- The Wildest Thing -
Chapter 6
.
Hermione terbangun ketika mendengar suara dengkuran halus di sebelahnya. Dengan perlahan-lahan ia membuka matanya, dan segera menutupnya ketika menyadari bahwa matahari telah bersinar sangat terang.
Oh, demi Merlin. Pukul berapa sekarang ini?, rutuknya dalam hati, sambil berusaha menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang menyerang retinanya saat ini.
Sekali lagi terdengar suara dengkuran halus di sampingnya, dan sang gadis pun terdiam. Perlahan tapi pasti, ia membalikkan badannya. Benar saja, terdapat seorang laki-laki berparas tampan yang sedang tertidur, dengan rambut pirang platinanya yang seolah makin bersinar karena cahaya matahari yang menyilaukan.
Shit! Kenapa bisa ada Draco Malfoy tertidur di sampingku?
Kejadian semalam mulai teringat oleh gadis berambut coklat itu. Setelah mendengarkan sesi cerita Draco, mendeklarasikan perasaan mereka, kemudian dilanjutkan sesi make out yang….erm….ternyata kurang memuaskan bagi nafsu Draco. Karenanya, sang lelaki membopong sang gadis ke kamarnya dan melanjutkan sesi mereka. Namun ketika sedang asyiknya bercumbu, lelaki itu tak kuasa menahan lelahnya dan tertidur. Menindih Hermione. Yang mengakibatkan keadaan mereka berdua sekarang.
Seketika Hermione merasakan wajahnya memanas karena pipinya bersemu merah akibat malu. Disaat yang tepat itu pula, Draco bangun dari tidurnya. Wajahnya yang menatap Hermione kebingungan, kemudian tergantikan dengan ekspresi geli. Seringai khas nya pun kembali.
"Hal nakal apa yang sudah kau pikirkan tentangku di pagi hari ini, huh, Granger?" ujarnya.
Tanpa terelakkan lagi, wajah sang gadis makin memerah karena ucapan pria itu.
"Hei! Aku….aku….," respon Hermione terbata-bata.
"Aku menunggu jawabanmu."
"Oh, God, Draco Malfoy! Aku tidak memikirkan apapun, dan sekarang sudah siang!" jawab perempuan itu setengah berteriak. Raut wajahnya yang sebelumnya memerah karena malu, sekarang tergantikan dengan ekspresi kesal yang tertahan.
BRAAK!
"Drake, Granger tak ada di kamarnya! Apakah dia ka-"
Ucapan Blaise segera terhenti ketika melihat pemandangan di depannya. Draco Malfoy dan Hermione Granger, seranjang. Hanya satu hal yang terlintas dalam pikirannya.
"Oh…. Rupanya kalian…Erm well, kalau begitu aku…segera pergi. Yeah," ujar pria berkulit gelap itu, dengan kikuk.
Memutar bola matanya, "Jangan bercanda, Blaise. Kami hanya tertidur saja, tidak terjadi apa-apa." sang Malfoy muda berkata, sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Tatapan Blaise Zabini kepada Malfoy itu tersirat 'Aku tidak percaya itu'. Namun hal tersebut tidak dipedulikan oleh Draco. Hermione hanya bisa terdiam duduk di atas kasur, ragu akan apa yang harus ia lakukan di tengah suasana awkward seperti saat ini.
"Kita harus menyusun rencana selanjutnya, Draco. Sekarang."
Hal tersebut diucapkan dengan tenang oleh Blaise, seolah-olah tidak ada urgensi dibalik semua itu.
Sekilas ekspresi Draco terlihat mengeras, namun segera ia sembunyikan, digantikan dengan wajah datar tanpa emosi.
"Tentu saja. Saatnya kita bersiap."
.
.
Perpustaakan Zabini Manor
Hermione terkagum ketika melihat koleksi buku yang ada di perpustakaan Zabini Manor. Setiap rak yang berjajar terisi penuh dengan buku. Setiap buku yang berisi misteri yang menuggu untuk ditemukan. Tangannya menelusuri sederetan buku yang ada di sampingnya.
"Ehem."
Blaise Zabini terlihat di ambang pintu, berdehem mengejutkan Hermione.
Satu kejanggalan dirasakan gadis berambut keriting itu.
