Judul: The Last Standing (Chapter 1)

Genre: Fantasy, Mistery, Gore

-Chapter sebelumnya (prologue)-

Trio Diva, grup penyanyi yang sedang naik daun akhir-akhir ini terdiri dari; Miku, Rin, dan Kaito, mereka sahabat baik sejak kecil dan meeka bertiga suka bernyanyi.

Suatu hari, saat mereka sedang di tengah-tengah konser mereka, listrik daerah sana padam, dan saat lampu kembali menyala, mereka bukannya di panggung lagi melainkan di sebuah ruangan tertutup. Mereka sempat kehabisan oksigen dan pingsan, tetapi kemudian oksigen kembali masuk ke ruangan itu.

Kemudian ada sebuah suara yang memanggil mereka untuk bangun, padahal saat mereka bangun, tidak ada orang selain mereka disana. Kemudian suara itu memperkenalkan dirinya, Kiyoteru, itulah namanya. Dan ia pun mengatakan bahwa sang Trio Diva itu sedang berada dalam "permainan"-nya, "The Last Standing".

Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk menyisiri dinding ruangan itu berharap menemukan sebuah lubang yang menyediakan oksigen bagi mereka. Dan setelah mendapat bantuan dari korek api milik Kiyoteru, mereka akhirnya dapat menemukan pintu keluar dari ruangan itu. Tetapi perjalanan mereka belum selesai...

The Last Standing (Chapter 1)

"Mereka rupanya cukup pintar untuk melewati permainan kecilku. Ah... Tadi aku lupa mematikan penyedot oksigen saat aku pergi, pantas saja mereka sempat pingsan tadi... Kenapa baru terpikirkan sekarang, ya? Sial... Terlalu banyak error di ruangan sekap itu selain penyedot oksigen ini..." Gumam Kiyoteru di "Command Room"-nya saat memikirkan bahwa dia lupa mematikan penyedot oksigen ruangan itu sebelum ia pergi.

Sebelumnya, ia pergi membeli makanan, dan lupa mematikan mesin penyedot itu, dan saat dia kembali, dia baru menyadari akan hal itu.

Kiyoteru, pemilik "permainan" itu, seringkali ceroboh dengan mesinnya sendiri. Walau begitu, ia cukup pintar untuk menyembunyikan lubang penyedot kecil itu di setiap sudut atas ruangan tertutup itu, yang membuatnya tidak terlihat lubang di ruangan itu.

"Apa gunanya penyedot oksigen ini ya? Ah... Aku sendiri juga lupa. Biarkanlah... Mari ku lihat merera lagi, sudah sampai mana mereka?" Gumam Kiyoteru.

Di pihak Miku dkk, mereka masih berada di lorong yang mereka masuki waktu ingin keluar dari ruangan mematikan sebelumnya. Mereka pun bercakap-cakap di ruangan itu.

"Hey, Miku... Kamu tak apa-apa?" Tanya Rin ke Miku

"Tak apa-apa. Aku sudah tidak shock lagi kok." Balas Miku sambil mengerlingkan mata kepadanya.

Kata Kaito pada Miku, "Yokatta... Kalau kamu tak kuat, tolong beritahu kami, oke?"

Miku pun mengangguk tanda iya, kemudian ia tersenyum, yang membuat Rin dan Kaito juga tersenyum...

"Hei lihat! Ada cahaya disana! Pasti itu jalan keluar, cepat!" Teriak Rin sambil berlari menuju cahaya yang dilihat mereka.

"Yare-yare... Terpeleset baru tahu rasa..." Kata Kaito menanggapi tingkah Rin yang seperti itu.

Dan...

"Bletak!"

Sesuai perkataan Kaito, Rin pun terpeleset...

"Ouch... Sakitnya..." Gumam Rin mengusap bokongnya yang sakit itu. Tetapi tiba-tiba saja muka dia terlihat pucat saat melihat ke arah mereka berdua setelah melihat ke arah cahaya itu.

Segera saja, mereka mengejar Rin untuk mencari tahu apa yang telah dilihatnya. Dan setelah mereka melihat cahaya tersebut, muka mereka berdua juga pucat.

Yang mereka lihat sebenarnya adalah... Sebuah ruang pembunuhan kecil dimana lantainya penuh darah yang membuat Rin terpeleset tadi, kepala sang korban sudah tidak ada, darah segar masih mengucur dari leher yang putus, sedangkan tubuh korban duduk dan diikat di sebuah kursi berwarna putih, dan ada kursi hitam yang membelakangi kursi putih tersebut. Di hadapan kursi putih itu, dindingnya berwarna Violet, sedangkan dihadapan kursi hitam, dindingnya bewarna putih. Di lantai dekat kursi itu, tersusun catur bersama pion-pionnya, serta di dekat kursi putih ada sebuah meja yang bertuliskan arah panah dan tulisan "KILLER" dari darah.

"A-Apa-apaan i-ini..." Kata Kaito dengan terbata-bata. Jelas saja, baru pertama kali mereka melihat pemandangan seperti ini.

"Selamat datang di permainan kedua-ku! Kulihat kalian cukup pintar sebagai seorang detektif, jadi kuberikan saja pemandangan seperti ini. Bagaimana? Terkejut? Aku baru saja membunuhnya dari orang yang kukenal." Tiba-tiba terdengar suara entah dari mana sumber suara itu. Bisa dipastikan bahwa itu adalah Kiyoteru...

"Gila! Kamu ingin mempermainkan kami?!" Teriak Rin.

Kiyoteru pun menjawab, "Hahaha.. Tentu saja. Namanya juga permainan."

Miku pun menanyakan sesuatu padanya, "Jadi, apa maumu?"

"Sekarang, kalian ambil palu kalian masing-masing di atas meja yang muncul dari lantai. " Kata suara Kiyoteru yang diikuti oleh meja yang muncul dari lantai dan terdapat 3 palu berwarna kuning, biru, dan violet.

Miku mengambil palu berwarna biru, Rin mengambil palu warna kuning, sedangkan Kaito mengambil palu warna violet.

Kemudian, suara Kiyoteru mulai muncul lagi, "Jangan kalian tukar atau jauhkan dari tubuh kalian, atau palu itu akan meledak dengan dashyat. Dan selama kalian menahan palu itu, silahkan pecahkan sesuatu mengenai pembunuhnya jika kalian semua ingin keluar dari ruangan ini. Selamat mencari, Trio Detektif. Hahahaha..." Itulah suara terakhir darinya.

"Bukannya sudah jelas jika kamu yang membunuhnya, ha?!" Teriak Rin berharap mendapat tanggapan dari sang Kiyoteru, tetapi tiada suara darinya.

"Mungkin yang dimaksud itu, dia ingin kita menebak ciri-ciri mengenai pembunuh orang itu walau kita tahu bahwa dia lah pembunuhnya." Kata Miku dengan tenangnya.

"Baiklah... Kita akan pecahkan misteri ini, dan kita akan keluar bersama-sama dengan selamat." Kata Kaito dengan mantap. Rin dan Miku pun mengangguk dengan mantap juga.

Apakah mereka akan memecahkan masalahnya? Atau mereka hanya akan mendapatkan jalan buntu? Dan apakah mereka akan keluar dengan selamat? Semua itu akan terjawab di chapter berikutnya.