Claire memerah susu sapi dengan riang, tidak henti-hentinya ia bersenandung. Doug, pemilik Inn sekaligus ayah Ann dan Gray memesan berbotol-botol susu dari sapi peternakan McDougard. Inn sedang kehabisan stok susu, yang artinya fresh milk tidak akan muncul dalam buku menu jika tidak ada susu segar dalam lemari pendingin, begitu pula dengan menu-menu lain yang menggunakan susu sebagai bahan dasar. Ketika Doug mendatangi Claire untuk memesan susu sapi dalam jumlah banyak yang sempat membuat gadis itu tertegun, Claire dengan senang hati menerimanya, dia akan menerima uang banyak! Sapi-sapi McDougard sudah terkenal di seluruh pelosok Mineral akan kualitas terbaiknya, sapi-sapi itu juga sudah memenangkan banyak medali emas dalam Cow Festival yang di adakan tiap tahun. Claire menyeka peluh di pinggir wajah, kegiatan memerah susu sudah selesai. Sekarang dia harus memutar otak, memikirkan cara membawa semua botol-botol susu itu. Saat sedang sibuk berpikir, Boo- anjing Claire menyalak di luar kandang, pertanda ada pengunjung datang, bel alami huh?

Claire keluar dari kandang ternak, mendapati sesosok pria berjaket krem mengintip jendela rumahnya.

"Mencariku?" suara Claire mengejutkan pemuda itu. Dia menoleh pada gadis pirang yang sedang tersenyum ramah padanya, dalam hati dia merutuki dirinya sendiri,

'Hebat Gray! Sejak kapan kau jadi tukang intip? Geez. Claire akan menganggapmu aneh sekarang.'

"Ehn... Ano... Umh... Aku tidak bermaksud... Aku... Mengetuk dan tidak ada jawaban, ku pikir... Kau tidak mendengar..." Gray menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil menunjuk-nunjuk ke arah rumah Claire.

Tingkah laku pemuda berambut oranye itu membuat Claire terkikik geli, dia mengibas-ngibaskan tangan di udara,"Aa. Tenang saja Gray, aku tidak menganggapmu sedang mengintip. Ada apa mencariku?"

"Ayah menyuruhku datang membantu," ujar Gray masih sedikit gugup karena kejadian tadi.

"Syukurlah! Aku tidak bisa membayangkan mengangkut botol-botol itu sendiri!" gadis itu menjambak sedikit rambut pirangnya untuk menambah kesan frustasi, Gray hanya tertawa pelan. Mereka melangkah masuk ke kandang sapi,

"Ini... Susu?" tukas Gray takjub begitu melihat jejeran botol-botol susu tersusun rapi dalam kotak kayu.

"Hn. Apa terlihat seperti relax tea?" pemilik ternak itu memberi pandangan oh-ayolah-Gray,

"Maksudku... Banyak sekali... Aku tidak yakin kita berdua bisa mengangkut semua, sekaligus,"

"Mungkin beberapa bisa muat di ranselku, selebihnya kau yang bawa,"

Gray mengangguk, kedua orang itu mulai bekerja, tidak ingin membuang waktu, susu-susu itu harus tiba sebelum jam makan siang. Claire memindahkan botol-botol itu dari kotak ke dalam ranselnya.

"Hup!" ransel Claire yang di penuhi botol sangat berat, membuat dia terhuyung ke belakang begitu menaruh benda itu di atas punggungnya. Dengan sigap, pemuda bernama Gray menahan badan Claire,"Biar aku saja yang bawa ranselmu,"

Claire mengangguk, benda itu bisa saja mematahkan tulang-tulang punggungnya. Claire hanya mengangkut kotak dengan beberapa botol susu, tidak terlalu berat. Setelah semua sudah di bereskan, mereka berjalan menuju Inn, dalam diam. Hingga akhirnya Claire memulai percakapan,"Kau tidak ke blacksmith?"

"Aku? Ayah sudah memberitahu kakek kalau aku akan membantumu."

"Oh..." Lalu kembali hening,"Kai sedang apa?"

"Waktu aku ke kebunmu, dia sedang tidur."

"Oh..." senyum memancar dari wajah Claire, dia bisa bertemu Kai hari ini.

.

.

.