"Dimana Malfoy?" Hermione bertanya kepada Blaise.
"Ah… Pertanyaan sulit." ujar lelaki itu.
Hermione hanya menyipitkan matanya sebagai jawaban akan pernyataan lelaki pemilik Manor itu.
"Dia sedang…ah…bagaimana mengungkapkannya. Well, dia sedang mencari tempat lain yang aman untuk mengungsi dari sini."
Gadis mantan asrama Gryffindor itu terbelalak.
"Bukankah Lucius dapat melacak kemanapun dia pergi? Apalagi tanpa perlindungan. Lantas mengapa—"
"Granger, waktu kita tidak banyak. Daripada engkau banyak bertanya, aku sarankan kau mencari informasi tentang kutukan yang ada pada diri Draco." Blaise memotong pertanyaan Hermione dengan cepat.
Gadis itu hanya dapat terdiam menyimpan pertanyaan-pertanyaannya yang berkecamuk dalam pikirannya. Menghela nafas, "Zabini, kau ambil bagian sayap kiri dan aku sebelah kanan. Breath aku ketika kau mendapatkan sesuatu."
Blaise menganggukkan kepalanya tanda setuju, dan tanpa banyak bicara mulai melaksanakan tugasnya.
Dan pencarian mereka pun dimulai.
.
.
"Oh shit." Ucapnya pelan.
Entah apa yang ada di pikirannya, tetapi ia kembali. Kembali lagi ke tempat ini. Tempat semuanya berawal.
Malfoy Manor.
.
.
Draco tak kuasa menahan amarah dan kekesalan dalam dirinya. Sesampainya ia di kediaman Zabini, ia segera mencari sahabatnya dan Hermione.
"Cress," ucapnya memanggil sang peri rumah.
"Master Draco memanggil saya?" jawab si peri rumah yang telah muncul di hadapan Draco.
"Dimana Blaise dan Granger?" tanyanya.
"Mereka ada di perpustakaan, tuan."
Dengan segera ia melesat menuju perpustakaan Zabini Manor. Begitu terlihat pintu menuju ruangan tersebut, tanpa memedulikan tata krama ia langsung membuka pintu tersebut dengan kasar.
"Hei Blaise? Granger?" ia berteriak memanggil keduanya.
Beberapa detik kemudian terdengar jawaban, "Disini, Malfoy."
Sang lelaki menghela napas. "Kau kira aku akan tahu secara persis dimana kalian, jika yang kudapat hanya jawaban 'Disini, Malfoy' ?" jawabnya sarkastis, namun melangkah menuju sumber suara yang ia dengar.
Terlihat olehnya sosok Hermione Granger yang sedang membenamkan kepalanya dalam suatu buku yang besar, dan Blaise Zabini yang sedang berdiri sambil membaca suatu buku juga, dengan posisi bersandar pada tangga perpustakaan.
"Kuduga kalian tidak menemukan sesuatu?" Draco bertanya pada kedua penyihir yang ada di ruangan itu.
"Huft…"
Sebuah helaan napas.
Alih-alih menjawab, perempuan muda itu melontarkan pertanyaan kepada Malfoy muda itu.
"Kau tidak ada informasi lain yang perlu kuketahui? Mungkin kau mendengar sedikit mantra yang dia ucapkan?"
Mata abu-abu lelaki itu balas menatap mata kecoklatan sang gadis. Pria lainnya hanya diam membaca buku yang dipegangnya, namun mendengarkan percakapan yang sedang berlangsung.
Draco berpikir sejenak.
"Entahlah. Kurasa sulit bagiku untuk menjabarkan segala hal tentang itu." jawabnya kemudian.
"Aku pikir… Beri aku sedikit waktu untuk mengingatnya. Kau tahu peristiwa itu bukanlah suatu hal yang…menyenangkan untuk diingat."
"Mate, apa yang membuatmu tadi begitu tergesa?" Blaise bertanya.
Sekilas raut wajah Draco terlihat mengeras. "Kita harus segera pergi."
Blaise mengangguk paham.
"Dimana yang kau rasa akan aman untuk kita? Salah satu propertimu, Blaise?" pria pirang itu berkata.
