Tangga lipat stainless steel tegak berdiri menopang tubuh Levi yang tengah duduk sambil menggigit obeng bermata minus sementara kedua tangannya sibuk bekerja memosisikan kamera kecil di depan beranda kemar Eren Jeager di lantai tiga. Matanya menatap tajam penuh kalkulasi. Kabel-kabel penghubung sudah dirapikan, Levi hanya perlu menutup kembali mesin kecil itu dan mengencangkan murnya. Sudutnya juga sudah pas. Dengan begini akan mudah sekali bagi Levi untuk memantau taman sampai dengan area balkon di depan kamar Eren.

Levi juga sudah memastikan dahan pohon di depan kamar Eren dipangkas daun-daunannya dengan seksama agar tidak bisa dijadikan tempat persembunyian siapapun yang hendak menyelinap dan menyergap ke kamar sang tuan muda. Pengecekan terakhir dilakukan Levi sambil masih duduk di atas tangga. Tangannya mengeluarkan smartphone layar datar dari saku celananya dan memastikan sudut pengambilan gambar di area kamar pribadi Eren dan beberapa tempat lain di sekeliling kediaman Jeager sudah sempurna sesuai keinginannya.

Matanya masih sibuk memeriksa gambar-gambar dari masing-masing kamera ketika ia mendengar suara Carla dan Eren.

Suara Eren bertengkar dengan ibunya masih terdengar di dalam kamar. Levi mau tidak mau menyimak perdebatan antara ibu anak itu. Bukannya dia ingin menguping. Salahkan Carla dan Eren berbicara begitu keras sampai Levi tidak mungkin tidak mendengar dari tempatnya sekarang, kecuali kalau dia tuli tentunya.

Eren tampaknya berkeras tidak menginginkan Levi sebagai bodyguard-nya. Levi sampai heran. Sebenarnya apa masalah anak itu dengannya? Levi jelas sudah menyelamatkannya. Seharusnya dibanding memprotes ibunya, anak itu menunujukan gratifikasi lebih padanya. Bagaimanapun, hitungannya Eren berhutang nyawa padanya. Dan seperti yang umum diketahui dan disetujui banyak orang, nyawa itu tidak murah. Bayaran yang diberikan Carla sebagai uang muka dan semua fasilitas semasa ia bekerja saja rasanya tidak bisa dibandingkan.

"Aku tidak perlu pengawal pribadi,ma!" ujar Eren keras kepala. "Kita punya hampir selusin pengawal di kediaman ini. Kenapa aku perlu pengawal pribadi lagi?"

Levi mengejek dalam kepalanya. Bocah ini pasti tolol sampai bisa berpikir untuk menyamakannya dengan satpam penjaga rumah.

"Tidakkah kau ingat kejadian saat kita menebar abu papamu di laut, Eren?" Carla mendesah—sama-sama tidak mau kalah. "Mama sampai kaget melihatmu tahu-tahu sudah ada di pantai. Bayangkan jika saat itu tidak ada Mr. Ackerman di sana..."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi."

Keputusan Carla sudah final. Ditepuknya puncak kepala Eren penuh afeksi. "Hanya sampai ulangtahunmu yang ke delapan belas..."

Eren menatap ibunya dengan ekspresi memelas. Carla hanya membalas dengan senyum sabar. Jujur saja, Eren lemah di hadapan senyum itu.

Eren mau tidak mau dipaksa menyerah. "Baiklah..."

.

.

PROTECTION

Disclaimer: Shingeki no Kyojin by Hajime Isayama.

This is only a fan works. Non-profitable one.

1—

The Silent Beast

.

.

Carla berlalu dari kamar Eren begitu salah seorang pelayan mengabarkan padanya pengacara Braun menelpon perkara beberapa surat alih nama atas aset dari nama sang suami, Grisha Jeager, menjadi nama Carla. Saat itulah Levi dengan gaya tak acuh melipat tangga berwarna abu-abu dan berjalan masuk kembali kamar Eren. Eren menatap pengawal barunya sambil bersidekap. Wajahnya tampak tidak suka.

