? Dan ketinggalan acara reuni ini? Kurasa tidak Lucius."

"Tinggalkan kami berdua, sekarang." kata Lucius lagi, "jangan membuatku memaksamu." ancam Lucius, dan mengarahkan tongkat sihirnya ke arah Rodulphus.

"Huh, baiklah. Awas kau, Lucius." ujar Rodulphus sebelum meninggalkan Draco dan Lucius berdua di ruangan itu.

"Sampai mana kita tadi?" tanya Lucius. Sebuah pertanyaan retoris. Draco hanya memutar bola matanya.

"Ah ya, berani sekali kau memanggilku seperti itu, Draco."

"Hem, itu memang namamu bukan?" jawab Draco, menantang.

"Dasar kau bocah kurang ajar!" teriak Lucius.

Dalam sekejap, Lucius mengacungkan tongkatnya, mengarahkan benda itu ke arah Draco, dan meluncurkan mantra, "CRUCIO!"

Dan dengan itupun, Draco terjatuh di lantai. Tubuhnya menggeliat menahan rasa sakit yang amat sangat.

"Lancang sekali kau, Draco!" raung Lucius, dengan masih meluncurkan kutukan menyakitkan itu kepada anaknya sendiri.

Draco hanya memberi rintihan kesakitan sebagai jawaban, tubuhnya masih menggeliat di lantai akibat efek dari kutukan Cruciatus yang digunakan Lucius.

Ketika Lucius menghentikan kutukannya, Draco terengah-engah.

"Dan kau! Menjijikkan sekali, kau jatuh cinta dengan seorang Mudblood!"

"CRUCIO!" Lucius kembali meluncurkan kutukan tak termaafkan itu.

Dan kali ini Draco tidak bisa menahan rasa sakitnya sebaik tadi. Beberapa kali suara teriakan keluar dari mulutnya. Kutukan Cruciatus dari Lucius kali ini lebih menyakitkan, karena ia menuangkan semua rasa amarahnya pada kutukan itu.

"Kau sungguh memalukan, Draco! Bukannya mempertahankan tradisi Darah-Murni, kau malah ingin menodai garis keturunan keluarga kita! Kau merupakan aib bagi keluarga Malfoy!"

"Aku...ti-tidak peduli..dengan omong kos-kosongmu." Draco menjawab dengan terbata-bata, berusaha melawan kutukan yang menyiksa tubuhnnya itu.

"Apa kau bilang?" Lucius menyipitkan matanya, mulutnya mencibir.

Ia pun menghentikan kutukan Cruciatus yang dilancarkannya, dan menghampiri Draco. Kemudian, ia menggenggam wajah Draco, dan mencengkeramnya dengan kuat.

"Coba kau katakan sekali lagi, padaku." ujar Lucius, nadanya datar, namun ekspresinya penuh dengan amarah yang ditahan.

Draco menggertakkan giginya. "Aku tidak peduli dengan omong kosongmu. Aku mencintai Hermione, tidak peduli bahwa dia adalah kelahiran Muggle."

Mendengar hal itu, raut muka Lucius mengeras. Ia melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Draco, dan kemudian menampar putranya itu dengan keras.

"Sungguh jawaban yang bodoh, Draco. Aku kecewa padamu." Malfoy tertua itu menggelengkan kepalanya.

"Kau pikir aku peduli dengan pendapatmu?" tantang Draco, "Tidak lagi!"

Lucius terlihat murka, dan mengeluarkan amarahnya.

"Kau idiot!" teriaknya, dan meluncurkan mantra yang membuat Draco terlontar menabrak dinding yang jauh dibelakangnya.

"Berani-beraninya kau menantangku! Kau sungguh aib bagi keluarga Malfoy! Kau mengecewakan semuanya. Bisa-bisanya kau mencintai seorang Darah Lumpur kotor, sahabat Potter itu! Kau tidak kuanggap sebagai anakku!" kata sang Malfoy tertua, sambil melontarkan kutukan-kutukan untuk menyakiti sang Malfoy muda, baik mantra yang legal maupun tidak.

Dengan susah payah, Draco melawan rasa sakit yang dialaminya untuk tetap sadar.

