Redup sinar bulan memancar dari luar jendela kamar, mencari celah untuk memancarkan cahaya indahnya ke dalam ruangan, seolah dengan bangga ingin memperlihatkan keanggunannya walau insan di bumi kini tengah terlelap menikmati buaian mimpi. Sayup-sayup lolongan srigala terdengar dari puncak mother hills, mengisi kesunyian malam, beradu dengan nyanyian jangkrik serta sepoi angin malam yang sedang menggoyahkan dahan kering pohon untuk menggesek ke permukaan jendela. Dari dalam kamar, desah napas kacau perlahan terdengar, kalimat igauan tak jelas mengalun seperti bisik terlontar melalui bibir seorang pemuda berambut coklat. Peluh keringat membanjiri dahi putihnya. Entah sudah berapa kali dia mendapat mimpi berulang-ulang, mimpi buruk yang terangkai dari memori-memori masa lalu kelam miliknya. Mimpi buruk itu memaksa dia tetap terlelap, tidak mengijinkan pemuda itu membuka mata barang sebentar saja. Dalam mimpi, dia terpaku memandangi seorang anak kecil, anak kecil itu terlihat mirip sekali dengannya, hanya saja dengan ukuran tubuh yang berbeda. Dia menatap anak kecil itu dengan pandangan nanar, lalu semua ingatannya berputar kembali

.

.

.

Anak kecil itu terbangun dari tidur. Mengerjap-ngerjapkan mata mungilnya, berusaha menyesuaikan penglihatan dalam gelap. Entah apa yang membuatnya terbangun, namun di saat seperti ini dia selalu mencari ibu untuk menidurkannya kembali. Cahaya remang-remang yang berasal dari luar kamar menyusup masuk dari celah bawah pintu, menandakan ibunya mungkin masih berada di ruang tamu. Anak lelaki itu kemudian turun dari ranjang yang agak tinggi bagi anak seumurannya, dan melangkah ke arah pintu.

"Chris, aku sungguh mencintaimu. Menikahlah denganku, aku janji akan membahagiakanmu. Aku juga sudah berjanji pada Mako, untuk mendampingimu."

Suara baritone asing tertangkap jelas oleh telinga anak kecil itu, sejenak dia terpaku di depan pintu kamarnya. Hingga kali ini suara familiar membalas suara itu,

"Wally, aku... A-aku tidak bisa... Aku masih mencintai Mako..."

Bocah berusia 5 tahun itu menarik gagang pintu dengan sangat pelan, dia tidak ingin menimbulkan suara sekecil apapun, pintu hanya sedikit terbuka. Dari celah itu, sebelah matanya mengawasi kedua orang yang berdiri saling berhadapan,

"Menikahlah denganku, aku tidak melarang kau mencintai Mako. Suatu saat kau pasti akan mencintaiku juga Chris, seperti aku mencintaimu,"

Bola mata kecoklatan anak kecil itu terpaku pada sosok wanita yang sekarang mulai terisak, dia tahu siapa itu Chris dan Mako. Itu nama ayah dan ibunya, pria yang berdiri di hadapan ibunya mulai menarik lengan wanita itu, membiarkannya menangis dalam pelukan. Sambil mempererat pelukannya, pria itu berbicara lagi,

"Mako pasti bahagia di alam sana. Dia juga ingin kau bahagia di sini Chris." tangan kekarnya mengusap-usap wajah Chris dengan ibu jari.

"Oh Wally..." pandangan wanita berusia 28 tahun itu melembut, seolah menemukan kembali kebahagiaan dalam dirinya, matanya mencari-cari ke dalam mata pria itu, dan ia menemukan cinta, pria itu tidak berbohong. Dia membenarkan perkataan Wally, dia harus melanjutkan hidupnya di sini.

"Tapi..." Wally menggantungkan kalimatnya, lalu menatap bola mata Chris,"Aku tidak ingin kau membawa anak-anakmu."

Chris mengernyitkan dahi, di ikuti anak kecil yang masih menonton kedua orang itu juga.

"Kau tidak menerima anak-anakku?" tanya Chris tidak percaya.

"Aku ingin kau melupakan semua masa lalumu, agar kau bisa hidup bahagia kembali. Tinggalkan anak-anakmu, dan lupakan bahwa kau pernah punya anak."

Penyataan pria bernama Wally itu sukses membuat Chris terkejut, suara deritan pintu membuat dua orang dewasa itu menoleh, kini pintu kamar anak kecil berambut coklat itu terbuka lebar, memperlihatkan dirinya dengan jelas,

"Cliff? Kau belum tidur nak?" segera Chris menghampiri anaknya, mencium pipi mungil malaikat kecilnya itu. Mata Cliff kecil mulai berkaca-kaca, dia takut ibunya akan pergi meninggalkannya. Sebagai seorang ibu yang memiliki ikatan batin dengan anaknya, Chris mengerti kerisauan hati Cliff.