Sebelum Blaise menjawab pertanyaan itu, Hermione memotongnya.
"Sorry, namun bisakah kalian menjelaskan padaku apa yang kalian maksud?" matanya menatap tajam kedua lelaki di dekatnya.
Entah kenapa, hening sesaat. Tak ada yang menjawab. Draco dan Blaise seolah-olah saling menunggu, siapakah dari mereka berdua yang akan berbicara duluan.
"Well…" jawab Blaise, setelah menerima tatapan kau saja yang jelaskan dari sahabatnya.
Kau berhutang padaku, Malfoy, rutuk Blaise dalam hati.
"Kau tahu, Granger, dia ini," ucap Blaise sambil mengedikkan dagunya ke arah Draco, "diburu oleh Lucius dan kawanannya. Kutukan yang ada padanya, membantu Lucius, cukup cepat menurutku, untuk melacak keberadaan Draco. Kau dapat mengetahui kelanjutannya."
Gadis itu terkesiap. Begitu cepatnya? Hanya dua hari menetap dan harus segera pindah lagi? pikirnya.
Tentu, kehidupan sebagai buronan tak asing lagi bagi Hermione. Dan tentunya, ia sudah berpengalaman dalam hal itu. Demi Merlin, ia bersama sahabatnya sudah diburu Voldemort dan para Death Eaters nya, telah berperang melawan pangeran kegelapan itu, dan masih hidup untuk menceritakan kisahnya.
"Bagaimana kalau—"
Namun sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya, Malfoy muda itu jatuh tersungkur di lantai. Badannya meronta, menggeliat kesakitan. Seperti terkena kutukan Cruciatus.
Sontak Hermione kaget dan panik. "Astaga Draco. Apa yang terjadi?"
Lelaki itu berusaha menjawab, namun yang keluar dari mulutnya adalah suara teriakan yang gagal ditahannya.
"Silencio." ujar Blaise.
"Blaise Zabini, jelaskan padaku sekarang juga, oh demi Godric, apa yang terjadi?" teriak Hermione, panik dan bingung apa yang harus dilakukannya.
"Kutukan itu, Granger. Itulah penyebabnya. Tak ada yang bisa dilakukan selain menunggu Cruciatus itu selesai." jawab Blaise, rasa sedih menjalar di hatinya karena tak tega dengan apa yang dialami oleh sahabatnya.
"Astaga! Dan ini sering terjadi, Zabini?"
"Apa boleh buat, Lucius memang pria kejam. Dia lakukan ini untuk senantiasa mengingatkan bahwa, Draco tak akan lepas dari cengkaramannya."
Tanpa diinginkan, air mata mulai membasahi pelupuk mata Hermione. Tak ada hal yang bisa ia lakukan saat ini. Sungguh ia merasa sangat tak berguna.
"Maaf Granger, aku…harus pergi. Aku tak bisa melihatnya seperti ini." Blaise berkata, dan berjalan meninggalkan ruangan.
.
.
Entah sudah berapa lama Draco meronta-ronta tersiksa, dan Hermione yang pelan-pelan menangis tak kuasa menahan air matanya.
Beberapa saat kemudian, Hermione merasakan ada tangan yang memegang pergelangan kakinya penuh urgensi. Membuka mata, dilihatnya Draco sedang berusaha berbicara namun tak satu kata pun terdengar.
Menyadari apa yang terjadi, dengan segera Hermione melepas mantra Silencio yang ada pada Draco.
Lelaki itu duduk terdiam dan berusaha mengatur napasnya.
"Draco, aku…" gadis itu memulai, tetapi kemudian segera dihentikan oleh pria itu.
Dengan segera ia membungkam mulut gadis itu dengan menutup mulutnya dengan mulutnya sendiri, menciumnya dengan ganas.
Kemudian ia mengakhiri ciumannya dan menempelkan dahinya di dahi Hermione, menatap bola mata coklat sang gadis lekat-lekat.
"Kita harus pergi. Besok. Harus bergegas."
.
.
A.N : Sorry for the long wait. Aku mau minta bantuan kalian, please give me your thought about this story, gimana kalian mau kelanjutannya, ending, dsb lewat review atau bisa PM langsung. I am eager to know your thoughts and responses. Ditunggu ya... Trims :)