"Sudah kubilang, aku tidak peduli dengan doktrin yang telah kau tanamkan dalam diriku. Semua hanya omong kosong." kata Draco, berusaha untuk menyampaikan pemikirannya di sela-sela rasa pedih yang menyelimutinya.

"Dan jangan pernah menyebut Hermione kata itu lagi! Hermione tidak kotor, ia bahkan jauh lebih baik dari dirimu, Lucius. Oh, aku juga tidak peduli jika kau tidak mengakuiku sebagai anakmu, karena percayalah, aku juga tidak menganggapmu sebagai ayah."

"Cukup!" ujar Lucius, kemudian "Crucio." desis Lucius, penuh dengan kebencian.

Dan kutukan itu melakukan tugasnya untuk menyiksa Draco. Kali ini, Draco tidak bisa menahan siksaan dari mantra itu. Ia berteriak dan menggeliat karena rasa perih yang tidak terbendung. Sementara Lucius hanya menyaksikan, dan tersenyum sinis. "Ini hukuman karena kau telah berkhianat, nak."

Setelah beberapa lama, Draco terlihat sudah tak mampu untuk tetap sadar. Menyadari hal itu, Lucius menyeringai puas, dan menghentikan mantranya.

"Dasar anak bodoh." katanya, lalu ia membalikkan badan, dengan tujuan untuk mengambil Firewhiskey dari lemarinya, untuk merayakan keberhasilannya menghukum putranya yang membangkang. Yang sesungguhnya hal ini salah besar. Karena ternyata Draco masih sadar. Dan dengan kekuatan yang masih ia miliki, ia membuka rantai di tangannya dengan menggunakan mantra non-verbal, dan secepat kilat mengambil tongkat sihirnya.

Sayangnya, ketika Draco melontarkan mantra, Lucius menyadari hal ini dengan ekspresi kaget terpampang jelas di wajahnya, dan langsung memblokir mantra itu dengan Protego.

Lucius tidak percaya akan hal itu. Bagaimana mungkin Draco masih bisa bertahan dari serangan Crucio bertubi-tubi, dan masih kuat untuk meluncurkan mantra? Dan yang lebih penting, mengapa ia memiliki tongkat sihirnya?

"Kau...Bagaimana bisa- bertahan? Darimana tongkat itu?" Lucius tampak sangat geram sekarang.

"Aku bertahan karena masih ada hal yang berharga untukku. Dan soal tongkatku, bukan urusanmu kan? Stupefy!"

Terjadilah pertempuran antara ayah dan anak. Masing-masing meluncurkan mantra dengan maksud membahayakan yang lainnya, dan juga untuk mempertahankan diri. Tetapi tiba-tiba, Rodulphus menampakkan diri.

"Lucius, apa yang terjadi?"

Hanya beberapa detik, namun perhatian Lucius teralihkan karena kedatangan Rodulphus. Dan Draco memanfaatkan detik itu dengan sebaik-baiknya. Dengan segera ia melontarkan "Expelliarmus" serta "Petrificus Totalus" kepada pamannya, dan meluncurkan "Expulso" kepada ayahnya. Badan Lucius terlontar ke belakang menghantam dinding dengan keras, akibat dorongan kuat dari mantra yang telah diluncurkan oleh Draco itu.

Melihat Lucius yang mencoba berdiri kembali untuk membalas serangan Draco, sang Malfoy muda mengacungkan tongkatnya dalam posisi siaga.

"Lancang sekali kau, Draco. Menyerang ayahmu sendiri."

Draco tak bergeming mendengar perkataan Lucius itu, ia tetap memfokuskan dirinya mengawasi gerak gerik Lucius.

"Tak perlu serius begitu, Draco." Lucius tertawa sinis, "Coba kau pertimbangkan untuk ikut denganku dan lupakan Mud-"

Belum selesai Lucius dengan pembicaraan kecilnya, Draco sudah memotongnya.

"KAU! Jangan pernah kau mencoba coba menyebut Hermione kata itu lagi!" Draco meraung dengan marah dan segera meluncurkan sebuah kutukan ke arah Lucius.

Namun sepertinya Lucius telah memperhitungkan tindakan anaknya itu, dan dengan mudahnya menghindari kutukan tersebut, sambil tersenyum mengejek.

"Hanya itukah kemampuanmu, anakku?" olok Lucius, "sungguh memalukan."

