Judul: The Last Standing (Chapter 2) (Vocaloid CrossOver with BRS (Black Rock Shooter))
Genre: Fantasy, Mistery, Gore
-Chapter sebelumnya (Chapter 1)-
Trio Diva kita, Miku, Rin, dan Kaito, menghadapi satu tantangan baru lagi dari Kiyoteru. Saat menyusuri jalan keluar dari tantangan sebelumnya, mereka tiba di ujung jalan yang berupa sebuah ruang pembunuhan. Kali ini tantangannya adalah mencari ciri-ciri tersangka berdasarkan petunjuk yang ada. Sedangkan masing-masing dari mereka menahan sebuah palu dengan warna yang berbeda-beda, dan jika mereka melepaskan ataupun menukarkannya, maka palu itu akan meledak. Apakah mereka dapat melewati tantangan ini?
The Last Standing (Chapter 2)
Mereka bertiga pun berpikir mengenai jalan untuk memecahkan tatangan yang diberikan itu. Palu mereka masing-masing diletakkan di kantong celana mereka. Kemudian berkatalah Kaito kepada Rin dan Miku, "Ada yang mau main catur? Mungkin saja kita bisa dapat ide dari permainan catur kita. Bagimana?"
"Yang benar saja… Tapi… Bisa dicoba…" Kata Miku menawarkan dirinya untuk menjadi lawan Kaito.
Kaito pun mengangguk dan berkata "Baiklah… Mari kita mulai."
Kemudian mereka meletakkan caturnya di atas meja yang ada, dan permainan mereka pun dimulai dengan posisi mereka yang berdiri. Miku memegang bagian putih yang menandakan dia yang maju duluan, sedangkan Rin hanya melihat permainan mereka saja.
…
…
30 menit pun berlalu, hampir seluruh bidak catur milik Kaito mati oleh Miku, sedangkan bidak Menteri milik Miku yang sudah mati akan dibangkitkan oleh bidak prajuritnya. Hanya perlu 1 langkah maju lagi prajurit Miku dan habislah Kaito, tetapi untuk sekarang masih ada kesempatan untuk Kaito karena sekarang adalah gilirannya.
Dia cukup bingung dengan apa yang harus dilakukannya sebelum Miku berhasil menukarkan prajurit dengan menteri-nya di giliran berikutnya. Kemudian ia mulai melirik seluruh papan catur itu, dan ia melihat bidak benteng miliknya. Kemudian ia berkata pada Miku, "Aku tidak bisa mencegahmu untuk menukarkan prajuritmu dengan menteri, tapi setidaknya…" Kemudian ia menggerakkan bentengnya mundur ke paling belakang barisan dan berkata lagi, "Setidaknya aku masih bisa menghambatmu sementara dan memikirkan cara lain untuk bertahan," dan ia pun tersenyum.
Tiba-tiba saja di otak Kaito terlintas sesuatu, dan ia sepertinya baru menyadari sesuatu…
Kaito pun berkata pada Rin dan Miku, "Tentu saja… Kita tidak bisa menjauhkan palu ini dari diri kita. Tapi bukan berarti bahwa kita tidak bisa memakainya, kan?"
Miku maupun Rin tidak begitu mengerti apa yang dimaksud oleh Kaito, dan Rin memutuskan untuk menanyakan hal itu, "BAKAito… Perkataanmu terlalu tidak jelas bagi aku maupun Miku.."
"Aku belum selesai ngomong, Rin… Kamu berdua, lihat dinding yang retak itu?" Kata Kaito memotong perkataan Rin dan menunjuk bagian dinding yang retak. Rin dan Miku baru menyadari hal itu.
"Lalu, apa maumu dengan palu yang kita punya, Kaito?" Tanya Miku kepada Kaito.
"Kita akan hancurkan dinding itu dengan palu kita. Dinding retak itu menandakan bahwa kita bisa lolos lewat dinding itu." Jelas Kaito kepada Miku.
"Souka… Ayo! Ada dinding yang harus kita hancurkan! Hahahaha…" Kata Rin dengan semangat.
"Hah… Semangat sekali kamu, Rin…" Kata Miku sambil menghela nafas.
Dan tiba-tiba saja…
"Tok!"