Jalanan kota Mineral sedang lengang, penduduk yang sedang bekerja pasti sedang istirahat dan bersiap-siap untuk makan siang. Awan kelabu berkumpul di atas langit Mineral, berdesak-desakan dan saling tumpang tindih, tidak ada sinar matahari. Mereka sudah hampir sampai, papan nama Aja's Winery menyita perhatian Claire, bola mata birunya segera mencari-cari sosok pemuda berambut cokelat di ladang anggur.

"Mencari siapa?" Gray ikut mencari-cari ke arah ladang anggur,

"Eh? Ah, tidak, bukan siapa-siapa." Claire mengalihkan pandangannya,

"Cliff?"

"Heh?"

"Kau mencari Cliff?"

"Cliff? Siapa?" alis Claire naik-turun, dia kebingungan.

"Kau mencari orang yang biasa bekerja di ladang itu kan?"

"Namanya Cliff?" Claire mengabaikan pertanyaan Gray.

"Hn. Kau tidak mengenalnya?"

Claire menggelengkan kepala lalu tidak ada tanggapan, mereka kembali diam. Sesampainya di Inn, Claire dan Gray meletakkan botol-botol di dapur.

"Terima kasih banyak Claire. Tamu-tamu sudah menunggu makanan mereka. Syukurlah kau datang tepat waktu. Kau duduklah dulu di luar, aku siapkan makanan untuk pelangganku, lalu aku akan membayar upahmu."

"Ya, paman Doug." gadis petani itu tersenyum dan keluar dari dapur, mengambil tempat di salah satu meja kosong, di pojok ruangan. Sambil menopang kedua dagu, bola mata gadis itu mengintai sekitarnya, kemudian mengikuti arus lalu-lalang pengunjung Inn. Matanya mendapati pemuda berkuncir yang tampak familiar, pemuda itu tertawa senang ketika Ann mengantar makanan di mejanya, gadis berkepang itu terlihat mengucapkan sesuatu, mungkin lelucon?

Aneh sekali, kenapa pemuda itu sangat dingin terhadapnya, padahal dia bisa tertawa lepas pada orang lain. Apakah dia memang tidak suka terhadap orang asing?

Sesaat mata Claire beradu dengan pemuda berambut coklat itu, namun Claire segera memalingkan muka.

"Ingin memesan sesuatu?"

Claire mengeluarkan senyumnya,"Apple pie dan fresh milk,"

"Segera datang," ujar pemuda berambut oranye sambil mengangkat sedikit topinya,

Selang berapa lama kemudian Gray datang membawa nampan berisi pesanan Claire. Lalu pemuda itu kembali di sibukkan oleh pengunjung-pengunjung Inn yang kelaparan. Gadis itu menyantap nikmat hidangan di hadapannya. Para pengunjung satu per satu mulai meninggalkan Inn dengan perut kenyang.

"Claire," panggil Doug dari meja kasir, tangannya ikut goyang memanggil-manggil Claire yang lalu berjalan mendekat. Pria berumur itu memberikan sekantung gold pada Claire. Gadis itu mengucapkan terima kasih dengan tulus, uang sebanyak itu bisa di gunakan untuk membenahi kebunnya, juga untuk makanan ternak. Perasaannya senang bukan main, bagaimana tidak? Jerih payahnya selama ini di hargai dan menghasilkan sesuatu. Dari kejauhan, sepasang bola mata berwarna gelap mengamati sosok yang sedang asik bercengkrama dari atas.

"Ah, paman, aku mau bayar makanku,"

"Apple pie dan fresh milk... Semuanya 650 G."

"Ini. Terima kasih paman!" ucap Claire dengan riang. Ia kembali ke meja dan melahap sisa makan siangnya. Saat ini kepalanya di penuhi bermacam-macam hal, dengan tidak sabar Claire merencanakan perluasan kandang sapi, membeli pakan ternak, dan hal-hal lain yang penting, sampai bayangan Kai terlintas. Tidak, Kai tidak boleh tau tentang ini, masih banyak hal penting yang harus di utamakan. Dengan segera di masukannya kantung berisikan gold di dalam ransel.

"Hai sayang, ku lihat kau baru saja mendapat berkah?"