Ejekan itu membuat emosi Draco terpancing, dan merasa direndahkan.

"Diam kau." sahut Draco, dan melontarkan kutukan lain kepada Lucius.

Sayangnya Lucius kembali menghindar, membuat kutukan Draco melesat dari targetnya dan mengenai sebuah vas.

Sang Malfoy tertua hanya terkekeh mengejek, "serius, Draco, sejak kapan kau menjadi lemah seperti ini?"

Malfoy muda itu menggeram pelan, dan meluncurkan beberapa kutukan mematikan ke arah Lucius. Namun kali ini, kepala keluarga Malfoy itu tidak tinggal diam. Ia membalas serangan Draco dengan kutukan hitam yang sama mematikannya dengan kutukan yang telah dilancarkan oleh anak tunggalnya itu.

Pertarungan sengit antara ayah dan anak pun kembali terjadi. Mereka saling menyerang dengan kutukan-kutukan berbahaya dengan maksud untuk menumbangkan yang lainnya. Kehancuran dapat terlihat di daerah sekitar mereka, dengan banyaknya barang-barang yang hancur bertebaran akibat dari pertempuran mereka.

Keadaan mereka berdua pun sama buruknya. Dengan wajah yang terlihat lelah, dan Lucius dengan tangan kirinya yang berdarah-darah serta Draco dengan bahunya yang terkena Sectusempra Lucius yang meleset. Darah mengalir dengan bebas dari bahu pria muda itu.

"Confringo." Lucius mendesis.

Draco berhasil menghindar, meski sesungguhnya kutukan itu hampir mengenai dirinya beberapa milimeter lagi.

"Expelliarmus." Malfoy muda tersebut membalas kutukan sang ayah.

Namun Lucius menggagalkan kutukan tersebut dengan merapal Protego di sekelilingnya. Tiba-tiba, Lucius meluncurkan sebuah mantra gelap, dan sayangnya mantra itu mengenai sasarannya. Mantra itu mengenai dada Draco, membuat sebuah luka dalam disana, dan berhasil membuat lelaki muda itu sulit untuk bernapas.

Melihat kutukan yang diluncurkannya telah berhasil, Lucius menyeringai licik. Sementara Draco dengan susah payah berusaha untuk tetap bernapas.

Dengan tekad yang kuat, Draco berhasil bertahan dari serangan Lucius dan meluncurkan "Stupefy" ke arah Lucius. Mantra itu mengenai Lucius tepat di dadanya, membuat sang Malfoy tertua jatuh tersungkur ke lantai.

Waktu seolah berhenti. Kemudian, dengan sedikit waspada, Draco mendekati tubuh ayah sekaligus mentornya itu. Ia merasa skeptis. Tidak mungkin Lucius bisa tumbang begitu saja. Meski begitu, ia berusaha memanfaatkan kesempatan yang ada dan mencoba untuk segera Disapparate namun sayangnya, benar dugaan Draco, ketika Malfoy muda itu mencoba untuk pergi dari Manor itu, Lucius melontarkan sebuah kutukan kepada Draco. Sepertinya sebuah kutukan yang sangat gelap dan sangat tua.

Akibat kutukan itu, Draco merasa tubuhnya mengalami sakit yang luar biasa. Seperti kutukan Cruciatus, namun berbeda. Kutukan ini membuat cederanya terasa berpuluh kali lipat sakitnya, dan kutukan itu terus bekerja meski Lucius telah selesai merapalnya.

"Bagaimana rasanya, anakku? Sakit?" Lucius tertawa sinis.

"Dengan kutukan itu, aku mampu melacakmu jika aku mau, dan juga bisa memberimu rasa sakit luar biasa yang belum pernah kau alami," ia melanjutkan, "kau tidak akan pernah bisa lari lagi dariku."

Lucius berjalan mendekati anaknya, dan menendang perut Draco dengan kuat. Menambah kesakitan yang dialami sang Malfoy muda. Dengan kekuatan yang tersisa, ia menyerang Lucius sekali lagi dengan "Expulso," yang menjauhkan sang ayah dari dirinya, dan melakukan Disapparate.


.

.

Hermione dapat melihat sekitarnya mulai berubah menjadi kabur, menandakan bahwa memori itu sudah berakhir. Tanpa disadarinya, air mata telah mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Ia masih tak percaya bahwa Draco telah mengalami semua hal yang telah disaksikannya itu.