"Tenang saja sayang. Ibu tidak akan pergi kemana-mana." Chris tersenyum lembut, berusaha menenangkan Cliff kecil. Setelah meletakkan Cliff di atas tempat tidur, dia mulai me-nina-bobo-kannya. Sebelum jatuh terlelap, Cliff masih sempat menangkap pembicaraan antara ibunya dan orang asing itu,

"Pikirkan ulang tentang lamaranku." tukas Wally

"Pulanglah Wally, aku dan kau butuh istirahat. Akan ku berikan jawabanku secepatnya."

.

.

.

.

Cliff terbangun, mimpi itu membuatnya meringis. Tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, Cliff mempersiapkan diri untuk bekerja.

.

.

.

Entah sudah berapa lama Cliff di ladang anggur, dia masih saja berkutat di sana. Tangannya dengan lihai memetik anggur-anggur tanpa cacat sedikitpun, seperti sudah lama terlatih, padahal baru setahun dia bekerja di sana. Terima kasih pendeta Carter memberitahunya tentang pekerjaan ini di saat dia mulai kehabisan uang. Hampir saja dia mengangkat kaki dari kota Mineral. Terhenti sejenak, Cliff menikmati cuaca musim gugur yang menyejukkan. Dia mengadahkan kepalanya, memanjakan pandangannya dengan guratan awan di langit. Namun sebuah tepukan di bahu menyadarkan Cliff,

"Jadi, kau bekerja di sini?" tanya gadis berambut pirang, seingat Cliff dia gadis boneka yang kemarin di tolongnya. Kenapa dia ada di sini? Cliff bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi, bukan membenci, hanya saja... Dia malas bergaul. Cliff tidak menjawab pertanyaan yang sudah jelas apa jawabannya. Gadis itu seakan mengerti, lalu memperkenalkan diri,

"Namaku Claire." Claire menyodorkan tangan, namun di turunkan karena tidak mendapat sambutan dari Cliff. Membuat gadis itu sedikit kesal.

'Dingin sekali.'

"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Claire mengingat-ngingat,"Ah! Kau anak yang di gereja itu! Aku sempat melihatmu duduk merenung. Ku pikir kau sedang berdoa, jadi aku tidak menemuimu."

Cliff hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya.

'Cih! Sombong sekali!'

"Baiklah. Aku pergi dulu." pamit Claire dingin, Cliff hanya mendesah pelan.

.

.

.

.

"Kai,"

"Hmm?"

"Kenapa kau tidak kembali ke selatan? Padahal ini sudah musim gugur." tanya Gray, di sela-sela istirahatnya, dia mengunjungi pantai dan kebetulan bertemu sahabatnya, Kai.

"Tidak apa, ada yang salah?" Kai menjawab tanpa menoleh, mereka berdua duduk di atas pasir. Tikar-tikar sudah di masukkan dalam peti, hanya di gunakan pada musim panas saja.

"Tidak."

"Kai,"

"Hn?"

"Lihat," Gray menepuk pundak Kai, yang mau tak mau membuatnya ikut menoleh. Seorang gadis berambut pirang sudah berdiri agak jauh dari mereka. Kedatangannya membuat Kai mendecih pelan.

"Kai..." panggilnya, suara gadis itu terdengar lembut di telinga Gray.

"Apa." yang di panggil hanya menjawab dengan ketus. Membuat Claire sedikit kaget.

"Aku.. Membawa uang yang kau minta."

Kai berdiri dari duduknya, kemudian menghampiri gadis itu. Claire menyerahkan kantungan berwarna coklat berisi kepingan gold. Itu sejauh pengamatan Gray, belum sempat di berbalik menikmati bentangan laut dan cakrawala, Kai berteriak marah, kerah baju Claire tidak luput dari amarah pemuda itu.

"Kau sebut ini uang? Ini bahkan tidak cukup untuk membeli makanan di kedaiku!"

"Ta-tapi Kai, aku sudah berusaha mengumpulkannya. Itu uang terakhir yang ku punya. Sekarang aku bahkan tidak punya uang sama sekali."

Gerakan tangan Kai cepat. Kalau saja dia tidak merasakan punggung juga tangannya menyentuh pasir, Claire pasti tidak sadar tubuhnya baru saja di hempaskan dengan keras. Bersyukur kini dia hanya di hempaskan di atas pasir, bukan tanah dingin dan keras, bisa-bisa punggungnya remuk.

BRAK!

Pemuda berkulit hitam itu membanting pintu kedai miliknya. Masih dalam posisi terbaring di atas pasir, Claire menelungkupkan kedua tangan menutupi kedua matanya.

"Kau tidak apa?"

Claire mengira suara itu adalah milik Kai, dia menjauhkan kedua tangan dari wajahnya, melihat apakah benar itu Kai? Dia berharap Kai keluar meminta maaf, menyesali tindakannya. Namun, Claire pantas kecewa mendapatkan suara itu berasal dari Gray. Betapa bodohnya dia tidak mengenali suara kekasihnya sendiri.

"Ya, aku... Baik-baik saja. Di sini nyaman." ucap Claire malu-malu, gadis itu lupa akan keberadaan Gray, pasti Gray mengutuki kemalangannya. Semburat merah menghiasi pipi Claire. Gray mengulurkan tangan, membuat mata biru Claire sedikit membulat. Untuk sesaat dia tidak mengerti maksud uluran itu, cukup lama menerjemahkan, Claire menyambut uluran tangan Gray.