Padahal sesaat yang lalu, ia begitu ingin bertemu dengan Kai, tapi sekarang Claire merutuki dirinya. Mengingat ternak-ternaknya masih membutuhkan kehidupan, ladang yang perlu di benahi dan di berikan perawatan, serta memenuhi kebutuhan sehari-harinya, seharusnya dia segera pergi begitu menerima upah, salahkan otaknya yang bekerja lebih lambat hari ini. Claire menghadap ke asal suara dengan sangat terkejut. Kai sudah duduk manis di hadapannya, pemuda itu mengambil segelas susu segar miliknya, dalam hitungan detik cairan berwarna putih itu sudah hilang dari dalam tempatnya. Kai menikmati sisa-sisa susu di pinggiran bibirnya, lidahnya menelusuri jejak-jejak yang di tinggalkan cairan putih itu.

"Kai..."

"Kau tidak membagikan berkahmu padaku?"

"Aku... Sejak kapan kau bertingkah seperti penagih utang?" kali ini Claire mengeluarkan keberaniannya.

"Heh. Bukannya kau sudah berjanji akan membantuku?"

"Ya, tapi... Aku butuh uang ini..."

"Kau sudah berani mengingkari janji rupanya... Heh," Kai mendengus kesal.

"Kai... Aku..."

"Serahkan padaku,"

"Tidak,"

"Serahkan!" Kai menaikkan suaranya,

"Kai!" Pekik Claire panik karena sebagian orang yang masih tinggal di Inn mulai menatap ke arah mereka, begitu pula Ann dan Doug.

"Serahkan padaku!" kini pemuda berkulit hitam itu maju, dia menarik kerah Claire dengan kasar, sedang yang di tarik hanya pasrah, memalingkan wajah dan memejamkan mata dengan erat.

"Hei!" sebuah tangan besar khas seorang pria menepis tangan Kai yang tengah mencengkram Claire,"Apa kau tidak tahu cara memperlakukan seorang wanita dengan baik?"

"Cih! Kau ini di pihak siapa!"

"Aku tidak suka caramu memperlakukan seorang wanita! Apalagi dia ini kekasihmu sendiri Kai!" suara baritone sedang berbicara dengan nada tak kalah tinggi dari Kai. Suasana Inn hening seketika, semua mata tertuju pada dua pemuda yang kini saling berpandangan. Claire hanya bisa menahan napas, dia membalikkan wajahnya, kini di lihatnya Gray berdiri seolah-olah melindungi dia dari Kai.

"Minggir," ancam Kai

"Tidak," balas Gray

Dua orang itu sudah menjadi pusat perhatian. Tidak ada yang melerai mereka berdua, yang lain seperti menikmati suguhan adegan drama. Bahkan seorang Cliff hanya mampu melongo, peristiwa itu membuatnya Déjà vu saat menolong Claire.

"Cih! Kita belum selesai Claire," kata-kata terakhir dari Kai sebelum dia kembali ke kamarnya.

Bola mata biru milik Gray mengikuti sosok Kai hingga pemuda itu menghilang di lantai atas, kemudian berbalik pada Claire. Wajahnya melunak,"Kau tak apa?"

"Ah! Eng.. Ya, aku baik-baik saja," Claire mengeluarkan senyum paksa. "Ku rasa sebaiknya aku pulang,"

"Aku antar,"

"Tidak. Tidak perlu repot-repot Gray, aku bisa sendiri." tanpa banyak basa-basi lagi, Claire segera meninggalkan tempat terkutuk itu. Sungguh ia sangat malu, dia sudah kehilangan muka untuk kembali ke Inn lagi. Mungkin dia tidak akan menginjakkan kakinya di sana untuk waktu lama, dan rasanya dia perlu menulikan telinga karena ibu-ibu yang hobi bergosip akan menjadikannya sebagai topik utama. Orang-orang kembali tersadar begitu pintu menutup, tayangan drama gratisan sudah berakhir meskipun separuh masih penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Ann mengangkat nampan berisikan piring-piring kotor,"Kasihan sekali Claire." gumamnya pada Cliff lalu di balas dengan angkat bahu dari pemuda itu.

.

.

.

Kai duduk di atas tempat tidurnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Sesekali dia mendengus kesal. Gray membuka pintu kamar dengan kasar, hingga pintu itu nyaris bertemu dengan dinding.

"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Sama seperti caranya membuka pintu, Gray bertanya dengan kasar,

"Kau yang pikir apa yang tadi kau lakukan? Membelanya? Heh, yang benar saja? Bukannya kau di pihakku?"

"Dia kekasihmu! Kau mempermalukannya di hadapan banyak orang!"

Kai terdiam sejenak, bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum meremehkan,"Ya, dia kekasihku, dan kau sahabatku. Apa yang kau lakukan dengan membela kekasih sahabatmu? Bukankah seminggu yang lalu kau tidak keberatan dengan sikapku padanya?"