Levi menaikan satu alisnya—mencetak ekspresi bingung yang kentara. "Kau ini kenapa, bocah?"

Levi sendiri heran, semenjak awal berkenalan dengan Eren, anak ini seperti tidak terlalu menyukainya. Alasannya tidak diketahui dan jujur saja, Levi penasaran. Dia tahu penampilannya tidak ramah dan seringkali anak kecil tidak terlalu menyukainya. Namun Eren sudah remaja, harusnya dia cukup paham bahwa walau Levi kelihatan menyebalkan—dengan raut wajahnya yang begitu tanpa ekspresi—sebetulnya dia pria yang biasa saja.

Eren memalingkan wajah, sama sekali tidak berniat menjawab. Levi jadi kesal. Dia bisa saja sabar bila dia mau. Tapi sabar dan membiarkan bocah yang bahkan belum berusia legal bersikap kurang ajar padanya adalah dua hal yang berbeda.

Levi meletakan tangga itu di kamar Eren. Obeng bermata minus sudah menemukan tempatnya di saku baju, satu tangan bertolak di pinggang. "Dengar tuan muda manja. Kau semestinya bersyukur aku ada di sini."

Eren menyipitkan mata tak suka. Bagi Levi, tingkahnya ini menunjukan pembangkangan. Dia pikir dirinya siapa? Levi bisa saja mengundurkan diri andaikata perjanjian kerjanya dengan Carla diperantarai Erwin belum disahkan di atas materai.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri..." Eren berkata lirih.

Levi mencela dalam hati. Ha, rupanya tingkahnya saja sok berani, begitu dikonfrontasi langsung seperti ini ternyata anak ini takut juga padanya.

Dan Levi percaya tubuh mengingat hukuman dan peringatan lebih baik dibanding otak. Penegasan fisik tampaknya memang lebih berefek dibanding peringtan verbal—terutama jia bocah yang dihadapi macam Eren Jeager ini.

Dengan santai, Levi melangkah menuju Eren dan mendorong tubuh anak itu ke tempat tidur. Eren terkesiap. Sama sekali tidak siap. Tubuhnya jatuh dengan sukses ke kasur tanpa perlawanan. Begitu Levi mendorongnya, karena Eren sama sekali tidak bertahan, dia langsung rebah begitu saja. Baru saja dia berusaha bangun kembali, Levi menahannya.

"Hei—!" Eren berniat memprotes.

Levi tidak mengindahkan Eren sama sekali. Dua kakinya naik ke atas tempat tidur, memerangkap sisi kiri dan kanan paha Eren sekaligus. Dua tangan Eren ditahan di atas kepala sementara satu tangan lagi yang bebas menahan dagu Eren. Hijau heterokromatik bersirobok dengan abu-abu kebiruan.

Eren menelan ludah. Levi memerhatikan bekas cekikan yang belum pudar di lehernya. Ia mendenguskan tawa meremehkan.

"Dengar..." Levi memulai. Suaranya dingin dan intimidatif. Eren sedikit gemetar dibuatnya. "Yang membayarku itu ibumu. Yang mengurusmu juga ibumu. Bisakah kita melalui masa kontrak ini dengan damai?"

Eren diam—menolak untuk menjawab. Levi menunggu tapi Eren sama sekali tidak bergeming. Yang ada tuan muda Jeager itu hanya menggigiti bibirnya gugup. Levi habis sabar. Bocah bebal sama sekali bukan tipenya. Sekalipun wajahnya semanis yang ada di depannya ini, tingkah seperti ini hanya ingin membuat Levi menjitak klien di depannya ini keras-keras.

Levi bangun dan menghela nafas. "Dengar. Aku tidak peduli kau membenciku atau apa. Yang jelas kuharap kau tahu untuk tidak bertindak bodoh. Aku ada di sini untuk kebaikanmu juga."