…
…
…
Rin langsung saja mengetok palu itu ke dinding dengan kencang tanpa aba-aba dari siapapun. Miku dan Kaito langsung mengambil aba-aba seperti akan ada yang meledak secepat mungkin, tapi tidak terjadi apa-apa…
"Apa yang kalian tunggu?! Ayo kita hancurkan dinding ini!" Teriak Rin pada mereka berdua yang bertingkah seperti orang yang baru saja shock.
"Gila kamu!" Teriak Kaito pada Rin. Lalu ia melanjutkan lagi, "Kalau itu rupanya meledak gimana?!"
"Yang penting kan sekarang kita selamat.. Ayo, kita hancurkan dinding ini." Kata Rin menyemangati mereka berdua.
"Tok… Tok... Tok…"
Bunyi palu mereka bergema di ruangan itu. Walau palu mereka terlihat kecil, tetapi secara ajaib mempunyai kekuatan sebesar sebuah palu berukuran besar.
20 menit berlalu, mereka berhasil mencapai akhir dari dinding itu. Namun yang ditemukannya bukan jalan keluar, tetapi sebuah kotak besi dan dinding besi yang mereka temui dari menghancurkan dinding yang retak tadi..
"Sial… Jalan buntu… Tapi apa ini?" Kata Miku yang bingung dengan kotak besi itu. Kemudian ia membuka kotak itu dan menemukan secarik kertas bertuliskan "Komplementer".
"Apa itu komplementer, Rin? Kaito?" Tanya Miku mengenai secarik kertas itu.
"Hmm… Kamu tahu sesuatu, Kaito?" Tanya Rin pada Kaito yang menandakan bahwa ia kehabisan ide.
"Komplementer…" Kaito terlihat sedang berpikir keras sambil melihat dinding berwarna violet itu. Setelah beberapa lama, ia kemudian beralih ke dinding putih dan melihat sesuatu. Ia langsung berlari ke meja yang dipakainya untuk bermain catur tadi, melihat telapak mejanya yang bertuliskan "KILLER" dan arah panah yang menunjuk arah dinding violet itu. Dan ia melihat catur yang dia letakkan di lantai tadi untuk melihat telapak mejanya, ia sepertinya melihat sebuah pemecah masalahnya.
"Miku! Rin! Kesini!" Teriak Kaito di dekat kursi korban yang berwarna putih. Mereka berdua langsung menuju ke arah Kaito.
"Kamu lihat catur itu? Yang berjalan duluan adalah putih. Dan 2 kursi ini, berdasarkan sistem catur, coba kamu lihat dinding violet dahulu…" Miku dan Rin pun melihat dinding berwarna violet itu. Setelah beberapa lama, Kaito menyuruh mereka melihat ke arah dinding dimana kursi hitam itu menghadap, dan ajaibnya yang mereka berdua lihat di dinding putih itu bukanlah putih, melainkan berwarna… Kuning.
"A-Apa maksudnya ini?!" Kata Rin dengan kaget.
Kaito pun mulai menjelaskan, "Komplementer. Jika kamu melihat warna violet itu dalam jangka waktu yang lama kemudian melihat warna putih secara tiba-tiba, maka yang terlihat adalah warna kuning. Itulah yang dimaksud dengan warna komplementer. Sang korban ingin mengatakan dari catur dan kursi untuk melihat dinding berwarna violet dahulu baru ke dinding berwarna putih.." Kaito berhenti sebentar kemudian melanjutkan lagi, "Dan berdasarkan tulisan di telapak meja ini, bisa dibilang bahwa tersangka mempunyai sesuatu berwarna… Kuning."
"Be-Ber... arti, a-aku… palu… kuning?" Kata Rin denga terbata-bata dan ketakutan sambil berjalan mundur menjauh dari mereka.
"Ya! Kamu, Rin Kagamine! Kamulah pemegang palu kuning, palu pembunuh yang dimaksud! Sekarang, sudah waktunya…" Suara Kiyoteru tiba-tiba saja muncul. Spontan saja, Miku, Rin, dan Kaito kaget mendengarnya.
"Judgment Time!" Teriak Kiyoteru, kemudian…
"Bruk!"
Sebuah sekat hampir bening muncul dari atas turun dengan cepat dan memisahkan Rin dari Miku dan Kaito.
"Inilah klimaks dari permainan kita! Mari kita mulai dengan "Hukuman"-nya!" Kata Kiyoteru setelah sekat itu diturunkan.