"Hermione?" suara lembut Draco memecah lamunan Hermione.

Tanpa pikir panjang lagi, Hermione segera mendekati sang pemuda dan memeluknya dengan erat, sambil terisak-isak. Draco yang merasa canggung dan kaget, kemudian membalas pelukan Hermione dan mengelus punggung gadis itu, untuk menenangkannya.

Merasa telah bisa mengontrol dirinya, Hermione melepaskan pelukannya, dan menatap wajah Draco lekat-lekat.

"Maafkan aku, Draco."

Draco merasa bingung. "Mengapa kau meminta maaf?"

"Maaf karena kau harus mengalami hal seperti itu. Sungguh kau tidak pantas mendapatkannya." jawabnya dengan suara parau.

Sorot mata Draco berubah menjadi dingin, begitu juga dengan nada perkataannya. "Aku tidak membutuhkan rasa kasihan darimu, Granger."

Merasa Draco menjauhkan diri darinya, dengan segera Hermione meralat kata-katanya yang menimbulkan kesalah pahaman.

"Kau tahu bukan seperti itu maksudku, Draco." sang gadis menghela napas.

Draco terdiam sesaat.

"Ya, aku tahu. Maaf atas penilaian ku yang tergesa-gesa." ujar Draco.

"Aku punya sebuah permintaan." Hermione berujar pelan.

Penasaran, Draco bertanya kepada gadis itu. "Apakah itu?"

"Bisakah...bisakah kau menunjukkan kepadaku luka-luka itu?"

Tanpa penjelasan lebih lanjut, lelaki berambut pirang platina itu sudah mengerti maksud dari gadis bermata coklat itu. Luka-luka yang diberikan oleh pamannya dan ayahnya yang gila itu, ia ingin melihatnya?

Hermione melihat keraguan yang terpancar di wajah Draco. "Draco, tidak apa. Aku serius."

Meski masih ragu, namun Draco menuruti permintaan gadis itu. Ia melepas kemeja yang dipakainya, dan membalikkan tubuhnya. Ia memperlihatkan luka cambuk di punggungnya kepada Hermione.

Hermione terkejut melihatnya. Sudah satu setengah tahun berlalu, namun luka cambuk yang diberikan oleh Rodulphus itu masih terlihat sangat jelas. Bahkan masih ada yang terlihat sangat merah, seolah-olah luka itu baru diberikan kemarin.

"Apakah masih sakit?"

Draco mengangkat bahunya, "Tidak terlalu."

Selanjutnya, Hermione melihat luka di bahu Draco. Terlihat garis seperti sayatan, akibat dari Sectusempra Lucius yang meleset. Kemudian, Hermione melihat luka di dada Draco. Luka dari sebuah kutukan gelap yang berbahaya yang diluncurkan oleh Lucius. Luka itu terlihat seperti sayatan yang dalam dan membekas, seolah-olah seperti luka akibat Sectusempra.

Hermione menelusuri luka itu dengan tangannya. "Bagaimana dengan yang ini?"

Hanya mendengar tarikan napas yang dalam dari Draco memberitahu Hermione bahwa luka itu masih terasa menyakitkan, amat sangat menyakitkan.

"Maafkan aku." dengan segera Hermione menarik tangannya.

"Bukan salahmu." Draco merespons.

"Sepertinya, luka itu takkan hilang, selama kutukan dari Lucius itu juga belum hilang. Menurutku, luka itu seperti tanda bahwa kutukan itu masih akan terus bekerja." lanjutnya.

"Aku pasti akan membantumu." kata Hermione tiba-tiba, sorot matanya penuh dengan ketetapan hati yang sulit untuk digoyahkan.

Kemudian ia memeluk Draco dengan hati-hati, agar tidak mengenai luka di dadanya.

"Aku akan membantumu melepas kutukan itu darimu. Namun bisakah kau berjanji padaku?"

"Katakan saja." jawab Draco, sambil tersenyum dengan tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"Jangan pernah meninggalkanku lagi. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu dariku lagi. Berjanjilah bahwa kita akan mengahadapi hal ini bersama-sama. Masa bodoh dengan konsekuensi. Yang penting kau selalu bersamaku." ujar Hermione dengan serius.