Tak acuh, Levi kembali melangkah ke arah tangga lipat yang semula disandarkan pada dinding kamar, mengangkatnya dan berlalu keluar untuk mengembalikan tangga tersebut pada tukang kebun. Levi sama sekali tidak tahu begitu ia keluar ruangan dan Eren mendudukan dirinya di ranjang, wajah anak itu memerah luar biasa. Dua tungkainya merapat, menahan perubahan hormon remaja lelaki yang seolah membuat darahnya menggelegak oleh bisikan gairah.

Eren mengusap bibirnya. Dia tidak mengatakannya, tapi samar-samar dia ingat rasa bibir Levi, hangat nafas pria itu, dan bagaimana semua itu meniupkan kembali hidup dalam tubuhnya yang setengah menyerah dalam buai mimpi berkepanjangan yang mungkin berujung maut.

"Sial..."

.

.

Pemuda pirang yang tengah merapikan arsip itu terkejut ketika pinggangnya ditarik dan bibir yang sudah sangat familiar membisikan tawa rendah di telinganya. Armin tertawa kecil. Kertas-kertas yang sedang dibawanya sampai berantakan di lantai, terlepas dari tangannya. Tapi toh dia tidak melawan ketika dirinya didudukan di pangkuan pria pirang lain yang adalah atasannya.

"Sir... Kertasnya jadi berantakan..." ujar Armin diselingi tawa kecil ketika bibir Erwin mengggigit pelan dan mengulum daun telinganya lembut. Namun alih-alih berhenti, kenakalan Erwin semakin menjadi. Dipikirnya tidak ada yang berani masuk ke ruangannya tanpa melalui Petra—dan Petra pasti memberinya pemberitahuan terlebih dahulu. "Ah, Sir Erwin! Aku jadi harus menyusun ulang semua arsip itu lagi..."

"Nanti kubantu..." ujar Erwin masih tertawa. Kepala Erwin bersandar di bahu Armin. Tangannya memeluk pinggang ramping sang pemuda yang masih berusaha meronta sambil tertawa.

"Sir!"

"Baiklah, baiklah..." ujar Erwin sambil melepaskan Armin. Pemuda pirang yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya itu kini langsung menunduk memunguti kertas-kertas yang berserakan berantakan. Sesuai janjinya, Erwin membantu Armin memunguti kertas-kertas itu ketika satu berkas atas nama Levi Ackerman menarik perhatiannya.

Erwin membaca seksama data Levi. "Aku tidak menyangka hutang Levi tinggal sedikit lagi..."

Armin tersenyum. "Jika Keluarga Jeager sudah melunasi pembayaran mereka, Sir Levi resmi akan menjadi orang bebas, Sir..."

"Masa kurungan dua puluh lima tahun bisa dibayarnya dengan bekerja selama hampir..." Erwin bergumam sendiri. Matanya meneliti tiap catatan pembayaran yang ada di arsip Levi.

"Dua bulan lagi, Sir Levi resmi sepuluh tahun bekerja di sini..." Armin berkata sambil tersenyum.

"Ah, ya... Hampir sepuluh tahun," Erwin membenarkan. "Kau datang bekerja di sini lima tahun setelah itu bukan...?"

"Anda ingat soal aku tapi tidak soal Sir Levi?"

"Aku merasa tidak ada perlunya mengingat Levi, ingatannya sendiri sudah cukup baik..." Erwin dan Armin bertukar senyum penuh arti. "Tapi walau begitu, entah kenapa hampir sepuluh tahun ini tetap saja rasanya singkat sekali..."

"Itu karena Sir Levi selalu bersedia mengambil misi beresiko tinggi dengan bayaran setimpal..." Armin dengan kalem mengingatkan.

