Normal POV

Kicauan burung membangunkan Claire dari tidurnya, mengingatkan dia akan rutinitas dan kewajibannya sebagai petani. Claire mengangkat kepalanya yang terasa berat, menangis hampir semalaman membuat kepalanya ingin pecah. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dengan malas-malasan, ingin rasanya dia tidur seharian, tapi wajah-wajah ternaknya yang begitu lucu dan memelas menghantui pikirannya, membuat dia tak tega membiarkan mereka terlantar dan kelaparan.

'07.30, ah.. Overslept.' Batin Claire, dia merengut, merasa dirinya gadis yang terlalu malang. Hanya karena seorang Kai, dia jadi seperti ini. Claire yang kebetulan melewati cermin ketika hendak ke kamar mandi, memandang tubuh dan wajahnya dari pantulan benda itu. Rambutnya acak-acakan, matanya sembab, memar yang kini membiru menghiasi wajah cantiknya, malang sekali.. Seperti gadis yang baru saja di putuskan dan di hajar oleh pacarnya yang seorang psikopat. Sakit hati mulai menjalari dada Claire, kenapa dia di perlakukan seperti ini oleh Kai? Meskipun dalam keadaan mabuk yang mungkin saja membuat Kai tidak berpikir jernih dan labil, tapi dia tidak mungkin sekejam ini bukan?

Claire membuang muka, segera masuk ke kamar mandi. Berharap pancuran air hangat dapat menghilangkan sakit di dadanya, walau setitik. Setelah puas menyegarkan tubuh dan pikirannya, Claire membuat sepotong sandwich untuk mengisi perutnya yang mulai kelaparan. Segera ia menghabiskan sarapan dan menyeruput segelas grape juice, lalu mulai menjalankan aktivitasnya sebagai seorang petani.

Claire sedang menaburkan bibit ke atas tanah yang baru saja di cangkulnya saat dia menengok ke arah seorang pemuda berbandana ungu melangkah masuk ke perkebunannya.

"Yo, Claire. Aku butuh bantuanmu." Ujar Kai dengan santai.

"Bantuan apa?" Tanya Claire

"Aku ingin meminjam uang lagi, dua puluh ribu gold."

Claire melongo, memandangi Kai, mengerjapkan kedua bola mata birunya. "Dua puluh ribu? Aku.. Aku tidak punya uang sebanyak itu Kai."

"Ku mohon sayang. Aku butuh uang itu."

Gadis bernama Claire itu menyeka keringat di pelipisnya, matahari bersinar begitu terik, untung saja Claire mengenakan topi bundar yang terbuat dari jerami, sehingga wajahnya aman dari sengatan terik matahari.

'Dua puluh ribu..' Claire menghela nafas panjang. Uang miliknya hanya tersisa 1.000 G, dari 13.000 G, minggu lalu Kai baru saja meminjam 12.000 G darinya.

"Mana uang yang ku pinjamkan padamu?"

"Eng.. Sudah ku pakai untuk keperluanku yang lain.."

"Keperluan? Mabuk-mabukkan maksudmu?" Sinis Claire. Dia jenuh, Kai seperti memeras dirinya, 'hanya di manfaatkan' pikirnya.

"Kau tidak perlu ikut campur urusanku." Kai mulai geram.

"Tentu saja aku perlu ikut campur kau meminjam uangku yang entah kau gunakan untuk apa. Dan sekarang ka-"

PLAK!

Claire terbelalak, semua terjadi begitu cepat. Tangan Kai melayang dan mendarat di pipinya yang kini memerah. Lengkap sudah, pipi yang biru dan merah.

"Kau tidak perlu ikut campur, kau hanya perlu memberikanku uang." Ucap Kai dingin, lalu meninggalkan perkebunan McDougard's. Meninggalkan Claire yang masih terpaku, wajahnya tertunduk menatap ke tanah yang ada di bawahnya. Air mata mengalir dari balik kelopak matanya, bukan sakit di pipi yang membuat dia menangis, tapi karena kali ini Kai memukulnya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh alkohol sama sekali.

'Apakah dia benar-benar tidak sayang padaku?' Claire mulai terisak di tengah ladangnya.

