Mentari pagi mulai terbit menyinari desa Mineral dengan siraman cahaya hangat yang khas. Sebagian penduduk keluar dari tempat perlindungan, memulai kegiatan sehari-hari, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga juga untuk menghidupi diri sendiri. Tidak ada seorangpun yang bermalas-malasan, semua melakukannya dengan hati gembira.

Bahkan Manna dan Duke sudah siap-siap membuka toko mereka.

"Manna, aku akan mengecek wine di cellar."

"Oh Duke, kenapa begitu terburu-buru? Bahkan Cliff belum datang."

"Tidak apa. Hanya ingin memastikan wine-wineku saja." Pria berambut putih-hitam bernama Duke itu mengecup pipi istrinya, lalu menuju cellar.

"Lihat, lihat.. Betapa sayangnya dia pada wine, sudah seperti istri kedua saja." Manna merengut, dan tentu saja tanpa di dengar Duke.

.

.

.

Jejeran botol-botol wine memenuhi rak-rak, tidak menyisakan satu ruang pun yang kosong. Aroma manisnya menggelitik hidung, Duke sangat suka berdiam dicellar, menghitung botol-botol, kadang melap atau membersihkan botol-botol kesayangannya itu.

KLEK!

Suara pintu dari lantai atas membuat Duke menengokkan kepalanya ke arah tangga. Cellar Duke ada dua tingkat, lantai 1 dan ruang bawah tanah, tempat penyimpanan botol-botol wine. Lantai 1 lebih di gunakan untuk penyimpanan barrel-barrel anggur musim gugur usai panen.

"Pagi Cliff!" Sapa Duke lalu kembali mengamati tiap botol wine sambil bersenandung kecil. Yang di sapa membungkuk kecil pada tuannya.

"Kemarilah, bantu aku menyusun botol-botol ini."

Pemuda berambut coklat itu mengangguk dan segera menuruti petintah Duke. Sebentar saja, Cliff sudah mengamati tutup botol wine yang berwarna-warni, mengeluarkan dari tempatnya, mencari botol sejenis, lalu meletakkan botol itu dengan hati-hati. Dentingan saat benda itu di letakkan mengalun merdu, senandung Duke tidak mau kalah. Pria yang mengenakan vest ungu itu mengakhiri aktivitasnya,

"Cliff, ayo kita panen anggur. Ahh, musim gugur memang sangat menyenangkan!"

Tanpa banyak basa-basi mereka menuju ke ladang anggur. Angin musim gugur menerpa kulit juga rambut Cliff yang panjang begitu ia keluar dari cellar, membelai seakan meminta perhatian dari pemuda berparas tampan itu. Duke mulai memetik anggur-anggur yang merekah sempurna, meletakannya dalam keranjang. Cliff segera membantu Duke, melakukan kegiatan yang sama. Mereka melakukan kegiatan itu berulang-ulang, hingga matahari tepat di atas ubun-ubun, bersinar redup dari balik awan putih yang berarak menuju utara. Suara teriakan yang nyaring menghentikan kegiatan mereka,

"Duke, Cliff! Waktunya makan siang!" Manna mengingatkan.

Pria paruh baya bernama Duke itu menyeka sebutir keringat di dahinya,"Ayo Cliff."

Cliff membalas dengan anggukan.

.

.

.

.

Hidangan Manna sungguh menggoda, bau curry kesukaan Cliff menyeruak di seluruh ruang makan. Berbagai hidangan di letakkan di atas meja, curry rice, miso soup, dan terakhir Manna meletakkan hidangan pencuci mulut. Sebagai kepala keluarga, Duke memimpin doa. Cliff memang bukan anak mereka, tapi sudah di anggap seperti darah-daging sendiri, semenjak kepergian Aja yang meninggalkan kedua orangtua kandungnya, pergi menikahi pria di luar Mineral dengan mengirimkan kabar yang terbatas. Terakhir surat dari Aja datang 5 tahun yang lalu, sampai saat ini belum ada satu kabar pun darinya.

Manna menuangkan air mineral pada gelas Duke yang kosong,"Sayang, kemarin aku bertemu Claire di Rose Square. Saat sedang berkumpul dengan Sasha dan Anna. Ku rasa dia usai mengunjungi Kai." Wanita keibuan itu mulai mengoceh, kebiasaan lama yang sulit di hilangkan,"Dan kau tahu? Sepertinya dia mendapat memar baru di wajahnya."

"Lalu?" Tanya Duke tanpa menunjukkan hasrat keingin-tahuannya.

"Sasha bilang, itu bekas pukulan," istri Duke melanjutkan dengan antusiasme yang tinggi,"Dan kau tahu siapa yang memukul?"

Duke menyendok miso soupnya, kemudian menggeleng pelan.

"Katanya yang memukul Claire itu Kai. Apa kau tidak merasa janggal sayang? Tidak mungkin Claire jatuh di ladang untuk yang kedua kalinya. Aku tidak membenarkan perkataan Sasha," terhenti sejenak, istri Duke itu menarik napas panjang untuk mengisi paru-parunya, juga tidak lupa menyuap masuk curry ricenya yang perlahan dingin,"Taphi.. Mh.. Rhashanya hadha bhenarnyha jugha.."