Erwin hanya mengangguk mendengarkan. Recon Corporation yang dipimpinnya adalah Perusahaan milik negara yang berafiliasi dengan kepolisian militer dan kesatuan detektif Garisson. Narapidana potensial dengan masa hukuman berat dapat membayar untuk kebebasan mereka dengan cara bekerja di Recon. Masa hukuman dan fasilitas yang diberikan sebagai modal awal sebelum para narapidana bekerja dan resmi diganti statusnya menjadi "di bawah proses amnesti" dikonversi dalam bentuk sejumlah uang—dengan bunga tentunya—yang nantinya akan dibayar berkala setiap kali yang bersangkutan menyelsaikan misi dari orang-orang penting dalam pemerintahan dan kalangan sosialita tertentu yang mengetahui eksistensi Recon Corporation. Pembayaran dari klien akan dibagi dua, tiga puluh lima persen untuk Recon dan sisanya untuk kehidupan sehari-hari para terhukum.

Meski pemotongan cukup besar—tiga puluh lima persen—Erwin tetap kagum akan kecepatan Levi membayar untuk kebebasannya. Dia masih ingat, Levi berusia dua puluh dua tahun ketika Erwin menemukannya di penjara yang dijaga kepolisian militer. Pria itu baru saja dijatuhi hukuman dua puluh lima tahun atas pembunuhan terencana.

Levi ditakuti dan tidak ada seorang narapidana pun di dalam penjara berani menyentuhnya sedikit saja. Jangankan melakukan penindasan pada anak baru, menatapnya lebih dari sepuluh detik saja butuh keberanian besar. "The Silent Beast" adalah julukan koran lokal yang mengukir rasa takut di benak setiap orang di penjara yang sama. Kasus pembunuhan yang melejitkan nama Levi dalam waktu singkat membuatnya disegani oleh sesama kriminal.

Yang menarik perhatian Erwin adalah sikap Levi. Pria tersebut membunuh dengan rapi, bersih, terencana. Tapi bukannya tidak meninggalkan jejak; seolah merasa tidak mengapa dan siap menerima hukuman atas perbuatannya. Beberapa pakar psikologi kriminal sampai merasa Levi memang mengundang polisi menemukannya untuk memberikannya penghukuman sebagai bentuk tanggung jawabnya. Ia gila, kata para pakar tersebut.

Levi jauh dari kata gila. Erwin berpendapat demikian. Karena menurutnya orang gila tidak akan punya kesadaran untuk berbicara baik-baik sekalipun memang, ketenangannya dalam membunuh menjadikannya berada pada level manusia yang agak tidak waras.

Dari hasil penyelidikan, Levi memiliki kesadaran penuh dan kemampuan. Dia tidak akan membunuh tanpa alasan yang jelas, dia normal, dan yang terpenting sekalipun dia siap berada dalam kurungan, pria berambut hitam itu masih mendambakan kebebasan dalam hatinya. Semua elemen itu membuatnya sangat potensial untuk direkrut.

"Jadi ini misi terakhir Levi ya..." ujar Erwin menghela nafas. "Mungkin sudah waktunya kembali mencari pekerja potensial. Kau bersedia menemaniku berkunjung ke tempat Nile akhir minggu ini, Armin?"

"Tentu saja, Sir..."

.

.

Jean Kirschtein, dua puluh lima tahun, duduk dengan tidak nyaman di sofa ruang tamu keluarga Jeager. Penyebabnya tak lain tak bukan adalah sosok intimidatif yang memandangnya dengan penuh kecurigaan sambil bersandar di tembok berlapis wallpaper gading bercorak bunga kecil warna emas dengan gaya klasik—selera Carla tentunya.

"Biarkan saja dia, Jean..." ujar Eren tak acuh. Jean adalah editornya dan belum diberitahu sama sekali soal Levi, jelas saja pria berambut coklat keabuan itu bingung dengan kehadiran pria berwajah dingin entah dari mana ini di kediaman Jeager.