Gray tidak membalas,

"Ah... Jangan-jangan kau menganggap serius ucapanku? Mengambil kekasih sahabat eh?"

"Berhenti memerasnya, dan berhenti menyelingkuhinya. Kau hanya membuatnya semakin menderita,"

"Aku tidak bisa meninggalkan Popuri begitu saja," lagi-lagi Kai memberikan sebuah senyuman, namun bukan senyum meremehkan, tapi lebih menjurus ke senyuman penuh arti,"Aku harus menepati janji,"

"Baiklah! Baiklah! Apa yang harus ku lakukan?"

"Aku akan menyerahkan Claire padamu, tapi tidak gratis, kau harus membelinya," Kai menyeringai licik,

Pemuda bertopi UMA itu memutar kedua bola matanya, kemudian ia merogoh saku celananya,"Ini untukmu, berhenti memeras Claire,"

"Ini bahkan tidak cukup untuk membeli sekotak flour!" usai menghitung koin-koin di telapak tangannya, Kai mendongak pada Gray dengan raut wajah kesal. Dia merasa di permainkan.

"Aku belum mendapat upah dari ayah, sisanya akan ku serahkan padamu nanti."

"Baiklah jagoan, senang bertransaksi denganmu." Kai menyodorkan tangannya untuk berjabat, namun di acuhkan sahabat berambut merahnya itu yang dengan sigap berbaring di atas kasur. Kai mengangkat bahu dan ikut naik ke atas kasurnya. Di luar, Cliff tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka, pemuda itu hanya bisa menghela napas.

.

.

.

Cliff kecil terbangun dari tidur lelapnya setelah di tidurkan kembali oleh ibunya semalam, alunan suara merdu ibundanya yang menyanyikan lullaby mampu membuatnya kembali terlelap sampai pagi menjelang. Bocah itu mengucek-ngucek kedua matanya yang masih belum sepenuhnya terbuka. Tubuh mungilnya turun dari tempat tidur, tidak ia pedulikan nasehat ibundanya untuk mencuci muka sebelum sarapan, perutnya sudah meronta-ronta minta makan. Tujuan utamanya adalah meja makan, ia yakin ibunya pasti sudah menyiapkan makanan enak seperti biasa. Begitu sampai di ruang makan, Cliff tidak segera makan, dia mencari-cari sosok wanita paruh baya yang biasanya sedang melakukan pekerjaan rumah tangga, ini bahkan belum jam seperti biasa ibunya pergi bekerja, tapi ibunya tidak ada di ruang makan. Mungkin ibu sedang di kamar, pikirnya. Dengan susah payah Cliff kecil menaiki kursi yang lebih tinggi darinya, tangan mungil bocah itu berusaha menggapai meja ketika dirinya sedikit berhasil naik ke atas kursi, tanggannya menyentuh sesuatu, seperti secarik kertas yang kini ikut tertarik, bocah kecil itu jatuh terduduk di atas kursi. Cliff menatap kertas itu, bagi anak seumuran Cliff yang belum mengikuti pendidikan dasar tentu tidak bisa membaca tulisan tangan yang tertera di atasnya, ia pun tidak sadar memegangi kertas itu terbalik. Dia menganggap kertas itu sebuah sampah, lalu membuangnya, kertas itu berayun-ayun di udara sebelum menyentuh lantai. Cliff kecil kembali pada tujuannya, melahap sarapannya yang sudah berjejer rapi di atas meja.

.

.

.

.

Cahaya mentari pagi merambat masuk melalui celah jendela. Cliff membuka kedua matanya, menampakkan sepasang bola mata cokelat miliknya. Dia mendesah berat, mencoba menyuarakan kesedihan yang ia alami. Berulang kali ia mencoba melupakan masa lalu itu, tapi sesuatu yang buruk itu justru berbalik menyerangnya bertubi-tubi.

.

.

.