Sang suami hanya menggeleng-geleng,"Kalaupun benar, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka."

Sedangkan Cliff sedaritadi memerhatikan kedua pasangan itu dengan penasaran, matanya menyiratkan pertanyaan, terlihat dari kedua alisnya yang naik-turun.

'Siapa itu Claire? Wanita malang macam apa, hingga di pukuli seperti itu oleh pacarnya?'

Paham maksud Cliff, Duke menjelaskan,"Aah.. Kau tidak mengenal Claire? Dia adalah pemilik kebun McDougard yang baru, pengganti Leonal kakeknya. Dan Kai adalah kekasih Claire, kau pasti mengenal Kai kan? Dia tinggal di penginapan sama denganmu."

Manna menambahkan,"Sekarang Claire sepertinya sedang bermasalah dengan pacarnya yang temperamental itu. Sudahlah, jangan membahas tentang mereka terus! Ayo habiskan makanannya."

Cliff dan Duke saling berpandangan juga saling menggeleng-gelengkan kepala, siapa yang daritadi memulai tentang pembicaraan Claire dan Kai?

.

.

.

.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan, Cliff berpamitan pulang. Angin malam terasa menggigit kulitnya yang minim perlindungan, jika ini musim dingin lengannya pasti sudah membeku. Pemuda bergaris rahang tegas itu mengusap-ngusap kedua lengannya, mencoba mengusir rasa dingin di sana. Namun tiba-tiba pandangannya berubah haluan, dia tidak konsentrasi lagi pada tubuhnya yang menggigil kedinginan. Dua insan di depan Inn mengalihkan perhatian Cliff, sejenak langkahnya terhenti, mengamati pasangan yang tampak sedang bertengkar. Dia memicingkan mata coklat miliknya, berusaha mencari tahu siapa mereka. Dari pengamatan, Cliff tahu siapa pria berbandana ungu itu tapi Cliff tidak mengenal wanita berambut emas dengan hiasan bola mata biru, kulitnya putih mulus seperti porselen, gadis itu layaknya boneka. Pria berkulit hitam yang di kenal Cliff sebagai Kai, teman sekamar di penginapan, mencengkram erat lengan gadis berambut pirang. Merasa kesakitan, dia merintih pelan, mencoba meminimalkan rasa sakit. Cliff merasa tidak tega, tapi dia juga tidak mungkin berlagak pahlawan, memukul Kai dan menyelamatkan Claire lalu jatuh cinta. Dramatis! Cinta adalah kata terlarang bagi Cliff.

Perlakuan Kai semakin tidak manusiawi, meneriaki gadisnya dengan nada tinggi, hingga Cliff bisa mendengar sepenggal kata 'Uang'. Tindakan Kai berikutnya sangat tidak di sangka Cliff, dia menarik rambut indah gadis itu dengan kasar.

"Kai.. Jangan.. Ku mohon.." Ujar sang gadis memelas, dia juga terlihat was-was di saksikan orang-orang yang mendengar teriakan Kai. Kai tidak memperdulikan, dia siap mengacungkan tangan. Cliff tidak suka dengan apa yang akan terjadi berikutnya, sejenak dia terlihat sedang berpikir, sedetik kemudian dia melesat ke arah penginapan. Bayangan Cliff tertangkap oleh mata Kai, pemuda itu menengok ke arah bayangan itu, sedang si gadis boneka menutup mata hingga bola mata biru miliknya tersembunyi di balik kelopak, jadi dia tidak menyadari kedatangan Cliff. Tapi pada dasarnya pemuda berkulit hitam yang di kenal sebagai Kai itu keras kepala di tambah ia sedang tersulut api, Cliff di acuhkan. Bola mata hitam Kai kembali menatap makhluk indah di hadapannya. Segera Cliff mengalihkan perhatian mereka, dia menggedor-gedor pintu penginapan yang sepertinya terkunci karena sudah hampir larut malam. Tindakan pemuda berkuncir membuat Kai panik, dia yakin semua orang sudah terlelap, jadi tidak akan ada yang melihat pertengkaran antara dia dan Claire, tapi bagaimana jika orang-orang di penginapan terbangun, lalu melihat gelagatnya sekarang?

"Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?"

Tidak ingin menanggapi, tindakan menggedor-gedor pintu pun di lanjutkan, hal itu menarik perhatian gadis ber-overall biru yang kini menampakkan bola mata biru senada. Mencari siapa pengacau suasana menyedihkan sekaligus penyelamat dirinya secara tidak sengaja.

"Hei! Hei! Hentikan! Apa yang kau lakukan?" Kai menepis tangan Cliff dari pintu,"Itu tidak di kunci!"

Sahutan dari dalam penginapan membuat Kai berdecak kesal, dia lantas masuk dan terdengar memberi penjelasan pada Doug. Sebelum masuk, Cliff melirik sedikit ke arah gadis yang sekarang masih menatap padanya. Senyum tipis melengkung dari bibir Cliff, sepertinya gadis yang baru di selamatkan olehnya kurang bisa beramah-tamah.