"Ah, baiklah..." Jean mengiyakan walau matanya sesekali melirik Levi penasaran sekaligus sedikit ngeri. Aura yang dipancarkan Levi entah bagaimana begitu menekan dan membuat segan. Jean sedikit merinding.

"Jadi... apa yang mau dibicarakan?" ujar Eren berusaha kalem. Tangannya memegang cangkir teh dan ditiupnya permukaan likuid coklat kemerahan itu sebelum disesapnya sedikit.

Jean berdehem beberapa kali. "Soal acara 'Meet and greet' itu... Kau bisa memilih lokasinya jika kau sudah setuju proposal ini. Kurasa ini akan sangat bagus untuk mendongkrak namamu lebih lanjut di dunia literatur..."

Levi menajamkan pendengaran. Disimaknya baik-baik dialog Eren dan Jean. Dia sudah mendapatkan informasi mengenai Jean dari Carla. Jean Kirschtein adalah editor muda yang dulu pernah menjadi murid Grisha Jeager dalam beberapa seminar mengenai benda seni. Ia berteman cukup dekat dan sudah seperti kakak untuk Eren. Walau kadang jahil dan sering adu mulut sewaktu dia dan Eren masih lebih kecil, tampaknya kini dia benar-benar sudah menjadi sosok panutan untuk sang Jeager muda.

"Hm... Apa menurutmu aku harus menyetujui proposal itu, Jean?" Eren menimbang-nimbang. Ini memang kesempatan baik untuk semakin melejitkan namanya sebagai penulis muda berbakat namun Eren merasa sedikit enggan melakukannya. Bagaimanapun Grisha baru saja pergi dan ia masih tidak dalam mood untuk bersenang-senang.

"Kau bisa mengatur waktunya, Eren..." Jean melingkupi tangan Eren dengan tangannya. Levi heran dibuatnya. Apa pria bermarga Kirschtein itu lupa ada Levi di sana? Walau sudah seperti kakak untuk Eren, rasanya tingkahnya mengacuhkan Levi begini sedikit membuat kesal. "Aku akan membicarakannya pada penerbit..."

Eren masih terdiam.

"Akan kupikirkan lagi, oke?" jawab Eren akhirnya. Jean memberinya senyum lemah.

"Maafkan aku tidak datang di acara Paman Grisha..." tambah Jean lagi. Kini tangan pria itu menepuk-nepuk kepala Eren.

Eren menunduk, jelas menghindari tatapan Jean. "Tidak apa. Aku tahu kau masih sibuk kemarin itu. Bagaimana kabar Christa?"

Christa Renz, menurut informasi lain yang didapat Levi dari Carla Jeager, adalah salah satu teman sepermainan Eren. Gadis manis yang kini hanya bisa berdiam di rumah sakit itu adalah salah satu kawan terdekat Eren selain Jean.

"Dia baik-baik saja... Dokter mengharuskannya banyak beristirahat dan dia sangat menyesal kemarin tidak bisa datang juga..."

"Ayolah, Jean... Kau harus menjaga calon istrimu baik-baik. Kalau kemarin kau membawa Christa ke kapal papa, aku juga akan marah padamu..." Eren mencoba melucu. Jean tertawa canggung dan Levi—sedikit banyak—menyadari semua keanehan di depannya ini.

"Aku akan menelpon Christa nanti... Beritahu dia lukisan yang waktu itu tinggal sedikit lagi selesai..."

"Pasti..."

Jean beranjak berdiri. Eren berujar, "Kuantar..."

"Aku bawa mobil, Eren..."

"Sampai depan saja..."

Jean menyerah. Dibiarkannya Eren mengekor—yang artinya membiarkan Levi mengikutinya juga. Tak kuasa menahan penasaran, Jean akhirnya bertanya, "Dia siapa?"

Eren memutar bola matanya, kelihatan amat enggan menjawab. "Bodyguard-ku..."