Saturday, akhir pekan yang biasanya di manfaatkan sebagian penduduk mineral untuk beristirahat, entah berlibur atau menutup tokonya, kelihatannya sama saja ya? Salah satunya Aja's Winery, perkilangan anggur terkenal se-antero Mineral itu juga menetapkan hari sabtu sebagai hari libur nasional, bagi pemilik dan karyawannya tentu saja. Dan untuk menghabiskan waktu liburannya dengan bermanfaat, Cliff mendatangi tempat yang sering ia datangi sebelum bekerja di Aja's Winery, Church. Dengan khusyuk juga penuh hikmad, Cliff berdoa. Dia mendoakan Duke beserta istrinya, dirinya, kota Mineral, Claire yang awalnya dia ragu untuk menyebut nama gadis itu tapi bukankah tidak ada salahnya mendoakan orang lain? Dan ibunya, sosok wanita yang begitu ia cintai dan ia rindukan sepenuh hati. Cliff mengakhiri doa dengan helaan napas berat, pikirannya berkecamuk, seperti segala sesuatu yang ia pikirkan berubah menjadi beban yang sangat berat. Terutama ketika mengingat masa-masa lalunya.

"Hai Cliff," sapa Carter ramah, pastor itu benar-benar ramah pada siapapun. Cliff sempat meyakini, bahwa Carter terserang semacam penyakit syndrom yang membuatnya terus menerus tersenyum, bahkan ketika Cliff hampir membakar gereja saat lengah meletakkan lilin-lilin pada tempatnya.

"Aku sudah dengar dari Ann, tentang Claire." ujar Carter, Cliff mengangkat sebelah alisnya. Sudah bukan hal yang asing lagi, Ann sering mengantarkan makan siang untuk pastor Carter. Tapi mendengar nama Claire selalu membuatnya, entahlah fokus mungkin?

"Padahal dia gadis yang baik," lanjut Carter,"Dia menerima tawaranku untuk bermain ocarina di music festival kemarin. Dan dia juga yang memberikanmu pekerjaan,"

Yah, Claire memang gadis yang baik juga malang. Padahal ia sama sekali tidak bisa bermain ocarina, tapi di sanggupkannya demi Carter, sampai-sampai ia berlatih alat musik itu semalaman di gereja. Dia juga yang memberi peke- hey! Apa yang barusan Carter bilang? Memberi pekerjaan? Claire? Cliff menatap Carter penasaran,

"Apa?" tanya pastor muda itu polos,"Kenapa melihatku seperti itu?"

Masih pada pendiriannya, Cliff bersikukuh memandangi Carter,

"Ah, kau tidak tahu? Claire memberitahukanku untuk memberitahumu bahwa ada lowongan pekerjaan di Aja, dia cukup lama memerhatikanmu yang sering berada si di sini tanpa melakukan apapun, di pikirnya kau seorang pengangguran," jelas Carter panjang lebar,"Padahal kau kan membantuku di sini, menjadi asistenku, ya kan? HAHA.. Ha.. Ehem..." tawa Carter terhenti setelah mendapat tatapan malas dari Cliff, meski begitu, Carter tetap tersenyum. Pemuda berambut coklat itu tidak habis pikir, ternyata Claire selama ini memerhatikannya, gadis boneka itu. Dia merasa sangat berhutang budi padanya, jika bukan karena gadis itu, Cliff tidak akan ada di Mineral sampai hari ini. Hari itu, Cliff memikirkan dengan sangat matang, untuk menjadi pelindung Claire, dan mungkin sekaligus teman?

.

.

.

Satu lagi kertas yang masuk ke tempat sampah. Pemuda berkuncir itu mengacak-ngacak rambutnya, hingga kini, dia masih bingung mengungkapkan maksudnya di atas selembar kertas putih kosong yang baru dia letakkan di atas meja, kertas yang kesekian kali.

'Hai, ini aku, yang beberapa waktu lalu kau tegur di ladang anggur Aja. Kita belum berkenalan kan? Aku Cliff, Cliff Smith, dan kau Claire kan? Pastor Carter pernah berbicara tentangmu saat kau baru pindah kemari. Aku minta maaf atas sikapku tempo hari, aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Aku harap kau memaafkanku. Mungkin kita bisa menjadi teman? Kalau kau tak keberatan. Baiklah, ku rasa sekian saja, sampai bertemu lain kali.'

Sekali lagi pemuda itu kembali membaca tulisan tangannya, memastikan tidak ada kosakata yang salah. Lalu dengan mantap ia memasukkan surat itu ke dalam amplop, dan kini suratnya siap di kirim.

.

.

.