Pipi Claire berdenyut-denyut perih. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya- menyiram tanaman-tanamannya, memberi makan ternak-ternak, Claire kembali ke dalam rumah untuk membasuh kedua pipinya dengan handuk yang di basahi air hangat. Sambil meringis, Claire mengutuk dirinya dalam hati. 'Terlalu lemah!' Rasanya harus ada yang menyelesaikan kekerasan ini, ada penjelasan atas perlakuan Kai. Ya! Harus ada penjelasan. Claire berhenti menyentuh pipinya, dia tiba-tiba berdiri hingga kursinya sedikit mundur. Dengan cepat dia berjalan keluar dari perkebunannya, menuju pantai Mineral. Langkahnya terhenti begitu kakinya berpijak pada tangga penghubung Rose Square dan pantai Mineral, Zack yang sedang berbicara dengan Kai menarik perhatian matanya. Sepertinya bukan perbincangan yang menyenangkan.. Terlihat dari raut wajah Zack, dan Kai hanya membalas dengan cengiran tapi bukan cengiran yang seperti biasa. Segera gadis berambut pirang itu menghampiri Kai, tepat ketika Zack masuk dan membanting pintu rumah tepi pantai miliknya.

"Ada apa?" Tanya Kai, cengiran pemuda itu berubah menjadi ekspresi datar begitu melihat Claire datang menemuinya.

"Ehm.. Eh.. Kau bertengkar dengan Zack?"

Kai menghela napas dengan berat seolah-olah udara di pantai itu menipis, "Masuklah dulu.."

Gadis berambut emas itu mengikuti Kai masuk ke dalam kedai miliknya. Bukan menawarkan minuman atau berbicara dengan Claire, Kai bertingkah seakan tidak ada seorangpun di kedai itu. Dia membereskan peralatan-peralatan masak yang tertampung di bak cuci.

Setelah terdiam cukup lama, Claire memutuskan berbicara dan melenyapkan keheningan di antara mereka berdua.

"Kai.. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."

Yang di tanyai tetap pada aktivitas mencuci piring. Gesekan spons pada piring-piring juga suara air mengalir memenuhi ruangan kecil itu, aroma lime sabun menyeruak ke dalam hidung masing-masing.

"Masalah bayar sewa tempat ini." Jawab kekasih Claire singkat

Claire termenung sesaat. Mungkin ini alasan mengapa Kai meminjam uang lagi padanya, pikir gadis petani yang sedang duduk manis memandangi Kai yang berkutat di bak cuci.

"Jadi, dua puluh ribu untuk bayar sewa?"

"Hm."

Bola mata biru Claire memandang sekeliling, suasana kedai yang sepi, wallpaper dinding mulai terkelupas di sana-sini. Sejenak kedua orang itu terhanyut dalam kegiatan masing-masing berbalut keheningan tanpa ada satu dua patah kata yang terucap, detik jam dinding beradu dengan bunyi-bunyi piring saling bersahut-sahutan. Ketukan jari Claire di meja membuainya ke dalam lamunan panjang, otaknya mencoba mempertimbangkan mencari sesuatu.

"Kai."

"Mm?"

"Dua puluh ribu itu-"

"Kenapa?"

"Eng.. Aku akan mengumpulkannya." Suara Claire perlahan mengecil, nyaris berbisik,"Untukmu.."

Kai mendongak ke arah Claire, wajahnya sumringah memandang Claire dengan tatapan 'Benar kah?'

"Sungguh?" Tanya pemuda itu seraya ingin memastikan pendengarannya, memastikan ucapan kekasihnya itu. Claire membalas dengan anggukan.

Dengan segera di tinggalkannya piring-piring yang masih tersisa, melepas sarung tangan yang di pakai untuk mencuci dan segera menghampiri Claire. Mengejutkannya dengan pelukan yang tak terduga, membuat rona merah di pipi Claire yang kaget.

"Aku cinta kamu Claire!" Sambil tertawa senang Kai mempererat pelukannya. Tersenyum, Claire tersenyum manis membalas pelukan Kai,"Ya, aku juga."

Perlahan Kai melepas pelukan, berpaling menatap Claire. Senyum yang masih tadi ada pada wajahnya sekarang menghilang. Claire melihat perubahan Kai lantas memiringkan kepalanya, saat hendak bertanya, Kai sudah mengecup pipinya. "Maafkan aku Claire." Kai menunduk, Claire memandangi Kai, tangan mungil milik gadis itu mengelus helai rambut hitam orang yang paling di sayanginya, "Tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak sengaja."

Kai tersenyum kecil sambil mengelus pipi Claire,"Hari ini makan siang di sini ya. Aku traktir!"

Lalu keduanya tertawa bersama-sama saling melepas kepenatan dan kepedihan yang di rasakan, menghabiskan waktu bersama. Sakit hati Claire menguap,meyakinkan dirinya bahwa Kai mencintainya.