Mata Jean melebar mendengar jawaban Eren. Mulutnya terbuka sedikit. "Serius?"

"Sangat..." respon Eren malas. Levi dengan pendengarannya yang sangat tajam membiarkan saja Eren mengomel tentang betapa enggan ia sebenarnya diikuti ke sana ke mari selama dua puluh empat jam seolah dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri.

Sesampainya di depan gerbang rumah Eren yang megah, Eren bisa melihat di bawah undakan tangga keramik, mobil Jean sudah diparkir dengan manis. Altis hitam berkilat dan terawat menunggu. Jean menatap Eren sebentar lalu berganti memandang Levi.

Beberapa saat dia tampak menimbang-nimbang sesuatu sebelum akhirnya menghela nafas dan menangkup pipi Eren dengan dua tangannya. "Jaga dirimu, oke?"

Lalu kecupan singkat dihadiahkan di dahi Eren. Wajah sang Jeager sontak merona merah. Levi terperangah namun berhasil menjaga ekspresinya tetap tenang.

Jean membunyikan klakson mobilnya sekali sebelum benar-benar menembus jalan aspal yang memotong halaman rumah keluarga Jeager simetris di sisi kiri dan kanan.

Eren tanpa sadar terpaku memerhatikan mobil Jean. Setidaknya sampai Levi berkomentar, "Bocah kasmaran..."

Tidak terima, Eren bersiap memuntahkan amukan namun tatapan tenang Levi yang dingin menciutkan nyalinya. Dia tidak mau kejadian di kamarnya terulang lagi. Levi tipe yang tindakannya cukup ekstrim dan itu membuatnya takut, jujur saja.

"...Apapun yang kulakukan, itu bukan urusanmu..." ujar Eren akhirnya setelah memilih kata-katanya. Dia melengos pelan, tidak mau menatap Levi.

Levi menatapnya remah dan mengkoreksi, "Di luar aktivitas sehari-hari, tentu saja aku tidak ada urusan denganmu. Apalagi dengan perasaanmu..."

Eren bertambah kesal. Rona merah malu dan jengkel bercampur di wajah manisnya. Dengan langkah-langkah lebar, Eren berjalan masuk kembali melewati Levi yang lekas menutup pintu rumah dan mengikutinya.

"Kau tidak perlu mengikuti aku di dalam rumah!" tegas Eren frustasi. Rasanya mendapati kamarnya sendiri dipasangi kamera pengawas saja sudah aneh, bahkan kini dia harus terbiasa berganti pakaian di kamar mandi—berhubung hanya tempat itu yang bebas pengawasan. Namun sungguh, diikuti kesana kemari benar-benar mengesalkan. Rasanya jadi tidak punya waktu sendiri untuk merenung. Padahal dengan banyak kejadian akhir-akhir ini Eren merasa perlu kembali menata banyak hal dalam kepalanya yang jika dianalogikan dengan kondisi kamar mungkin sudah seperti kapal pecah.

"Aku sekarang tinggal di sini sementara untuk mengawasimu... Ingat itu..."

Eren menggeram kesal. Ia lekas-lekas berjalan dan karena langkahnya terburu-buru, ketika akan mendaki tangga menuju studio, Eren terpeleset. Kakinya kehilangan keseimbangan. Mungkin dia memang harusnya belajar bersyukur akan kehadiran Levi. Pria itu sigap menangkap pinggangnya sebelum kepalanya membentur anak tangga dan mungkin luka fatal. Namun belum sempat Eren berterima kasih, Levi berujar menyebalkan.

"Lihat? Tanpa dijahati pun kau ini seperti magnet dewa maut. Sebaiknya kau diam saja dan biarkan aku melakukan pekerjaanku bocah..."

Mencapai batas kesabarannya, Eren mengamuk. Didorongnya dada bidang Levi sekuat tenaga sebelum ia berujar keras.

"Diam! Jangan ganggu aku!"