Sudah menjadi kebiasaan Claire untuk mengecek kotak suratnya di sore hari, saat seluruh pekerjaannya sudah selesai. Surat tagihan listrik, surat pemberitahuan bibit baru, dan surat untuknya dari Cliff. Cliff? Claire memandangi surat di hadapannya dengan sangat tidak percaya, segera di bawanya masuk ke dalam rumah. Menit berikutnya Claire memandang takjub tulisan tangan Cliff yang termasuk rapi untuk ukuran seorang pria. Gadis pirang itu membaca dengan seksama, alisnya berkerut membaca barisan akhir. Semudah ini? Kenapa tidak minta maaf secara langsung? Bukankah awalnya dia yang tidak menunjukkan ketertarikan untuk berkenalan? Atau jangan-jangan, pemuda bernama Cliff itu hanya mengasihani dirinya karena kejadian di Inn tadi siang? Claire meremas surat dari Cliff hingga membentuk gumpalan dan melemparnya masuk dalam keranjang sampah. Dia mengambil handuk yang tergantung rapi di dinding, siap-siap untuk membasuh tubuhnya dengan air hangat. Namun langkahnya terhenti, agak ragu dia berbalik ke arah keranjang sampah, memunguti gumpalan berwarna putih yang baru saja ia lempar semenit lalu,

"Mungkin... Ini bisa jadi awal yang baik?"

.

.

.

"Kemasi barang-barang kalian, kita akan mengunjungi Claire," perintah seorang pria berambut cokelat dengan sedikit uban,

"Kapan?" tanya seorang pemuda bertopi biru,

"Besok. Siap-siaplah."

Perintah pria itu di balas dengan cibiran dari anak gadisnya,"Ayah keras kepala."

To Be Continued...

Hei! Hei! Mamen! Author chibi2 ini balik lageeee. Hahaha. Maap baru update T_T

Sungguh rasa malas ini sudah menguasaiku, dan mengendalikan pikiran author ini! Waaaaa!

Juga ide yang menemui jalan buntu,jadi sy tidak tau mau nulis cerita tentang apa. Author sedang mencari-cari sesuatu yang bisa di jadikan konflik dan membuat cerita semakin menegang nantinya.

Mohon maaf, chap2 sebelumnya meminimkan interaksi CliffClaire, semoga chapter ini sudah bisa memuaskan anda2 penggemar pair CliffxClaire yaaa, terima kasih untuk dukungan, review, fave dari anda-anda sekalian, T_T

Maafkan jikalau ada typo dan lain sbgainya,

Giselle Gionne, makasih sudah menyemangati saya :* silahkan ikuti terus ceritanya yaa ;) saya suka sekali kritikan-kritikan membangun darimu :)

Princess Natasha Swan, gomenn T_T saya sedang di landa UAS yang menyebabkan kegalauan akut, dan dilema antara ingin mengupdate secepatnya dan kemalasan membuat ceritanya. Di sebabkan pula oleh karena seonggok handphone sarana penyaluran cerita ini membuat saya malas mengetik cerita, hahaha, semoga chap ini memuaskan anda :* ClaireCliff akan ada di chap2 selanjutnya, silahkan di tunggu

DarkFantasia, iya ni Cliff! Lama banget aksinya! *di tabok cliff* neng, ini maunya Cliff apa Gray toh? -' wkwkwk, makasih, setiap pujian dari anda-anda semua membuat hidung saya bertambah panjang, dan semakin ingin menyelesaikan cerita ini, hahah, :p

Yup, bingo! Excellent! Bravo! Dia mako tale of two towns. Makasih sarannya, semoga chap ini tidak membawa byk typo bgi anda :)

Tun'z, terima kasihhh *hughughug sampe keselek ga bisa napas* makasih sudah baca, follow trus ceritanya yaaa :D stay tun'z! *stay tune maksudnya*

Clary008, makasihhh :* silahkan ikuti lanjutan ceritanya yaaaa :D

Harvest Fairy, makasih buat review di fic saranghamnida yaa :D sbnrny mau di buat cerita, tapi saking malasnya author ini, jadilah yg mungkin kalian akan sebut puisi? Sajak? Rasanya kurang pantas di sebut renungan, apalagi pantun karna tdk bersajak A-B-A-B :p maaf sy balasnya di sini, karna ternyata kamu mengikuti cerita iniii, sy terharuu T_T *getok pake palu* wahh, kamu suka Rick yah? Aku ga begitu suka si, aku jg sbnrny ga suka2 amat sm Cliff, aku sukanya sm Doctor :'D nanti aku buat deh fic DocxClaire, heheh. Follow trus yah crita ini :)

Review!