Matahari mulai terbenam, langit Mineral town memerah seiring tenggelamnya sang matahari. Claire membuka pintu kedai Kai, melangkah keluar dan berpamitan. Perasaannya senang bukan main, Kai memperlakukan dia seperti seorang putri! Di manjakan, di perhatikan, membuat dia merasa di sayangi. Gadis petani itu tersenyum senang, bahkan saat melewati ibu-ibu di Rose Square, senyum lebar Claire menyapa mereka.

"Lihat wajahnya, seperti memar ya?" Ujar Sasha begitu Claire berjalan meninggalkan mereka, namun sayang suaranya cukup terdengar bagi Claire. Dia memperlambat langkah kakinya, penasaran dengan tanggapan ibu-ibu lain, mengenai gosip dirinya.

"Iya, habis di pukuli siapa ya?" Tanggap Anna,

"Penjahat? Ooh, tidak-tidak, di sini kan ada Harris, pasti aman. Jangan-jangan.."

"Jangan-jangan apa?"

Manna tidak menanggapi kedua temannya itu, dia memperhatikan Claire yang masih berjalan dengan sangat pelan, tapi telinganya tetap mendengarkan apa yang di gosipkan teman-temannya itu.

"Di pukuli pacarnya."

Claire menghentikan langkahnya. Terkejut dengan apa yang di katakan Sasha, tepat sasaran. Manna dan Anna ikut tekejut.

"Hei-hei! Kau jangan bicara sembarangan ya," Anna memperingatkan.

"Jangan kaget begitu. Kalian kan tahu sendiri Kai seperti apa. Dua tahun lalu dia membawa seorang gadis dari kota dan memesan kamar yang sama dengannya. Doug menolak, tapi dia tetap memaksa, akhirnya Doug sangat kesal, dia bukan laki-laki yang baik!"

Claire tidak pernah dengar cerita itu dari Kai, dia tahu Kai suka menggoda wanita tapi dia benar-benar tidak menyangka dia seperti itu. Padahal pikirnya Kai dulu orang yang baik. Claire semakin penasaran.

"Dia juga pernah merayu Popuri, bahkan lama menjalin hubungan, meskipun Rick tidak suka pada Kai. Tapi, Popuri tidak memar, maksudku, di pukuli. Bahkan, mereka terlihat seperti pasangan yang bahagia." Lanjut Sasha.

"Apa mungkin dia tidak menyukai Claire?" Tanya Anna penasaran

"Entahlah," Sasha mengangkat kedua bahunya.

"Ssh. Aku rasa kurang sopan membicarakan orang lain, lebih baik kita tidak usah ikut campur. Mungkin dia jatuh di ladang." Akhirnya Manna mulai membuka suara tanpa mengungkit-ngungkit masalah Claire yang datang ke rumahnya dengan wajah lebam. Anna dan Sasha mengedip-ngedipkan kedua bola matanya, takjub.

"Manna? Kau demam? Tumben. Biasanya kan kau yang paling suka berbicara masalah begini." Sasha mencoba meraba kening Manna. Manna menjawab dengan gelengan, dia melirik ke arah Claire, tapi Claire sudah pergi.

Claire berjalan dengan cepat, hatinya panas. Entah cemburu merasuki pikirannya, mengapa Kai tega memperlakukannya dengan buruk? Tidak seperti Popuri! Apakah Kai memang tidak menyayanginya? Pertanyaan-pertanyaan muncul dalam kepalanya.

'Tidak! Kai menyayangiku!' Claire berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Meratapi dirinya, gosip tentang Popuri.

Claire membanting pintu rumah tepat di belakangnya dan menghempaskan diri di tempat tidur. Menepis segala pikiran-pikiran negatifnya.

'Kai pasti mencintaiku. Ya! Aku yakin dia sangat mencintaiku!'

.

.

.

.

.

.

Akhirnya jadi juga.. *nyekakeringat*

Maaf kalo ceritanya jelek, atau pasaran, gak jelas, dll

Udh gaada idee.. Huhuhu.. Writernya lagi not-in-the-mood. Pengennya sih buat cerita yang menegangkan plus bikin penasaran seperti-sekalian promosi-ceritanya Arlene Shiramiu! Baca deh fic Gokonnya! Di fandom Naruto, muantap puollll! Di jamin bakal terhanyut dlm ceritanya! Bikin penasaran. Pengen buat cerita kyk gitu juga T-T

Jadinya kayak gini, sy hanya ingin cpt2 mengupdate, huaaa!

Thanks buat yg mereview yaa,

Holy-chan, makasih saran dan kritiknyaa, nanti saya kunjungi fic collabnya yaaa :D

Natsu and Hatsu, buat review dan supportnya, huehue, keep reading yaw :3

Review ! :D