Remaja berambut coklat itu pun lekas berlari. Carla yang muncul dari dapur karena mendengar ribut-ribut menatap heran Levi di atas tangga.

"Mr. Ackerman?"

"Tidak apa-apa... Mungkin dia masih belum stabil saja..." jawab Levi tak acuh sebelum ditanya. "Dan..."

Carla menatap Levi. "Ya?"

"Anda bisa memanggil saya Levi saja. Bagaimanapun anda lebih senior..."

Carla terdiam sejenak sebelum tertawa kecil. "Nak Levi, kalau begitu..."

Tawa Carla perlahan berubah menjadi senyum lembut. "Kali ini sebaiknya dia jangan diikuti nak Levi..."

"Kenapa?"

"Anak itu... Paling tidak suka diganggu jika sedang berada di studionya. Biarkan saja..."

Levi terdiam, mencerna informasi yang diberikan Carla sebelum mengangguk. "Aku akan berjaga di luar pintunya saja..."

.

.

Eren membuka kanvas besar berukuran 150 cm x 80 cm yang ditutupi kain berwarna merah. Wajah Jean dan Christa tengah tersenyum dalam bautan tuxedo dan gaun pengantin yang serasi, sesuai dan persis foto pre-wedding yang diberikan padanya sebagai contoh dan dipajang di atas meja lain dengan bingkai kayu aromatik. Eren dengan sempurna memindahkan wajah dua insan itu ke atas kanvas dengan sapuan kuas dan cat minyak. Aroma minyak pengencer cat yang khas memenuhi studionya.

Lukisan tersebut pesanan Christa, entah kapan akan diambilnya. Eren menatap kanvas besar tersebut dan menyentuhkan jari-jarinya pada permukaan cat yang telah mengering. Ke arah wajah Jean. Namun begitu kesadaran bahwa studionya juga dipasangi kamera, Eren menarik tangannya lagi.

Ketiadaan privasi ini membuatnya kesal.

Mengomel pelan, Eren menutupi kembali lukisan tersebut dengan kain merah.

Memutuskan untuk tidak berkutat dengan lukisan hari ini, Eren menghampiri laptopnya dan menyalakan mesin tersebut. Perlu waktu beberapa saat sebelum akhirnya desktop-nya yang menampilkan gambar dirinya, Jean, dan Christa ketika berada di taman untuk piknik bersama keluarga mereka muncul.

Eren membuka program pengolah kata dan memulai tulisannya.

Proyek barunya yang sudah didiskusikannya dengan Jean adalah buku puisi yang sederhana bertema romansa. Genre yang sama sekali belum pernah disentuh Eren sebelumnya tapi cukup menarik minatnya. Kata Christa, walau Eren tampak kekanakan, namun tampaknya Eren cukup bisa menulis kata-kata cinta yang bukannya kosong semata. Atas motivasi itu juga, sang Jeager muda meneguhkan hati untuk mencoba.

.

Awan mendung tampak hendak melukis hujan

Aku panik mencari kamu yang entah di mana

Dengan satu payung erat dalam genggaman

Mungkin kita bisa berbagi teduh berdua, pikirku

.

Aku berkeras menembus dingin yang menggigit kulit

Ngotot mencarimu sendiri, tak sudi kamu berkalang sepi

Sampai aku menemukanmu di sana, bergandengan tangan

Tertawa bersamanya tanpa peduli siraman hujan

.

Aku tersenyum dan menghampiri, melempar payung tanpa peduli

Ikut tertawa dan mengecap segarnya aroma hujan

Membuka mata, merentangakan tangan, dan mengadah ke langit sana

Seraya berbisik...

.

Sembunyikan air mataku, hujan...

.

.

TBC

.

.

Thanks to:

Timunhshs: Semoga menikmati kelanjutannya.

Remah181: Semoga chapter kali ini juga deskripsinya bisa dibayangkan dengan jelas, selamat menikmati kelanjutannya.