Draco tertawa kecil. "Sejak kapan kau tidak mempedulikan segala konsekuensi? Kemana perginya Hermione Granger yang selalu mementingkan logika?" Draco meledek Hermione.

"Well, ini semua karena kau." Hermione mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Draco.

"Aku? Kau ingin menyalahkanku atas hal apa lagi?"

"Karena kau, aku bisa melupakan semua logika, hanya untuk bisa tetap bersamamu. Mungkin aku memang sudah gila." Hermione tertawa kecil.

"Hei, apa maksudmu?" Draco bertingkah seolah-olah ia terluka oleh ucapan Hermione.

Hermione tersenyum bahagia. "Sungguh aku sangat rindu dengan dengan dirimu yang sekarang ini Draco. Dirimu yang membuang seluruh topeng dinginmu dan bertindak sesuai keinginanmu sendiri, tanpa pura-pura dan tanpa paksaan."

Senyum Draco terhapus dari wajahnya. Digantikan oleh raut muka yang serius, dan ekspresi yang menunjukkan penyesalan.

"Maafkan aku, Hermione."

"Kau tahu," ujar Hermione seolah tidak mendengarkan permintaan maaf Draco, "katanya cinta itu tidak mengenal logika."

Draco merasa bingung dengan arah pembicaraan Hermione. Apa maksud wanita ini?

"Dan aku percaya dengan ucapan itu. Mengapa? Karena kisah kita sungguh tak terduga. Dan tidak bisa dipikirkan dengan logika. Siapa yang menyangka bahwa sang Pangeran Slytherin dan Putri Gryffindor akan saling jatuh cinta?"

Pria bermata abu-abu itu memikirkan perkataan sang gadis Gryffindor. Ya, siapa yang bisa mengira?

"Jika dipikirkan secara logis, kisah kita itu mustahil, namun tidak disangka, kita saling jatuh cinta dan bersatu. Meski sempat terpisahkan, namun takdir kembali mempersatukan kita."

"Gah, tidak biasanya aku berbicara melankolis seperti ini. Ini semua karenamu, Draco!" Hermione tersungut.

"Hei, mengapa kau menyalahkanku lagi? Itu semua kan perkataanmu sendiri, tak ada hubungannya denganku." jawab Draco, sambil mengulum senyumnya.

"Anyway, dengan melawan semua logika yang ada, aku mencintaimu, Draco Malfoy. Entah kenapa, aku mencintaimu, dan aku berharap engkau masih merasakan hal yang sama terhadapku."

Seusai mengatakan semua hal itu, Hermione dapat merasakan pipinya memerah karena malu. Ia hanya menundukkan kepalanya dan menunggu respon dari Draco.

"Aku setuju, tidak biasanya kau sentimentil begini."

Hermione melotot ke arah pria itu.

"Aku akan menjawab pernyataanmu itu. Aku, Draco Malfoy, dengan melawan semua logika yang ada, juga mencintai Hermione Granger dengan sepenuh hati."

Draco menatap Hermione dengan lekat dan tersenyum dengan tulus kepada gadis itu. Hermione pun membalas senyuman pria itu.

"Boleh aku menciummu?" tanya Draco dengan sungguh-sungguh.

Hermione menyeringai, "Tidak biasanya kau meminta izin. Tapi ya, tentu saja boleh."

Dan Draco pun mendekatkan bibirnya ke bibir Hermione. Perlahan namun pasti, ia mencium bibir Hermione dengan lembut. Dengan senang hati, Hermione membalas kecupan sang pria.

.

.

.

.

A/N : Sorry for the loooooooooooonnnnnnggggggggg update. Maaf ya, salahkan pada writer's block yang menghadang. Anyway, semoga kalian menikmati chapter ini. Kalo ada kesalahan ato saran, don't hesitate to tell me. Seperti biasa, jangan lupa untuk REVIEW.. Oya tenang aja, cerita ini masih ada kelanjutannya kok. Tak usah khawatir.. ^^

A/N 2 (13/08/2011) : Just remove any typos. Please REVIEW! Reviewnya sedikit, jadi gak semangat nulis kelanjutannya nih. T_T

Makanya, REVIEW yang banyak yaa...
Jaa ne!