"Minna! Tolong aku!" Teriak Rin sambil menggedor-gedor sekat itu. Miku dan Kaito pun mencoba menggedor-gedor sekat sambil meneriakkan nama Rin, tetapi tiada hasil…
Dan dari dinding daerah Rin, muncullah 3 gergaji seperti gergaji listrik. Satu di bagian atas dari arah kiri, satu di bagian tengah dari arah kanan, dan satu lagi di bagian bawah dari arah kiri. Gergaji-gergaji itu mulai berjalan kea rah Rin yang berada di tengah-tengah. Rin pun menangis dengan keras, tapi tiada guna baginya. Miku dan Kaito pun menangis sambil berteriak nama Rin, mereka jelas tak ingin kehilangan salah satu sahabatnya itu.
Gergaji-gergaji pun akhirnya sampai di tubuh Rin. Dimulai dari kaki dan daerah perutnya. "Srreeekkk…" Otot kaki Rin mulai terkoyak-koyak, bagian perut Rin pun sudah terkoyak-koyak dan mengeluarkan isi perutnya, darah bercipratan di sekitar tempat Rin digergaji. Rin meringis kesakitan dengan nyaringnya. Kaito dan Miku pun menangis lebih keras meneriakkan nama Rin. Gergaji itu terus berjalan, terus mengkoyak-koyak bagian perut dan menggergaji tulang kakinya dan gergaji bagian atas sampailah di leher Rin. Teriakan tangis Rin yang terakhir terdengar sangat parau dan menyedihkan, dan kemudian tak ada lagi suara darinya.
"Sreeekkk…" Terdengar bunyi gergaji yang mencoba menggergaji tulang leher Rin. Darah bercipratan dengan deras kemana-mana. Isi perut Rin keluar semua dan tercincang-cincang oleh gergaji mesin itu. Kaki Rin juga sudah patah rata-rata. Kepingan tulang pun berhamburan, sedangkan Miku dan Kaito hanya bisa melihat dengan shock dan air mata yang terus mengucur, melihat sahabatnya sendiri itu meninggal dengan tragis.
Ketiga gergaji mesin itu berhasil memotong tubuh Rin menjadi 4 bagian; kepala, badan bagian atas, badan bagian bawah, dan daerah kaki kebawah. Kemudian gergaji-gergaji it uterus berjalan kearah dinding dan masuk ke dinding tersebut. Dan sekat yang tadi membatasi pun naik, meninggalkan jasad Rin yang mengenaskan. Mereka hanya bisa menangisi tubuh Rin.
"Hahahaha… Itulah yang kusebut sebagai "Judgment Time", bagaimana? Kalian suka?" Kata Kiyoteru pada mereka berdua.
"Akan kubalaskan dendam Rin padamu!" Teriak Kaito menantang Kiyoteru.
"Hmph… Coba saja kalau bisa… Ngomong-ngomong, pintu keluar dari ruangan ini sudah terbuka. Silahkan menuju jalan keluar kalian. Aku akan menunggu kalian pada permainan berikutnya, karena tempat ini akan kubuat menjadi lautan api." Kata Kiyoteru pada mereka berdua.
"Tak ada gunanya, Kaito. Lebih baik kita buang saja palu ini dan pergi dari tempat ini,agar kita bisa membalaskan dendam kita padanya di tempat selanjutnya." Kata Miku menenangkan Kaito dan mengajaknya untuk pergi.
Kaito pun akhirnya mengikuti perkataan Miku dengan membuang palu yang tadi mereka tahan dan pergi dari tempat itu. Kemudian Kiyoteru menutup ruangan pembunuhan tadi setelah mereka keluar dan meledakkan palu yang mereka buang tadi, menyebabkan ruangan itu menjadi lautan api, membakar semua yang ada, termasuk jasad Rin yang malang itu.
Dendam sudah tertancap di hati Miku dan Kaito sementara mereka berjalan melewati terowongan jalan keluar dari ruangan pembunuhan tadi. Rin sudah disingkirkan. Apakah rencana Kiyoteru selanjutnya? Siapakah nantinya yang akan tersingkirkan lagi? Apakah mereka berdua bisa membalaskan dendam mereka ke Kiyoteru? Semuanya akan terungkap nanti di chapter selanjutnya…