'Wanita canggung dan agak kaku.' Pikir pemuda itu.

Merasa tidak ada lagi yang harus di lakukan, Cliff bergerak masuk ke Inn.

"Tunggu!" Tahan gadis yang sibuk menyapu rambut pirangnya ke belakang telinga, ingin mengucapkan sesuatu tapi tertahan di bibir.

"Terima kasih." Ucap gadis yang baru saja di selamatkannya, tulus. Tanpa keraguan sedikitpun, sorot mata tegas memandangi kedua bola mata coklat Cliff. Sempat tertegun, tapi pemuda yang mengenakan baju senada dengan warna mata dan rambutnya membalas dengan senyum kecil.

Pintu kembali merapat menandakan perpisahan mereka.

"Aku lupa bertanya siapa namanya.." Gumam Claire dalam perjalanan pulang. Setidaknya dia ingin tahu identitas pemuda itu, kalau-kalau nanti mereka bertemu lagi, dia ingin membalas budi.

.

.

.

.

Ternyata Kai sudah di dalam kamar, dia sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya, Gray. Tatapan sinis di lemparkan oleh Kai saat Cliff masuk kamar, tapi di acuhkannya. Tidak menunggu lama, Cliff menyamankan diri dalam selimut, meminta kehangatan lebih dari kain tebal itu. Dia berusaha memejamkan mata, mengantarkan dirinya kedalam mimpi, namun perbincangan Kai dan Gray membuat dia tidak bisa memasang telinga, mencoba mendengarkan dengan seksama.

"Dia menolak memberikan uang yang kau minta?" Tanya pemuda bertopi UMA.

"Tidak, dia tidak bisa mendapatkan jumlah yang aku inginkan. Aku butuh uang itu secepatnya untuk membelikan cincin permintaan Popuri. Kalau tidak Popuri bisa ngambek padaku berminggu-minggu." Dengan santai Kai menjawab,

"Kau bilang alasan itu pada Claire?"

"Tentu tidak bodoh! Bisa-bisa dia memutuskanku sebelum aku mendapatkan uang itu. Lagipula, tidak mungkin aku mengaku selingkuh."

Gray terkikik pelan, lalu kemudian mengiba,"Kau jahat sekali, kasihan Claire. Dia mencintaimu, tapi kau memanfaatkan dia. Dan lagi, kau hampir memukulnya untuk kesekian kali. Ckckck."

"Kau ini membela siapa sih? Kalau kau mau ambil saja dia."

"Tentu saja kau. Benar? Dia lumayan cantik. Kau akan menyesal mencampakannya." Gray menunjukkan ekspresi yang sulit di tebak.

"I'll not." Kata terakhir dari Kai, mengakhiri obrolan mengenai Claire.

Perbincangan mereka sedikit membuat Cliff kesal. Kasihan sekali.. Sekarang dia paham cerita tentang Claire dan Kai yang di bawakan Manna siang tadi. Setitik rasa iba terbesit di hatinya, sayang dia cepat menghilangkan rasa itu. Cliff tidak ingin ikut campur, dan dia tidak akan ikut campur dalam kehidupan Claire maupun Kai. Dia setuju dengan apa yang di katakan Duke, jangan ikut campur. Lagipula dia tidak akan bertemu wanita itu lagi, kalaupun bertemu dia akan menganggap tidak terjadi apa-apa malam ini.

Tapi takdir berkata lain..

To be continued.

.

.

.

.

*jengjengjengjeng!*

Ini updatetan saya, maaf kalau ceritanya kurang(tidak)seru. Soalnya gaada ide yang nyantol di kepala author ini -_-

Saya sudah mencoba meminimalkan segala typo2 yang ada,

Karena saya tidak begitu memahami penggunaan dan penempatan kata di-, mohon maaf kalau banyak kesalahan di sana-sini. Saya juga mencoba mengurangi penggunaan -nya, tapi kebiasan author susah di hilangkan. I'm so sorry ye. -_-

Mungkin titik-koma yang tidak beraturan, soalnya saya ngetiknya di hape jadi harap di maklumi aja lah.

Sebenarnya kadang ide udah ada, tapi author ga pintar dalam pemilihan kata, jadi susah di ungkapkan dan lama di update. Huhuhu..

Saya hiatus untuk sementara waktu ya, soalnya sudah minggu UAS.. Hikss.. TAT

Special thanks to :

Princess Nathania, thanks buat reviewnya

Ryna Hitsune, saya jg gak ngerti kenapa Clairenya begini -_-' jadi terbawa suasana. Huahahah, mendramatisir sedikit, saya banyak belajar dari author2 hebat di ini. Terutama fic Gokon di fandom naruto, mengajari saya tata bahasa yang baik dan uhh.. Susah di ungkapkan dengan kata2. :) thanks for review!

Kiria Sanae, ini update! Thanks for review! Semoga ch ini gak mengecewakan yah :)

Kritik, saran, dan review di terima :)