'Kecil sekali tangannya,' dalam hati Gray membatin,

Kini Claire sudah berdiri melawan gravitasi. Dalam diam, Claire membersihkan baju dari pasir-pasir yang menempel, sedang Gray hanya memperhatikan gerak-geriknya.

'Dia ini kecil sekali. Lengannya kurus begitu. Apa dia tidak pernah makan?'

Gadis itu menepuk-nepuk lengan kemeja kotak-kotaknya,

'Pundaknya juga kecil. Setauku pundak Ann lebih lebar daripada ini.'

Lalu berpindah pada pundak dan kerah bajunya,

'Gadis ini... Kenapa Kai begitu tega memperlakukan gadis rapuh ini dengan kasar?'

Dan berikutnya dia berusaha membersihkan bagian punggungnya, lalu...

BLUSHH!

Gray memerah, dalam hati dia mengumpat dirinya sendiri,

'PERVERT!'

Claire menepuk-nepuk bokongnya, lalu menoleh pada Gray yang sedang memerah.

"Gray? Aku pulang dulu ya," ujarnya sambil menatap Gray keheranan,

"Eh? Ah... Mau ku antar?"

"Umh... Tidak usah, terima kasih." sekilas Claire menengok ke arah kedai Kai, dia lebih berharap kekasihnya sendiri yang mengantarnya pulang, bukan sahabat kekasihnya. "Dah Gray."

"Dah."

Bola mata pemuda bertopi UMA itu mengikuti bayangan Claire, hingga gadis itu makin jauh dan tidak bisa terlihat oleh pandangannya. Gray menatap telapak tangan yang tadi di sentuh Claire. Berbagai perasaan sulit di ungkapkan melintas dalam dada pemuda itu.

"Claire..."

To be continued...

Chap 4 up! Maafkan author yang membuat cerita gaje seperti ini. Hikss! (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

Apakah cerita ini seru? Apakah harus di lanjutkan? Saya menanti review, untuk menyemangati saya. Namun apa daya, sepi sekali di sini, huhuuu... Tapi saya senang sudah mendapat review dari yang sudah mereview saya, arigatoo! (っ˘з(˘⌣˘ )

Maafkan segala ke-typo-an yang ada. Segala kesalahan penempatan tanda baca, kesalahan penggunaan di-, dll.

Author sedang mencoba mengurangi kata -nya, dari, yang, dan lain sbgnya, karena menurut author sangat mengulang-ngulang dan tidak enak di baca.

Ini update-an terburu-buru, di karenakan authornya sedang dalam masa UAS yang menyiksa (۳˚Д˚)۳

Chap ini di buat hanya dalam sehari, dan beberapa jam. *beri tepuk tangan untuk saya*

Hohoho..

Saya gregetan pengen buat cerita, soalnya ide ada yang nyantol. Jadilah cerita ini. Padahal author blm belajar! (˘̩̩̩⌣˘̩ƪ)

Doakan semua mata kuliah saya lulus! (˘ʃƪ˘)

Giselle Gionne, terima kasih sudah memperbanyak review sayaaa. Saya bahagia sekali... Hueee,

1. Kebiasaan saya mengetik (Claire !) Anda tahu itu adalah bentuk ke-alayan saya dlm ber-smsan maupun ber-bbman. Terima kasih sudah mengingatkan, saya akan lebih teliti lagi :)

2. Saya memang tidak pintar dalam pelajaran bahasa indonesia. Saya bahkan tidak mengerti apa itu elipsis, tapi itu titik2 kan? Saya sudah perbaiki dalam chap ini. Terima kasih sekali lagi Giselle-san (m)(_ _)(m)

3. Ya, itu auto correct. Semoga di chap ini tidak ada kesalahan yang sama, saya sudah mengecek kembali. Entah ada yg luput dr pengamatan sy

4. Saya sudah berusaha mengurangi typo (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳

5. Terimakasih anda menikmati konflik yg saya berikan huehue, sy takut cerita ini kurang memuaskan, :) tapi sy snang giselle-san menikmatinya :)

6. Saya sengaja menulis I'll not, biar apa yaaa... Berasa ada penekanan aja. Hohoho,

7. Sama seperti di atas, saya menggaris miringkannya untuk menekankan kalimat itu, maafkan saya kalau salah.

2.5.3, Dia memang gombal, hauhauhau, karena kegombalannya itu saya sengaja menjadikannya makhluk paling hina. 3:) *gak ding, bercanda* soalny tokoh pemuda yang lain kurang bisa di jadikan antagonis. Hoho. Maafkan kekurangan saya dalam penempatan di-, saya rasa di chap ini ada banyak, maafkan (۳º̩̩́Дº̩̩̀)۳. Chap berikutnya sy akan berusaha mengurangi kesalahan. Terimakasih (ʃƪ˘˘ﻬ)~ doakan sayaaa berhasil melewati badai iniii.. (۳˚Д˚)۳

Sekian cuap-cuap dari saya. Maaf kepanjangan, hehe

Review ya!